Share

Bab 7

Author: Wei Yun
last update publish date: 2026-01-16 17:25:00

PLAK!

​Sebuah tamparan keras dari tangan besar Long Xuan mendarat tepat di pipi Liya. Kekuatan tamparan itu begitu besar hingga Liya terdorong ke belakang, menabrak meja kayu. Sudut bibirnya pecah, dan darah merah segar mulai mengalir turun ke dagunya.

​Liya memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut. Ia menatap Long Xuan dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan, campuran antara keterkejutan, kekecewaan, dan luka yang mendalam.

​"Murong Shi!! Sudah kubilang jangan sentuh ibuku!" Long Xuan berteriak tepat di depan wajah Liya, napasnya memburu karena amarah yang meledak. "Kau benar-benar wanita ular yang kejam! Kau ingin membalas dendam karena ibuku tidak menyukaimu, hingga kau berani mematahkan kakinya?!"

​Liya mencoba bicara, namun suaranya tercekat. "Tuan Adipati ... aku hanya ...."

​"Diam! Aku tidak ingin mendengar satu kata pun dari bibir busukmu itu!" Long Xuan menunjuk ke arah pintu. "Keluar dari sini! Pergi!"

​Setegar apa pun Song Liya di dunia modern, ia tetaplah manusia yang memiliki hati. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini tumpah membasahi pipinya yang bengkak. Ia tidak membela diri. Ia tidak menjawab. Dengan tangan yang masih memegangi sudut bibirnya yang berdarah, Liya berlari keluar dari kamar itu, melewati Xiao Cui yang menangis di depan pintu.

​Di dalam kamar, Tabib segera memeriksa kaki Nyonya Besar dengan sangat teliti. Long Xuan berdiri di sampingnya dengan wajah yang masih memerah karena marah.

​"Tabib, cepat periksa! Berapa banyak tulang ibuku yang Murong Shi patahkan?" tanya Long Xuan dengan suara parau.

​Tabib itu meraba pergelangan kaki Nyonya Besar, lalu mengerutkan kening. Ia menekan beberapa titik, namun Nyonya Besar tidak lagi berteriak kesakitan.

​"Nyonya Besar, coba gerakkan kaki Nyonya," perintah Tabib.

​Dengan ragu-ragu dan rasa takut, Nyonya Besar menggerakkan pergelangan kakinya. Beliau terdiam. "Lho ... sakitnya ... hilang?"

​"Hilang?" Long Xuan bertanya, bingung.

​"Hanya terasa sedikit ngilu, Xuan'er. Tapi rasa sakit yang seperti ditusuk-tusuk tadi sudah tidak ada," gumam Nyonya Besar dengan wajah heran.

Tabib itu menatap Nyonya Besar dan bertanya pelan, "Nyonya Besar, apa sebenarnya yang dilakukan Nyonya Muda tadi terhadap kaki Anda?"

​Nyonya Besar menjawab dengan suara pelan, "Dia hanya menyentuh kakiku sebentar, lalu terdengar suara krek, dan sesaat terasa sangat sakit sampai aku berteriak ...."

​Tabib itu mengangguk-angguk perlahan. "Tuan Adipati, posisi tulang Nyonya Besar tadi memang bergeser jauh. Jika tidak segera dikembalikan dengan teknik yang tepat, Nyonya Besar bisa cacat. Apa yang dilakukan Nyonya Muda ... itu adalah teknik manipulasi tulang yang sangat ahli. Beliau mengembalikannya ke posisi semula dengan sangat sempurna."

​Suasana kamar seketika menjadi hening seperti kuburan.

Long Xuan menatap tangannya. Tangan yang seharusnya melindungi keluarganya, kini justru digunakan untuk melukai wanita yang, meskipun tidak ia cintai, adalah istrinya yang sah.

Ia teringat sorot mata Murong Shi sebelum wanita itu pergi. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak seperti biasanya. Yang ada hanyalah kekecewaan yang sunyi, sebuah tatapan yang seolah mengatakan bahwa wanita itu tidak lagi mengharapkan apa pun darinya.

​"Jadi ... dia tidak menyakiti Ibuku?" bisik Long Xuan dengan suara yang nyaris hilang.

​"Sebaliknya, Tuan Adipati," sahut Tabib. "Nyonya Muda baru saja menyelamatkan kaki Nyonya Besar."

​Hati Long Xuan bergejolak hebat. Rasa bersalah yang teramat sangat mulai merayap. Namun, egonya sebagai seorang Adipati Agung menahannya. Meminta maaf pada Murong Shi, wanita yang selama ini ia anggap sebagai beban, terasa seperti meruntuhkan seluruh martabatnya.

​Long Xuan memalingkan wajah, menyembunyikan kilat penyesalan di matanya.

Nyonya Besar Long berdehem pelan, memecah keheningan. "Xuan'er ... apakah tabib benar? Apakah wanita itu benar-benar menolongku?"

​Long Xuan tidak menjawab. Ia menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ibu, istirahatlah. Tabib akan menyiapkan ramuan untuk meredakan sisa nyerinya."

​"Tapi Xuan'er, pakaiannya tadi ... perilakunya yang tidak sopan ...." Nyonya Besar mencoba mencari pembenaran atas kebenciannya.

​"Cukup, Ibu," potong Long Xuan dengan suara rendah namun tegas. "Terlepas dari pakaiannya, dia melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh tabib ahli. Dan aku ... aku telah bertindak gegabah."

​Long Xuan berbalik dan melangkah keluar tanpa pamit. Pikirannya kacau. Sebagai seorang jenderal dan Adipati, ia selalu dilatih untuk bertindak cepat dan tegas di medan perang. Namun, di dalam rumah tangganya sendiri, ketegasannya justru menjadi senjata yang salah sasaran.

Liya memacu langkahnya seolah-olah hantu sedang mengejarnya. Udara pagi yang segar di kediaman Adipati Xuan kini terasa beracun, mencekik paru-parunya. Air mata yang sempat tumpah tadi sudah mengering.

​"Kurang ajar," desis Liya di antara napasnya yang memburu. "Benar-benar kurang ajar."

​Hatinya berdenyut nyeri, sebuah rasa sakit yang aneh dan tidak masuk akal. Sebagai Song Liya di dunia modern, ia pernah menghadapi berbagai tekanan; mulai dari murid yang nakal hingga surat skorsing dari Kepala Sekolah Liu yang kaku.

Namun, mengapa tamparan dan cacian Long Xuan barusan terasa ribuan kali lebih menyakitkan daripada kehilangan pekerjaan?

​"Nyonya! Tunggu Xiao Cui, Nyonya!" Suara Xiao Cui pecah di belakangnya. Gadis itu setengah berlari, tersengal-sengal dengan air mata yang masih membanjiri wajahnya yang cemas.

​Liya tidak berhenti hingga ia melewati ambang pintu Paviliun Anggrek. Ia masuk ke dalam kamar, mencopot tusuk konde gioknya dengan kasar hingga rambutnya tergerai berantakan.

​"Xiao Cui! Berhenti menangis!" bentak Liya, suaranya parau namun tegas.

​Xiao Cui terlonjak, seketika membungkam isakannya meskipun bahunya masih terguncang. "Maaf, Nyonya ... Xiao Cui hanya ... hati hamba sakit melihat Tuan Adipati melakukan itu pada Nyonya."

​"Hati yang sakit tidak akan menyembuhkan pipiku," ujar Liya sambil duduk di depan cermin perunggu. Ia menatap pantulannya sendiri. Pipi kanannya memerah hebat, berubah menjadi ungu kebiruan, dan sudut bibirnya masih menyisakan bekas darah kering. "Bawakan aku air dingin dan kain bersih. Sekarang!"

​"Baik, Nyonya! Segera!" Xiao Cui bergegas keluar.

​Liya menyentuh pipinya dengan ujung jari, lalu meringis kesakitan. Sorot matanya yang biasanya penuh selera humor kini berubah menjadi dingin dan tajam seperti mata belati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Cynta
aahh.. suka banget ceritanya.. 🫶
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 151

    Debu jalanan masih berterbangan saat deru kaki kuda pasukan Beiyuan berhenti mendadak di depan penginapan. Long Xuan melompat turun dari kudanya dengan tergesa. Jantungnya bertalu hebat, seirama dengan firasat buruk yang kini terbukti di depan mata.​Pemandangan di depannya adalah neraka yang membeku; keheningan yang mencekam menyelimuti halaman yang kini dipenuhi mayat-mayat bergelimpangan dengan luka sabetan yang mengerikan. Aroma amis darah menyeruak, memenuhi udara malam yang dingin.​"Shishi! Na Ying!" teriak Xuan, suaranya pecah membelah kesunyian.​Langkahnya menerjang masuk ke dalam lobi yang hancur berantakan. Kursi dan meja kayu hancur berkeping-keping, guci porselen pecah berserakan di lantai yang kini licin oleh cairan merah. Ia mengabaikan mayat-mayat penyerbu yang tewas di tangan Na Ying. Matanya liar menyisir setiap sudut, jantungnya berdegup kencang oleh ketakutan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.​"Cari Nyonya Adipati! Geledah setiap jengkal tempat ini! Ja

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 150

    Kegelapan seketika menyergap kamar penginapan itu saat Na Ying menjentikkan kepingan logam kecil dari sakunya, memadamkan sisa lilin yang menyala dengan presisi maut. Di bawah cahaya rembulan yang tipis, Liya bisa menyaksikan gerak-gerik mertuanya yang begitu taktis dan efisien. ​"Shishi, lekas!" bisik Na Ying rendah, napasnya sedikit tertahan guna meredam perih yang menghunjam punggungnya. ​Dengan ketangkasan yang lahir dari desakan rasa takut, Liya membantu Na Ying menyusun bantal-bantal di balik selimut sutra. Dalam keremangan, gundukan itu tampak identik dengan dua insan yang tengah terlelap. Begitu umpan terpasang, Na Ying mencengkeram lengan Liya, menariknya mendekati ambang pintu kamar. ​BRAAAK!!! ​Tepat saat daun pintu terkatup rapat di belakang mereka, suara jendela kamar didobrak dari luar terdengar memekakkan telinga. Derap langkah kaki yang berat menghujam lantai kayu, disusul desingan tajam mata pedang yang menghujam bantal-bantal kosong di atas ranjang. ​"Mereka sud

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 149

    Cahaya fajar perlahan melalui celah jendela kayu, menyentuh permukaan kulit Liya yang halus. Kesadarannya terjaga saat merasakan hembusan napas hangat yang teratur menyapu keningnya, diikuti sebuah kecupan lembut yang mendarat lama di bibirnya. ​Liya membuka mata, mendapati wajah Long Xuan hanya berjarak seujung kuku darinya. Namun, ia terkesiap melihat penampilan suaminya. Tidak ada lagi jubah sutra megah dengan sulaman naga atau baju zirah perak yang berkilau; yang ada hanyalah pakaian kasar dari serat rami yang kusam, ikat kepala kain kumal, dan corengan jelaga di rahang tegasnya.​"Xuan?" bisik Liya parau, suaranya serak khas orang baru bangun tidur. "Kau ... kau sudah akan pergi?"​"Waktunya tiba, Shishi," jawab Xuan dengan suara rendah. Ia mengelus pipi istrinya dengan jemari yang kasar.​Liya segera bangkit, duduk di tepi ranjang sementara jemarinya meraba kain rami yang dikenakan Xuan. Ia memandangi suaminya dari ujung kepala hingga kaki. "Penyamaranmu ... kau terlihat sangat

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 148

    Liya berdiri mematung di lorong penginapan yang remang, menatap punggung suaminya yang kian menjauh dan menghilang di balik kegelapan tangga. Hatinya seperti diremas melihat kehancuran di mata Xuan. Isak tangis dari dalam kamar memanggilnya kembali; Na Ying sedang meratap, sebuah suara yang sarat akan penyesalan yang terlambat.​Liya masuk kembali dan mendapati Na Ying berusaha duduk, tangannya mencengkeram kain seprai. Wajahnya yang pucat kini basah oleh air mata yang tak terbendung.​"Dia membenciku, Shishi ... Dia benar-benar membenciku," isak Na Ying parau. "Setiap kata yang ia ucapkan ... semuanya benar. Aku adalah seorang pengecut."​Liya duduk di tepi ranjang, merangkul bahu wanita yang gemetar itu. "Dia tidak membencimu, Na Ying. Dia hanya sedang terluka. Seluruh dunianya baru saja terbalik. Bayangkan, pria yang dibesarkan untuk menjadi pedang Beiyuan kini mengetahui bahwa selama ini darah yang ia perangi adalah darahnya sendiri.""Tapi aku punya alasan yang kuat!" Na Ying men

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 147

    Xuan mengembuskan napas panjang dengan kasar, sebuah geraman frustrasi tertahan di tenggorokannya. Untuk kesekian kalinya, ia harus menelan kembali gairah yang sudah di ujung tanduk karena gangguan yang tak terduga. ​Liya, yang masih berada di pelukan Xuan, menatap wajah suaminya yang nampak kesal dengan binar jenaka. Ia memberikan senyum meledek, menyadari bahwa suaminya sedang berjuang keras menekan hasrat yang masih terjebak di dalam dirinya. ​"Jangan menertawakanku, Shishi," bisik Xuan parau, matanya masih berkilat gelap. ​Liya terkekeh kecil, lalu mengecup hidung Xuan. "Aku tidak tertawa, Xuan. Hanya saja ... sepertinya semesta memang sedang menguji kesabaran sang Adipati Beiyuan malam ini." ​Xuan memejamkan mata sejenak, mencoba menstabilkan degup jantungnya. Ia memberi kode melalui gerakan kepala agar Liya segera bangkit dan memenuhi panggilan Na Ying. Sebelum benar-benar keluar dari bak mandi, Liya sempat mengecup bibir suaminya dengan ringan, sebuah kecupan manis yang seo

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 146

    "Xuan!!" Liya terpekik, air mawar yang semula tenang kini bergelombang hebat akibat gerakannya yang tiba-tiba. Wajahnya yang semula pucat karena kelelahan, seketika berubah merah padam hingga ke telinga.​Long Xuan sudah berada di dalam bak kayu besar itu. Tubuhnya yang kokoh dan penuh otot tampak berkilau tertimpa cahaya lilin yang temaram. Ia tidak mengenakan sehelai benang pun. Tatapannya yang tadi dingin saat menyusun strategi dengan Lu Chen, kini berubah menjadi gelap dan intens, penuh dengan kerinduan yang tak tertahankan.​"Sst ... jangan berteriak, Shishi. Kau ingin seluruh pasukan Beiyuan mendobrak pintu ini karena mengira ada penyusup?" bisik Xuan, suaranya serak dan rendah, bergetar tepat di depan wajah Liya.​"Kau ... sejak kapan kau masuk?" Liya bertanya dengan napas terengah-engah, tangannya secara refleks menutupi dadanya yang terekspos, meski ia tahu itu sia-sia di hadapan suaminya sendiri.​Xuan terkekeh rendah, suara yang terdengar sangat maskulin dan penuh dominasi.

  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 85

    Kereta kuda yang membawa Song Liya kembali ke Kediaman Long berguncang pelan di atas jalanan berbatu. Di dalamnya, suasana terasa mencekam, bukan karena ancaman luar, melainkan karena rencana yang sedang disusun Liya di dalam kepalanya. Di depannya, Lu Chen duduk dengan posisi siaga, pengawal setia

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 71

    Gema kegaduhan di ruang kerja Chen Yuan perlahan surut seiring diseretnya Yue Ning oleh pasukan Balai Kota. Suasana Akademi Shin Yue kembali tenang, meski desas-desus di kalangan orang tua murid masih berdengung riuh di kejauhan, menguliti skandal yang baru saja terungkap. ​Long Xuan tidak membia

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 69

    Fajar baru saja menyingsing sepenuhnya saat Liya merapikan lipatan hanfu sutra di depan cermin. Hari ini, ia tidak memilih pakaian yang bersahaja. Sebaliknya, ia mengenakan gaun dengan potongan kerah yang sedikit lebih rendah dari biasanya, menonjolkan lekuk leher dan kemolekan dadanya yang penuh.

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Menukar Takdir Istri Sang Adipati   Bab 72

    Malam di Kediaman Long merayap penuh kesunyian. Di dalam Paviliun Anggrek, Liya tampak gelisah. Ia berjalan mondar-mandir di kamarnya, sesekali berhenti di depan jendela untuk menatap kegelapan di luar. Sudah hampir tengah malam, namun ia belum juga mendengar suara gerbang utama dibuka atau derap l

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status