/ Romansa / Menjebak Cucu Presdir / Sisi Lain Batara

공유

Sisi Lain Batara

작가: Choco_muffin
last update 최신 업데이트: 2026-01-07 13:00:54

Cleona menelan ludah, tubuhnya seketika kaku. Jantungnya berdetak kencang, napasnya tercekat. Mata Batara menatapnya tanpa berkedip, tajam, penuh pertanyaan—dan amarah yang sulit disembunyikan.

Bagaimana bisa… batin Cleona.

Batara berdiri perlahan, langkahnya mantap mendekat. Cleona reflek mundur, detak jantungnya semakin cepat. Ia berbalik bergerak ke arah gagang pintu, berencana melarikan diri, tapi sebelum tangannya menyentuhnya—

Sreetttt!

Genggaman Batara lebih cepat. Tangannya menahan pergelangan Cleona, menariknya mendekat hingga tubuh mereka berdempetan.

Seketika, aroma vanila yang lembut dari tubuh Cleona menguar, menusuk indera Batara. Membuat ingatan tentang malam itu di hotel—kembali muncul, dan membangunkan hasrat yang mati-matian ia pendam selama ini.

“T-tolong lepaskan saya, Tuan!” suara Cleona bergetar, napasnya tersengal di antara rasa takut dan bingung. Namun genggaman Batara tetap kuat, tegas, tak memberinya ruang untuk lari.

“Jadi sekarang, kau ingin memata-matai pe
이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Menjebak Cucu Presdir   Rencana Cleona

    Kini Batara duduk di seberang Cleona, di ruang pribadinya di lantai paling atas gedung miliknya.Ruangan itu luas, tapi sunyi. Dinding kaca menampilkan pemandangan kota malam—lampu-lampu kendaraan berkelip di kejauhan, memperlihatkan betapa sibuknya ibu kota bahkan di jam seperti ini.Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh lewat sedikit. Seharusnya ia sudah pulang. Pandangannya sempat jatuh pada layar ponsel—ada pesan masuk dari ibunya. Tapi ia abaikan.“Jadi,” suara Batara akhirnya memecah diam. Nada suaranya berat, wajahnya bicara tanpa ekspresi.“Apa syarat kamu?”Di hadapan Batara, selembar kertas tergeletak rapi — salinan dari perjanjian dan peraturan yang tadi ia berikan pada Cleona.Wanita dengan wajah setengah pucat itu, menatap lembar itu cukup lama sebelum akhirnya bersuara pelan.“Ada beberapa hal yang saya keberatan.”Alis Batara sedikit bertaut. “Keberatan?” suaranya rendah. “Bagian mana yang membuatmu keberatan?”Cleona menelan ludah pelan sebelum menunduk. Satu tangannya

  • Menjebak Cucu Presdir   Luka Yang Tertata

    Suara rintik hujan terdengar pelan dari luar jendela. Ranting pohon di balkon sesekali menabrak kaca, menimbulkan bunyi ketak-ketak yang entah kenapa terasa nyaring di malam itu. Angin cukup kencang, menggoyangkan tirai dan membuat udara kamar terasa lebih dingin dari biasanya.Di meja belajar, buku-buku terbuka. Nilai di lembar ulangan itu tinggi—semua di atas sembilan—tapi tidak ada yang seratus.Zidan Kaleef—ayah Batara—berdiri tegak di ambang pintu. Wajahnya datar, tak menunjukkan emosi, tapi nada suaranya terdengar seperti peringatan yang tidak perlu diulang.“Kamu harusnya bisa lebih dari ini, Bat. Nilai sempurna, itu baru pantas disebut keturunan Kaleef.”Batara diam. Tangannya menekan pensil terlalu keras sampai ujungnya patah. Bunyi ‘krek’ kecil terdengar, tapi ia tidak bereaksi. Ia hanya menatap patahan pensil di tangannya, napasnya pelan—berat dan tertahan.Ada sesuatu yang bergemuruh di dadanya, amarah yang tak pernah punya tempat keluar.Langkah ayahnya menjauh, pintu ter

  • Menjebak Cucu Presdir   Surat Perjanjian

    Suara klakson bersahutan dari bawah sana, samar, nyaris tenggelam oleh jarak. Dari atas gedung, jalanan terlihat padat dan kecil—ramai, tapi terasa jauh, seolah berada di dunia lain.Batara berdiri di depan jendela. Satu tangan memegang cangkir teh yang sudah lama dingin, sementara tangan lainnya terselip di saku celana. Pandangannya kosong menembus langit yang mulai gelap, ditambah pikirannya yang berantakan.“Huh…”Helaan napas pelan lolos begitu saja dari bibirnya. Bersamaan dengan itu, terdengar suara lirih dari belakang—membuatnya refleks menoleh.“Euuggh…”Cleona menggeliat pelan. Tubuhnya terasa kaku, pegal dari pinggang ke bawah. Ia mengerjap beberapa kali, matanya menyipit, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan.Perlahan kesadarannya kembali. Pandangannya berkeliling—menyapu langit-langit, tirai, lalu berhenti pada sosok Batara yang berdiri di depan jendela.Refleks, ia menarik selimut menutupi tubuhnya. “J-jam berapa sekarang?” suaranya serak, gugup. Begitu melihat

  • Menjebak Cucu Presdir   Rekaman CCTV

    Cahaya senja menyusup lewat celah jendela, mewarnai ruangan dengan semburat jingga ketika Batara keluar dari kamar mandi sambil menggendong tubuh Cleona yang terkulai lemah. Sejak siang hingga menjelang senja, pria itu tak hanya sekali menyentuhnya—berkali-kali, hingga tenaga gadis itu benar-benar habis.Dengan hati-hati, Batara menurunkan Cleona ke atas kasur. Tubuhnya tampak lemas, nyaris tanpa daya. Ia menarik selimut hingga menutupi dada gadis itu.“Istirahatlah…” gumamnya lirih.Tentu saja, kata itu hanya menggantung di udara, karena Cleona sudah lebih dulu tidur—bahkan sejak Batara menggendongnya keluar dari kamar mandi.Batara berdiri di sisi tempat tidur, memperhatikan setiap garis wajah itu—alisnya yang tegas, bulu mata yang lentik, hingga bibir yang sedikit bengkak akibat ulahnya sendiri. Senyum tipis terbit di sudut bibir pria itu.“Cantik…” bisiknya pelan.Udara sore terasa hangat, menyelinap lembut lewat jendela yang tirainya setengah terbuka. Cahaya oranye memantul di ku

  • Menjebak Cucu Presdir   Permainan Batara

    Tok! Tok! Tok!Ketukan itu kembali terdengar, lebih keras.Sungguh, Batara ingin menghajar siapa pun yang berani mengganggunya di saat seperti ini. Ia menarik napas panjang, menegakkan tubuh, lalu merapikan kemeja yang sedikit berantakan.Sekilas, pandangan Batara tertuju pada Cleona yang kini terbaring lemas, tubuhnya tanpa sehelai kain pun. Hawa dingin menembus kulitnya, membuat tubuhnya meremang. Kedua tangannya terikat ke atas kepala.Perlahan ia bergerak mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga gadis itu.“Jangan berteriak. Diam di sini kalau kau ingin selamat,” katanya sembari menepuk pelan pipi Cleona.Gadis itu hanya mengangguk pasrah, tubuhnya masih diliputi ketakutan dan kebingungan. Matanya tertutup rapat, membuatnya tak bisa menangkap apa yang sebenarnya terjadi di sekelilingnya.Batara menarik napas panjang, lalu berbalik menuju pintu. Ketukan itu terdengar lagi — kali ini lebih berat dan mendesakTok! Tok! Tok!Ceklek.Pintu terbuka perlahan. Matanya membulat saat mel

  • Menjebak Cucu Presdir   Sisi Lain Batara

    Cleona menelan ludah, tubuhnya seketika kaku. Jantungnya berdetak kencang, napasnya tercekat. Mata Batara menatapnya tanpa berkedip, tajam, penuh pertanyaan—dan amarah yang sulit disembunyikan.Bagaimana bisa… batin Cleona.Batara berdiri perlahan, langkahnya mantap mendekat. Cleona reflek mundur, detak jantungnya semakin cepat. Ia berbalik bergerak ke arah gagang pintu, berencana melarikan diri, tapi sebelum tangannya menyentuhnya—Sreetttt!Genggaman Batara lebih cepat. Tangannya menahan pergelangan Cleona, menariknya mendekat hingga tubuh mereka berdempetan.Seketika, aroma vanila yang lembut dari tubuh Cleona menguar, menusuk indera Batara. Membuat ingatan tentang malam itu di hotel—kembali muncul, dan membangunkan hasrat yang mati-matian ia pendam selama ini.“T-tolong lepaskan saya, Tuan!” suara Cleona bergetar, napasnya tersengal di antara rasa takut dan bingung. Namun genggaman Batara tetap kuat, tegas, tak memberinya ruang untuk lari.“Jadi sekarang, kau ingin memata-matai pe

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status