MasukKeesokan paginya, Clara bangun dengan kepala yang sakit dan dada yang masih terasa sesak.
Seluruh tubuhnya nyeri sebab tidur di atas lantai yang keras dan dingin. Dalam hatinya, ada kemarahan yang belum menemukan jalan keluar. Clara bangkit perlahan. Tangannya gemetar saat merapikan rambut cokelat panjangnya yang berantakan. Mata hazel itu kosong, dingin, tak lagi menyimpan sisa harapan. Ia keluar kamar tanpa menyentuh dapur, tanpa menyalakan kompor, tanpa mengangkat satu pun piring. Tanpa pamit, tanpa menoleh, tanpa sepatah kata pun ia pergi. Sesampainya di kampus, Clara pergi ke kelas untuk mengikuti mata kuliah. Namun, pikirannya tidak bisa berhenti berputar. Di sela-sela fokus yang rapuh itu, perasaannya kerap terpecah. Ingatannya kerap melayang pada malam ketika Ny. Eva dibunuh—darah, teriakan tertahan, dan sebuah tatapan kosong yang tak sempat ia lupakan. Clara begitu takut. Takut karena ia tahu, takut jika ia menjadi target berikutnya. Hari-hari berikutnya berlalu dalam kewaspadaan yang melelahkan. Namun, Clara tidak merasa dikuntit atau diperhatikan. Selain itu ia juga tak merasa ada orang-orang yang mengejarnya. Dunia berjalan seperti biasa, seolah tragedi itu tak pernah terjadi. Perlahan, ketegangan di bahunya mulai mengendur. Nafasnya lega. Ia merasa aman. Namun tentu saja itu tak bertahan lama. Hari ini Clara baru saja menyelesaikan kelasnya. Ia melangkah keluar dari gerbang kampus dengan tenang. Tak lama, dua tangan kasar mencengkeram lengannya dari belakang. “Siapa kalian? Lepaskan aku!” serunya terkejut. Jantungnya berdegup liar. Apa mungkin mereka anak buah Raymond? Dua pria bertubuh besar, berjas hitam, wajah mereka datar tanpa ekspresi, menariknya paksa. Satu menutup mulutnya dengan telapak tangan, satu lagi menyeretnya menuju sebuah mobil gelap yang terparkir tak jauh dari sana. Clara meronta, menendang, namun tenaga mereka jauh lebih kuat. “Diam kalau mau selamat,” bisik salah satu dari mereka dingin. Pintu mobil tertutup keras. Mesin menyala. Kota berlari mundur di balik kaca jendela, sementara jantung Clara berdentum tak beraturan. Kepalanya penuh pertanyaan, ketakutan merayap perlahan, menyesakkan. Ke mana mereka akan membawanya? Mobil berhenti di depan sebuah bangunan megah dengan lampu temaram keemasan. Musik berat mengalun dari dalam. Itu adalah sebuah bar elite. Aroma alkohol dan asap rokok menyambut begitu pintu terbuka. Clara didorong masuk, langkahnya goyah. Di dalam, seorang pria berpakaian rapi—manajer bar—menatapnya dari balik meja dengan senyum tipis yang tak membuatnya nyaman. Dan di sampingnya… “Paman?” suara Clara pecah. Paman Bobi berdiri santai, tangan di saku, wajahnya tanpa beban. Seolah mereka bertemu di pasar, bukan di tempat yang membuat darah Clara membeku. “Apa maksud semua ini?” Clara melangkah maju, amarah bercampur ketakutan. “Kenapa aku ada di sini?” Manajer bar mengangguk kecil. “Barangnya sesuai. Cantik.” Clara menoleh tajam. “Barang?” Paman Bobi tertawa pelan. “Jangan drama. Aku cuma menyelesaikan masalah keluarga.” Ia menatap Clara tanpa rasa bersalah. “Kau tahu kan utang itu? Ini cara tercepat.” Dunia Clara runtuh. “Paman… menjual aku?” “Anggap saja kamu membalas budi,” jawabnya ringan. “Uang yang dihabiskan Alda saja tak cukup untuk membayar hidupmu selama ini.” Tangan Clara bergetar. “Aku keponakanmu!” “Kau beban,” potongnya dingin. Ia berbalik, dan tanpa sedikit pun rasa iba ia berbalik. Clara mencoba mengejar, namun dua penjaga menghadang. Manajer bar memberi isyarat. “Bawa dia ke dalam. Dandani dia!” “Tidak! Jangan sentuh aku!” Clara meronta, air mata mengalir tanpa bisa ditahan. Namun usahanya percuma. Sekuat apapun ia berontak, tenaganya tak cukup kuat. 30 menit pun telah berlalu. “Lepaskan aku!” Teriakan Clara tenggelam oleh dentuman musik dan tawa para pria yang memenuhi ruangan. Dua penjaga menyeretnya keluar dari kamar sempit itu, langkahnya terseret di lantai. Kain hitam yang tipis membalut tubuhnya begitu ketat, memamerkan lekuk yang paling sensitif. Bagian atasnya terbuka, membuat semua pasang mata keranjang menatapnya seperti singa kelaparan. “Barang baru, ya?” “Masih polos kelihatannya.” “Cantik… sayang kalau cuma sekali pakai.” Seorang pria bertubuh besar, berkepala plontos dengan cincin emas di tiap jari, melangkah maju. Senyum liciknya membuat perut Clara mual. “Yang ini mahal, kan?” katanya pada manager bar. “Aku suka yang begini. Matanya masih hidup.” Clara mundur setapak, nafasnya tersengal. Tangannya mengepal, air mata menggantung di pelupuk mata. Ia ingin berteriak, ingin lari, tapi tubuhnya kaku—terjebak di antara tatapan rakus dan dinding yang tak memberi jalan keluar. Manager tersenyum puas. “Dia istimewa. Kalau Tuan mau… tentu ada harga yang sepadan.” Pria botak itu terkekeh, melangkah makin dekat. “Berapa pun aku bayar. Untuk yang satu ini… aku mau.” Suara tawa pecah. Dunia Clara seakan runtuh dalam satu tarikan napas. Lalu… Di antara pria-pria mata keranjang itu, matanya yang basah tertancap pada seorang pria—wajahnya tak asing. Di balik bayangan lampu redup, pria itu dengan aura paling gelap di ruangan itu. Setelan hitam, tatapan tajam, dan kehadiran yang membuat udara bergetar. Raymond Antonio. Di antara takut dan bingung ada satu perasaan yang lebih kuat—harapan. Ia ingat tatapan pria itu. Ingat caranya menatap seolah dunia bisa runtuh hanya dengan satu perintah. Tapi, seperkian detik ia berpikir. Jika Raymond benar-benar berbahaya, pria itu pasti sudah mencarinya sejak kemarin. Tapi tidak. Tak ada jejak, tak ada ancaman, tak ada langkah yang memburu. Tanpa berpikir panjang, Clara berlari. “Aku mohon…” suaranya pecah saat ia jatuh berlutut di samping kursi Raymond. Tangannya mencengkeram lengan pria itu kuat-kuat, seolah itu satu-satunya benda yang menahannya agar tak tenggelam. “Tolong aku…” Clara masih mencengkeram lengannya, tubuhnya gemetar hebat. Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan. Ia menatap wajah itu penuh harap, seolah berkata: kau satu-satunya yang bisa menolongku. Ruangan mendadak gempar. “Gila! Dia menyentuh Tuan Raymond!” “Berani sekali!” “Dia cari mati!” Beberapa anak buah langsung melangkah maju, tangan terangkat hendak menarik Clara pergi. Namun— Satu gerakan tangan dari Raymond membuat mereka berhenti seketika. Suasana mendadak hening. Ia menunduk sedikit, menatap Clara dengan mata dingin yang sulit ditebak. Lalu ia berdiri. Langkahnya pelan, tapi setiap hentakan seakan mengguncang ruangan. Ia menatap manager bar, lalu para pria yang tadi menawar. “Aku ambil dia,” katanya datar. “Tiga kali lipat dari harga tertinggi.” Ruangan seketika gaduh. Namun Clara membelalak. Jantungnya seperti diremas. Sang manager tersenyum lebar, matanya berbinar oleh angka yang disebutkan. “Kesepakatan yang sangat menguntungkan,” katanya cepat. Clara menatap Raymond dengan mata basah, suaranya bergetar. “Tuan… maksudku—” Pria itu akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, dalam, tak terbaca.Dokter itu menatap Clara beberapa detik, lalu kembali menoleh pada Raymond.“Bagaimana?” tanya Raymond, suaranya datar namun menekan.Dokter itu tersenyum tipis. “Tuan, Nona—”Ddrrrttt… Ddrrttt…Ponsel di saku celana Raymond bergetar, memotong kalimat yang belum selesai dari dokter itu. Getaran itu terdengar keras di ruangan yang hening.Raymond mengangkat tangan, memberi isyarat pada dokter agar menunggu.Ia segera mengeluarkan ponselnya. Nama yang terpampang di layar membuat rahangnya megeras—Tuan Viktor.Tanpa berkata apa-apa, Raymond berbalik dan keluar dari kamar Clara sambil mengangkat telepon itu. Pintu ruangan itu tertutup.Begitu suara langkah Raymond menjauh, Clara refleks bangkit sedikit dari ranjang dan meraih tangan dokter.“Dok… tolong,” bisiknya cepat, suaranya sedikit gemetar. “Tolong jangan beri tahu Tuan Ray jika aku hamil.”Dokter itu terkejut. “Tapi, Nona—”“Tolong…” mata Clara berkaca-kaca. “Aku akan bicara padanya nanti. Hanya saja… untuk sekarang aku belum siap
Di dalam kamar VIP Hotel Gerald, lampu kristal redup memantulkan cahaya keemasan di dinding marmer. Tirai tebal menutup rapat di jendela, meredam semua hiruk-pikuk di luar ruangan. Beberapa saat sebelumnya, ruangan itu dipenuhi desahan tertahan dan bisikan-bisikan penuh nafsu yang kini telah mereda. Yang tersisa hanya suara napas yang masih terengah, dan perlahan kembali normal.Di bawah selimut putih yang sama, dua sosok duduk santai, punggung mereka bersandar ke dipan ranjang—Adrian dan Sofia. Adrian duduk di sisi kanan ranjang, dan Sofia di sisi kiri, keduanya mengangkat rokoknya ke bibir, mengisapnya dalam, lalu menghembuskan asap perlahan ke langit-langit.Asap rokok mengepul tipis di udara.“Jadi,” suara Adrian rendah, santai namun tajam, “apa rencanamu selanjutnya?”Sofia tersenyum tipis tanpa menoleh. Asap rokoknya masih melayang di udara.“Raymond sudah percaya dengan diagnosis palsu itu,” jawabnya tenang. “Keinginanku sekarang hanya satu.” Sofia terdiam sejenak. Tatapann
Kakinya melemas. Ia terhuyung setengah langkah ke belakang dan bersandar pada dinding kamar mandi.Dua garis merah jelas terpampang.Tangannya refleks menutup mulut. “Aku…” napasnya tercekat. “Hamil…”Tubuh Clara gemetar. Dunia terasa berputar terlalu cepat, lalu tiba-tiba melambat tanpa ampun. Napasnya terasa tercekat di tenggorokan.“Hamil…” ulangnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.Air matanya jatuh satu per satu, tanpa isak, tanpa suara. Dengan tangan gemetar, ia membuka kancing blusnya. Pakaian itu terasa menyesakkan. Ia melepaskannya perlahan, lalu rok yang ia kenakan. Semuanya jatuh ke lantai kamar mandi.Ia melangkah masuk ke dalam bathtub. Air dingin menyentuh kulitnya, membuat tubuhnya sedikit tersentak. Ia bersandar pada dinding porselen, lututnya ia lipat ke dada.Sementara tes kehamilan itu masih ada di tangannya. Ia meletakkannya di pinggir bathtub, tetapi matanya tak lepas dari garis dua pada alat itu. “Bagaimana ini…” bisiknya putus a
Senyum di wajah Sofia perlahan melebar. Namun sorot matanya berubah ketika ia menoleh ke arah pintu tempat Clara tadi menghilang.“Raymond,” ucapnya ragu. “Aku ingin bicara tentang wanita itu.”Raymond yang baru saja mengangkat cangkir kopinya berhenti sejenak. “Jangan campurkan urusan kita dengan dia,” katanya dingin. Sofia terdiam sesaat, tetapi ia belum menyerah. “Kenapa, Ray? Aku hanya—”“Aku tak ingin membahasnya,” potong Raymond lagi. Suaranya tidak keras, tetapi tegas dan tak terbantahkan. “Jika kau tak suka, silakan pergi.”Ucapan itu seperti tamparan bagi Sofia. Sofia memaksakan senyumnya, meski jantungnya terasa diremas. “Tidak, Ray… aku akan ikut perkataanmu.”Tangannya terulur, memegang lengan Raymond dengan lembut, seolah ingin memastikan pria itu benar-benar nyata dan kini kembali menjadi miliknya.Raymond tidak menepisnya, tetapi juga tidak menoleh. Ia kembali menyantap makanannya dengan wajah datar.Sofia menunduk. ‘Dia bukan Raymond yang sama. Dulu, dia selalu menur
Clara masih menatap bayangannya di cermin beberapa detik setelah rasa mual itu mereda sedikit. Wajahnya pucat, bibirnya kehilangan warna. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dadanya yang terasa sesak.Perlahan ia keluar dari kamar mandi. Langkahnya gontai, pandangannya sedikit berkunang-kunang.“Sepertinya aku masuk angin…” gumamnya pelan.Ia berjalan terhuyung menuju ranjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur. Selimut ditarik hingga menutup bahunya. Ia berbaring menyamping, kedua tangannya masih memegang perutnya yang terasa tidak nyaman.Kepalanya terasa berdenyut. Tak lama, matanya terpejam dan nafasnya perlahan teratur. ***Beberapa jam berlalu.Di ruang kerja yang sunyi, Raymond duduk di balik meja. Berkas-berkas bisnis terbuka di hadapannya. Ia menandatangani satu demi satu dokumen dengan wajah serius. Sofia masih ada di sana.Ia duduk dengan tenang di kursi dekat jendela sambil menyeruput teh hangat. Beberapa detik kemudian suara ketukan terdengar.“Masuk
Raymond tersentak, tangannya refleks mencengkeram bahu Sofia dan mendorongnya menjauh.“Apa yang kau lakukan?” suaranya tajam, napasnya sedikit memburu.Sofia terhuyung setengah langkah. Ia terengah, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.“Aku hanya ingin kau ingat,” bisiknya dengan suara pecah. “Ingat bagaimana rasanya… dan aku tahu kau masih mencintaiku, Ray. Kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri.”Di ujung lorong, Clara mundur selangkah. Pandangannya kabur oleh air mata yang nyaris jatuh. Ia berbalik cepat—tapi, tanpa sengaja bahunya menyenggol sebuah guci porselen tinggi di sudut lorong.Guci itu bergoyang dan hampir jatuh, membuat Raymond dan Sofia serentak menoleh ke arah Clara berdiri. “Kau menguping.” suara Raymond menggelegar, bukan karena marah, tapi lebih ke terkejut.Clara seketika membeku. Ia memejamkan mata lalu membukanya kembali, bibir bawahnya refleks tergigit. Ia langsung berbalik menghadap mereka, wajahnya terlihat pucat.“Tidak… aku tidak sengaja mau lewat, Tu







