Share

Dijodohkan

Author: Miss Wang
last update publish date: 2026-01-13 15:40:50

Clara menghantam pintu itu dengan kedua tangannya. “Buka! Tolong buka! Aku mohon!”

Tak ada jawaban.

Clara merosot ke lantai. Tangannya gemetar, nafasnya terputus-putus. Ia memeluk lututnya, tubuhnya meringkuk sekecil mungkin, seolah ingin menghilang ke dalam bayangan.

Air mata jatuh tanpa bisa ditahan.

“Aku ingin pulang…” bisiknya lirih, suara itu tenggelam di antara dinding dingin.

Jam demi jam berlalu tanpa ia tahu pasti. Waktu kehilangan makna di ruang gelap itu. Dinginnya merayap perlahan, menembus kulit, menekan dada.

Beberapa jam kemudian, suara pintu kembali terdengar. Clara tersentak, tubuhnya menegang.

Seorang anak buah masuk, meletakkan nampan makanan di lantai tanpa menatapnya.

Tanpa mengucapkan apa pun, pintu ditutup lagi.

Clara menatap makanan itu lama. Perutnya memang sudah melilit, akhirnya dengan tangan gemetar, ia menyuap sedikit demi sedikit.

Meski terlihat menggugah selera, makanan itu terasa hambar di mulut. Clara merasakan begitu sesak, perasaannya campur aduk. Air matanya menggenang di pelupuk.

Setelah mengisi perutnya, Clara mengedarkan pandangannya ke ruangan gelap itu. Oh, ada pintu usang dengan tulisan ‘kamar mandi’.

Clara melangkah gontai menuju ke kamar mandi itu. Ia mendorong pintunya pelan dan mendapati kondisi kamar mandi yang menyedihkan.

Rasanya ia benar-benar putus asa sekarang. Air mata yang menggenang sedari tadi pun jatuh.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan cara yang sama.

Gelap. Sunyi. Dingin.

Pintu terbuka hanya untuk makanan. Tak ada percakapan. Tak ada wajah ramah.

Namun satu yang paling membuat Clara tersiksa… tak ada cahaya matahari.

Clara mulai kehilangan hitungan hari. Kepalanya sering pusing. Dadanya sesak. Ia bicara sendiri hanya untuk memastikan ia masih waras.

“Aku harus keluar…” bisiknya berkali-kali. “Aku harus pulang…”

Suatu pagi, ketika pintu kembali terbuka dan seorang anak buah masuk membawa nampan, Clara merasakan sesuatu berdenyut di dadanya—sebuah keberanian yang lahir dari keputusasaan.

Saat anak buah itu membungkuk meletakkan makanan, Clara bergerak cepat.

Ia mendorong tubuh pria itu sekuat tenaga dan berlari keluar.

“Berhenti!” teriak anak buah lain yang berada di luar.

Clara berlari sekuat yang ia bisa, nafasnya terengah, jantungnya nyaris meledak. Langkah kaki mengejarnya, teriakan menggema di lorong.

Seseorang berhasil menangkap lengannya.

“Lepas!” Clara meronta. “Aku mau pulang! Aku mau pulang!”

Ia menggigit lengan pria itu sekuat tenaga.

“Aaargh—!”

Cengkeraman itu terlepas.

Clara berlari lagi, air mata mengaburkan pandangannya. Tangga. Pintu besar. Cahaya.

Hampir.

Namun tepat di ambang pintu basement, tubuhnya menabrak seseorang dengan keras.

Ia terjatuh ke belakang.

Raymond!

Wajah pria itu gelap. Matanya menyala marah.

“Berdiri,” katanya dingin.

Seperti tersihir, Clara menuruti pintanya. Clara bangkit dengan kaki yang gemetar.

Tangan besar lalu Raymond mencengkeram dagu Clara, membuat Clara tersentak.

“Kau ini tidak tahu diri, ya?” suara Raymond dingin.

Clara terisak, tubuhnya gemetar hebat. “Aku… aku hanya ingin pulang…”

Raymond tertawa kecil. Sinis.

“Pulang?” Raymond mendekatkan wajahnya kepada Clara. Tatapan matanya begitu dingin. “Setelah kau membuat uangku sia-sia.”

Air mata Clara jatuh membasahi tangannya.

Clara memang meminta pertolongan pada Raymond, tapi pria itu sendiri yang membelinya dengan jumlah besar. Namun, dengan dominasi dan kekuasaan Raymond, Clara tetap tidak bisa melawan dan tunduk di bawah kaki pria itu.

Belum sempat Clara ingin membalas, Raymond melepaskan cengkeramannya, menghempaskan Clara begitu saja lalu berpaling.

Raymond menoleh ke kanan menuju anak buahnya kemudian memberi isyarat singkat. “Bawa dia kembali ke basement.”

Dua anak buah mendekat.

“Tidak—!” Clara segera berlutut dan memeluk kaki Raymond erat-erat. “Tolong… jangan bawa aku ke tempat itu lagi. Tolong…”

Tangisnya pecah. “Aku akan melakukan apa pun!”

Raymond berhenti.

Ia menunduk menatapnya.

“Apa pun?” ulangnya pelan.

Clara mengangguk cepat, putus asa. “Ya. Apa pun.”

Raymond menarik kakinya dari pelukan Clara. Ia menatap gadis itu lama—tatapan tajam, penuh perhitungan.

Raymond lalu berbalik dan melangkah menjauh.

Clara mengerutkan keningnya. Apa yang akan pria itu lakukan?

Di tengah kebingungan Clara, Raymond tiba-tiba menoleh sebelum kembali bersuara kepada anak buahnya. “Basement. Sekarang.”

Anak buahnya menunduk tanda hormat. Sementara Clara terkejut mendengarnya.

Kedua kaki Clara kembali lemas. Namun kali ini, ia tidak memiliki tenaga untuk melawan. Yang ada hanya air mata yang jatuh membasahi pipi, tanda keputusasaan yang mendalam.

Tangannya kembali ditarik paksa oleh anak buah Raymond. Air matanya tidak bisa berhenti keluar.

Clara menyeret langkahnya lemas, hanya mengikuti cengkeraman kasar anak buah yang menariknya.

Clara menghela napasnya berat ketika tiba di depan pintu basement. Ia hanya bisa pasrah ketika gelap menyambutnya lagi.

***

Sementara Clara menangis ketakutan di basement gelap, Raymond kembali pada urusannya. Ia menatap salah satu anak buahnya yang seperti memberi isyarat.

Raymond langsung memahami itu. Ia pergi ke ruang kerjanya, lantas disambut oleh sosok pria paruh baya yang memunggunginya.

Dia adalah Charles Antonio, ayah Raymond, Bos besar kelompok mafia keluarga Antonio sebelum diturunkan kepada Raymond. Charles datang ke kediaman Raymond ketika Raymond sedang bersama anak buahnya, mengurusi Clara tadi.

Charles sendiri tidak pernah peduli dengan perihal seperti itu. Ia hanya sempat mendengar gaduh, lalu dengan acuh naik ke ruang kerja Raymond tanpa bertanya apa yang sedang dilakukan anaknya.

“Raymond,” Charles berbalik dan memanggilnya. Di tangannya terselip sebuah cerutu. Ia menghisapnya dan mengembuskan gumpalan asap berwarna putih ke udara.

Raymond hanya mengangguk dan menatap sang ayah. Ia seolah sudah tahu apa yang akan ayahnya bicarakan. Pasalnya, mereka sudah pernah membicarakan ini minggu lalu.

“Kau tidak bisa terus seperti ini, Raymond,” lanjut Charles. “Keluarga Winston akan memiliki pewaris. Apa kau tidak malu?”

Kelompok mafia keluarga Winston dikenal sebagai musuh dan saingan dari keluarga Antonio. Meski begitu, keluarga Antonio tetap memegang kekuasaan paling tinggi.

Mendengar itu, Raymond hanya bisa mengangguk lagi tanpa satu patah kata pun.

Charles menatapnya tajam dan menggeleng, seolah kecewa dengan diam anaknya. “Kau akan bertemu dengannya minggu depan, untuk membahas perjodohan.”

“Siapa maksudmu, Papa?” Raymond mengerutkan keningnya.

Charles berjalan menuju Raymond dan melewatinya. Ia memutar gagang pintu di hadapannya dan menarik buka pintu itu. Mata Raymond mengikuti langkah ayahnya.

Sebelum melangkah ke luar, Charles menoleh, menatap putranya dalam-dalam. “Ellen. Putri keluarga Baker.”

Pintu ditutup oleh Charles, meninggalkan Raymond yang masih berdiri mematung di baliknya. Pria itu tidak berkata apa-apa lagi.

Tak lama, Raymond membuka pintunya. Ayahnya sudah jauh dalam pandangan. Charles tengah menuruni anak tangga untuk ke pintu utama. Mobil limosin hitam mengkilap menunggunya di depan.

Raymond memandangi ayahnya yang menghilang di balik pintu, kemudian beralih ke arah basement tempat Clara berada. Seorang anak buah sedang menuju ke sana dengan membawa sebuah nampan berisi makanan.

Raymond hanya menatapnya sebelum berpaling kembali ke ruang kerja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Lyren Kael
Dijodohkan??
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kotak yang Ditinggalkan

    Pintu gudang kembali tertutup setelah suara rekaman Maria menghilang.Hujan masih mengguyur atap seng di atas kepala mereka. Suaranya begitu deras hingga hampir menenggelamkan bunyi napas para pengawal.Raymond berdiri di tengah gudang dengan kotak logam di tangannya.Tatapannya tidak lagi tertuju pada pintu.Ia menatap benda kecil itu.Kotak tersebut berwarna hitam kusam, permukaannya dipenuhi goresan halus dan noda karat di beberapa bagian. Namun pada bagian tengahnya terdapat lambang kecil yang sangat dikenalnya.Lambang keluarga Antonio.John mendekat."Tuan, sebaiknya kita membawanya keluar terlebih dahulu."Raymond menggeleng."Tidak."Ia meletakkan kotak itu di atas peti kayu."Kalau Maria menyembunyikannya di sini, berarti dia ingin seseorang membukanya di tempat ini."John memandang sekeliling."Atau seseorang ingin kita membukanya."Raymond menoleh.Tatapan keduanya bertemu."Benar."Raymond mengeluark

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Gudang no 17

    Hujan mulai turun ketika konvoi kecil Raymond memasuki kawasan pelabuhan lama.Rintiknya mula-mula tipis, kemudian semakin deras, membasahi kaca mobil dan membuat lampu-lampu jalan terlihat seperti garis cahaya yang kabur. Kawasan itu sudah lama tidak digunakan. Sebagian besar bangunan gudang berdiri dalam keadaan gelap, dindingnya kusam, pintu-pintu besi dipenuhi karat, dan rumput liar tumbuh di sela-sela beton yang retak.Di kejauhan, suara ombak terdengar menghantam dinding pemecah gelombang.Raymond duduk diam di kursi belakang.Tangannya menggenggam kunci kecil yang diberikan Elena.Benda itu dingin.Namun anehnya, setiap kali melihatnya, Raymond selalu teringat pada ibunya.Maria.Nama itu kembali memenuhi pikirannya.Wanita yang selama puluhan tahun diyakininya telah meninggal.Wanita yang wajahnya muncul kembali melalui Adriana.Dan sekarang...sebuah gudang tua yang m

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Akhirnya

    DOR!Pintu besi itu bergetar hebat.Raymond berdiri tepat di baliknya.Jas hitamnya sedikit basah akibat hujan. Rambutnya masih menyimpan titik-titik air, tetapi tatapannya sama sekali tidak menunjukkan kelelahan.John berdiri di sebelahnya bersama beberapa pengawal.“Buka pintunya.”Tidak ada jawaban.Raymond mengangkat tangan.“Hitung sampai tiga.”John langsung memberi isyarat.“Satu…”DOR!Sebelum hitungan selesai, salah seorang pengawal menghantam pintu dengan bahunya.Kunci pintu patah.Pintu terbuka keras.Raymond langsung masuk.Matanya bergerak cepat menyapu ruangan.Ken terbaring di atas ranjang.Wajahnya pucat.Di sebelahnya berdiri seorang pria berkemeja putih.Raymond mengenal wajah itu dari kartu identitas yang ditemukan sebelumnya.“Dr. Adrian Cole.”Adrian tidak bergerak.

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Hujan

    Hujan mulai turun ketika Raymond meninggalkan ruangan rahasia.Titik-titik air menghantam kaca-kaca tinggi mansion tua itu, menciptakan suara berirama yang justru membuat suasana semakin menekan.John berjalan beberapa langkah di belakangnya.“Tim sudah mulai melacak Dr. Adrian Cole.”“Berapa lama?”“Belum tahu, Tuan.”Raymond berhenti.“Jangan jawab dengan tidak tahu.”John menunduk.“Maaf.”Raymond menatap halaman mansion yang gelap.“Dokter itu menghilang tujuh tahun lalu.”“Ken diculik oleh orang yang menggunakan identitasnya.”“Dan sekarang nama yang sama muncul dalam catatan M-17.”Ia mengusap rahangnya.“Ini bukan kebetulan.”John mengangguk.“Saya juga berpikir begitu.”Raymond kembali berjalan.“Hubungi rumah sakit tempat Ken dirawat.”“Cari semua orang yang pernah menangani operasinya.”

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kebenaran yang Tersisa Bag 2

    Ruangan itu mendadak terasa terlalu sempit.Raymond masih memegang foto lama tersebut. Jemarinya mencengkeram bagian tepinya hingga kertas yang sudah berusia bertahun-tahun itu sedikit melengkung.Tatapannya tidak beralih dari tulisan di belakang foto.AKU TIDAK PERNAH MATI.Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih mengerikan daripada ancaman apa pun.Raymond perlahan mengangkat wajah.“Siapa yang menulis ini?”Tidak ada yang menjawab.Charles berdiri diam.Elena menundukkan kepala.John memperhatikan keduanya dengan waspada.Raymond melangkah mendekati ayahnya.“Aku bertanya sekali lagi.”Suaranya rendah.“Siapa yang menulis ini?”Charles menarik napas panjang.“Aku tidak tahu.”Raymond tertawa hambar.“Menarik.”Ia mengangkat foto tersebut.“Foto ibuku ditemukan di kamar Adriana.”“Di belakangnya

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Kebenaran yang Tersisa

    Elena masih berdiri di dekat jendela.Kunci tua itu tersembunyi di dalam genggamannya. Permukaannya dingin, terbuat dari logam tua yang warnanya mulai menghitam dimakan usia.Charles memperhatikannya.“Apa yang kau pegang?”Elena tidak menjawab.Ia justru memasukkan kunci itu lebih dalam ke saku gaunnya.“Tidak ada.”Charles menatapnya curiga.“Jangan bohong kepadaku.”Elena tersenyum tipis.“Bukankah itu yang selama ini kita lakukan?”Charles terdiam.Kalimat tersebut terasa seperti tamparan.Selama bertahun-tahun, Elena telah memberinya cerita tentang Maria. Tentang pengkhianatan. Tentang uang yang disembunyikan. Tentang bagaimana Maria meninggalkan keluarganya.Dan Charles mempercayainya.Terlalu lama.“Aku baru menyadari sesuatu,” ucap Charles pelan.Elena menoleh.“Apa?”“Mungkin selama ini aku tidak pernah me

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dikurung di Basement

    Clara masih terpaku di tempatnya ketika Raymond mengangkat tangan sedikit.Isyarat itu cukup.Ken, asistennya, langsung melangkah maju. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ponsel, menyebutkan angka, lalu mengangguk pelan pada manajer bar. Tidak ada negosiasi. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada yan

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Dijual Paman, Dibeli Tuan Mafia

    Keesokan paginya, Clara bangun dengan kepala yang sakit dan dada yang masih terasa sesak.Seluruh tubuhnya nyeri sebab tidur di atas lantai yang keras dan dingin. Dalam hatinya, ada kemarahan yang belum menemukan jalan keluar. Clara bangkit perlahan. Tangannya gemetar saat merapikan rambut cokelat

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Tuan Mafia Kejam

    Para anak buahnya serentak menunduk.Sementara itu, melihat kedatangan seorang Raymond Antonio, tubuh Ny. Eva semakin gemetar dan tangisannya semakin keras, melengking menusuk gendang telinga. “T-Tuan Raymond… aku mohon… aku akan bayar… aku—”Raymond mendekat, tatapannya kosong. Tidak ada amarah. T

  • Menjadi Tawanan Tuan Mafia   Gadis Yatim Piatu, Clara

    “Lepaskan aku!”Teriakan Clara tenggelam oleh dentuman musik dan tawa para pria yang memenuhi ruangan. Dua penjaga menyeretnya keluar dari kamar sempit itu, langkahnya terseret di lantai. Kain hitam yang tipis membalut tubuhnya begitu ketat, memamerkan lekuk yang paling sensitif. Bagian atasnya te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status