تسجيل الدخول
Emma melangkah mendekati jembatan kayu, yang sebentar lagi akan dibangun beton. Senyumnya merekah, takjub. “Ayah, lihatlah! Aku bisa membangun mimpi Ayah,” gumamnya pelan. Air matanya nyaris menetes karena terharu. Ia yakin,mendiang ayahnya akan bangga.
“Emma.” Iris mendekat, gadis kemayu itu tersenyum sinis. Senyum yang nyaris tak pernah ia tunjukkan pada saudari tirinya itu. Emma yang memang tak begitu menyukai Iris hanya melirik sekilas, lalu fokus pada gedung tinggi itu. “Iris, mending kamu hubungi Pak Alex, tanyakan, kapan proyek pembangunan jembatan ini akan dilakukan.” Iris biasanya akan menurut, tetapi kali ini ia tertawa keras, membuat Emma mengernyit, melirik skiptis padanya. “Kamu gila? Aku menyuruh kamu, Iris!” Iris mengeluarkan pisau dari tasnya. Emma mendelik melihat aksi adik tirinya itu. “Apa yang kamu lakukan?” tanya Emma dengan suara bergetar, ia mundur dua langkah, lalu menoleh ke belakang, riak sungai begitu deras. Ia meremas roknya, telapak tangannya sudah berkeringat, ngeri. “Hahahaha … aku sudah menunggu waktu ini, Emma. Kamu akan lenyap! Sudah lelah aku mengalah dan menjadi budakmu.” Emma menggeleng kuat, matanya mengedar, berharap ada seseorang yang bisa membantunya dari perempuan gila ini. “Iris, jangan macam-macam. Aku bisa saja teriak.” “Teriaklah sesukamu! Tak akan ada yang membantu!” Mirip psikopat, Iris nengeram lirih, lalu disusul dengan tawa renyah. Iris mendekat, pisaunya yang lancip membuat Emma gemeteran. “Aku yang akan menikah dengan pewaris Georgetown Company. Dan semuanya akan jadi milikku, Emma. Aku muak dengan sikapmu.” “Iris! Tolong! Siapapun tolong!” teriak Emma sekeras mungkin, tetapi tanggapan Iris hanya tertawa nyaring. “Kamu akan mati! Mati! Selamat tinggal, Emma. Pergilah ke neraka!” Iris mengayunkan tangan, mencoba menghunus dada Emma, tetapi Emma justru memilih menjatuhkan diri ke sungai itu. Klik. Waktu seolah berhenti, tetapi tidak pada udara siang itu. Emma tersentak, seperti terlempar pada dimensi lain. Gadis itu gelagapan, takut dan begitu banyak rasa yang tak bisa ia jelaskan. “Apa aku di surga?” gumam Emma, tanpa sadar, tangannya meremas sesuatu. Ia merasakan hangat di wajah. “Kamu baik-baik saja?” Mata Emma mendelik. Baru saja menyadari sosok tampan sedang menggendongnya. Namun, yang membuat ia terkejut, sosok ini terasa tidak asing. Sosok yang pernah ia jumpai di dalam mimpi. Pangeran impiannya. Ah, apa Emma beneran mati dan bertemu pangeran di surga? “Hei?” Pria itu menyentil kening Emma pelan. “Aku beneran di surga? Bertemu bidadara? Pria yang ada di mimpiku?” Emma melebarkan senyuman. Pria itu yang selalu membantunya dalam situasi sulit, Emma sangat penasaran, ia justru memberanikan diri untuk lebih dekat, menarik tengkuk pria itu. “Kamu yang di mimpiku kan?” “Bodoh, kamu tidak pernah mimpi, kamu memang selalu sial ….” Ucapan pria itu terhenti, karena tiba-tiba saja Emma mencium bibirnya. Ia mendelik, seolah membiarkan momen yang semestinya terjadi, ia membuka sedikit mulutnya. Uhuk! Uhuk! Emma meraba lehernya sendiri, “apa yang kutelan?” “Esensi kehidupan milikku, bodoh! Kamu tidak bermimpi. Mulai detik ini, hidupmu adalah milikku.” “A-apa?” Emma menggeleng kuat. “Ja-jadi, siapa kamu? Kenapa bisa terbang, dan aku … apa yang sebenarnya terjadi kalau ini bukan mimpi?” “Tuan, dia lancang!’ teriak seseorang dari seberang, pria itu memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Emma bertambah bingung, dua pria asing melayang di udara? Yang menggendongnya justru mengusap udara, cahaya putih menyambar lembut. Mata Emma mengerjab pelan, suara tawa Iris terdengar samar. Tubuh Emma terbawa angin bersama pria tampan itu, menembus awan. Semua terasa gelap, embusan angin membuat mata Emma terpejam, pasrah. Emma membuka matanya cepat. Yang ia dapati adalah kamar asing dengan aroma bunga sakura. Matanya mengerjap beberapa kali. Pikirannya berkelana jauh, tetapi tak menemukan apapun. “Apa aku di surga? Apa aku sudah mati?” Ia menepuk pipinya keras. Rasa panas menyengat, ia memekik keras, “Aw!” Emma menyibak selimut tebal dengan gambar bunga anggrek berwarna ungu yang menutupi tubuh rampingnya. Kakinya perlahan turun pada lantai kayu, matanya menyisir ke penjuru ruangan. “Di mana aku? Apa aku mati karena Iris tadi?” Emma menggaruk kepalanya, gatal. Lalu, ingatan mengenai wajah tampan nan dingin, membuat mulutnya terbuka lebar. “Sebentar! Tadi siapa?” Suara sayup terdengar dari luar kamar, tanpa alas kali, Emma melangkah dengan mengendap-endap. Tangan dinginnya mengayunkan gagang pintu dengan sedikit gemetar. Kepalanya menyembul keluar, ragu. “Suara itu … apa itu suara pria yang kucium tadi?” gumamnya dengan jantung berdebar. Bukan jatuh cinta, melainkan ngeri dengan ancaman pria tampan itu yang kapan saja bisa melenyapkan nyawanya. Emma berjalan menuju ke sumber suara, berharap akan mendapat informasi mengenai tempat asing ini, matanya bergerak waspada, takut-takut sesuatu akan menyerangnya secara tiba-tiba. “Tuan Muda, jika esensi kehidupan itu tertelan oleh wanita itu, kondisi Anda akan sangat berbahaya, ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus membunuh wanita itu sekarang, supaya Anda bisa kembali normal.” Pria bertubuh kurus itu terlihat frustasi, pria yang di panggil Tuan Muda, tampak santai sambil membaca surat kabar dengan kaki bersila di bangku kayu. “Tidak. Jangan mengacaukan rencanaku. Gadis sial itu terlalu impulsif. Biarkan saja, belum saatnya dia tahu.” Sementara itu, Emma membungkam mulutnya sendiri, berjongkok di balik kendi tanaman air untuk menguping lebih jauh. “Duh, bagaimana ini? Mereka akan membunuhku. Lalu, gimana caranya aku balas dendam dengan Iris dan ibunya yang mata duitan itu?” Emma menggelengkan kepala. Itu terlalu mengerikan. Emma bangkit dari tempat persembunyiannya. “Aku harus kabur, sebelum mereka menemukanku.” Emma tidak akan kehilangan kesempatan emas ini, sialnya kepalanya justru membentur pot gantung dan spontan ia memekik. “Sialan! Aduh… siapa yang menaruh benda bodoh ini di sini?!” Dua pria yang sedang mengobrol itu langsung menoleh. Emma gelagapan karena lepas kendali. “Hey, kamu menguping ya!” “Oliver, tahan. Kecilkan suaramu.” Sang Tuan Muda melipat korannya cepat. Menaruhnya di atas meja, ia melangkah santai, Emma justru yang gelagapan. “Kamu sudah sadar?” “S-si-siapa kamu? Aku berada di mana ini?” Alih-alih menjawab pertanyaan Emma, pria tampan dengan tatapan dingin itu menghela napas panjang, ia justru menatap mata bulat Emma yang mendelik “Tuan Raynard, gadis ini tidak sopan. Dia ….” Ucapan Oliver terhenti, saat Raynard mengangkat tangan ke udara. “Jadi namamu Raynard?” Emma berusaha untuk lebih berani, meski dalam hati ketakutan setengah mati. “Untuk apa kamu membawaku ke sini?!” “Songong sekali dia,” gerutu Oliver tertahan. “Kamu tahu, takdir kamu hanya hidup sampai usia 24 tahun. Itu sudah menjadi suratan takdir kamu, Emma. Dan kamu, menelan esensi kehidupanku.” Emma mendelik, refleks tangannya mengusap lehernya sendiri, kepalanya menggeleng cepat. Tubuh mungilnya bergetar, kakinya mundur, menghindari tatapan intimidasi. “Bagaimana ca-caranya aku bisa hidup lagi? Mak-maksudku … aku bisa bales dendam dulu.” “Dia bicara apa?” Oliver geleng-geleng kepala, tak habis pikir. “Lalu bagaimana?” “Menurut dan patuh, hidupmu sekarang milikku.” Emma menggeleng. “Kalau begitu, aku kembalikan saja. Aku tidak mau terjebak di sini selamanya!” Emma ingat, ia mendapatkan esensi kehidupan itu karena ia mencium Raynard. Dan ia yakin, cara mengembalikan ya juga dengan cara yang sama. Perlahan ia maju, lalu mencium kembali Raynard. Mata leia itu mendelik. Pun dengan Emma, karena sosok tampan itu berubah wujud, telinganya berbulu putih, pria itu mengeluarkan sembilan ekor. “Tuan Muda!”Emma dan Oliver baru saja turun dari mobil. Suasana rumah keluarga Azzure sudah tampak ramai. Mobil berderet di car port. Emma berjalan dengan anggun menuju gerbang, seorang satpam yang berjaga mendelik sempurna.“No-nona Muda? An-anda masih hidup?” tanya satpam itu dengan tergagap.Emma mengulas senyuman. Ia memberikan anggukan kecil dan berkata, “buka pintunya, Pak.”“Ta-tapi, Nona. Di dalam … di dalam sedang ada acara besar. Nona Iris–”“Pemilik rumah dan seluruh aset masih atas namaku. Kamu m mbantah?” Sembur Emma dengan berkacak pinggang. Matanya mendelik, lebar. Sampai, satpam itu menggigil ketakutan.“Tahan, Nona” bisik Oliver.“Habisnya, sih. Ngeyel!”Pintu gerbang itu buka, tak ada yang protes lagi, semua takut akan ancaman Emma.Baru setelah gerbang itu dibuka, Emma berjalan cepat menuju pintu utama, sambil menghubungi Frans.“Aku di jalan Emma, kamu masuk saja dulu.”“Baik, Om. Jangan lama-lama.” Emma memasukkan ponselnya ke dalam tas tangan, lalu melanjutkan jalannya. Begi
Aroma sedap membuat tidur lelap Emma terganggu. Gadis itu langsung bangkit dan mengendus bak anjing. “Wah, wangi apa ini?’’Emma mengikuti aroma itu, sampai mengantarkannya ke dapur. Di sana, Oliver sedang memanggang ikan di teflon. Emma mendekat seraya memekik senang, “Oliver!”Oliver nyaris menjatuhkan wajan tipis itu,ia mengurut dada perlahan. Tak bisa memarahi Emma, takut diamuk sang tuan muda. “Nona ngagetin aja.”Mata Emma menyisir ke penjuru dapur. Biasanya, sang tuan muda tak akan jauh-jauh dari Oliver. ‘Apa ini ada hubungannya dengan peringatan Raynard kemarin?’ batin Emma mulai penasaran.Semakin dilarang, Emma justru semakin penasaran. Mengapa Raynard tak boleh didekati saat bulan purnama?“Nona, Anda lapar? Saya akan menyi–”“Di mana Raynard?” potong Emma mulai mengambil garpu, ia menusuk daging ikan panggang buatan Oliver, lalu meniupnya pelan dan memasukkannya ke dalam mulut.“Nona, jangan ganggu Tuan Muda. Beliau ada di kamarnya. Saya mau mengantarkan sarapan untuk T
Tatapan Raynard yang tajam membuat Emma seperti sesak napas, gadis itu beringsut mundur. “Kamu lupa, hidupmu aku yang tentukan? Jangan tawar-menawar. Nasibmu sudah sial sejak dulu.”Emma mengerucutkan bibirnya. Jelas ia akan mencari cara untuk memperpanjang umurnya. Lagian, ia tahu Raynard tak akan membiarkannya celaka, mengingat sesuatu yang berharga milik pria itu ada padanya.“Ya sudah, iya. Aku tahu,” jawab Emma lesu, kepalanya menunduk dengan tangan saling meremas.“Sekarang, hiduplah dengan baik dan sehat, jangan sampai merusak segalanya,” pinta Raynard dengan suara yang lebih lembut. Emma hanya menjawab dengan anggukan.Ingatan tentang penghianatan Iris membuatnya kembali muncul, rasa panas menggerus dadanya. Emma bertekad, akan memberikan pelajaran yang setimpal kepada sepasang ibu dan anak itu.“Pergilah ke kamarmu, besok, tepat saat bulan purnama, jangan pernah muncul di hadapanku,” ujar Raynard.Mata Emma menyalak lebar. Jiwa keponya meronta. “Kenapa?”“Jangan banyak bica
Raynard melerai ciuman itu dengan paksa. Napasnya terengah, pipinya merah padam.Alih-alih takut, Emma justru menyentuh telinga Raynard. “Apa? Bagaimana bisa? Siapa kamu sebenarnya?’’“Turunkan tanganmu!” Emma menarik tangannya cepat. Ia masih belum bisa menghilangkan rasa takjubnya.“Jangan memaksaku, kalau tidak, akan dilenyapkan kamu.”Emma menggeleng dengan cepat. Ia mundur dua langkah, ekspresi Raynard jauh lebih menyeramkan saat ini. Oliver sendiri justru mematung di belakangnya.“Antar dia ke kamarnya, kunci pintunya dari luar,” perintah Raynard, lalu pergi begitu saja.“Eh, Raynard! Tunggu!” teriak Emma yang tak digubris sama sekali “Ayo, Nona Emma Azure. Kita ke kamar Anda!” Oliver menarik siku Emma yang masih menatap punggung Raynard yang kian menjauh.Namun, saat menyadari nama lengkapnya disebut dengan jelas, ia menoleh skiptis, “bagaimana kamu tahu namaku?”Oliver memutar kedua bola matanya, “gak ada yang gak aku tahu. Ayo! Sebelum Tuan Muda mengamuk.”Emma berkacak pin
Emma melangkah mendekati jembatan kayu, yang sebentar lagi akan dibangun beton. Senyumnya merekah, takjub. “Ayah, lihatlah! Aku bisa membangun mimpi Ayah,” gumamnya pelan. Air matanya nyaris menetes karena terharu. Ia yakin,mendiang ayahnya akan bangga.“Emma.” Iris mendekat, gadis kemayu itu tersenyum sinis. Senyum yang nyaris tak pernah ia tunjukkan pada saudari tirinya itu.Emma yang memang tak begitu menyukai Iris hanya melirik sekilas, lalu fokus pada gedung tinggi itu. “Iris, mending kamu hubungi Pak Alex, tanyakan, kapan proyek pembangunan jembatan ini akan dilakukan.”Iris biasanya akan menurut, tetapi kali ini ia tertawa keras, membuat Emma mengernyit, melirik skiptis padanya.“Kamu gila? Aku menyuruh kamu, Iris!”Iris mengeluarkan pisau dari tasnya. Emma mendelik melihat aksi adik tirinya itu.“Apa yang kamu lakukan?” tanya Emma dengan suara bergetar, ia mundur dua langkah, lalu menoleh ke belakang, riak sungai begitu deras. Ia meremas roknya, telapak tangannya sudah berker







