Share

bab 4

“Benar. Buk, tapi Ibu Putri tidak perlu khawatir karena penumpangnya semua selamat, dan dalam keadaan baik-baik saja.” Ujar guru yang mendampingi Aldo dalam mengikuti kompetisi.

“Alhamdulillah. Syukurlah, Buk. Jika tidak ada korban jiwa.” Bagai terlepas dari himpitan batu besar.

“Bagaimana dengan kompotisi Aldo?” Tanya ku.

“Kami terpaksa menyewa angkutan umum untuk melanjutkan perjalanan. Karena bus sekolah yang kami tumpangi tidak bisa lagi melanjutkan perjalanan.”

“Seperti itu lebih baik.”

“Saya tutup dulu Bu teleponnya. Saya harus menghubungi wali murid yang lain.”

“Iya. Buk. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Sibuk berkutat dengan pekerjaan rumah, aku tidak mendengar panggilan dari mas Alfi.

Usai melakukan tugas harianku, aku memilih berbaring di sofa untuk melanjutkan pekerjaanku. Pekerjaan yang menghasilkan cuan. Karena aku harus bisa berdiri di atas kaki sendiri, tanpa mengharap kepada mas Alfi.

Benar apa kata para emak-emak, pekerjaan yang tidak pernah ada hari libur, ataupun tanggal merah ialah menjadi ibu rumah tangga. Namun betapa sering pekerjaan itu tidak dihargai oleh kaum laki-laki.

Begitu Aku membuka handphone, aku melihat sepuluh panggilan tidak 7terjawab dari mas Alfi.

Aku yakin pasti berita mengenai Aldo telah sampai ke telinga mas Alfi.

Benar saja dugaan ku,

[Apakah Aldo ikut serta dalam bus sekolah Kartini yang menuju ke Jakarta?]

[Kenapa kau tidak menjawab panggilan dariku]

Mas Alfi mengirim ku beberapa pesan melalui aplikasi perpesanan. Ternyata ia masih mengkhawatirkan anaknya.

Melihat aku yang sedang online, mas Alfi pun kembali menghubungiku. Namun aku enggan untuk menjawabnya.

Berdosakah aku yang mengabaikan panggilan dari suami?

Aku sengaja memberinya pelajaran. Supaya mas Alfi tahu bagaimana rasanya diabaikan.

[Putri. Angkat telpon nya! Aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu dengan Aldo.] Mas Alfi kembali mengirim pesan kepadaku.

‘kenapa baru sekarang kamu mengingatku, Mas? Dari kemarin aku menghubungimu, kamu ke mana aja?’ batinku.

No handphone mas Alfi aku blokir. Mungkin dengan cara begini mas Alfi akan pulang.

Sesuai dugaanku, dua jam kemudian mobil mas Alfi memasuki pekarangan rumah kami.

Mas Alfi mengedor-mengedor secara kasar pintu rumah kami.

“Putri buka pintunya!” Teriak mas Alfi. Ia tidak mengucapkan salam.

“Putri__ Aku tau kamu di dalam. Cepat buka pintunya, sebelum aku hancurkan.” Mas Alfi terus mengaung Tampa henti di depan pintu rumah kami.

Wajar mas Alfi tau jika aku sedang di rumah, karna motor ku terparkir dengan canti di halaman.

Sebenarnya, aku tidak ingin bersikap tidak sopan kepada mas Alfi. Namun diketika aku melihat, dengan siapa mas Alfi pulang, langkah ku terhenti. Tubuhku merosot ke tanah.

Meski aku tahu, mas Alfi sengaja melakukan itu, untuk membuat aku semakin terluka. Namun, sebagai manusia yang memiliki hati, dan perasaan, pasti akan merasakan yang namanya kecewa, dan terluka.

“Maafkan aku mas! Kamu yang memintaku untuk melakukan semua ini.”

Usai mengintip sejenak keluar, aku memilih menuju kamar tanpa membukakan pintu untuk tamu yang baru datang.

Tidak mungkin aku bertemu dengan mas Alfi dan juga pelakor dalam kondisi menggunakan daster.

Aku menggunakan lipstik tak lupa pula blush on dan eyeshadow, juga tak ketinggalan maskara dan eyeliner. Memilih dress pres body, dan kalung liontin untuk menyempurnakan penampilanku.

Karena yang datang adalah suamiku jadi aku sengaja tidak menggunakan hijab. Aku lerai rambut ikal nan hitamku, aku bentuk secantik mungkin. Penampilanku telah sempurna layaknya malam pertama kami.

Aku sengaja menyemprotkan parfum kesukaan mas Alfi.

Dan kalong liontin itu adalah pemberian mas Alfi, hadiah satu bulan hari jadi kami.

“Sempurna.” Gumam ku di depan cermin ketika melihat pantulan diriku disana.

Aku langkahkan kaki dengan anggun untuk menyambut kepulangan suami tercinta.

“Assalamualaikum” Aku menyapa mas Alfi setelah membukakan pintu.

Aku melihat mas Alfi meneguk salivanya manakala ia melihat penampilanku.

Aku mengambil tangan kanan mas Alfi kemudian mengecup punggung tangan suamiku sebagai tanda hormat. Sekilas aku melirik ke dalam mobil mas Alfi yang kacanya sengaja diturunkan setengah.

Seorang wanita cantik duduk di samping bangku kemudi, ia menatap tajam ke arahku.

“Ayo. Masuk mas.” Aku mempersilahkan suamiku masuk, kemudian menutup pintu rumah kami. Aku sengaja mengabaikan wanita yang berada di dalam mobil. Karena aku tahu tujuan dan maksud wanita itu.

“Kenapa kamu lama sekali membukakan pintu?”

“Aku harus berdandan cantik terlebih dahulu untuk menyambut kepulangan suamiku. Tidak mungkin aku menyambut suami tercinta ku, yang lelah bekerja, membanting tulang demi anak istrinya dengan wajahku yang kusut.” Jawabku dengan manja.

“Dimana Aldo?”

“Minum dulu mas. Kamu kan baru pulang!” Aku sengaja bersikap, seolah tidak pernah terjadi apapun di antara kami.

Hanya dengan satu tarikan nafas, mas Alfi menghabiskan satu gelas air mineral.

“Aldo ke Jakarta, iya ikut olimpiade matematika. Aku minta maaf mas, karena tidak meminta izin kepadamu. Aku sudah berusaha menghubungimu, Mas. Namun, kamu tidak menjawab panggilan dariku. Aku juga sudah mengirimkan pesan melalui aplikasi perpesanan kepadamu, tapi mas tidak menggubrisnya.”

“Aku, sibuk.” Jawab mas Alfi salah tingkah. Ia tidak berani menatap ke arah ku yang sedang menatap lurus ke manik indahnya

“Putri tahu. Maka nya Putri memutuskan sendiri. Lagian Aldo hanya mengikuti olimpiade.” jelasku

“Kamu tahu tidak, jika bus sekolah Aldo kecelakaan?”

“Aldo baik-baik saja. Jika tidak, mana mungkin aku bisa tenang. Guru Aldo sudah menghubungiku. Mereka melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan umum.”

“Syukurlah jika mereka baik-baik saja. Kamu, semakin cantik.” Mas Alfi menghampiri ku. Dan aku yakin, obatnya sudah mulai bekerja.

“Mas,” panggil ku manja. “Kamu tunggu aku di kamar. Adahal yang perlu aku bicarakan.” Aku me

nyimpan gelas bekas mas Alfi minum terlebih dahulu sebelum menyusul mas Alfi.

Tanpa menjawab, mas Alfi pun menuju kamar kami.

Iya. Aku menyusul mas Alfi ke kamar kami. Aku harus memastikan jika obat yang aku campur ke dalam air minum mas Alfi, telah bekerja semana mestinya, dan benar sesuai dugaanku, mas Alfi telah tertidur pulas di atas ranjang kami.

Aku mengambil ponsel mas Alfi, kemudian men silence panggilan.

Aku memilih melanjutkan menulis sambil menantikan panggilan dari seseorang.

Aku menghubungi pak ustad di kampung kami, dan memintanya untuk ke rumahku.

Sesuai dugaanku, setelah setengah jam menanti, akhirnya wanita itu pun menghubungi mas Alfi.

Panggilan pertama, Aku biarkan terlewat.

Panggilan kedua, Aku sengaja meng rejectnya.

Dan panggilan ketiga. Setelah menunggu beberapa detik, aku pun mengangkatnya. Aku sengaja berdesah-desah manja kemudian memutuskan panggilan sepihak.

Ponsel mas Alfi kembali bergetar, namun aku sengaja menonaktifkannya.

Sebagai wanita dewasa, dia pasti tahu apa yang sedang kami lakukan. Terlebih mas Alfi sudah sebulan lebih tidak pulang.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status