LOGINClara menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! Tolong buka! Aku mohon!”
Tak ada jawaban. Clara merosot ke lantai. Tangannya gemetar, nafasnya terputus-putus. Ia memeluk lututnya, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seolah ingin menghilang ke dalam bayangan. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan. “Aku ingin pulang…” bisiknya lirih, suara itu tenggelam di antara dinding dingin. Jam demi jam berlalu tanpa ia tahu pasti. Waktu kehilangan makna di ruang gelap itu. Dinginnya merayap perlahan, menembus kulit, menekan dada. Beberapa jam kemudian, suara pintu kembali terdengar. Clara tersentak, tubuhnya menegang. Seorang anak buah masuk, meletakkan nampan makanan di lantai tanpa menatapnya. Tanpa mengucapkan apa pun, pintu ditutup lagi. Clara menatap makanan itu lama. Perutnya memang sudah melilit, akhirnya dengan tangan gemetar, ia menyuap sedikit demi sedikit. Meski terlihat menggugah selera, makanan itu terasa hambar di mulut. Clara merasakan begitu sesak, perasaannya campur aduk. Air matanya menggenang di pelupuk. Setelah mengisi perutnya, Clara mengedarkan pandangannya ke ruangan gelap itu. Oh, ada pintu usang dengan tulisan ‘kamar mandi’. Clara melangkah gontai menuju ke kamar mandi itu. Ia mendorong pintunya pelan dan mendapati kondisi kamar mandi yang menyedihkan. Rasanya ia benar-benar putus asa sekarang. Air mata yang menggenang sedari tadi pun jatuh. Hari-hari berikutnya berlalu dengan cara yang sama. Gelap. Sunyi. Dingin. Pintu terbuka hanya untuk makanan. Tak ada percakapan. Tak ada wajah ramah. Namun satu yang paling membuat Clara tersiksa… tak ada cahaya matahari. Clara mulai kehilangan hitungan hari. Kepalanya sering pusing. Dadanya sesak. Ia bicara sendiri hanya untuk memastikan ia masih waras. “Aku harus keluar…” bisiknya berkali-kali. “Aku harus pulang…” Suatu pagi, ketika pintu kembali terbuka dan seorang anak buah masuk membawa nampan, Clara merasakan sesuatu berdenyut di dadanya—sebuah keberanian yang lahir dari keputusasaan. Saat anak buah itu membungkuk meletakkan makanan, Clara bergerak cepat. Ia mendorong tubuh pria itu sekuat tenaga dan berlari keluar. “Berhenti!” teriak anak buah lain yang berada di luar. Clara berlari sekuat yang ia bisa, nafasnya terengah, jantungnya nyaris meledak. Langkah kaki mengejarnya, teriakan menggema di lorong. Seseorang berhasil menangkap lengannya. “Lepas!” Clara meronta. “Aku mau pulang! Aku mau pulang!” Ia menggigit lengan pria itu sekuat tenaga. “Aaargh—!” Cengkeraman itu terlepas. Clara berlari lagi, air mata mengaburkan pandangannya. Tangga. Pintu besar. Cahaya. Hampir. Namun tepat di ambang pintu basement, tubuhnya menabrak seseorang dengan keras. Ia terjatuh ke belakang. Raymond! Wajah pria itu gelap. Matanya menyala marah. “Berdiri,” katanya dingin. Seperti tersihir, Clara menuruti pintanya. Clara bangkit dengan kaki yang gemetar. Tangan besar lalu Raymond mencengkeram dagu Clara, membuat Clara tersentak. “Kau ini tidak tahu diri, ya?” suara Raymond dingin. Clara terisak, tubuhnya gemetar hebat. “Aku… aku hanya ingin pulang…” Raymond tertawa kecil. Sinis. “Pulang?” Raymond mendekatkan wajahnya kepada Clara. Tatapan matanya begitu dingin. “Setelah kau membuat uangku sia-sia.” Air mata Clara jatuh membasahi tangannya. Clara memang meminta pertolongan pada Raymond, tapi pria itu sendiri yang membelinya dengan jumlah besar. Namun, dengan dominasi dan kekuasaan Raymond, Clara tetap tidak bisa melawan dan tunduk di bawah kaki pria itu. Belum sempat Clara ingin membalas, Raymond melepaskan cengkeramannya, menghempaskan Clara begitu saja lalu berpaling. Raymond menoleh ke kanan menuju anak buahnya kemudian memberi isyarat singkat. “Bawa dia kembali ke basement.” Dua anak buah mendekat. “Tidak—!” Clara segera berlutut dan memeluk kaki Raymond erat-erat. “Tolong… jangan bawa aku ke tempat itu lagi. Tolong…” Tangisnya pecah. “Aku akan melakukan apa pun!” Raymond berhenti. Ia menunduk menatapnya. “Apa pun?” ulangnya pelan. Clara mengangguk cepat, putus asa. “Ya. Apa pun.” Raymond menarik kakinya dari pelukan Clara. Ia menatap gadis itu lama—tatapan tajam, penuh perhitungan. Raymond lalu berbalik dan melangkah menjauh. Clara mengerutkan keningnya. Apa yang akan pria itu lakukan? Di tengah kebingungan Clara, Raymond tiba-tiba menoleh sebelum kembali bersuara kepada anak buahnya. “Basement. Sekarang.” Anak buahnya menunduk tanda hormat. Sementara Clara terkejut mendengarnya. Kedua kaki Clara kembali lemas. Namun kali ini, ia tidak memiliki tenaga untuk melawan. Yang ada hanya air mata yang jatuh membasahi pipi, tanda keputusasaan yang mendalam. Tangannya kembali ditarik paksa oleh anak buah Raymond. Air matanya tidak bisa berhenti keluar. Clara menyeret langkahnya lemas, hanya mengikuti cengkeraman kasar anak buah yang menariknya. Clara menghela napasnya berat ketika tiba di depan pintu basement. Ia hanya bisa pasrah ketika gelap menyambutnya lagi. *** Sementara Clara menangis ketakutan di basement gelap, Raymond kembali pada urusannya. Ia menatap salah satu anak buahnya yang seperti memberi isyarat. Raymond langsung memahami itu. Ia pergi ke ruang kerjanya, lantas disambut oleh sosok pria paruh baya yang memunggunginya. Dia adalah Charles Antonio, ayah Raymond, Bos besar kelompok mafia keluarga Antonio sebelum diturunkan kepada Raymond. Charles datang ke kediaman Raymond ketika Raymond sedang bersama anak buahnya, mengurusi Clara tadi. Charles sendiri tidak pernah peduli dengan perihal seperti itu. Ia hanya sempat mendengar gaduh, lalu dengan acuh naik ke ruang kerja Raymond tanpa bertanya apa yang sedang dilakukan anaknya. “Raymond,” Charles berbalik dan memanggilnya. Di tangannya terselip sebuah cerutu. Ia menghisapnya dan mengembuskan gumpalan asap berwarna putih ke udara. Raymond hanya mengangguk dan menatap sang ayah. Ia seolah sudah tahu apa yang akan ayahnya bicarakan. Pasalnya, mereka sudah pernah membicarakan ini minggu lalu. “Kau tidak bisa terus seperti ini, Raymond,” lanjut Charles. “Keluarga Winston akan memiliki pewaris. Apa kau tidak malu?” Kelompok mafia keluarga Winston dikenal sebagai musuh dan saingan dari keluarga Antonio. Meski begitu, keluarga Antonio tetap memegang kekuasaan paling tinggi. Mendengar itu, Raymond hanya bisa mengangguk lagi tanpa satu patah kata pun. Charles menatapnya tajam dan menggeleng, seolah kecewa dengan diam anaknya. “Kau akan bertemu dengannya minggu depan, untuk membahas perjodohan.” “Siapa maksudmu, Papa?” Raymond mengerutkan keningnya. Charles berjalan menuju Raymond dan melewatinya. Ia memutar gagang pintu di hadapannya dan menarik buka pintu itu. Mata Raymond mengikuti langkah ayahnya. Sebelum melangkah ke luar, Charles menoleh, menatap putranya dalam-dalam. “Ellen. Putri keluarga Baker.” Pintu ditutup oleh Charles, meninggalkan Raymond yang masih berdiri mematung di baliknya. Pria itu tidak berkata apa-apa lagi. Tak lama, Raymond membuka pintunya. Ayahnya sudah jauh dalam pandangan. Charles tengah menuruni anak tangga untuk ke pintu utama. Mobil limosin hitam mengkilap menunggunya di depan. Raymond memandangi ayahnya yang menghilang di balik pintu, kemudian beralih ke arah basement tempat Clara berada. Seorang anak buah sedang menuju ke sana dengan membawa sebuah nampan berisi makanan. Raymond hanya menatapnya sebelum berpaling kembali ke ruang kerja.Pintu kayu tua di hadapan Raymond masih tertutup rapat. Beberapa detik sebelumnya, wanita yang memiliki wajah persis seperti Maria telah menghilang di balik pintu itu. Suara langkahnya sempat terdengar tergesa-gesa menyusuri lorong, kemudian lenyap begitu saja. Namun bukan langkah kaki itulah yang terus terngiang di kepala Raymond. Melainkan kalimat terakhir wanita tersebut. "Jangan percaya Charles." "Dia bukan orang yang membunuhku." "Karena... aku belum pernah mati." Raymond berdiri kaku. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Rahangnya mengeras. Selama bertahun-tahun, ia hidup dengan satu keyakinan yang tidak pernah sekalipun dipertanyakannya—ibunya, Maria Antonio, telah meninggal. Ia melihat sendiri peti mati itu. Ia menghadiri pemakamannya. Ia bahkan mengunjungi makam Maria setiap tahun, tepat pada tanggal kematiannya. Lalu sekarang... Ayahnya muncul setelah bertahun-tahun dianggap tewas. Seorang wanita dengan wajah Maria tiba-tiba muncul di mansi
"Dia tidak akan menemukannya." "Bagaimana kau yakin?" Elena menatap lorong kosong di depannya. "Karena orang yang dia cari..." Ia berhenti sejenak. "...sudah tidak berada di mansion." Sambungan terputus. Elena memasukkan ponselnya ke dalam saku. Namun ia tidak menyadari bahwa di ujung lorong, di balik bayangan pilar besar... seseorang berdiri diam. Seseorang telah mendengar percakapan mereka. Di sebuah ruangan yang jauh dari jangkauan Raymond... wanita yang menyerupai Maria duduk di depan cermin. Lampu kecil di atas meja rias menerangi wajahnya. Ia menatap pantulannya sendiri. Wajah itu begitu sempurna. Bentuk mata. Hidung. Bibir. Garis rahang. Bahkan tahi lalat kecil di dekat sudut bibir yang pernah dimiliki Maria. Namun itu bukan wajah aslinya. Ia menyentuh pipinya dengan ujung jari. Air mata perlahan mengalir. "Maaf..." Suaranya bergetar. "Aku tidak ingin melakukan ini." Pintu terbuka. Elena masuk. Wanita itu segera menoleh.
Pintu kayu tua itu tertutup tepat di depan wajah Raymond. BRAK! Bunyi benturannya menggema di sepanjang koridor mansion, lalu perlahan lenyap ditelan kesunyian. Raymond berhenti. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri di tempatnya. Dada pria itu masih naik turun akibat berlari. Napasnya berat, tetapi bukan kelelahan yang membuatnya terdiam. Tatapannya terpaku pada permukaan pintu berwarna cokelat tua di hadapannya. Di balik pintu itu... ada wanita yang baru saja membuat seluruh keyakinannya tentang masa lalu berantakan. Wanita yang memiliki wajah ibunya. Wanita yang beberapa detik lalu menatapnya dengan mata penuh air mata dan mengatakan bahwa dirinya belum pernah mati. Raymond perlahan mengangkat tangan. Jemarinya hampir menyentuh gagang pintu. "Jangan, Tuan." Suara John terdengar dari belakang. Raymond menoleh tajam. John segera berhenti beberapa langkah darinya. Dua pengawal berada di belakang pria itu, masing-masing membawa senjata dan memasang kewasp
Gelap total. Dalam sekejap, mansion tua itu berubah menjadi lautan kegelapan. "Jangan bergerak!" Suara John terdengar tegas dari bawah tangga. Para pengawal Raymond langsung membentuk lingkaran perlindungan. Senjata mereka terangkat, sementara beberapa orang menyalakan senter kecil dari peralatan yang mereka bawa. Raymond tidak peduli. "Ken!" Ia menatap ke arah lantai atas. Tidak ada jawaban. "Ken!" Kali ini ia berteriak lebih keras. Hanya gema suaranya yang terdengar. Kemudian dari suatu tempat di lantai atas terdengar suara langkah kaki. Satu. Dua. Tiga. Perlahan. Berat. Raymond langsung mengangkat kepalanya. "Siapa di sana?" Tidak ada jawaban. John bergerak mendekati Raymond. "Tuan, jangan naik sendirian." "Aku tidak punya pilihan." "Ini jebakan." "Aku tahu." Raymond menatap tangga yang gelap. "Justru karena itu aku harus naik." Ia baru hendak melangkah ketika suara Charles terdengar dari belakangnya. "Selamat datang, Raymond." Raymond berhenti. Suara
Raymond terdiam. Nama Maria kembali menggema di dalam kepalanya. Rahasia. Warisan. Dua kata itu terasa seperti potongan teka-teki yang selama bertahun-tahun sengaja disembunyikan darinya. "Apa yang sebenarnya disembunyikan ibu?" Charles menatap putranya beberapa detik sebelum menjawab. "Beberapa minggu sebelum kematiannya, Maria mulai bersikap berbeda." Raymond mengerutkan kening. "Berbeda bagaimana?" "Dia menjadi lebih berhati-hati." Charles berjalan perlahan menuju ruang utama mansion. "Dia mengganti beberapa pengawal. Mengunci ruang kerjanya. Bahkan memutus hubungan dengan beberapa orang yang selama bertahun-tahun bekerja untuk keluarga kita." Raymond mengikuti dengan tatapan tajam. "Dan kau tidak bertanya?" "Aku bertanya." Charles berhenti. "Dia tidak menjawab." Raymond tertawa hambar. "Jadi sekarang kau ingin aku percaya bahwa kau tidak tahu apa-apa?" "Aku tahu sebagian." Charles menoleh. "Tapi tidak semuanya." Elena yang sejak tadi diam akhirnya berkata,
Raymond tidak bergerak.Selama beberapa detik, tubuhnya berdiri kaku di halaman depan mansion tua itu. Cahaya lampu kekuningan yang baru menyala dari dalam bangunan jatuh tepat ke wajah wanita yang berdiri di ambang pintu.Raymond menatapnya tanpa berkedip.Wajah itu.Garis rahangnya. Bentuk matanya. Lekuk bibirnya. Bahkan kebiasaan kecilnya memiringkan kepala ketika sedang menatap seseorang.Semuanya begitu familiar.Terlalu familiar.Seolah sebuah bagian dari masa kecil Raymond tiba-tiba keluar dari foto lama dan berdiri hidup-hidup di hadapannya.Bibir Raymond bergetar."Ma...?"Suara itu keluar begitu lirih hingga hampir tertelan angin malam.Wanita tersebut langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. Air matanya mengalir deras."Raymond..."Satu kata.Namun suara itu menghantam dada Raymond jauh lebih keras daripada suara tembakan mana pun yang pernah ia dengar.Dadanya terasa sesak.Kenangan masa kecil berkelebat begitu cepat di kepalanya.Sebuah taman.Ayunan kayu.Tangan le
Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yan
Keesokan paginya, Clara bangun dengan kepala yang sakit dan dada yang masih terasa sesak.Seluruh tubuhnya nyeri sebab tidur di atas lantai yang keras dan dingin. Dalam hatinya, ada kemarahan yang belum menemukan jalan keluar. Clara bangkit perlahan. Tangannya gemetar saat merapikan rambut cokelat
Para anak buahnya serentak menunduk.Sementara itu, melihat kedatangan seorang Raymond Antonio, tubuh Ny. Eva semakin gemetar dan tangisannya semakin keras, melengking menusuk gendang telinga. “T-Tuan Raymond… aku mohon… aku akan bayar… aku—”Raymond mendekat, tatapannya kosong. Tidak ada amarah. T
Sementara di tempat gelap itu, harapan Clara nyaris padam. Langkahnya terseret, kakinya terasa berat seperti diikat beban. Clara menghela napas panjang. Ia merasa seperti orang yang sudah tak punya pilihan. Bunyi pintu besi ditutup terdengar lebih keras dari sebelumnya. Clara berdiri beberap







