LOGINSesosok pria tinggi tegap dengan hanfu sutra hitam berdiri mematung di ambang pintu.
Adipati Long Xuan. Sepasang netranya yang biasanya setajam sembilu dan sedingin es kutub, kini membelalak lebar, kehilangan keangkuhannya. Pandangannya luruh secara tak terkendali; mulai dari rambut Liya yang terbungkus kain seadanya, turun ke bahu porselen yang masih basah berkilau, hingga tertambat pada selembar sutra putih yang kini menjiplak sempurna setiap lengkung anatomis tubuh istrinya. Selama dua tahun bahtera pernikahan mereka yang hambar, Long Xuan tidak pernah sekali pun menginjakkan kaki di kamar ini pada jam-jam krusial, apalagi menyaksikan istrinya dalam kondisi yang begitu intim. Atmosfer paviliun yang tadinya tenang mendadak dipenuhi ketegangan yang menyesakkan paru-paru. "Kau…" Suara Long Xuan tercekat, seolah ada gumpalan emosi yang menyumbat kerongkongannya. Liya tersentak, keterkejutan murni menyambar sistem sarafnya. Namun, Song Liya yang bersemayam di tubuh itu bukanlah tipe wanita yang akan memekik malu lalu bersembunyi di balik kelambu. Sifat keras kepalanya justru mengambil alih. Alih-alih menutupi diri, ia malah bersedekap yang justru semakin menonjolkan siluet dadanya di balik kain transparan tersebut. "Oh, Tuan Adipati yang terhormat. Tumben sekali Tuan sudi mampir ke paviliun ini. Ada urusan mendesak?" suara Liya terdengar tenang, hampir mendekati nada provokatif. Mendengar bisik-bisik dari para pengawal di koridor luar yang mulai terusik oleh pemandangan di ambang pintu, wajah Long Xuan mendadak berubah merah padam. Ia berada di persimpangan antara murka yang murni dan gairah maskulin yang berusaha ditekan paksa. Dengan gerakan kasar yang impulsif, ia merangsek masuk ke dalam kamar, mencengkeram bahu Liya yang dingin, dan menendang daun pintu kayu itu hingga tertutup dengan dentuman keras. BRAK! Long Xuan menyudutkan Liya ke dinding dingin di samping pintu. Napas pria itu memburu, menebarkan aroma maskulin yang bercampur dengan wangi mint yang tajam, segera mendominasi indra penciuman Liya. Posisi mereka begitu rapat, hingga Liya bisa merasakan radiasi panas dari tubuh suaminya. "Apa yang kau lakukan, Tuan Adipati?!"seru Liya berusaha menahan Long Xuan dengan kedua tangannya. Ia terpaku. Jantungnya berdentum hebat. Namun, melihat reaksi Long Xuan yang begitu intens dan kikuk, sisi "nakal" Song Liya mendadak bangkit. Wah, apakah sang Adipati yang kaku ini akan menciumku sekarang? Ternyata si balok es ini hanya butuh umpan sedikit kulit untuk mulai mencair? Begitu mudahnya kau goyah pada pesona Murong Shi yang kau benci ini? batinnya sarkastis. Liya sengaja membasahi bibirnya yang ranum, menatap profil samping wajah suaminya yang luar biasa tampan dalam jarak yang mematikan. Long Xua terdiam. Ia memalingkan wajahnya ke samping, seolah-olah menatap lurus tubuh istrinya adalah sebuah dosa besar. "Kenapa berpaling, Tuan Adipati? Bukankah ini pemandangan yang langka? Istrimu menyambutmu dengan segala kejujuran di kamarnya sendiri?" Long Xuan perlahan memutar kepalanya, mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Liya secara naluriah memejamkan mata, entah mengapa ia bersiap untuk sebuah adegan klise ala novel romansa yang sering ia baca untuk melepas penat. Namun, ekspektasi itu hancur berantakan. Yang ia rasakan bukanlah sentuhan bibir yang lembut, melainkan hembusan napas panas di daun telinganya yang membawa rangkaian kata sedingin kristal es. "Jangan pernah berpikir teknik murahan ini akan membuahkan hasil padaku," bisik Long Xuan "Kau sengaja berpakaian layaknya wanita penghibur di rumah bordil hanya agar aku menoleh padamu? Kau benar-benar menjijikkan, Murong Shi." Mata Liya membelalak lebar. Rasa hangat yang tadi sempat menjalar langsung menguap tanpa sisa, digantikan oleh amarah yang berkobar hebat di dadanya. "Kau pikir aku melakukan sirkus ini untuk memikatmu?" Liya mendorong dada bidang Long Xuan dengan segenap tenaga hingga pria itu terhuyung mundur. "Jangan terlalu narsis, Long Xuan! Aku baru saja mandi dan tidak ada selembar pun kain pengering di tempat terkutuk ini! Aku tidak memiliki kemampuan meramal untuk tahu bahwa kau akan datang menerobos seperti pencuri di malam hari!" Long Xuan menggeram rendah, mengecam tindakan Liya yang dianggapnya telah menggadaikan harga diri hanya karena alasan ketiadaan kain pengering. "Lihat dirimu! Kau hampir telanjang! Jika aku tidak segera menutup pintu itu, para pengawal di luar sana sudah menelanjangi setiap jengkal tubuhmu dengan tatapan mesum mereka!" Menanggapi tuduhan tersebut, Liya justru melepaskan tawa sinis yang membelah keheningan paviliun. "Oh, jadi sekarang sang Adipati yang dingin ini tiba-tiba peduli pada kehormatan istrinya?" Liya tertawa sinis. "Atau kau sebenarnya hanya kesal karena kau tidak bisa mengendalikan reaksimu sendiri saat melihatku seperti ini, Long Xuan?" "Tutup mulutmu, wanita lancang!" "Tersinggung karena kebenaran?" Liya menatap lurus ke dalam pupil mata Long Xuan dengan api kemarahan. "Dengarkan aku baik-baik. Tubuh ini adalah otoritas mutlakku. Aku tidak berpakaian untuk menyenangkan egomu. Jika kau merasa terganggu, pintunya ada di belakangmu. Silakan keluar!" Wajah Long Xuan mengeras, rahangnya mengatup hingga menciptakan garis yang tajam. Ia mencengkeram dagu Liya dengan jemari kuatnya, memaksa wanita itu tetap menatapnya. "Kau berubah sejak kecelakaan itu. Tapi jangan harap kata-kata pedasmu bisa menutupi fakta bahwa kau tetaplah seorang istri yang gagal menjalankan kewajiban moralnya." "Gagal?" Liya menyentakkan dagunya hingga terlepas dari cengkeraman Long Xuan. "Aku gagal karena aku memiliki suami yang hatinya telah membeku menjadi batu! Kau menghakimiku tanpa pernah mencoba mengenalku sedikit pun. Kau lebih memilih omongan orang daripada melihat realitas yang ada tepat di depan matamu!" "Aku sedang melihat realitas di depanku sekarang," mata Long Xuan kembali menyapu raga Liya yang masih lembap. Ada kilatan gairah yang berusaha ia bungkam sekuat tenaga. "Dan yang kulihat hanyalah godaan visual yang penuh dengan muslihat." "Kalau begitu, pergilah!" teriak Liya, emosinya memuncak. "Pergi sebelum kau melakukan sesuatu yang akan kau sesali besok pagi!" Long Xuan terdiam membeku, seolah kata-kata Liya adalah mantra yang mengunci gerakannya. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. Ia menatap Liya untuk terakhir kalinya malam itu—sebuah tatapan kompleks yang merupakan perpaduan antara kebencian, hasrat purba, dan kebingungan eksistensial yang mendalam. Tanpa sepatah kata lagi, Long Xuan berbalik dan menyentakkan pintu kamar hingga terbuka lebar. Ia melangkah keluar meneriaki para pengawalnya agar segera angkat kaki dari area Paviliun Anggrek. Liya luruh ke lantai yang dingin begitu pintu kembali tertutup. Napasnya tersengal-sengal, oksigen seolah baru saja kembali ke ruangan itu. Ia menyentuh dadanya yang masih bergemuruh tak beraturan. "Sial...," umpatnya lirih dengan suara parau. "Laki-laki itu benar-benar menguras seluruh energiku." Namun di balik kelelahan itu, Liya menyadari satu hal krusial: Long Xuan tidak lagi memandangnya dengan rasa bosan atau skeptis yang hambar. Ada api yang mulai tersulut di mata pria itu. "Baiklah, Tuan Adipati," gumam Liya sembari meraih kain untuk mengeringkan rambutnya dengan gerakan see lebih bertenaga. "Jika kau ingin bermain dengan panas, akan kuberikan api yang begitu hebat hingga kau tak akan pernah bisa memadamkannya."Matahari belum benar-benar bangkit dari peraduannya, namun Song Liya sudah memecah kesunyian di dalam kamar tidurnya yang luas. Di dunia asalnya, ia adalah pemuja olahraga, baginya, keringat adalah meditasi. Ia memanfaatkan furnitur kayu jati yang berat sebagai alat olahraga dadakan. Dengan napas yang teratur, ia melakukan posisi push-up di lantai yang dingin. "Aku harus tetap bugar," batin Liya sambil mengatur napas. "Apa pun jamannya, entah itu abad ke-21 atau dunia novel antah-berantah ini, tubuh adalah satu-satunya aset yang bisa kuandalkan." Ketika cahaya mentari mulai menyelinap melalui celah jendela, suara ketukan pelan terdengar di pintu kayu yang kokoh. "Nyonya, apakah sudah bangun? Ini Xiao Cui," suara pelayan itu terdengar mencicit, penuh keraguan. "Masuklah," sahut Liya tanpa menghentikan gerakannya. Xiao Cui tertegun di ambang pintu. Biasanya, ia harus bolak-balik hingga lima kali hanya untuk membujuk majikannya membuka mata. Kali ini, cukup satu panggilan. I
Sesosok pria tinggi tegap dengan hanfu sutra hitam berdiri mematung di ambang pintu. Adipati Long Xuan. Sepasang netranya yang biasanya setajam sembilu dan sedingin es kutub, kini membelalak lebar, kehilangan keangkuhannya. Pandangannya luruh secara tak terkendali; mulai dari rambut Liya yang terbungkus kain seadanya, turun ke bahu porselen yang masih basah berkilau, hingga tertambat pada selembar sutra putih yang kini menjiplak sempurna setiap lengkung anatomis tubuh istrinya. Selama dua tahun bahtera pernikahan mereka yang hambar, Long Xuan tidak pernah sekali pun menginjakkan kaki di kamar ini pada jam-jam krusial, apalagi menyaksikan istrinya dalam kondisi yang begitu intim. Atmosfer paviliun yang tadinya tenang mendadak dipenuhi ketegangan yang menyesakkan paru-paru. "Kau…" Suara Long Xuan tercekat, seolah ada gumpalan emosi yang menyumbat kerongkongannya. Liya tersentak, keterkejutan murni menyambar sistem sarafnya. Namun, Song Liya yang bersemayam di tubuh itu bukanl
Long Xuan terdiam, wajahnya tertoleh ke samping. Perlahan, sang Adipati memutar wajahnya kembali, menatap Liya dengan sepasang mata yang menyala oleh kemarahan meledak-ledak. "Kau berani menamparku?" bisiknya rendah. Ia mematung sejenak, seolah otaknya butuh waktu untuk memproses kenyataan yang baru saja terjadi. Sepanjang sejarah pernikahan mereka, Murong Shi,meski dikenal angkuh dan menyebalkan, tidak pernah berani menyentuh fisik Long Xuan secara kasar, apalagi mendaratkan tamparan keras di pipinya. "Dan kau berani menghinaku?" balas Liya dengan suara yang tak kalah tajam, sepasang matanya membalas tatapan Long Xuan tanpa gentar sedikit pun. "Dengarkan aku, Tuan Adipati yang terhormat. Mulai detik ini, jaga bicaramu jika kau masih ingin aku menghormatimu sebagai suamiku!" Long Xuan tertawa pendek, sebuah tawa kering yang tidak mengandung rasa humor sedikit pun. "Kau benar-benar sudah gila, Murong Shi. Apa jatuh dari tangga atau benturan di kepalamu kemarin telah merusak ot
Liya menempelkan tubuhnya ke dinding luar, menahan napas. Ia mendengar langkah kaki banyak orang masuk. Ia tidak menunggu lebih lama. Ia merayap di atas genting dengan hati-hati. Sebagai seorang guru olahraga, keseimbangannya luar biasa, namun berjalan di atas atap kuno dengan pakaian wanita bangsawan adalah tantangan baru. Angin malam yang dingin menusuk kulitnya, namun adrenalin membuatnya tetap fokus. Ia melihat sebuah pohon dedalu besar yang dahan-dahannya menjuntai hingga ke dekat balkon lantai dua di sisi lain bangunan. Dengan satu lompatan nekat, Liya menggapai dahan pohon tersebut. Tangannya tergores kulit pohon yang kasar, namun ia berhasil bergantung. Ia merosot turun dengan cekatan, mendarat di atas rumput taman yang basah tanpa menimbulkan suara berarti. Begitu kakinya menginjak tanah, ia segera merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, menurunkan kembali roknya, dan mengatur napas. Ia tidak melarikan diri keluar gerbang; sebaliknya, ia justru berjalan tenang kemb
"Murong Shi ... ayolah, biarkan aku menghangatkan dirimu malam ini," suara serak laki-laki menghentak kesadaran Song Liya. Ia membuka matanya dengan sentakan jantung yang hebat, seolah baru saja ditarik paksa dari kegelapan. Pemandangan di depannya sungguh di luar nalar. Ia tidak berada di aspal jalanan yang dingin setelah tertabrak motor saat mengejar muridnya yang ikut balap motor liar. Kini, ia berada di atas ranjang kayu berukir naga yang sangat megah dengan kelambu sutra yang menjuntai halus. Aroma dupa cendana yang kuat dan pekat menusuk hidungnya. Song Liya terkesiap, berusaha mengumpulkan segenap kesadarannya yang masih terasa berkabut. Di mana ini? Apakah aku sudah mati dan bereinkarnasi? batin Song Liya panik. Hal terakhir yang dia ingat adalah malam menjelang pagi itu; ia sedang menyusul muridnya yang nekat mengikuti balapan liar di pinggiran kota. Saat mencoba menghentikan aksi berbahaya itu, sebuah motor hilang kendali dan menghantam tubuhnya dengan keras. Se







