Share

Bab. 8

Author: Layli Dinata
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-21 21:01:08

Emma sama sekali tidak menyangka, mereka kini sudah berada di rumah Raynard. Tak ada kebisingan lagi. Ia buru-buru mengusap wajah. Ia merasa seperti berada di dalam mimpi.

“Tuhan … takdir macam apa ini? Bagaimana bisa aku berada di situasi seperti ini?”

Raynard sudah lari ke kamarnya. Sejak berubah wujud, pria itu meninggalkan Emma sendirian di depan kamar. Ralat, Emma bersama Oliver. Pria itu hanya menghela napas melihat Emma yang pucat pasi meratapi nasib.

“Oliver, jelaskan kalau ini mimpi! M
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 13

    Raynard menjentikkan jari. Beberapa patung manekin di sebelah Calvin, jatuh menimpa Iris dan Calvin. Suasana semakin chaos, beberapa pengunjung yang datang saling menjerit karena refleks.Pun dengan Emma, yang tak tahan melihat kejadian konyol itu.“Ray, kamu bisa saja deh!”Raynard hanya diam. Tatapannya justru fokus pada Emma yang terlihat girang.“Itu belum seberapa. Aku bahkan bisa melakukan hal yang jauh lebih gila lagi.”Emma berdeham. Ia salah tingkah ditatap seperti itu. “A-ayo, Ray! Kita pergi aja!”Mereka memilih masuk ke sebuah food court. Suasana di dalam tidak begitu ramai. Emma memilih tempat duduk yang paling pojok. Ia sedang ingin makan hotspot, sudah cukup lama ia tak memakannya.“Ray, mau minum apa?” tanya Emma yang kini fokus pada ponselnya. Tak mendengar respon Raynard, Emma mengangkat wajahnya, fokus Raynard ada pada seseorang, Emma mengikuti arah pandangnya.Seorang pria berjanggut dengan memakai kalung Japamala, kepalanya botak dengan pakaian serba hitam.“Ray,

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 12

    Berkeliaran di pusat perbelanjaan seperti inilah yang Emma inginkan setelah lama terkurung di dunia yang entah tak pernah ia tahu pastinya. Emma memasuki sebuah toko baju dengan nama brand ternama. Sementara Raynard mengekor di belakang layaknya bodyguard. “Nyonya, kami memiliki desain terbaru. Barangkali Nyonya tertarik,” ucap seorang pramuniaga. Mendengar itu, Emma langsung terlihat senang. Ia mengangguk cepat. “Boleh.” Ia mengikuti pramuniaga, menuju ke salah satu etalase di toko itu.Tetapi, saat ia sampai di sana Iris sudah terlebih dulu di sana bersama Calvin. “Iris?” gumam Emma tak percaya. Ia merasa sial karena bertemu dengan adik tirinya itu.“Oh? Emma? Kamu pasti mau ambil gaun ini? Sayangnya, aku duluan yang sampai.” Iris menyeringai. “Nona Emma, apa kabar?” sahut Calvin menyapa dengan gaya angkuhnya.Seperti biasa, Emma tak menggubris ketika sang rival menyapa. “Nyonya. Desain ini hanya ada satu di dunia,” ucap sang pramuniaga dengan hati-hati. Ia menatap gaun canti

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 11

    Oliver tak langsung menjawab, tangannya justru menggaruk kepala, matanya bergerak resah.Melihat keanehan itu, Raynard menoleh pada Emma, yang jelas terlihat kepo sekali mengenai hal ini. “Emma, habiskan makanannya. Aku ada perlu dengan Oliver.” Emma hanya mengedipkan mata beberapa kali, lalu fokusnya kembali pada Oliver. “Pergilah ke kamarku!”“Siap, Tuan Muda!” Oliver langsung lari, pergi. Emma mendengkus. Mengaduk ramennya asal dan sedikit kesal.“Emma, aku ke kamar dulu.”“Ray, yakin kalau kamu enggak butuh bantuan?” ucap Emma dengan bibir mengerucut.Sebelah alis Raynard terangkat satu. “Bantuan? Kamu?”“Ah, ya sudah! Sana pergi!”Raynard tidak mengatakan apapun. Pria itu justru memilih pergi, tidak ada drama menenangkan Emma yang merajuk.Rasa penasaran berkecamuk di hati Emma, ia langsung menghabiskan makanannya. Cepat. Lalu membawa nampan itu ke dapur.Setelahnya, tujuan utamanya adalah kamar Raynard. Apa lagi kalau bukan untuk menguping.Namun, belum sempat ia melangkah menu

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 10

    Tatapan Raynard terlihat jauh. Emma seakan merasakan luka pada pria di depannya ini. “Ibuku meninggal karena ketamakan seorang tabib. Ayahku datang di saat yang tepat, tapi saat melahirkanku, ibu telah meninggal.”Emma melongo. Matanya basah oleh air mata. Ia menyekanya dengan punggung tangan. “Lalu, kenapa kamu tidak bersama ayahmu?”Raynard menatap lama Emma. Matanya berkaca-kaca, seperti banyak hal yang ingin dia sampaikan, tetapi tertahan di kerongkongan.“Ray?”Buru-buru Raynard memalingkan pandangannya. Jauh entah ke mana. Emma bergeser tepat di hadapan Raynard, tangannya terulur menyentuh pundak pria itu. Gerakan refleks.“Ray, jangan khawatir. Kamu tidak sendiri. Ada aku kan?”Raynard tersentak, alisnya terangkat dan Emma justru tersenyum lembut. Gadis itu meraih tangannya, menggenggam dengan penuh pengertian.“Setidaknya, aku masih punya waktu sebulan. Sebelum aku mati, aku akan ….” Ucapan Emma terhenti, karena tiba-tiba Raynard membungkam mulutnya dengan bibir. Hal ini memb

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 9

    “Oliver, yang sebenarnya terjadi apa?”Wajah Oliver berubah pasi, ia menggigit bibir bawahnya, tetapi Emma justru menatapnya skiptis.“Oliver?”Oliver menggeleng pelan, ia menurunkan nampan dalam pelukan dan berkata, “Nona, jangan paksa aku. Intinya, ada masalah antara Tuan Muda dan keluarganya. Masalahnya apa, hanya Tuan Muda yang bisa bicara ini. Saranku, jika kamu iingin selamat, jangan banyak tanya. Tuan Muda tak sejahat yang Nona pikirkan. Aku pergi dulu.” Oliver pergi begitu saja.Emma mengembuskan napas kasar. Demi apapun, ia justru semakin penasaran. “Pokoknya, aku harus cari tahu. Siapa Raynard dan apa motifnya.”Saat menikmati makanannya, ponsel di dalam tas tangan berdering. Sambil m ngunyah, Emma mengeluarkan benda pipih itu. Nama Frans tertera di layar, ia buru-buru mengangkat.“Ya, Om?”“Emma, Tuan Lee dan keluarganya marah. Mereka kecewa dengan Iris. Dan sepertinya telah menyesal karena telah terhasut oleh Iris.”Senyum Emma merekah. ‘Ternyata, yang dikatakan oleh Rayna

  • Menjadi Tawanan Pangeran Rubah   Bab. 8

    Emma sama sekali tidak menyangka, mereka kini sudah berada di rumah Raynard. Tak ada kebisingan lagi. Ia buru-buru mengusap wajah. Ia merasa seperti berada di dalam mimpi.“Tuhan … takdir macam apa ini? Bagaimana bisa aku berada di situasi seperti ini?”Raynard sudah lari ke kamarnya. Sejak berubah wujud, pria itu meninggalkan Emma sendirian di depan kamar. Ralat, Emma bersama Oliver. Pria itu hanya menghela napas melihat Emma yang pucat pasi meratapi nasib.“Oliver, jelaskan kalau ini mimpi! Mereka semua nanti gimana? Terus, bagaimana dengan Om Frans?” Emma menarik kerah baju Oliver, mengguncangnya cukup keras.“Tahan, Nona! Tahan! Semua orang akan melupakan perdebatan tadi. Intinya, mereka semua hanya mengingat, Anda belum mati dan Nona Iris beserta kubu-nya sudah diseret ke kantor polisi.”Tubuh Emma seperti kehilangan semua tulangnya. Ia bersimpuh di lantai. Cukup lega. Setidaknya, Iris sudah mendapatkan pelajaran, ia juga sudah terhindar dari Lee George.Namun, masalah lain justr

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status