LOGINJam menunjukkan pukul enam pagi ketika ia melangkah masuk ke gedung Grahapharm. Hari ini, suasananya terasa berbeda—mood-nya sedang bagus. Mungkin karena ini hari pertamanya bekerja.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Cleona sopan pada petugas keamanan yang berdiri di depan pintu lobi, sambil sedikit menunduk dan tersenyum ramah. Satpam itu membalas dengan anggukan kecil. “Pagi juga, Mbak. Hari pertama, ya?” Cleona terkekeh singkat, mengangguk. “Iya, Pak. Hari pertama banget.” “Semangat, ya. Kerja di sini seru kok, asal tahan sama SOP-nya,” ujarnya bersahabat. “Siap, Pak. Terima kasih.” Cleona lalu melangkah masuk, menatap sekeliling lobi yang masih sepi. Aroma kopi pagi samar tercium dari pantry di ujung ruangan, sementara cahaya matahari menembus kaca besar di sisi kiri, memberi kesan hangat pada awal harinya. Ia menelusuri lorong sesuai arahan Cia—paling ujung sebelah kanan. Langkahnya terpantul lembut di lantai keramik yang masih mengilap. Tak lama, ia tiba di ruang karyawan. Ruangan itu tidak terlalu besar; deretan loker berjajar rapi di sepanjang dinding, sebagian masih kosong, sebagian sudah ditempeli stiker nama. Kemarin, Bu Sofie sudah membagikan kunci loker. Di dalamnya, katanya, sudah disiapkan seragam dan name tag. Suasana masih sepi. Hanya terdengar dengung pendingin ruangan yang beradu dengan detak jantungnya sendiri. Cleona berjalan perlahan, menelusuri deretan loker sambil memeriksa nomor satu per satu—ujung jarinya menyentuh tiap gagang logam yang terasa dingin. “Nah, ini dia—tujuh puluh lima,” gumamnya pelan tapi penuh semangat. Ia memasukkan kunci kecil ke lubang loker, lalu memutarnya perlahan. Klik. Pintu logam itu terbuka, menampakkan satu set seragam baru yang terlipat rapi dan sebuah name tag bertuliskan ‘Cleona’ Senyum kecil muncul di wajahnya, tak bisa ia tahan. Rasanya menyenangkan akhirnya punya tempat kerja baru. Selama tiga hari ke depan, Cleona akan menjalani shift pagi, mulai pukul enam hingga jam istirahat—sekitar pukul dua belas siang. Untuk hari Kamis dan Jumat, ia akan bertugas di shift sore, dari jam makan siang hingga pulang kantor. Sedangkan Sabtu dan Minggu, kantor libur—kecuali kalau ada acara mendadak, seperti peluncuran produk atau meeting besar. Ia menghela napas kecil, menatap seragam di tangannya. “Oke, Cleo. Semangat. Hari pertama, jangan sampai ngaco,” gumamnya pada diri sendiri, mencoba menenangkan degup jantung yang sejak tadi belum mau tenang. Ia menatap pantulan dirinya di pintu loker yang terbuat dari logam, lalu menepuk pipinya pelan dua kali. “Ayo, Cleo. Senyum dikit, jangan tegang,” bisiknya pada bayangan sendiri. Perlahan, ia mulai mengganti pakaian—kaus dan celana jeans diganti dengan seragam biru muda khas Grahapharm. Wangi kain baru tercium samar, bercampur dengan aroma sabun cuci. Ia merapikan kerahnya, lalu menyematkan name tag bertuliskan ‘Cleona’ di dada kiri. Baru saja ia menutup pintu loker, suara langkah cepat terdengar dari arah lorong. Tak lama kemudian— “Woy!” seru seseorang sambil menepuk bahunya dari belakang. Cleona terlonjak kecil. “Astaga, Cia!” katanya sambil menepuk dadanya sendiri, separuh kesal separuh lega. “Lo mau bikin gue jantungan pagi-pagi, ha?” Cia tertawa lebar. “Akhirnya satu tempat kerja juga kitaaa!” serunya riang sambil memeluk pelan lengan Cleona. “Kalau gini kan enak, bisa berangkat bareng tiap hari.” Cleona hanya mendengus pelan. “Tapi gue cuma part-time di sini,” ujarnya dengan wajah sedikit ditekuk. Cia terkekeh santai. “Iya sih, tapi gajinya lumayan, kan? Bahkan ngalahin gaji lo di tempat sebelumnya.” Cleona menoleh setengah malas, tapi sudut bibirnya terangkat tipis. “Hmm… ya, lumayanlah.” Cia mendekat sedikit, menurunkan suaranya sambil melirik kanan-kiri. “Gue kasih tips, nih,” katanya pelan. “Bagusin kerjaan lo, siapa tahu nanti diangkat jadi karyawan tetap.” Cleona menaikkan sebelah alis, separuh penasaran. “Emang bisa kayak gitu?” Cia mengangguk cepat, lalu mencondongkan tubuhnya makin dekat. Hampir berbisik di telinga Cleona, ia berkata dengan nada rendah, “Bu Sofie tuh suka banget sama anak yang rajin.” Ia menahan tawa kecil sebelum menambahkan, “Jadi lo mesti pinter cari muka.” Cleona spontan menjauhkan kepalanya dan berdecak kesal. Cia memang selalu saja punya ide yang tidak masuk akal—mulai dari saran absurd soal “menjual diri” demi promosi, dan sekarang, di hari pertama kerja, sudah menyuruhnya cari muka. “Hei, yang bener aja,” gumam Cleona, menatap sahabatnya tajam. “Baru juga hari pertama, lo udah ngajarin yang aneh-aneh.” Cia baru hendak membuka mulut untuk membela diri, tapi langkah beberapa orang terdengar mendekat dari arah lorong. Seketika mereka berdua menegakkan badan. Beberapa karyawan masuk, membawa perlengkapan kebersihan. Di antara mereka, seorang wanita paruh baya dengan seragam rapi dan wajah tegas melangkah paling depan. Namanya Bu Ratih—Head of OB di Grahapharm, sosok yang sudah sering Cia keluhkan setiap kali mereka ngobrol. “Ehem…” Suara dehaman khas itu terdengar, membuat Cia langsung menunduk. Cleona refleks ikut menatap lantai, pura-pura sibuk merapikan seragam. “Jadi kamu anak baru itu?” suara Bu Ratih terdengar tegas namun terukur. Cleona mendongak pelan, lalu mengangguk sopan. “Iya, Bu.” Tatapan Bu Ratih menyapu dirinya dari atas ke bawah, tajam tapi tidak sepenuhnya dingin—lebih seperti sedang menilai. Setelah beberapa detik, beliau menoleh ke arah samping, tempat seorang perempuan muda bernama Saras berdiri sambil memegang peralatan kebersihan. Saras langsung paham dengan kode pandangan itu. Ia mengangguk kecil lalu melangkah mendekat, menyerahkan sebuah ember kecil berisi kain lap, cairan pembersih, dan sarung tangan. “Nih,” ucap Saras singkat, suaranya datar tapi sopan. “Jangan sampai hilang, ya. Soalnya kalau ilang, potong gaji.” Cleona menerima peralatan itu dengan kedua tangan, mencoba tersenyum walau sedikit kikuk. “Siap, Kak.” Cia di sebelahnya hanya melirik. “Karena ini hari pertama kamu, ikuti Cia dulu,” ujar Bu Ratih pelan namun penuh penekanan. “Hafalkan semua ruangan di gedung ini.” Cia yang merasa dipanggil mendongak, lalu mengangguk paham tanpa berkata apa-apa. Nada suara Ratih terdengar tenang, tapi cukup membuat Cleona bergidik. Tatapan tajam perempuan itu terasa seperti pisau dingin yang menelusuri kulitnya. Meski gugup, Cleona memaksa bibirnya melengkung tipis. “Siap, Bu,” ucapnya pelan. Begitu Bu Ratih dan beberapa karyawan—termasuk Saras—keluar dari ruang karyawan, suasana langsung mengendur. Cia di sebelahnya menarik napas panjang. “Huh, dasar lampir,” gumamnya kesal. Cleona menoleh. “Itu yang sering lo ceritain, ya?” Cia mengangguk sambil membuka loker, menaruh tas dan jaketnya. “Iya. Pemalas, tapi sok berkuasa. Iisshh…” Klik. Pintu loker tertutup. Cia langsung menggandeng tangan Cleona. “Ayok, keburu karyawan lain masuk. Hari ini kita kebagian beresin lantai lima, bagian sayap kanan dan kiri.” Cia mengambil peralatan kebersihannya, lalu berjalan cepat ke arah lift sambil mendorong troly kebersihan. Cleona mengikutinya dari belakang sambil menenteng ember miliknya. Ting! Pintu lift terbuka. Mereka berdua masuk. “Gedung ini ada lima lantai,” jelas Cia sambil menekan tombol angka lima. “Setiap lantai dibagi dua bagian—sayap kanan dan kiri.” Cleona mengangguk, memperhatikan dengan saksama. “Nah, karena kita berdua hari ini, lo kebagian sayap kiri, gue sayap kanan.” ujar Cia sambil menatap angka di panel lift yang terus berubah. Suasana sejenak hening, hanya terdengar dengung lembut mesin lift yang bergerak naik. Ting! Bunyi khas itu terdengar saat pintu lift terbuka, disusul hembusan udara dingin dari lantai lima yang langsung menyambut mereka. Begitu melangkah, langung terlihat lorong luas dengan dinding kaca di kanan dan kiri. Di balik kaca itu, tampak deretan meja kerja rapi dengan komputer di atasnya. Di ujung lorong, satu ruangan besar berdiri dengan pintu tertutup rapat. “Nah, lo beresin bagian sini,” Cia menunjuk ke sayap kiri yang berisi sekitar sepuluh meja kerja. “Lo tahu kan apa aja yang harus dibersihin?” Cleona mengangguk cepat. “Beresin meja yang berantakan tanpa buang apa pun, lap meja dan kursi, nyapu, ngepel, sama gosok kamar mandi,” ucapnya, memastikan ia mengingat instruksi dari Bu Sofie kemarin. Cia mengangkat alis, tersenyum bangga. “Daya ingat lo emang keren, deh. Udah, ayok kerja sebelum jam kantor mulai.” Namun, sebelum Cia berbalik ke arah sayap kanan, Cleona sempat menarik ujung lengannya. “Ci… kalau yang di ujung itu, ruangan apa?” tanyanya sambil menunjuk ke arah ruangan besar dengan pintu kayu berwarna gelap. Cia menoleh, lalu terkekeh kecil. “Oh, itu ruangannya Pak Direktur. Gak boleh sembarangan masuk ke situ. Biasanya yang beresin si Saras.” Cleona membentuk huruf O dengan bibirnya, mengangguk paham. Cia mendekat sedikit, suaranya merendah, nyaris seperti bergosip. “Gue saranin lo jangan berharap bisa beresin ruangan Pak Presdir.” Cleona memiringkan kepala. “Kenapa?” “Orangnya galak. Padahal ganteng banget,” jawab Cia sambil berdecak kecil, lalu terkekeh. “Sayang banget pokoknya. Wajah sih yes, sikap big no.” Cleona masih tampak penasaran, tapi Cia sudah lebih dulu melangkah menuju sayap kanan sambil membawa lap dan sapu dari troli. Akhirnya, Cleona hanya menghela napas kecil dan berbalik ke arah seberang. Mereka pun berpisah menuju tugas masing-masing — Cia ke sayap kanan, sementara Cleona mulai menyusuri sayap kiri dengan langkah pelan namun mantap. Lorong terasa tenang. Hanya suara langkah Cleona dan gesekan alat pel lantai yang terdengar, berpadu dengan dengung pendingin ruangan. Ia bekerja dengan cekatan—membersihkan tiap bilik meja satu per satu, merapikan tumpukan kertas tanpa menyentuh dokumen pribadi, menyapu, mengepel, hingga membuang sampah kecil yang berserakan di bawah meja. Sesekali ia melirik keluar kaca besar di sisi ruangan, memperhatikan cahaya pagi yang mulai menembus masuk, memantul di lantai yang kini mengilap. Meski baru hari pertama, gerak Cleona tampak mantap. Ada rasa aneh yang menyelusup di dadanya—dari barista ke office girl bukan hal yang pernah ia bayangkan. Tapi Cleona menepis perasaan itu cepat-cepat. Setidaknya, ia masih bisa bekerja, masih bisa menabung untuk biaya hidup… dan untuk pengobatan ibunya. **** Tap… tap… tap… Langkah sepatu kulit Batara menggema di sepanjang koridor marmer, ritmenya teratur namun sarat emosi. Beberapa karyawan yang berpapasan segera menunduk sopan, tahu betul aura dingin pria itu sedang tidak bersahabat. “Selamat siang, Pak,” sapa salah satu di antaranya dengan nada hati-hati. Batara hanya membalas dengan sedikit anggukan—dagunya terangkat tanpa ekspresi. Raut wajahnya tampak tegang, rahangnya mengeras. Hasil meeting pagi tadi berjalan buruk, membuat kesabarannya menipis. Di belakangnya, Niko, sang asisten pribadi, mengikuti dengan langkah mantap. Meski usianya lebih tua, ia tetap menjaga jarak profesional, berdiri tegap dengan map di tangan. Klik. Pintu ruang direktur terbuka. Aroma kopi hitam yang sudah mendingin tercium samar dari meja kerja. Batara melangkah masuk tanpa sepatah kata. Jas abu-abu gelapnya ia lepas perlahan, lalu disampirkan di sandaran kursi kulit hitam di belakang meja. Gerakannya teratur, tapi jelas terlihat kelelahan menempel di tiap gerakan kecilnya. Ia menjatuhkan diri ke kursi, menyandarkan tubuh dengan satu tangan memijat pelipis yang berdenyut. “Kita bahas hasil meeting besok saja,” ucapnya datar tanpa menoleh. “Kamu boleh ke ruanganmu.” Niko, yang berdiri tegap di dekat pintu, hanya mengangguk pelan. “Baik, Pak.” Ia baru hendak melangkah keluar ketika suara Batara kembali terdengar, berat tapi jelas. “Tolong buatkan saya kopi baru,” katanya tanpa membuka mata. “Saya tidak suka minum kopi dingin.” “Baik, Pak,” sahut Niko singkat, lalu menutup pintu perlahan di belakangnya. Begitu pintu tertutup rapat, Batara mengembuskan napas panjang. Suara desahannya memenuhi ruang yang sepi itu—napas berat seseorang yang terbiasa menanggung banyak hal tanpa bicara. Ia menatap kosong ke luar jendela, ke arah gedung-gedung tinggi yang berdiri kaku di bawah langit kelabu Jakarta. Sementara itu, di luar ruangan, Niko berjalan cepat menuju ruangannya. Begitu duduk, ia langsung meraih telepon kantor dan menekan satu tombol cepat. “Halo, tolong buatkan Pak Batara kopi seperti biasa,” katanya singkat. “Antar langsung ke ruangannya, ya.” “Baik, Pak Niko.” Jawab seseorang diseberang telepon. “Terima kasih.” Tut. . . “ Begitu sambungan terputus, Sarah mendengus pelan. “Pak Niko minta kopi lagi buat Pak Batara,” keluhnya dengan nada kesal. “Padahal pagi tadi gue udah effort banget bikin kopi. Masa nggak diminum, sih?” Ima, yang duduk di sebelahnya sambil menyuap nasi, hanya melirik santai. “Ya udah, buatin aja lagi. Atau kalau lo males, suruh aja anak baru itu yang bikin sekalian nganter.” Sarah yang semula manyun tiba-tiba menoleh cepat ke arah Ima, matanya berbinar nakal. “Iya juga, ya… biar sekalian dia yang kena marah kalau salah bikin,” katanya dengan senyum licik. Ima terkekeh kecil. “Nah, cocok tuh. Anggap aja ospek hari pertama kerja.” Tak lama kemudian, pintu ruang karyawan terbuka, dan Cleona masuk sambil menenteng kunci loker. Ia baru saja selesai bekerja dan hendak berganti baju, ketika mendengar namanya dipanggil. “Ona!” Ia menoleh, keningnya berkerut bingung. Di depannya, Sarah berdiri dengan senyum manis yang terasa… agak dibuat-buat. “Iya, kenapa, Saras?” tanya Cleona pelan, tetap berusaha ramah. “Bisa tolong buatin kopi manis buat Pak Batara? Sekalian antar ke ruangannya, ya,” ucap Sarah ringan, seolah itu hal sepele. Cleona tertegun, keningnya berkerut. “Tapi… saya kan shift pagi, jam kerja saya—” “Gue lagi makan, orangnya minta kopi,” potong Sarah cepat sambil pura-pura sibuk meraih sendok. “Lo buatin aja dulu, ya? Pliss!” katanya dengan nada setengah memohon, tapi senyum di wajahnya terlalu lebar untuk terlihat tulus. Cleona masih tampak ragu, tapi akhirnya mengangguk pelan. “Oke kalau gitu, saya buatkan dulu.” Mata Sarah langsung berbinar cerah. “Makasih ya! Inget, yang manis, jangan pahit. Pak Batara nggak suka kopi pahit.” Cleona hanya mengangguk pelan, lalu berbalik menuju pantry kecil di ujung lorong. Suara langkahnya perlahan menjauh, meninggalkan aroma sabun pel lantai yang masih samar. Begitu pintu tertutup, Ima menatap Sarah tajam sambil menggeleng pelan. “Ngawur banget, lo. Pak Batara justru suka kopi pahit, bukan manis.” Sarah hanya mengangkat bahu, wajahnya tenang dengan senyum miring di ujung bibir. “Biarin aja. Sekalian ngerasain gimana dimarahin Pak Batara,” ujarnya santai, kembali menyuap nasi ke mulutnya. Ima mendesah panjang, matanya sekilas menatap ke arah pintu tempat Cleona tadi pergi. Ada sedikit rasa bersalah yang muncul di dadanya, tapi cepat-cepat ia tepis. “Ya sudahlah,” gumamnya pelan, lalu melanjutkan makan siangnya dalam diam. . . Cleona sudah menyiapkan kopi dengan hati-hati—satu sendok teh gula, dua sendok makan bubuk kopi, dan sedikit susu cair creamy agar rasanya tidak terlalu pahit. Berbekal pengalamannya sebagai barista, ia tahu persis bagaimana membuat kopi yang seimbang: tidak terlalu kuat, tapi tetap hangat dengan rasa manis yang pas di lidah. Ia meniupnya pelan sebelum menuangkannya ke dalam cangkir putih berlogo perusahaan, aroma kopi hangat itu perlahan memenuhi udara di sekitar pantry kecil. Kini langkahnya terdengar ragu menyusuri lorong di lantai lima. Lantai itu sunyi, hanya terdengar suara mesin pendingin dan ketukan sepatu hak rendah yang bergema lembut. Beberapa karyawan yang baru keluar dari ruang meeting sempat meliriknya. “Cantik juga OB baru itu,” bisik seseorang di dekat printer. “Sayang banget, secantik itu malah jadi OB,” timpal yang lain sambil terkekeh pelan. Cleona mendengarnya, tapi ia pura-pura tak peduli. Kedua tangannya menggenggam nampan berisi cangkir kopi dengan hati-hati, berusaha agar tidak tumpah. Wajahnya tenang, meski jantungnya berdebar. Ia hanya fokus menatap pintu coklat besar di ujung lorong—ruang direktur. Begitu sampai di depan pintu, ia menarik napas panjang. Tok, tok, tok. “Permisi, kopi, Pak…” suaranya pelan, nyaris tak terdengar. “Masuk,” jawab suara berat dari dalam. Dalam sekejap, bulu kuduknya meremang. Nada itu dalam, tegas, dan dingin. Ia memutar kenop perlahan. Klik. Begitu pintu terbuka, aroma kopi bercampur dengan wangi kayu mahal dan pendingin ruangan yang menusuk. Di balik meja besar dari kaca hitam, seorang pria duduk bersandar dengan kepala sedikit mendongak, jari-jarinya menekan pelipis. Kemeja putihnya tergulung di siku, dasinya longgar, dan wajahnya tampak lelah—tapi berwibawa. “Taruh saja di meja,” katanya tanpa membuka mata. “Baik, Pak.” Cleona melangkah pelan mendekat, menaruh cangkir kopi di sudut meja. Suara cling halus terdengar ketika gelas menyentuh permukaan kaca. “Saya permisi, Pak.” Ia menunduk sopan, siap melangkah pergi. “Ya, silakan,” jawab Batara datar, masih dengan mata tertutup dan satu tangan terangkat santai. Namun, sehembus angin dari pendingin ruangan membawa aroma samar dari tubuh Cleona—wangi lembut melati dan vanila. Aroma yang langsung membuat mata Batara terbuka perlahan. Ia menatap kosong ke depan. Parfum ini… seperti parfum wanita itu… Ia menarik punggungnya dari sandaran kursi, matanya menatap lurus kedepan, menelusuri punggung ramping perempuan berseragam biru muda yang baru hendak meraih gagang pintu. “Tunggu.” Suara itu terdengar berat, tapi kali ini tak sekeras sebelumnya. Cleona terhenti. Bahunya menegang seketika. Udara di ruangan itu terasa menipis, seolah seluruh dunia berhenti berputar. Perlahan—sangat perlahan—ia berbalik. Matanya membulat. Napasnya tercekat di tenggorokan. Pria itu… duduk di balik kursi hitam besar, menatapnya tajam. Tatapan yang dulu sempat menelanjangi setiap sisi dirinya—tatapan yang masih ia ingat bahkan dalam mimpi terburuknya. “T–tuan…” suaranya gemetar, nyaris tak terdengar. Keheningan menggantung di udara—berat, menyesakkan. Dan di antara jarak beberapa langkah itu, keduanya sama-sama sadar… pertemuan ini seharusnya tidak pernah terjadi lagi. Namun semesta seolah berbicara lain— menarik mereka kembali ke pusaran yang sama.“Ona … kalau pulang, Ibu nitip roti tawar, ya.”Itu kalimat terakhir Danila saat Cleona berpamitan untuk menemui Cia. Hari itu, mereka berencana bersama-sama mendatangi kantor polisi sebagai saksi atas penemuan mayat kemarin.Seandainya Cleona tahu itu akan menjadi hari terakhirnya bersama sang ibu, ia akan menukar apa pun agar bisa tetap tinggal di rumah.Kini, di hadapannya, di atas ranjang pasien, tubuh Danila terbujur kaku. Wajahnya pucat dan dingin. Beberapa kabel yang masih menancap di tubuh itu perlahan dilepas, satu per satu.“Ibu…” Tangannya gemetar saat menyentuh kulit yang tak lagi hangat.“Tolong jangan tinggalkan Ona.” Air mata Cleona jatuh, membasahi wajah sang ibu.Cia mendekat dan mengusap lembut bahu Cleona. Tak ada kata. Hanya sentuhan pelan, seolah berharap itu cukup untuk menguatkan sahabatnya yang tenggelam dalam duka.Suara tangis Cleona menjadi satu-satunya bunyi di ruang ICU itu. Hawa dingin terasa semakin menusuk.Sementara itu, Batara menunggu di luar, berdir
Siang itu, di depan ruang IGD, dua wanita bersahabat duduk berdampingan. Aroma antiseptik dan suara langkah kaki yang lalu-lalang menjadi latar di tengah keheningan.“Bener,” ulang Cia pelan, menatap Cleona lekat. “Lo nggak ada hubungan apa-apa sama Pak Batara?”Cleona terpaksa menceritakan bagaimana ia bisa berakhir datang bersama Batara. Ia menyusun cerita yang aman—cukup masuk akal untuk dipercaya, tapi tidak sepenuhnya jujur. Ada bagian yang sengaja ia sisakan, terutama soal perjanjian antara dirinya dan atasannya itu.Ia mengangguk kecil. “Bener. Gue nggak sengaja pingsan di jalan. Dan… Pak Batara yang nemuin.”Cia mengangkat alis. “Terus?”“Nggak ada apa-apa lagi,” jawab Cleona cepat, nyaris terlalu cepat. “Cuma itu.”Ada jeda. Cia menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah mencari celah di wajah Cleona. Namun yang ia temukan hanya kelelahan—mata sembap, tangan gemetar dan napas yang terdengar berat.“Oke deh…” Cia akhirnya menghela napas. “Gue percaya.”Cleona tersenyum tipis
Pagi itu seharusnya tenang. Cahaya mentari menembus jendela besar, menyinari meja yang masih tersisa aroma spaghetti dan jus strawberry. Tapi bagi Cleona, semua terasa hampa. Dadanya sesak, jantungnya berdegup cepat, seolah batu besar menimpa tubuhnya.“Maaf, Pak… saya harus ke rumah sakit sekarang,” ucapnya gemetar, kepala menunduk. Air matanya menetes tanpa ia sadari.Batara mengerutkan alis. Kursi di belakangnya bergeser saat ia bangkit, menatap Cleona yang hampir menyentuh knop pintu. Dengan gerakan mantap, tangannya meraih lengan wanita itu, menahan sejenak. Tatapan mereka bertemu—ada campuran khawatir dan… sesuatu yang lain, sulit dijelaskan.“Biar saya antar,” ucapnya tegas. “Tunggu di sini, jangan kemana-mana.”Cleona menelan ludah, pikirannya kacau. Ia ingin menolak, tapi panik untuk ibunya jauh lebih besar. Perlahan ia mengangguk, pasrah, membiarkan Batara sekali lagi mengambil alih kendali hidupnya.Tak lama, Batara muncul dari tangga, mengenakan sweter abu-abu yang sederha
Gudang tua itu pengap. Bau karat dan debu menempel di udara. Beberapa papan kayu di dinding sudah lapuk. Cahaya matahari masuk dari celah-celah kecil, menjadi satu-satunya penerangan diruang itu. Dimas Saputra duduk di lantai, punggungnya menempel ke dinding. Tangannya memeluk erat sebuah ransel lusuh yang berisi beberapa pakaian dan makanan seadanya. Wajahnya tirus, matanya cekung, napasnya berat. Ketua penelitian laboratorium itu kini tak lebih dari buronan yang bersembunyi seperti tikus. “Brengsek… gue jadi sengsara begini,” gumamnya frustrasi. Matanya menatap kosong ke depan. Ingatannya perlahan di tarik ke beberapa hari lalu, saat ia melapor—mengatakan bahwa seluruh riset kini diawasi langsung oleh Batara. Ia ingat jelas sambungan telepon itu belum benar-benar terputus. “Bunuh dia. Kita sudah tidak membutuhkannya.” Suara Dimitri. Darah Dimas langsung naik. Tubuhnya gemetar, jantungnya berpacu cepat menghantam dada. Kursi di depannya ditendang keras sampai terjungkal.
“Berani kamu mengabaikan pesan saya?” Kalimat itu membuat Cleona tersentak. Ia yang tengah berdiri di teras rumah langsung mendongak. Matanya membelalak begitu mendapati Batara bersandar santai di pintu mobil hitamnya, terparkir tepat di depan pagar. Matahari siang yang mulai condong ke barat memantulkan cahaya ke kaca mobil, membuat suasana terasa hangat sekaligus menekan. “Untuk apa Bapak di sini?” tanya Cleona, suaranya tertahan. Tangannya refleks mencengkeram ujung tas selempangnya. Batara tak menjawab. Ia meluruskan tubuh, melangkah mendekat dengan langkah panjang. Tangannya menangkap pergelangan tangan Cleona, lalu menariknya ke arah pintu mobil. “Pak—” tubuh Cleona ikut terseret. Ia nyaris kehilangan keseimbangan sebelum menghentakkan kaki, menahan diri tepat di ambang pintu yang sudah terbuka. “Ibu saya butuh saya hari ini,” ucapnya cepat, napasnya sedikit terengah. Batara menatapnya singkat, rahangnya mengeras. Tangannya di punggung Cleona menekan pelan namun memaksa
“Astaga… lihat itu…!” Teriak seorang karyawan membuat semua kepala menengadah ke arah dinding kaca. Dalam hitungan detik, lorong GrahaPharm yang biasanya tenang berubah menjadi hiruk-pikuk penuh bisik dan langkah panik. Tubuh seorang manusia tergantung di rooftop. Diam. Tak bergerak. Bayangannya jatuh panjang di kaca, membuat siapa pun yang melihatnya merinding. Di tengah hiruk-pikuk itu, Batara muncul. Tatapannya seperti pisau yang membelah kekacauan. Tenang. Tapi berbahaya. “Hubungi polisi,” perintahnya pada Niko, suaranya rendah namun mengintimidasi. Ia lalu menatap karyawan yang masih terpaku di tempat. “Kalian segera berkemas. Kantor harus steril.” Telunjuknya kemudian mengarah ke Cleona. “Kecuali kamu—dan seluruh petugas lab. Tetap di sini sampai polisi datang.” Sebelum ia kembali ke ruangannya, pandangannya sempat bertemu dengan Cleona yang tampak ketakutan. Ekspresi itu cukup membuat rahangnya mengeras. Tak lama kemudian, suara sirene mendekat. Polisi memasu







