Share

Bab 4

Author: Wanto
Para relawan segera menarik tubuhku ke atas kapal penyelamat. Setelah tiga kali dilakukan CPR, barulah air yang memenuhi paru-paruku berhasil keluar dan detak jantungku kembali terdengar, meski begitu lemah.

Begitu tiba di rumah sakit kota, dokter IGD langsung memeriksa kondisiku. Wajahnya seketika berubah serius.

"Korban nyaris tenggelam dan terlalu lama kekurangan oksigen. Paru-parunya sudah dipenuhi cairan! Siapin intubasi dan segera beri tahu ruang operasi!"

Dia kemudian berteriak ke arah lorong, "Keluarganya di mana? Minta mereka segera tanda tangani persetujuan!"

Dari ujung lorong, terdengar suara langkah kaki mendekat.

Ibu muncul dengan langkah santai, seolah tidak sedang berada di rumah sakit dalam keadaan darurat. "Siapa yang nyuruh kalian nyelamatin dia?"

Semua orang di sana sontak terdiam.

"Dia masih hidup, 'kan? Menurutku dia cuma pura-pura. Sejak kecil memang begitu. Sedikit-sedikit pura-pura sakit dan minta dikasihani."

Seorang perawat akhirnya tersadar dan dialah yang pertama yang bereaksi. Dia langsung membentak,

"Apa katamu?! Kalau kami terlambat setengah menit saja, nyawanya sudah nggak tertolong! Sekarang juga tanda tangani persetujuan operasinya! Setiap detik yang terbuang bisa bikin dia makin sulit diselamatkan!"

Namun, Ibu sama sekali tidak menghiraukan bentakan itu.

Dia justru berbalik dan mengarahkan pandangan kepada adikku yang berdiri kaku di sudut lorong.

Wajah Susan sudah pucat seperti kertas. Bibirnya terus bergetar, tetapi tidak ada satu kata pun yang sanggup keluar.

Ibu menatapnya beberapa saat sebelum berkata dengan suara datar,

"Kamu sudah tahu kesalahanmu?"

Susan mengangguk berkali-kali. Air matanya terus berjatuhan, membasahi pipinya hingga menetes ke lantai.

"Cuma mengangguk nggak ada gunanya."

Ibu mengeluarkan sebuah pena dari dalam tasnya. Setelah mengambil selembar kertas dari meja perawat, dia meletakkannya tepat di hadapan Susan.

"Tulis tiga ratus kata. Setelah selesai dan kamu benar-benar ngerti kesalahanmu, baru Ibu akan tanda tangani suratnya."

Perawat tadi langsung kehilangan kesabaran.

"Apa Ibu sudah gila?! Anak di dalam sedang nunggu operasi! Setiap menit yang terbuang bisa …."

"Aku sedang mendidik anakku sendiri. Apa hubungannya denganmu?"

Ibu bahkan tidak repot-repot menoleh kepadanya.

Dia malah menarik sebuah kursi, duduk dengan tenang, lalu mengeluarkan ponsel dan mulai menonton video-video pendek seolah tidak terjadi apa-apa.

Beberapa saat kemudian, dokter kembali bergegas keluar dari ruang resusitasi.

"Keluarga pasien! Persetujuan operasi sudah ditandatangani atau belum?!"

Tidak seorang pun menjawab.

Di bangku panjang yang berada di lorong, Susan membungkuk sambil menulis. Tangannya gemetar hebat hingga pena yang digenggamnya pun nyaris terlepas.

Setiap kali berhasil menuliskan satu kata, dia harus berhenti untuk menghapus air matanya. Namun, air mata itu terus jatuh ke atas kertas, membuat tinta melebar dan tulisan yang baru saja dibuat menjadi sulit dibaca.

Akhirnya, dia berhenti menulis dan mengangkat wajah untuk menatap Ibu.

"Bu ... kumohon... tanda tangani dulu, boleh? Kakak nggak bersalah..."

"Memang bukan salahnya."

Ibu tetap menatap layar ponselnya. Bahkan kepalanya tidak terangkat sedikit pun.

"Tapi kakakmu adalah tumbal yang harus bikin kamu jera. Kalau dia nerima hukuman ini, kamu akan ingat kesalahanmu."

"Daripada terus membantah Ibu, lebih baik selesaiin tulisanmu."

Susan menggigit bibirnya, menundukkan kepala, lalu kembali menulis.

Tangannya gemetar makin hebat hingga tulisan di atas kertas menjadi berantakan. Bahkan satu baris pun belum selesai, tetapi sudah basah oleh air mata.

Ayah menoleh ke arah lampu ruang resusitasi, lalu memandang Ibu yang masih duduk santai sambil memainkan ponselnya.

"Elsa ... cukup. Tanda tangani dulu. Anak itu ...."

"Setiap kali kamu selalu bilang sudah cukup."

Ibu akhirnya mengangkat pandangan. Kelopak matanya hanya terbuka sedikit saat dia berkata, "Dia sendiri yang nggak pernah belajar dari kesalahan. Jangan ikut campur."

Ayah kembali terdiam. Kata-kata yang hendak diucapkannya seolah tertahan di tenggorokan.

Tepat pada saat itu, pena di tangan Susan berhenti bergerak.

Tubuhnya perlahan melorot dari bangku hingga berlutut di lantai. Dia mengangkat kertas yang sudah basah oleh air mata itu tinggi-tinggi ke arah Ibu.

"Bu! Aku sudah selesai! Tolong selamatin Kakak! Kumohon!"

Ibu akhirnya mengambil kertas tersebut dari tangannya.

Dia membacanya perlahan, memeriksa tulisan itu dari awal hingga akhir.

Setelah selesai membaca, dia berkata,

"Tulisanmu masih agak berantakan. Kalau begini, nilaimu bisa terpengaruh saat ujian masuk universitas. Tapi kali ini Ibu maafin."

Ibu melipat kertas itu dengan rapi, memasukkannya ke dalam tas, kemudian bangkit dari kursinya.

Dia melirik ke arah ruang resusitasi. Entah mengapa, suaranya terdengar sedikit emosional.

"Kali ini kakakmu memang sudah berkorban. Tapi kalau pengorbanannya bisa bikin kamu menyadari kesalahanmu, hukuman yang dia terima juga sepadan."

"Setelah topan berlalu, Ibu akan belikan dia dua gaun baru sebagai ganti rugi."

"Ibu lakukan semua ini juga demi kebaikannya."

Setelah itu, dia berbalik menghadap perawat dan mengambil pena yang tadi disodorkan.

"Bawakan surat persetujuan operasinya .... "

Namun, tepat pada saat itu, lampu di atas ruang resusitasi tiba-tiba padam.

Pintu terbuka. Dokter keluar sambil melepaskan maskernya.

"Nggak perlu ditandatangani lagi. Pasiennya nggak tertolong. Dia sudah meninggal."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 9

    Pada hari pemakamanku, hujan deras mengguyur Kota Langsa tanpa henti.Tim penyelamat mengantarkan barang-barang peninggalanku. Hanya sebuah buku kecil yang sudah mengembang karena basah kuyup.Itulah buku harianku.Ayah menyeret kaki pincangnya dengan susah payah. Setelah beberapa kali terhuyung, akhirnya dia berlutut di depan makamku.Adikku juga bergegas pulang dari luar kota. Tubuhnya kusut dan lelah setelah menempuh perjalanan panjang.Ibu terduduk lemas di tanah yang basah dan berlumpur, memeluk erat buku harianku.Dengan tangan gemetar, Ayah membuka halaman pertama.Di sana tertulis catatan tanganku saat berusia delapan tahun.[Hari ini adik memecahkan vas bunga. Ibu sangat marah.][Aku sengaja bilang aku yang mecahin. Ibu mukul aku tiga kali dengan bilah bambu. Susan ketakutan sampai menangis dan berjanji tidak akan memecahkan barang lagi. Syukurlah, adik jadi jera. Aku tidak merasa sakit.]Halaman berikutnya berisi catatan saat aku berusia sepuluh tahun.[Hari ini adik diam-dia

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 8

    Bulan pertama setelah Ayah pindah bekerja di pabrik batu bata tua di luar kota, kakinya tertimpa tumpukan batu bata lumpur yang roboh hingga patah.Nyawanya memang berhasil diselamatkan setelah mendapat perawatan di rumah sakit, tetapi sejak saat itu dia menjadi pincang.Karena tidak memiliki uang untuk membayar biaya pengobatan selanjutnya, dia diusir dari rumah sakit dan terpaksa kembali terpincang-pincang ke gubuk reyot di ujung desa.Setiap malam, suara tangisnya yang memilukan terdengar dari dalam gubuk itu.Setiap kali ada tetangga yang lewat, mereka bisa mendengar suara Ayah berbicara sendiri dari dalam."Sandra ... Ayah tahu Ayah sudah salah ... seharusnya waktu itu Ayah tarik kamu naik ke mobil ...."Namun, tak akan pernah ada lagi yang menjawabnya.Adikku pun akhirnya harus menanggung akibat dari perbuatannya sendiri.Sejak kecil, selalu ada aku yang menanggung kesalahannya. Karena itu, dia tidak pernah benar-benar tahu apa itu aturan, apalagi memahami arti bertanggung jawab.

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 7

    Adikku menarik kopernya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.Ayah buru-buru mengejarnya.Baru sampai di ujung gang, Ayah berhasil menghadangnya. Dia merogoh saku dan mengeluarkan segepok uang kertas yang sudah kusut, lalu memaksa memasukkannya ke tangan adikku."Susan! Dengar Ayah. Pulanglah!"Mata Ayah memerah, suaranya bergetar menahan kepedihan."Kakakmu sudah nggak ada. Ayah nggak boleh kehilangan kamu juga .... Kamu pasti sangat terpukul. Ayah juga sama menderitanya! Waktu itu Ayah sebenarnya ingin nyelamatin kakakmu, tapi ibumu ...."Adikku menunduk dan memandangi uang yang tergenggam di tangannya.Sesaat kemudian, dia mengangkat kepala dan menepis tangan Ayah."Berhenti berpura-pura!"Tatapan adikku dipenuhi kebencian sambil tertawa sinis."Waktu Ibu nekan kepala Kakak ke dalam sungai, Ayah ngapain?""Waktu Ibu maksa Kakak makan beras mentah sampai mulutnya berdarah, Ayah ngapain?""Hari itu, saat semua orang dievakuasi, bahkan Goldy saja dapat tempat untuk duduk. Kakak justr

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 6

    Di aula kantor polisi, Ibu sedang ditahan oleh dua orang polisi.Dia meronta sekuat tenaga sambil berteriak histeris dengan suara melengking,"Aku nggak bermaksud nyelakain dia! Ini memang aturan lama di Kota Langsa ini!""Kamu nggak ngerti? Kakaknya itu aku korbanin sebagai tumbal supaya adiknya belajar! Aku cuma mau mendidik putri bungsuku! Aku sama sekali nggak pernah berniat bunuh dia!"Polisi yang menangani kasus itu naik pitam dan menggebrak meja dengan keras."Mendidik? Ada ibu yang mendidik anaknya dengan cara seperti ini?!""Badai topan level delapan belas! Kamu ninggalin dia sendirian di zona berbahaya. Bahkan setelah sampai di rumah sakit, kamu masih nahan surat persetujuan dan menolak menandatanganinya! Ini bukan mendidik, tapi mengantarkan anakmu sendiri menuju kematian!"Orang-orang yang berada di sekitar mulai berbisik-bisik, sebagian bahkan terang-terangan mencaci maki Ibu.Wajah Ibu memerah karena marah, tetapi dia masih terus berteriak, "Aku ibu kandungnya! Mana mungk

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 5

    Ibu masih menggenggam erat surat penyesalan yang sudah basah kuyup itu.Selama dua detik, dia hanya terdiam. Lalu, tiba-tiba terdengar tawa kecil dari bibirnya."Dokter, Anda bersekongkol dengan anak ini untuk bohongi saya, ya? Sejak kecil dia memang pandai berpura-pura."Tanpa memedulikan siapa pun, dia langsung melangkah hendak menerobos masuk ke ruang gawat darurat."Sandra! Bangun! Jangan pura-pura mati di sini! Kalau kamu tetap nggak bangun, jangan harap Ibu beliin satu pun dari dua gaun baru itu untukmu!"Suasana di dalam ruang gawat darurat mendadak sunyi.Tak seorang pun menghiraukannya.Tak lama kemudian, seorang perawat keluar sambil mendorong ranjang yang tertutup kain putih.Ibu segera menghampiri dan menarik kain putih itu dengan tergesa-gesa.Tubuhku terbaring diam di atas ranjang. Wajahku sepucat kertas, bibirku membiru, rambutku menempel di dahi, dan tetesan air dingin masih mengalir dari ujungnya.Dengan tangan gemetar, Ibu mengulurkan jari ke bawah hidungku, seolah ma

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 4

    Para relawan segera menarik tubuhku ke atas kapal penyelamat. Setelah tiga kali dilakukan CPR, barulah air yang memenuhi paru-paruku berhasil keluar dan detak jantungku kembali terdengar, meski begitu lemah.Begitu tiba di rumah sakit kota, dokter IGD langsung memeriksa kondisiku. Wajahnya seketika berubah serius."Korban nyaris tenggelam dan terlalu lama kekurangan oksigen. Paru-parunya sudah dipenuhi cairan! Siapin intubasi dan segera beri tahu ruang operasi!"Dia kemudian berteriak ke arah lorong, "Keluarganya di mana? Minta mereka segera tanda tangani persetujuan!"Dari ujung lorong, terdengar suara langkah kaki mendekat.Ibu muncul dengan langkah santai, seolah tidak sedang berada di rumah sakit dalam keadaan darurat. "Siapa yang nyuruh kalian nyelamatin dia?"Semua orang di sana sontak terdiam."Dia masih hidup, 'kan? Menurutku dia cuma pura-pura. Sejak kecil memang begitu. Sedikit-sedikit pura-pura sakit dan minta dikasihani."Seorang perawat akhirnya tersadar dan dialah yang pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status