Mag-log inMobil Jacob berhenti di lobi hotel di mana Sophia menginap selama di New York. Pria tampan itu tampak seakan tak ingin langsung pulang, tetapi dia sadar bahwa keadaan Sophia masih belum sepenuhnya pulih. Wanita itu butuh lebih banyak istirahat. Itu yang membuatnya mengerti.
“Apa kau mau aku antar ke dalam?” tanya Jacob memastikan.
Sophia menggelengkan kepalanya. “Tidak usah, Jacob Biar aku sendiri saja.”
“Kau yakin? Maksudku, aku hanya khawatir kau belum sepenuhnya pulih,” ucap Jacob lembut dengan penuh perhatian. Pandangan pria tampan itu tak lepas dari wajah Sophia yang penuh kehangatan.
Senyum tipis melengkung di bibir Sophia. Lantas, wanita cantik itu menganggukkan kepala dengan pelan. “Terima kasih banyak sudah mengantarku sampai ke hotelku menginap. Kau tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja. Lagi pula ada keamanan di hotel. Jadi, kalau memang aku kurang sehat, pasti aku akan meminta bantuan keamanan hotel untuk membawaku ke rumah sakit,” ujarnya dengan lembut.
Ya, Sophia tak ingin Jacob melangkah terlalu jauh ke dalam kehidupannya, terlalu dalam hingga bisa melihat dua rahasia paling berharga yang selama ini dia lindungi—Caleb dan Chloe. Kedua anaknya yang masih merahasiakan keberadaan mereka bahkan dari ayah kandung mereka, Lucas.
Sophia masih baru mengenal Jacob. Ada keraguan yang mungkin saja muncul di dalam diri. Itu kenapa dia merasa bahwa belum saatnya Jacob tahu tentang dirinya sudah memiliki anak. Mungki jika memang takdir berkendak Jacob bisa akan tahu. Hal yang pasti adalah tidak sekarang.
Jacob menatap Sophia sejenak, seakan ingin membaca isi hati Sophia lewat bola mata bening wanita itu yang kini sedikit berkabut. Dia menganggukkan kepala perlahan, mencoba memahami meski hatinya berkata lain.
“Baiklah. Aku menghargai keputusanmu. Tapi, aku ingin kau janji padaku satu hal padaku,” ucap Jacob, dengan nada sungguh-sungguh.
Sophia mengernyitkan kening. “Apa itu?” tanyanya, penasaran bercampur dengan bingung.
Jacob mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap mata wanita itu dalam-dalam. Ada keheningan sesaat yang menggantung, sebelum akhirnya dia berkata dengan tenang, “Aku mohon hubungi aku jika terjadi sesuatu. Apa pun itu. Jangan mencoba menyelesaikan semuanya sendirian, Sophia.”
Sophia diam sejenak tak menyangka Jacob akan mengatakan demikian padanya. Ada rasa tak enak, khawatir menyusahkan, tetapi melihat ketulusan di wajah Jacob membuat hatinya benar-benar luluh.
Sophia kini mengangguk canggung. “Terima kasih, Jacob. “
Dengan perlahan, Sophia membuka pintu mobil. Lantas, wanita itu melangkah turun, menarik mantel wol yang membalut tubuhnya agar lebih erat, lalu berjalan menuju pintu masuk hotel.
Jacob tak beranjak dari tempanya. Pria tampan itu terus menatap punggung Sophia yang semakin menjauh. Hatinya ingin menyusul, ingin memaksakan diri ikut sampai ke kamar hanya untuk memastikan semuanya baik-baik saja, tapi dia tahu bahwa Sophia butuh ruang.
Perlahan Jacob mulai melajukan mobilnya, dan Sophia langsung melambaikan tangan. Tepat di kala mobil Jacob mulai lenyap dari pandangannya—wanita itu melangkah menuju kamarnya.
***
Terdengar suara Caleb tertawa kecil, disusul Chloe yang berseru ceria. Anak kembar itu sedang bermain dengan boneka dan mainan kecil yang dibeli kemarin. Suara tawa kembar itu seakan menyambut di kala Sophia memasuki kamar hotel.
“Mommy sudah pulang!” Caleb dan Chloe memeluk Sophia, dan tentu wanita itu membalas pelukan si kembar.
Sophia tersenyum lembut, masalah yang menghamtam pikirannya seakan lenyap di kala mendengar tawa anak-anaknya. “Bagaimana hari kalian?” tanyanya penuh kehangatan.
“Menyenangkan Mommy! Tapi kami rindu Bibi Joana,” kata Caleb mewakili.
“Ya, Mommy. Kami rindu Bibi Joana. Kapan Bibi Joana akan ke sini?” tanya Chloe dengan bibir yang tertekuk.
Sophia membelai pipi bulat anak kembarnya itu. “Bibi Joana masih ada urusan di Paris. Nanti Bibi Joana akan segera menyusul ke sini.”
“Apa akan lama, Mommy?” tanya Caleb lagi.
“No,Honey. Bibi Joana pasti tidak akan mungkin lama. Bibi Joana kan sudah terbiasa di dekat kalian. Jadi, pasti Bibi Joana akan datang,” jawab Sophia lembut.
“Yeay! Aku tidak sabar bermain dengan Bibi Joana,” pekik Caleb dengan raut wajah riang gembira.
“Aku juga tidak sabar bermain dengan Bibi Joana!” pekik Chloe, tak kalah riang.
Sophia tersenyum, melihat kebahagiaan di wajah anak kembarnya. “Caleb, Chloe, tolong kalian bermain di kamar Amy dulu, ya? Mommy ingin istirahat sebentar. Hari ini cukup melelahkan untuk Mommy.”
Caleb dan Chloe mengangguk patuh, mereka langsung keluar kamar sambil memeluk mainan mereka. Pun Amy yang ada di sana segera keluar, mengantar kembar ke kamarnya. Ini adalah salah satu fungsi di mana Sophia menyewa dua kamar—agar ketika dirinya ingin istirahat sejenak, bisa meraskaan ketenangan dan kedamaian.
Sophia meletakan tas dan ponselnya ke atas meja. Pun dia melepaskan mantelnya, meletakan ke lemari. Detik selanjutnya, dia berbaring di ranjang empuk seraya memejamkan mata sebentar, mencoba menenangkan diri. Namun, pikirannya tak lepas memilikirkan Lucas.
Sophia bersyukur kejadian hari ini, dia bisa selamat. Namun, hal yang dia sesali adalah kenapa harus Lucas yang membantunya? Kenapa bukan orang lain? Sungguh, dia tak ingin terus berada di dekat mantan suaminya itu. Akan tetapi, entah kenapa semesta selalu membuatnya berada di dekat Lucas.
“Rasanya aku ingin sekali kembali ke Paris,” gumam Sophia pelan, tetapi seketika dia mengingat bahwa kariernya di Paris masih belum terlalu bagus. Pun dia bisa dikenal atas bantuan Margareth. Jika saja dia tak dibantu oleh Margareth, entah bagaimana nasibnya. Sebab, selama ini dia selalu bertahan demi anak-anaknya.
***
Keesokan hari. Sophia melangkah keluar dari mobil yang disopiri layanan hotel untuk menemui Margareth di sebuah kafe yang tidak jauh dari hotelnya. Dia melangkah masuk ke dalam sebuah kafe kecil yang terletak di sudut jalan SoHo. Kebetulan memang Margareth mengajaknya bertemu, dan karena kondisinya sudah merasa membaik, dia memutuskan menyetujui ajakan Margareth.
“Margareth,” sapa Sophia sambil berjalan mendekat ke arah Margareth.
“Bagaimana keadaanmu, Sophia? Apa kau sudah membaik?” tanya Margareth dengan nada ramah, dan penuh perhatian.
Sophia membalas senyuman itu, lalu duduk di hadapan Margareth. “Ya. Aku baik-baik saja, Margareth. Jangan khawatir.”
Margareth mengangguk pelan, tapi sorot matanya tak bisa menyembunyikan sedikit kekhawatiran. Dia lalu mencondongkan tubuhnya sedikit, berbisik seolah menyampaikan gosip.
“Aku dengar dari Jacob, kau tidak ingin ditemani sampai ke kamarmu. Dia tampak cemas, kau tahu? Dia bilang takut kau pingsan lagi seperti kemarin,” ucap Margareth sambil menyesap kopi di tangannya.
Sophia terdiam sejenak, lalu tersenyum penuh rasa canggung. Wanita cantik itu akhirnya mengalihkan pandangan ke luar jendela, seolah mencari cara untuk menjauh dari topik itu. “Jacob memang terlalu perhatian.”
“Bukan hanya perhatian, tapi juga peduli,” kata Margareth cepat, dengan nada yang mengandung pesan tersembunyi. “Tapi aku tidak akan ikut campur urusan hati Tenang saja. Meski jujur aku senang kau dekat dengan Jacob, tapi aku tidak akan memaksa,” lanjutnya dengan senyuman di wajahnya.
Sophia hanya membalas dengan senyum simpul. Lantas dia meraih cangkir cappuccino yang baru diantar pelayan. Dia hanya bisa memberikan senyuman, karena dia takt ahu harus menjawab apa dari ucapan Margareth barusan.
Margareth tampaknya bisa membaca suasana hati Sophia, sehingga dia segera mengubah arah pembicaraan. Dia segera membuka map cokelat yang dibawanya, lalu menyodorkan beberapa dokumen ke hadapan Sophia.
“Baiklah, kita langsung saja ke topik utama. Aku mengajakmu bertemu, karena membawa kabar bagus. Beberapa brand fashion ternama di New York—termasuk Valdena, Ophelia Noir, dan Bellamonte—ingin bekerja sama denganmu untuk proyek kolaborasi desain dan promosi. Ini akan berlangsung selama tiga hingga empat bulan ke depan,” ucap Margareth dengan nada serius.
Mata Sophia melebar sejenak terkejut akan ucapan Margareth. Tangannya terhenti sebelum menyentuh kertas itu. “B-Brand ternama itu mengajakku untuk kolaborasi?” tanyanya tak percaya. Otaknya mencoba mencerna ini semua, khawatir bahwa apa yang dia dengar adalah salah.
Margareth mengangguk, tanpa sama sekali ragu. “Ya, dan ini peluang besar, Sophia. Aku yakin namamu bisa besar lewat proyek ini.”
Sophia mengalihkan pandangannya ke dokumen di meja. Lantas, dengan gerap sedikit cepat, dia mulai membuka halaman pertama, membaca sekilas poin-poin kerja sama, lalu menutupnya perlahan—dengan raut wajah memancarkan jelas adanya harapan.
“Margareth, ini sangat luar biasa! Aku tidak mungkin menolak. Aku setuju,” jawab Sophia, dengan nada antusias.
Margareth tersenyum. “Good. Keputusan yang tepat. Ah, ya, selama di New York, kau tinggal di hotel, kan?” tanyanya memastikan.
Sophia mengangguk. “Ya, aku tinggal di hotel, Margareth.”
“Menurutku akan lebih hemat jika kau menyewa apartemen. Bagaimana?” tawar Margareth, memberikan saran.
Sophia terdiam mendengar saran dari Margareth. Tak menampik bahwa apa yang disarankan oleh Margareh ada benarnya. Pun jika menyewa apartemen, akan membuatnya merasakan jauh lebih hemat. Dia tak mungkin lupa akan di mana dirinya harus pandai mengatur keuangan. Kembar sudah semakin besar, membutuhkan banyak biaya.
“Aku akan pikirkan itu, Margareth.”
“Jika kau mau, aku akan meminta team-ku membantumu mencari apartemen yang nyaman.”
“Hmm, nanti aku akan mengabarimu. Sementara ini mungkin aku akan mencari sendiri dulu. Nanti kalau memang aku membutuhkan bantuamu, aku akan bilang padamu. Sekali lagi terima kasih, Margareth.”
Margareth tersenyum. “Sophia, sejak awal aku mengenalmu saat fashion show di Paris, aku sudah tahu kau adalah designer berbakat. Aku yakin, kau bisa memiliki masa depan yang cerah jika kau sabar dalam segala prises. Trust me, tidak ada orang sukses yang instan.”
Sophia membalas senyuman Margareth. “Aku adalah orang yang percaya bahwa kerja keras bercampur dengan kerja cerdas akan menuaikan hasil. Tentang kesabaran, kau tenang saja. Aku selama ini selalu berusaha sabar, dan tidak terburu-buru dalam hidup.”
Keheningan membentang dari dalam mobil. Lucas melajukan mobil dengan kecepatan penuh—dengan aura wajah tampak menunjukkan kemarahan. Tangannya kini mencengkeram kuat stir mobil. Pria tampan itu dikuasai kemarahan di kala melihat adegan intim Sophia dengan Jacob.Shit! Lucas memukul setir mobil, seraya meloloskan umpatan dalam hatinya. Dia tak mengira akan bertemu dengan Sophia bersama dengan Jacob. Apa yang dia lihat tadi, membuat mood dalam dirinya sangat kacau.“Lucas, kenapa kau mengajakku pergi? Kau kan sudah berjanji padaku akan menemaniku di restoran baru yang tadi,” kata Anna kesal pada Lucas.Lucas masih diam. Matanya menerawang lurus ke depan. Pikirannya terus terngiang pada sosok Sophia yang bersandar pada dada Jacob—dalam keadaan seakan membutuhkan Jacob. Reka adegan itu bagaikan kaset kusut yang tak berhenti terputar di benaknya.“Lucas?” desakan Anna memecah lamunannya.Lucas mengedip pelan, menyadari bahwa pertanyaan Anna dia abaikan. “Kau bisa makan siang di tempat lain
Sophia bangun pagi tidak dengan wajah yang segar. Wanita cantik itu kesal, kenapa tadi malam harus memimpikan Lucas. Dari sekian banyak hal yang dia lalui, kenapa dia harus kembali memikirkan pria yang harusnya dienyahkan dari pikirannya? Sungguh, dia membenci ini semua.“Sophia, aku ingin mengajak kembar ke taman bermain. Apa hari ini kau sibuk?” Joana masuk ke dalam kamar, menghampiri Sophia.Sophia melamun, tak menyadari kedatangan Joana.“Sophia?” panggil Joana lagi, tepat di depan sahabatnya itu.Sophia langsung membuyarkan lamunannya. “Hm? Ya, Joana?” jawabnya cepat, di kala sudah sadar kehadiran sahabatnya itu.Joana mendesah pelan, lalu duduk di samping Sophia. “Sepertinya ada hal yang membebani pikiranmu. Katakan padaku, apa yang kau pikirkan?”Sophia menyandarkan punggungnya ke sofa, sembari memejamkan mata lelah. “Tadi malam aku mimpi Lucas. Dan kembar datang ke kamarku saat mereka mendengarku menjerit nama Lucas.”Joana terkejut langsung meraih kedua bahu Sophia. “Wait, ka
“Apa sekarang kau bahagia, Sophia?”Sophia menoleh pelan ke arah sumber suara berat dari seorang pria. Tampak jelas matanya menyiratkan kehangatan yang nyaris meleleh. Bibirnya melengkung membentuk senyum yang tenang seolah seluruh dunia tak lagi menyakitkan.“Menurutmu?” tanya Sophia, dengan nada tenang. “Aku merasa kau bahagia, tapi kau akan lebih bahagia jika bersamaku,” jawab pria tampan itu sembari menggenggam tangan Sophia. Sophia terdiam merasakan kehangatan sentuhan yang sudah lama sekali dia rindukan. Hatinya luluh. Dia berjalan dengan pria tampan itu menyusuri taman yang dipenuhi bunga bermekaran. Langit biru tanpa awan menggantung damai di atas kepala mereka. Sinar matahari menyelinap melalui daun-daun, menciptakan permainan cahaya di tanah dan di wajah Sophia. Udara membawa aroma melati dan rerumputan segar. Semuanya sempurna. Bahkan terlalu sempurna.Tangan itu—tangan hangat yang dia kenal betul—menggenggam erat jemarinya. Sang pemilik tangan adalah Lucas. Dia pria yang
Matahari mulai muncul di ufuk timur, memancarkan cahaya keemasan yang menyelimuti garis langit kota New York. Saat sinar pertama menyentuh permukaan kaca gedung pencakar langit yang menjulang, jalanan mulai berdenyut dengan kehidupan. Udara terasa segar, membawa aroma kopi yang baru diseduh dari kafe di sudut jalan, berpadu dengan wangi manis bunga sakura yang mekar di Central Park.Pelari, mengenakan pakaian berwarna cerah, melintasi jalur setapak, langkah mereka berirama, bergema di tengah kicauan burung yang ceria. Tampak seorang musisi jalanan mengalunkan melodi lembut dengan gitarnya, nada-nada itu melayang di udara seperti bisikan harapan. Pun dari kejauhan, siluet ikonik Patung Liberty berdiri megah, mengingatkan akan ketahanan dan kebebasan.Pagi yang indah di New York, membawa kedamaian jiwa. Sophia duduk di kursi taman bersama dengan Joana. Dia memperhatikan khusus kembar yang bermain dengan anak-anak yang baru dikenal. Ada Amy yang selalu setia menemani kembar.Ya, hari ini
“Ingin minum?” tanya Jacob menawarkan wine pada Sophia, tepat di kala wanita itu sudah selesai berdansa. Meski dia tak menyukai di kala MC mengumumkan pertukaran pasangan saat dansa, tetapi dia harus menghargai acara bibinya itu.Sophia berdeham sebentar, berusaha mengatur emosi dalam dirinya. Dia harus tetap tenang, tak ingin sampai Jacob mengetahui bahwa tadi dia sempat berdebat dengan Lucas. Tidak. Dia tidak akan pernah membiarkan siapa pun tahu tentangnya dengan Lucas.“Tidak, Jacob. Aku sedang tidak ingin minum alkohol,” tolak Sophia lembut, pada Jacob.Jacob mengangguk, menanggapi ucapan Sophia.“Hm, Jacob, apa kau keberatan mengantarku kembali ke hotel sekarang? Aku merasa sedang kurang sehat,” ujar Sophia lembut.“Kau sedang kurang sehat? Apa yang kau keluhkan?” Jacob dengan penuh perhatian, menyentuh kening Sophia. Pria tampan itu menunjukkan jelas rasa cemas yang membentang di dalam diri.Sophia tersenyum lembut. “Aku hanya sedikit pusing. Maaf, aku tidak bisa terlalu lama d
“Sophia? Kenapa wajahmu kesal seperti itu?” tanya Joana di kala melihat Sophia masuk ke dalam kamar. Dia yang sedang berkutat pada iPad-nya langsung meletakan iPad-nya ke atas meja, dan menatap Sophia dnegan tatapan bingung serta terselimuti rasa penasaran yang membentang.Sophia menghempaskan tubuhnya ke sofa. “Aku tadi tidak sengaja bertemu dengan ibu Lucas di butik Margareth, Joana.”“Kau bertemu dengan ibu Lucas di butik Margareth?” ulang Joana memastikan, dengan raut wajah terkejut.Sophia mengangguk, menanggapi ucapan Joana.Joana terdiam sebentar. “Kau berada di lingkungan kelas atas. Kau berkenalan dengan Margareth Alford yang merupakan designer ternama. Jadi, aku tidak heran kalau kau bertemu dengan ibu Lucas.”Sophia menghela napas dalam. “Ya, menjadi fashion designer adalah impianku. Aku harus menerima segala konsekunsi termasuk kembali bertemu dengan mantan suamiku berseta keluarganya.”Joana menyentuh tangan Sophia. “Tidak banyak yang aku katakan padamu selain kau harus f







