Share

Bab 4

Author: Wei Yun
last update publish date: 2026-01-15 14:08:30

Sesosok pria tinggi tegap dengan hanfu sutra hitam berdiri mematung di ambang pintu.

Adipati Long Xuan. Sepasang netranya yang biasanya setajam sembilu dan sedingin es kutub, kini membelalak lebar, kehilangan keangkuhannya.

Pandangannya luruh secara tak terkendali; mulai dari rambut Liya yang terbungkus kain seadanya, turun ke bahu porselen yang masih basah berkilau, hingga tertambat pada selembar sutra putih yang kini menjiplak sempurna setiap lengkung anatomis tubuh istrinya.

​Selama dua tahun bahtera pernikahan mereka yang hambar, Long Xuan tidak pernah sekali pun menginjakkan kaki di kamar ini pada jam-jam krusial, apalagi menyaksikan istrinya dalam kondisi yang begitu intim.

Atmosfer paviliun yang tadinya tenang mendadak dipenuhi ketegangan yang menyesakkan paru-paru.

​"Kau…" Suara Long Xuan tercekat, seolah ada gumpalan emosi yang menyumbat kerongkongannya.

​Liya tersentak, keterkejutan murni menyambar sistem sarafnya. Namun, Song Liya yang bersemayam di tubuh itu bukanlah tipe wanita yang akan memekik malu lalu bersembunyi di balik kelambu.

Sifat keras kepalanya justru mengambil alih. Alih-alih menutupi diri, ia malah bersedekap yang justru semakin menonjolkan siluet dadanya di balik kain transparan tersebut.

​"Oh, Tuan Adipati yang terhormat. Tumben sekali Tuan sudi mampir ke paviliun ini. Ada urusan mendesak?" suara Liya terdengar tenang, hampir mendekati nada provokatif.

​Mendengar bisik-bisik dari para pengawal di koridor luar yang mulai terusik oleh pemandangan di ambang pintu, wajah Long Xuan mendadak berubah merah padam.

Ia berada di persimpangan antara murka yang murni dan gairah maskulin yang berusaha ditekan paksa.

Dengan gerakan kasar yang impulsif, ia merangsek masuk ke dalam kamar, mencengkeram bahu Liya yang dingin, dan menendang daun pintu kayu itu hingga tertutup dengan dentuman keras.

​BRAK!

Long Xuan menyudutkan Liya ke dinding dingin di samping pintu.

Napas pria itu memburu, menebarkan aroma maskulin yang bercampur dengan wangi mint yang tajam, segera mendominasi indra penciuman Liya. Posisi mereka begitu rapat, hingga Liya bisa merasakan radiasi panas dari tubuh suaminya.

​"Apa yang kau lakukan, Tuan Adipati?!"seru Liya berusaha menahan Long Xuan dengan kedua tangannya.

Ia terpaku. Jantungnya berdentum hebat. Namun, melihat reaksi Long Xuan yang begitu intens dan kikuk, sisi "nakal" Song Liya mendadak bangkit.

Wah, apakah sang Adipati yang kaku ini akan menciumku sekarang? Ternyata si balok es ini hanya butuh umpan sedikit kulit untuk mulai mencair? Begitu mudahnya kau goyah pada pesona Murong Shi yang kau benci ini? batinnya sarkastis.

​Liya sengaja membasahi bibirnya yang ranum, menatap profil samping wajah suaminya yang luar biasa tampan dalam jarak yang mematikan.

Long Xua terdiam. Ia memalingkan wajahnya ke samping, seolah-olah menatap lurus tubuh istrinya adalah sebuah dosa besar.

"Kenapa berpaling, Tuan Adipati? Bukankah ini pemandangan yang langka? Istrimu menyambutmu dengan segala kejujuran di kamarnya sendiri?"

​Long Xuan perlahan memutar kepalanya, mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Liya secara naluriah memejamkan mata, entah mengapa ia bersiap untuk sebuah adegan klise ala novel romansa yang sering ia baca untuk melepas penat.

​Namun, ekspektasi itu hancur berantakan. Yang ia rasakan bukanlah sentuhan bibir yang lembut, melainkan hembusan napas panas di daun telinganya yang membawa rangkaian kata sedingin kristal es.

​"Jangan pernah berpikir teknik murahan ini akan membuahkan hasil padaku," bisik Long Xuan "Kau sengaja berpakaian layaknya wanita penghibur di rumah bordil hanya agar aku menoleh padamu? Kau benar-benar menjijikkan, Murong Shi."

​Mata Liya membelalak lebar. Rasa hangat yang tadi sempat menjalar langsung menguap tanpa sisa, digantikan oleh amarah yang berkobar hebat di dadanya.

​"Kau pikir aku melakukan sirkus ini untuk memikatmu?" Liya mendorong dada bidang Long Xuan dengan segenap tenaga hingga pria itu terhuyung mundur. "Jangan terlalu narsis, Long Xuan! Aku baru saja mandi dan tidak ada selembar pun kain pengering di tempat terkutuk ini! Aku tidak memiliki kemampuan meramal untuk tahu bahwa kau akan datang menerobos seperti pencuri di malam hari!"

Long Xuan menggeram rendah, mengecam tindakan Liya yang dianggapnya telah menggadaikan harga diri hanya karena alasan ketiadaan kain pengering.

​ "Lihat dirimu! Kau hampir telanjang! Jika aku tidak segera menutup pintu itu, para pengawal di luar sana sudah menelanjangi setiap jengkal tubuhmu dengan tatapan mesum mereka!"

Menanggapi tuduhan tersebut, Liya justru melepaskan tawa sinis yang membelah keheningan paviliun.

​"Oh, jadi sekarang sang Adipati yang dingin ini tiba-tiba peduli pada kehormatan istrinya?" Liya tertawa sinis. "Atau kau sebenarnya hanya kesal karena kau tidak bisa mengendalikan reaksimu sendiri saat melihatku seperti ini, Long Xuan?"

​"Tutup mulutmu, wanita lancang!"

​"Tersinggung karena kebenaran?" Liya menatap lurus ke dalam pupil mata Long Xuan dengan api kemarahan. "Dengarkan aku baik-baik. Tubuh ini adalah otoritas mutlakku. Aku tidak berpakaian untuk menyenangkan egomu. Jika kau merasa terganggu, pintunya ada di belakangmu. Silakan keluar!"

​Wajah Long Xuan mengeras, rahangnya mengatup hingga menciptakan garis yang tajam. Ia mencengkeram dagu Liya dengan jemari kuatnya, memaksa wanita itu tetap menatapnya. "Kau berubah sejak kecelakaan itu. Tapi jangan harap kata-kata pedasmu bisa menutupi fakta bahwa kau tetaplah seorang istri yang gagal menjalankan kewajiban moralnya."

​"Gagal?" Liya menyentakkan dagunya hingga terlepas dari cengkeraman Long Xuan. "Aku gagal karena aku memiliki suami yang hatinya telah membeku menjadi batu! Kau menghakimiku tanpa pernah mencoba mengenalku sedikit pun. Kau lebih memilih omongan orang daripada melihat realitas yang ada tepat di depan matamu!"

​"Aku sedang melihat realitas di depanku sekarang," mata Long Xuan kembali menyapu raga Liya yang masih lembap. Ada kilatan gairah yang berusaha ia bungkam sekuat tenaga. "Dan yang kulihat hanyalah godaan visual yang penuh dengan muslihat."

​"Kalau begitu, pergilah!" teriak Liya, emosinya memuncak. "Pergi sebelum kau melakukan sesuatu yang akan kau sesali besok pagi!"

​Long Xuan terdiam membeku, seolah kata-kata Liya adalah mantra yang mengunci gerakannya. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. Ia menatap Liya untuk terakhir kalinya malam itu—sebuah tatapan kompleks yang merupakan perpaduan antara kebencian, hasrat purba, dan kebingungan eksistensial yang mendalam.

​Tanpa sepatah kata lagi, Long Xuan berbalik dan menyentakkan pintu kamar hingga terbuka lebar. Ia melangkah keluar meneriaki para pengawalnya agar segera angkat kaki dari area Paviliun Anggrek.

​Liya luruh ke lantai yang dingin begitu pintu kembali tertutup. Napasnya tersengal-sengal, oksigen seolah baru saja kembali ke ruangan itu. Ia menyentuh dadanya yang masih bergemuruh tak beraturan.

​"Sial...," umpatnya lirih dengan suara parau. "Laki-laki itu benar-benar menguras seluruh energiku."

​Namun di balik kelelahan itu, Liya menyadari satu hal krusial: Long Xuan tidak lagi memandangnya dengan rasa bosan atau skeptis yang hambar. Ada api yang mulai tersulut di mata pria itu.

​"Baiklah, Tuan Adipati," gumam Liya sembari meraih kain untuk mengeringkan rambutnya dengan gerakan see lebih bertenaga. "Jika kau ingin bermain dengan panas, akan kuberikan api yang begitu hebat hingga kau tak akan pernah bisa memadamkannya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 152

    Gema derap kaki kuda membelah kesunyian lembah berbatu di barat Dan Xue. Long Xuan memacu tunggangannya layaknya kesetanan, mengabaikan kerikil yang beterbangan serta embusan angin gunung yang menusuk tulang. Di belakangnya, pasukan Beiyuan mengekor dalam formasi rapat, namun pikiran Xuan telah jauh melesat melampaui garis depan.​"SHISHI! MURONG SHI!" teriak Xuan dengan suara parau yang memantul pada dinding-dinding tebing terjal.​Setiap pantulan suaranya terasa bagai ejekan takdir. Ia baru saja menyaksikan nyawa Na Ying melayang, wanita yang di detik terakhir ia akui sebagai ibu. Kini, ketakutan kehilangan Liya—wanita yang menjadi poros dunianya—membuatnya nyaris gila.​"Tuan Adipati! Di sana!" seru salah seorang prajurit sembari menunjuk ke ujung ceruk tebing.​Xuan melompat turun bahkan sebelum kudanya benar-benar berhenti. Matanya yang memerah menyisir tanah. Jejak tapak kuda berakhir tepat di bibir jurang curam. Di bawah sana, sungai deras bergemuruh, memuntahkan uap dingin yan

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 151

    Debu jalanan masih berterbangan saat deru kaki kuda pasukan Beiyuan berhenti mendadak di depan penginapan. Long Xuan melompat turun dari kudanya dengan tergesa. Jantungnya bertalu hebat, seirama dengan firasat buruk yang kini terbukti di depan mata.​Pemandangan di depannya adalah neraka yang membeku; keheningan yang mencekam menyelimuti halaman yang kini dipenuhi mayat-mayat bergelimpangan dengan luka sabetan yang mengerikan. Aroma amis darah menyeruak, memenuhi udara malam yang dingin.​"Shishi! Na Ying!" teriak Xuan, suaranya pecah membelah kesunyian.​Langkahnya menerjang masuk ke dalam lobi yang hancur berantakan. Kursi dan meja kayu hancur berkeping-keping, guci porselen pecah berserakan di lantai yang kini licin oleh cairan merah. Ia mengabaikan mayat-mayat penyerbu yang tewas di tangan Na Ying. Matanya liar menyisir setiap sudut, jantungnya berdegup kencang oleh ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.​"Cari Nyonya Adipati! Geledah setiap jengkal tempat ini! Ja

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 150

    Kegelapan seketika menyergap kamar penginapan itu saat Na Ying menjentikkan kepingan logam kecil dari sakunya, memadamkan sisa lilin yang menyala dengan presisi maut. Di bawah cahaya rembulan yang tipis, Liya bisa menyaksikan gerak-gerik mertuanya yang begitu taktis dan efisien. ​"Shishi, lekas!" bisik Na Ying rendah, napasnya sedikit tertahan guna meredam perih yang menghunjam punggungnya. ​Dengan ketangkasan yang lahir dari desakan rasa takut, Liya membantu Na Ying menyusun bantal-bantal di balik selimut sutra. Dalam keremangan, gundukan itu tampak identik dengan dua insan yang tengah terlelap. Begitu umpan terpasang, Na Ying mencengkeram lengan Liya, menariknya mendekati ambang pintu kamar. ​BRAAAK!!! ​Tepat saat daun pintu terkatup rapat di belakang mereka, suara jendela kamar didobrak dari luar terdengar memekakkan telinga. Derap langkah kaki yang berat menghujam lantai kayu, disusul desingan tajam mata pedang yang menghujam bantal-bantal kosong di atas ranjang. ​"Mereka sud

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 149

    Cahaya fajar perlahan melalui celah jendela kayu, menyentuh permukaan kulit Liya yang halus. Kesadarannya terjaga saat merasakan hembusan napas hangat yang teratur menyapu keningnya, diikuti sebuah kecupan lembut yang mendarat lama di bibirnya. ​Liya membuka mata, mendapati wajah Long Xuan hanya berjarak seujung kuku darinya. Namun, ia terkesiap melihat penampilan suaminya. Tidak ada lagi jubah sutra megah dengan sulaman naga atau baju zirah perak yang berkilau; yang ada hanyalah pakaian kasar dari serat rami yang kusam, ikat kepala kain kumal, dan corengan jelaga di rahang tegasnya.​"Xuan?" bisik Liya parau, suaranya serak khas orang baru bangun tidur. "Kau ... kau sudah akan pergi?"​"Waktunya tiba, Shishi," jawab Xuan dengan suara rendah. Ia mengelus pipi istrinya dengan jemari yang kasar.​Liya segera bangkit, duduk di tepi ranjang sementara jemarinya meraba kain rami yang dikenakan Xuan. Ia memandangi suaminya dari ujung kepala hingga kaki. "Penyamaranmu ... kau terlihat sangat

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 148

    Liya berdiri mematung di lorong penginapan yang remang, menatap punggung suaminya yang kian menjauh dan menghilang di balik kegelapan tangga. Hatinya seperti diremas melihat kehancuran di mata Xuan. Isak tangis dari dalam kamar memanggilnya kembali; Na Ying sedang meratap, sebuah suara yang sarat akan penyesalan yang terlambat.​Liya masuk kembali dan mendapati Na Ying berusaha duduk, tangannya mencengkeram kain seprai. Wajahnya yang pucat kini basah oleh air mata yang tak terbendung.​"Dia membenciku, Shishi ... Dia benar-benar membenciku," isak Na Ying parau. "Setiap kata yang ia ucapkan ... semuanya benar. Aku adalah seorang pengecut."​Liya duduk di tepi ranjang, merangkul bahu wanita yang gemetar itu. "Dia tidak membencimu, Na Ying. Dia hanya sedang terluka. Seluruh dunianya baru saja terbalik. Bayangkan, pria yang dibesarkan untuk menjadi pedang Beiyuan kini mengetahui bahwa selama ini darah yang ia perangi adalah darahnya sendiri.""Tapi aku punya alasan yang kuat!" Na Ying men

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 147

    Xuan mengembuskan napas panjang dengan kasar, sebuah geraman frustrasi tertahan di tenggorokannya. Untuk kesekian kalinya, ia harus menelan kembali gairah yang sudah di ujung tanduk karena gangguan yang tak terduga. ​Liya, yang masih berada di pelukan Xuan, menatap wajah suaminya yang nampak kesal dengan binar jenaka. Ia memberikan senyum meledek, menyadari bahwa suaminya sedang berjuang keras menekan hasrat yang masih terjebak di dalam dirinya. ​"Jangan menertawakanku, Shishi," bisik Xuan parau, matanya masih berkilat gelap. ​Liya terkekeh kecil, lalu mengecup hidung Xuan. "Aku tidak tertawa, Xuan. Hanya saja ... sepertinya semesta memang sedang menguji kesabaran sang Adipati Beiyuan malam ini." ​Xuan memejamkan mata sejenak, mencoba menstabilkan degup jantungnya. Ia memberi kode melalui gerakan kepala agar Liya segera bangkit dan memenuhi panggilan Na Ying. Sebelum benar-benar keluar dari bak mandi, Liya sempat mengecup bibir suaminya dengan ringan, sebuah kecupan manis yang seo

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 50

    Larangan keras yang diteriakkan Long Xuan di selasar tadi bukannya membuat Liya surut, justru menjadi api yang menyulut rasa penasaran di dalam dadanya. Ada sesuatu yang tidak beres. Seorang panglima yang sanggup menahan tebasan pedang tanpa mengedipkan mata, tidak mungkin mengerang separah itu han

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 53

    Malam telah jatuh menyelimuti ibu kota. Liya melangkah keluar secara diam-diam, dari gerbang samping kediaman Long dengan pakaian yang lebih sederhana, kerudung tipis menutupi sebagian wajahnya. Ia sengaja tidak menggunakan kereta kuda berlogo keluarga Adipati; ia tidak ingin kepulangannya nanti me

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 49

    Malam di aula utama kediaman Adipati Long menyisakan aroma dupa cendana yang berat, berbaur dengan sisa-sisa ketegangan yang seolah membeku di udara. Di bawah cahaya lampion yang temaram, jamuan makan malam itu berlangsung dalam kesunyian yang mencekam, hingga suara riang Long Yuan memecah kehening

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 44

    Kabut tipis menyelimuti kaki Gunung Lingyun saat fajar menyingsing, namun keriuhan di perkemahan Akademi Shin Yue sudah membuncah sejak pagi buta. Bagi para bangsawan dan pangeran yang hadir, ajang ini bukan sekadar kegiatan sekolah, melainkan panggung untuk memamerkan kemegahan serta status sosial

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status