Inicio / Romansa / Merebut Kembali Cinta Lama / Bab 1 | Pertemuan Yang Tidak Di Sengaja

Compartir

Merebut Kembali Cinta Lama
Merebut Kembali Cinta Lama
Autor: Fatzar kim

Bab 1 | Pertemuan Yang Tidak Di Sengaja

Autor: Fatzar kim
last update Última actualización: 2025-12-16 15:35:38

“Nggak mungkin… nggak mungkin aku ditugaskan di satu tempat sama Mas Raka?” gumam Adis di sela-sela langkahnya. 

“Lagian kepala rumah sakit juga kenapa nggak ngasih tahu sih kalau aku harus ditugaskan disini, kalau tahu aku pasti milih buat penugasan luar kota saja,” 

Adis menghembuskan napasnya kasar, berharap ini semua hanyalah mimpi semata. 

Ingatannya kembali terputar, Adis seperti tidak asing dengan tempat ini, dahulu mantan suaminya pernah menunjukan tempat ini, mungkin hanya sekali saat itu.  

Ia terus memicingkan matanya ketika memasuki lebih dalam kawasan militer tersebut, bau asap rokok, kopi juga tumpukan-tumpukan surat penugasan. 

Hingga tiba di satu pintu, ia kemudian menghembuskan napas, Adis melangkah masuk. 

Lelaki yang sedari tadi sedang menjelaskan sesuatu, seakan menatapnya dengan pandangan tidak senang, dia Rakabumi Pramana. 

“Mas…” sapa Adis lirih. Ia sekarang sudah berdiri di samping Raka, namun bukannya menyambut hangat, lelaki itu justru turun dari podium, seakan tidak mau bertemu dengan Adis. 

“Silahkan perkenalkan nama kamu,” 

Adis dengan gugup menatap ke arah sumber suara, bukan Rakabumi yang menyuruhnya memperkenalkan diri, melainkan Adipati, wakilnya. Adis tidak lupa, dulu ia sering bertemu dengan lelaki ini, dia wakil sekaligus sahabat dari Raka. 

Adis mengangguk ragu, semua pasang mata kini menatapnya, ada tatapan senang bahkan tatapan hangat namun yang mencuri perhatiannya justru tatapan dingin dari Rakabumi. 

“P—erkenalkan saya Adisty Zahrine perawat baru dari rumah sakit Wijaya yang ditugaskan di Markas Merpati, kalian semua bisa panggil saya Adis. Salam kenal,” ucap Adis. Ia kemudian menunduk lalu meremas jarinya untuk menghindari rasa gugup. 

“Baik, sekarang kamu bisa berkumpul dengan tim Kesdam, disana sudah ada Dokter Melinda yang bisa bimbing kamu. Jangan sungkan-sungkan untuk bertanya, saya harap kamu nyaman untuk bertugas disini,” ucapnya. 

Adis mengangguk pelan, ia dengan segera turun dari podium dan bergegas untuk menuju tempat timnya berkumpul. 

Langkah kakinya berhenti saat melewati tempat Raka, tidak ada senyum juga sapaan. Semua terasa seperti orang asing saat ini. 

Langkah kakinya berjalan sedikit terburu, menjauhi punggung lelaki itu, lelaki yang dulu pernah mengisi hatinya. 

Adis memilih untuk duduk di kursi paling belakang, ia sengaja menghindari tatapan mata Rakabumi.

“Salam kenal ya, Nama saya Melinda,” ucap wanita di sampingnya. Ketika ia baru saja mendudukan diri. 

Adis dengan sedikit gugup menjabat tangan tersebut. “Adis,” balasnya singkat lalu kembali menunduk. 

Adis tidak tahu, mengapa rasanya sangat aneh ketika berada satu pekerjaan dengan Rakabumi. 

Tiba-tiba ada suara dari samping yang membuatnya sedikit terkejut

“Dis, geser ada yang mau duduk di sebelah kamu,” bisik Melinda. 

Adis sontak saja mendongak lalu menggeser tempat duduknya.

“Saya Kapten Rendra, kalau ada apa-apa bisa lapor sama saya,” begitu ucapnya. 

Rendra kemudian menjabat tangan Adis, membuat wanita itu merasa sedikit risih. 

Dengan terpaksa ia tersenyum kecil. “Adis,” balasnya singkat kemudian dengan cepat melepaskan jabatan tangan tersebut. 

***

Adipati selesai menjelaskan tentang misi, seluruh ruangan dipenuhi dengan sorakan untuk siap bertugas. Adis ingin kabur dari sini, banyak orang yang sekarang sudah mendekatinya. 

“Hai perawat cantik, boleh tahu namanya siapa?” tanya salah satu prajurit yang bertubuh tinggi ia juga mengedipkan matanya genit. 

Di sisi lain, salah satu prajurit bertubuh lebih pendek dari yang pertama juga turut menggodanya. “Boleh tahu nomor w******p nya berapa?”

Adia tidak suka di situasi seperti ini, ia tidak ingin menjadi pusat perhatian. 

“Sudah sudah, sekarang kalian pergi!” usir Rendra yang sedari tadi sudah mengamati mereka menggoda Adis. 

“Ah elah Kapten mah pelit, giliran gini aja kami di usir.”

Bohong jika saat ini Adis tidak merasa risih, ia berkali-kali menghindar namun kerumunan prajurit menghalangi langkahnya untuk keluar. 

Hingga ada satu tangan terulur dari jauh, namun tatapan mata itu terlihat datar. 

Rakabumi Pramana. 

Tanpa menunggu lama, tangan itu kini menarik paksa tangan Adis, cengkramannya terasa sangat erat membuat Adis merasa kesakitan. 

“Sekarang kalian pergi!” perintah Raka dengan nada datar namun masih terdengar ada sedikit penekanan di akhir kalimat. 

“Siap, Komandan,” ujar mereka sambil bergegas pergi. 

Raka tidak menggandeng, ia terkesan menarik tangan Adis untuk saat ini. 

Ketika mereka sudah sedikit menjauh, adis mengibaskan tangan itu. Disana sudah ada bekas merah akibat ulah Raka. 

“Lepasin Mas!” ucap Adis lantang. 

“Suka digodain sama lelaki disini?” tanya Raka dengan menaikan sebelah alisnya. 

Plak!!!! 

Satu tamparan sudah mendarat di pipi Rakabumi. 

“Maksud Mas apa?! Kamu kira aku semurahan itu untuk didekati banyak lelaki?” tanya Adis dengan napas menggebu. 

“Bukankah Mas tidak peduli lagi dengan aku?” tanya Adis di sela-sela napasnya yang menggebu. 

Raka tersenyum miring, ia mengangkat dagu milik Adis. “Jaga ucapanmu.” Jakun Raka terlihat naik turun dan matanya terlihat lebih tajam. 

“Tapi bukankah memang benar?” tanya Adis lirih. Ia tidak berani menatap mata itu lebih lama lagi. 

Raka memiringkan wajahnya. “Kamu lupa saya disini siapa?” Ia kemudian membenarkan rambut milik Adis yang menutup wajah miliknya. “Saya tidak akan bilang kalau kamu ini mantan istri saya, yang ada saya dicap hanya mencari keuntungan saja.”

Apakah ini sebuah sandiwara baru? 

“Sebentar lagi saya juga akan menikah dengan salah satu perawat disini, jadi tolong jangan merusak suasana,” ucap Raka. 

“Apakah Mas mencintainya?” tanya Adis lirih.

Raka tersenyum miring. “Bukan urusanmu,” ucapnya santai. Ia kemudian mengangkat bahunya asal. 

“Tapi perawat yang mana? Aku dari tadi nggak melihat adanya perawat lain disini selain aku? Apa dokter Malinda?” 

Pertanyaan itu membuat raut wajah Raka sedikit kebingungan, namun ia dengan cepat merubah wajahnya. 

“Kamu tidak perlu tahu dia siapa. Kamu cukup bekerja dan berperilaku seolah kita tidak saling mengenal.” 

Adis menggigit bibirnya. “Lalu? Bagaimana dengan Mayor Adipati?” tanyanya dengan pelan. 

Raka mengangkat sebelah alisnya. “Itu sudah saya atur kamu tidak perlu banyak bertanya, cukup ikuti dan jadilah anak yang baik, saya pergi dulu masih banyak urusan.” 

Raka kemudian melangkah pergi meninggalkan Adis yang masih terdiam di lorong Markas. 

Dulu Raka adalah segalanya untuk Adis, sekarang semua terasa terbalik, orang yang dulu rumahnya kini telah menjadi sesuatu yang asing untuk ia singgahi kembali. 

“Tuhan… kenapa aku harus terjebak di dalam tempat seperti ini.” Adis mengusap wajahnya kasar. 

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Merebut Kembali Cinta Lama    Bab 5 | Dibuat Cemburu Oleh Sikapnya

    Dibuat bingung dengan sikapnya“Komandan mau ngapain?” Ucapan Adis justru membuat Raka tersenyum miring, namun tidak ada sepatah kata yang terucap. Adis mengerjapkan matanya beberapa kali. Detak jantungnya bekerja dua kali lipat saat ini. Rakabumi meraih tangan Adis yang masih bergetar, ia kemudian memeriksa bagian telapak tangan yang sudah basah oleh keringat.“Anxiety kamu kambuh,” ucap Raka datar. Jantung Adis mencelos, ia baru saja berpikir yang tidak-tidak. Tapi pada dasarnya memang otaknya saja yang terlalu jauh. “Fokus disini,” ucap Rakabumi tenang.Ia mengikuti tekanan di telapak tangan milik Adis, Raka meraba garis tangan dan denyut halus di pergelangan. “Tarik napas lalu hembuskan. Sekali lagi,” Raka memastikan agar napas milik Adis teratur dan tidak tersengal. Ia kemudian memberikan satu gelas aqua untuk Adis. “Minum,” perintahnya. Adis masih ragu untuk menerima, ia menatap kosong tangan Raka. Raka menghela napas berat akhirnya membuka aqua tersebut dan menyodork

  • Merebut Kembali Cinta Lama    Bab 4 | Adis Dalam Bahaya

    Rakabumi terus saja menghantui pikirannya, bahkan ketika ia sendiri di atas balkon markas. “Halo Dis,” sapa suara lelaki yang amat ia kenali. “Kapten Rendra?” Rendra masih tersenyum kini ia semakin menggeser tubuhnya untuk mendekati Adis“Kamu kenapa? Kok kaya banyak pikiran?” begitu tanyanya. Ia kemudian berusaha memegang tangan milik Adis. Adis dengan cepat menggeser tangannya dari pandangan Rendra. “Nggak kok Kapten, saya nggak papa.” Suasana menjadi canggung. Tidak ada percakapan lagi antara mereka berdua. Banyak pasang mata yang kini sudah menatap mereka dengan pandangan curiga. “Kapten Rendra,” ucap Adis lirih. Ia kemudian mempercepat langkahnya. “Aku izin permisi dulu, ada banyak laporan yang belum saya selesaikan…” pamitnya dengan nada halus. “Saya antar sampai ruangan kamu, mau?” Rendra menaikkan sebelah alisnya menatapnya dengan paksaan. Adis membulatkan matanya, ia kemudian menggeleng pelan sebagai jawaban. Rendra yang berusaha memepet membuat Adis sedikit berter

  • Merebut Kembali Cinta Lama    BAB 3| Sebuah Pertanyaan

    Adis menatap Raka dengan pandangan yang sangat dalam, namun lagi dan lagi ketika mereka saling berpandangan Raka justru mengalihkan wajahnya. “Komandan!” Dari kejauhan terlihat Adipati berjalan ke arahnya dengan rahang yang mengeras. “Jangan pernah meledakan peluru tanpa perintah, itu bisa membuat Komandan terkena pelanggaran!” teriaknya dengan lantang. Adis dari kejauhan masih mengamati Raka. Memang dari dulu sikap Raka tidak berubah, masih sama kerasnya. Sekarang, bukannya takut akan terjadi apa-apa, Raka justru kembali menembakkan peluru itu ke sembarang arah. Para prajurit lari bersembunyi. Di balik ramainya langkah kaki mereka, Adis dapat mendengar jelas beberapa bisikan. “Komandan kenapa?” “Sejak ada perawat baru dia jadi aneh,” Sahutan itu memang lirih, tapi Adis dapat mendengar semuanya. Raka menatap Adis dari kejauhan, mata mereka saat ini saling bertemu. Namun dengan cepat Adis memutus pandangan itu. Langkah kakinya bergeser ke arah Dokter Melinda. “Saya boleh res

  • Merebut Kembali Cinta Lama    BAB 2 | Tembakan Dadakan

    Adis melangkah pelan menuju ruangannya, di atas sudah tertera papan kayu dengan tulisan. POLIKLINIK A1.Baru saja ia melangkah di sana sudah ada Rakabumi dan juga Adipati. Jantungnya terasa berhenti sesaat saat menatap dua lelaki di depannya. Adipati sedikit menyunggingkan senyum sedangkan Rakabumi tidak, ia justru terlihat acuh seperti tidak menginginkan kehadiran Adis di tempat ini. “Kayaknya pemeriksaan tempat kerja sudah selesai, toh yang punya tempat juga sudah datang,” ujarnya. Ia kemudian melangkah pergi.Adis dengan segera menuju tempatnya. “Perawat Adis,” panggil Dokter Melinda. Setelah Adis berhasil mendudukan dirinya di kursi ia kemudian menoleh ke arah rekannya, alisnya sedikit terangkat karena penasaran. “Iya ada apa?” tanyanya lirih. “Jangan di masukin hati ya, Komandan Raka memang seperti itu, banyak perawat yang tidak betah kerja disini karena sikapnya yang semena-mena.” Adis hanya tersenyum miring. “Aku tahu kok Dok,” jawabnya singkat. “Semoga kamu betah ya,” b

  • Merebut Kembali Cinta Lama    Bab 1 | Pertemuan Yang Tidak Di Sengaja

    “Nggak mungkin… nggak mungkin aku ditugaskan di satu tempat sama Mas Raka?” gumam Adis di sela-sela langkahnya. “Lagian kepala rumah sakit juga kenapa nggak ngasih tahu sih kalau aku harus ditugaskan disini, kalau tahu aku pasti milih buat penugasan luar kota saja,” Adis menghembuskan napasnya kasar, berharap ini semua hanyalah mimpi semata. Ingatannya kembali terputar, Adis seperti tidak asing dengan tempat ini, dahulu mantan suaminya pernah menunjukan tempat ini, mungkin hanya sekali saat itu. Ia terus memicingkan matanya ketika memasuki lebih dalam kawasan militer tersebut, bau asap rokok, kopi juga tumpukan-tumpukan surat penugasan. Hingga tiba di satu pintu, ia kemudian menghembuskan napas, Adis melangkah masuk. Lelaki yang sedari tadi sedang menjelaskan sesuatu, seakan menatapnya dengan pandangan tidak senang, dia Rakabumi Pramana. “Mas…” sapa Adis lirih. Ia sekarang sudah berdiri di samping Raka, namun bukannya menyambut hangat, lelaki itu justru turun dari podium, seak

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status