LOGINPLAK!
Sebuah tamparan keras dari tangan besar Long Xuan mendarat tepat di pipi Liya. Kekuatan tamparan itu begitu besar hingga Liya terdorong ke belakang, menabrak meja kayu. Sudut bibirnya pecah, dan darah merah segar mulai mengalir turun ke dagunya. Liya memegangi pipinya yang terasa panas dan berdenyut. Ia menatap Long Xuan dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan, campuran antara keterkejutan, kekecewaan, dan luka yang mendalam. "Murong Shi!! Sudah kubilang jangan sentuh ibuku!" Long Xuan berteriak tepat di depan wajah Liya, napasnya memburu karena amarah yang meledak. "Kau benar-benar wanita ular yang kejam! Kau ingin membalas dendam karena ibuku tidak menyukaimu, hingga kau berani mematahkan kakinya?!" Liya mencoba bicara, namun suaranya tercekat. "Tuan Adipati ... aku hanya ...." "Diam! Aku tidak ingin mendengar satu kata pun dari bibir busukmu itu!" Long Xuan menunjuk ke arah pintu. "Keluar dari sini! Pergi!" Setegar apa pun Song Liya di dunia modern, ia tetaplah manusia yang memiliki hati. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini tumpah membasahi pipinya yang bengkak. Ia tidak membela diri. Ia tidak menjawab. Dengan tangan yang masih memegangi sudut bibirnya yang berdarah, Liya berlari keluar dari kamar itu, melewati Xiao Cui yang menangis di depan pintu. Di dalam kamar, Tabib segera memeriksa kaki Nyonya Besar dengan sangat teliti. Long Xuan berdiri di sampingnya dengan wajah yang masih memerah karena marah. "Tabib, cepat periksa! Berapa banyak tulang ibuku yang Murong Shi patahkan?" tanya Long Xuan dengan suara parau. Tabib itu meraba pergelangan kaki Nyonya Besar, lalu mengerutkan kening. Ia menekan beberapa titik, namun Nyonya Besar tidak lagi berteriak kesakitan. "Nyonya Besar, coba gerakkan kaki Nyonya," perintah Tabib. Dengan ragu-ragu dan rasa takut, Nyonya Besar menggerakkan pergelangan kakinya. Beliau terdiam. "Lho ... sakitnya ... hilang?" "Hilang?" Long Xuan bertanya, bingung. "Hanya terasa sedikit ngilu, Xuan'er. Tapi rasa sakit yang seperti ditusuk-tusuk tadi sudah tidak ada," gumam Nyonya Besar dengan wajah heran. Tabib itu menatap Nyonya Besar dan bertanya pelan, "Nyonya Besar, apa sebenarnya yang dilakukan Nyonya Muda tadi terhadap kaki Anda?" Nyonya Besar menjawab dengan suara pelan, "Dia hanya menyentuh kakiku sebentar, lalu terdengar suara krek, dan sesaat terasa sangat sakit sampai aku berteriak ...." Tabib itu mengangguk-angguk perlahan. "Tuan Adipati, posisi tulang Nyonya Besar tadi memang bergeser jauh. Jika tidak segera dikembalikan dengan teknik yang tepat, Nyonya Besar bisa cacat. Apa yang dilakukan Nyonya Muda ... itu adalah teknik manipulasi tulang yang sangat ahli. Beliau mengembalikannya ke posisi semula dengan sangat sempurna." Suasana kamar seketika menjadi hening seperti kuburan. Long Xuan menatap tangannya. Tangan yang seharusnya melindungi keluarganya, kini justru digunakan untuk melukai wanita yang, meskipun tidak ia cintai, adalah istrinya yang sah. Ia teringat sorot mata Murong Shi sebelum wanita itu pergi. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak seperti biasanya. Yang ada hanyalah kekecewaan yang sunyi, sebuah tatapan yang seolah mengatakan bahwa wanita itu tidak lagi mengharapkan apa pun darinya. "Jadi ... dia tidak menyakiti Ibuku?" bisik Long Xuan dengan suara yang nyaris hilang. "Sebaliknya, Tuan Adipati," sahut Tabib. "Nyonya Muda baru saja menyelamatkan kaki Nyonya Besar." Hati Long Xuan bergejolak hebat. Rasa bersalah yang teramat sangat mulai merayap. Namun, egonya sebagai seorang Adipati Agung menahannya. Meminta maaf pada Murong Shi, wanita yang selama ini ia anggap sebagai beban, terasa seperti meruntuhkan seluruh martabatnya. Long Xuan memalingkan wajah, menyembunyikan kilat penyesalan di matanya. Nyonya Besar Long berdehem pelan, memecah keheningan. "Xuan'er ... apakah tabib benar? Apakah wanita itu benar-benar menolongku?" Long Xuan tidak menjawab. Ia menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Ibu, istirahatlah. Tabib akan menyiapkan ramuan untuk meredakan sisa nyerinya." "Tapi Xuan'er, pakaiannya tadi ... perilakunya yang tidak sopan ...." Nyonya Besar mencoba mencari pembenaran atas kebenciannya. "Cukup, Ibu," potong Long Xuan dengan suara rendah namun tegas. "Terlepas dari pakaiannya, dia melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh tabib ahli. Dan aku ... aku telah bertindak gegabah." Long Xuan berbalik dan melangkah keluar tanpa pamit. Pikirannya kacau. Sebagai seorang jenderal dan Adipati, ia selalu dilatih untuk bertindak cepat dan tegas di medan perang. Namun, di dalam rumah tangganya sendiri, ketegasannya justru menjadi senjata yang salah sasaran. Liya memacu langkahnya seolah-olah hantu sedang mengejarnya. Udara pagi yang segar di kediaman Adipati Xuan kini terasa beracun, mencekik paru-parunya. Air mata yang sempat tumpah tadi sudah mengering. "Kurang ajar," desis Liya di antara napasnya yang memburu. "Benar-benar kurang ajar." Hatinya berdenyut nyeri, sebuah rasa sakit yang aneh dan tidak masuk akal. Sebagai Song Liya di dunia modern, ia pernah menghadapi berbagai tekanan; mulai dari murid yang nakal hingga surat skorsing dari Kepala Sekolah Liu yang kaku. Namun, mengapa tamparan dan cacian Long Xuan barusan terasa ribuan kali lebih menyakitkan daripada kehilangan pekerjaan? "Nyonya! Tunggu Xiao Cui, Nyonya!" Suara Xiao Cui pecah di belakangnya. Gadis itu setengah berlari, tersengal-sengal dengan air mata yang masih membanjiri wajahnya yang cemas. Liya tidak berhenti hingga ia melewati ambang pintu Paviliun Anggrek. Ia masuk ke dalam kamar, mencopot tusuk konde gioknya dengan kasar hingga rambutnya tergerai berantakan. "Xiao Cui! Berhenti menangis!" bentak Liya, suaranya parau namun tegas. Xiao Cui terlonjak, seketika membungkam isakannya meskipun bahunya masih terguncang. "Maaf, Nyonya ... Xiao Cui hanya ... hati hamba sakit melihat Tuan Adipati melakukan itu pada Nyonya." "Hati yang sakit tidak akan menyembuhkan pipiku," ujar Liya sambil duduk di depan cermin perunggu. Ia menatap pantulannya sendiri. Pipi kanannya memerah hebat, berubah menjadi ungu kebiruan, dan sudut bibirnya masih menyisakan bekas darah kering. "Bawakan aku air dingin dan kain bersih. Sekarang!" "Baik, Nyonya! Segera!" Xiao Cui bergegas keluar. Liya menyentuh pipinya dengan ujung jari, lalu meringis kesakitan. Sorot matanya yang biasanya penuh selera humor kini berubah menjadi dingin dan tajam seperti mata belati.Matahari pagi menyusup malu-malu di balik jendela kayu Kediaman Long, membawa kehangatan yang sudah lama tidak dirasakan oleh dinding-dinding rumah besar ini. Suasana ruang makan yang biasanya sunyi dan kaku, kini berubah total. Gelak tawa kecil dan denting sumpit yang beradu dengan mangkuk porselen menciptakan simfoni kehidupan yang baru.Di kepala meja, Nyonya Besar Long duduk dengan keanggunan yang kembali memancar dari wajahnya. Guratan-guratan kesedihan yang selama bertahun-tahun mengukir wajahnya seolah sirna dalam semalam, digantikan oleh binar kebahagiaan yang tulus. Di sampingnya, si kecil Long Yuan sibuk mengunyah kue beras dengan pipi yang menggembung, sesekali tertawa saat Xiao Cui menyeka sisa makanan di sudut bibirnya.Mereka semua baru saja tiba kembali di Kediaman Long kemarin, setelah Long Xuan menjemput mereka dari Gunung Yu.Hari ini, aturan ketat tentang kasta dan pelayan dilebur atas perintah Long Xuan. Di meja makan panjang itu, Fan Yi dan Xiao Cui duduk ber
Ketakutan yang tiba-tiba menyergap membuat senyum di bibir Liya mendadak kaku. Bayangan kelam tentang penyakit darah iblis yang kini mengalir di dalam darahnya seolah bangkit, menjadi kabut tebal yang mendadak menutupi kebahagiaannya. Ia tahu betul bagaimana kutukan itu bekerja—rasa sakit yang menyiksa, hilangnya kesadaran, dan haus darah yang mengerikan. Bagaimana jika janin suci ini harus menanggung beban kutukan yang sama?Ia dan Long Xuan sudah mengetahui cara mengatasi sat kambuh walau belum mendapatkan obatnya. Namun bagaimana jika anaknya nanti muncul sakitnya. Apa yang harus ia lakukan.Long Xuan, yang selalu peka terhadap setiap perubahan ekspresi istrinya, menyadari binar kebahagiaan di mata Liya yang mendadak meredup. Ia mengusap pipi Liya yang masih agak dingin dengan ibu jarinya."Shishi, ada apa? Mengapa wajahmu mendadak sedih?" tanya Long Xuan dengan nada rendah, penuh perhatian.Liya memaksakan sebuah senyuman, menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Xuan. Aku hanya ...
Suasana sepi di koridor menuju Paviliun Anggrek seketika pecah saat beberapa pelayan yang membawa nampan berisi teh melintas. Begitu melihat sesosok wanita terkapar tak sadarkan diri di atas lantai batu, salah satu dari mereka menjerit histeris hingga nampan di tangannya jatuh berdentang nyaring."Nyonya Besar! Astaga, Nyonya Besar!"Kepanikan meluas dalam hitungan detik. Beberapa pengawal anak buah Zhang Yu yang berjaga di perimeter luar segera berlari masuk. Di antara kekacauan itu, Fan Yi yang kebetulan sedang berpatroli langsung bergegas mendekat. Wajah Fan Yi itu seketika pucat pasi melihat Liya yang terpejam rapat dengan wajah seputih kertas."Nyonya! Minggir kalian semua!" teriak Fan Yi, langsung berlutut dan memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Liya. Denyutnya terasa cepat namun sangat lemah. Tanpa membuang waktu, ia mengangkat tubuh sang Nyonya Besar ke dalam gendongannya. "Cepat panggil Tabib Utama ke kamar di Paviliun Anggrek! Sekarang!"Berita pingsannya Liya m
Langkah kaki Liya bergema pelan di sepanjang koridor kediaman Keluarga Long. Tempat ini dahulunya adalah pusat kejayaan keluarga suaminya, tempat tinggalnya, sebelum akhirnya direbut secara paksa dan dikuasai oleh Murong Guan dengan cara yang licik. Kini, setelah Murong Guan tumbang, atmosfer mencekam di dalam kediaman megah itu perlahan mulai terkikis, berganti dengan kesunyian yang asing. Liya berjalan menuju Paviliun Phoenix, tempat tinggal dan bekerja masa lalu milik Long Xuan yang selama masa pendudukan digunakan oleh Murong Guan sebagai ruang pribadinya. Saat jemari lentiknya mendorong pintu kayu yang tebal, pemandangan di dalam kamar membuat Liya menghentikan langkah sejenak. Bentuknya sudah berubah sama sekali. Tirai-tirai sutra berwarna hijau tua khas kamar suaminya telah diganti dengan kain-kain beludru merah marun yang mencolok dan beraroma dupa gaharu yang pekat. Perabotan kayu cendana yang dulu sederhana namun kokoh, kini digantikan oleh meja-meja berlapis emas dan uk
Dengan satu gerakan yang bertenaga namun penuh perhitungan, Liya mendorong bahu Long Xuan hingga pria itu kembali telentang di atas dipan, lalu ia bergerak cepat menaiki tubuh suaminya, mengungkungnya dari atas.Long Xuan meringis sedikit saat punggungnya membentur kayu dipan, namun seringai jenaka justru kembali terukir di bibirnya. Hanfu sutra milik Liya yang sudah agak longgar kini tersingkap di bagian bahu, menampilkan kulit putihnya yang sehalus porselen di bawah temaram lampu minyak. Atmosfer di dalam ruangan seketika berubah menjadi begitu pekat, sarat akan ketegangan intim yang memabukkan."Kau berani menantangku dalam kondisi seperti ini, Shishi?" bisik Long Xuan.Sepasang tangannya yang kekar langsung naik dan mencengkeram pinggang ramping Liya dengan posesif, bersiap untuk menarik wanita itu ke dalam dekapannya yang lebih dalam. Gairah yang meletup-letup setelah lolos dari maut seolah memberinya energi tambahan yang tak terbendung. Pusaka di bawah sana yang mulai menega
Di dalam ruang area Balai Kota, suasana mendadak sibuk—bukan karena kondisi darurat medis, melainkan karena sebuah rencana usil yang mendadak melintas di kepala Sang Ketua Gunung Yu. Long Xuan, yang dadanya baru saja selesai dibalut kain, tiba-tiba menegakkan punggungnya saat seorang pasukan berlari masuk dan melapor bahwa Nyonya Besar sedang menuju ke sana dengan wajah pucat pasi. Sepasang mata Long Xuan yang tadinya redup karena letih, mendadak berkilat jenaka. "Fan Yi, Su Lang, kemari kalian," panggil Long Xuan setengah berbisik, menahan ringisan di dadanya. "Ada apa, Ketua? Apakah lukanya kembali robek?" tanya Fan Yi panik, langsung mendekat dengan wajah tegang. "Tidak. Istriku sedang menuju ke mari," ujar Long Xuan dengan seringai kecil di sudut bibirnya. "Aku ingin melihat seberapa besar dia mencintaiku. Aku akan berpura-pura mati. Kalian berdua, bersandiwara seolah-olah aku sudah tiada. Pasang wajah paling merana yang kalian bisa." Su Lang terbelalak, hampir saja menj
Di tengah remang cahaya lilin yang kian meredup, Lu Chen berdiri mematung dengan kepala menunduk dalam. Suaranya terdengar datar namun tajam saat menyampaikan laporan yang dibawanya."Tuan Adipati," Lu Chen memulai, suaranya merendah. "Hamba menerima informasi dari seorang informan yang sangat te
Begitu selesai mengantarkan Long Yuan ke akademi Shin Yue, Liya memutuskan untuk tidak langsung pulang. Ia butuh ruang untuk bernapas, sebuah tempat di mana statusnya sebagai istri yang terabaikan tidak lagi relevan. Dengan suara tegas, ia memerintahkan kusir untuk memacu kereta menuju pasar dist
Setelah pemeriksaan berakhir, meskipun kehangatan fajar telah menyentuh kulitnya, Liya merasa atmosfer di ruangan itu mulai menyempit. Baginya, Paviliun Phoenix adalah singgasana yang terlalu megah sekaligus mengintimidasi."Aku sudah jauh lebih baik, Xuan. Suhu tubuhku sudah normal sepenuhnya. Ta
Fajar baru saja menyingsing sepenuhnya saat Liya merapikan lipatan hanfu sutra di depan cermin. Hari ini, ia tidak memilih pakaian yang bersahaja. Sebaliknya, ia mengenakan gaun dengan potongan kerah yang sedikit lebih rendah dari biasanya, menonjolkan lekuk leher dan kemolekan dadanya yang penuh.







