ANMELDENPara anak buahnya serentak menunduk.
Sementara itu, melihat kedatangan seorang Raymond Antonio, tubuh Ny. Eva semakin gemetar dan tangisannya semakin keras, melengking menusuk gendang telinga. “T-Tuan Raymond… aku mohon… aku akan bayar… aku—” Raymond mendekat, tatapannya kosong. Tidak ada amarah. Tidak ada belas kasihan. Hanya kehampaan yang mengerikan. “Kau berjudi di wilayahku,” katanya datar. “Lalu mencuri.” Tangannya lalu merogoh jas yang ia kenakan. Ia lalu mengangkat pistol dari balik jasnya sendiri. Clara lantas membeku. “Jangan…” bisiknya, nyaris tak bersuara. Ny. Eva merangkak mendekat, mencengkeram sepatu Raymond. “Tuan… aku punya keluarga… aku mohon…” Raymond menatap ke bawah, lalu—tanpa ragu—menarik pelatuk. DOR! Suara tembakan menggema memecah malam. Tubuh Ny. Eva terhempas ke aspal. Darah mengalir cepat, gelap, menggenang di bawah tubuhnya yang tak lagi bergerak. Clara menjerit. Tangannya menutup mulutnya sendiri, air mata mengalir deras tanpa bisa dihentikan. Dadanya seketika sesak. Ia baru saja melihat seseorang mati dibunuh di depan matanya sendiri. Raymond menurunkan pistol dengan santai, seolah baru mematikan lampu. Ia menoleh perlahan—dan tatapannya bertemu dengan mata hazel Clara yang dipenuhi ketakutan dan kebencian. “Kamu…” suara Clara bergetar hebat. “Kamu bukan manusia…!” Raymond tak berkedip. “Kamu iblis…,” lanjut Clara, air matanya jatuh satu per satu. “Iblis… yang tidak punya hati.” Raymond melangkah mendekat satu langkah. Dan itu cukup membuat Clara mundur panik. Raymond mencondongkan tubuhnya, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Clara. Lalu ia menoleh ke anak buahnya. “Urus wanita ini.” Mendengar itu, Clara gemetar hebat. Kakinya lemas. Ia mundur perlahan. Meski ia hampir tidak bisa merasakan kakinya, Clara berusaha sekuat tenaga untuk melesat. Clara menelan ludahnya. Ia lalu memaksa kaki-kakinya untuk berlari secepat mungkin. Tanpa menoleh, Clara berlari meninggalkan tempat itu, meninggalkan bau mesiu dan darah yang menghantuinya. “Hei! Jangan kabur!” teriak para anak buah Raymond. Clara terus berlari tanpa menoleh, meninggalkan bau mesiu dan darah. Clara berhenti sesaat, ia menoleh ke belakang, pria-pria tadi sudah tidak terlihat lagi. Entah bagaimana Clara bisa berlari secepat itu, yang penting ia selamat sekarang. Clara berjalan pulang seperti bayangan yang kehilangan tubuhnya sendiri. Setelah sampai di rumah, barulah Clara bisa bernapas lega. Ia terengah, berusaha mengatur napasnya. Sementara itu tubuhnya gemetar hebat. Langkahnya masih limbung, nafasnya tak beraturan. Setiap bunyi keras membuat bahunya tersentak. Kilatan moncong pistol itu—wajah dingin pria bernama Raymond—terus berputar di kepalanya. Ia masih tak percaya bahwa dirinya hampir kehilangan nyawa! Clara pun berjalan gontai menuju kamarnya. Begitu pintu terbuka, ruangan sempit yang lebih pantas disebut gudang itu berantakan. Jantungnya seakan jatuh menghantam lantai. Kasur tipisnya terbalik. Buku-buku kuliah berserakan, beberapa sobek. Kotak sepatu tempat ia menyimpan surat-surat lama orang tuanya terbuka. Clara berlari kecil ke sudut lemari, menarik laci kayu yang selalu ia kunci rapat. Kosong. Darahnya seketika membeku. “Tidak…” suaranya pecah. Clara berlutut, meraba lantai, seolah uang itu bisa muncul dengan sendirinya. “Buku tabungan… tidak mungkin…” Saat itu juga pintu kamar berderit pelan. Alda berdiri di sana. Rambutnya rapi, bajunya bersih, wajahnya sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah. Senyum tipis menghiasi bibirnya—senyum yang menusuk. “Nyari ini?” Alda mengangkat buku tabungan itu, lalu memasukkannya kembali ke tas mahalnya. “Sudah habis.” Clara menatapnya dengan mata membara. “Kamu… kamu ambil tabunganku?! Itu uang kuliahku, Alda!” Alda tertawa kecil, meremehkan. “Kuliah? Untuk apa? Kamu pikir masa depan itu ada buat orang sepertimu?” Sesuatu di dalam diri Clara putus. Ia berdiri, tangannya gemetar, dada naik turun. “Kembalikan.” “Tidak,” Alda mendekat, mencondongkan wajahnya. “Anggap saja itu untuk bayar hidupmu. Makan, listrik, tempat tidur. Kamu itu cuma numpang, Clara.” Clara menatap Alda tajam. Lalu… Plak! Suara tamparan menggema di kamar sempit itu. Alda terhuyung, pipinya memerah. “Ah!” Untuk pertama kalinya… Clara melawan. “Apa-apaan ini?!” suara paman Bobi menggelegar dari luar. Bibi Elsa menyusul, wajahnya langsung berubah murka. “Pa! Ma! Dia mukul aku!” Alda menangis, suaranya dibuat pecah, tubuhnya gemetar pura-pura. Tanpa bertanya, tanpa mau tahu, bibi Elsa menampar Clara balik. Lebih keras. Lebih kejam. “Dasar tidak tahu diri!” teriaknya. “Uang itu bahkan tidak cukup untuk membayar hidupmu selama ini!” Clara mengelus pipinya yang ia yakin sudah memerah. Air matanya kini menggenang di ujung mata. “Benar,” paman Bobi menambahkan dingin. “Kamu pikir kami wajib mengurusmu gratis? Orang tuamu sudah mati. Jangan sok menuntut!” Kata-kata itu menghantam lebih keras dari tamparan mana pun. “Jangan bicara seperti itu tentang orang tuaku!” suara Clara memekik bergetar. “Berani kamu bicara tinggi begitu!?” mata bibi Elsa membelalak. Tanpa aba-aba, ia mendorong Clara hingga jatuh tersungkur. “Ah!” Clara meringis ketika punggungnya menyapa lantai yang keras dan dingin. Matanya lalu berpindah ke Alda. Clara menatapnya tajam, berusaha menyampaikan bahwa sepupunya itu adalah biang masalah saat ini. “Apa, Clara!? Kamu berani menatapku!?” teriak Alda. Belum sempat Clara membalas, Alda sudah lebih dahulu menarik rambut Clara dengan kasar. “Memang kamu belagu, tidak tahu diri!” pekik Alda selagi tangannya menjambak rambut Clara, mempontang-pantingkan kepala Clara, membuat gadis itu meringis kesakitan. “Kamu itu hanya benalu di sini!” “Lepaskan, Alda!” rintih Clara. Air matanya sudah jatuh membasahi wajahnya. Alda menghiraukannya. Ia malah menarik rambut Clara lebih kencang, lalu membenturkan kepala Clara ke dinding. Benturan itu tidak cukup untuk melukai Clara, namun cukup untuk membuat kesadaran Clara hampir hilang. Sementara itu bibi dan pamannya sama sekali tidak menolong Clara. Keduanya hanya menertawai keadaan Clara di tangan putrinya. Setelah seolah-olah puas bermain-main dengan Clara, Alda pada akhirnya melepaskan genggamannya dengan kasar, membuat Clara terkulai di atas lantai. Pandangan dan pendengaran Clara kabur setelahnya. Clara hanya mendengar samar-samar tawa remeh ketiga orang itu, sebelum mereka meninggalkan Clara sendirian. Perlahan-lahan, lelah dan sakit menjadi satu menjalar di tubuh Clara. Kelopak matanya sungguh berat dan kepalanya begitu sakit. Tanpa ia sadari, kesadarannya perlahan benar-benar hilangSementara di tempat gelap itu, harapan Clara nyaris padam. Langkahnya terseret, kakinya terasa berat seperti diikat beban. Clara menghela napas panjang. Ia merasa seperti orang yang sudah tak punya pilihan. Bunyi pintu besi ditutup terdengar lebih keras dari sebelumnya. Clara berdiri beberapa detik di tempatnya, lalu perlahan merosot ke lantai. Kali ini, ia tidak langsung menangis keras. Tangisnya tertahan di dada, seperti beban berat yang tak bisa lagi keluar. Hari-hari berikutnya kembali sama. Gelap. Dingin. Sunyi. Clara mulai kehilangan batas antara siang dan malam. Tubuhnya lelah, pikirannya kacau. Kadang ia memukul dinding dengan kepalan tangan, kadang ia berteriak sampai suaranya habis, kadang ia hanya menatap kosong ke satu titik berjam-jam. Ia membenci dirinya sendiri. Membenci ketakutannya. Membenci ketidakberdayaannya. Namun perlahan, sesuatu di dalam dirinya mulai berubah—bukan menjadi kuat, tapi menjadi mati rasa. Tangisnya berkurang. Pemberontakannya memudar. I
Clara menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! Tolong buka! Aku mohon!”Tak ada jawaban.Clara merosot ke lantai. Tangannya gemetar, nafasnya terputus-putus. Ia memeluk lututnya, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seolah ingin menghilang ke dalam bayangan.Air mata jatuh tanpa bisa ditahan.“Aku ingin pulang…” bisiknya lirih, suara itu tenggelam di antara dinding dingin.Jam demi jam berlalu tanpa ia tahu pasti. Waktu kehilangan makna di ruang gelap itu. Dinginnya merayap perlahan, menembus kulit, menekan dada.Beberapa jam kemudian, suara pintu kembali terdengar. Clara tersentak, tubuhnya menegang.Seorang anak buah masuk, meletakkan nampan makanan di lantai tanpa menatapnya.Tanpa mengucapkan apa pun, pintu ditutup lagi.Clara menatap makanan itu lama. Perutnya memang sudah melilit, akhirnya dengan tangan gemetar, ia menyuap sedikit demi sedikit. Meski terlihat menggugah selera, makanan itu terasa hambar di mulut. Clara merasakan begitu sesak, perasaannya campur aduk. A
Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yang berani memprotes.Mata Clara terbelalak melihat pemandangan itu. Uang berpindah tangan secepat nafas.Itu juga berarti menandakan bahwa dirinya telah dibeli. Clara semakin mematung. Ini adalah mimpi buruk baginya.Di tengah pikiran yang kacau, Clara sadar ketika tiba-tiba ruangan itu kembali sunyi. Raymond menurunkan tatapannya pada Clara yang masih membeku di sisinya. Kemudian pandangannya beralih, menatap para anak buah yang berdiri tegap. Lalu, tanpa sepatah kata pun, Raymond berbalik. Kaki jenjangnya melangkah mantap dan tegas. Aura dominasi yang menyeramkan juga seolah bergerak mengikuti langkah kaki pria itu.Setelah kepergian Raymond, satu dari anak buahnya bergerak menuju Clara.
Keesokan paginya, Clara bangun dengan kepala yang sakit dan dada yang masih terasa sesak.Seluruh tubuhnya nyeri sebab tidur di atas lantai yang keras dan dingin. Dalam hatinya, ada kemarahan yang belum menemukan jalan keluar. Clara bangkit perlahan. Tangannya gemetar saat merapikan rambut cokelat panjangnya yang berantakan. Mata hazel itu kosong, dingin, tak lagi menyimpan sisa harapan. Ia keluar kamar tanpa menyentuh dapur, tanpa menyalakan kompor, tanpa mengangkat satu pun piring.Tanpa pamit, tanpa menoleh, tanpa sepatah kata pun ia pergi. Sesampainya di kampus, Clara pergi ke kelas untuk mengikuti mata kuliah. Namun, pikirannya tidak bisa berhenti berputar. Di sela-sela fokus yang rapuh itu, perasaannya kerap terpecah. Ingatannya kerap melayang pada malam ketika Ny. Eva dibunuh—darah, teriakan tertahan, dan sebuah tatapan kosong yang tak sempat ia lupakan. Clara begitu takut. Takut karena ia tahu, takut jika ia menjadi target berikutnya.Hari-hari berikutnya berlalu dalam kew
Para anak buahnya serentak menunduk.Sementara itu, melihat kedatangan seorang Raymond Antonio, tubuh Ny. Eva semakin gemetar dan tangisannya semakin keras, melengking menusuk gendang telinga. “T-Tuan Raymond… aku mohon… aku akan bayar… aku—”Raymond mendekat, tatapannya kosong. Tidak ada amarah. Tidak ada belas kasihan.Hanya kehampaan yang mengerikan.“Kau berjudi di wilayahku,” katanya datar. “Lalu mencuri.”Tangannya lalu merogoh jas yang ia kenakan. Ia lalu mengangkat pistol dari balik jasnya sendiri.Clara lantas membeku. “Jangan…” bisiknya, nyaris tak bersuara.Ny. Eva merangkak mendekat, mencengkeram sepatu Raymond. “Tuan… aku punya keluarga… aku mohon…”Raymond menatap ke bawah, lalu—tanpa ragu—menarik pelatuk.DOR!Suara tembakan menggema memecah malam.Tubuh Ny. Eva terhempas ke aspal. Darah mengalir cepat, gelap, menggenang di bawah tubuhnya yang tak lagi bergerak.Clara menjerit. Tangannya menutup mulutnya sendiri, air mata mengalir deras tanpa bisa dihentikan. Dadanya se
“Lepaskan aku!”Teriakan Clara tenggelam oleh dentuman musik dan tawa para pria yang memenuhi ruangan. Dua penjaga menyeretnya keluar dari kamar sempit itu, langkahnya terseret di lantai. Kain hitam yang tipis membalut tubuhnya begitu ketat, memamerkan lekuk yang paling sensitif. Bagian atasnya terbuka, membuat semua pasang mata keranjang menatapnya seperti singa kelaparan. “Barang baru, ya?”“Masih polos kelihatannya.”“Cantik… sayang kalau cuma sekali pakai.”Seorang pria bertubuh besar, berkepala plontos dengan cincin emas di tiap jari, melangkah maju. Senyum liciknya membuat perut Clara mual.“Yang ini mahal, kan?” katanya pada manager bar. “Aku suka yang begini. Matanya masih hidup.”Clara mundur setapak, nafasnya tersengal. Tangannya mengepal, air mata menggantung di pelupuk mata. Ia ingin berteriak, ingin lari, tapi tubuhnya kaku—terjebak di antara tatapan rakus dan dinding yang tak memberi jalan keluar.Di antara pria-pria mata keranjang itu, matanya yang basah tertancap pad







