แชร์

BAB 2 | Tembakan Dadakan

ผู้เขียน: Fatzar kim
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-16 15:41:36

Adis melangkah pelan menuju ruangannya, di atas sudah tertera papan kayu dengan tulisan. POLIKLINIK A1.

Baru saja ia melangkah di sana sudah ada Rakabumi dan juga Adipati. Jantungnya terasa berhenti sesaat saat menatap dua lelaki di depannya.

Adipati sedikit menyunggingkan senyum sedangkan Rakabumi tidak, ia justru terlihat tidak peduli, seperti tidak menginginkan kehadiran Adis di tempat ini.

“Kayaknya pemeriksaan tempat kerja sudah selesai, toh yang punya tempat juga sudah datang,” ujarnya. Ia kemudian melangkah pergi.

Adis dengan segera menuju tempatnya.

“Perawat Adis,” panggil Dokter Melinda.

Setelah Adis berhasil mendudukan dirinya di kursi ia kemudian menoleh ke arah rekannya, alisnya sedikit terangkat karena penasaran. “Iya ada apa?” tanyanya lirih.

“Jangan di masukin hati ya, Komandan Raka memang seperti itu, banyak perawat yang tidak betah kerja disini karena sikapnya yang semena-mena.”

Adis hanya tersenyum miring. “Aku tahu kok Dok,” jawabnya singkat.

“Semoga kamu betah ya,” balas Dokter Melinda.

Adis menoleh cepat. “Aku baru sehari saja sudah pengen keluar dari sini Dok, bagaimana aku bisa betah untuk bertahan… aku harus menyelesaikan beberapa tugasku setelah itu aku akan pergi dari sini,” ucap Adis dengan nada tenang. Kemudian ia tersenyum senang.

Bukan Adis ingin keluar karena ia tidak betah dengan sikap Raka, itu salah. Justru karena mengetahui Raka akan menikah lagi.

Suasana kembali hening, tapi lagi dan lagi Adis kembali terjebak dalam pikirannya sendiri.

Harusnya ia tidak berada di tempat ini.

Dari arah pintu, suara langkah kaki kini sudah terdengar sangat jelas.

Tatapan tajam dari mayor adipati menyorot meja Melinda dan Adis yang saling bersebrangan.

“Untuk dokter Melinda dan juga perawat Adis, di harap untuk segera menuju lapangan, Ada satu prajurit yang cedera!”

“Hah?” jawaban itulah yang pertama kali terucap dari bibir Adis.

Adipati dan Melinda saling berhadapan tidak mengerti saat mendengar jawaban dari Adis.

Melinda dengan cepat membalas Adipati dengan profesional, Melinda mengerti mungkin Adis saat ini masih gugup.

“Siap Mayor! Kami akan segera melaksanakan!” balas Dokter Melinda.

Terlambat, suasana saat ini sudah tegang.

Adipati menaikan sebelah alisnya. Menatap tidak percaya atas jawaban dari Adis. “Hah… apa perawat Adis? apakah kamu tidak pernah bekerja di dunia medis militer? Apakah jawaban kamu seperti seorang perawat yang siap bekerja? Kalau ada masalah pribadi lebih baik selesaikan terlebih dahulu. Untung kamu bicara sama saya, kalau sama Komandan Raka mungkin kamu akan semakin direndahkan,” ujar Adipati. Ia menghembuskan napas kasar.

Adis memejamkan matanya. “Bodoh sangat bodoh harusnya aku nggak balas kayak tadi,” gumam Adis lirih.

Adis membungkukan badannya, kemudian membalas dengan nada terbata “Siap… M—ayor saya mengerti”

Melinda kemudian menarik lengan Adis ia sudah membawa peralatan medis. “Sudah ikuti aku saja sekarang, jangan banyak bicara… Komandan Raka nggak suka orang lelet,”

Mereka berdua berlari melewati Adipati.

Adis dan melinda berlari menuju lapangan semua Prajurit kini sorot matanya sudah tertuju pada Adis, begitupun juga dengan Raka. Pandangan itu masih sama datarnya.

“Petugas Medis harap cepat!!” teriak Raka menginterupsi.

Adis menunduk menyembunyikan wajahnya. Ia tidak melihat ke arah Raka.

Dengan cepat ia berjongkok memeriksa cedera pada kaki Prajurit tadi.

Adis mengangkat kain celana prajurit itu perlahan. Luka robek di betisnya tampak masih mengucurkan darah, bercampur debu dan tanah. Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri, lalu menekan bagian tepi luka dengan kain bersih dari tasnya.

“Tenang… jangan banyak bergerak,” ucapnya pelan, berusaha menenangkan.

Jari-jari Adis bergerak cekatan, membersihkan darah yang mengalir dan memeriksa apakah ada tulang yang bergeser. Keningnya berkerut saat prajurit itu meringis menahan sakit.

“Ini lukanya cukup dalam,” gumam Adis. “Tapi masih bisa ditangani.”

Ia meraih perban, melilitkannya perlahan di betis yang terluka, memastikan balutannya cukup kuat menahan darah tanpa membuat prajurit itu semakin kesakitan.

Melinda yang sejak tadi berdiri di samping segera berjongkok mendekat.

Tanpa banyak bicara, ia membuka tas kecil di pinggangnya dan mengeluarkan botol air serta kain bersih.

“Pakai ini,” katanya singkat sambil menyodorkan kain pada Adis.

Adis mengangguk cepat. Ia membasahi kain itu, lalu dengan hati-hati membersihkan sisa debu dan darah di sekitar luka.

Prajurit itu mengerang pelan, tubuhnya menegang.

“Sedikit lagi, tahan ya,” ujar Melinda lembut, tangannya menahan bahu prajurit itu agar tidak terlalu banyak bergerak.

Adis melirik sekilas ke arah Melinda, lalu kembali fokus. “Tekan disini,” pintanya.

Melinda segera menekan bagian atas luka sesuai arahannya, membantu menghentikan aliran darah.

Beberapa saat kemudian, balutan rapi melingkari betis prajurit itu.

“Sudah… untuk sementara aman,” ucap Adis lega pelan.

Raka kemudian berjalan mendekat ke arah Adis.

Nafasnya terdengar membuat Adis hampir kehilangan kendali saat ini. “Apa tidak ada cedera lagi?” tanyanya memastikan.

Adis membeku di tempat, entah mengapa saat bersama Raka ia selalu kesulitan untuk mengucapkan kata.

“T—idak ada lagi Komandan,” balas Adis gugup.

Raka mengangguk pelan. “Kerja bagus perawat Adis sekarang kamu bisa kembali untuk mengawasi di sebelah lapangan. Nanti malam saya tunggu laporan dari kamu.”

Adis ketika hendak berdiri, ia menoleh ke arah Raka begitupun dengan Raka. Mata mereka saling bertatapan.

Namun tidak ada tatapan yang penuh cinta, hanya rasa kecewa yang Raka perlihatkan.

“Cepat kembali,” perintahnya sekali lagi. Ia kemudian berjalan meninggalkan Adis.

Adis berjalan mendahului Melinda. Hingga ia tidak sadar telah menabrak seseorang.

Dia adalah Rendra.

“Kalau jalan hati-hati, ada yang perlu saya bantu?” tanya Rendra memastikan.

Adis menggelang pelan. “Tidak ada Kapten,” balasnya cepat. Ia berjalan dengan langkah terburu menjauhi Rendra.

Rendra memegang tangan Adis dengan cepat. “Kenapa buru-buru? Apakah saya menakutkan untuk kamu?”

Adis menghembuskan napas pelan. “T—idak, Kapten,” kata Adis.

Ia kemudian menyunggingkan senyum. “Aku permisi dulu, Dokter Melinda sudah menunggu di sebelah lapangan,” ucap Adis.

Rendra kemudian mengangguk pelan. “Sebenarnya saya masih ingin ngobrol sama kamu, tapi sepertinya kamu sedang sibuk… mungkin nanti malam bisa?” tanya Rendra memastikan.

Adis mengangguk cepat. “Iya bisa,” jawabnya.

Ia kemudian berlari kecil ke arah Melinda, menghindari Rendra yang berusaha mengejarnya.

Belum sempat ia menyapa Dokter Melinda yang sudah menunggunya, dari arah belakang ada suara yang mengejutkannya.

Duar!!!!!

Adis menatap panik ke arah tempat tersebut, disana sudah ada Rakabumi yang menembakkan sesuatu. Matanya menatap ke arah Adis dengan tatapan datar.

“Dia kenapa Dok?” tanya Adis penasaran. Jari telunjuknya kini sudah menunjuk ke arah Rakabumi.

“Aku nggak tahu Dis,” balas Melinda.

Di sana, di tempat suara berasal Rakabumi terus menatap Adis, dengan pandangan yang sama seperti sebelumnya.

Adis merasa risih, harusnya ia tidak berada disini — tidak bohong jika ia tidak nyaman dengan perlakuan Rakabumi kepadanya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Merebut Kembali Cinta Lama    Bab 30 | Hari Pernikahan #1

    Hari yang tidak pernah Adis bayangkan, kali ini benar dimatanya, Rakabumi akan melangsungkan pernikahannya dengan Laras.Mereka sudah berdiri di atas altar pernikahan dan mengucapkan janji suci pernikahan. “Dis, kamu nggak papa?“ lagi lagi Melinda menanyakan hal yang sama kali ini. Adis menggeleng pelan. “Santai aja, aku nggak papa kok, nggak perlu khawatir.“Pesta itu begitu meriah. Lampu-lampu kristal berkilauan, musik mengalun lembut, dan para tamu mengenakan pakaian terbaik mereka. Sangat berbeda dengan pernikahan Adis dulu bersama Rakabumi—yang dilakukan secara diam-diam, tanpa pesta, tanpa saksi yang berarti.Malam ini Adis terlihat sangat cantik dengan gaun putih yang membalut tubuhnya dan sepatu heels yang membuat langkahnya tampak anggun.Sayangnya, hatinya benar-benar rapuh.Adis merasa dirinya tak lebih dari boneka Rakabumi yang sengaja dihidupkan di dunia ini. Jika ada satu kesempatan untuk mengulang waktu, ia tidak ingin pernah mengenal pria itu.'Aku benci Rakabumi.'K

  • Merebut Kembali Cinta Lama    Bab 29 | Undangan Pernikahan

    Perasaan baru kemarin adis di terbangkan ke lagit, oleh Rakabumi Pramana sekarang ia harus menerima fakta bahwa minggu depan adalah hari pernikahan Rakabumi Pramana. “Dis, are you okay?"tanya Melinda di sampingnya kali ini. Adis menggeleng kecil ia tidak tau harus bersikap apalagi setelah ini, yang ia ingat ini adalah salah satu strategi Raka untuk merebut kembali dirinya. “Permainan ini sangatlah tidak lucu,” gumam Adis. Jahat, manipulatif dan licik. Adis membenci Raka, sangat membencinya. Undangan itu sangan jelas di depan matannya. Meskipun ia tahu bahwa ini adalah hari bahagia, tapi tidak dengan peraaannya.langkah kakinya bergetarr tatkala ia mendengar bahwa semua harus hadir kali ini, Adis juga wanita namun sepertinya ia tidak mendapatkan peran itu di sini.“Kamu nggk papa?“ tanya Adipati.Wah, gila… hanya orang berhati malaikat yang bakalan bilang kalau Adis saat ini nggak papa.Inibukanlah pertanyaan dari Melinda unduk keua kalinya, melainkan ini adaalah pertanyaandari a

  • Merebut Kembali Cinta Lama    Bab 28 | Sssht Melinda Diam

    Melinda merasakan ada yang berbeda dari diri adis, ia pun akhirnya memberanikan diri bertanya pada temannya tersebut. “Dis,memangnya kamu sebenarnya sama komandan ada hubungan apa sih, kalau boleh tau?“ tanya Melinda. Adis mematung sesaat.kalimat itu begitu menusuk untuk adis saat ini. Adis kemudian menjawab dengan satu tarikan napasnya. Mau tidak mau ia harus menjawab, karena Melinda sudah pasti akan menanyainya setiap saat. “Saya manatan komandan Rakabumi Pramana, memangnya ada apa?“Melinda hampir saja memuntahkan seluruh isi perutnya kali ini. Entah ini sebuah berita atau sebuah kejutan dadakan yang jelas ia belum bisa menerima. “Nggak kok Dis, cumakaget aja, berarti selamaini yang di gosipkan kalau komandan itu pernah menikah itu benar adanya,aku pikir dia belok.“ Melinda sedikit tertawa setelahnya.Rakabumi belok? Lucu sekali. bisa-bisanya Melinda berpikir seperti itu. Kalau Komandan mendengarnya sudah pasti ia akan terkena skors karena sudah membawa berita yang tidak ben

  • Merebut Kembali Cinta Lama    Bab 27 | Adis mencurigakan

    Melinda menahan napasnya yang terengah-engah. Ia memegang dadanya dengan sebelah tangan.“Aduh Dis, Dis… kamu ini kalau ngajak sengsara bilang-bilang dong!“ Melinda tidak terima dengan rekan setimnya itu yang membawanya harus berlari menghindari Rakabumi.“Dok… Kita sembunyi di balik pohon itu aja yuk!“ ujar Adis.Ini gila tapi cukup menarik untuk Melinda.“Bolehhh,” ucap Melinda.Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk bersembunyi di balik semak-semak yang tadi sudah di maksud oleh Adis.***“Dis, lagian, kamu kenapa sih pakai ngikutin Komandan segala?“ tanya Melinda.Adis diam, ia tidak menjawab kali ini.Ia kemudian menggaruk pipinya yang tidak gatal.“Emang ada yang salah?“ tanya Adis tanpa ragu kali ini. Ia menatap Melinda seperti tidak terjadi apa-apa.Melinda menepuk jidatnya. “Yang ada kamu disangka penguntit tau,” jelasnya.“Atau jangan-jangan kamu ini sebenarnya fans dari Komandan Rakabumi yang lagi menyamar ya?“ ucap Melinda.Ucapan Melinda membuat Adis hampir ingin memunta

  • Merebut Kembali Cinta Lama    Bab 26 | Hampir Ketahuan

    Meskipun sudah terjadi beberapa hari lalu, namun kalimat itu masih terngiang di kepalanya. Raka tidak pernah menyukai Laras, dia sangat menyukai Adis. Dan itu mutlak tidak bisa di bantah.Adis pikir Adipati akan membual soal ini.“Wih, sendirian aja?“ tanya Adipati.Adis mengangguk. “Berdua juga tidak mungkin kan, Mayor?“ Adis terkekeh pelan.Adipati kini sudah berada di samping Adis, menatap langit malam dalam diamnya.“Kenapa belum tidur?“ tanya Adipati.Adis membapas santai. “Karena belum bisa tidur, kata-kata Rakabumi masih terngiang.“Adis mencebikkan bibirnya, memasang raut masam.Lelaki di sampingnya kini sudah tertawa lebih dulu. “Emang Raka bilang apa?“Dengan berat hati Adis menarik napas dalam. “Dia cuma suka sama aku,” begitu balasnya.Adipati hampir saja tersedak ludahnya sendiri karena mendengar ucapan Adis.“Kan saya sudah bilang waktu itu, kamu sih nggak percaya,” balas Adipati.“Tapi pernikahan mereka sebentar lagi.“Adis meremas jarinya setelah kalimat itu keluar dar

  • Merebut Kembali Cinta Lama    Bab 25 | Pintar Dan Menarik

    Adis akhirnya menyelesaikan masalah yang telah diperbuat oleh Melinda.“Bapak, Ibu… mohon maaf… untuk masalah yang terjadi akan saya selesaikan setelah ini, dan sebagai gantinya kalian bisa ambil makanan gratis sepuasnya.”Adis berdiri di hadapan para warga, meskipun ia tahu yang diambil memiliki risiko besar.“Boleh nih,” sahut warga yang berdiri paling depan.“Nah, untuk semuanya dimohon antre di tempat yang sudah disediakan.”Adis berbicara dengan pembawaan santai dan tidak tergesa-gesa. Ia percaya masalah ini akan terselesaikan dengan kepala dingin.“Siap, Bu Perawat!”Adis memberikan aba-aba untuk para prajurit agar segera menyiapkan dapur umum.Sedangkan ia dan Melinda sibuk memberikan penanganan pertama.Warga mulai bergerak teratur menuju dapur umum. Suasana yang tadi sempat memanas perlahan mencair oleh aroma nasi hangat dan lauk sederhana yang dibagikan para prajurit.“Akhirnya semua dapat terkendali lagi,” bisik Melinda.Adis mengangguk kecil. “Iya, Dok, akhirnya ya…”Raka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status