LOGINSetelah menyelesaikan sarapan yang penuh ketegangan, Liya melangkah menuju paviliun utama. Ia membawa sebuah mangkuk keramik berisi potongan buah-buahan segar yang telah ia siapkan sendiri.
"Nyonya, apakah Nyonya yakin?" bisik Xiao Cui dengan wajah cemas. "Tuan Adipati ada di sana. Jika Nyonya Besar sedang suasana hati yang buruk, Nyonya hanya akan menjadi sasaran kemarahan." "Tenanglah, Xiao Cui. Aku tidak pergi untuk mencari keributan. Aku hanya menjalankan kewajiban sebagai menantu. Jika aku tidak muncul saat mertuaku sakit, itu hanya akan memberi mereka alasan lebih untuk mengusirku." sahut Liya tenang. Dengan langkah tenang namun tegas, Liya berjalan menuju kamar Nyonya Besar. Begitu ia melangkah masuk ke kamar Nyonya Besar, Liya melihat Long Xuan sudah berada di sana, duduk di tepi ranjang ibunya. Nyonya Besar tampak bersandar pada sisi ranjang dengan wajah yang meringis kesakitan. "Salam, Ibu Mertua," ucap Liya sambil membungkuk anggun. Ia menaruh mangkuk buah itu di meja samping ranjang. Mata Nyonya Besar yang sembab segera menyipit tajam begitu melihat sosok Liya. "Berani sekali kau muncul di hadapanku dengan pakaian seperti itu? Apa kau mencoba merayu pelayan laki-laki di rumah ini dengan kerah baju serendah itu? Sungguh tidak tahu malu!" Liya menarik napas panjang, menjaga suaranya tetap datar. "Ini pakaian yang nyaman untuk bergerak, Ibu Mertua. Di cuaca yang lembap ini, pakaian berlapis-lapis hanya akan menghambat aliran udara. Pagi ini aku membawakan buah-buahan segar untuk mendinginkan suhu tubuh Ibu agar merasa lebih baik." Nyonya Besar mendengkus, mengalihkan pandangannya pada putranya dengan dramatis. "Xuan'er, lihat istrimu! Kontrol dia! Jangan biarkan dia berpakaian sembarangan dan mempermalukan nama keluarga Long. Apa kau tidak punya wibawa lagi di matanya?" Long Xuan hanya diam, matanya beralih ke kaki ibunya yang membengkak di balik selimut. Ternyata, Nyonya Besar terkilir saat hendak turun dari tempat tidur pagi tadi. Long Xuan sedang mengoleskan minyak penghangat dengan hati-hati. "Aduh! Pelan-pelan, Xuan'er! Sakit sekali! Kau seperti ingin meremukkan kakiku!" Nyonya Besar mengaduh kencang, air mata mulai menggenang di sudut matanya yang keriput. Liya mendekat, matanya yang terlatih sebagai instruktur olahraga segera mengenali posisi kaki tersebut. Ia tahu ini bukan sekadar terkilir biasa. "Ibu Mertua, jika hanya diolesi minyak, rasa sakitnya tidak akan hilang. Ada tulang yang bergeser sedikit dari posisinya. Minyak hangat justru akan memperparah peradangan jika tidak dikembalikan dulu posisinya." "Apa tahu apa kau tentang tulang? Kau hanya putri pejabat yang dimanja, bukan tabib!" bentak Nyonya Besar di sela rintihannya. Liya menatap Long Xuan. "Biarkan aku mencoba melihatnya." Long Xuan segera menahan tangan Liya sebelum sempat menyentuh ibunya. Sorot matanya dingin dan menusuk. "Cukup, Murong Shi! Kau hanya akan memperparah lukanya dengan tangan kasarmu itu." "Tapi Xuan, aku tahu cara mengembalikannya—" "Kubilang berhenti!" potong Long Xuan dengan suara yang menggelegar. "Keluar jika kau hanya ingin pamer kepintaran yang tidak berguna!" Rasa sakit Nyonya Besar tampaknya mencapai puncaknya. Beliau mulai menangis histeris, tubuhnya gemetar karena syok rasa sakit. Long Xuan panik. Sebagai panglima perang, ia terbiasa melihat darah di medan tempur, tapi melihat ibunya sendiri menderita seperti ini membuatnya kehilangan arah. "Ibu, bertahanlah! Aku akan memanggil Tabib sekarang juga! Xiao Cui, jaga ibuku!" Long Xuan berdiri dengan terburu-buru. Sebelum keluar, ia menunjuk Liya dengan jari telunjuknya yang kuat. "Jangan sentuh ibuku sejangkal pun! Jika terjadi sesuatu padanya saat aku kembali, kau akan menerima konsekuensinya." Begitu langkah kaki Long Xuan menghilang di lorong, suasana kamar menjadi sunyi, hanya diisi oleh isak tangis Nyonya Besar yang tersengal-sengal. Liya melihat wajah mertuanya mulai memucat karena menahan sakit yang luar biasa. "Ibu Mertua, dengarkan aku," ucap Liya lembut namun penuh otoritas. Ia mendekati ranjang meskipun Nyonya Besar mencoba menjauh. "Jika menunggu tabib, bengkaknya akan mengunci sendi itu. Aku akan membantumu sekarang." "Jangan mendekat! Pergi kau, menantu sialan!Kau ingin membunuhku, kan?" teriak Nyonya Besar sambil mencoba menjauhkan kakinya. Liya tidak menghiraukan makian itu. Ia tahu dalam medis, kecepatan adalah kunci. Dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi, ia menyibakkan selimut dan mencengkeram pergelangan kaki serta tumit mertuanya. Jemarinya meraba bagian yang menonjol di pergelangan kaki. "Tahan sebentar, Ibu Mertua. Maafkan aku, ini akan terasa sangat sakit untuk sedetik saja." "Jangan! Apa yang kau—AAARRGGHHH!" KREKKK! Suara patahan tulang yang kembali ke posisinya terdengar jelas di ruangan itu. Nyonya Besar menjerit histeris hingga suaranya menggelegar ke seluruh paviliun, lalu beliau jatuh pingsan sesaat karena syok rasa sakit yang luar biasa. Mendengar jeritan mengerikan ibunya, Long Xuan yang baru saja sampai di depan pintu bersama Tabib langsung mendobrak masuk. Ia melihat ibunya terbaring lemas dengan wajah pucat, sementara Liya berdiri terdiam di samping ranjang dengan tangan yang masih gemetar. Liya berusaha untuk tetap tenang. "Apa yang kau lakukan?!" raung Long Xuan. Tepat saat itu, Nyonya Besar mulai sadar. Beliau yang masih dalam kondisi linglung dan hanya mengingat rasa sakit luar biasa tadi, menunjuk Liya dengan tangan gemetar. "Dia ... dia sengaja menyakitiku ... Xuan'er ... kakiku." Long Xuan menatap tajam Murong Shi dengan penuh kemarahan. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal menahan emosi yang semakin memuncak.Suasana di ruang makan utama kediaman Murong terasa lebih dingin daripada salju yang turun di Beiyuan. Lilin-lilin besar yang menyala di dinding perak seolah tidak mampu mengusir kebekuan yang merayap di meja panjang itu. Liya duduk tegak, tangannya melipat di bawah meja, sementara indranya menangkap setiap getaran intimidasi yang diarahkan kepadanya. Murong Guan, ayahnya, menyesap supnya perlahan sebelum meletakkan sendok dengan denting porselen yang tajam. "Kudengar Toko Kain Qing Fen di distrik timur sedang naik daun," suara Murong Guan memecah kesunyian. Matanya yang setajam elang menatap Liya tanpa berkedip. "Bagaimana Long Xuan? Apakah sang Adipati yang kaku itu mendukung ambisi istrinya berdagang seperti rakyat jelata?" Liya tersentak. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena kesadaran yang menghantamnya. Bagaimana dia bisa tahu? Selama ini, ia yakin usahanya di Beiyuan dilakukan dengan rapi dan tanpa diketahui keluarga Murong. Firasatnya yang sel
Roda kereta kuda berderit pelan saat melintasi batas wilayah Changxu, meninggalkan bentang tanah Beiyuan. Liya menyingkap tirai sutra, menatap deretan prajurit berseragam biru tua dengan lencana ombak sungai yang kini mengawal jalannya. Inilah pasukan keluarga Murong, simbol kedigdayaan sang penguasa jalur sungai yang tak tertandingi.Perjalanan menuju kediaman utama Murong memakan waktu hampir setengah hari. Menjelang senja, kereta akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang megah. Tidak ada riuh sambutan; suasana begitu sunyi seolah kepulangannya adalah rahasia yang tak perlu dirayakan. Hanya seorang pelayan tua yang membungkuk khidmat, membantu menurunkan barang-barang menuju sebuah paviliun yang letaknya agak terisolasi dari bangunan utama, satu sudut tempat Murong Shi menghabiskan masa gadisnya.Liya mengamati sekeliling dengan saksama. Kediaman ini sangat mewah dan impresif, hampir menandingi keagungan Keluarga Long. Sesampainya di Paviliun tempat tinggalnya semasa gadisnya, ia
Di sebuah paviliun yang seolah melayang di atas hamparan awan Gunung Lu, Penasihat Istana Bao Cheng menuangkan teh dengan gerakan yang sangat terukur. Uap panas mengepul tipis, mengantarkan aroma melati kelas atas ke hadapan tamunya, Murong Guan.Bao Cheng menyunggingkan senyum tipis, jenis lengkungan bibir yang tak pernah menyentuh binar matanya. "Kaisar sedang diliputi kegelisahan, Tuan Murong. Beliau tidak menyukai kabar yang berembus dari Beiyuan belakangan ini."Murong Guan melemparkan tatapan tajam, menembus ketenangan semu sang penasihat. "Jelaskan makna di balik ucapanmu itu, Penasihat Bao.""Rencana awal kita mengirim putrimu ke Beiyuan adalah untuk menjadi beban, pengalih perhatian, dan jika memungkinkan, melumpuhkan pengaruh Adipati Beiyuan dari dalam. Namun, apa yang terjadi sekarang? Distrik Timur bangkit, pasar tradisional menjelma menjadi episentrum ekonomi baru, dan rakyat Beiyuan kini memuja nama klan Long lebih dari sebelumnya."Murong Guan menyesap tehnya dengan
Angin sore di tepian Danau Beiyuan berembus membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa amis darah yang mulai memudar. Di bawah sebuah pohon willow tua, sebuah gundukan tanah baru berdiri sunyi. Na Ying dan Liya baru saja menyelesaikan pemakaman sederhana untuk Bibi Wan. Tidak ada nisan mewah, hanya tumpukan batu alam sebagai tanda bahwa seorang tabib hebat telah beristirahat di sana. Kereta kuda sewaan Liya yang membawanya tadi telah lenyap, kemungkinan besar kusirnya melarikan diri karena ketakutan saat melihat komplotan berpakaian hitam menyerang. "Naiklah ke kudaku," perintah Na Ying singkat sembari menuntun tunggangannya. Suaranya kembali dingin, namun ada gurat kelelahan yang tak bisa disembunyikan di balik cadarnya. Liya menurut, namun sebelum ia menginjakkan kaki di sanggurdi, ia menahan lengan Na Ying. Jantungnya berdegup kencang. Rahasia yang ia simpan sejak semalam terasa menyumbat tenggorokannya. Ia tahu, momen ini mungkin tidak akan datang dua kali. "Kak Na, tunggu se
Parang tajam itu hanya berjarak beberapa milimeter dari kulit leher Liya ketika sebuah deru kencang membelah kesunyian. Suara derap kaki kuda yang dipacu membabi buta mendekat, dibarengi teriakan melengking yang menggetarkan nyali."Lepaskan dia dan menyerahlah, tikus-tikus menjijikkan!"Sesosok bayangan melesat dari punggung kuda yang masih berlari. Wanita itu mengenakan cadar hitam dan caping bambu yang menutupi wajahnya, namun aura maut yang ia bawa tak bisa disembunyikan. Ia mendarat dengan ringan, pedangnya langsung berdenting, menebas udara dalam gerakan busur yang mematikan."Nyonya Bandit Gunung Yu!" seru salah satu penyergap dengan nada gentar. "Na Ying!"Na Ying tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan serangan yang lebih buas. Meski ia melawan para pembunuh yang terlatih, ilmu bela diri pimpinan bandit itu berada pada tingkatan yang berbeda. Setiap ayunan pedangnya presisi, mematahkan pertahanan dan melukai titik vital. Dalam waktu singkat, tiga orang tersungku
Pagi itu, denting sumpit yang beradu dengan porselen menjadi satu-satunya melodi yang mengisi ruang makan kediaman Keluarga Long. Long Xuan duduk dengan punggung tegak, wajahnya sedingin marmer, tak sekalipun melirik ke arah istrinya. Begitu suapan terakhir selesai, ia langsung berdiri tanpa sepatah kata pun, meninggalkan aroma dingin yang tertinggal di udara saat jubah hitamnya menghilang di balik pintu. Liya tetap diam, menatap uap teh yang perlahan menghilang dari cangkirnya. Pikirannya tidak sedang meratapi sikap dingin suaminya yang tiba-tiba itu. Sebaliknya, ada setitik rasa syukur yang muncul. Baguslah kalau dia mengabaikanku, batin Liya. Setidaknya, kecurigaannya tidak akan membayangi langkahku hari ini. Fokus Liya sekarang adalah satu yaitu Nenek Tabib dan janji obat untuk Long Xuan. Ia tahu, waktunya tidak banyak. Setelah Liya memastikan Long Xuan telah berangkat ke Balai Kota dan Long Yuan sudah aman di sekolah, dengan penyamaran sederhana dan kereta kuda sewaan yang







