แชร์

BAB 3| Sebuah Pertanyaan

ผู้เขียน: Fatzar kim
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-17 05:51:18

Adis menatap Raka dengan pandangan yang sangat dalam, namun lagi dan lagi ketika mereka saling berpandangan Raka justru mengalihkan wajahnya.

“Komandan!”

Dari kejauhan terlihat Adipati berjalan ke arahnya dengan rahang yang mengeras.

“Jangan pernah meledakan peluru tanpa perintah, itu bisa membuat Komandan terkena pelanggaran!” teriaknya dengan lantang.

Adis dari kejauhan masih mengamati Raka. Memang dari dulu sikap Raka tidak berubah, masih sama kerasnya.

Sekarang, bukannya takut akan terjadi apa-apa, Raka justru kembali menembakkan peluru itu ke sembarang arah.

Para prajurit lari bersembunyi. Di balik ramainya langkah kaki mereka, Adis dapat mendengar jelas beberapa bisikan.

“Komandan kenapa?”

“Sejak ada perawat baru dia jadi aneh,”

Sahutan itu memang lirih, tapi Adis dapat mendengar semuanya.

Raka menatap Adis dari kejauhan, mata mereka saat ini saling bertemu. Namun dengan cepat Adis memutus pandangan itu.

Langkah kakinya bergeser ke arah Dokter Melinda. “Saya boleh resign sekarang?” tanya Adis lirih.

Melinda mengernyitkan kening tidak mengerti. “kenapa?” begitu tanyanya.

Adis menggeleng pelan. “Aku t—akut ada yang risih dengan kehadiranku disini. Lebih baik aku keluar saja daripada semakin banyak kekacauan yang terjadi karenaku, ” ucapnya.

Adis menggigit kecil bibirnya, ia kemudian melangkah menjauh.

Adis terpaksa bekerja disini, dan itu nyata.

Seharusnya ia tidak bertemu Rakabumi, dan seharusnya ia tidak menerima kontrak kerja di hari itu.

Melinda mengejar Adis dari belakang, ia mencekal tangan wanita di depannya dengan erat. “Jangan!” teriaknya.

Adis berhenti, ia kemudian memutar tubuhnya menghadap Melinda, kini ia mencoba tersenyum kecil namun terlihat penuh kepalsuan.

“Coba Dokter berikan aku alasan untuk bertahan?” kali ini Adis menaikan sebelah alisnya.

Melinda melepas kaitan tangannya. “Karena kerja kamu bagus, jadi sayang kalau harus keluar.” Ia menghembuskan napas pelan.

Adis tertawa kecil, kalimat yang ia dengar barusan hanya terdengar seperti rayuan agar ia tidak keluar dari tempat ini.

“Sayang sekali, sepertinya keputusanku sudah bulat Dok, tidak ada alasan lagi untuk memikirkannya kembali.” Adis mengangkat pundaknya asal, ia kemudian melangkah pergi dari hadapan Melinda.

***

Langkah Adis kini terhenti pada cafetaria, tempat para Prajurit untuk mengisi perut mereka.

“Enaknya duduk dimana ya, semua penuh,” gumam Adis lirih.

“Tadi kenapa nggak ngajak Dokter Melinda aja sih ah,” Adis menggerutu frustasi, mengacak rambutnya asal di depan para Prajurit.

Ia terus melangkah melewati meja demi meja, suara sendok saling beradu juga tatapan dari para Prajurit yang seperti menginginkan Adis.

Akhirnya Adis berhasil menemukan satu meja kosong, dan tempat itu cukup jauh dari para Prajurit. Setidaknya ia bisa bernapas lega untuk kali ini.

Ia kemudian mengantri mengambil nasi dan dengan segera ia menempati meja kosong tadi.

Baru saja Adis menempati meja kosong — namun sialnya ketika ia menoleh ke depan, pandangannya kini berubah ketakutan.

Rakabumi memilih makan siang bersama dirinya.

Adis dengan susah payah menelan salivanya. Ia menunduk mencoba menghabiskan nasinya yang masih penuh.

“Kalau makan jangan terburu-buru,” begitu ucap Rakabumi saat ini.

Adis menggeleng kecil. “A—ku nggak ter— uuhuk,” balas Adis terbata. Ia terbatuk setelah menjawab pertanyaan Rakabumi.

Raka tersenyum miring. Ia menatap Adis dengan penuh kemenangan. “Itu tanpa dijelaskan sudah terjawab,” balasnya.

Adis menghembuskan napas pelan. “Hanya kebetulan saja,” balasnya singkat. Ia kemudian kembali melanjutkan makan siangnya.

Raka lebih dulu menghabiskan porsi makannya, ia kini memilih untuk menyalakan pemantik api kemudian meniupkan sebatang rokok di depan Adis.

Tatapan Raka masih sama, selalu datar. Tapi ketika ia meniupkan asap rokok ke udara entah mengapa, Rakabumi terlihat sangat menarik.

Adis menggeleng pelan, ia kemudian kembali menunduk.

“Sudah berani menatap saya sekarang?”

tanya Rakabumi. Jari tangannya mengetuk meja beberapa kali.

Adis terbatuk sesaat. “E—nggak Komandan,”

Ia kembali menunduk, berpura-pura tidak melihat Rakabumi.

“Padahal menatap saya lebih bagus daripada kamu harus ditatap lelaki lain,” Raka tersenyum miring.

Adis mendongak saat ini dan pandangan matanya bertemu dengan manik hitam milik Rakabumi.

“Apa maksu—” belum sempat Adis menjawab tapi Raka sudah memotongnya terlebih dahulu.

“Sudah nggak usah di pikir,” balasnya lagi.

Raka kemudian menghembuskan napas pelan, jakunnya naik turun ingin mengucapkan kata yang sulit diutarakan.

“Kalau mau ke Cafeteria ajak Dokter Melinda,” kata Raka dengan nada pelan tapi penuh ketegasan.

“Kenapa?” tanya Adis tidak mengerti, keningnya mengernyit heran.

Rahang Raka tiba-tiba mengeras, tatapannya jadi lebih tajam berbeda dengan awal tadi.

“Kayak gini aja masih tanya sama saya? memang kamu suka jadi tontonan para Prajurit disini? Dari tadi semua lelaki disini menatap wajahmu tidak ada yang berkedip. Atau kamu sudah berubah ya sekarang? Suka mencari perhatian lelaki di luar sana, setelah berpisah dengan saya? Saya sudah ngasih tau — dengan Dokter Melinda kalau ke Cafetaria itu saja kamu tidak mengerti apa yang saya maksud.”

Raka berdecak pelan, kemudian membuang muka dari pandangan Adis.

“Atau kamu sengaja mencari perhatian dengan lelaki lain dan tidak mau mendengar saya lagi?” tanya Raka dengan nada menyindir.

Adis menggeleng pelan kemudian ia menatap Raka dengan pandangan bersalah. “Tidak, bukan itu maksudku Komandan,” ujar Adis.

Raka kemudian bangkit dari kursinya, ia mendekat ke arah Adis. Ia membenarkan rambut Adis yang menutup wajahnya.

“Seperti yang saya ucapkan, jadilah anak yang baik, jangan membangkang, tinggal mengatakan iya saja banyak sekali pertanyaan tidak penting yang keluar dari mulutmu.”

Adis mengangguk kecil. “Iya Komandan,aku tidak akan mengulangi apa yang sudah aku aku lakukan,” balas Adis.

Raka tersenyum puas. “Nah ini jawaban yang saya tunggu.” Ia kemudian melangkah pergi meninggalkan meja milik Adis.

Raka melangkah seperti tanpa beban.

Sedangkan Adis di tempatnya masih mematung, ucapan Raka barusan seperti kalimat yang menghipnotis dirinya.

Adis seperti dipaksa untuk menuruti apa yang Raka inginkan.

Baru saja Adis ingin pergi dari tempat itu, Melinda datang menghampirinya.

“Jahat banget masa aku ditinggalin makan sendirian,” rengek Melinda.

“Dokter kelamaan, aku keburu lapar.”

Adis memutar bola matanya malas.

“Aku masih antri tau,” ucap Melinda.

“Eh, Dis tau nggak sih… kamu jadi pembicaraan disini, aku mau tanya kamu jawab jujur mau nggak?” tanya Melinda memastikan.

Adis mengangguk kecil. “Iya boleh, mau tanya apa?” begitu balasnya.

Melinda menatap Adis dengan penasaran. “Sebenarnya kamu siapa Komandan Rakabumi? Kok aku lihat setiap ada kamu selalu ada dia.” Kini melinda menunjuk dimana Rakabumi berada.

Mata Adis kembali tertuju pada telunjuk Melinda. Disana Raka sudah menatapnya dengan datar. Lagi dan lagi tatapan itu selalu menghantui Adis.

“Eh??? Nggak… aku sama dia gak ada apa-apa,” balas Adis cepat.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Merebut Kembali Cinta Lama    Bab 30 | Hari Pernikahan #1

    Hari yang tidak pernah Adis bayangkan, kali ini benar dimatanya, Rakabumi akan melangsungkan pernikahannya dengan Laras.Mereka sudah berdiri di atas altar pernikahan dan mengucapkan janji suci pernikahan. “Dis, kamu nggak papa?“ lagi lagi Melinda menanyakan hal yang sama kali ini. Adis menggeleng pelan. “Santai aja, aku nggak papa kok, nggak perlu khawatir.“Pesta itu begitu meriah. Lampu-lampu kristal berkilauan, musik mengalun lembut, dan para tamu mengenakan pakaian terbaik mereka. Sangat berbeda dengan pernikahan Adis dulu bersama Rakabumi—yang dilakukan secara diam-diam, tanpa pesta, tanpa saksi yang berarti.Malam ini Adis terlihat sangat cantik dengan gaun putih yang membalut tubuhnya dan sepatu heels yang membuat langkahnya tampak anggun.Sayangnya, hatinya benar-benar rapuh.Adis merasa dirinya tak lebih dari boneka Rakabumi yang sengaja dihidupkan di dunia ini. Jika ada satu kesempatan untuk mengulang waktu, ia tidak ingin pernah mengenal pria itu.'Aku benci Rakabumi.'K

  • Merebut Kembali Cinta Lama    Bab 29 | Undangan Pernikahan

    Perasaan baru kemarin adis di terbangkan ke lagit, oleh Rakabumi Pramana sekarang ia harus menerima fakta bahwa minggu depan adalah hari pernikahan Rakabumi Pramana. “Dis, are you okay?"tanya Melinda di sampingnya kali ini. Adis menggeleng kecil ia tidak tau harus bersikap apalagi setelah ini, yang ia ingat ini adalah salah satu strategi Raka untuk merebut kembali dirinya. “Permainan ini sangatlah tidak lucu,” gumam Adis. Jahat, manipulatif dan licik. Adis membenci Raka, sangat membencinya. Undangan itu sangan jelas di depan matannya. Meskipun ia tahu bahwa ini adalah hari bahagia, tapi tidak dengan peraaannya.langkah kakinya bergetarr tatkala ia mendengar bahwa semua harus hadir kali ini, Adis juga wanita namun sepertinya ia tidak mendapatkan peran itu di sini.“Kamu nggk papa?“ tanya Adipati.Wah, gila… hanya orang berhati malaikat yang bakalan bilang kalau Adis saat ini nggak papa.Inibukanlah pertanyaan dari Melinda unduk keua kalinya, melainkan ini adaalah pertanyaandari a

  • Merebut Kembali Cinta Lama    Bab 28 | Sssht Melinda Diam

    Melinda merasakan ada yang berbeda dari diri adis, ia pun akhirnya memberanikan diri bertanya pada temannya tersebut. “Dis,memangnya kamu sebenarnya sama komandan ada hubungan apa sih, kalau boleh tau?“ tanya Melinda. Adis mematung sesaat.kalimat itu begitu menusuk untuk adis saat ini. Adis kemudian menjawab dengan satu tarikan napasnya. Mau tidak mau ia harus menjawab, karena Melinda sudah pasti akan menanyainya setiap saat. “Saya manatan komandan Rakabumi Pramana, memangnya ada apa?“Melinda hampir saja memuntahkan seluruh isi perutnya kali ini. Entah ini sebuah berita atau sebuah kejutan dadakan yang jelas ia belum bisa menerima. “Nggak kok Dis, cumakaget aja, berarti selamaini yang di gosipkan kalau komandan itu pernah menikah itu benar adanya,aku pikir dia belok.“ Melinda sedikit tertawa setelahnya.Rakabumi belok? Lucu sekali. bisa-bisanya Melinda berpikir seperti itu. Kalau Komandan mendengarnya sudah pasti ia akan terkena skors karena sudah membawa berita yang tidak ben

  • Merebut Kembali Cinta Lama    Bab 27 | Adis mencurigakan

    Melinda menahan napasnya yang terengah-engah. Ia memegang dadanya dengan sebelah tangan.“Aduh Dis, Dis… kamu ini kalau ngajak sengsara bilang-bilang dong!“ Melinda tidak terima dengan rekan setimnya itu yang membawanya harus berlari menghindari Rakabumi.“Dok… Kita sembunyi di balik pohon itu aja yuk!“ ujar Adis.Ini gila tapi cukup menarik untuk Melinda.“Bolehhh,” ucap Melinda.Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk bersembunyi di balik semak-semak yang tadi sudah di maksud oleh Adis.***“Dis, lagian, kamu kenapa sih pakai ngikutin Komandan segala?“ tanya Melinda.Adis diam, ia tidak menjawab kali ini.Ia kemudian menggaruk pipinya yang tidak gatal.“Emang ada yang salah?“ tanya Adis tanpa ragu kali ini. Ia menatap Melinda seperti tidak terjadi apa-apa.Melinda menepuk jidatnya. “Yang ada kamu disangka penguntit tau,” jelasnya.“Atau jangan-jangan kamu ini sebenarnya fans dari Komandan Rakabumi yang lagi menyamar ya?“ ucap Melinda.Ucapan Melinda membuat Adis hampir ingin memunta

  • Merebut Kembali Cinta Lama    Bab 26 | Hampir Ketahuan

    Meskipun sudah terjadi beberapa hari lalu, namun kalimat itu masih terngiang di kepalanya. Raka tidak pernah menyukai Laras, dia sangat menyukai Adis. Dan itu mutlak tidak bisa di bantah.Adis pikir Adipati akan membual soal ini.“Wih, sendirian aja?“ tanya Adipati.Adis mengangguk. “Berdua juga tidak mungkin kan, Mayor?“ Adis terkekeh pelan.Adipati kini sudah berada di samping Adis, menatap langit malam dalam diamnya.“Kenapa belum tidur?“ tanya Adipati.Adis membapas santai. “Karena belum bisa tidur, kata-kata Rakabumi masih terngiang.“Adis mencebikkan bibirnya, memasang raut masam.Lelaki di sampingnya kini sudah tertawa lebih dulu. “Emang Raka bilang apa?“Dengan berat hati Adis menarik napas dalam. “Dia cuma suka sama aku,” begitu balasnya.Adipati hampir saja tersedak ludahnya sendiri karena mendengar ucapan Adis.“Kan saya sudah bilang waktu itu, kamu sih nggak percaya,” balas Adipati.“Tapi pernikahan mereka sebentar lagi.“Adis meremas jarinya setelah kalimat itu keluar dar

  • Merebut Kembali Cinta Lama    Bab 25 | Pintar Dan Menarik

    Adis akhirnya menyelesaikan masalah yang telah diperbuat oleh Melinda.“Bapak, Ibu… mohon maaf… untuk masalah yang terjadi akan saya selesaikan setelah ini, dan sebagai gantinya kalian bisa ambil makanan gratis sepuasnya.”Adis berdiri di hadapan para warga, meskipun ia tahu yang diambil memiliki risiko besar.“Boleh nih,” sahut warga yang berdiri paling depan.“Nah, untuk semuanya dimohon antre di tempat yang sudah disediakan.”Adis berbicara dengan pembawaan santai dan tidak tergesa-gesa. Ia percaya masalah ini akan terselesaikan dengan kepala dingin.“Siap, Bu Perawat!”Adis memberikan aba-aba untuk para prajurit agar segera menyiapkan dapur umum.Sedangkan ia dan Melinda sibuk memberikan penanganan pertama.Warga mulai bergerak teratur menuju dapur umum. Suasana yang tadi sempat memanas perlahan mencair oleh aroma nasi hangat dan lauk sederhana yang dibagikan para prajurit.“Akhirnya semua dapat terkendali lagi,” bisik Melinda.Adis mengangguk kecil. “Iya, Dok, akhirnya ya…”Raka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status