MasukAdis menatap Raka dengan pandangan yang sangat dalam, namun lagi dan lagi ketika mereka saling berpandangan Raka justru mengalihkan wajahnya.
“Komandan!” Dari kejauhan terlihat Adipati berjalan ke arahnya dengan rahang yang mengeras. “Jangan pernah meledakan peluru tanpa perintah, itu bisa membuat Komandan terkena pelanggaran!” teriaknya dengan lantang. Adis dari kejauhan masih mengamati Raka. Memang dari dulu sikap Raka tidak berubah, masih sama kerasnya. Sekarang, bukannya takut akan terjadi apa-apa, Raka justru kembali menembakkan peluru itu ke sembarang arah. Para prajurit lari bersembunyi. Di balik ramainya langkah kaki mereka, Adis dapat mendengar jelas beberapa bisikan. “Komandan kenapa?” “Sejak ada perawat baru dia jadi aneh,” Sahutan itu memang lirih, tapi Adis dapat mendengar semuanya. Raka menatap Adis dari kejauhan, mata mereka saat ini saling bertemu. Namun dengan cepat Adis memutus pandangan itu. Langkah kakinya bergeser ke arah Dokter Melinda. “Saya boleh resign sekarang?” tanya Adis lirih. Melinda mengernyitkan kening tidak mengerti. “kenapa?” begitu tanyanya. Adis menggeleng pelan. “Saya t—akut ada yang risih dengan kehadiran saya disini. Lebih baik saya keluar saja daripada semakin banyak kekacauan yang terjadi karena saya,” ucapnya. Adis menggigit kecil bibirnya, ia kemudian melangkah menjauh. Adis terpaksa bekerja disini, dan itu nyata. Seharusnya ia tidak bertemu Rakabumi, dan seharusnya ia tidak menerima kontrak kerja di hari itu. Melinda mengejar Adis dari belakang, ia mencekal tangan wanita di depannya dengan erat. “Jangan!” teriaknya. Adis berhenti, ia kemudian memutar tubuhnya menghadap Melinda, kini ia mencoba tersenyum kecil namun terlihat penuh kepalsuan. “Coba Dokter berikan aku alasan untuk bertahan?” kali ini Adis menaikan sebelah alisnya. Melinda melepas kaitan tangannya. “Karena kerja kamu bagus, jadi sayang kalau harus keluar.” Ia menghembuskan napas pelan. Adis tertawa kecil, kalimat yang ia dengar barusan hanya terdengar seperti rayuan agar ia tidak keluar dari tempat ini. “Sayang sekali, sepertinya keputusanku sudah bulat Dok, tidak ada alasan lagi untuk memikirkannya kembali.” Adis mengangkat pundaknya asal, ia kemudian melangkah pergi dari hadapan Melinda. *** Langkah Adis kini terhenti pada cafetaria, tempat para Prajurit untuk mengisi perut mereka. “Enaknya duduk dimana ya, semua penuh,” gumam Adis lirih. “Tadi kenapa nggak ngajak Dokter Melinda aja sih ah,” Adis menggerutu frustasi, mengacak rambutnya asal di depan para Prajurit. Ia terus melangkah melewati meja demi meja, suara sendok saling beradu juga tatapan dari para Prajurit yang seperti menginginkan Adis. Akhirnya Adis berhasil menemukan satu meja kosong, dan tempat itu cukup jauh dari para Prajurit. Setidaknya ia bisa bernapas lega untuk kali ini. Ia kemudian mengantri mengambil nasi dan dengan segera ia menempati meja kosong tadi. Baru saja Adis menempati meja kosong — namun sialnya ketika ia menoleh ke depan, pandangannya kini berubah ketakutan. Rakabumi memilih makan siang bersama dirinya. Adis dengan susah payah menelan salivanya. Ia menunduk mencoba menghabiskan nasinya yang masih penuh. “Kalau makan jangan terburu-buru,” begitu ucap Rakabumi saat ini. Adis menggeleng kecil. “A—ku nggak ter— uuhuk,” balas Adis terbata. Ia terbatuk setelah menjawab pertanyaan Rakabumi. Raka tersenyum miring. Ia menatap Adis dengan penuh kemenangan. “Itu tanpa dijelaskan sudah terjawab,” balasnya. Adis menghembuskan napas pelan. “Hanya kebetulan saja,” balasnya singkat. Ia kemudian kembali melanjutkan makan siangnya. Raka lebih dulu menghabiskan porsi makannya, ia kini memilih untuk menyalakan pemantik api kemudian meniupkan sebatang rokok di depan Adis. Tatapan Raka masih sama, selalu datar. Tapi ketika ia meniupkan asap rokok ke udara entah mengapa, Rakabumi terlihat sangat menarik. Adis menggeleng pelan, ia kemudian kembali menunduk. “Sudah berani menatap saya sekarang?” tanya Rakabumi. Jari tangannya mengetuk meja beberapa kali. Adis terbatuk sesaat. “E—nggak Komandan,” Ia kembali menunduk, berpura-pura tidak melihat Rakabumi. “Padahal menatap saya lebih bagus daripada kamu harus ditatap lelaki lain,” Raka tersenyum miring. Adis mendongak saat ini dan pandangan matanya bertemu dengan manik hitam milik Rakabumi. “Apa maksu—” belum sempat Adis menjawab tapi Raka sudah memotongnya terlebih dahulu. “Sudah nggak usah di pikir,” balasnya lagi. Raka kemudian menghembuskan napas pelan, jakunnya naik turun ingin mengucapkan kata yang sulit diutarakan. “Kalau mau ke Cafeteria ajak Dokter Melinda,” kata Raka dengan nada pelan tapi penuh ketegasan. “Kenapa?” tanya Adis tidak mengerti, keningnya mengernyit heran. Rahang Raka tiba-tiba mengeras, tatapannya jadi lebih tajam berbeda dengan awal tadi. “Kayak gini aja masih tanya sama saya? memang kamu suka jadi tontonan para Prajurit disini? Dari tadi semua lelaki disini menatap wajahmu tidak ada yang berkedip. Atau kamu sudah berubah ya sekarang? Suka mencari perhatian lelaki di luar sana, setelah berpisah dengan saya? Saya sudah ngasih tau — dengan Dokter Melinda kalau ke Cafetaria itu saja kamu tidak mengerti apa yang saya maksud.” Raka berdecak pelan, kemudian membuang muka dari pandangan Adis. “Atau kamu sengaja mencari perhatian dengan lelaki lain dan tidak mau mendengar saya lagi?” tanya Raka dengan nada menyindir. Adis menggeleng pelan kemudian ia menatap Raka dengan pandangan bersalah. “Tidak, bukan itu maksudku Komandan,” ujar Adis. Raka kemudian bangkit dari kursinya, ia mendekat ke arah Adis. Ia membenarkan rambut Adis yang menutup wajahnya. “Seperti yang saya ucapkan, jadilah anak yang baik, jangan membangkang, tinggal mengatakan iya saja banyak sekali pertanyaan tidak penting yang keluar dari mulutmu.” Adis mengangguk kecil. “Iya Komandan,aku tidak akan mengulangi apa yang sudah aku aku lakukan,” balas Adis. Raka tersenyum puas. “Nah ini jawaban yang saya tunggu.” Ia kemudian melangkah pergi meninggalkan meja milik Adis. Raka melangkah seperti tanpa beban. Sedangkan Adis di tempatnya masih mematung, ucapan Raka barusan seperti kalimat yang menghipnotis dirinya. Adis seperti dipaksa untuk menuruti apa yang Raka inginkan. Baru saja Adis ingin pergi dari tempat itu, Melinda datang menghampirinya. “Jahat banget masa aku ditinggalin makan sendirian,” rengek Melinda. “Dokter kelamaan, aku keburu lapar.” Adis memutar bola matanya malas. “Aku masih antri tau,” ucap Melinda. “Eh, Dis tau nggak sih… kamu jadi pembicaraan disini, aku mau tanya kamu jawab jujur mau nggak?” tanya Melinda memastikan. Adis mengangguk kecil. “Iya boleh, mau tanya apa?” begitu balasnya. Melinda menatap Adis dengan penasaran. “Sebenarnya kamu siapa Komandan Rakabumi? Kok saya lihat setiap ada kamu selalu ada dia.” Kini melinda menunjuk dimana Rakabumi berada. Mata Adis kembali tertuju pada telunjuk Melinda. Disana Raka sudah menatapnya dengan datar. Lagi dan lagi tatapan itu selalu menghantui Adis. “Eh??? Nggak… aku sama dia gak ada apa-apa,” balas Adis cepat.Dibuat bingung dengan sikapnya“Komandan mau ngapain?” Ucapan Adis justru membuat Raka tersenyum miring, namun tidak ada sepatah kata yang terucap. Adis mengerjapkan matanya beberapa kali. Detak jantungnya bekerja dua kali lipat saat ini. Rakabumi meraih tangan Adis yang masih bergetar, ia kemudian memeriksa bagian telapak tangan yang sudah basah oleh keringat.“Anxiety kamu kambuh,” ucap Raka datar. Jantung Adis mencelos, ia baru saja berpikir yang tidak-tidak. Tapi pada dasarnya memang otaknya saja yang terlalu jauh. “Fokus disini,” ucap Rakabumi tenang.Ia mengikuti tekanan di telapak tangan milik Adis, Raka meraba garis tangan dan denyut halus di pergelangan. “Tarik napas lalu hembuskan. Sekali lagi,” Raka memastikan agar napas milik Adis teratur dan tidak tersengal. Ia kemudian memberikan satu gelas aqua untuk Adis. “Minum,” perintahnya. Adis masih ragu untuk menerima, ia menatap kosong tangan Raka. Raka menghela napas berat akhirnya membuka aqua tersebut dan menyodork
Rakabumi terus saja menghantui pikirannya, bahkan ketika ia sendiri di atas balkon markas. “Halo Dis,” sapa suara lelaki yang amat ia kenali. “Kapten Rendra?” Rendra masih tersenyum kini ia semakin menggeser tubuhnya untuk mendekati Adis“Kamu kenapa? Kok kaya banyak pikiran?” begitu tanyanya. Ia kemudian berusaha memegang tangan milik Adis. Adis dengan cepat menggeser tangannya dari pandangan Rendra. “Nggak kok Kapten, saya nggak papa.” Suasana menjadi canggung. Tidak ada percakapan lagi antara mereka berdua. Banyak pasang mata yang kini sudah menatap mereka dengan pandangan curiga. “Kapten Rendra,” ucap Adis lirih. Ia kemudian mempercepat langkahnya. “Aku izin permisi dulu, ada banyak laporan yang belum saya selesaikan…” pamitnya dengan nada halus. “Saya antar sampai ruangan kamu, mau?” Rendra menaikkan sebelah alisnya menatapnya dengan paksaan. Adis membulatkan matanya, ia kemudian menggeleng pelan sebagai jawaban. Rendra yang berusaha memepet membuat Adis sedikit berter
Adis menatap Raka dengan pandangan yang sangat dalam, namun lagi dan lagi ketika mereka saling berpandangan Raka justru mengalihkan wajahnya. “Komandan!” Dari kejauhan terlihat Adipati berjalan ke arahnya dengan rahang yang mengeras. “Jangan pernah meledakan peluru tanpa perintah, itu bisa membuat Komandan terkena pelanggaran!” teriaknya dengan lantang. Adis dari kejauhan masih mengamati Raka. Memang dari dulu sikap Raka tidak berubah, masih sama kerasnya. Sekarang, bukannya takut akan terjadi apa-apa, Raka justru kembali menembakkan peluru itu ke sembarang arah. Para prajurit lari bersembunyi. Di balik ramainya langkah kaki mereka, Adis dapat mendengar jelas beberapa bisikan. “Komandan kenapa?” “Sejak ada perawat baru dia jadi aneh,” Sahutan itu memang lirih, tapi Adis dapat mendengar semuanya. Raka menatap Adis dari kejauhan, mata mereka saat ini saling bertemu. Namun dengan cepat Adis memutus pandangan itu. Langkah kakinya bergeser ke arah Dokter Melinda. “Saya boleh res
Adis melangkah pelan menuju ruangannya, di atas sudah tertera papan kayu dengan tulisan. POLIKLINIK A1.Baru saja ia melangkah di sana sudah ada Rakabumi dan juga Adipati. Jantungnya terasa berhenti sesaat saat menatap dua lelaki di depannya. Adipati sedikit menyunggingkan senyum sedangkan Rakabumi tidak, ia justru terlihat acuh seperti tidak menginginkan kehadiran Adis di tempat ini. “Kayaknya pemeriksaan tempat kerja sudah selesai, toh yang punya tempat juga sudah datang,” ujarnya. Ia kemudian melangkah pergi.Adis dengan segera menuju tempatnya. “Perawat Adis,” panggil Dokter Melinda. Setelah Adis berhasil mendudukan dirinya di kursi ia kemudian menoleh ke arah rekannya, alisnya sedikit terangkat karena penasaran. “Iya ada apa?” tanyanya lirih. “Jangan di masukin hati ya, Komandan Raka memang seperti itu, banyak perawat yang tidak betah kerja disini karena sikapnya yang semena-mena.” Adis hanya tersenyum miring. “Aku tahu kok Dok,” jawabnya singkat. “Semoga kamu betah ya,” b
“Nggak mungkin… nggak mungkin aku ditugaskan di satu tempat sama Mas Raka?” gumam Adis di sela-sela langkahnya. “Lagian kepala rumah sakit juga kenapa nggak ngasih tahu sih kalau aku harus ditugaskan disini, kalau tahu aku pasti milih buat penugasan luar kota saja,” Adis menghembuskan napasnya kasar, berharap ini semua hanyalah mimpi semata. Ingatannya kembali terputar, Adis seperti tidak asing dengan tempat ini, dahulu mantan suaminya pernah menunjukan tempat ini, mungkin hanya sekali saat itu. Ia terus memicingkan matanya ketika memasuki lebih dalam kawasan militer tersebut, bau asap rokok, kopi juga tumpukan-tumpukan surat penugasan. Hingga tiba di satu pintu, ia kemudian menghembuskan napas, Adis melangkah masuk. Lelaki yang sedari tadi sedang menjelaskan sesuatu, seakan menatapnya dengan pandangan tidak senang, dia Rakabumi Pramana. “Mas…” sapa Adis lirih. Ia sekarang sudah berdiri di samping Raka, namun bukannya menyambut hangat, lelaki itu justru turun dari podium, seak







