Beranda / Mafia / Menjadi Tawanan Tuan Mafia / Mansion Raymond diserang

Share

Mansion Raymond diserang

Penulis: Miss Wang
last update Tanggal publikasi: 2026-02-15 16:32:48

Di Mansion Raymond, malam pecah seperti kaca yang dilempar ke lantai marmer.

Dentuman senjata terdengar pertama kali di gerbang. Lampu taman padam satu per satu. Bayangan bergerak cepat di antara pepohonan, lalu teriakan menyusul.

“SERANG!”

Anak buah Ellen datang seperti gelombang gelap—liar, terlatih, dan penuh amarah. Penjaga Raymond menyambut mereka tanpa ragu. Pukulan beradu dengan pukulan, suara tulang beradu, senjata api meletup pendek, teredam oleh dinding tebal mansion.

“Lindungi Mansio
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Ahmad Hasan Mad
plisss mau baca 1 bab tapi iklan nya satu jam padahal tulisan nya nonton 2 iklan ternyata iklannya lebih dari 10 hampir sejam hanya untuk 1 bab
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Wajah yang Bukan Miliknya 5

    Ruangan rahasia itu kembali tenggelam dalam kesunyian. Pintu brankas masih terbuka. Cahaya lampu senter memantul pada permukaan logamnya, menerangi dokumen-dokumen tua yang berserakan di atas meja kayu. Raymond berdiri di sana tanpa bergerak. Map hitam peninggalan Maria masih berada di tangan kirinya. Namun pikirannya tidak lagi tertuju pada angka-angka aset, sertifikat tanah, atau daftar perusahaan rahasia yang baru saja ditemukannya. Pikirannya hanya tertuju pada satu wanita. Wanita dengan wajah ibunya. Wanita yang mengetahui keberadaan brankas. Wanita yang tampak ketakutan ketika melihat seseorang di belakangnya. Dan yang paling mengganggu— wanita itu pernah berkata bahwa Maria belum pernah mati. Raymond menarik napas panjang. "Aku harus menemukan jawabannya." John yang berdiri beberapa langkah di belakangnya langsung menoleh. Raymond menyerahkan map hitam kepadanya. "Jaga ini." John menerimanya dengan kedua tangan. "Baik, Tuan." Raymond menatap

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Warisan yang Disembunyikan 4

    Ruang Rahasia Beberapa menit kemudian, Raymond berdiri di depan rak buku besar. Salah seorang pengawal menarik buku tertentu. Klik. Rak itu bergerak perlahan. Di baliknya terbuka lorong sempit yang gelap. Udara dingin keluar dari dalam. Raymond menyalakan senter. "Masuk." Para pengawal bergerak terlebih dahulu. Lorong tersebut berakhir pada sebuah ruangan kecil. Debu memenuhi udara. Dindingnya terbuat dari batu tua. Di tengah ruangan terdapat meja kayu yang sudah kusam. Dan di atas meja itu... sebuah brankas hitam. Raymond mendekat. Dadanya berdebar tanpa alasan yang jelas. Ia melihat bagian depan brankas. Terdapat tiga angka. 17 — 04 — 09. John menatap Raymond. "Tuan..." Raymond tidak menjawab. Ia memasukkan angka dari liontin. 17. 18. 19. Klik. Pintu brankas terbuka. Semua orang terdiam. Di dalamnya tersusun beberapa dokumen lama. Sertifikat tanah. Surat kepemilikan saham. Rekening perusahaan. Akta kepemilikan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Pesan dari Masa Lalu

    Pintu kayu tua di hadapan Raymond masih tertutup rapat. Beberapa detik sebelumnya, wanita yang memiliki wajah persis seperti Maria telah menghilang di balik pintu itu. Suara langkahnya sempat terdengar tergesa-gesa menyusuri lorong, kemudian lenyap begitu saja. Namun bukan langkah kaki itulah yang terus terngiang di kepala Raymond. Melainkan kalimat terakhir wanita tersebut. "Jangan percaya Charles." "Dia bukan orang yang membunuhku." "Karena... aku belum pernah mati." Raymond berdiri kaku. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Rahangnya mengeras. Selama bertahun-tahun, ia hidup dengan satu keyakinan yang tidak pernah sekalipun dipertanyakannya—ibunya, Maria Antonio, telah meninggal. Ia melihat sendiri peti mati itu. Ia menghadiri pemakamannya. Ia bahkan mengunjungi makam Maria setiap tahun, tepat pada tanggal kematiannya. Lalu sekarang... Ayahnya muncul setelah bertahun-tahun dianggap tewas. Seorang wanita dengan wajah Maria tiba-tiba muncul di mansi

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Foto 3 Hari yang Lalu 2

    "Dia tidak akan menemukannya." "Bagaimana kau yakin?" Elena menatap lorong kosong di depannya. "Karena orang yang dia cari..." Ia berhenti sejenak. "...sudah tidak berada di mansion." Sambungan terputus. Elena memasukkan ponselnya ke dalam saku. Namun ia tidak menyadari bahwa di ujung lorong, di balik bayangan pilar besar... seseorang berdiri diam. Seseorang telah mendengar percakapan mereka. Di sebuah ruangan yang jauh dari jangkauan Raymond... wanita yang menyerupai Maria duduk di depan cermin. Lampu kecil di atas meja rias menerangi wajahnya. Ia menatap pantulannya sendiri. Wajah itu begitu sempurna. Bentuk mata. Hidung. Bibir. Garis rahang. Bahkan tahi lalat kecil di dekat sudut bibir yang pernah dimiliki Maria. Namun itu bukan wajah aslinya. Ia menyentuh pipinya dengan ujung jari. Air mata perlahan mengalir. "Maaf..." Suaranya bergetar. "Aku tidak ingin melakukan ini." Pintu terbuka. Elena masuk. Wanita itu segera menoleh.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Jejak Wajah yang Hilang

    Pintu kayu tua itu tertutup tepat di depan wajah Raymond. BRAK! Bunyi benturannya menggema di sepanjang koridor mansion, lalu perlahan lenyap ditelan kesunyian. Raymond berhenti. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di tempatnya. Dada pria itu masih naik turun akibat berlari. Napasnya berat, tetapi bukan kelelahan yang membuatnya terdiam. Tatapannya terpaku pada permukaan pintu berwarna cokelat tua di hadapannya. Di balik pintu itu... ada wanita yang baru saja membuat seluruh keyakinannya tentang masa lalu berantakan. Wanita yang memiliki wajah ibunya. Wanita yang beberapa detik lalu menatapnya dengan mata penuh air mata dan mengatakan bahwa dirinya belum pernah mati. Raymond perlahan mengangkat tangan. Jemarinya hampir menyentuh gagang pintu. "Jangan, Tuan." Suara John terdengar dari belakang. Raymond menoleh tajam. John segera berhenti beberapa langkah darinya. Dua pengawal berada di belakang pria itu, masing-masing membawa senjata dan memasang kewasp

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Disembunyikan

    Gelap total. Dalam sekejap, mansion tua itu berubah menjadi lautan kegelapan. "Jangan bergerak!" Suara John terdengar tegas dari bawah tangga. Para pengawal Raymond langsung membentuk lingkaran perlindungan. Senjata mereka terangkat, sementara beberapa orang menyalakan senter kecil dari peralatan yang mereka bawa. Raymond tidak peduli. "Ken!" Ia menatap ke arah lantai atas. Tidak ada jawaban. "Ken!" Kali ini ia berteriak lebih keras. Hanya gema suaranya yang terdengar. Kemudian dari suatu tempat di lantai atas terdengar suara langkah kaki. Satu. Dua. Tiga. Perlahan. Berat. Raymond langsung mengangkat kepalanya. "Siapa di sana?" Tidak ada jawaban. John bergerak mendekati Raymond. "Tuan, jangan naik sendirian." "Aku tidak punya pilihan." "Ini jebakan." "Aku tahu." Raymond menatap tangga yang gelap. "Justru karena itu aku harus naik." Ia baru hendak melangkah ketika suara Charles terdengar dari belakangnya. "Selamat datang, Raymond." Raymond berhenti. Suara

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Clara, Tawanan Tuan Mafia

    Sementara di tempat gelap itu, harapan Clara nyaris padam. Langkahnya terseret, kakinya terasa berat seperti diikat beban. Clara menghela napas panjang. Ia merasa seperti orang yang sudah tak punya pilihan. Bunyi pintu besi ditutup terdengar lebih keras dari sebelumnya. Clara berdiri beberap

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijodohkan

    Clara menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! Tolong buka! Aku mohon!” Tak ada jawaban. Clara merosot ke lantai. Tangannya gemetar, nafasnya terputus-putus. Ia memeluk lututnya, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seolah ingin menghilang ke dalam bayangan. Air mata jatuh tanpa bisa d

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dikurung di Basement

    Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijual Paman, Dibeli Tuan Mafia

    Keesokan paginya, Clara bangun dengan kepala yang sakit dan dada yang masih terasa sesak.Seluruh tubuhnya nyeri sebab tidur di atas lantai yang keras dan dingin. Dalam hatinya, ada kemarahan yang belum menemukan jalan keluar. Clara bangkit perlahan. Tangannya gemetar saat merapikan rambut cokelat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status