Home / Romansa / Merebut Kembali Cinta Lama / Bab 5 | Dibuat Cemburu Oleh Sikapnya

Share

Bab 5 | Dibuat Cemburu Oleh Sikapnya

Author: Fatzar kim
last update Last Updated: 2025-12-17 06:09:55

Dibuat bingung dengan sikapnya

“Komandan mau ngapain?” 

Ucapan Adis justru membuat Raka tersenyum miring, namun tidak ada sepatah kata yang terucap.  

Adis mengerjapkan matanya beberapa kali. Detak jantungnya bekerja dua kali lipat saat ini. 

Rakabumi meraih tangan Adis yang masih bergetar, ia kemudian memeriksa bagian telapak tangan yang sudah basah oleh keringat.

“Anxiety kamu kambuh,” ucap Raka datar. 

Jantung Adis mencelos, ia baru saja berpikir yang tidak-tidak. Tapi pada dasarnya memang otaknya saja yang terlalu jauh. 

“Fokus disini,” ucap Rakabumi tenang.

Ia mengikuti tekanan di telapak tangan milik Adis, Raka meraba garis tangan dan denyut halus di pergelangan. 

“Tarik napas lalu hembuskan. Sekali lagi,” 

Raka memastikan agar napas milik Adis teratur dan tidak tersengal. Ia kemudian memberikan satu gelas aqua untuk Adis. 

“Minum,” perintahnya. 

Adis masih ragu untuk menerima, ia menatap kosong tangan Raka. 

Raka menghela napas berat akhirnya membuka aqua tersebut dan menyodorkan pada Adis. 

Adis yang awalnya ragu-ragu, ia kemudian menerima aqua tersebut. 

“Tenang, nggak akan ada obat perangsang,” ucap Rakabumi santai. Ia kemudian berpindah tempat di sebelah Adis. 

Adis melirik sekilas, mata Raka kini sudah berubah tidak lagi seterang dulu. 

Kini hanya ada tatapan datar dan juga kantung mata yang gelap — mungkin Raka sekarang lebih sering tidur terlambat, pikir Adis. 

“Saya mau balik ke markas lagi, kamu mau balik bareng saya?” tanya Raka memastikan. 

Adis mengangguk cepat. 

***

Ketika Adis dan Raka melewati pintu keluar gudang markas, disana ia sudah menatap kehadiran Raka dengan tidak senang. 

“Kenapa ada disini?” tanya Raka datar.

Ia kemudian menatap tajam ke arah Rendra. 

Rendra menggeleng pelan. “Tidak, saya hanya menunggu Komandan, tadi ada salah satu staf medis sedang mencari Komandan,” ujarnya pelan. Kemudian ia memberikan sikap hormat. 

“Laras, dia menunggu di koridor Markas,” lanjutnya lagi. 

Laras, nama yang membuat Adis mengernyitkan kening untuk saat ini.

Ia pikir di dalam sini hanya ada dirinya dan Dokter Melinda saja, namun ternyata itu salah. 

Raka melirik Adis di sebelahnya. Kemudian langkah kakinya mendahului wanita itu. 

Adis mengernyit heran, ia kemudian mengikuti Raka dari belakang. Namun tanpa Adis duga, langkah itu berhenti membuat Adis terkejut di tempat. 

“Jangan ikuti saya,” ucapnya. 

Adis menatap bingung ke arah punggung Rakabumi, beberapa waktu lalu ia sangat peduli, dan sekarang kembali seperti orang asing. 

Adis menghentakkan kakinya kesal. 

Raka menghembuskan napas pelan, ia membalikan badan dan menaikan sebelah alisnya memandang Adis. 

“Saya sudah bilang, kita disini adalah orang asing, jadi kamu jangan bertingkah seolah kita saling kenal. Untuk urusan bantu kamu, semua orang disini saling membantu. Kamu jangan kepedean dengan adanya saya tadi pagi seakan kamu diratukan disini…” Ia kemudian menatap Adis dengan menyedihkan. 

“Ikuti drama saya dan selesaikan kontrak kamu maka kamu akan bebas dari sini.” 

Adis tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Raka. Tangannya meremas pelan, ia mencoba menetralkan perasaannya saat kakinya mencoba melangkah menuju ruangannya. 

Ia melewati papan bertuliskan Poliklinik A1 ruangan tempatnya bekerja, matanya tidak sengaja menyorot satu wanita yang saat ini duduk di kursi mejanya. 

Disana sudah ada Rendra, Adipati, Dokter Melinda, dan satu lagi Rakabumi Pramana tengah menatap Adis yang berdiri mematung di depan pintu. 

“Perawat Adis!” sapa Melinda dari kejauhan, ia terlihat melambaikan tangannya — mengajak Adis untuk bergabung. 

Adis mengangguk ragu, ada sedikit keraguan ketika ia mencoba melangkah menuju tempat Melinda. 

“Lihat deh,” ucap wanita yang kini berada di depan Rakabumi. 

“Gaun pengantinnya bagus, mami pasti suka dengan pilihan yang ini!” ucapnya bersemangat. 

‘Gaun pengantin’ Adis dengan cepat melirik ke arah sumber suara. Wanita itu tampak ceria ketika berbicara dengan Rakabumi. Raka hanya mengangguk kecil tidak membalas. 

“Komandan, setuju kan kalau kita pakai yang ini?” ucapnya sekali lagi. Kali ini tangannya menggoyangkan lengan Raka dengan semangat. 

Adipati yang sedari tadi mengamati Adis akhirnya berdehem pelan memecah keheningan. “Laras, sepertinya untuk urusan pribadi dengan Raka kamu bisa selesaikan di luar tempat ini,” 

Adis mengangguk kecil, ia akhirnya tahu nama wanita itu Laras. 

“Oh iya Dis, kenalin ini Larasati, tunangan Rakabumi,” ujar Adipati. 

Adis tersenyum kecut ketika mendengar kata tunangan, ia pikir Raka masih menyimpan perasaan yang sama. Namun ternyata salah, Raka sudah mempunyai kekasih lain. 

Memang dasarnya, sejak awal Adis lah yang terlalu percaya diri. 

“Halo Laras, aku Adis,” ucap Adis mencoba ramah. Namun jauh di bawah meja kedua telapak tangannya saling meremas, menyembunyikan rasa cemburu. 

Iya, Adis cemburu. Ia tidak munafik, sejak kembali kesini perasaan yang ia kubur dalam-dalam itu ternyata masih ada sampai saat ini. 

“Oh! Hai Adis! Kenalin aku Laras! Aku tunangan Rakabumi Pramana, yang sebentar lagi akan menikah!” ia tersenyum kecil, terlihat jelas lesung di pipinya yang menambah kesan manis untuk dilihat siapapun. 

“Kamu perawat baru kan ya? Aku sebenarnya juga perawat disini sih, cuma sama komandan utama aku diletakkan di bagian administrasi yaaa mungkin nggak mau aku capek kali ya, lagian di luar panas nggak cocok sama aku yang nggak bisa kena panas ini,” ujar Laras, ia kemudian mengibas-ibaskan tangannya di depan wajahnya. 

“Iya iya makanya cocok sama Raka orang cantik begini,” Rendra kali ini mencoba menimpali. 

Laras terkekeh pelan. “Apaan sih Kapten, nggak enak tahu di liatin sama Raka, Komandan, liat aku di godain nih,”

Adis mencoba untuk tidak memuntahkan makanannya saat ini, ia tidak percaya penggantinya adalah cewek pick me. 

Melinda di sebelah Adis hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan dari Laras. “Cantik tapi percuma kalau nggak punya ilmu,” cibirnya. 

Melinda sudah cukup muak mendengar itu, hampir setiap hari ia mendengar ucapan yang terdengar Laras adalah anak paling istimewa. 

Adis menghembuskan napa pelan, ia disini bukan siapa-siapa alangkah baiknya ia hanya diam saja untuk saat ini. 

“Yaudah Dis, lebih baik kita pergi aja dari sini, kamu ikut aku ngecek data prajurit yang lain,” ajak Melinda. 

Adis mengangguk cepat, lagian disini sendiri juga sudah pasti membuat dirinya kepanasan. 

***

“Saya dijodohkan,” ucap Raka dari belakang. 

Adis yang berjalan mengikuti Melinda pun terdiam di tempat, ia masih mencerna apa yang Raka ucapkan. 

Dijodohkan, apakah ini hanya rayuan agar Adis tetap disini? Sungguh laki-laki serakah jika itu memang terjadi.

“Setelah bercerai dengan kamu, Mami menjodohkan saya dengan Laras. Saya nggak tahu apa maksudnya, yang jelas saya harus menerima itu. Saya tidak pernah mencintai Laras. Asal kamu tahu.”

Raka berjalan mendekat. Ia menolehkan wajahnya menghadap Adis. “Saya harap kamu tidak cemburu dengan kehadiran Laras di hidup saya.”

Tidak boleh cemburu 

Adis tertawa kecil, Raka sangat egois dengan hatinya. Dasar manusia serakah. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Merebut Kembali Cinta Lama    Bab 5 | Dibuat Cemburu Oleh Sikapnya

    Dibuat bingung dengan sikapnya“Komandan mau ngapain?” Ucapan Adis justru membuat Raka tersenyum miring, namun tidak ada sepatah kata yang terucap. Adis mengerjapkan matanya beberapa kali. Detak jantungnya bekerja dua kali lipat saat ini. Rakabumi meraih tangan Adis yang masih bergetar, ia kemudian memeriksa bagian telapak tangan yang sudah basah oleh keringat.“Anxiety kamu kambuh,” ucap Raka datar. Jantung Adis mencelos, ia baru saja berpikir yang tidak-tidak. Tapi pada dasarnya memang otaknya saja yang terlalu jauh. “Fokus disini,” ucap Rakabumi tenang.Ia mengikuti tekanan di telapak tangan milik Adis, Raka meraba garis tangan dan denyut halus di pergelangan. “Tarik napas lalu hembuskan. Sekali lagi,” Raka memastikan agar napas milik Adis teratur dan tidak tersengal. Ia kemudian memberikan satu gelas aqua untuk Adis. “Minum,” perintahnya. Adis masih ragu untuk menerima, ia menatap kosong tangan Raka. Raka menghela napas berat akhirnya membuka aqua tersebut dan menyodork

  • Merebut Kembali Cinta Lama    Bab 4 | Adis Dalam Bahaya

    Rakabumi terus saja menghantui pikirannya, bahkan ketika ia sendiri di atas balkon markas. “Halo Dis,” sapa suara lelaki yang amat ia kenali. “Kapten Rendra?” Rendra masih tersenyum kini ia semakin menggeser tubuhnya untuk mendekati Adis“Kamu kenapa? Kok kaya banyak pikiran?” begitu tanyanya. Ia kemudian berusaha memegang tangan milik Adis. Adis dengan cepat menggeser tangannya dari pandangan Rendra. “Nggak kok Kapten, saya nggak papa.” Suasana menjadi canggung. Tidak ada percakapan lagi antara mereka berdua. Banyak pasang mata yang kini sudah menatap mereka dengan pandangan curiga. “Kapten Rendra,” ucap Adis lirih. Ia kemudian mempercepat langkahnya. “Aku izin permisi dulu, ada banyak laporan yang belum saya selesaikan…” pamitnya dengan nada halus. “Saya antar sampai ruangan kamu, mau?” Rendra menaikkan sebelah alisnya menatapnya dengan paksaan. Adis membulatkan matanya, ia kemudian menggeleng pelan sebagai jawaban. Rendra yang berusaha memepet membuat Adis sedikit berter

  • Merebut Kembali Cinta Lama    BAB 3| Sebuah Pertanyaan

    Adis menatap Raka dengan pandangan yang sangat dalam, namun lagi dan lagi ketika mereka saling berpandangan Raka justru mengalihkan wajahnya. “Komandan!” Dari kejauhan terlihat Adipati berjalan ke arahnya dengan rahang yang mengeras. “Jangan pernah meledakan peluru tanpa perintah, itu bisa membuat Komandan terkena pelanggaran!” teriaknya dengan lantang. Adis dari kejauhan masih mengamati Raka. Memang dari dulu sikap Raka tidak berubah, masih sama kerasnya. Sekarang, bukannya takut akan terjadi apa-apa, Raka justru kembali menembakkan peluru itu ke sembarang arah. Para prajurit lari bersembunyi. Di balik ramainya langkah kaki mereka, Adis dapat mendengar jelas beberapa bisikan. “Komandan kenapa?” “Sejak ada perawat baru dia jadi aneh,” Sahutan itu memang lirih, tapi Adis dapat mendengar semuanya. Raka menatap Adis dari kejauhan, mata mereka saat ini saling bertemu. Namun dengan cepat Adis memutus pandangan itu. Langkah kakinya bergeser ke arah Dokter Melinda. “Saya boleh res

  • Merebut Kembali Cinta Lama    BAB 2 | Tembakan Dadakan

    Adis melangkah pelan menuju ruangannya, di atas sudah tertera papan kayu dengan tulisan. POLIKLINIK A1.Baru saja ia melangkah di sana sudah ada Rakabumi dan juga Adipati. Jantungnya terasa berhenti sesaat saat menatap dua lelaki di depannya. Adipati sedikit menyunggingkan senyum sedangkan Rakabumi tidak, ia justru terlihat acuh seperti tidak menginginkan kehadiran Adis di tempat ini. “Kayaknya pemeriksaan tempat kerja sudah selesai, toh yang punya tempat juga sudah datang,” ujarnya. Ia kemudian melangkah pergi.Adis dengan segera menuju tempatnya. “Perawat Adis,” panggil Dokter Melinda. Setelah Adis berhasil mendudukan dirinya di kursi ia kemudian menoleh ke arah rekannya, alisnya sedikit terangkat karena penasaran. “Iya ada apa?” tanyanya lirih. “Jangan di masukin hati ya, Komandan Raka memang seperti itu, banyak perawat yang tidak betah kerja disini karena sikapnya yang semena-mena.” Adis hanya tersenyum miring. “Aku tahu kok Dok,” jawabnya singkat. “Semoga kamu betah ya,” b

  • Merebut Kembali Cinta Lama    Bab 1 | Pertemuan Yang Tidak Di Sengaja

    “Nggak mungkin… nggak mungkin aku ditugaskan di satu tempat sama Mas Raka?” gumam Adis di sela-sela langkahnya. “Lagian kepala rumah sakit juga kenapa nggak ngasih tahu sih kalau aku harus ditugaskan disini, kalau tahu aku pasti milih buat penugasan luar kota saja,” Adis menghembuskan napasnya kasar, berharap ini semua hanyalah mimpi semata. Ingatannya kembali terputar, Adis seperti tidak asing dengan tempat ini, dahulu mantan suaminya pernah menunjukan tempat ini, mungkin hanya sekali saat itu. Ia terus memicingkan matanya ketika memasuki lebih dalam kawasan militer tersebut, bau asap rokok, kopi juga tumpukan-tumpukan surat penugasan. Hingga tiba di satu pintu, ia kemudian menghembuskan napas, Adis melangkah masuk. Lelaki yang sedari tadi sedang menjelaskan sesuatu, seakan menatapnya dengan pandangan tidak senang, dia Rakabumi Pramana. “Mas…” sapa Adis lirih. Ia sekarang sudah berdiri di samping Raka, namun bukannya menyambut hangat, lelaki itu justru turun dari podium, seak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status