Share

Merayu Mr. Impotent
Merayu Mr. Impotent
Author: Naiynana

Bab 1

Author: Naiynana
last update publish date: 2026-09-26 07:51:28

"Maaf, Mbak. Di perusahaan kami, kedisiplinan dan penampilan adalah cermin profesionalisme. Keterlambatan saja sudah fatal, apalagi ditambah penampilan yang... tragis begini."

Kalimat sinis dari wanita berpenampilan serba necis di hadapannya sukses membuat Mili bungkam. Tatapan wanita itu tertuju tepat pada bercak-bercak lumpur hitam yang mengering di ujung kemeja putih terbaik milik Mili.

Ingin rasanya Mili berteriak bahwa dia terlambat bukan karena kelalaian apalagi ketiduran, melainkan karena baru saja diseruduk mobil mewah hingga tercebur ke kubangan penuh air kotor di jalanan! Namun melihat tatapan menghina di depannya, Mili tahu berdebat hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.

Dengan bahu terkulai, Mili keluar dari gedung pencakar langit itu. Begitu kakinya menyentuh trotoar, tangisnya pecah. Bau amis genangan air hujan masih tercium dari baju yang sudah disetrikanya licin-licin sejak subuh.

"Gara-gara pria sialan itu!" umpat Mili sambil menyapu air mata.

Padahal baru beberapa jam lalu, di atas sepeda motor ojek online yang melaju membelah jalanan Jakarta yang masih basah karena sehabis hujan, Mili menatap langit dengan dada penuh harapan. Jalanan terbilang lengang, lampu hijau menyambut berturut-turut, membuat hatinya membisikkan keyakinan bahwa hari ini, Jakarta akan beramah tamah padanya. Sampai akhirnya, sebuah mobil MPV hitam mengkilap mendadak memotong jalan tanpa lampu sein.

BRAK!

Suara benturan memekakkan telinga. Dalam hitungan detik, dunia Mili berputar sebelum akhirnya terhempas kasar ke aspal. Motor melayang, dan tubuh Mili mendarat telak, tepat ke dalam genangan air hujan yang keruh dan berbau.

"Woi! Bawa mobil pakai mata, dong!" teriak si tukang ojek murka.

Seorang pria paruh baya berseragam sopir turun terburu-buru, mukanya pucat. "Astaga! Maaf, Pak! Maaf sekali, saya terburu-buru!"

Sopir itu langsung mengeluarkan dompet, menyodorkan segepok uang merah ke tangan tukang ojek. "Ini buat ganti rugi motor dan baju mbaknya. Bos saya ada rapat penting, kami harus jalan sekarang!"

Omelan tukang ojek langsung terhenti. Matanya berbinar menatap lembaran ratusan ribu itu. "Oh... iya deh, Pak. Lain kali hati-hati, ya."

Mili yang masih megap-megap di atas aspal langsung melongo. Belum sempat protes, pintu belakang mobil meluncur terbuka sedikit.

Mili tak sengaja beradu pandang dengan seorang pria muda di dalam sana. Pria itu mengenakan jas hitam mahal, parasnya begitu tampan hingga mirip aktor drama Korea.

Namun, ketampanan itu langsung menguap saat si pria menatap Mili dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan jijik. Seolah-olah Mili adalah sampah jalanan yang mengotori pemandangannya. Pria itu lalu mengetuk jam tangannya, mengode sopirnya untuk cepat masuk tanpa mengucap sepatah kata.

"Heh! Minimal turun kek, minta maaf!" teriak Mili berang.

BAMM!

Pintu mobil tertutup keras dan kendaraan mewah itu melaju begitu saja, menyisakan cipratan air got terakhir ke wajah Mili.

"Sudah, Mil. Jangan diungkit terus, nanti nasi gorengmu makin dingin." Ucapan tersebut membuat Mili menoleh, menatap Julia, sahabat baiknya sejak SMA.

Setelah ditolak mentah-mentah dan diminta meninggalkan kantor impiannya, Mili langsung menghubungi sahabatnya itu. Beruntung Julia sedang tidak terlalu sibuk. Gadis yang kini sukses sebagai selebgram ibukota dengan ratusan ribu pengikut itu segera menjemput Mili, membawanya ke apartemen untuk membersihkan diri, lalu mengajaknya makan siang di restoran demi memperbaiki suasana hati.

"Gimana nggak emosi, Jul? Tampang doang kayak aktor, tapi kelakuan kayak diktator! Gara-gara dia, usaha kerasku bisa merantau dari kampung ke Jakarta sia-sia begitu saja!" Mili mengunyah kerupuknya dengan dendam membara.

Hatinya mencelos setiap kali teringat Nenek di kampung. Nenek sampai rela menjual kambing terakhir yang dipunya dan berhutang kesana kemari demi membelikannya tiket kereta, baju wawancara yang dipakainya, juga uang sangu.

Kini, ia begitu takut mengabari kegagalannya. Mili merasa jadi cucu paling tidak berguna. Bisanya hanya menyusahkan!

Julia menghela napas, lalu mencondongkan tubuhnya. "Sudah-sudah, sekarang aku punya penawaran menarik buat kamu. Kerja instan, hasil nyata!"

Mili menyipitkan mata curiga seraya menyeruput es tehnya. "Kerja apa? Jangan suruh aku jadi admin judi online ya, bisa-bisa dikutuk nenekku entar."

"Bukan! Ini job dari temanku," bisik Julia antusias. "Kamu cuma perlu gantikan dia kencan buta. Tugasmu cuma satu, bikin pria itu ilfiel dan batalin perjodohan. Bayarannya... 30 juta!"

Mili hampir tersedak es teh. "Berapa?! Tiga puluh juta cuma buat bikin orang ilfiel?!"

"Iya! Temanku itu dipaksa kawin sama cucu konglomerat. Masalahnya, si cowok ini katanya arogan, anti-sosial, terus..." Julia mendekatkan wajahnya, "rumornya dia gak suka cewek, bahkan ada yang bilang dia impoten! Jelas lah temanku ogah."

Mili berkedip kencang. "Dia suka laki-laki kah?"

"Mungkin! Kalau mukaku belum dikenal orang, jelas aku sendiri yang maju. Lumayan 30 juta!" ujar Julia sambil mengetuk-ngetuk meja. 

“Tunggu dulu, Jul. Kalau aku yang gantiin, bukannya tetep berisiko? Keluarganya pasti tahu siapa cewek yang seharusnya datang, kan? Belum lagi sekarang orang gampang cari tahu lewat media sosial. Kalau nanti yang muncul malah aku, terus ketahuan gimana?”

Julia terkekeh sambil mengibaskan tangan.

“Aman. Temanku sudah mikirin itu. Keluarga mereka tipe old money yang privat banget. Orang tua mereka cuma atur kencan tanpa tukar foto, kayak dari mulut ke mulut gitu loh. Gak paham juga aku sebenernya.” Julia mengangkat bahu, lalu kembali bersuara. “Temanku juga sudah lama deactivate semua medsosnya. Apalagi, kamu juga malah nggak aktif di medsos, kan. Jadi, pasti aman.” 

“Tapi kan sebenernyak bisa aja temanmu yang datang aja terus ajak kompromi teman kencannya itu? Bilang baik-baik kalau nggak mau dijodohkan gitu,” cecar Mili lagi.

“Aduh, Mili sayang...” Julia geleng-geleng. “Si cowok ini reputasinya terkenal dingin, angkuh, dan mulutnya pedas. Temanku itu sudah gemetaran duluan, mana berani ajak kompromi! Lagian kalau dia yang nolak, keluarganya bisa ngamuk karena keluarga si cowok emang levelnya jauh di atasnya. Makanya jalannya cuma satu, bikin si cowok sombong itu yang ilfil dan nolak duluan!”

Mili menelan ludah, membayangkan betapa mengerikannya pria itu. Rasanya ingin mundur saja. Tapi tiga puluh juta… angka itu cukup untuk melunasi seluruh utang biaya kuliahnya di kampung, membelikan Nenek kambing baru, dan menyambung hidup di Jakarta sampai dia dapat kerjaan tetap.

Mili menegakkan punggungnya, menatap Julia mantap. "Tapi, beneran cuma perlu bikin si cowok impoten itu ilfiel dan kabur, kan?"

"Seratus buat kamu!"

Mili menyeringai tipis. "Ya udah, deh kalau gitu. Aku mau!"

Namun, siapa sangka jika pilihan itu justru awal dari segala malapetaka bagi Mili.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Pristia Dika
bakalan seruuu niiih lanjutan bab nya... ...
goodnovel comment avatar
Adista Diyah
akhirnya launching jugaaaaa...semoga gak ada drama² yaa kak Naiy...️
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Merayu Mr. Impotent   bab 8

    Julia sudah pergi sejak pagi buta untuk urusan pekerjaan, lalu akan lanjut berpesta bersama Vanesha demi merayakan batalnya perjodohan. Pihak Jonathan memang sudah resmi mengonfirmasi tak akan melanjutkan kencan tersebut.Mili yang sempat diajak memilih menolak. Bukan tak mau ikut bersenang-senang, melainkan karena ia teringat janjinya dengan Jonathan. Pukul satu siang nanti, ia harus menghadap keluarga besar pria itu.Sungguh, sampai detik ini pun Mili masih tak percaya kalau dirinya resmi berstatus sebagai pacar Jonathan. Saking absurdnya kenyataan ini, ia bahkan belum berani membuka mulut pada Julia.“Ya Tuhan! Kapan penderitaan ini berakhir?” keluh Mili meremat rambutnya frustrasi seraya menatap tanktop merah dan rok leopard di dalam lemari.Dengan malas, Mili memaksakan diri bersiap. Pukul satu siang tinggal hitungan jam. Berbekal video tutorial di internet, ia mulai memoles riasan bold di wajahnya. Namun, begitu menatap cermin, hasilnya justru membuat ia menjerit ngeri.“Astaga!

  • Merayu Mr. Impotent   Bab 7

    “Dilarang ada sentuhan fisik?” Jonathan mengulang ucapan Mili dengan seringai lebar yang terkesan meremehkan.Mili mengangguk mantap. Ia harus membangun benteng keamanan tingkat tinggi. Setelah berkali-kali berhadapan langsung dengan Jonathan, Mili mulai meragukan rumor burung yang beredar. Ia malah meyakini jika gosip soal pria itu tak suka wanita atau mengalami disfungsi seksual jelas bohong belaka! Tatapan serta gerak-geriknya terlalu berbahaya untuk ukuran pria yang dikabarkan impoten dan ‘tidak bernafsu’.Mili merinding membayangkannya. Tak boleh! Ia tak akan membiarkan tangan pria sombong itu menjamah tubuhnya walau seinci pun!“Kamu sebelumnya selalu membicarakan ranjang. Bukankah itu artinya kamu suka sentuhan laki-laki?” tanya Jonathan seraya menaikkan satu alis.“Suka. Tapi bukan sama kamu!” jawab Mili asal.“Hmmm. Begitu?” Jonathan manggut-manggut. “Tapi … kalau gak sentuhan fisik, mana percaya orang-orang pada hubungan kita?”“Orang-orang?” Mili langsung menyela.“Kenapa o

  • Merayu Mr. Impotent   Bab 6

    Mili?Ruangan private itu mendadak seperti kehabisan oksigen. Mili tak bisa bernapas. Sesak! Matanya membeliak. Tubuhnya lemas seketika saat bisikan halus Jonathan menyebut namanya. Nama aslinya!Jonathan menegakkan tubuhnya dengan seringai tipis di bibir. Pria itu menunduk, menatap Mili yang sepucat mayat dengan raut penuh kemenangan.“Ternyata memang harus pakai cara begini supaya kamu bisa diam dan menurut,” ucap Jonathan mundur selangkah seraya perlahan melepaskan kungkungan tangannya dari tubuh Mili.“K-kamu...!” Lidah Mili mendadak kelu, kata-katanya tertahan di tenggorokan.“Ya, Mili.” Jonathan kembali mengeja nama itu dengan artikulasi yang begitu jelas.“Jadi... kamu sudah tahu kalau aku bukan Vanesha?!” tanya Mili. Suaranya dibuat setegas mungkin walaupun dalam hati sudah histeris setengah mati. Penyamarannya terbongkar total!Jonathan hanya mengangguk sekilas, lalu melangkah kembali ke kursinya. Pria itu duduk anggun, menyilangkan kakinya yang panjang dengan gerakan elegan.

  • Merayu Mr. Impotent   Bab 5

    Vanesha duduk bersedekap di sudut kafe dengan muka ditekuk. Gadis cantik berambut panjang itu menatap marah pada Mili yang ada di seberang meja.“Gila! Sebenernya apa, sih, yang kamu lakuin ke dia sampai dia ngehubungin keluargaku buat komit lanjut perjodohan?” Vanesha berkata cepat, menahan geram.“Aku gak—"“Pokoknya, aku gak mau tahu!” Vanesha langsung memotong ucapan Mili dengan tak sabar. “Kalian harus bertanggung jawab! Balikin duit 30 juta itu sekarang atau kalian urus si Jonatahan itu!” ujarnya ketus.Mili gemetaran. Panik, takut, semua jadi satu. Ia tak mungkin meminta kembali uang yang sudah dikirimnya ke kampung.Gadis itu melirik Julia yang duduk di sampingnya. Kawannya tersebut duduk bersilang kaki sambil memijat dahi. “Aku gak ada juga duit segitu. Baru kemaren aku bayar sewa apartemen sama cicilan mobil.” Julia berbisik pada Mili.“Bereskan!” Vanesha melempar ponselnya yang menyala ke meja kafe. Di layar ponselnya tampak sebuah email yang rupanya dikirim pihak Jonat

  • Merayu Mr. Impotent   Bab 4

    Seluruh darah di tubuh Mili rasanya mendadak tersedot habis ke telapak kaki. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai serasa hendak melompat keluar dari dada, sementara kedua lututnya mendadak lembek seperti jeli. Seumur hidupnya, belum pernah ada pria yang mengajaknya melangkah sejauh ini!"P-pesan... k-kamar?!" bisiknya gelagapan, matanya membelalak ngeri.Jonathan mengangguk tipis tanpa mengalihkan pandangan. "I-itu... nggak bisa," jawab Mili terbata sambil terkekeh canggung. Berusaha untuk tetap tampil tenang. "Aku... aku masih ada janji party sama teman-teman setelah ini." "Oh?" Jonathan mengangguk pelan, seolah memahami. "Kamu bisa datang ke partymu setelah kita selesai.”Mata Mili semakin membelalak lebar. "Hah?!""Gimana?" tantang Jonathan. Pria itu makin mengikis jarak hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.Jantung Mili serasa mau meledak. Karena panik setengah mati, ia refleks memejamkan mata rapat-rapat. Takut!Dalam kegelapan yang dipaksakan itu, aroma parfum

  • Merayu Mr. Impotent   Bab 3

    Pria yang membuat wawancaranya gagal juga pria yang ia siram di mall adalah pasangan kencan buta pura-puranya?!Apakah Jakarta tak punya penduduk laki-laki selain orang itu?!Mili terperangah tak percaya. Optimisme yang tadi membumbung mendadak menguap.‘Jangan-jangan dia masih ingat aku?’ batin Mili panik.Namun dugaan itu sedikit memudar ketika Jonathan justru mempersilahkannya duduk tanpa menunjukkan reaksi berarti."Tak masalah, silakan duduk," ujar Jonathan tenang, meski kilat terkejut sempat melintas di matanya saat melihat penampilan Mili."O–oke."Mili menghembuskan napas lega sambil duduk di kursinya. Mungkin karena riasannya terlalu menor dan penampilannya sekarang jauh berbeda dari saat mereka bertemu siang tadi.Rasa lega itu perlahan mengembalikan kepercayaan dirinya.Lagi pula, tujuan Mili datang ke sini hanya satu, yaitu membuat Jonathan membatalkan kencan buta ini dan membawa pulang 30 juta rupiah. Ia melirik Jonathan yang sedang meraih gelas mocktailnya.Mili, kamu pa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status