Share

Menjebak Cucu Presdir
Menjebak Cucu Presdir
Author: Choco_muffin

Tawaran Menarik

Author: Choco_muffin
last update Last Updated: 2025-12-02 20:43:11

“Lo jual diri aja kalau gitu.”

Kalimat itu meluncur dari bibir Bricia Qailuna—atau yang lebih akrab dipanggil Cia—dengan santai, seolah itu hal biasa.

Seketika, Cleona Kamara Thasiva langsung menoleh tajam, menatap sahabatnya dengan sorot mata coklat hazelnut yang terbuka lebar. Rambut ikalnya yang sebahu ikut berguncang saat ia menegakkan tubuh. Lesung pipinya, yang biasanya manis saat tersenyum, kini sama sekali tak terlihat.

“Gila lo… nggak ada ide lain, ha?” suaranya bergetar, antara kesal dan putus asa.

Cleona, dua puluh empat tahun, seorang barista di kafe kecil Jakarta, tak pernah membayangkan hidupnya akan sepelik ini. Sejak ibunya divonis gagal ginjal, semuanya berubah. Ayahnya entah pergi ke mana, semua tabungan habis untuk biaya pengobatan, dan sekarang setiap minggu masih harus menyiapkan uang untuk cuci darah.

Cia hanya mengangkat bahu dengan acuh, wajahnya tetap tenang.

“Ona, gue cuma mikir jalan pintas aja.”

Tubuhnya kini condong ke depan, kepalanya sedikit meneleng ke samping, sorot matanya tajam menusuk Cleona.

“Duit segitu banyak… lo nggak bakal dapet cuma dari nyeduh kopi aja.”

Cleona menghena napas. Ia memang butuh uang banyak dan—cepat. tapi nggak dengan jual diri juga. Pikir nya.

Sekilas bayangan ibunya terbaring di ranjang rumah sakit, jarum infus menusuk lengan rapuh itu… membuat pikirannya terus berputar.

Helaan napas terdengar lagi kali ini lebih berat.

“Tapi… gue nggak mungkin ngobatin ibu pakai uang haram.”

Cia berdecak. “Ya terserah lo… gue cuma ngasih solusi aja!” Katanya, kemudian menyendok makannya lagi.

Gadis itu menatap sahabatnya dengan wajah yang sulit diartikan. Ia tahu Cia tidak benar-benar jahat, hanya saja terlalu blak-blakan dan keras kepala.

Sore itu, mereka duduk di sebuah warung makan sederhana, memanfaatkan libur kerja Cleona untuk sekadar melepas penat.

Cleona, dengan hoodie oversize dan wajah tanpa riasan, tampak seperti gadis biasa yang menyembunyikan beban berat.

Sementara itu, Cia—yang masih berbalut seragam kerja OB dari perusahaan farmasi tempatnya bekerja—tampak kelelahan. Matanya sayu, rambutnya diikat seadanya, tapi ia tetap berusaha terlihat santai sambil menyendok makanan di depannya.

“Enak ya lo, sore gini nyantai,” gumam Cia sambil menyeruput es tehnya. “Gue mah masih harus lembur, nyiapin ruang meeting, Capek banget.”

Cleona menoleh sekilas, sudut bibirjya terangkat sedikit. “Kalau bisa, gue rela kerja tiap hari asal duitnya cukup. Cuci darah ibu itu nggak murah, Cia.”

Cia mendengus, menaruh sendoknya ke piring.

“Makanya lo jual diri aja. Nanti kalau hasilnya banyak, gue ikut deh,” katanya setengah serius, setengah bercanda.

“Ngawur lo lama-lama!” Cleona spontan meraih tisu dari meja dan melemparnya ke arah Cia.

Cia terkekeh, mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.

Warung tempat mereka duduk sore itu sederhana saja: meja-meja kayu panjang dengan cat yang mulai mengelupas, kipas angin berdecit di langit-langit, dan aroma campuran nasi goreng, mie rebus, serta kopi hitam yang memenuhi udara.

Beberapa pengunjung lain tampak santai—ada yang asyik dengan gawai, ada pula bapak-bapak yang sibuk mengobrol sambil merokok di sudut ruangan.

Di tengah hiruk pikuk kecil itu, tawa Cia dan wajah kesal Cleona seolah menambah warna. Hingga, pertemuan singkat itu pun berakhir. Cia buru-buru kembali ke kantornya karena harus lembur, sementara Cleona berjalan pulang dengan langkah gontai.

Langkah kakinya terasa berat, seolah setiap tapak ikut membawa beban pikiran. Kata-kata Cia barusan terus terngiang di telinganya.

“Menjual diri? Yang benar saja!”

Cleona menghela napas panjang, menengadah sebentar ke langit sore Jakarta yang mulai meredup. Ia menggeleng, mencoba menepis bayangan ide gila itu.

Begitu pintu rumah terbuka, ia langsung melihat sosok Danila—ibunya—duduk santai di kursi tua, jarum rajut masih menari di tangannya. Wajah pucatnya tidak bisa menyembunyikan rasa lelah, tapi senyum tipis tetap berusaha ia ukir.

“Ibu… kenapa nggak di kamar aja?” tanya Cleona, cepat menghampiri lalu berjongkok di depannya.

Danila mengangkat wajah, mengusap lembut kepala putrinya. “Ibu capek kalau di kamar terus. Kamu dari mana, Nak?”

Cleona menggenggam jemari ibunya yang dingin. “Barusan ketemu Cia, Bu. Ngobrol sebentar aja.”

Danila menatapnya hangat, meski mata sayunya sulit berbohong tentang sakit yang ia derita.

“Ibu udah makan?” tanya Cleona pelan.

Sang ibu hanya menggeleng pelan.

Cleona buru-buru mengangkat plastik yang ia bawa, tersenyum manis. “Ini, aku bawain nasi kesukaan Ibu. Makan ya, biar badan Ibu kuat.”

Danila mengangguk, matanya berkaca-kaca.

Cleona buru-buru menyiapkan piring dan lauk dari bungkusan yang ia bawa. Aroma nasi hangat bercampur sayur kesukaan Danila segera memenuhi ruangan sederhana itu.

“Ibu makan dulu, ya. Biar aku suapin.” Cleona tersenyum lembut, meski hatinya perih melihat ibunya yang semakin kurus.

Danila mengangkat tangan, menolak halus. “Ah, Ona… Ibu masih bisa sendiri.”

Namun Cleona tetap bersikeras, menyuapkan sesuap nasi dengan penuh kasih.

Senyum tipis merekah di wajah Danila. “Enak sekali… tangan kamu selalu bikin Ibu betah makan.”

Cleona menunduk, menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca. Ia mencoba tertawa kecil.

Mereka pun makan dalam hening. Hanya suara sendok dan detik jam di dinding yang terdengar, seakan menutupi kenyataan pahit: bahwa hidup masih terus berjalan.

Dalam diam, Cleona menatap ibunya—seolah berjanji pada dirinya sendiri: apa pun caranya, ia harus membuat ibunya tetap hidup.

.

***

Keesokan harinya, Cleona kembali berangkat kerja seperti biasa—dari jam sepuluh pagi hingga malam nanti.

Siang itu, kafe tempatnya bekerja cukup ramai. Hampir tak ada celah untuk sekadar menarik napas panjang. Ia sibuk melayani pelanggan, membuat minuman, dan membersihkan meja, hingga tubuhnya terasa lelah.

Menjelang sore, setelah jam makan siang reda, Cleona kebagian tugas membuang sampah ke belakang kafe. Dengan malas, ia menyeret kantong sampah besar itu keluar.

Namun, langkahnya terhenti ketika samar-samar terdengar suara seseorang berbicara. Cleona menyipitkan mata, mencoba mengenali suara itu.

“Silvia?” gumamnya lirih, lalu perlahan mendekat, menempelkan telinganya di balik dinding samping.

Suara Silvia terdengar jelas, nada bicaranya rendah namun cepat.

“Gue tinggal cari cewek yang mau pura-pura tidur sama dia aja, kan?” tangannya satu memegang ponsel, satu lagi bertengger di pinggang.

Cleona menahan napas.

“Berapa bayarannya per foto? … Hah, lima juta? Oke, deh.” Suara Silvia semakin pelan, tapi cukup membuat bulu kuduk Cleona meremang.

Ia terdiam di tempatnya, jantungnya berdetak kencang. Kata-kata Silvia barusan terus terngiang di telinganya.

Satu foto… lima juta?

Angka itu terasa begitu besar di kepalanya. Bayaran satu bulan kerja di kafe bahkan tidak ada setengahnya. Untuk biaya obat dan cuci darah ibunya, lima juta bisa bertahan beberapa kali perawatan.

Tangannya gemetar, memegang erat kantong sampah yang kini terasa ringan dibanding beban pikirannya.

Kalau cuma pura-pura tidur… dan cuma sekali… apa salahnya? batinnya berbisik, meski hatinya menolak.

Lamunan Cleona buyar ketika tiba-tiba Silvia menjerit kaget.

“Lo! Bikin gue kaget aja, Na!” katanya ketus sambil mengusap dadanya. Matanya sempat bergerak panik—takut kalau Cleona mendengar obrolannya barusan. Tanpa banyak bicara, Silvia buru-buru melenggang pergi.

Namun langkahnya terhenti ketika suara Cleona terdengar mantap.

“Sil… gue mau.”

Silvia menoleh tajam, matanya menyipit, antara curiga dan tak percaya. “Mau Apa?”

Cleona melangkah maju, sedikit gemetar.

“Gue denger obrolan lo tadi… dan gue mau. Bayarannya lima juta kan?”

Mata Silvia membesar, mulutnya nyaris menganga. ‘Apa suara gue tadi keras banget sampe dia denger semua?’ pikirnya.

“Gimana, Sil?” Kata Cleona lagi, mendesak

Silvia berkedip cepat, bingung antara harus percaya atau menolak. Tapi jauh di dalam hatinya, ada sedikit rasa lega—karena itu berarti ia tak perlu repot lagi mencari “pemeran perempuan” yang diminta.

“Lo… yakin?” Silvia memastikan, suaranya dibuat bebisik.

Cleona menggumam ‘iya’, lalu mengangguk mantab. “Gue yakin!”

Silvia meneliti wajah sahabatnya itu, mencari keraguan di sana. Begitu yakin Cleona tidak sedang main-main, ia akhirnya mengangguk kecil.

“Oke,” katanya tegas. “Besok malam, pulang kerja, ikut gue.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menjebak Cucu Presdir   Rekaman CCTV

    Cahaya senja menyusup lewat celah jendela, mewarnai ruangan dengan semburat jingga ketika Batara keluar dari kamar mandi sambil menggendong tubuh Cleona yang terkulai lemah. Sejak siang hingga menjelang senja, pria itu tak hanya sekali menyentuhnya—berkali-kali, hingga tenaga gadis itu benar-benar habis.Dengan hati-hati, Batara menurunkan Cleona ke atas kasur. Tubuhnya tampak lemas, nyaris tanpa daya. Ia menarik selimut hingga menutupi dada gadis itu.“Istirahatlah…” gumamnya lirih.Tentu saja, kata itu hanya menggantung di udara, karena Cleona sudah lebih dulu tidur—bahkan sejak Batara menggendongnya keluar dari kamar mandi.Batara berdiri di sisi tempat tidur, memperhatikan setiap garis wajah itu—alisnya yang tegas, bulu mata yang lentik, hingga bibir yang sedikit bengkak akibat ulahnya sendiri. Senyum tipis terbit di sudut bibir pria itu.“Cantik…” bisiknya pelan.Udara sore terasa hangat, menyelinap lembut lewat jendela yang tirainya setengah terbuka. Cahaya oranye memantul di ku

  • Menjebak Cucu Presdir   Permainan Batara

    Tok! Tok! Tok!Ketukan itu kembali terdengar, lebih keras.Sungguh, Batara ingin menghajar siapa pun yang berani mengganggunya di saat seperti ini. Ia menarik napas panjang, menegakkan tubuh, lalu merapikan kemeja yang sedikit berantakan.Sekilas, pandangan Batara tertuju pada Cleona yang kini terbaring lemas, tubuhnya tanpa sehelai kain pun. Hawa dingin menembus kulitnya, membuat tubuhnya meremang. Kedua tangannya terikat ke atas kepala.Perlahan ia bergerak mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga gadis itu.“Jangan berteriak. Diam di sini kalau kau ingin selamat,” katanya sembari menepuk pelan pipi Cleona.Gadis itu hanya mengangguk pasrah, tubuhnya masih diliputi ketakutan dan kebingungan. Matanya tertutup rapat, membuatnya tak bisa menangkap apa yang sebenarnya terjadi di sekelilingnya.Batara menarik napas panjang, lalu berbalik menuju pintu. Ketukan itu terdengar lagi — kali ini lebih berat dan mendesakTok! Tok! Tok!Ceklek.Pintu terbuka perlahan. Matanya membulat saat mel

  • Menjebak Cucu Presdir   Sisi Lain Batara

    Cleona menelan ludah, tubuhnya seketika kaku. Jantungnya berdetak kencang, napasnya tercekat. Mata Batara menatapnya tanpa berkedip, tajam, penuh pertanyaan—dan amarah yang sulit disembunyikan.Bagaimana bisa… batin Cleona.Batara berdiri perlahan, langkahnya mantap mendekat. Cleona reflek mundur, detak jantungnya semakin cepat. Ia berbalik bergerak ke arah gagang pintu, berencana melarikan diri, tapi sebelum tangannya menyentuhnya—Sreetttt!Genggaman Batara lebih cepat. Tangannya menahan pergelangan Cleona, menariknya mendekat hingga tubuh mereka berdempetan.Seketika, aroma vanila yang lembut dari tubuh Cleona menguar, menusuk indera Batara. Membuat ingatan tentang malam itu di hotel—kembali muncul, dan membangunkan hasrat yang mati-matian ia pendam selama ini.“T-tolong lepaskan saya, Tuan!” suara Cleona bergetar, napasnya tersengal di antara rasa takut dan bingung. Namun genggaman Batara tetap kuat, tegas, tak memberinya ruang untuk lari.“Jadi sekarang, kau ingin memata-matai pe

  • Menjebak Cucu Presdir   Bertemu Kembali

    Jam menunjukkan pukul enam pagi ketika ia melangkah masuk ke gedung Grahapharm. Hari ini, suasananya terasa berbeda—mood-nya sedang bagus. Mungkin karena ini hari pertamanya bekerja.“Selamat pagi, Pak,” sapa Cleona sopan pada petugas keamanan yang berdiri di depan pintu lobi, sambil sedikit menunduk dan tersenyum ramah.Satpam itu membalas dengan anggukan kecil. “Pagi juga, Mbak. Hari pertama, ya?”Cleona terkekeh singkat, mengangguk. “Iya, Pak. Hari pertama banget.”“Semangat, ya. Kerja di sini seru kok, asal tahan sama SOP-nya,” ujarnya bersahabat.“Siap, Pak. Terima kasih.”Cleona lalu melangkah masuk, menatap sekeliling lobi yang masih sepi. Aroma kopi pagi samar tercium dari pantry di ujung ruangan, sementara cahaya matahari menembus kaca besar di sisi kiri, memberi kesan hangat pada awal harinya.Ia menelusuri lorong sesuai arahan Cia—paling ujung sebelah kanan. Langkahnya terpantul lembut di lantai keramik yang masih mengilap. Tak lama, ia tiba di ruang karyawan.Ruangan itu t

  • Menjebak Cucu Presdir   Ketakutan Zachary

    Sesuai ide Cia semalam, Cleona kini berdiri di depan gedung yang menjulang tinggi dengan tulisan besar “Grahapharm.” Di tangannya, ia menggenggam amplop cokelat berisi surat lamaran kerja dan data diri.“Huh…” ia menghela napas berat, lalu mengepalkan tangan kanannya.“Semangat!” bisiknya pada diri sendiri.Begitu sampai di meja security, ia menyapa sopan.“Permisi, Pak. Mau interview dengan Ibu Sofie.”Sofie adalah supervisor office boy/girl di perusahaan itu.“Oh, kalau gitu ikut saya, Mbak,” jawab security ramah.Cleona mengangguk cepat. Ia pun mengikuti langkah petugas melewati lorong demi lorong. Setiap sudut terasa asing, membuatnya semakin gugup. Kedua tangannya meremas map cokelat di dada, seolah menjadi pegangan terakhir.Hingga akhirnya, mereka berhenti di depan sebuah pintu dengan papan nama bertuliskan“General Affairs Office”Cleona menahan napas ketika, Security mengetuk sebentar, lalu membuka pintu.Ruangan itu sederhana—ada meja besar dengan tumpukan map, papan jadwal

  • Menjebak Cucu Presdir   Grahaparm

    “Tap! Tap! Tap!”Suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar jelas memasuki kafe. Seketika semua pengunjung membeku, menoleh bersamaan ke arah pintu.Di sana, Cleona muncul—dengan rambut sedikit berantakan dengan napas terengah—berdiri kaku, matanya ikut menyapu pelanggan yang melihat kearah nya dengan pandangan aneh.Sejenak suasana berubah hening. hingga tiba-tiba suara berat terdengar.“Ona, lo dari mana aja?”Doddy yang berdiri tak jauh darinya melangkah mendekat, lalu sempat mundur selangkah sambil meneliti Cleona dari atas sampai bawah. Sorot matanya ragu.“Lo… nggak papa?” tanyanya pelan.Cleona menarik napas pendek, berusaha menegakkan bahunya.“Aman… gue—aman,” katanya, meski suaranya terdengar goyah.Doddy hanya mengangguk, mencoba percaya. Lantas ia menambahkan,“Tadi Pak Bobby pesan, kalau lo dateng lo—”Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Cleona menepuk bahunya pelan.“Oke, thanks, Dod,” ucapnya singkat sambil melenggang naik ke tangga kayu yang berderit di setia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status