مشاركة

Bab 176

مؤلف: Wei Yun
last update تاريخ النشر: 2026-05-12 23:57:28

Suasana kamar pengantin yang awalnya hangat oleh cahaya lilin merah kini terasa mencekam. Suara hiruk-pikuk dari luar barak—dering lonceng peringatan dan derap kaki prajurit—menjadi latar belakang yang pahit bagi sepasang pengantin baru ini. Xiao Cui, dengan tangan gemetar, berusaha merapikan hanfu merahnya yang sempat berantakan. Matanya yang sembap menatap Fan Yi, suaminya, yang kini berdiri kaku dengan tangan mengepal.

​"Fan Yi ...." Suara Xiao Cui nyaris hilang, tertelan oleh kebisingan di
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 176

    Suasana kamar pengantin yang awalnya hangat oleh cahaya lilin merah kini terasa mencekam. Suara hiruk-pikuk dari luar barak—dering lonceng peringatan dan derap kaki prajurit—menjadi latar belakang yang pahit bagi sepasang pengantin baru ini. Xiao Cui, dengan tangan gemetar, berusaha merapikan hanfu merahnya yang sempat berantakan. Matanya yang sembap menatap Fan Yi, suaminya, yang kini berdiri kaku dengan tangan mengepal.​"Fan Yi ...." Suara Xiao Cui nyaris hilang, tertelan oleh kebisingan di luar. Ia memaksakan sebuah senyum getir. "Kau harus pergi. Tugasmu memanggil. Aku akan menunggumu kembali, Suamiku."​Fan Yi menoleh. Hatinya mencelos melihat Xiao Cui tampak begitu rapuh duduk di tepi ranjang pengantin mereka yang masih rapi. Pria kaku yang biasanya tak mengenal rasa takut itu kini merasa dunianya seolah terbelah. Ia kembali mendekat, berlutut di hadapan Xiao Cui, dan menggenggam kedua tangan gadis itu dengan sangat erat, seolah tak ingin melepaskannya ke dalam ketidakpastian.

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 175

    Persiapan di markas Gunung Yu berubah menjadi hiruk-pikuk yang menyenangkan. Tidak ada denting pedang atau teriakan latihan yang mengintimidasi pagi itu. Liya memimpin segalanya dengan semangat yang meluap. Para bandit yang biasanya memegang kapak, kini tampak kikuk memegang untaian bunga liar dan kain-kain merah untuk menghias aula kecil di sudut markas.​"Pelan-pelan, Wan Yi! Bunga itu harus digantung simetris, bukan asal tempel!" teriak Liya sambil mengarahkan beberapa pria kekar yang sedang menghias langit-langit.​"Nyonya, tangan kami lebih biasa memegang leher musuh daripada tangkai bunga sesensitif ini," keluh Wan Yi, namun ia tetap tersenyum lebar.​Di dalam kamar rias, Liya menatap Xiao Cui yang terpantul di cermin perunggu. Pelayannya itu tampak luar biasa cantik dalam balutan hanfu merah sederhana dengan sulaman benang emas di bagian kerah, hasil karya Liya dan Nyonya Besar Long dalam waktu singkat.​"Jangan gemetar begitu, Xiao Cui. Kau terlihat seperti bidadari gunung har

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 174

    Bulan telah berganti, dan aroma pinus di lereng Gunung Yu terasa lebih tajam saat bayangan seorang penunggang kuda muncul dari balik kabut lembah. Fan Yi kembali. Penyamarannya di Beiyuan selama sebulan terakhir telah membuahkan hasil, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di sarang macan. Di dalam aula yang remang, Long Xuan menuangkan cangkir kedua arak hangat untuk pria di hadapannya. Fan Yi, yang baru saja menempuh perjalanan berbahaya dari Beiyuan, tampak lebih kurus dengan tulang pipi yang menonjol, namun matanya memancarkan ketajaman yang tak pernah padam.​"Minumlah, Fan Yi. Kau butuh ini untuk menghangatkan darahmu," ujar Long Xuan sembari menggeser cangkir tanah liat itu.​Fan Yi meneguknya dalam sekali tegukan. "Terima kasih, Ketua. Beiyuan sedang bergejolak. Murong Guan tidak hanya memperkuat bentengnya, tapi dia sudah menempatkan Gunung Yu di urutan teratas daftar buruannya. Pasukan Murong Xi, putra sulungnya, sudah bersiap."​"Murong Xi?" Xuan mengerutkan kening. "Aku be

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 173

    ​Suara derap kaki kuda yang mantap memecah keheningan lapangan utama. Liya muncul dari arah instal, duduk tegak di atas kuda tunggangannya. Hanfunya berkibar tertiup angin pagi. "Cepat naik! Aku pikir kau memang sengaja mengunci kamar karena tidak sudi lagi melihat wajah Fan Yi." Ia mengulurkan tangan kanannya ke arah Xiao Cui yang masih berdiri mematung dengan wajah sembap. ​"Nyonya ...." Xiao Cui mendongak, matanya yang merah berkaca-kaca menatap telapak tangan Liya. "Hamba ... hamba menyulam kantung wangi ini semalaman untuknya, tapi hamba justru ketiduran. Hamba sungguh bodoh, Nyonya." ​Liya mendenguks pelan, namun matanya memancarkan simpati. "Rombongan itu belum lama pergi. Mereka membawa beban berat, jadi laju mereka tidak akan secepat kuda ini. Cepat naik! Kita masih bisa mengejar mereka di dasar lembah sebelum mereka berpisah jalan." ​Tanpa membuang waktu lagi, Xiao Cui menyambut uluran tangan Liya. Dengan sekali sentakan kuat, Liya menarik tubuh mungil pelayannya itu n

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 172

    Malam di Gunung Yu terasa lebih dingin dari biasanya. Di dalam kamarnya, Xiao Cui duduk gelisah di tepi dipan. Jemarinya terus mengusap permukaan halus gelang giok berwarna hijau lumut di tangannya. Kata-kata Fan Yi sore tadi terus terngiang seperti gema yang tak mau hilang. “Tanya pada Nyonya jika kau tidak mengerti.”​Rasa penasaran yang membuncah akhirnya mengalahkan rasa kantuknya. Dengan langkah ragu, ia menyusuri koridor kayu menuju kamar Liya. Melalui celah pintu yang sedikit terbuka, ia melihat Nyonya Mudanya sedang duduk tenang menyeduh teh, uap hangatnya menari-nari ditiup angin malam.​"Nyonya ... Nyonya belum tidur?" bisik Xiao Cui setelah mengetuk pelan.​Liya mendongak dan tersenyum lembut. "Belum, Xiao Cui. Tuanmu masih di aula, memberikan arahan terakhir untuk pasukan yang akan berangkat fajar nanti. Kau sendiri kenapa belum istirahat?"​Xiao Cui menggeleng, lalu masuk dan duduk bersimpuh di dekat meja teh. Wajahnya tampak mendung oleh keresahan yang nyata. "Ada sesuat

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 171

    Aula utama markas Gunung Yu terasa mencekam. Udara dingin pegunungan menyelinap di antara celah dinding kayu, membawa aroma kayu cendana yang bercampur dengan bau besi dari senjata-senjata yang diasah. Di tengah ruangan, Long Xuan berdiri menatap peta wilayah Beiyuan yang terbentang di atas meja batu, sementara Fan Yi dan beberapa perwira bandit lainnya menyimak dengan saksama.​"Jadi, Murong Guan benar-benar akan merekrut prajurit baru dalam skala besar?" tanya Long Xuan, suaranya berat dan bergema di langit-langit aula.​"Benar, Ketua," jawab salah satu mata-mata yang baru saja kembali. "Kekalahan telak pasukannya di perbatasan tempo hari membuatnya paranoid. Ia butuh tenaga baru untuk memperkuat benteng Beiyuan."​Long Xuan menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang menandakan strategi sedang tersusun di kepalanya. "Ini adalah celah yang kita tunggu. Kita akan menghancurkan mereka dari dalam. Jika kita menyerang dari luar, tembok Beiyuan terlalu kokoh, tapi jika rayap sudah ada di dal

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 86

    Malam makin merayap di Paviliun Phoenix, namun suasana di dalam kamar Long Xuan masih terperangkap dalam sisa-sisa ketegangan malam yang liar. Song Liya terpaku, napasnya tertahan di kerongkongan. Ia baru saja menyentuh rahasia terbesar suaminya, tanda lahir daun lotus itu, ketika sebuah gerakan t

    last updateآخر تحديث : 2026-03-30
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 59

    Angin dingin sisa semalam rupanya masih enggan beranjak dari Paviliun Anggrek. Di dalam kamar, Liya meringkuk pasrah. Suara bersinnya yang beruntun terdengar menyedihkan, kontras dengan tumpukan saputangan yang berserakan di sisi ranjang. Hidungnya sudah memerah, perih, dan sedikit lecet akibat ges

    last updateآخر تحديث : 2026-03-25
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 60

    Di tengah remang cahaya lilin yang kian meredup, Lu Chen berdiri mematung dengan kepala menunduk dalam. Suaranya terdengar datar namun tajam saat menyampaikan laporan yang dibawanya.​"Tuan Adipati," Lu Chen memulai, suaranya merendah. "Hamba menerima informasi dari seorang informan yang sangat te

    last updateآخر تحديث : 2026-03-25
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 69

    Fajar baru saja menyingsing sepenuhnya saat Liya merapikan lipatan hanfu sutra di depan cermin. Hari ini, ia tidak memilih pakaian yang bersahaja. Sebaliknya, ia mengenakan gaun dengan potongan kerah yang sedikit lebih rendah dari biasanya, menonjolkan lekuk leher dan kemolekan dadanya yang penuh.

    last updateآخر تحديث : 2026-03-27
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status