Home / Mafia / Menjadi Tawanan Tuan Mafia / Dikurung di Basement

Share

Dikurung di Basement

Author: Miss Wang
last update Last Updated: 2026-01-13 15:37:33

Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.

Isyarat itu cukup.

Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yang berani memprotes.

Mata Clara terbelalak melihat pemandangan itu. Uang berpindah tangan secepat nafas.

Itu juga berarti menandakan bahwa dirinya telah dibeli. Clara semakin mematung. Ini adalah mimpi buruk baginya.

Di tengah pikiran yang kacau, Clara sadar ketika tiba-tiba ruangan itu kembali sunyi.

Raymond menurunkan tatapannya pada Clara yang masih membeku di sisinya.

Kemudian pandangannya beralih, menatap para anak buah yang berdiri tegap.

Lalu, tanpa sepatah kata pun, Raymond berbalik. Kaki jenjangnya melangkah mantap dan tegas. Aura dominasi yang menyeramkan juga seolah bergerak mengikuti langkah kaki pria itu.

Setelah kepergian Raymond, satu dari anak buahnya bergerak menuju Clara. Mata Clara membulat dan tubuhnya tersentak saat tangan-tangan kasar itu melingkar di pergelangan tangan gadis itu, mencengkeramnya dengan kuat.

“Ikut kami!” ucapnya singkat.

Clara menjerit. “Tunggu—!”

Ia ditarik keluar dari ruangan itu tanpa menoleh sedikit pun.

“Lepaskan aku!” Clara memberontak, suaranya pecah. “Tolong, aku salah! Aku tidak mau ikut!”

Tak ada yang menggubrisnya. Clara sedikit meringis karena pergelangan tangannya mulai sakit.

Pintu bar terbuka, udara malam menghantam wajah Clara. Lampu kota berpendar samar. Sebuah mobil hitam mengkilap terparkir di depan, mesin menyala, pintu belakang sudah terbuka.

Anak buah Raymond itu mendorong Clara masuk dengan kasar.

Tubuh Clara terhuyung, punggungnya menghantam jok kulit dingin. Sebelum ia sempat bangkit, pintu sudah ditutup dengan bunyi yang kencang.

Sementara itu Raymond sudah duduk di sebelahnya, tatapannya dingin tak terbaca.

Mobil pun melaju membelah kota.

Keheningan lantas menggantung di antara mereka, berat dan menyesakkan.

Clara melirik Raymond yang tengah merogoh saku. Pria itu mengeluarkan sebuah kotak yang mengkilap berisi rokok.

Raymond mengeluarkan sebatang gulungan putih itu, menyelipkannya di antara bibirnya, kemudian memantik korek api, dan membakarnya.

Pria itu membuka jendelanya sedikit, lalu mulai mengembuskan asap putih dari mulutnya.

Sebagian dari asapnya mengepul di dalam mobil, membuat Clara sedikit sesak, namun tentu saja Raymond tidak mempedulikannya.

Clara pun memeluk dirinya sendiri, mencoba menahan gemetar. Ia tak percaya telah jatuh dalam situasi seperti ini.

Sesekali, ia mencuri pandang ke arah pria di sampingnya.

Wajah itu dingin. Tegas. Tampan dalam cara yang berbahaya.

Namun Clara tahu pria ini bukan penyelamat.

Raymond adalah badai dan Clara, entah bagaimana, sedang berada tepat di pusatnya.

Clara memerhatikan ke luar jendela mobil. Jalanannya mulai terlihat asing.

‘Aku dibawa ke mana…?’ pikiran Clara terus berputar.

Mobil melambat saat gerbang besi raksasa menjulang di hadapan mereka.

Lampu-lampu taman menyala serempak, menyinari pagar tinggi berornamen besi hitam yang tampak lebih seperti benteng daripada rumah tinggal.

Gerbang terbuka perlahan dengan suara berat, seolah menyambut tuannya pulang.

Clara menelan ludah.

Di hadapannya terbentang sebuah mansion yang terlalu megah untuk sekadar disebut rumah. Bangunan itu berdiri angkuh, berlantai tiga, dengan pilar-pilar tinggi berwarna gading, jendela besar berbingkai gelap, dan taman luas yang terawat sempurna.

Air mancur di tengah halaman memantulkan cahaya lampu, menciptakan kilau dingin yang membuat bulu kuduknya meremang.

Mobil melaju melewati jalan setapak panjang yang diapit pepohonan rapi. Di kanan-kiri, para penjaga berdiri berjajar, tubuh tegap, wajah dingin, senjata terselip di balik jas hitam mereka.

Clara membeku.

Jantungnya berdegup kencang, telinganya berdengung.

Clara menautkan jari-jarinya yang gemetar. Ia merasa begitu kikuk dan asing. Lebih dari itu, Clara ketakutan bukan main. Dalam pikirannya, keinginan untuk kabur begitu kuat.

Seolah membaca isi kepalanya, Raymond tiba-tiba bersuara.

“Jangan pernah berpikir untuk kabur.”

Clara tersentak.

Ia menoleh cepat, matanya melebar. “A-aku tidak—”

“Kalau kau mencobanya…,” potong Raymond tanpa menoleh, suaranya rendah namun tajam, “kau akan menyesal.”

Clara menelan ludah, jantungnya terasa hendak meledak. Bagaimana pria itu bisa tahu isi kepalanya?

“Aku… tidak akan…,” jawabnya pelan, suaranya bergetar.

Mobil pun berhenti tepat di depan pintu utama.

Raymond turun lebih dulu, pintunya dibukakan oleh anak buah yang telah menunggu.

Sementara itu, pintu lain di sebelah Clara dibuka oleh anak buah lain. Anak buah itu menarik kasar tangan Clara, memaksanya keluar.

Begitu Clara melangkah ke luar, udara malam yang dingin menyapa wajah Clara. Ia turun dengan langkah yang gemetar, lututnya terasa lemas.

Para penjaga langsung menunduk serempak. “Selamat datang kembali, Tuan.”

Raymond baru melangkah dua anak tangga ketika ia berbalik. Matanya menghadap para anak buah sedangkan jarinya diangkat menunjuk Clara. Clara menahan napasnya.

“Taruh di basement,” pinta Raymond singkat.

Clara membeku. Basement!?

“Apa…?” Suaranya tercekat. “Tidak—tunggu, aku—”

Dua anak buah langsung bergerak. Satu mencengkeram lengannya, satu lagi menarik bahunya ke belakang. Clara meronta sekuat tenaga.

“Lepaskan aku!” jeritnya panik. “Tolong! Jangan lakukan ini padaku!”

Raymond sama sekali tak menoleh. Langkahnya tetap tenang memasuki mansion, seolah jeritan itu hanyalah suara angin malam.

“Tuan Raymond!” Clara berteriak putus asa.

Namun pintu utama telah tertutup.

Dan Clara diseret menjauh.

Tangga menuju basement sempit dan menurun curam. Lampu redup berkedip, dinding beton dingin memantulkan suara langkah kaki yang tergesa.

Udara di sana lembap, berbau besi dan tanah. Setiap langkah membuat jantung Clara semakin liar.

“Jangan… aku mohon…” tangisnya pecah. “Aku takut…”

Tak ada jawaban.

Pintu besi besar dibuka dengan bunyi berderit menyakitkan. Ruangan itu gelap, hanya satu lampu kecil di sudut yang menyala redup. Dingin menyergap hingga ke tulang.

Clara didorong masuk.

Pintu ditutup keras.

KLIK.

Suara kunci berputar.

“Tidak—!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Lyren Kael
Huft disekap di basement..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Bingung

    Dokter itu menatap Clara beberapa detik, lalu kembali menoleh pada Raymond.“Bagaimana?” tanya Raymond, suaranya datar namun menekan.Dokter itu tersenyum tipis. “Tuan, Nona—”Ddrrrttt… Ddrrttt…Ponsel di saku celana Raymond bergetar, memotong kalimat yang belum selesai dari dokter itu. Getaran itu terdengar keras di ruangan yang hening.Raymond mengangkat tangan, memberi isyarat pada dokter agar menunggu.Ia segera mengeluarkan ponselnya. Nama yang terpampang di layar membuat rahangnya megeras—Tuan Viktor.Tanpa berkata apa-apa, Raymond berbalik dan keluar dari kamar Clara sambil mengangkat telepon itu. Pintu ruangan itu tertutup.Begitu suara langkah Raymond menjauh, Clara refleks bangkit sedikit dari ranjang dan meraih tangan dokter.“Dok… tolong,” bisiknya cepat, suaranya sedikit gemetar. “Tolong jangan beri tahu Tuan Ray jika aku hamil.”Dokter itu terkejut. “Tapi, Nona—”“Tolong…” mata Clara berkaca-kaca. “Aku akan bicara padanya nanti. Hanya saja… untuk sekarang aku belum siap

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Benih Cinta

    Di dalam kamar VIP Hotel Gerald, lampu kristal redup memantulkan cahaya keemasan di dinding marmer. Tirai tebal menutup rapat di jendela, meredam semua hiruk-pikuk di luar ruangan. Beberapa saat sebelumnya, ruangan itu dipenuhi desahan tertahan dan bisikan-bisikan penuh nafsu yang kini telah mereda. Yang tersisa hanya suara napas yang masih terengah, dan perlahan kembali normal.Di bawah selimut putih yang sama, dua sosok duduk santai, punggung mereka bersandar ke dipan ranjang—Adrian dan Sofia. Adrian duduk di sisi kanan ranjang, dan Sofia di sisi kiri, keduanya mengangkat rokoknya ke bibir, mengisapnya dalam, lalu menghembuskan asap perlahan ke langit-langit.Asap rokok mengepul tipis di udara.“Jadi,” suara Adrian rendah, santai namun tajam, “apa rencanamu selanjutnya?”Sofia tersenyum tipis tanpa menoleh. Asap rokoknya masih melayang di udara.“Raymond sudah percaya dengan diagnosis palsu itu,” jawabnya tenang. “Keinginanku sekarang hanya satu.” Sofia terdiam sejenak. Tatapann

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Garis Dua

    Kakinya melemas. Ia terhuyung setengah langkah ke belakang dan bersandar pada dinding kamar mandi.Dua garis merah jelas terpampang.Tangannya refleks menutup mulut. “Aku…” napasnya tercekat. “Hamil…”Tubuh Clara gemetar. Dunia terasa berputar terlalu cepat, lalu tiba-tiba melambat tanpa ampun. Napasnya terasa tercekat di tenggorokan.“Hamil…” ulangnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.Air matanya jatuh satu per satu, tanpa isak, tanpa suara. Dengan tangan gemetar, ia membuka kancing blusnya. Pakaian itu terasa menyesakkan. Ia melepaskannya perlahan, lalu rok yang ia kenakan. Semuanya jatuh ke lantai kamar mandi.Ia melangkah masuk ke dalam bathtub. Air dingin menyentuh kulitnya, membuat tubuhnya sedikit tersentak. Ia bersandar pada dinding porselen, lututnya ia lipat ke dada.Sementara tes kehamilan itu masih ada di tangannya. Ia meletakkannya di pinggir bathtub, tetapi matanya tak lepas dari garis dua pada alat itu. “Bagaimana ini…” bisiknya putus a

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tes Kehamilan

    Senyum di wajah Sofia perlahan melebar. Namun sorot matanya berubah ketika ia menoleh ke arah pintu tempat Clara tadi menghilang.“Raymond,” ucapnya ragu. “Aku ingin bicara tentang wanita itu.”Raymond yang baru saja mengangkat cangkir kopinya berhenti sejenak. “Jangan campurkan urusan kita dengan dia,” katanya dingin. Sofia terdiam sesaat, tetapi ia belum menyerah. “Kenapa, Ray? Aku hanya—”“Aku tak ingin membahasnya,” potong Raymond lagi. Suaranya tidak keras, tetapi tegas dan tak terbantahkan. “Jika kau tak suka, silakan pergi.”Ucapan itu seperti tamparan bagi Sofia. Sofia memaksakan senyumnya, meski jantungnya terasa diremas. “Tidak, Ray… aku akan ikut perkataanmu.”Tangannya terulur, memegang lengan Raymond dengan lembut, seolah ingin memastikan pria itu benar-benar nyata dan kini kembali menjadi miliknya.Raymond tidak menepisnya, tetapi juga tidak menoleh. Ia kembali menyantap makanannya dengan wajah datar.Sofia menunduk. ‘Dia bukan Raymond yang sama. Dulu, dia selalu menur

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   CLBK

    Clara masih menatap bayangannya di cermin beberapa detik setelah rasa mual itu mereda sedikit. Wajahnya pucat, bibirnya kehilangan warna. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dadanya yang terasa sesak.Perlahan ia keluar dari kamar mandi. Langkahnya gontai, pandangannya sedikit berkunang-kunang.“Sepertinya aku masuk angin…” gumamnya pelan.Ia berjalan terhuyung menuju ranjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Selimut ditarik hingga menutup bahunya. Ia berbaring menyamping, kedua tangannya masih memegang perutnya yang terasa tidak nyaman.Kepalanya terasa berdenyut. Tak lama, matanya terpejam dan nafasnya perlahan teratur. ***Beberapa jam berlalu.Di ruang kerja yang sunyi, Raymond duduk di balik meja. Berkas-berkas bisnis terbuka di hadapannya. Ia menandatangani satu demi satu dokumen dengan wajah serius. Sofia masih ada di sana.Ia duduk dengan tenang di kursi dekat jendela sambil menyeruput teh hangat. Beberapa detik kemudian suara ketukan terdengar.“Masuk

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Mual

    Raymond tersentak, tangannya refleks mencengkeram bahu Sofia dan mendorongnya menjauh.“Apa yang kau lakukan?” suaranya tajam, napasnya sedikit memburu.Sofia terhuyung setengah langkah. Ia terengah, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.“Aku hanya ingin kau ingat,” bisiknya dengan suara pecah. “Ingat bagaimana rasanya… dan aku tahu kau masih mencintaiku, Ray. Kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri.”Di ujung lorong, Clara mundur selangkah. Pandangannya kabur oleh air mata yang nyaris jatuh. Ia berbalik cepat—tapi, tanpa sengaja bahunya menyenggol sebuah guci porselen tinggi di sudut lorong.Guci itu bergoyang dan hampir jatuh, membuat Raymond dan Sofia serentak menoleh ke arah Clara berdiri. “Kau menguping.” suara Raymond menggelegar, bukan karena marah, tapi lebih ke terkejut.Clara seketika membeku. Ia memejamkan mata lalu membukanya kembali, bibir bawahnya refleks tergigit. Ia langsung berbalik menghadap mereka, wajahnya terlihat pucat.“Tidak… aku tidak sengaja mau lewat, Tu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status