Share

Bab 3

Author: Wanto
Ternyata, telepon itu dari adikku.

"Kak! Kakak baik-baik saja? Kakak di mana?!"

Suaranya terdengar sesenggukan di seberang.

"Aku nggak apa-apa."

Aku mengatupkan gigi, berusaha menahan getaran dalam suaraku. "Kalian sudah sampai?"

"Sudah! Kami sudah sampai di hotel pengungsian di kota. Di sini ada air panas, selimut, dan petugas juga memasakkan sup jahe untuk kami ...."

Ucapannya kembali diselingi oleh tangisan.

"Kak, aku takut banget. Kakak gimana sendirian di rumah?"

Tiba-tiba, dentuman keras terdengar tepat di atas kepalaku.

Sisa separuh atap rumah terangkat seluruhnya, lalu diterbangkan angin.

Angin dan hujan seketika menerobos masuk, mengguyur kepala dan wajahku.

Aku menjerit dan hampir menjatuhkan ponsel dari tangan.

"Kak! Ada apa?! Suara apa itu?!"

"Ng ... nggak apa-apa. Hanya beberapa genting yang terbang ...."

Sinyal mulai terputus-putus.

Suara Susan terdengar tersendat di seberang.

"Kak ... Kakak ... deng ... dengar ...."

Sinyal sempat kembali, tetapi hanya tersisa satu bar.

Aku mendengar Susan menangis sambil berteriak.

"Ibu! Rumah kita roboh! Cepat pikirin cara buat nolong Kakak!"

Sesaat kemudian, suara Ibu terdengar.

"Kalau masih bisa nelepon, berarti nggak ada apa-apa. Dasar suka besar-besarin masalah."

Sementara itu, air sudah mencapai lututku.

"Bu! Ini bukan soal besar-besarin masalah! Ibu nggak dengar suara tadi? Kakak ...."

"Kakak ada di rumah. Memangnya apa yang bisa terjadi? Ayahmu baru merenovasi tungku itu dua tahun lalu. Kokoh sekali! Kalau menghadapi angin dan hujan seperti ini saja dia nggak sanggup, gimana nanti dia bisa bertahan hidup di luar sana?"

Dari seberang telepon, suara Ayah terdengar sayup-sayup.

"Gimana kalau kita suruh seseorang balik ke sana untuk melihat keadaannya ...."

"Kamu tahu apa?"

Ibu langsung membungkamnya.

Lalu, dia kembali berkata kepada adikku di seberang telepon, "Sudahlah, suruh kakakmu nutup telepon. Hanya buang-buang pulsa."

Aku hanya berjongkok di dalam air tanpa mengatakan apa-apa.

Air sudah mencapai paha.

Sinyal tinggal satu bar dan terus berkedip.

Adikku masih menangis. Suaranya terdengar terputus-putus saat berkata, "Kak ... coba pikirin cara untuk naik ke tempat yang lebih tinggi ...."

Baru saja dia selesai berbicara, tiba-tiba terdengar suara asing dari seberang. Suara seorang pria, terdengar sangat panik.

"Nona, kamu sedang nelepon siapa?"

Adikku terisak sebelum menjawab, "Kakakku ... dia masih di rumah. Belum sempat keluar ...."

"Apa?!"

Suara pria itu seketika meninggi.

"Masih ada orang di desa itu yang belum dievakuasi?! Orang dewasa di keluargamu ke mana?! Di sana sudah ada peringatan banjir bandang! Bisa ada korban jiwa!"

Suasana di seberang telepon langsung berubah gaduh.

Aku mendengar beberapa orang berbicara bersamaan. Ada yang berteriak, "Cepat hubungi tim penyelamat!" Ada pula yang bertanya, "Sebenarnya masih ada berapa orang yang belum keluar?"

Suara petugas itu akhirnya mengalahkan semua suara lainnya.

"Orang tua kalian ada? Suruh kemari! Kenapa kalian ninggalin anak di sana?!"

Lalu terdengar suara Ibu. "Dia nggak akan meninggal. Anak itu kuat."

Detik berikutnya, sambungan telepon terputus.

Bersamaan dengan itu, sinyal pun lenyap sepenuhnya.

Layar ponselku ikut padam.

"Dia nggak akan meninggal. Anak itu kuat."

Kalimat itu terus terngiang di kepalaku, berulang-ulang tanpa henti.

Air sudah mencapai pinggang. Tak lama kemudian, permukaannya kembali naik hingga ke dada.

Ruang di bawah tungku makin lama makin sempit.

Aku memeluk tiang bata penyangga tungku, sementara kuku-kukuku mencengkeram celah-celah di antara bata.

Dingin.

Airnya sedingin es. Anginnya pun menusuk seperti es. Seluruh tubuhku terasa membeku.

Aku teringat sebuah kejadian saat masih kecil. Waktu itu, adikku bermain terlalu lama tanpa mengenakan jaket hingga akhirnya jatuh sakit.

Malam itu, Ibu memaksaku berdiri di halaman dalam udara yang dingin hanya dengan mengenakan piyama. Aku dibiarkan di sana sampai demamku mencapai empat puluh derajat.

Adikku ketakutan dan menangis sejadi-jadinya. Barulah setelah itu Ibu membiarkanku masuk kembali ke rumah.

Namun, rasa dingin kali ini seratus kali lebih menusuk daripada malam yang dingin itu.

Air sudah mencapai leherku.

Aku tak lagi mampu berpegangan pada tiang bata. Jari-jariku perlahan kehilangan tenaga.

Sudahlah. Aku tidak akan melawan lagi.

Ibu bilang aku kuat.

Tapi, Bu ... aku nggak sekuat itu.

Telingaku sudah tak mampu menangkap suara apa pun. Kesadaranku perlahan-lahan melayang.

Tepat sebelum kesadaranku benar-benar lenyap, sebuah suara terdengar dari kejauhan.

"Orangnya ada di sini!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 9

    Pada hari pemakamanku, hujan deras mengguyur Kota Langsa tanpa henti.Tim penyelamat mengantarkan barang-barang peninggalanku. Hanya sebuah buku kecil yang sudah mengembang karena basah kuyup.Itulah buku harianku.Ayah menyeret kaki pincangnya dengan susah payah. Setelah beberapa kali terhuyung, akhirnya dia berlutut di depan makamku.Adikku juga bergegas pulang dari luar kota. Tubuhnya kusut dan lelah setelah menempuh perjalanan panjang.Ibu terduduk lemas di tanah yang basah dan berlumpur, memeluk erat buku harianku.Dengan tangan gemetar, Ayah membuka halaman pertama.Di sana tertulis catatan tanganku saat berusia delapan tahun.[Hari ini adik memecahkan vas bunga. Ibu sangat marah.][Aku sengaja bilang aku yang mecahin. Ibu mukul aku tiga kali dengan bilah bambu. Susan ketakutan sampai menangis dan berjanji tidak akan memecahkan barang lagi. Syukurlah, adik jadi jera. Aku tidak merasa sakit.]Halaman berikutnya berisi catatan saat aku berusia sepuluh tahun.[Hari ini adik diam-dia

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 8

    Bulan pertama setelah Ayah pindah bekerja di pabrik batu bata tua di luar kota, kakinya tertimpa tumpukan batu bata lumpur yang roboh hingga patah.Nyawanya memang berhasil diselamatkan setelah mendapat perawatan di rumah sakit, tetapi sejak saat itu dia menjadi pincang.Karena tidak memiliki uang untuk membayar biaya pengobatan selanjutnya, dia diusir dari rumah sakit dan terpaksa kembali terpincang-pincang ke gubuk reyot di ujung desa.Setiap malam, suara tangisnya yang memilukan terdengar dari dalam gubuk itu.Setiap kali ada tetangga yang lewat, mereka bisa mendengar suara Ayah berbicara sendiri dari dalam."Sandra ... Ayah tahu Ayah sudah salah ... seharusnya waktu itu Ayah tarik kamu naik ke mobil ...."Namun, tak akan pernah ada lagi yang menjawabnya.Adikku pun akhirnya harus menanggung akibat dari perbuatannya sendiri.Sejak kecil, selalu ada aku yang menanggung kesalahannya. Karena itu, dia tidak pernah benar-benar tahu apa itu aturan, apalagi memahami arti bertanggung jawab.

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 7

    Adikku menarik kopernya dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.Ayah buru-buru mengejarnya.Baru sampai di ujung gang, Ayah berhasil menghadangnya. Dia merogoh saku dan mengeluarkan segepok uang kertas yang sudah kusut, lalu memaksa memasukkannya ke tangan adikku."Susan! Dengar Ayah. Pulanglah!"Mata Ayah memerah, suaranya bergetar menahan kepedihan."Kakakmu sudah nggak ada. Ayah nggak boleh kehilangan kamu juga .... Kamu pasti sangat terpukul. Ayah juga sama menderitanya! Waktu itu Ayah sebenarnya ingin nyelamatin kakakmu, tapi ibumu ...."Adikku menunduk dan memandangi uang yang tergenggam di tangannya.Sesaat kemudian, dia mengangkat kepala dan menepis tangan Ayah."Berhenti berpura-pura!"Tatapan adikku dipenuhi kebencian sambil tertawa sinis."Waktu Ibu nekan kepala Kakak ke dalam sungai, Ayah ngapain?""Waktu Ibu maksa Kakak makan beras mentah sampai mulutnya berdarah, Ayah ngapain?""Hari itu, saat semua orang dievakuasi, bahkan Goldy saja dapat tempat untuk duduk. Kakak justr

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 6

    Di aula kantor polisi, Ibu sedang ditahan oleh dua orang polisi.Dia meronta sekuat tenaga sambil berteriak histeris dengan suara melengking,"Aku nggak bermaksud nyelakain dia! Ini memang aturan lama di Kota Langsa ini!""Kamu nggak ngerti? Kakaknya itu aku korbanin sebagai tumbal supaya adiknya belajar! Aku cuma mau mendidik putri bungsuku! Aku sama sekali nggak pernah berniat bunuh dia!"Polisi yang menangani kasus itu naik pitam dan menggebrak meja dengan keras."Mendidik? Ada ibu yang mendidik anaknya dengan cara seperti ini?!""Badai topan level delapan belas! Kamu ninggalin dia sendirian di zona berbahaya. Bahkan setelah sampai di rumah sakit, kamu masih nahan surat persetujuan dan menolak menandatanganinya! Ini bukan mendidik, tapi mengantarkan anakmu sendiri menuju kematian!"Orang-orang yang berada di sekitar mulai berbisik-bisik, sebagian bahkan terang-terangan mencaci maki Ibu.Wajah Ibu memerah karena marah, tetapi dia masih terus berteriak, "Aku ibu kandungnya! Mana mungk

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 5

    Ibu masih menggenggam erat surat penyesalan yang sudah basah kuyup itu.Selama dua detik, dia hanya terdiam. Lalu, tiba-tiba terdengar tawa kecil dari bibirnya."Dokter, Anda bersekongkol dengan anak ini untuk bohongi saya, ya? Sejak kecil dia memang pandai berpura-pura."Tanpa memedulikan siapa pun, dia langsung melangkah hendak menerobos masuk ke ruang gawat darurat."Sandra! Bangun! Jangan pura-pura mati di sini! Kalau kamu tetap nggak bangun, jangan harap Ibu beliin satu pun dari dua gaun baru itu untukmu!"Suasana di dalam ruang gawat darurat mendadak sunyi.Tak seorang pun menghiraukannya.Tak lama kemudian, seorang perawat keluar sambil mendorong ranjang yang tertutup kain putih.Ibu segera menghampiri dan menarik kain putih itu dengan tergesa-gesa.Tubuhku terbaring diam di atas ranjang. Wajahku sepucat kertas, bibirku membiru, rambutku menempel di dahi, dan tetesan air dingin masih mengalir dari ujungnya.Dengan tangan gemetar, Ibu mengulurkan jari ke bawah hidungku, seolah ma

  • Menjadi Tumbal demi Adikku   Bab 4

    Para relawan segera menarik tubuhku ke atas kapal penyelamat. Setelah tiga kali dilakukan CPR, barulah air yang memenuhi paru-paruku berhasil keluar dan detak jantungku kembali terdengar, meski begitu lemah.Begitu tiba di rumah sakit kota, dokter IGD langsung memeriksa kondisiku. Wajahnya seketika berubah serius."Korban nyaris tenggelam dan terlalu lama kekurangan oksigen. Paru-parunya sudah dipenuhi cairan! Siapin intubasi dan segera beri tahu ruang operasi!"Dia kemudian berteriak ke arah lorong, "Keluarganya di mana? Minta mereka segera tanda tangani persetujuan!"Dari ujung lorong, terdengar suara langkah kaki mendekat.Ibu muncul dengan langkah santai, seolah tidak sedang berada di rumah sakit dalam keadaan darurat. "Siapa yang nyuruh kalian nyelamatin dia?"Semua orang di sana sontak terdiam."Dia masih hidup, 'kan? Menurutku dia cuma pura-pura. Sejak kecil memang begitu. Sedikit-sedikit pura-pura sakit dan minta dikasihani."Seorang perawat akhirnya tersadar dan dialah yang pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status