Home / Mafia / Menjadi Tawanan Tuan Mafia / Mansion Raymond diserang

Share

Mansion Raymond diserang

Author: Miss Wang
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-15 16:32:48

Di Mansion Raymond, malam pecah seperti kaca yang dilempar ke lantai marmer.

Dentuman senjata terdengar pertama kali di gerbang. Lampu taman padam satu per satu. Bayangan bergerak cepat di antara pepohonan, lalu teriakan menyusul.

“SERANG!”

Anak buah Ellen datang seperti gelombang gelap—liar, terlatih, dan penuh amarah. Penjaga Raymond menyambut mereka tanpa ragu. Pukulan beradu dengan pukulan, suara tulang beradu, senjata api meletup pendek, teredam oleh dinding tebal mansion.

“Lindungi Mansio
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ahmad Hasan Mad
plisss mau baca 1 bab tapi iklan nya satu jam padahal tulisan nya nonton 2 iklan ternyata iklannya lebih dari 10 hampir sejam hanya untuk 1 bab
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Keajaiban

    Kemudian... Mereka berdua menggeleng pelan. "Tidak, Sayang." Suara ibunya begitu lembut. "Belum." Clara membeku. "Belum...?" Ayahnya mengangguk. "Masih ada orang-orang yang menunggumu pulang." "Kau belum menyelesaikan perjalananmu." Ibunya tersenyum semakin hangat. "Suamimu..." "...sedang menangis." Air mata Clara kembali mengalir. "Raymond..." Ia hampir bisa membayangkan wajah pria itu. Pria yang selama ini selalu berusaha tampak kuat di depan semua orang. Pria yang tidak pernah menunjukkan kelemahannya. Pria yang diam-diam mencintainya dengan seluruh jiwa. Ibunya mengangguk pelan. "Dia sangat mencintaimu." Ayahnya melanjutkan dengan suara tenang. "Dan ada seorang anak kecil..." "...yang sejak tadi memanggil mamanya." "Noah..." bisik Clara. Wajah putra sulungnya langsung terbayang jelas. Tangisan bocah itu. Pelukannya. Tawanya. Senyumnya. Kemudian sang ibu mengarahkan pandangannya ke perut Clara. "Masih ada satu kehidupan kecil..." "...yang bahkan bel

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Apakah Sudah Waktunya Pergi?

    Sementara di tempat yang tak lagi mengenal siang ataupun malam... Tak ada matahari. Tak ada bulan. Tak ada batas cakrawala. Yang terbentang di hadapan Clara hanyalah hamparan cahaya putih yang seolah tidak memiliki ujung. Cahaya itu lembut, tidak menyilaukan mata, justru menghadirkan ketenangan yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun. Di kejauhan, dua sosok berdiri berdampingan. Semakin lama... Semakin jelas. Seorang pria paruh baya dengan senyum teduh yang selalu membuatnya merasa aman. Di sampingnya berdiri seorang wanita berwajah lembut dengan mata penuh kasih sayang. Air mata Clara langsung memenuhi pelupuk matanya. Dadanya sesak oleh kerinduan yang selama ini hanya mampu ia simpan dalam diam. "Papa..." Suara itu keluar begitu lirih. Hampir seperti bisikan. "Mama..." Bibirnya bergetar hebat. Ia bahkan tidak menyadari air mata telah lebih dulu mengalir membasahi kedua pipinya. Sudah bertahun-tahun ia memendam keinginan sederhana itu.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Clara...

    Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada tangisan. Lelah. Bukan karena mengurus perusahaan. Bukan karena menghadapi musuh. Bukan karena memimpin organisasi sebesar keluarga Antonio. Melainkan karena rasa takut yang terus menggerogoti hatinya sejak Clara jatuh pingsan. Tatapannya masih lurus ke depan. Kosong. "Aku selalu berpikir..." "...selama aku cukup kuat..." "...aku bisa melindungi semua orang yang kusayangi." Ia tertawa pelan. Tawa yang terdengar pahit. Hampa. "Ternyata aku tidak sekuat itu." Ken menggigit bagian dalam pipinya. Ia ingin mengatakan bahwa semua ini bukan kesalahan Raymond. Bahwa tidak ada seorang pun yang mampu melawan penyakit seperti ini. Namun kalimat-kalimat itu terasa terlalu kecil. Tidak akan mampu mengurangi rasa sakit yang sedang dialami pria di sampingnya. Di balik pintu ICU... Suasana semakin menegangkan. "Kadar trombosit?" "Masih terus menurun!" "Bagaimana fungsi hati?" "Enzim hati men

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kenangan

    BIPPPPPPPPPPP...Suara panjang dari monitor jantung memecah keheningan koridor rumah sakit.Nadanya melengking tajam.Dingin.Menusuk.Menggema sepanjang lorong ICU yang diterangi cahaya lampu putih kebiruan.Setiap orang yang berada di sana spontan menghentikan langkahnya.Beberapa perawat saling berpandangan.Seorang dokter muda mempercepat langkah memasuki ruang ICU.Sementara di luar...Raymond Antonio masih berdiri membelakangi pintu ruang perawatan intensif.Tubuhnya tegak.Namun ketegangan yang sejak tadi menopang dirinya perlahan mulai runtuh.Kedua tangannya yang semula terkepal erat di sisi tubuh mulai mengendur sedikit demi sedikit.Buku-buku jarinya yang memutih perlahan kembali berwarna.Bukan karena ia mulai tenang.Melainkan karena seluruh tenaga di tubuhnya seakan habis terkuras.Ia tidak lagi mencoba mengejar dokter.Tidak lagi bertanya.Tidak lagi memaksa siapa pun menjelaskan keadaan Clara.Tatapannya kosong menembus lantai granit mengilap di bawah kakinya.Seolah s

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mama, Papa

    Sementara, itu di Mansion Antonio... Malam semakin larut. Hujan turun tipis membasahi taman belakang. Butiran air memantulkan cahaya lampu taman hingga terlihat seperti kristal-kristal kecil yang berjatuhan dari langit. Namun suasana hangat yang biasanya memenuhi rumah besar itu telah menghilang. Ruang keluarga terasa sunyi. Jam antik di dinding berdetak pelan. Noah duduk meringkuk di sofa dengan kedua lutut dipeluk erat. Matanya sembab karena terlalu lama menangis. Sesekali ia mengusap hidungnya menggunakan lengan piyama dinosaurus kesayangannya. Di meja depan mereka, Bu Eli menyalakan sebuah lilin kecil. Nyala apinya bergoyang pelan tertiup embusan angin dari jendela. "Nenek..." Suara Noah terdengar lirih. "Mama pasti sembuh, kan?" Bu Eli menoleh. Senyumnya berusaha terlihat setenang mungkin. Padahal dadanya sendiri dipenuhi kecemasan. Wanita itu menggenggam kedua tangan kecil Noah. "Iya." Jawaban itu keluar dengan suara yang sedikit bergetar. "Mari kita berdoa.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Gawat

    "Kondisi Nyonya Clara memburuk." Kalimat singkat itu meluncur pelan dari bibir dokter senior, tetapi dampaknya menghantam Raymond jauh lebih keras daripada ledakan peluru yang pernah ia hadapi sepanjang hidupnya. Untuk beberapa detik, dunia di sekelilingnya seakan kehilangan suara. Koridor VIP yang sejak tadi dipenuhi langkah kaki perawat mendadak terasa begitu jauh. Cahaya lampu putih di langit-langit terlihat menyilaukan. Bahkan suara pendingin ruangan yang terus berdengung perlahan menghilang dari pendengarannya. Yang tersisa hanyalah wajah dokter di hadapannya. Dan kalimat itu. Kondisi Nyonya Clara memburuk. Raymond berdiri membeku. Rahangnya mengeras, tetapi sorot matanya kehilangan fokus. "Apa..." Suaranya terdengar parau, nyaris tidak keluar. "Apa maksudmu, Dokter?" Dokter senior itu menarik napas panjang sebelum menjawab. Ia sudah bertahun-tahun menangani pasien dalam kondisi kritis, tetapi menyampaikan kabar buruk kepada keluarga tidak pernah menjadi hal yang mudah.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Diterima

    Beberapa detik hanya ada suara napas di seberang telepon. Jantung Clara tiba-tiba berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas.Lalu suara seorang wanita terdengar profesional. “Selamat malam. Apakah ini Nona Clara Amanda?”Clara langsung duduk lebih tegak di tepi tempat tidur. “Iya… benar saya.”“

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tes Kemampuan

    Jennifer meletakkan dokumen itu di meja, lalu menatap Clara dengan lebih tajam.“Pertama,” katanya datar, “siapa namamu?”Clara menelan ludah. “Clara.”Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan pelan, seolah ingin menjaga jarak dengan masa lalunya. “Tapi… panggil saja saya Amanda.”Jennifer menatapnya

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Melamar Pekerjaan

    Nama itu terdengar asing di telinganya, namun cara Bibi Janeta menyebutnya membuat Clara merasa tempat itu cukup besar dan bergengsi. Bibi Janeta mengangguk sambil menuangkan teh hangat ke dalam cangkir mereka.“Iya. Hotel itu baru dibangun beberapa tahun yang lalu. Besar sekali, banyak sekali ora

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Hotel Genio

    “Tuan…?” suaranya hampir tidak terdengar, tenggorokannya terasa kering.Lampu-lampu senter anak buahnya menyorot tubuh pria yang tertelungkup di tanah itu. Ken menahan napas. Jantungnya berdetak begitu keras. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mencoba menyentuh bahu pria itu.“Tuan Raymond…?”N

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status