MasukRakabumi terus saja menghantui pikirannya, bahkan ketika ia sendiri di atas balkon markas.
“Halo Dis,” sapa suara lelaki yang amat ia kenali. “Kapten Rendra?” Rendra masih tersenyum kini ia semakin menggeser tubuhnya untuk mendekati Adis “Kamu kenapa? Kok kaya banyak pikiran?” begitu tanyanya. Ia kemudian berusaha memegang tangan milik Adis. Adis dengan cepat menggeser tangannya dari pandangan Rendra. “Nggak kok Kapten, saya nggak papa.” Suasana menjadi canggung. Tidak ada percakapan lagi antara mereka berdua. Banyak pasang mata yang kini sudah menatap mereka dengan pandangan curiga. “Kapten Rendra,” ucap Adis lirih. Ia kemudian mempercepat langkahnya. “Aku izin permisi dulu, ada banyak laporan yang belum saya selesaikan…” pamitnya dengan nada halus. “Saya antar sampai ruangan kamu, mau?” Rendra menaikkan sebelah alisnya menatapnya dengan paksaan. Adis membulatkan matanya, ia kemudian menggeleng pelan sebagai jawaban. Rendra yang berusaha memepet membuat Adis sedikit berteriak. “To—” belum sempat ia meneriakan untuk meminta tolong. Rendra dengan cepat membekap Adis dengan sebelah tangannya. “Diam! Dan ikuti saya, kamu jangan coba-coba menolak saya, sekarang kamu harus dapat hukuman.” Mati sudah, kali ini Adis mendapat masalah baru. “Lepasin Kapten, lepasin!” rengek Adis dengan nada ketakutan. Rendra menyeret Adis dengan cepat kedalam gudang markas. “Makanya kalau sama saya jangan menolak, atau kamu bakalan terima resikonya.” kali ini Rendra menaikkan sebelah alisnya. Adis pikir Rendra itu benar baik, ternyata salah. Dia lebih berbahaya daripada Rakabumi. Langkahnya semakin mundur semakin mundur membuat ia harus menabrak tembok di belakangnya. Rendra menyeringai tipis, ia kemudian membelai lembut pipi milik Adis. “Perawat baru jangan macam-macam. Kalau saya bilang tinggal nurut apa susahnya kan?” Mata Rendra seakan menghipnotis manik hitam milik Adis saat ini, adis ketakutan kakinya bergetar hebat. Bahkan ia merasakan mual yang cukup berat. Anxiety Adis kambuh. Ia ketakutan, panik dan semua menjadi satu — tidak ada yang mendengar ia lagi, mungkin hari ini ia akan habis di tangan Rendra. Harusnya ia mendengar apa yang sudah dikatakan oleh Rakabumi, namun semua sekarang seperti melambat, jika ada satu kesempatan, ia akan bersujud kepada orang yang sudah menolongnya. “Kapten tolong jangan mendekat,” ucap Adis lirih, ia tidak dapat bergerak lagi, semua telah terkunci oleh tubuh Rendra. “Kita akan bermain-main hari ini, saya rasa kamu cukup menyukainya…” Jari-jari Rendra mulai menarik sebagian baju milik Adis hingga terbuka sebagian. Tidak, Adis tidak mau ini terjadi. “Saya hanya ingin menggandeng kamu, tapi kamu menolak saya di depan banyak orang, atau saya harus memberikan cap kalau kamu milik saya? Agar kamu tidak menolak apa yang saya perintah buat kamu? Kamu tidak perlu takut begitu cantik….” Jari-jari Rendra mulai mengusap leher milik Adis. Membuat yang punya merasa kegelian. “Dan harus kamu ingat, saya tidak pernah suka ditolak,” ucapnya dengan nada lembut. Rendra sudah membuka sebagian kancing bajunya. Siap untuk memberikan pelajaran kepada Adis. Rendra manipulatif Adis membenci itu semua. “Saya tidak akan mengulangi lagi, tapi tolong jangan ambil kep—” belum sempat Adis menjawab, justru pintu gudang terbuka lebar. BRAKKK Suara menggema ke seluruh ruangan. Adis menggigit bibirnya, harusnya Adis senang ada yang menolong tapi sepertinya ini akan menjadi petaka baru untuk Adis. Dia Rakabumi, lelaki yang baru saja mendobrak pintu itu. Rendra menatap tidak percaya, bukannya ia takut justru memberikan penawaran menarik untuk Rakabumi. “Apa kau juga ingin mencobanya? Kita bisa menikmati Perawat baru ini bersama-sama,” ujar Rendra tanpa rasa bersalah sama sekali. Raka hanya tersenyum miring, ia kemudian menyalakan Rokok dan meniupkan asapnya ke udara. Raka tidak menolong? Bukankah ini hal gila? Apakah Raka begitu kecewa dengan perlakuan Adis satu tahun sehingga membuat dirinya tidak berkutik saat Adis dalam bahaya. “Ini cukup menarik,” ucap Raka. Ia melihat ke arah Adis, menyeringai kecil. Adis menutup sebagian dadanya, baju medis yang ia kenakan sudah hampir terbuka sepenuhnya. “Saya akan melihat permainan kalian dengan menikmati nikotin yang saya hisap, sepertinya akan menarik jika melihat wanita itu meneriakan desahanmu malam ini, Kapten,” ujar Raka dengan santainya. Adis tidak percaya, lelaki yang dulu selalu menjadi pelindungnya kini justru seakan menjualnya kepada teman satu pekerjaannya? Rakabumi gila. Adis tidak akan memaafkannya selamanya. Seperti mendapat persetujuan, tangan Rendra kini menarik lebih jauh lagi seragam medis milik Adis. Raka menatap mata Adis datar. “Tolong!!!! Tolong lepasin…” Adis menjerit tidak karuan saat semua seragam medisnya sudah turun kebawah. “Komandan… tolong saya… tolong….” Ia menarik lengan Rakabumi, memohon suatu pertolongan. Raka tersenyum miring, ia kemudian memelintir tangan Rendra ke belakang. Meletakan puntung rokoknya ke lengan rekan kerjanya itu. “Lepasin, biar saya yang main dengannya… dari tadi kan kau sudah bermain-main,” ucap Rakabumi. Rendra berdecak pelan. “Dia milikku Komandan,” Ia kemudian menarik pelan kerah Rakabumi. BUGG Satu pukulan melayang di pipi Rendra. “Jangan melawan apa yang saya perintahkan,” Rahang Raka mengeras. “Sekarang kamu urus semua prajurit. Bilang saya sedang repot untuk hari ini,” ucapnya datar namun penuh dengan ancaman. Rendra menghembuskan napas pelan, ia baru saja ingin melawan, tapi kaki Rakabumi sudah menendang kaki miliknya terlebih dahulu. “Kalau kamu menolak, saya akan menyebarkan berita bahwa kamu berusaha memperkosa perawat Adis di dalam gudang,” ucapnya dengan nada datar. Rendra hanya menelan ludahnya susah payah, ia kemudian berlari keluar. Takut dengan apa yang diucapkan oleh Rakabumi itu menjadi nyata. “B—aik saya akan segera keluar,” ucap Rendra dengan nada ketakutan. Di dalam gudang Adis masih terduduk lemas, ia tidak menyangka beberapa menit lalu keperawanannya akan hilang di tempat yang dianggap pahlawan oleh Negara. Tangisan adis semakin menjadi, ia tidak tahu apa yang harus dilakukan saat ini, mungkin dengan cara keluar ia akan terbebas dari tempat ini. Rakabumi berjongkok di hadapannya, ia mencoba menarik tangan Adis yang menutup wajahnya saat ini. Wajah Adis sudah penuh dengan air mata. “Tau kan akibat tidak mendengarkan saya?” ucap Rakabumi. Kini Raka menatap datar ke arah wajah Adis. “Apa susahnya dengar ucapan saya? Coba kalau gak ada saya… mungkin kamu sudah di perkosa di tempat ini,” lanjutnya. “Kamu itu cantik dan menarik Dis, banyak yang ingin memilikimu… tidak menutup kemungkinan juga mereka akan melakukan hal yang berbahaya seperti Rendra lakukan.” Raka kini meraih seragam medis milik Adis, memasangkan dengan lembut di tubuh Adis. Adis mengaitkan kembali kancing seragamnya. Namun sekarang jantungnya kembali berdetak semakin tidak karuan saat Rakabumi mendekat, apakah Raka juga akan memperkosanya hari ini? “Komandan mau ngapain?” tanya Adis lirih Ia menatap ketakutan ke arah RakabumiDibuat bingung dengan sikapnya“Komandan mau ngapain?” Ucapan Adis justru membuat Raka tersenyum miring, namun tidak ada sepatah kata yang terucap. Adis mengerjapkan matanya beberapa kali. Detak jantungnya bekerja dua kali lipat saat ini. Rakabumi meraih tangan Adis yang masih bergetar, ia kemudian memeriksa bagian telapak tangan yang sudah basah oleh keringat.“Anxiety kamu kambuh,” ucap Raka datar. Jantung Adis mencelos, ia baru saja berpikir yang tidak-tidak. Tapi pada dasarnya memang otaknya saja yang terlalu jauh. “Fokus disini,” ucap Rakabumi tenang.Ia mengikuti tekanan di telapak tangan milik Adis, Raka meraba garis tangan dan denyut halus di pergelangan. “Tarik napas lalu hembuskan. Sekali lagi,” Raka memastikan agar napas milik Adis teratur dan tidak tersengal. Ia kemudian memberikan satu gelas aqua untuk Adis. “Minum,” perintahnya. Adis masih ragu untuk menerima, ia menatap kosong tangan Raka. Raka menghela napas berat akhirnya membuka aqua tersebut dan menyodork
Rakabumi terus saja menghantui pikirannya, bahkan ketika ia sendiri di atas balkon markas. “Halo Dis,” sapa suara lelaki yang amat ia kenali. “Kapten Rendra?” Rendra masih tersenyum kini ia semakin menggeser tubuhnya untuk mendekati Adis“Kamu kenapa? Kok kaya banyak pikiran?” begitu tanyanya. Ia kemudian berusaha memegang tangan milik Adis. Adis dengan cepat menggeser tangannya dari pandangan Rendra. “Nggak kok Kapten, saya nggak papa.” Suasana menjadi canggung. Tidak ada percakapan lagi antara mereka berdua. Banyak pasang mata yang kini sudah menatap mereka dengan pandangan curiga. “Kapten Rendra,” ucap Adis lirih. Ia kemudian mempercepat langkahnya. “Aku izin permisi dulu, ada banyak laporan yang belum saya selesaikan…” pamitnya dengan nada halus. “Saya antar sampai ruangan kamu, mau?” Rendra menaikkan sebelah alisnya menatapnya dengan paksaan. Adis membulatkan matanya, ia kemudian menggeleng pelan sebagai jawaban. Rendra yang berusaha memepet membuat Adis sedikit berter
Adis menatap Raka dengan pandangan yang sangat dalam, namun lagi dan lagi ketika mereka saling berpandangan Raka justru mengalihkan wajahnya. “Komandan!” Dari kejauhan terlihat Adipati berjalan ke arahnya dengan rahang yang mengeras. “Jangan pernah meledakan peluru tanpa perintah, itu bisa membuat Komandan terkena pelanggaran!” teriaknya dengan lantang. Adis dari kejauhan masih mengamati Raka. Memang dari dulu sikap Raka tidak berubah, masih sama kerasnya. Sekarang, bukannya takut akan terjadi apa-apa, Raka justru kembali menembakkan peluru itu ke sembarang arah. Para prajurit lari bersembunyi. Di balik ramainya langkah kaki mereka, Adis dapat mendengar jelas beberapa bisikan. “Komandan kenapa?” “Sejak ada perawat baru dia jadi aneh,” Sahutan itu memang lirih, tapi Adis dapat mendengar semuanya. Raka menatap Adis dari kejauhan, mata mereka saat ini saling bertemu. Namun dengan cepat Adis memutus pandangan itu. Langkah kakinya bergeser ke arah Dokter Melinda. “Saya boleh res
Adis melangkah pelan menuju ruangannya, di atas sudah tertera papan kayu dengan tulisan. POLIKLINIK A1.Baru saja ia melangkah di sana sudah ada Rakabumi dan juga Adipati. Jantungnya terasa berhenti sesaat saat menatap dua lelaki di depannya. Adipati sedikit menyunggingkan senyum sedangkan Rakabumi tidak, ia justru terlihat acuh seperti tidak menginginkan kehadiran Adis di tempat ini. “Kayaknya pemeriksaan tempat kerja sudah selesai, toh yang punya tempat juga sudah datang,” ujarnya. Ia kemudian melangkah pergi.Adis dengan segera menuju tempatnya. “Perawat Adis,” panggil Dokter Melinda. Setelah Adis berhasil mendudukan dirinya di kursi ia kemudian menoleh ke arah rekannya, alisnya sedikit terangkat karena penasaran. “Iya ada apa?” tanyanya lirih. “Jangan di masukin hati ya, Komandan Raka memang seperti itu, banyak perawat yang tidak betah kerja disini karena sikapnya yang semena-mena.” Adis hanya tersenyum miring. “Aku tahu kok Dok,” jawabnya singkat. “Semoga kamu betah ya,” b
“Nggak mungkin… nggak mungkin aku ditugaskan di satu tempat sama Mas Raka?” gumam Adis di sela-sela langkahnya. “Lagian kepala rumah sakit juga kenapa nggak ngasih tahu sih kalau aku harus ditugaskan disini, kalau tahu aku pasti milih buat penugasan luar kota saja,” Adis menghembuskan napasnya kasar, berharap ini semua hanyalah mimpi semata. Ingatannya kembali terputar, Adis seperti tidak asing dengan tempat ini, dahulu mantan suaminya pernah menunjukan tempat ini, mungkin hanya sekali saat itu. Ia terus memicingkan matanya ketika memasuki lebih dalam kawasan militer tersebut, bau asap rokok, kopi juga tumpukan-tumpukan surat penugasan. Hingga tiba di satu pintu, ia kemudian menghembuskan napas, Adis melangkah masuk. Lelaki yang sedari tadi sedang menjelaskan sesuatu, seakan menatapnya dengan pandangan tidak senang, dia Rakabumi Pramana. “Mas…” sapa Adis lirih. Ia sekarang sudah berdiri di samping Raka, namun bukannya menyambut hangat, lelaki itu justru turun dari podium, seak







