Share

Bab 4

Penulis: Farchahcha
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-29 22:08:43

Sepertinya Kanaya terlalu banyak berpikir. Mana mungkin anak Presdir perusahaannya adalah Adrian yang pernah tidur dengannya. 

“Kayaknya aku sudah mulai terobsesi dengan semua orang bernama Adrian,” gumam Kanaya sambil berjalan menuju ruangannya. 

Sampai tampak sebuah kerumunan orang di lobby perusahaan. Kanaya mendekat, benar saja ada Pak Presdir di sana bersama dengan seorang pria dan wanita muda. Kanaya tidak melihat jelas karena dia datang dari arah belakang.

Kanaya mendekat ke meja resepsionis. 

“Ramai sekali, ada apa sih?” tanyanya pada petugas resepsionis. 

“Pak Presdir lagi ngenalin anaknya. Infonya jadi wakil dirut yang baru,” sahut petugas resepsionis. 

Kanaya mengangguk paham, sekilas dia melihat pria di samping Pak Presdir. Postur tubuhnya yang tegas terasa familiar. 

Sampai akhirnya pria muda itu berbalik ke arah Kanaya. Dan, tanpa sengaja mata mereka bertemu. 

Mata itu.

Wajah itu.

Dia.

Adrian.

Kanaya hampir tak percaya, kakinya lemas seketika. Jadi, pria yang tidur bersamanya akan menjadi bosnya sendiri. 

Belum sempat Kanaya memproses semuanya, tiba-tiba seorang wanita dengan elegan melingkarkan tangannya di lengan Adrian. 

Deg! 

Dada Kanaya seolah berhenti seketika. Wanita itu pasti tunangannya. Itu artinya dia sudah tidur dengan tunangan orang lain. 

Pak Presdir tersenyum ramah ke semua karyawan yang ada di lobby. Dia mengumumkan sesuatu. “Ini anak saya, Adria Prakasa. Dia akan bekerja sebagai Wakil Direktur Utama mulai hari ini. Dan ini Reina, calon istrinya.”

Kanaya tersentak. Dunianya seketika meredup. Baru saja dia merasakan jatuh cinta, tapi Tuhan mulai memperlihatkan bahwa dia tak pantas. 

Saat wanita itu masih mematung. Adrian yang sebelumnya tampak percaya diri, tiba-tiba terpaku. Tatapannya terkunci pada sosok wanita yang berdiri bersandar di meja resepsionis. 

Wajahnya tegang bercampur kaget, bingung, sekaligus panik. Kenapa ada dia di sini? pikirnya. 

Mereka berdua saling beradu tatap dalam diam. Seolah hanya ada mereka berdua di ruangan itu. 

Ingatan malam itu, sentuhan tangan lembut, napas yang beradu, suara berat yang memanggil nama Kanaya seolah menghantam dada wanita itu. 

Rasanya sakit dan perih, kenyataan lain bahwa dia sangat bodoh dan murahan berputar di kepalanya. 

Kanaya menelan ludah, memalingkan wajahnya. Hatinya retak tanpa suara. 

***

Langkahnya bergema di koridor perusahaan. Kanaya meninggalkan lobby dengan tergesa, dia baru saja mengetahui suatu fakta. 

Adrian mematahkan hati Kanaya. 

“Semua pria itu sama aja, brengsek!” umpatnya dalam hati.

Kanaya kecewa dengan Adrian, kesan pertamanya tentang pria itu hancur seketika. 

Air mata yang tadi ditahannya akhirnya lolos juga. “Kenapa harus nangis sih, Nay?” ucapnya bermonolog dengan dirinya sendiri. 

Tangannya mengusap air matanya sendiri di sudut lorong yang sepi itu, Kanaya merenungkan semua kejadian yang dialaminya. 

Dia tertawa getir. “Sepertinya Tuhan tidak ingin hidupku tenang-tenang saja,” Kanaya mendesah. 

Adik mengacau, jatuh cinta sama orang asing sampai ONS, mantan yang sekantor, dan saat menyadari bahwa partner ONS nya adalah bosnya sendiri yang sudah bertunangan.

“Nay?” panggil seseorang dari belakang Kanaya. 

Kanaya membeku seketika, suara itu tidak asing. Dia berbalik perlahan, matanya membelalak melihat sosok yang memanggilnya. “Adrian,” sahutnya pelan hampir tak terdengar. 

“Ternyata benar itu kamu,” seru Adrian mendekat padanya. 

Pria itu terlihat bahagia bisa bertemu dengan Kanaya lagi. 

Sayangnya, Kanaya sudah kecewa. Saat Adrian mendekat, wanita itu melangkah mundur. Alhasil, Adrian melambatkan langkahnya. “Ada apa? Kenapa dia menghindar?” gumamnya dalam hati. 

“Maaf, saya harus kembali bekerja,” ucap Kanaya gugup lalu pergi meninggalkan Adrian setelah menunduk sopan. 

“Tunggu!” tangan Adrian sampai terangkat ke udara mencoba menahan Kanaya agar tidak pergi. Namun, wanita itu tetap berjalan menjauh sampai menghilang di sudut lorong. 

Tangan Adrian terjatuh lemas di samping badannya. Dia menghela napas berat. “Padahal aku sudah mencarinya kemana-mana. Tapi kenapa dia malah menghindar saat melihatku.”

Tapi, seketika Adrian tersenyum karena menyadari fakta bahwa Kanaya bekerja di perusahaan miliknya. 

Bibirnya melengkung ke atas. "Akhirnya aku menemukanmu, Kanaya. Sepertinya kehidupanku di kantor ini tidak akan membosankan seperti yang kubayangkan."

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Menjadi Teman Tidur Bosku   Bab 26

    Bagaimana caranya Kanaya percaya kalau hubungan antara Adrian dan Reina sudah berakhir, kalau di depan matanya wanita itu terlihat mesra dengan Adrian. Kanaya diminta Pak Damar mengantar kopi ke ruangan Adrian. Dia juga tidak tahu kenapa harus dirinya yang membawakan minuman ini ke ruangan wakil direktur. Karena ini permintaan Pak Damar, kepala divisi marketing. Kanaya tidak enak jika menolak. Kanaya menghentikan langkahnya di depan ruangan Adrian. Matanya langsung menangkap dua orang di dalam ruangan itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat ketika melihat apa yang terjadi. Dia melihat Adrian sedang mengunci Reina di sudut ruangan. Posisi mereka seperti sedang… berciuman. Seketika itu Kanaya membalikkan badannya. Entah kenapa dadanya terasa ada yang berlubang di sana. Dia tidak tahu, apa yang harus dilakukan. “Apa aku harus masuk sekarang?” tanyanya dalam hati. Dia ingin melangkah pergi, tapi dia teringat tugas Pak Damar untuk membawakan minuman. Kanaya menghela napasnya

  • Menjadi Teman Tidur Bosku   Bab 25

    “Sarapan dulu, Nay. Ini sudah ibu siapkan!” seru Ibu Kanaya. Wanita paruh baya itu sudah membuat nasi goreng dan juga telur ceplok untuk sarapan anak-anaknya. Dia menatap menu sarapan itu di meja kecil depan televisi. Kanaya masih ada di kamarnya, memasukkan keperluan kantornya ke dalam tas. Dia sudah rapi dengan pakaian kerjanya, celana kain warna khaky dengan atasan sederhana berwarna ivory. Wanita itu memoles sedikit lip tint di bibirnya sebelum keluar. Menyemprotkan parfum ke badannya, lalu setelah itu membuka pintu kamar. Matanya langsung disambut oleh Ibunya yang menata piring untuk mereka sarapan. Tiba-tiba saja pertanyaan Adrian semalam mengingatkannya. Apa yang disukai ibumu? Kanaya masih tidak tahu apa yang disukai wanita yang melahirkannya itu. Dia menggigit bibir bawahnya, apa perlu dia menanyakan langsung apa yang disukai ibunya sekarang?Dia mengangguk sesaat lalu melangkah mendekat pada sang ibu. Duduk di sisi meja, matanya lurus melihat sang Ibu menyendok nasi go

  • Menjadi Teman Tidur Bosku   Bab 24

    Malam itu sungguh cerah, ribuan bintang menghampar memenuhi langit. Kanaya mendesah berat sambil melihat ke luar jendela. Kurang dari seminggu dia akan menikah dengan Adrian. Pria yang sedang menyetir di sebelahnya sekarang. Kanaya mencuri pandang ke arah pria yang sedang fokus menatap jalan itu. Adrian terlihat tenang, berbeda sekali dengan Kanaya yang penuh dengan kekhawatiran. Kenapa rasanya pundak Kanaya begitu berat. Menikah dengan Adrian dan hidup bersamanya, tak pernah ada di bayangan Kanaya. “Apa yang sedang kamu pikirkan, Nay?” Adrian sudah menghentikan mobilnya. Mereka sudah sampai di depan rumah kos Kanaya. Wanita itu sampai tak sadar sudah berapa lama dia melamun. “Ehem.” Kanaya berdehem mengalihkan kecanggungannya. “Hanya memikirkan ini dan itu.” Jawabnya. “Soal pernikahan?” Adrian seolah membaca pikirannya. “Kamu tidak perlu khawatir, Kanaya. Serahkan saja padaku.” Kanaya tidak bisa menjawabnya selain mengangguk. Setelah itu Adrian memegang tangannya. Kanaya te

  • Menjadi Teman Tidur Bosku   Bab 23

    Canggung. Rasanya Kanaya susah sekali bernapas saat ini. Tatapan orang tua Adrian seolah ingin melubangi dirinya. Apalagi tatapan dari Presdir LW Group itu seolah melihat Kanaya sebagai musuh yang masuk ke dalam teritorialnya. Januari Prakasa bersikap dingin saat Adrian mengenalkan Kanaya sebagai calon istrinya. Sedangkan Dewi, ibunda Adrian menatapnya dengan tatapan yang dalam meski sama tidak merespon saat Kanaya memperkenalkan dirinya. “Apa pekerjaan orang tuamu?” tanya Januari akhirnya buka suara. Kanaya mendongak, wajahnya terlihat menegang saat ditanya oleh Januar. Dia menelan ludah, lalu menarik napas panjang sebelum menjawab. “Ibu saya tidak bekerja, beliau seorang ibu rumah tangga.” Jawab Kanaya pelan. “Bagaimana dengan ayahmu?”Kanaya terdiam cukup lama, dia tidak ingin membahas soal ayahnya yang sudah pergi entah kemana meninggalkan keluarganya. Dia meremas tangannya yang sudah mulai berkeringat. Sampai akhirnya sebuah tangan muncul dan menggenggam erat tangannya. Ka

  • Menjadi Teman Tidur Bosku   Bab 22

    Pagi itu Kanaya berdiri di depan rumah kos nya, dengan dress selutut berwarna ivory. Dia sengaja menata rambutnya, menggerai dan menyematkan jepit mutiara di sisi kepalanya. Sesekali dia mengatur napasnya, menggembungkan mulutnya. “Brrr, aaa.. aa… aaa…” Kanaya melakukan senam mulut agar tidak terlalu tegang. Karena pagi ini Adrian mengajaknya bertemu dengan orang tuanya. Pada akhirnya hari itu tiba juga. Kanaya benar-benar gugup sekarang, padahal Adrian belum juga tiba. Kemarin, mereka bertemu dan Adrian mengajak Kanaya untuk berbelanja dan mencuci rambutnya ke salon agar penampilannya lebih baik sekarang. Pria itu juga membelikan Kanaya tas dan heels yang dikenakannya sekarang. Saat wanita itu membayangkan bagaimana nanti saat dia bertemu dengan kedua orang tua Adrian. Sebuah mobil berhenti tepat di depannya, seorang pria turun dari arah lain dan menghampirinya. Pria itu Adrian, dengan kemeja warna navy, dia tak mengenakan dasi, penampilannya lebih santai namun tetap terlihat so

  • Menjadi Teman Tidur Bosku   Bab 21

    Mereka berempat keluar dari gedung karaoke hampir tengah malam. Kanaya, Lala, Nathan, dan Adrian mengakhiri malam mereka. Saat di luar gedung karaoke, Kanaya masih mengobrol dengan Lala. Nathan dan Adrian mengambil mobil mereka. Tak lama kemudian, kedua pria itu muncul di hadapan Kanaya dan Lala. Nathan langsung menarik tangan Kanaya. “Yuk! Aku antar kamu pulang,” katanya. Tapi, Kanaya mematung. Bukan karena menolak ajakan Nathan, tapi karena sebelah tangannya yang lain sudah ditarik oleh Adrian. Secara bersamaan Nathan dan Adrian sama-sama menarik tangan Kanaya. Membuat wanita itu kebingungan sendiri, begitupun Lala yang menoleh ke arah Nathan dan Adrian dengan tatapan heran. Karena tidak mau menimbulkan kecurigaan Lala. Kanaya menarik kedua lengannya dari Adrian dan Nathan. Kedua pria itu terlihat kecewa dan saling pandang dengan ekspresi tak bisa diartikan. “La, aku pulang bareng kamu aja ya?” ucap Kanaya pada Lala. “Boleh aja sih, tapi kan rumahku di dekat sini aja. Kosan k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status