共有

Bab. 3

作者: Layli Dinata
last update 公開日: 2026-05-20 13:45:42

Tatapan Raynard yang tajam membuat Emma seperti sesak napas, gadis itu beringsut mundur. “Kamu lupa, hidupmu aku yang tentukan? Jangan tawar-menawar. Nasibmu sudah sial sejak dulu.”

Emma mengerucutkan bibirnya. Jelas ia akan mencari cara untuk memperpanjang umurnya. Lagian, ia tahu Raynard tak akan membiarkannya celaka, mengingat sesuatu yang berharga milik pria itu ada padanya.

“Ya sudah, iya. Aku tahu,” jawab Emma lesu, kepalanya menunduk dengan tangan saling meremas.

“Sekarang, hiduplah dengan baik dan sehat, jangan sampai merusak segalanya,” pinta Raynard dengan suara yang lebih lembut. Emma hanya menjawab dengan anggukan.

Ingatan tentang penghianatan Iris membuatnya kembali muncul, rasa panas menggerus dadanya. 

Emma bertekad, akan memberikan pelajaran yang setimpal kepada sepasang ibu dan anak itu.

“Pergilah ke kamarmu, besok,  tepat saat bulan purnama, jangan pernah muncul di hadapanku,” ujar Raynard.

Mata Emma menyalak lebar. Jiwa keponya meronta. “Kenapa?”

“Jangan banyak bicara! Aku perlu menghemat energi. Esensi kehidupanku ada padamu. Selain benda itu, hanya aliansi ganda yang bisa menyempurnakan.”

Emma menepuk pahanya sendiri dengan girang. “Kalau begitu, kenapa tidak kita lakukan saja!”

Emma justru bingung melihat reaksi Raynard yang menatapnya heran. “Ke-kenapa?”

“Kamu sama sekali tidak paham, atau gimana?”

Emma menelan ludahnya cepat. Ia tak bodoh, jelas paham maksud dari aliansi ganda. Hanya saja, jika esensi kehidupan milik Raynard tetap ada padanya, ia akan tetap hidup dan Raynard tak akan merebutnya lagi kan?

‘Ah, apa salahnya? Setidaknya dia tampan. Bahkan aku rela menyerahkan tubuhku,’ batin Emma dengan pipi yang kembali terasa panas. Ia yakin, kini pipinya sudah seperti udang rebus.

“Kamu ngelamun jorok ya?”

Mata Emma mendelik, berasa pria di depannya ini bisa membaca pikiran. Karena malu, ia langsung menggelengkan kepalanya. “Enggak, kok.”

“Ya sudah, pergi dari kamarku, lalu jangan cari aku besok!”

Meski wajah Raynard begitu dingin, tak mengubah rasa gemas Emma kepadanya.

“Bye, Ray!” Emma melenggang dengan tenang. Lebih tepatnya pura-pura tenang.

Ketika Emma keluar, Oliver masuk dengan terburu, sampai tak begitu rapat menutup pintunya. Hal itu membuat jiwa kepo Emma meronta. Ia berbalik badan, dan bersembunyi di balik pintu untuk menguping.

“Tuan Muda, sungguh ini keputusan yang salah. Bisa-bisanya Anda membiarkan esensi kehidupan Anda tetap berada di tubuh Emma. Anda hanya mengandalkan esensi sembilan ekor yang Anda miliki. Sangat membahayakan hidup Anda, Tuan. Kalau tidak, Anda tidak akan bisa hidup kekal lagi.”

Emma merapatkan telinganya, ia tak begitu jelas melihat ekspresi wajah Raynard di sana.

“Aku bisa mengurus semuanya. Jangan cerewet, hanya ini yang bisa kulakukan. Dia gak boleh tahu apapun.” Suara Raynard terdengar begitu santai, hal yang dianggap remeh baginya.

“Tuan, Anda bilang, Anda akan membantunya, sementara kekuatan Anda lemah sekarang.”

Raynard menutup buku dengan cepat, matanya menatap tajam Oliver, membuat pria di hadapannya bergidik ngeri.

“Kerjakan saja tugasmu, jangan banyak bicara dan berpikir yang tidak-tidak.”

“Baik.”

Tak ingin ketahuan menguping, Emma langsung buru-buru pergi.

Belum sempat masuk ke kamarnya, Emma menghentikan langkah. “Ponselku ada di mobil waktu itu. Bagaimana bisa aku menghubungi pengacara keluarga?” gumamnya dengan menggigit ujung kukunya. 

Frans adalah pengacara ayah Emma. Sejak kecil, Frans yang mengurus keperluan Emma. Bahkan, sampai Crish Azure, papa Emma menikahi Emilia pun, Frans yang memberikan perhatian lebih. Emma hanya percaya dengan Frans.

“Nona, ada apa?”

Senyum Emma merekah saat melihat Oliver mendekat. “Kebetulan sekali!”

“Kebetulan apanya?”

Emma tersenyum jahil, ia mengerling penuh arti, “Oliver, bisakah kamu memberikan aku ponsel?”

“Untuk apa?” jawab Oliver cepat. Ia tahu, manusia tak akan jauh-jauh dari benda itu. Masalahnya, ia takut jika rahasia mengenai tuannya terbongkar.

“Oliver, aku harus menghubungi pengacaraku, menyusun rencana untuk balas dendam. Kalau enggak ada ponsel, gimana aku bisa menghubungi pengacaraku?”

Oliver mendengkus. Ia tak ingin terkena amuk tuan mudanya. Hanya saja, ia takut mengenai keberadaan tuannya.

“Oliver! Kenapa bengong!” pekik Emma tak sabaran.

“Baik, Nona. Aku segera kembali.” Oliver langsung pergi begitu saja.

Melihat tingkah Oliver yang menggemaskan, Emma sampai terkikik, ia bergegas ke kamarnya. Mencoba untuk menyusun rencana.

Emma merebahkan tubuh di ranjang, menatap langit-langit kamar yang terasa terlalu luas untuk seorang manusia yang hidupnya kini diikat oleh satu pria dan satu rahasia. Jari-jarinya mengetuk kasur pelan, otaknya berlari lebih cepat daripada detak jantungnya. Balas dendam tak bisa sembarang. Ia butuh rencana rapi, tanpa celah.

Tak lama, ketukan pelan terdengar di pintu.

“Masuk,” ucap Emma sambil bangkit setengah duduk.

Oliver muncul dengan wajah kaku, sebuah ponsel tergeletak di telapak tangannya. “Ini. Tapi tolong, gunakan seperlunya, Nona.”

Emma menyambar benda itu, senyumnya merekah. “Tenang saja. Aku cuma mau bicara dengan orang yang tepat.” Tatapannya mengeras sesaat, lalu kembali cerah. “Terima kasih, Oliver.”

Oliver ragu sejenak, lalu mengangguk dan pergi. Pintu menutup, meninggalkan Emma sendirian dengan napasnya sendiri dan dering yang segera ia panggil.

“Om Frans?” Suaranya merendah, menahan getar. “Ini aku.”

Ada jeda. Lalu suara yang dikenalnya sejak kecil menyapa, tenang dan waspada. Emma meringkas segalanya, pengkhianatan Iris, jebakan yang nyaris merenggut nyawanya, dan posisi barunya yang rumit. Ia menyisakan bagian paling gelap untuk dirinya sendiri. Tidak semua kebenaran harus diucapkan sekarang.

“Nona, syukurlah … Nona Iris telah mengklafirikasi, jika Anda terjatuh dalam sungai itu. Tim SAR tak menemukan apapun. Suasana sangat genting, pihak Lee George murka, dan pada akhirnya perjodohan itu akan diteruskan oleh Nona Iris.” Frans berucap tanpa jeda.

“Aku butuh langkah hukum yang membuat mereka tak bisa bergerak,” ujar Emma akhirnya. “Bukan hari ini, tapi tepat sasaran.”

“Berikan aku waktu Om, ya, Nona Emma,” jawab Frans. “Dan jaga dirimu. Semua bukti akan segera terkumpul. Sementara ini, janganlah muncul dulu.”

Panggilan terputus. Emma menatap layar gelap, lalu menghela napas panjang. Setidaknya satu pion sudah bergerak.

Di luar, malam merayap. Bau hujan mengambang di udara. Emma berdiri di dekat jendela, menatap bulan yang kian bulat, kulitnya terasa hangat seperti ada arus yang berdenyut di bawahnya. Kata-kata Raynard terngiang, tentang energi, tentang purnama, tentang sesuatu yang harus ia hindari besok.

“Jangan muncul,” gumamnya menirukan. Bibirnya terangkat tipis. “Justru besok aku harus lebih hati-hati.”

Pintu kamar kembali diketuk. Kali ini lebih berat.

“Masuk,” ucap Emma.

Raynard berdiri di ambang, wajahnya setenang dan sedingin biasa. Tatapannya menyapu kamar, lalu berhenti padanya. “Kamu sudah dapat yang kamu mau?”

Emma menyimpan ponsel di balik bantal, tersenyum seolah tak ada apa-apa. “Aku hanya menyusun hidupku. Bukankah itu yang kamu minta?”

Hening. Sesaat, mata Raynard meredup, lalu mengeras. “Ingat ucapanku.”

“Aku ingat.” Emma melangkah mendekat satu langkah, cukup dekat untuk merasakan aura panas-dingin itu. “Dan aku juga ingat, kamu membutuhkanku.”

Raynard menahan napas, lalu berbalik. “Istirahat.”

Pintu tertutup. Emma menatapnya lama, lalu terkikik pelan, bukan karena lucu, melainkan karena tekad yang kian menguat. Purnama mungkin akan menguji mereka berdua. Tapi kali ini, Emma tak berniat hanya bertahan.

Ia akan mengendalikan permainan.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Lin
gokil ini. Nagih. lanjut thorrr
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 44 Panggilan Hati

    Seraaaaaang!”Teriakan itu memecah ketegangan yang sejak tadi menggantung di udara.Prajurit Raiver bergerak lebih dulu. Derap kaki memenuhi halaman batu, pedang dan tombak terangkat bersamaan. Sorak perang menggema, membuat beberapa pelayan yang masih berada di sekitar balai menjerit ketakutan dan berlari menjauh.“Lindungi tetua!” teriak salah satu pengawal Onyx.Raynard tidak mundur. Begitu prajurit pertama menerjang, ia menyambar tombak yang mengarah ke dadanya, memutarnya, lalu menghantamkan gagang tombak itu ke rahang lawan. Tubuh pria itu terpelanting dan menabrak dua prajurit di belakangnya.Diego langsung maju dengan pedang panjang berlapis cahaya merah. Tebasannya cepat dan berat. Raynard menahan dengan pedangnya sendiri, benturan keduanya memercikkan cahaya biru dan merah yang membuat udara berdesis.“Masih sempat melindungi manusia itu?” sindir Diego sambil menekan pedangnya.Raynard mendorong balik hingga Diego mundur setengah langkah. “Aku selalu sempat.”Di sisi lain ha

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 43 Serangan

    Langkah Raynard mantap menuju ke balai. Terdengar keributan. Beberapa orang berkumpul di sana. Termasuk ayahnya dan juga para tetua.“Tuan Muda, Diego River datang dengan para prajurit mereka!” Salah satu pengawal tergopoh menghampiri Raynard, wajahnya penuh dengan ketakutan.“Sial! Dia justru datang terlebih dahulu.” Raynard menghentikan langkah, kepalannya semakin kuat. Mengingat Emma sedang mengandung, jiwa protektifnya kembali muncul.“Tambah lagi keamanan di ruangan itu. Jangan ada satu pun yang boleh masuk. Siapa pun itu, termasuk pelayan, sebelum aku kembali.”Pengawal itu memberikan anggukan. “Semuanya, bersiap!” teriak Raynard. Para prajuritnya mengikuti di belakang.Sorak sorai terdengar keras dari kejauhan. Para prajurit klan Raiver mulai meneriaki slogan mereka.Saat Raynard keluar, suasana jadi hening. Edrick sudah nyaris putus asa.“Tenang!” Diego maju selangkah, senyum smirknya membuat Raynard muak. Pria itu menatap sinis Raynard.“Ada apa? Bukankah duel itu akan dilak

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 42 Apa Sungguhan?

    Raynard tetap menggenggam tangan Emma saat mereka berjalan menyusuri lorong batu. Langkahnya sengaja diperlambat, menyesuaikan dengan Emma yang masih terlihat sedikit lemas.“Kita mau ke mana?” tanya Emma penasaran.“Sebentar lagi kamu juga tahu,” jawab Raynard dengan senyum tipis.Mereka melewati beberapa taman kecil, lalu sebuah gerbang kayu berukir terbuka perlahan. Begitu melangkah masuk, Emma sontak menghentikan langkahnya.“Ray….”Di hadapannya terbentang hamparan bunga berwarna-warni yang seolah tak berujung. Kupu-kupu dengan berbagai warna beterbangan bebas di antara kelopak-kelopak bunga. Sebagian bahkan memancarkan cahaya lembut saat sayapnya mengepak, membuat taman itu tampak seperti lukisan hidup.Angin berembus pelan, membawa aroma bunga yang segar dan menenangkan.“Cantik sekali, aku suka sama wangi bunganya juga,” gumam Emma tanpa mengalihkan pandangannya.Raynard tersenyum melihat kekaguman di wajah istrinya.“Ini Taman Aravelle,” ujarnya. “Tempat ini hanya dibuka untu

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 41 Mencoba Terbiasa

    Emma baru saja benar-benar terjaga ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. Ia menyibak selimut, lalu berjalan membuka pintu dengan rambut masih terurai.Di ambang pintu, dua pelayan perempuan berdiri rapi. Salah satunya membawa nampan berisi gaun berwarna pucat dengan sulaman perak halus, yang lain membawa perhiasan sederhana.Emma refleks tertegun.“Uh… ini untuk apa?”Pelayan yang lebih tua menunduk sopan. “Ini gaun yang harus dikenakan hari ini, Nyonya.”Nada suaranya datar, seolah itu bukan permintaan, melainkan ketetapan.Emma ragu sesaat, lalu mengangguk pelan. Ia membuka pintu lebih lebar, memberi jalan. “Baik.”Ia membiarkan mereka masuk dan mulai membantu melepas pakaian tidurnya, merapikan rambutnya, mengenakan gaun itu dengan cekatan. Kainnya ringan, dingin di kulit, jatuh pas di tubuh Emma tanpa terasa berlebihan.Saat pelayan terakhir mengencangkan ikatannya, Emma bertanya, seolah baru teringat sesuatu, “Raynard di mana?”Kedua pelayan itu saling pandang singkat sebelum

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 40 Incaran

    Ketukan itu terdengar pelan, tapi cukup untuk memecah suasana.Tok. Tok.Emma membuka mata lebar. Raynard menghela napas panjang, jelas tidak berusaha menyembunyikan rasa frustrasinya.“Serius?” gumamnya lirih.Ketukan kedua menyusul, lebih ragu. “Tuan, maaf mengganggu.”Raynard mendecak pelan. Ia menegakkan tubuh, menarik selimut dengan satu gerakan singkat. Memakai kembali celananya. Begitu juga Emma yang langsung memakai jubah tidurnya.Pintu terbuka perlahan. Oliver berdiri di ambang pintu, rambutnya masih sedikit basah, wajahnya canggung, jelas menyadari ia datang di waktu yang sangat tidak tepat.“Ah… saya kira Anda belum beristirahat,” katanya, suaranya menurun di akhir kalimat.Emma ikut duduk, membenarkan posisi bantal. “Gak apa-apa, Oliver. Ada apa?”Oliver melirik Raynard sekilas, lalu kembali ke Emma. “Para tetua meminta Tuan Muda segera ke balai tengah. Katanya ada perubahan keputusan.”Raynard langsung menegang. “Perubahan apa?”Oliver menarik napas. “Tentang penjagaan.

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   34. Menjenguk Dede Bayi di dalam Perut

    Acara peresmian itu telah usai.Segala tatapan sinis dan bisik-bisik yang sempat diarahkan pada Emma perlahan mereda, seolah kalah oleh kenyataan bahwa ritual telah diterima para tetua. Tidak ada kekacauan. Tidak ada penolakan terbuka. Semuanya berjalan lancar.Justru itulah yang membuat Emma merasa asing.Ia duduk di tepi ranjang kamar mereka, punggungnya bersandar pada sandaran kayu yang hangat. Tangannya refleks menyentuh perutnya, masih rata, nyaris tak ada perubahan. Emma mengusapnya pelan, seolah takut menekan terlalu keras.“Ada kehidupan di sini,” gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.Perasaan itu aneh. Bukan takut. Bukan juga sepenuhnya bahagia. Lebih seperti tidak percaya.Pintu kamar terbuka. Raynard keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah, aroma sabun tipis menguar. Ia mengenakan pakaian sederhana khas dunia rubah, jauh dari kesan penguasa, lebih seperti pria biasa yang baru saja selesai mandi.Raynard duduk di samping Emma, jaraknya dekat, bahunya hampir bersent

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 7

    “Siapa kamu?” geram Lee dengan muka merah padam, napasnya menderu dengan kedua tangan yang mengepal.Emma menelan ludah. Napasnya tercekat di tenggorokan. “Ray, kenapa kamu di sini?”Raynard hanya tersenyum tipis. Setiap langkahnya menjadi pusat perhatian. Pria dengan wajah datar itu mendekat, sant

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 6

    “Tolong ….”Emma ternganga, nyaris memuntahkan napasnya, dan detik berikutnya ia justru tersenyum pongah. Tetapi tidak pada Iris dan kubu-nya. Mereka diam, dengan wajah memucat.“Nona Iris, tolong.” Pria bertubuh kekar bersimpuh dengan tangan yang diborgol, di belakang beberapa polisi dan Frans ber

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 5

    Emma dan Oliver baru saja turun dari mobil. Suasana rumah keluarga Azzure sudah tampak ramai. Mobil berderet di car port. Emma berjalan dengan anggun menuju gerbang, seorang satpam yang berjaga mendelik sempurna.“No-nona Muda? An-anda masih hidup?” tanya satpam itu dengan tergagap.Emma mengulas s

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 4

    Aroma sedap membuat tidur lelap Emma terganggu. Gadis itu langsung bangkit dan mengendus bak anjing. “Wah, wangi apa ini?’’Emma mengikuti aroma itu, sampai mengantarkannya ke dapur. Di sana, Oliver sedang memanggang ikan di teflon. Emma mendekat seraya memekik senang, “Oliver!”Oliver nyaris menj

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status