LOGIN
“Anak Mama di rumah saja? Ini malam Minggu, lo,” tanya Mama sambil membuka pintu kamarku setengah bagian dan mengintip ke dalam.
“Semua malam sama saja, Ma,” koreksiku. “Mama bosan, ya, melihat Naomi di rumah?” tambahku dengan wajah memelas.
“Tentu saja Mama senang kalau anak Mama sering di rumah. Ada yang bantu mencuci piring.” Mama terkekeh. “Tapi Mama curiga, jangan-jangan kursi tamu kita sudah lupa rasanya diduduki calon menantu.”
Mama kemudian membuka pintu sepenuhnya, masuk ke dalam kamar, lalu duduk di sisi ranjang.
“Hmmm.”
Sudut bibirku yang semula terangkat perlahan turun. Jemariku mulai memainkan ujung selimut.
“Mama sampai bingung, yang trauma itu kau atau pintu rumah kita. Soalnya sama-sama susah dibuka.”
“Mama...”
Aku mengembuskan napas panjang sambil memutar bola mata.
“Suatu saat nanti, kau akan bertemu dengan seseorang yang tepat. Tapi kalau kau terus mengurung diri begini, kasihan jodohnya. Dia bisa nyasar ke rumah orang.”
Aku mengangkat tangan kanan ke kening seraya memberi hormat.
“Siap, Mama Bos!”
***
Peluh membasahi keningku. Langkahku tetap teratur di trotoar yang masih sepi, sementara napasku mulai terdengar lebih berat. Aku melirik smartwatch di pergelangan tangan kiri.
Pukul 06.03.
Masih tersisa dua puluh tujuh menit sebelum target pagiku selesai.
Getaran tiba-tiba terasa di pinggang. Aku berhenti, membuka running belt, lalu mengeluarkan ponsel. Nama Clara muncul di layar.
“Ya, Ra. Ada apa? Tumben pagi-pagi banget.”
“Giska menikah.”
Aku mengerutkan dahi.
“Menikah? Kok mendadak? Aku kira sepupunya.”
“Bukankah undangannya sudah dikirim tiga hari yang lalu?”
Aku menepuk dahiku pelan.
“Kau benar. Giska juga mengirimkannya kepadaku. Aku baru sempat membuka chat-nya.”
“Aku juga menerimanya, tapi lewat direct message. Sepertinya pernikahannya dibuat secara intimate. Oh, ya, calon suaminya orang Turki.”
“Turki?”
“Foto mereka ada di galeri undangan digital itu.”
Aku menatap layar ponsel beberapa detik.
“Bentar, deh. Aku lihat nanti. Aku mau lanjut jalan kaki dulu. Makasih infonya, Ra.”
“Anytime. See you. Jangan lupa, dress code-nya warna hijau.”
“Okay. See you.”
Pagi itu, kediaman Giska dipenuhi perpaduan warna merah marun dan emas. Kain sutra menjuntai dari langit-langit, bergoyang pelan tertiup hembusan pendingin ruangan. Aroma mawar dan marigold menguar dari rangkaian bunga di sekitar pelaminan.
Aku berdiri di antara para tamu sambil memandangi pelaminan. Gaun putih Giska berkilau terkena cahaya lampu kristal.
“Cantik sekali,” gumam Clara di sampingku.
Aku mengangguk pelan.
“Aku pikir dia akan memakai gaun pengantin Turki.”
“Mungkin susah mencari model seperti itu di kota kita,” jawab Clara. “Bukankah kau ikut mengurus dekorasinya?”
Aku menatap susunan bunga di pelaminan. Aku mengenali setiap detailnya, letak mawar, warna pita, sampai bentuk lengkungannya.
“Aku hanya memastikan semuanya sesuai permintaan Giska. Tapi dia tidak pernah bilang kalau ini pernikahannya sendiri.”
Clara mendekat sedikit.
“Katanya mereka kenalan dari aplikasi kencan.”
Jari yang memegang tas kecil berhenti bergerak.
“Aplikasi kencan?”
“Mereka saling mengenal selama tiga tahun.”
“Tiga tahun?” Aku mengangkat alis. “Berarti mereka pernah bertemu sebelumnya?”
Clara menggeleng.
“Hari ini pertemuan pertama mereka.”
Aku menatap pelaminan lebih lama dari sebelumnya. Di atas sana, Giska tersenyum sambil menggenggam tangan pria yang menatapnya sambil tersenyum.
“Kau terlihat seperti baru mendengar berita paling aneh di dunia,” kata Clara sambil tertawa kecil.
Aku ikut tertawa pelan.
“Mungkin memang begitu.”
Malam harinya, aku duduk bersila di atas ranjang. Aku menunggu hingga bilah unduhan mencapai seratus persen. Ikon aplikasi kencan muncul di layar ponselku. Jemariku menggantung beberapa detik di atas tombol Create Account sebelum akhirnya menekannya.
“Tidak harus cari jodoh,” gumamku pelan. “Anggap saja latihan bahasa Inggris.”
Beberapa menit setelah profilku aktif, notifikasi mulai bermunculan tanpa henti. Satu, lima, sepuluh, lalu puluhan.
Aku membuka foto profilku sendiri, foto lama yang diambil pada tahun 2018. Perempuan berhijab merah muda pastel di dalamnya tersenyum begitu bahagia.
Kupandangi cukup lama hingga layar ponsel meredup dengan sendirinya. Aku baru tersadar ketika pantulan wajahku sendiri menggantikan foto itu di layar yang menghitam.
“Kau hanya sendirian di foto itu. Jadi, tidak masalah,” gumamku, seolah sedang meyakinkan diriku sendiri.
Keesokan harinya, muncul pesan lain.
Where are you from?
Hari berikutnya, akun berbeda kembali mengirimkan pesan.
You look beautiful.
Lalu akun lain menyusul.
Hey... are you from Indonesia?
Suatu malam, aku kembali mencoba menghubungi seorang pria Pakistan yang sudah dua bulan mengobrol denganku. Panggilan itu tak pernah tersambung. Aku melirik jam di pergelangan tangan. Lagi-lagi pada jam yang sama.
Sampai akhirnya aku menemukan akun media sosial pria itu. Jemariku terhenti ketika melihat sebuah foto keluarga. Pria yang selama ini mengaku lajang itu berdiri di samping seorang wanita berhijab yang sedang menggendong anak kecil.
Aku menutup aplikasi perlahan.
“Pantas saja,” gumamku.
Belum lama berselang, seorang pria yang mengaku tinggal di Arab Saudi menghubungiku.
“Aku akan memberikan apa pun yang kau butuhkan. Katakan saja berapa biayanya. Atau, jika kau tidak ingin berpacaran, kita bisa melakukan nikah mut'ah. Setelah seminggu, aku akan pulang ke negaraku.”
“Sepertinya Anda salah paham, Tuan. Anda mencari di tempat yang salah.”
Balasan masuk lagi.
“Setidaknya mari kita melakukan video call sx*...”
Aku menekan ikon tiga titik di sudut layar, lalu memilih Unmatch.
Ruang obrolan itu langsung menghilang.
Beberapa hari kemudian, kubiarkan langganan premium habis begitu saja. Kubuka aplikasi itu sekali lagi. Hanya beberapa swipe request yang tersisa. Aku tidak bisa lagi melihat siapa saja yang menyukai profilku.
Aku tersenyum tipis, lalu menutup aplikasi tanpa membaca satu pun notifikasi. Kulettakkan ponsel terbalik di atas meja. Aku memejamkan mata sejenak. Di balik kelopak mataku, sebuah kalimat yang pernah kubaca perlahan melintas.
Apa yang ditakdirkan untukmu akan menemukan jalannya kepadamu, dan apa yang tidak ditakdirkan untukmu tidak akan pernah menjadi milikmu.
***
“Di mana kau belajar bahasa Jepang?”
Begitulah isi pesan yang kuterima.
Sampai akhirnya, sebuah notifikasi muncul. Seseorang memanfaatkan fitur pujian pada aplikasi kencan untuk mengirimkan pesan kepadaku. Pemilik akun premium.
Kubuka profil pria itu. Jemariku menggulir layar perlahan, membaca setiap keterangan yang tertera.
Granville, Australia. Foto seorang pria dengan efek greyscale. Usia empat puluh lima tahun. IT Engineer. Beribadah sesekali.
Aku kembali ke bagian atas profil, lalu mengamatinya sekali lagi. Hanya beberapa foto yang terpajang. Biodatanya pun singkat, tanpa deretan kalimat panjang atau hiasan emoji.
Jemariku berhenti di layar.
Profil itu mengingatkanku pada profilku sendiri.
Sebulan setelah pernikahanku,Aroma karbol yang menyengat bercampur dengan udara dingin yang pengap menyambutku begitu melangkah masuk ke ruang kunjungan lapas. Dinding beton berwarna abu-abu tampak mengelupas di beberapa bagian. Dari kejauhan, sesekali terdengar gemerincing rantai besi, disusul derap langkah yang menggema di lorong.Aku datang untuk menemui Guntur.Ia duduk di kursi besi yang tertanam di lantai. Sebuah kaca transparan memisahkan kami, dengan lubang-lubang kecil. Aku menarik kursi di seberangnya, lalu meletakkan kedua tangan di atas meja. Jemariku saling mencengkeram hingga buku-bukunya memutih.Guntur duduk bersandar dengan wajah tenang. Tak ada kerutan penyesalan di dahinya, tak ada kegelisahan dalam gerak-geriknya. Bahkan, ketika pandangan kami bertemu, ia justru menyunggingkan senyum tipis, seolah kami sedang duduk berhadapan di sebuah kafe, bukan di ruang kunjungan penjara.“Aku sudah bilang, Sayang. Setelah kontrakmu berakhir, seharusnya kau ikut denganku ke Palu
“Naomi, ikutlah. Ada tempat yang ingin kutunjukkan.”Aku tak menjawab. Langkahku mengikuti Attila menaiki belasan anak tangga yang melingkar di dalam mercusuar. Napasku sedikit memburu ketika akhirnya kami tiba di puncak menara putih itu.Angin Samudra Hindia langsung menerpa wajahku begitu kami melangkah ke balkon luar Mercusuar Cape Naturaliste. Ujung hijabku berkibar, sementara rambut Attila berantakan diterpa embusan angin. Di hadapan kami, langit sore pesisir barat daya Australia terbentang cerah. Matahari bergerak turun menuju cakrawala, menumpahkan cahaya keemasan di atas hamparan laut.Dari ketinggian, Geographe Bay tampak tenang dengan perairan birunya yang membentang luas. Berbeda dengan itu, ombak Samudra Hindia bergulung menuju pantai sebelum pecah menghantam tebing-tebing granit di bawah mercusuar. Aku teringat, dulu aku pernah bertanya kepadamu, Naomi, “Maukah kau pergi bersamaku ke Cape Naturaliste?” Aku tidak menyangka kita akhirnya akan bertemu di sini.“Aku kira kau
Tiga hari setelah melamar Naomi, kami memutuskan untuk menikah. Namun, kabar bahwa Guntur masih buron terus membayangi pikiranku. Ada kecemasan yang tak bisa kuabaikan, meski aku berusaha menikmati hari bahagia ini.Aku berdiri di depan altar kayu sederhana yang dihiasi rangkaian bunga pastel. Setelan jas berwarna soft ice green yang kukenakan serasi dengan kemeja putih di baliknya. Sesekali, aku merapikan ujung lengan jas, berusaha menyembunyikan kegugupan yang terus mengusik.Ketika pintu ruang rias pondok kayu terbuka, aku langsung menoleh.Naomi muncul dalam balutan gaun pengantin ice green berbahan organza yang menjuntai anggun hingga menyapu rumput. Sulaman perak, payet, kristal, dan mutiara kecil menghiasi kainnya, berkilauan lembut setiap kali ia melangkah. Potongan sheer mesh transparan di bagian punggungnya menampilkan detail manik-manik yang mempercantik gaun itu. Namun, di antara semua keindahan tersebut, senyumnya tetap menjadi hal yang paling sulit kuabaikan.Aku terpaku.
Filix jatuh cinta kepada seorang perempuan bernama Naomi Saraswati.Aku menyesal telah mengikuti saran temanku untuk membiarkan Filix mengikuti kencan buta. Filix bukan tipe laki-laki yang mudah menaruh hati kepada seseorang. Ketika ia akhirnya mencintai seorang perempuan, aku tahu perasaan itu bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele.Karena itu, aku mulai menyelidiki latar belakang perempuan itu. Aku mengetahui bahwa ia adalah seorang Principal Architect yang bekerja di sebuah firma arsitektur. Ia juga telah bercerai dan pernah mengalami keguguran.Semakin banyak informasi yang kukumpulkan, semakin besar kegelisahan yang kurasakan. Hingga akhirnya, aku menemukan fakta yang membuat seluruh tubuhku seolah kehilangan tenaga.Naomi Saraswati adalah putri kandung dari Papa Filix Baskara.Perempuan yang dicintai Filix itu ternyata adalah kakak perempuan yang selama ini ia cari.Aku terdiam lama setelah mengetahui kenyataan tersebut. Selama bertahun-tahun, aku berusaha melindungi Filix dari
Pertemuanku dengan Filix terjadi di tengah puing-puing bencana yang masih menyisakan bau tanah basah dan duka mendalam. Saat itu, aku telah berpisah dari suamiku, seorang pelaksana teknis yang bekerja di Balai. Aku mengabdikan diri sebagai relawan dalam kegiatan penyaluran bantuan bagi anak-anak korban bencana. Ketika menyusuri kawasan terdampak, pandanganku tertuju pada pemandangan yang membuat langkahku terhenti.Tim evakuasi menemukan seorang anak laki-laki tersangkut di sebuah pohon. Tubuh kecilnya tampak ringkih, bersimbah darah, dan nyaris tak berdaya. Kedua matanya mengalami kerusakan parah akibat serpihan tajam yang melukainya. Ia membutuhkan operasi besar sesegera mungkin untuk menyelamatkan sisa penglihatannya.Namun, luka pada matanya bukan satu-satunya penderitaan yang harus ditanggung bocah itu. Menurut keterangan dokter, kepalanya terbentur keras oleh material yang menghantamnya saat bencana terjadi. Benturan tersebut menyebabkan kehilangan ingatan. Masa lalunya seolah te
Angin sore menyapu Pantai Bondi, membawa aroma garam laut dan udara dingin yang membuatku merapatkan jaket. Setelah memarkir Ford Ranger putih di area parkir dekat pantai, aku turun mengikuti Filix. Kami menyusuri hamparan pasir, sementara ombak bergulung menuju bibir pantai dan pecah di dekat kaki kami.Sejak tadi aku lebih banyak diam. Sesekali pandanganku tertuju pada laut, membiarkan suara ombak mengisi jeda di antara kami.Filix melirikku. “Apakah kau suka pantainya?”“Aku selalu suka pantai.”“Namun, pantai di sini mungkin tidak seindah pantai di Indonesia. Menurutku, Seminyak di Bali jauh lebih indah.”Langkahku melambat. Filix ikut berhenti, lalu mengangkat tangan ke dagu seolah sedang mengingat sesuatu.“Jadi, kau pernah ke Bali?” tanyaku.“Pernah, sudah lama sekali. Aku pergi bersama seorang teman. Dia bekerja di perusahaan Epson, tidak jauh dari kantormu. Dia pria Turki.”Aku menoleh cepat. Jantungku berdegup lebih kencang. Perkataan Filix barusan membangkitkan rasa ingin ta







