Share

Menjemput Senja di Langit Palu
Menjemput Senja di Langit Palu
Author: Celine Alo08

01 - APLIKASI KENCAN

Author: Celine Alo08
last update publish date: 2026-07-09 08:37:28

“Anak Mama di rumah saja? Ini malam Minggu, lo,” tanya Mama sambil membuka pintu kamarku setengah bagian dan mengintip ke dalam.

“Semua malam sama saja, Ma,” koreksiku. “Mama bosan, ya, melihat Naomi di rumah?” tambahku dengan wajah memelas.

“Tentu saja Mama senang kalau anak Mama sering di rumah. Ada yang bantu mencuci piring.” Mama terkekeh. “Tapi Mama curiga, jangan-jangan kursi tamu kita sudah lupa rasanya diduduki calon menantu.”

Mama kemudian membuka pintu sepenuhnya, masuk ke dalam kamar, lalu duduk di sisi ranjang.

“Hmmm.”

Sudut bibirku yang semula terangkat perlahan turun. Jemariku mulai memainkan ujung selimut.

“Mama sampai bingung, yang trauma itu kamu atau pintu rumah kita. Soalnya sama-sama susah dibuka.”

“Mama...”

Aku mengembuskan napas panjang sambil memutar bola mata.

“Suatu saat nanti, kau akan bertemu dengan seseorang yang tepat. Tapi kalau kamu terus mengurung diri begini, kasihan jodohnya. Dia bisa nyasar ke rumah orang.”

Aku mengangkat tangan kanan ke kening seraya memberi hormat.

“Siap, Mama Bos!”

***

Peluh membasahi keningku. Langkahku tetap teratur di trotoar yang masih sepi, sementara napasku mulai terdengar lebih berat. Aku melirik smartwatch di pergelangan tangan kiri.

Pukul 06.03.

Masih tersisa dua puluh tujuh menit sebelum target pagiku selesai.

Getaran tiba-tiba terasa di pinggang. Aku berhenti, membuka running belt, lalu mengeluarkan ponsel. Nama Clara muncul di layar.

“Ya, Ra. Ada apa? Tumben pagi-pagi banget.”

“Giska menikah.”

Aku mengerutkan dahi.

“Menikah? Kok mendadak? Aku kira sepupunya.”

“Bukankah undangannya sudah dikirim tiga hari yang lalu?”

Aku menepuk dahiku pelan.

“Kamu benar. Giska juga mengirimkannya kepadaku. Aku baru sempat membuka chat-nya.”

“Aku juga menerimanya, tapi lewat direct message. Sepertinya pernikahannya dibuat secara intimate. Oh ya, calon suaminya orang Turki.”

“Turki?”

“Foto mereka ada di galeri undangan digital itu.”

Aku menatap layar ponsel beberapa detik.

“Bentar, deh. Aku lihat nanti. Aku mau lanjut jalan kaki dulu. Makasih infonya, Ra.”

Anytime. See you. Jangan lupa, dress code-nya warna hijau.”

Okay. See you.”

Pagi itu, kediaman Giska dipenuhi perpaduan warna merah marun dan emas. Kain sutra menjuntai dari langit-langit, bergoyang pelan tertiup hembusan pendingin ruangan. Aroma mawar dan marigold menguar dari rangkaian bunga di sekitar pelaminan.

Aku berdiri di antara para tamu sambil memandangi pelaminan. Gaun putih Giska berkilau terkena cahaya lampu kristal.

“Cantik sekali,” gumam Clara di sampingku.

Aku mengangguk pelan.

“Aku pikir dia akan memakai gaun pengantin Turki.”

“Mungkin susah mencari model seperti itu di kota kita,” jawab Clara. “Bukankah kau ikut mengurus dekorasinya?”

Aku menatap susunan bunga di pelaminan. Aku mengenali setiap detailnya, letak mawar, warna pita, sampai bentuk lengkungannya.

“Aku hanya memastikan semuanya sesuai permintaan Giska. Tapi dia tidak pernah bilang kalau ini pernikahannya sendiri.”

Clara mendekat sedikit.

“Katanya mereka kenalan dari aplikasi kencan.”

Jari yang memegang tas kecil berhenti bergerak.

“Aplikasi kencan?”

“Mereka saling mengenal selama tiga tahun.”

“Tiga tahun?” Aku mengangkat alis. “Berarti mereka pernah bertemu sebelumnya?”

Clara menggeleng.

“Hari ini pertemuan pertama mereka.”

Aku menatap pelaminan lebih lama dari sebelumnya. Di atas sana, Giska tersenyum sambil menggenggam tangan pria yang menatapnya sambil tersenyum.

“Kau terlihat seperti baru mendengar berita paling aneh di dunia,” kata Clara sambil tertawa kecil.

Aku ikut tertawa pelan.

“Mungkin memang begitu.”

Malam harinya, aku duduk bersila di atas ranjang. Aku menunggu hingga bilah unduhan mencapai seratus persen. Ikon aplikasi kencan muncul di layar ponselku. Jemariku menggantung beberapa detik di atas tombol Create Account sebelum akhirnya menekannya.

“Tidak harus cari jodoh,” gumamku pelan. “Anggap saja latihan bahasa Inggris.”

Beberapa menit setelah profilku aktif, notifikasi mulai bermunculan tanpa henti. Satu, lima, sepuluh, lalu puluhan.

Aku membuka foto profilku sendiri, foto lama yang diambil pada tahun 2021. Perempuan berhijab merah muda pastel di dalamnya tersenyum begitu bahagia.

Kupandangi cukup lama hingga layar ponsel meredup dengan sendirinya. Aku baru tersadar ketika pantulan wajahku sendiri menggantikan foto itu di layar yang menghitam.

“Kau hanya sendirian di foto itu. Jadi, tidak masalah,” gumamku, seolah sedang meyakinkan diriku sendiri.

Keesokan harinya, muncul pesan lain.

Where are you from?

Hari berikutnya, akun berbeda kembali mengirimkan pesan.

You look beautiful.

Lalu akun lain menyusul.

Hey... are you from Indonesia?

Suatu malam, aku kembali mencoba menghubungi seorang pria Pakistan yang sudah dua bulan mengobrol denganku. Panggilan itu tak pernah tersambung. Aku melirik jam di pergelangan tangan. Lagi-lagi pada jam yang sama.

Sampai akhirnya aku menemukan akun media sosial pria itu. Jemariku terhenti ketika melihat sebuah foto keluarga. Pria yang selama ini mengaku lajang itu berdiri di samping seorang wanita berhijab yang sedang menggendong anak kecil.

Aku menutup aplikasi perlahan.

“Pantas saja,” gumamku.

Belum lama berselang, seorang pria yang mengaku tinggal di Arab Saudi menghubungiku.

“Aku akan memberikan apa pun yang kau butuhkan. Katakan saja berapa biayanya. Atau, jika kau tidak ingin berpacaran, kita bisa melakukan nikah mut'ah. Setelah seminggu, aku akan pulang ke negaraku.”

“Sepertinya Anda salah paham, Tuan. Anda mencari di tempat yang salah.”

Balasan masuk lagi.

“Setidaknya mari kita melakukan video call sx*...”

Aku menekan ikon tiga titik di sudut layar, lalu memilih Unmatch.

Ruang obrolan itu langsung menghilang.

Beberapa hari kemudian, kubiarkan langganan premium habis begitu saja. Kubuka aplikasi itu sekali lagi. Hanya beberapa swipe request yang tersisa. Aku tidak bisa lagi melihat siapa saja yang menyukai profilku.

Aku tersenyum tipis, lalu menutup aplikasi tanpa membaca satu pun notifikasi. Kulettakkan ponsel terbalik di atas meja. Aku memejamkan mata sejenak. Di balik kelopak mataku, sebuah kalimat yang pernah kubaca perlahan melintas.

Apa yang ditakdirkan untukmu akan menemukan jalannya kepadamu, dan apa yang tidak ditakdirkan untukmu tidak akan pernah menjadi milikmu.

***

“Di mana kau belajar bahasa Jepang?”

Begitulah isi pesan yang kuterima.

Sampai akhirnya, sebuah notifikasi muncul. Seseorang memanfaatkan fitur pujian pada aplikasi kencan untuk mengirimkan pesan kepadaku. Pemilik akun premium.

Kubuka profil pria itu. Jemariku menggulir layar perlahan, membaca setiap keterangan yang tertera.

Granville, Australia. Foto seorang pria dengan efek greyscale. Usia empat puluh lima tahun. IT Engineer. Beribadah sesekali.

Aku kembali ke bagian atas profil, lalu mengamatinya sekali lagi. Hanya beberapa foto yang terpajang. Biodatanya pun singkat, tanpa deretan kalimat panjang atau hiasan emoji.

Jemariku berhenti di layar.

Profil itu mengingatkanku pada profilku sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Tinta_Jojon
mantappp hihi
goodnovel comment avatar
Sweety
wahhh Siapakah pria ituuu
goodnovel comment avatar
Maufy Izha
seru Thor, lanjut
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menjemput Senja di Langit Palu   30 - MALAM BERDARAH

    Aku mengetuk pintu kamar.“Masuk,” terdengar sahutan lirih dari dalam.Aku memutar kenop pintu perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara.Lampu kamar hanya menyala redup. Ines bersandar di kepala ranjang dengan piyama bermotif polkadot merah muda.“Kamu sakit, Nes?”Aku melangkah mendekat, lalu menarik kursi di samping ranjang.Belum sempat kudengar jawabannya, Ines tiba-tiba bergeser mendekat.“Erul...”Kedua lengannya langsung melingkari pinggangku.“Aku sakit, Rul.”Aku terdiam di tempat, membiarkan kedua tanganku menggantung canggung di udara tanpa membalas pelukannya.Aku menempelkan punggung tangan ke dahinya.“Keningmu dingin,” kataku datar.Aku menarik tangan kembali.“Kamu tidak demam, kok.”Ines hanya menunduk.Pandanganku beralih ke semangkuk bubur yang masih mengepulkan uap tipis di atas meja rias.Aku mengambil mangkuk itu, lalu kembali duduk di samping ranjang.Aku menyendok sedikit bubur hangat, lalu menyodorkannya ke depan bibirnya.“Buka mulut,” ujarku pelan.Ines me

  • Menjemput Senja di Langit Palu   29 - TIGA PRIA

    Aku berjalan menyusuri koridor ruang airline yang belum selesai direnovasi. Langkah sepatuku memantul pelan di lantai beton yang masih dipenuhi debu halus.Layar ponselku menyala.Erul"Naomi, aku lambat ke lokasi proyek. Ada urusan mendadak.""It's okay.""Kalau urusan di sini kelar, aku pasti langsung ke sana.""Jangan dipikirkan."Aku memasukkan ponsel ke saku rompi.Malam ini terasa jauh lebih sunyi dibanding jadwal lembur biasanya. Suara gerinda yang sejak sore memenuhi bangunan kini tinggal terdengar sesekali.Di sisi timur, beberapa teknisi elektrikal masih berdiri di atas scaffolding, memasang fitting lampu. Di sisi lain, beberapa pekerja membongkar pelat lantai dari lantai dua. Selebihnya, area proyek mulai kosong."Tidak ada pekerjaan arsitektur malam ini," gumamku pelan.Aku menghampiri seorang mandor yang sedang mengawasi para pekerja membereskan peralatan."Pak, rencananya lembur sampai jam berapa?""Tidak lama, Bu. Jam delapan sudah selesai. Tim lain juga sudah mulai ber

  • Menjemput Senja di Langit Palu   28 - CEMBURU

    Siang itu, Ines kembali memasuki kantor direksi konsultan sambil membawa beberapa lembar working permit."Permisi."Clara mengangkat kepala."Oh, taruh saja di sini. Sebentar ya, aku data dulu."Ines mengangguk pelan. Ia mengambil kursi di depan meja Clara sambil menunggu berkas-berkas itu diperiksa.Tanpa sengaja, pandangannya beralih ke sudut ruangan.Naomi dan Erul duduk berdampingan di depan meja kerja. Naomi menjelaskan spesifikasi material, sementara Erul sesekali mengajukan pertanyaan dan mencatat poin-poin penting.Tak ada yang istimewa.Bagi orang lain, itu hanyalah diskusi pekerjaan antara seorang arsitek dan asistennya.Namun, rahang Ines perlahan mengeras.Berbeda dengan sikap Erul kepadanya.Tak ada sapaan.Tak ada tatapan.Bahkan ketika mereka berpapasan di depan kantor kontraktor, Erul hanya mengangguk singkat, lalu melanjutkan langkahnya seolah mereka benar-benar tidak saling mengenal.Erul sudah memperingatkannya.Jika sampai hubungan mereka diketahui orang lain, Erul

  • Menjemput Senja di Langit Palu   27 - ASISTEN ARSITEK

    Pekerjaan pembangunan mushala memasuki tahap pemasangan dinding hebel di lantai dua. Naomi berdiri sambil memperhatikan gambar kerja yang terbuka di tangannya. Sesekali ia mengangkat kepala, mencocokkan posisi bukaan pintu dan jendela dengan gambar denah. Beberapa pekerja tampak sibuk menyusun bata ringan, sementara suara mesin pemotong hebel sesekali memecah suasana."Bagian ini nanti jangan lupa disisakan untuk jalur instalasi listrik," ujar Naomi sambil menunjuk salah satu sisi dinding."Baik, Bu."Naomi kembali menelusuri gambar di tangannya.Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sejak beberapa menit lalu seseorang terus mengamatinya."Bu Naomi."Naomi menoleh.Seorang pria mengenakan rompi proyek berwarna hijau dan helm putih berdiri beberapa langkah di belakangnya."Ya?""Saya butuh arahan untuk penentuan arah kiblat mushala nantinya."Wajah Naomi seketika berubah cerah.Beberapa saat kemudian.Pintu ruang direksi terbuka.Clara yang sedang mengetik laporan spontan mengangkat kep

  • Menjemput Senja di Langit Palu   26 - SEBUAH JANJI

    Deru mesin kendaraan yang tiba-tiba mati di depan pagar memecah keheningan ruang tengah. Aku yang sedang melamun langsung tersentak, bergegas bangkit, dan melangkah lebar menuju pintu depan. Begitu pintu kubuka, langkahku terhenti.Erul berdiri di sana.“Erul?”“Kamu datang?” ucapku setengah tidak percaya, mataku berbinar menatap sosoknya.Tanpa menunggu jawabannya, aku segera mempersilakannya masuk.“Kebetulan Mama dan Papa sedang keluar.”Erul hanya mengangguk singkat.Aku berjalan mendahuluinya menuju ruang tengah dengan perasaan riang. "Kamu mau minum apa? Biar kubuatkan."“Tidak usah,” jawabnya datar.Senyum di wajahku perlahan memudar.Aku berbalik menatapnya.“Ada apa?”Erul tidak langsung menjawab. Tangannya masuk ke saku jaket, lalu mengeluarkan sebuah benda kecil.Sebuah pin berbentuk bunga tulip.Ia meletakkannya di atas meja.Tatapanku langsung terpaku pada benda itu.Wajahku seketika menegang."Itu..." Lidahku mendadak kelu.Aku tidak mampu melanjutkan kalimat.Beberapa

  • Menjemput Senja di Langit Palu   25 - PIN BUNGA TULIP

    Area parkir masih lengang.Aku berhenti di depan sebuah motor, lalu menoleh ke sekeliling.Tidak ada siapa pun.Aku berjongkok perlahan. Jemariku meraih tutup pentil ban dan memutarnya hingga terlepas.Ssssss...Desis udara terdengar pelan.Aku membiarkannya keluar beberapa saat sebelum memasang kembali tutup pentil dan berdiri.Senyum tipis mengembang di bibirku.“Apakah kamu masih seberuntung itu?”***Menjelang siang, rombongan join inspection mulai memasuki area sisi udara bandara. Aku berjalan tidak jauh dari Naomi, membawa kamera untuk mendokumentasikan kegiatan inspeksi.Naomi berjalan berdampingan dengan HSE Engineer, Site Engineer, serta beberapa perwakilan kontraktor. Sesekali ia berhenti untuk mencocokkan gambar kerja dengan detail pemasangan panel ACP di lapangan.“Panah arah pemasangannya sudah sesuai gambar,” ujar Naomi sambil menunjuk salah satu panel di sisi fasad bangunan.Site Engineer mengangguk.“Yang sisi utara sudah selesai, Bu. Tinggal penyelesaian sambungan di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status