Share

Bab 40

Author: Wei Yun
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-02 18:54:33

Kereta kuda berhenti dengan tenang di depan kedai manisan yang riuh di ujung distrik akademi Shin Yue. Liya turun dengan gerakan anggun, jemarinya merapikan lipatan hanfu ungu berbahan sutra yang ia kenakan. Wajahnya tampak setenang permukaan telaga beku, tanpa sedikit pun jejak kepanikan, meski di balik dadanya, amarah tengah bergemuruh hebat akibat kelancangan Yuexin. Ia telah memahat janji dalam batinnya, tidak akan pernah lagi menyingkapkan emosi yang meluap di depan musuh, terutama di hada
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
rifdanafisha
kurang akeh thor up e
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 169

    Cahaya lilin di sudut ruangan berkedip lemah, seolah malu menyaksikan dua tubuh yang kini saling membelit di atas dipan kayu yang berderit keras. Udara di dalam kamar terasa semakin tipis, dipenuhi oleh aroma balsem herbal yang bercampur dengan hawa maskulin Long Xuan yang membakar.​Tangan Xuan yang kasar namun penuh perasaan merayap perlahan dari pinggang menuju punggung polos Liya. Ia menarik tubuh istrinya hingga tak ada lagi celah di antara mereka. Liya bisa merasakan detak jantung Xuan yang berdebar kencang, seirama dengan degup jantungnya sendiri yang seakan ingin melompat keluar.​Xuan menjauhkan wajahnya sejenak, menatap Liya dengan tatapan yang sangat intens. "Apakah kau yakin, Shishi? Aku tidak ingin memaksamu jika kau belum siap. Kau nanti akan menanggung penyakit Darah Iblis juga."​Liya menggeleng, jemarinya menyusup ke sela-sela rambut hitam Xuan yang lembap, menarik pria itu kembali mendekat. "Jangan berhenti ... aku ingin menjadi milikmu seutuhnya malam ini. Aku tidak

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 168

    Malam merayap semakin larut di markas Gunung Yu. Aroma tanah basah dan sisa asap yang menempel di pakaian para prajurit perlahan memudar, digantikan oleh suara jangkrik yang sahut-menyahut. Seluruh Pasukan Bandit Gunung Yu telah kembali ke markas. Di dalam kamar Ketua, udara terasa begitu kaku, seolah-olah ketegangan siang tadi belum sepenuhnya menguap. ​Liya berdiri mematung di dekat meja kayu, tangannya gemetar saat menuangkan teh hangat ke dalam cangkir porselen. Di belakangnya, ia bisa mendengar derap langkah Long Xuan yang berat. Pria itu baru saja selesai membersihkan diri di sungai, rambutnya yang hitam panjang masih tampak lembap, menjuntai di bahunya yang lebar. ​"Minumlah," ujar Liya pendek tanpa menoleh. Suaranya dingin, sedingin embun malam di puncak gunung. ​Long Xuan menerima cangkir itu, menyesapnya perlahan sambil matanya terus mengunci punggung istrinya. "Terima kasih, Shishi." ​Liya tidak menyahut. Ia melangkah ke lemari kayu, mengambil setelan jubah tidur yang b

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 167

    Langit Desa Qing Lu yang biasanya biru jernih kini tertutup jelaga kelabu yang menyesakkan dada. Aroma kayu terbakar dan jerit histeris penduduk desa memecah keheningan siang. Long Xuan, dengan wajah yang tercoreng abu dan pakaian yang sudah basah kuyup, berdiri di tengah kekacauan, memerintah pasukannya dengan suara yang menggelegar namun tetap tenang. ​"Wan Yi, bawa beberapa orang! Bantu padamkan api di sebelah sana sebelum merembet ke lumbung!" teriak Xuan sambil menunjuk sebuah rumah di ujung jalan yang sudah dilalap si jago merah. ​"Siap, Ketua!" Wan Yi menyahut lantang, segera memimpin sekelompok pria berbaju gelap menuju rumah tersebut. Penduduk desa bahu-membahu dengan para bandit Gunung Yu, mengalirkan air dari sumur-sumur terdekat menggunakan ember kayu. ​Telinga Xuan yang tajam tiba-tiba menangkap suara lirih di tengah deru api. Sebuah teriakan melengking dari dalam rumah yang atap ilalangnya sudah hampir runtuh sepenuhnya. ​"Ketua, sangat berbahaya jika kita masuk se

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 166

    Liya terus mundur hingga punggungnya membentur batang bambu yang dingin dan licin. Parang di tangannya terlepas, jatuh ke atas tumpukan daun kering dengan suara dentang yang hambar. Ia menatap Long Xuan—pria yang semalam membanting cangkir di depannya—kini berdiri hanya beberapa jengkal darinya dengan pedang yang masih meneteskan darah babi hutan.​"Kenapa kau mundur?" tanya Long Xuan, suaranya kini tidak lagi menggelegar, namun justru terdengar berat.​Liya memalingkan wajah, matanya memanas. "Bukankah kau bilang tidak ingin berbicara denganku? Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan agar tidak perlu memintamu melakukan apa pun."​Long Xuan menghela napas kasar. Ia menyarungkan pedangnya dengan sentakan keras, lalu menatap tajam pada lima prajurit yang berdiri kikuk beberapa meter dari mereka. "Kalian berlima, potong bambu-bambu ini sesuai tanda yang dibuat Nyonya. Bawa semuanya ke dekat saluran air sungai sebelum matahari tepat di atas kepala!"​"Siap, Ketua!" Para prajurit itu

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 165

    Sinar matahari pagi menyusup melalui celah jendela kayu, menyentuh wajah Liya yang sembap. Ia mengerjapkan mata, mendapati sisi tempat tidur di sampingnya masih rapi dan dingin. Long Xuan benar-benar tidak kembali semalaman. Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar suara denting logam yang beradu dan teriakan komando yang tegas.​Liya menghela napas panjang. Ia tahu suaminya sedang menumpahkan seluruh kemarahannya pada latihan pedang di lapangan. "Setidaknya dia masih punya energi untuk berlatih," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menghibur hati yang lara.​Sebagai seorang istri yang terbiasa hidup mandiri dan praktis, Liya tak ingin berlarut dalam kesedihan. Ia sadar telah memicu prahara, namun ia juga tahu bahwa kebutuhan pangan di markas Gunung Yu tidak bisa menunggu kemarahan Xuan mereda. Dengan persediaan yang makin menipis, Liya telah merancang sistem hidroponik sederhana untuk membuat kebun sayur-mayur.​"Aku butuh saluran air untuk mengairi tanamannya. Bambu adalah kuncinya,"

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 164

    Cahaya lilin di sudut kamar pengobatan menari-nari ditiup angin yang menyelinap dari celah jendela. Suasana begitu hening, hanya interupsi napas Fan Yi yang berat dan tersengal yang sesekali memecah kesunyian. Xiao Cui masih duduk di sana, bahunya turun karena kelelahan, namun tangannya tak berhenti bergerak. ​Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia memeras kain putih ke dalam baskom kayu. Air di dalamnya kini tak lagi jernih; warnanya telah berubah menjadi merah pekat, sewarna dengan darah yang mencemari kesucian air tersebut. Ia menyeka sisa-sisa darah dan kotoran yang mengering di pundak serta dada Fan Yi, tubuh kaku yang biasanya selalu berdiri tegap melindunginya, kini terbaring tak berdaya. ​"Cepat sembuh, Tuan Kaku," bisik Xiao Cui, suaranya lembut dan nyaris hilang ditelan malam. ​Ia berhenti sejenak, memandangi wajah Fan Yi yang pucat pasi dalam tidurnya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh, menetes tepat di atas telapak tangan Fan Yi yang kasar. ​"Kalau k

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 50

    Larangan keras yang diteriakkan Long Xuan di selasar tadi bukannya membuat Liya surut, justru menjadi api yang menyulut rasa penasaran di dalam dadanya. Ada sesuatu yang tidak beres. Seorang panglima yang sanggup menahan tebasan pedang tanpa mengedipkan mata, tidak mungkin mengerang separah itu han

    last updateHuling Na-update : 2026-03-24
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 53

    Malam telah jatuh menyelimuti ibu kota. Liya melangkah keluar secara diam-diam, dari gerbang samping kediaman Long dengan pakaian yang lebih sederhana, kerudung tipis menutupi sebagian wajahnya. Ia sengaja tidak menggunakan kereta kuda berlogo keluarga Adipati; ia tidak ingin kepulangannya nanti me

    last updateHuling Na-update : 2026-03-24
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 44

    Kabut tipis menyelimuti kaki Gunung Lingyun saat fajar menyingsing, namun keriuhan di perkemahan Akademi Shin Yue sudah membuncah sejak pagi buta. Bagi para bangsawan dan pangeran yang hadir, ajang ini bukan sekadar kegiatan sekolah, melainkan panggung untuk memamerkan kemegahan serta status sosial

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 42

    Malam mulai turun di langit Baiyuan. Liya melangkah melintasi jembatan batu menuju Paviliun Phoenix dengan ekspresi sedingin es. Di tangannya, ia menggenggam perkamen dari Akademi Shin Yue, surat yang seharusnya membawa kabar gembira, namun bagi Liya, itu adalah beban tambahan di tengah kemelut rum

    last updateHuling Na-update : 2026-03-22
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status