Inicio / Mafia / Menjadi Tawanan Tuan Mafia / Raymond Mabuk Berat

Compartir

Raymond Mabuk Berat

Autor: Miss Wang
last update Última actualización: 2026-02-09 16:16:51

Clara dan Bu Eli tersentak bersamaan.

Mereka keluar kamar hampir berlari, langkah tergesa menyusuri lorong. Pecahan guci berserakan di lantai marmer, air dan tanah liat membasahi karpet mahal.

Di tengah kekacauan itu berdiri sosok Raymond.

Tubuhnya sedikit terhuyung. Kemejanya kusut, satu kancing terbuka. Matanya merah, pandangannya buram—jelas dipengaruhi oleh alkohol. Sebotol minuman tergeletak di sudut lorong, isinya tinggal separuh.

Ken baru saja datang dari ujung lorong, refleks meraih l
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mansion Raymond diserang

    Di Mansion Raymond, malam pecah seperti kaca yang dilempar ke lantai marmer.Dentuman senjata terdengar pertama kali di gerbang. Lampu taman padam satu per satu. Bayangan bergerak cepat di antara pepohonan, lalu teriakan menyusul.“SERANG!”Anak buah Ellen datang seperti gelombang gelap—liar, terlatih, dan penuh amarah. Penjaga Raymond menyambut mereka tanpa ragu. Pukulan beradu dengan pukulan, suara tulang beradu, senjata api meletup pendek, teredam oleh dinding tebal mansion.“Lindungi Mansion!” teriak salah satu ketua anak buah Raymond.“Jangan biarkan mereka masuk!” balas yang lain.Di dalam, Bu Eli dan para pelayan berlari tertatih di lorong belakang. Dada mereka naik turun, matanya panik. “Astaga… astaga…” gumam Bu Eli, tangannya gemetar memegangi dinding. Ia mendengar teriakan yang memekakkan telinga. Pintu samping tiba-tiba runtuh. Tiga pria menerobos masuk, wajah dingin dan matanya tajam. “Cari ruang bawah tanah,” perintah salah satunya singkat.Bu Eli terhenti. “Jangan—!”

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Hari H

    Tuan… bagaimana ini?” suara Ken panik. “Apa kita keluarkan saja dia dari sana?”Raymond berdiri kaku, mata hitamnya menahan sesuatu yang beriak di dada. “Tidak.” Suaranya rendah dan dan tegas, seperti palu yang jatuh satu kali. “Panggil dokter ke ruang bawah tanah.”Ken mengangguk cepat. “Baik, Tuan.” Ia bergegas pergi, langkahnya cepat namun senyap.Di ruang bawah tanah, Clara meringkuk di lantai, tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membasahi pelipis. Nafasnya pendek-pendek, terasa sesak. Ketika dokter datang bersama Ken, lampu kecil dinyalakan, menerangi wajah pucat itu. “Pasien demam tinggi,” gumam dokter sambil memeriksa nadi Clara. “Dehidrasi dan kelelahan. Dia butuh istirahat dan banyak cairan.”Ken menyelubungi Clara dengan selimut tebal, gerakannya hati-hati. Di ambang pintu, Raymond berdiri. Tangannya terkepal keras di sisi tubuh, urat-uratnya menegang. Ia tidak melangkah lebih dekat.Kelopak mata Clara bergetar. Ia membuka mata sedikit, pandangannya buram. Di balik cah

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Persiapan Pernikahan

    Mansion Baker sudah mulai sibuk—penuh kilau palsu yang menutup bau busuk di baliknya. Aula utama dipenuhi contoh undangan berlapis emas, daftar tamu panjang yang memuat nama-nama keluarga mafia lintas kota, dan maket venue pernikahan yang megah. Charles mondar-mandir dengan senyum puas, sesekali memberi instruksi, sesekali tertawa keras, seolah pernikahan ini adalah mahkota terakhir kekuasaannya.Di sudut lain, Baker mengawasi dengan tatapan tajam. Setiap detail harus sempurna—itulah wajah yang ia pamerkan pada dunia. Sementara Veronika, anggun dalam gaun gelapnya, sesekali mendekat pada Baker, berbisik, lalu menjauh lagi. Senyum mereka saling bertukar, cepat, dan rahasia.Sementar itu, Ellen tenggelam dalam dunia yang berbeda. Ruang ganti dipenuhi gaun-gaun pengantin—sutra, renda, kilau mutiara. Ia berjalan perlahan, menyentuh kain-kain itu seolah menyentuh masa depan. Ketika Raymond masuk, Ellen langsung berbalik, matanya berbinar.“Ray,” panggilnya manja. “Bantu aku memilih gaun.”

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kartu Merah

    Keesokan harinya, mansion itu masih dibungkus sunyi yang berat. Raymond melangkah di koridor belakang ketika mendapati Bu Eli berdiri di dapur kecil, menata makanan di atas nampan—sup hangat, nasi lembut, dan segelas air.Bu Eli terkejut saat bayangan tinggi menjulang muncul tepat di belakangnya. Ia berbalik cepat. “T-Tuan…” suaranya bergetar. “Ini… ini untuk Nona Clara. Maaf jika… jika tidak boleh, aku akan—”Raymond hanya diam. Tatapannya jatuh pada nampan itu cukup lama, seperti sedang menimbang sesuatu. Lalu, tanpa sepatah kata pun, ia melangkah melewati Bu Eli.Ken yang menyusul di belakangnya berhenti sejenak. Ia memberi anggukan kecil pada Bu Eli, nyaris tak terlihat, lalu berbisik singkat, “Lanjutkan,” sebelum kembali mengikuti Raymond.Bu Eli menghela napas panjang. Tangannya masih gemetar, namun langkahnya mantap saat ia membawa nampan itu menuruni tangga sempit menuju ruang bawah tanah.Di bawah, udara lembap dan dingin menyelimuti. Clara meringkuk di sudut ruangan, memelu

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Clara Difitnah

    Aku tahu pelakunya,” ucap Raymond akhirnya. Ken mengangkat kepala. “Apa maksud Tua?”Raymond menghela napas pelan, seolah menahan sesuatu di dadanya. “Panggil semua orang ke ruang tengah! Sekarang.”Ken menelan ludah, lalu mengangguk cepat. “Baik, Tuan.”Beberapa menit kemudian, ruang tengah mansion dipenuhi ketegangan. Anak buah berjajar, berdiri di sisi dinding. Para pelayan berbaris kaku, wajah mereka pucat. Bu Eli menggenggam ujung celemeknya dengan tangan gemetar. Sementara itu, Ellen berdiri anggun di dekat sofa, dagunya terangkat, sorot matanya penuh percaya diri. Clara berdiri di antara para pelayan. Jantungnya tak kalah berdegup keras seperti yang lainnya. Ada firasat buruk yang menekan dadanya sejak ia dipanggil turun.Tak lama, Raymond melangkah masuk. Setiap langkahnya mantap. Ia berdiri di tengah ruangan, tatapannya menyapu semua orang—dingin, menilai, seperti sedang menghitung siapa yang akan jatuh.“Sebuah berkas penting,” ucap Raymond akhirnya, memecah keheningan, “

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Rubah Licik

    Tanpa aba-aba, ia maju. Tangannya meraih pinggang Clara, menariknya mendekat, dan bibirnya menekan bibir Clara—dalam namun singkat. Ciuman itu berhenti sebelum Clara sempat bernapas.Raymond memejamkan mata. Saat ia membukanya kembali, sorot matanya gelap. Clara membeku, membalas tatapan itu tanpa mampu bergerak.Rahang Raymond mengeras. Ia melepaskan Clara, ia terdiam sejenak, lalu pria itu berbalik, dan keluar dari ruangan itu tanpa sepatah kata pun.Pintu tertutup. Clara masih mematung. Jantungnya berdentum tak beraturan. “Ada apa dengannya…?” gumamnya pelan, kebingungan. Keesokan paginya, mansion terasa lebih sunyi dari biasanya.Clara baru keluar dari kamar dengan pakaian kampus dan beberapa buku di pelukannya ketika pintu kamar Raymond terbuka—Raymond dan Ellen melangkah keluar bersama. Ellen merapikan dasi Raymond dengan sikap intim, seolah itu haknya.Langkah Clara terhenti, ia berdiri kaku di depan pintu. Raymond dan Ellen menoleh. Ellen sengaja merapat lebih dekat, lalu

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status