Share

Tuan Mafia Kejam

Author: Miss Wang
last update Last Updated: 2026-01-13 15:34:19

Para anak buahnya serentak menunduk.

Sementara itu, melihat kedatangan seorang Raymond Antonio, tubuh Ny. Eva semakin gemetar dan tangisannya semakin keras, melengking menusuk gendang telinga. “T-Tuan Raymond… aku mohon… aku akan bayar… aku—”

Raymond mendekat, tatapannya kosong. Tidak ada amarah. Tidak ada belas kasihan.

Hanya kehampaan yang mengerikan.

“Kau berjudi di wilayahku,” katanya datar. “Lalu mencuri.”

Tangannya lalu merogoh jas yang ia kenakan. Ia lalu mengangkat pistol dari balik jasnya sendiri.

Clara lantas membeku. “Jangan…” bisiknya, nyaris tak bersuara.

Ny. Eva merangkak mendekat, mencengkeram sepatu Raymond. “Tuan… aku punya keluarga… aku mohon…”

Raymond menatap ke bawah, lalu—tanpa ragu—menarik pelatuk.

DOR!

Suara tembakan menggema memecah malam.

Tubuh Ny. Eva terhempas ke aspal. Darah mengalir cepat, gelap, menggenang di bawah tubuhnya yang tak lagi bergerak.

Clara menjerit. Tangannya menutup mulutnya sendiri, air mata mengalir deras tanpa bisa dihentikan. Dadanya seketika sesak.

Ia baru saja melihat seseorang mati dibunuh di depan matanya sendiri.

Raymond menurunkan pistol dengan santai, seolah baru mematikan lampu. Ia menoleh perlahan—dan tatapannya bertemu dengan mata hazel Clara yang dipenuhi ketakutan dan kebencian.

“Kamu…” suara Clara bergetar hebat. “Kamu bukan manusia…!”

Raymond tak berkedip.

“Kamu iblis…,” lanjut Clara, air matanya jatuh satu per satu. “Iblis… yang tidak punya hati.”

Raymond melangkah mendekat satu langkah.

Dan itu cukup membuat Clara mundur panik.

Raymond mencondongkan tubuhnya, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Clara.

Lalu ia menoleh ke anak buahnya. “Urus wanita ini.”

Mendengar itu, Clara gemetar hebat. Kakinya lemas. Ia mundur perlahan. Meski ia hampir tidak bisa merasakan kakinya, Clara berusaha sekuat tenaga untuk melesat.

Clara menelan ludahnya. Ia lalu memaksa kaki-kakinya untuk berlari secepat mungkin. Tanpa menoleh, Clara berlari meninggalkan tempat itu, meninggalkan bau mesiu dan darah yang menghantuinya.

“Hei! Jangan kabur!” teriak para anak buah Raymond.

Clara terus berlari tanpa menoleh, meninggalkan bau mesiu dan darah.

Clara berhenti sesaat, ia menoleh ke belakang, pria-pria tadi sudah tidak terlihat lagi. Entah bagaimana Clara bisa berlari secepat itu, yang penting ia selamat sekarang.

Clara berjalan pulang seperti bayangan yang kehilangan tubuhnya sendiri. Setelah sampai di rumah, barulah Clara bisa bernapas lega. Ia terengah, berusaha mengatur napasnya. Sementara itu tubuhnya gemetar hebat.

Langkahnya masih limbung, nafasnya tak beraturan. Setiap bunyi keras membuat bahunya tersentak. Kilatan moncong pistol itu—wajah dingin pria bernama Raymond—terus berputar di kepalanya.

Ia masih tak percaya bahwa dirinya hampir kehilangan nyawa!

Clara pun berjalan gontai menuju kamarnya.

Begitu pintu terbuka, ruangan sempit yang lebih pantas disebut gudang itu berantakan. Jantungnya seakan jatuh menghantam lantai.

Kasur tipisnya terbalik. Buku-buku kuliah berserakan, beberapa sobek. Kotak sepatu tempat ia menyimpan surat-surat lama orang tuanya terbuka. Clara berlari kecil ke sudut lemari, menarik laci kayu yang selalu ia kunci rapat.

Kosong.

Darahnya seketika membeku.

“Tidak…” suaranya pecah. Clara berlutut, meraba lantai, seolah uang itu bisa muncul dengan sendirinya. “Buku tabungan… tidak mungkin…”

Saat itu juga pintu kamar berderit pelan.

Alda berdiri di sana. Rambutnya rapi, bajunya bersih, wajahnya sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah. Senyum tipis menghiasi bibirnya—senyum yang menusuk.

“Nyari ini?” Alda mengangkat buku tabungan itu, lalu memasukkannya kembali ke tas mahalnya. “Sudah habis.”

Clara menatapnya dengan mata membara. “Kamu… kamu ambil tabunganku?! Itu uang kuliahku, Alda!”

Alda tertawa kecil, meremehkan. “Kuliah? Untuk apa? Kamu pikir masa depan itu ada buat orang sepertimu?”

Sesuatu di dalam diri Clara putus.

Ia berdiri, tangannya gemetar, dada naik turun. “Kembalikan.”

“Tidak,” Alda mendekat, mencondongkan wajahnya. “Anggap saja itu untuk bayar hidupmu. Makan, listrik, tempat tidur. Kamu itu cuma numpang, Clara.”

Clara menatap Alda tajam. Lalu…

Plak!

Suara tamparan menggema di kamar sempit itu. Alda terhuyung, pipinya memerah. “Ah!”

Untuk pertama kalinya… Clara melawan.

“Apa-apaan ini?!” suara paman Bobi menggelegar dari luar. Bibi Elsa menyusul, wajahnya langsung berubah murka.

“Pa! Ma! Dia mukul aku!” Alda menangis, suaranya dibuat pecah, tubuhnya gemetar pura-pura.

Tanpa bertanya, tanpa mau tahu, bibi Elsa menampar Clara balik. Lebih keras. Lebih kejam.

“Dasar tidak tahu diri!” teriaknya. “Uang itu bahkan tidak cukup untuk membayar hidupmu selama ini!”

Clara mengelus pipinya yang ia yakin sudah memerah. Air matanya kini menggenang di ujung mata.

“Benar,” paman Bobi menambahkan dingin. “Kamu pikir kami wajib mengurusmu gratis? Orang tuamu sudah mati. Jangan sok menuntut!”

Kata-kata itu menghantam lebih keras dari tamparan mana pun.

“Jangan bicara seperti itu tentang orang tuaku!” suara Clara memekik bergetar.

“Berani kamu bicara tinggi begitu!?” mata bibi Elsa membelalak. Tanpa aba-aba, ia mendorong Clara hingga jatuh tersungkur.

“Ah!” Clara meringis ketika punggungnya menyapa lantai yang keras dan dingin. Matanya lalu berpindah ke Alda. Clara menatapnya tajam, berusaha menyampaikan bahwa sepupunya itu adalah biang masalah saat ini.

“Apa, Clara!? Kamu berani menatapku!?” teriak Alda.

Belum sempat Clara membalas, Alda sudah lebih dahulu menarik rambut Clara dengan kasar.

“Memang kamu belagu, tidak tahu diri!” pekik Alda selagi tangannya menjambak rambut Clara, mempontang-pantingkan kepala Clara, membuat gadis itu meringis kesakitan. “Kamu itu hanya benalu di sini!”

“Lepaskan, Alda!” rintih Clara. Air matanya sudah jatuh membasahi wajahnya.

Alda menghiraukannya. Ia malah menarik rambut Clara lebih kencang, lalu membenturkan kepala Clara ke dinding. Benturan itu tidak cukup untuk melukai Clara, namun cukup untuk membuat kesadaran Clara hampir hilang.

Sementara itu bibi dan pamannya sama sekali tidak menolong Clara. Keduanya hanya menertawai keadaan Clara di tangan putrinya.

Setelah seolah-olah puas bermain-main dengan Clara, Alda pada akhirnya melepaskan genggamannya dengan kasar, membuat Clara terkulai di atas lantai. Pandangan dan pendengaran Clara kabur setelahnya.

Clara hanya mendengar samar-samar tawa remeh ketiga orang itu, sebelum mereka meninggalkan Clara sendirian.

Perlahan-lahan, lelah dan sakit menjadi satu menjalar di tubuh Clara. Kelopak matanya sungguh berat dan kepalanya begitu sakit.

Tanpa ia sadari, kesadarannya perlahan benar-benar hilang

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Lyren Kael
Wa.w..Ny Eva mati ditembak di depan Clara..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Bingung

    Dokter itu menatap Clara beberapa detik, lalu kembali menoleh pada Raymond.“Bagaimana?” tanya Raymond, suaranya datar namun menekan.Dokter itu tersenyum tipis. “Tuan, Nona—”Ddrrrttt… Ddrrttt…Ponsel di saku celana Raymond bergetar, memotong kalimat yang belum selesai dari dokter itu. Getaran itu terdengar keras di ruangan yang hening.Raymond mengangkat tangan, memberi isyarat pada dokter agar menunggu.Ia segera mengeluarkan ponselnya. Nama yang terpampang di layar membuat rahangnya megeras—Tuan Viktor.Tanpa berkata apa-apa, Raymond berbalik dan keluar dari kamar Clara sambil mengangkat telepon itu. Pintu ruangan itu tertutup.Begitu suara langkah Raymond menjauh, Clara refleks bangkit sedikit dari ranjang dan meraih tangan dokter.“Dok… tolong,” bisiknya cepat, suaranya sedikit gemetar. “Tolong jangan beri tahu Tuan Ray jika aku hamil.”Dokter itu terkejut. “Tapi, Nona—”“Tolong…” mata Clara berkaca-kaca. “Aku akan bicara padanya nanti. Hanya saja… untuk sekarang aku belum siap

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Benih Cinta

    Di dalam kamar VIP Hotel Gerald, lampu kristal redup memantulkan cahaya keemasan di dinding marmer. Tirai tebal menutup rapat di jendela, meredam semua hiruk-pikuk di luar ruangan. Beberapa saat sebelumnya, ruangan itu dipenuhi desahan tertahan dan bisikan-bisikan penuh nafsu yang kini telah mereda. Yang tersisa hanya suara napas yang masih terengah, dan perlahan kembali normal.Di bawah selimut putih yang sama, dua sosok duduk santai, punggung mereka bersandar ke dipan ranjang—Adrian dan Sofia. Adrian duduk di sisi kanan ranjang, dan Sofia di sisi kiri, keduanya mengangkat rokoknya ke bibir, mengisapnya dalam, lalu menghembuskan asap perlahan ke langit-langit.Asap rokok mengepul tipis di udara.“Jadi,” suara Adrian rendah, santai namun tajam, “apa rencanamu selanjutnya?”Sofia tersenyum tipis tanpa menoleh. Asap rokoknya masih melayang di udara.“Raymond sudah percaya dengan diagnosis palsu itu,” jawabnya tenang. “Keinginanku sekarang hanya satu.” Sofia terdiam sejenak. Tatapann

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Garis Dua

    Kakinya melemas. Ia terhuyung setengah langkah ke belakang dan bersandar pada dinding kamar mandi.Dua garis merah jelas terpampang.Tangannya refleks menutup mulut. “Aku…” napasnya tercekat. “Hamil…”Tubuh Clara gemetar. Dunia terasa berputar terlalu cepat, lalu tiba-tiba melambat tanpa ampun. Napasnya terasa tercekat di tenggorokan.“Hamil…” ulangnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.Air matanya jatuh satu per satu, tanpa isak, tanpa suara. Dengan tangan gemetar, ia membuka kancing blusnya. Pakaian itu terasa menyesakkan. Ia melepaskannya perlahan, lalu rok yang ia kenakan. Semuanya jatuh ke lantai kamar mandi.Ia melangkah masuk ke dalam bathtub. Air dingin menyentuh kulitnya, membuat tubuhnya sedikit tersentak. Ia bersandar pada dinding porselen, lututnya ia lipat ke dada.Sementara tes kehamilan itu masih ada di tangannya. Ia meletakkannya di pinggir bathtub, tetapi matanya tak lepas dari garis dua pada alat itu. “Bagaimana ini…” bisiknya putus a

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tes Kehamilan

    Senyum di wajah Sofia perlahan melebar. Namun sorot matanya berubah ketika ia menoleh ke arah pintu tempat Clara tadi menghilang.“Raymond,” ucapnya ragu. “Aku ingin bicara tentang wanita itu.”Raymond yang baru saja mengangkat cangkir kopinya berhenti sejenak. “Jangan campurkan urusan kita dengan dia,” katanya dingin. Sofia terdiam sesaat, tetapi ia belum menyerah. “Kenapa, Ray? Aku hanya—”“Aku tak ingin membahasnya,” potong Raymond lagi. Suaranya tidak keras, tetapi tegas dan tak terbantahkan. “Jika kau tak suka, silakan pergi.”Ucapan itu seperti tamparan bagi Sofia. Sofia memaksakan senyumnya, meski jantungnya terasa diremas. “Tidak, Ray… aku akan ikut perkataanmu.”Tangannya terulur, memegang lengan Raymond dengan lembut, seolah ingin memastikan pria itu benar-benar nyata dan kini kembali menjadi miliknya.Raymond tidak menepisnya, tetapi juga tidak menoleh. Ia kembali menyantap makanannya dengan wajah datar.Sofia menunduk. ‘Dia bukan Raymond yang sama. Dulu, dia selalu menur

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   CLBK

    Clara masih menatap bayangannya di cermin beberapa detik setelah rasa mual itu mereda sedikit. Wajahnya pucat, bibirnya kehilangan warna. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dadanya yang terasa sesak.Perlahan ia keluar dari kamar mandi. Langkahnya gontai, pandangannya sedikit berkunang-kunang.“Sepertinya aku masuk angin…” gumamnya pelan.Ia berjalan terhuyung menuju ranjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Selimut ditarik hingga menutup bahunya. Ia berbaring menyamping, kedua tangannya masih memegang perutnya yang terasa tidak nyaman.Kepalanya terasa berdenyut. Tak lama, matanya terpejam dan nafasnya perlahan teratur. ***Beberapa jam berlalu.Di ruang kerja yang sunyi, Raymond duduk di balik meja. Berkas-berkas bisnis terbuka di hadapannya. Ia menandatangani satu demi satu dokumen dengan wajah serius. Sofia masih ada di sana.Ia duduk dengan tenang di kursi dekat jendela sambil menyeruput teh hangat. Beberapa detik kemudian suara ketukan terdengar.“Masuk

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mual

    Raymond tersentak, tangannya refleks mencengkeram bahu Sofia dan mendorongnya menjauh.“Apa yang kau lakukan?” suaranya tajam, napasnya sedikit memburu.Sofia terhuyung setengah langkah. Ia terengah, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.“Aku hanya ingin kau ingat,” bisiknya dengan suara pecah. “Ingat bagaimana rasanya… dan aku tahu kau masih mencintaiku, Ray. Kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri.”Di ujung lorong, Clara mundur selangkah. Pandangannya kabur oleh air mata yang nyaris jatuh. Ia berbalik cepat—tapi, tanpa sengaja bahunya menyenggol sebuah guci porselen tinggi di sudut lorong.Guci itu bergoyang dan hampir jatuh, membuat Raymond dan Sofia serentak menoleh ke arah Clara berdiri. “Kau menguping.” suara Raymond menggelegar, bukan karena marah, tapi lebih ke terkejut.Clara seketika membeku. Ia memejamkan mata lalu membukanya kembali, bibir bawahnya refleks tergigit. Ia langsung berbalik menghadap mereka, wajahnya terlihat pucat.“Tidak… aku tidak sengaja mau lewat, Tu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status