Share

Bab 6

Author: Wanto
Di aula kantor polisi, Ibu sedang ditahan oleh dua orang polisi.

Dia meronta sekuat tenaga sambil berteriak histeris dengan suara melengking,

"Aku nggak bermaksud nyelakain dia! Ini memang aturan lama di Kota Langsa ini!"

"Kamu nggak ngerti? Kakaknya itu aku korbanin sebagai tumbal supaya adiknya belajar! Aku cuma mau mendidik putri bungsuku! Aku sama sekali nggak pernah berniat bunuh dia!"

Polisi yang menangani kasus itu naik pitam dan menggebrak meja dengan keras.

"Mendidik? Ada ibu yang mendi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 9

    Pada hari pemakamanku, hujan deras mengguyur Kota Langsa tanpa henti.Tim penyelamat mengantarkan barang-barang peninggalanku. Hanya sebuah buku kecil yang sudah mengembang karena basah kuyup.Itulah buku harianku.Ayah menyeret kaki pincangnya dengan susah payah. Setelah beberapa kali terhuyung, akhirnya dia berlutut di depan makamku.Adikku juga bergegas pulang dari luar kota. Tubuhnya kusut dan lelah setelah menempuh perjalanan panjang.Ibu terduduk lemas di tanah yang basah dan berlumpur, memeluk erat buku harianku.Dengan tangan gemetar, Ayah membuka halaman pertama.Di sana tertulis catatan tanganku saat berusia delapan tahun.[Hari ini adik memecahkan vas bunga. Ibu sangat marah.][Aku sengaja bilang aku yang mecahin. Ibu mukul aku tiga kali dengan bilah bambu. Susan ketakutan sampai menangis dan berjanji tidak akan memecahkan barang lagi. Syukurlah, adik jadi jera. Aku tidak merasa sakit.]Halaman berikutnya berisi catatan saat aku berusia sepuluh tahun.[Hari ini adik diam-dia

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 8

    Bulan pertama setelah Ayah pindah bekerja di pabrik batu bata tua di luar kota, kakinya tertimpa tumpukan batu bata lumpur yang roboh hingga patah.Nyawanya memang berhasil diselamatkan setelah mendapat perawatan di rumah sakit, tetapi sejak saat itu dia menjadi pincang.Karena tidak memiliki uang untuk membayar biaya pengobatan selanjutnya, dia diusir dari rumah sakit dan terpaksa kembali terpincang-pincang ke gubuk reyot di ujung desa.Setiap malam, suara tangisnya yang memilukan terdengar dari dalam gubuk itu.Setiap kali ada tetangga yang lewat, mereka bisa mendengar suara Ayah berbicara sendiri dari dalam."Sandra ... Ayah tahu Ayah sudah salah ... seharusnya waktu itu Ayah tarik kamu naik ke mobil ...."Namun, tak akan pernah ada lagi yang menjawabnya.Adikku pun akhirnya harus menanggung akibat dari perbuatannya sendiri.Sejak kecil, selalu ada aku yang menanggung kesalahannya. Karena itu, dia tidak pernah benar-benar tahu apa itu aturan, apalagi memahami arti bertanggung jawab.

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 7

    Adikku menarik kopernya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.Ayah buru-buru mengejarnya.Baru sampai di ujung gang, Ayah berhasil menghadangnya. Dia merogoh saku dan mengeluarkan segepok uang kertas yang sudah kusut, lalu memaksa memasukkannya ke tangan adikku."Susan! Dengar Ayah. Pulanglah!"Mata Ayah memerah, suaranya bergetar menahan kepedihan."Kakakmu sudah nggak ada. Ayah nggak boleh kehilangan kamu juga .... Kamu pasti sangat terpukul. Ayah juga sama menderitanya! Waktu itu Ayah sebenarnya ingin nyelamatin kakakmu, tapi ibumu ...."Adikku menunduk dan memandangi uang yang tergenggam di tangannya.Sesaat kemudian, dia mengangkat kepala dan menepis tangan Ayah."Berhenti berpura-pura!"Tatapan adikku dipenuhi kebencian sambil tertawa sinis."Waktu Ibu nekan kepala Kakak ke dalam sungai, Ayah ngapain?""Waktu Ibu maksa Kakak makan beras mentah sampai mulutnya berdarah, Ayah ngapain?""Hari itu, saat semua orang dievakuasi, bahkan Goldy saja dapat tempat untuk duduk. Kakak justr

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 6

    Di aula kantor polisi, Ibu sedang ditahan oleh dua orang polisi.Dia meronta sekuat tenaga sambil berteriak histeris dengan suara melengking,"Aku nggak bermaksud nyelakain dia! Ini memang aturan lama di Kota Langsa ini!""Kamu nggak ngerti? Kakaknya itu aku korbanin sebagai tumbal supaya adiknya belajar! Aku cuma mau mendidik putri bungsuku! Aku sama sekali nggak pernah berniat bunuh dia!"Polisi yang menangani kasus itu naik pitam dan menggebrak meja dengan keras."Mendidik? Ada ibu yang mendidik anaknya dengan cara seperti ini?!""Badai topan level delapan belas! Kamu ninggalin dia sendirian di zona berbahaya. Bahkan setelah sampai di rumah sakit, kamu masih nahan surat persetujuan dan menolak menandatanganinya! Ini bukan mendidik, tapi mengantarkan anakmu sendiri menuju kematian!"Orang-orang yang berada di sekitar mulai berbisik-bisik, sebagian bahkan terang-terangan mencaci maki Ibu.Wajah Ibu memerah karena marah, tetapi dia masih terus berteriak, "Aku ibu kandungnya! Mana mungk

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 5

    Ibu masih menggenggam erat surat penyesalan yang sudah basah kuyup itu.Selama dua detik, dia hanya terdiam. Lalu, tiba-tiba terdengar tawa kecil dari bibirnya."Dokter, Anda bersekongkol dengan anak ini untuk bohongi saya, ya? Sejak kecil dia memang pandai berpura-pura."Tanpa memedulikan siapa pun, dia langsung melangkah hendak menerobos masuk ke ruang gawat darurat."Sandra! Bangun! Jangan pura-pura mati di sini! Kalau kamu tetap nggak bangun, jangan harap Ibu beliin satu pun dari dua gaun baru itu untukmu!"Suasana di dalam ruang gawat darurat mendadak sunyi.Tak seorang pun menghiraukannya.Tak lama kemudian, seorang perawat keluar sambil mendorong ranjang yang tertutup kain putih.Ibu segera menghampiri dan menarik kain putih itu dengan tergesa-gesa.Tubuhku terbaring diam di atas ranjang. Wajahku sepucat kertas, bibirku membiru, rambutku menempel di dahi, dan tetesan air dingin masih mengalir dari ujungnya.Dengan tangan gemetar, Ibu mengulurkan jari ke bawah hidungku, seolah ma

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 4

    Para relawan segera menarik tubuhku ke atas kapal penyelamat. Setelah tiga kali dilakukan CPR, barulah air yang memenuhi paru-paruku berhasil keluar dan detak jantungku kembali terdengar, meski begitu lemah.Begitu tiba di rumah sakit kota, dokter IGD langsung memeriksa kondisiku. Wajahnya seketika berubah serius."Korban nyaris tenggelam dan terlalu lama kekurangan oksigen. Paru-parunya sudah dipenuhi cairan! Siapin intubasi dan segera beri tahu ruang operasi!"Dia kemudian berteriak ke arah lorong, "Keluarganya di mana? Minta mereka segera tanda tangani persetujuan!"Dari ujung lorong, terdengar suara langkah kaki mendekat.Ibu muncul dengan langkah santai, seolah tidak sedang berada di rumah sakit dalam keadaan darurat. "Siapa yang nyuruh kalian nyelamatin dia?"Semua orang di sana sontak terdiam."Dia masih hidup, 'kan? Menurutku dia cuma pura-pura. Sejak kecil memang begitu. Sedikit-sedikit pura-pura sakit dan minta dikasihani."Seorang perawat akhirnya tersadar dan dialah yang pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status