Beranda / Romansa / Merindukanmu, Dalam Jerit Tangisku / Bab 8. Berusaha Menjadi Ibu yang Sempurna

Share

Bab 8. Berusaha Menjadi Ibu yang Sempurna

Penulis: Michaella Kim
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-01 00:22:58

Keheningan bercampur dengan kecanggungan membentang. Sophia duduk di kursi mobil sport yang melaju membelah kota New York. Wanita cantik itu duduk dengan tenang, dan di sampingnya Jacob sedang melajukan moboil. Tentu ada kecanggungan, karena Sophia baru pertama kali mengenal Jacob, dan sekarang sudah diantar pulang.

“Apa kau akan lama di New York, Sophia?” tanya Jacob memecah keheningan yang membentang.

Sophia sedikit tersentak. “Ah, aku masih belum tahu, Jacob.”

Jacob melirik sekilas Sophia. “Aku berharap kau lama di sini. Sophia.”

Sophia tersenyum, menanggapi ucapan Jacob. Jujur, dia bingung untuk menjawab seperti apa. Jadi, lebih baik dia tersenyum saja.

Tak selang lama, mobil sport Lamborghini Aventador milik Jacob mulai memasuki lobi hotel—di mana Sophia menginap. Pria tampan itu tepat memberhentikan mobiknya di lobi.

“Jadi, selama kau di New York, kau menginap di hotel ini?” tanya Jacob sambil menatap Sophia.

Sophia mengangguk. “Ya, benar, Jacob. Aku menginap di sini selama aku berada di New York.”

Jacob tersenyum. “Baiklah, aku harap kita bisa bertemu di hari-hari berikutnya.”

Sophia membalas senyuman Jacob. “Pasti. Kau adalah keponakan Margareth. Tentu aku yakin, kita bisa bertemu lagi. Ya sudah, aku turun dulu. Terima kasih sudah mengantarku. Hati-hati di jalan, Jacob.”

“Tentu. Have a nice day, Sophia,” balas Jacob hangat.

Sophia kembali tersenyum, lalu dia membuka seat belt-nya, dan turun dari mobil. Tepat di kala dia sudah turun—Jacob menurunkan kaca mobil seraya melambaikan tangan ke arah Sophia.

Sophia membalas lambaian tangan Jacob, dan perlahan mobil Jacob mulai meninggalkan lobi hotel. Detik selanjutnya, Sophia melangkah masuk ke dalam lobi—menuju lift. Dia ingin segera tiba, karena putranya sedang rewel.

Denting pelan menandai bahwa lift sudah sampai. Sophia melangkah keluar dan berjalan menelusuri lorong hotel yang tenang. Setelah menemukan kamarnya, dia mengeluarkan kartu akses dari dalam tas dan membuka pintu.

Begitu masuk, suasana sepi langsung menyambutnya. Hanya terdengar suara pelan hembusan angin yang masuk dari balkon yang sedikit terbuka, menggoyangkan tirai tipis berwarna krem di tepi jendela.

“Amy?” panggil Sophia pelan, dan pandangannya menyapu sekeliling ruangan.

“Oh, Anda sudah kembali, Nyonya,” sapa Amy sopan.

“Di mana Caleb dan Chloe?” tanya Sophia sambil menaruh tas di atas sofa.

“Chloe dan Caleb sedang berada di balkon, Nyonya. Mereka sudah tidak lagi menangis. Maaf, tadi saya membawa Caleb dan Chloe ke taman terdekat agar Caleb dan Chloe berhenti menangis. Saya bingung bagaimana menenangkan kembar. Mereka merindukan Anda. Jadi, saya membawa ke taman agar mengalihkan perhatian mereka. Tapi maaf, sekarang mereka sedang murung,” tutur Amy menjelaskan dengan nada sedikit cemas.

Raut wajah Sophia langsung berubah. Kekhawatiran dengan cepat menyelimuti hatinya. Wanita itu mengenal anak-anaknya sangat baik, dan Caleb dan Chloe dalah anak-anak yang cenderung ekspresif.

“Apa yang terjadi pada Caleb dan Chloe, Amy?” tanya Sophia kemudian, suaranya melembut, tetapi jelas terdengar gelisah.

Amy menghela napas panjang sebelum menjelaskan. “Tadi saat kami di taman, Caleb dan Chloe melihat seorang anak kecil bermain bola bersama ayahnya. Sejak itu, mereka diam dengan wajah muram. Saya sudah mencoba menghibur mereka, tapi mereka tetap muram.”

Perkataan Amy seakan menampar Sophia dengan lembut, tapi sangat menyakitkan. Tak menampik bahwa, hati Sophia mencelos. Rasa bersalah mulai merayap, menggigit perlahan sisi batinnya.

Meskipun Sophia selama ini sudah berusaha menjadi ibu yang baik, ada kekosongan yang tak bisa dia isi sepenuhnya—kehadiran seorang ayah. Caleb dan Chloe terlalu kecil untuk sepenuhnya mengerti, tapi cukup besar untuk merasakan kehilangan.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Sophia segera berjalan menuju balkon, dan di sana dia menemukan kedua anaknya sedang duduk berdampingan di bangku panjang dari kayu. Kaki mereka yang kecil menggantung dan bergerak pelan mengikuti irama angin. Tampak Chloe bersandar di pundak sang kakak, sedangkan Caleb menatap langit jingga keunguan yang mulai menyelimuti senja.

“Caleb? Chloe?” panggil Sophia lembut, sambil perlahan membuka pintu geser balkon.

Chloe lebih dulu menoleh, mata bulatnya yang biasanya ceria kini tampak sendu. Namun, gadis kecil itu segera memalingkan wajahnya kembali ke arah langit, seolah tidak ingin ibunya melihat kesedihannya. Sementara Caleb menatap langsung ke arah Sophia. Mata besar bocah itu memantulkan cahaya senja yang temaram, tetapi di dalamnya tak ada binar—hanya sayu yang diam dan dingin. Tatapan kosong itu tentu membuat dada Sophia terasa sesak.

“Mommy sudah pulang, Sayang,” ucap Sophia lembut, menahan gejolak di dadanya. Suaranya bergetar halus, tapi dia tetap berusaha terdengar hangat.

Caleb mengangguk kecil. Tubuhnya tidak bergerak, tapi bibir mungilnya mulai mengucap, “Mommy, tadi Bibi Amy membawaku dan Chloe ke taman. Bibi Amy menenangkan kami saat kami menangis merindukan Mommy.”

“Nah, sekarang Mommy ada di sini.” Sophia membelai pipi buat Caleb dab Chloe.

Caleb menunduk. “Mommy, kami sedih.”

“Iya, Mommy, kami sedih,” sambung Chloe pelan.

“Ceritakan pada Mommy, hal apa yang membuat kalian bersedih, hm?” tanya Sophia lembut.

Caleb dan Chloe saling bertukar pandang, memancarkan jelas rasa sedih mereka. Lantas, Caleb menjawab mewakili, “Kami tadi lihat ada anak yang sepantaran kami main bola bersama ayahnya. Dia terlihat sangat bahagia. Kami iri, Mommy. Kami tidak pernah bermain bola bersama Daddy.”

Perkataan Caleb berhasil menghantam hati Sophia begitu keras. Wanita cantik itu langsung terdiam sejenak. Kata-kata itu seakan belati yang menusuk di hati Sophia. Ya, sejak Caleb dan Chloe lahir, Sophia tahu mereka akan tumbuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab. Dia mencoba menggantikan peran itu sendiri—menjadi ibu sekaligus ayah.

Selama ini, Sophia mencurahkan seluruh kasih sayangnya, mencoba menjadi segalanya bagi kembar. Namun, nyatanya tetap ada ruang yang tak bisa dia isi sendiri. Dia menyadari akan hal itu, tetapi dia akan tetap terus berjuang demi kebahagian anak-anaknya.

Sophia melangkah mendekat, berlutut di hadapan kedua anaknya, lalu mengelus pelan rambut Caleb dan Chloe yang lembut. “Kalian anak-anak yang hebat,” ucapnya penuh kehangatan.

Caleb dan Chloe terdiam sebentar, dengan raut wajah yang masih muram.

“Mommy, kenapa kami tidak punya Daddy seperti anak-anak lainnya?” tanya Chloe kali ini.

Sophia tersenyum. “Kalian punya Daddy, tapi Daddy kalian ada di surga Kan Mommy sudah cerita pada kalian bahwa Daddy ada di surga.”

Sophia sangat sadar bahwa tindakannya merupakan sebuah dosa yang besar. Namun, dia tak bisa melakukan apa pun lagi selain berbohong. Dia tidak mau sampai anak-anaknya mengenal sosok Lucas. Pun dia yakin jika Lucas tahu tentang kembar, mantan suaminya itu tak akan pernah mengakui kembar. Jadi, lebih baik dia mengatakan pada kembar bahwa ayah mereka berada di surga.

“Apa Mommy tidak bisa memanggil Daddy dari surga, agar bisa bertemu kami dan menemani kami bermain di sini?” tanya Caleb pelan.

Pertanyaan itu membuat dada Sophia terasa seperti ditindih batu besar. Bibirnya kini bergetar. Dia menunduk sesaat, menahan napas, dan mengatur emosi yang hampir meledak. Dia mengakui bahwa tindakannya salah, tetapi berbohong demi kebaikan adalah hal yang tepat menurutnya.

Sophia kemudian tersenyum, meski tipis. “Apakah kalian merasa kurang kasih sayang dari Mommy, hum?” tanyanya dengan nada lembut.

Caleb dan Chloe menggelengkan kepala kecil. “Tidak. Mommy sangat menyayangi kami. Tapi, kami juga ingin bermain dengan Daddy, Mommy.”

Kalimat itu mengiris hati Sophia. Jawaban polos dari dua bocah yang hanya ingin merasakan keutuhan yang biasa dilihatnya dari anak-anak lain. Air mata menggenang di pelupuk matanya, tapi belum dia biarkan jatuh. Dia tahu, dirinya harus kuat—setidaknya di depan mereka. Dia kini mengelus pipi Caleb dan Chloe lalu mencium kening anak kembar itu.

“Dengarkan Mommy, Mommy akan jadi Mommy dan Daddy sekaligus, untuk Caleb dan Chloe. Mommy akan temani kalian, ajak bermain, antar sekolah, bahkan bertengkar dengan monster di bawah kasur kalian. Jadi … jangan pernah merasa kalau kalian tidak punya Daddy, ya?” ujar Sophia, dengan nada bergetar menahan sesak di dada.

Caleb dan Chloe hanya diam. Pandangan mereka menunduk, bibir mereka mencibir kecil. Jelas sekali mereka belum puas, belum mengerti, belum bisa menerima sepenuhnya. Tentu itu wajar. Sophia tahu itu.

Beberapa detik keheningan tercipta di antara mereka, hanya ditemani suara angin dan lalu lalang mobil jauh di bawah sana. Sophia menoleh ke arah Chloe yang kini memeluk boneka kelinci kesayangan putrinya itu. Wajah mungil itu juga tampak sendu.

Tak ingin suasana larut dalam kesedihan, Sophia menarik napas panjang lalu tersenyum cerah—senyum yang dia latih sejak lama agar bisa menenangkan dua jiwa kecil yang dia lindungi dengan sepenuh hati.

“Bagaimana kalau kita pergi ke supermarket? Kita beli es krim yang banyak?” usul Sophia sambil membesarkan suaranya sedikit agar terdengar semangat.

“Ayo!” seru Caleb dan Chloe serempak. Mata mereka yang tadi suram langsung berbinar. Senyum mereka merekah, dan wajah mereka kembali tampak seperti anak-anak pada umumnya—penuh harap dan semangat untuk hal-hal sederhana.

Sophia tertawa kecil, bahagia melihat perubahan drastis itu. Wanita cantik itu lalu bangkit berdiri, meraih tangan anak-anak-naknya sembari mencium pipi mereka satu per satu. Dia menyadari dia bukan ibu yang sempurna, tetapi dia selalu berusaha menjadi ibu yang terbaik untuk anak-anaknya.

‘Kelak kalian akan mengerti, kenapa kalian tidak bisa merasakan sosok seorang ayah dalam hidup kalian. Dan saat hari itu tiba, Mommy harap kalian sudah cukup kuat untuk memaafkan kenyataan,’ batin Sophia, menatap dua anaknya yang girang, karena ingin dibelikan es krim.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Merindukanmu, Dalam Jerit Tangisku   Bab 23. Enyahlah dari Pikiranku!

    Keheningan membentang dari dalam mobil. Lucas melajukan mobil dengan kecepatan penuh—dengan aura wajah tampak menunjukkan kemarahan. Tangannya kini mencengkeram kuat stir mobil. Pria tampan itu dikuasai kemarahan di kala melihat adegan intim Sophia dengan Jacob.Shit! Lucas memukul setir mobil, seraya meloloskan umpatan dalam hatinya. Dia tak mengira akan bertemu dengan Sophia bersama dengan Jacob. Apa yang dia lihat tadi, membuat mood dalam dirinya sangat kacau.“Lucas, kenapa kau mengajakku pergi? Kau kan sudah berjanji padaku akan menemaniku di restoran baru yang tadi,” kata Anna kesal pada Lucas.Lucas masih diam. Matanya menerawang lurus ke depan. Pikirannya terus terngiang pada sosok Sophia yang bersandar pada dada Jacob—dalam keadaan seakan membutuhkan Jacob. Reka adegan itu bagaikan kaset kusut yang tak berhenti terputar di benaknya.“Lucas?” desakan Anna memecah lamunannya.Lucas mengedip pelan, menyadari bahwa pertanyaan Anna dia abaikan. “Kau bisa makan siang di tempat lain

  • Merindukanmu, Dalam Jerit Tangisku   Bab 22. Adegan Intim yang Menyesakkan Hati Lucas

    Sophia bangun pagi tidak dengan wajah yang segar. Wanita cantik itu kesal, kenapa tadi malam harus memimpikan Lucas. Dari sekian banyak hal yang dia lalui, kenapa dia harus kembali memikirkan pria yang harusnya dienyahkan dari pikirannya? Sungguh, dia membenci ini semua.“Sophia, aku ingin mengajak kembar ke taman bermain. Apa hari ini kau sibuk?” Joana masuk ke dalam kamar, menghampiri Sophia.Sophia melamun, tak menyadari kedatangan Joana.“Sophia?” panggil Joana lagi, tepat di depan sahabatnya itu.Sophia langsung membuyarkan lamunannya. “Hm? Ya, Joana?” jawabnya cepat, di kala sudah sadar kehadiran sahabatnya itu.Joana mendesah pelan, lalu duduk di samping Sophia. “Sepertinya ada hal yang membebani pikiranmu. Katakan padaku, apa yang kau pikirkan?”Sophia menyandarkan punggungnya ke sofa, sembari memejamkan mata lelah. “Tadi malam aku mimpi Lucas. Dan kembar datang ke kamarku saat mereka mendengarku menjerit nama Lucas.”Joana terkejut langsung meraih kedua bahu Sophia. “Wait, ka

  • Merindukanmu, Dalam Jerit Tangisku   Bab 21. Hanya Sebuah Mimpi

    “Apa sekarang kau bahagia, Sophia?”Sophia menoleh pelan ke arah sumber suara berat dari seorang pria. Tampak jelas matanya menyiratkan kehangatan yang nyaris meleleh. Bibirnya melengkung membentuk senyum yang tenang seolah seluruh dunia tak lagi menyakitkan.“Menurutmu?” tanya Sophia, dengan nada tenang. “Aku merasa kau bahagia, tapi kau akan lebih bahagia jika bersamaku,” jawab pria tampan itu sembari menggenggam tangan Sophia. Sophia terdiam merasakan kehangatan sentuhan yang sudah lama sekali dia rindukan. Hatinya luluh. Dia berjalan dengan pria tampan itu menyusuri taman yang dipenuhi bunga bermekaran. Langit biru tanpa awan menggantung damai di atas kepala mereka. Sinar matahari menyelinap melalui daun-daun, menciptakan permainan cahaya di tanah dan di wajah Sophia. Udara membawa aroma melati dan rerumputan segar. Semuanya sempurna. Bahkan terlalu sempurna.Tangan itu—tangan hangat yang dia kenal betul—menggenggam erat jemarinya. Sang pemilik tangan adalah Lucas. Dia pria yang

  • Merindukanmu, Dalam Jerit Tangisku   Bab 20. Penuh Rahasia

    Matahari mulai muncul di ufuk timur, memancarkan cahaya keemasan yang menyelimuti garis langit kota New York. Saat sinar pertama menyentuh permukaan kaca gedung pencakar langit yang menjulang, jalanan mulai berdenyut dengan kehidupan. Udara terasa segar, membawa aroma kopi yang baru diseduh dari kafe di sudut jalan, berpadu dengan wangi manis bunga sakura yang mekar di Central Park.Pelari, mengenakan pakaian berwarna cerah, melintasi jalur setapak, langkah mereka berirama, bergema di tengah kicauan burung yang ceria. Tampak seorang musisi jalanan mengalunkan melodi lembut dengan gitarnya, nada-nada itu melayang di udara seperti bisikan harapan. Pun dari kejauhan, siluet ikonik Patung Liberty berdiri megah, mengingatkan akan ketahanan dan kebebasan.Pagi yang indah di New York, membawa kedamaian jiwa. Sophia duduk di kursi taman bersama dengan Joana. Dia memperhatikan khusus kembar yang bermain dengan anak-anak yang baru dikenal. Ada Amy yang selalu setia menemani kembar.Ya, hari ini

  • Merindukanmu, Dalam Jerit Tangisku   Bab 19. Tinggal di Apartemen Baru

    “Ingin minum?” tanya Jacob menawarkan wine pada Sophia, tepat di kala wanita itu sudah selesai berdansa. Meski dia tak menyukai di kala MC mengumumkan pertukaran pasangan saat dansa, tetapi dia harus menghargai acara bibinya itu.Sophia berdeham sebentar, berusaha mengatur emosi dalam dirinya. Dia harus tetap tenang, tak ingin sampai Jacob mengetahui bahwa tadi dia sempat berdebat dengan Lucas. Tidak. Dia tidak akan pernah membiarkan siapa pun tahu tentangnya dengan Lucas.“Tidak, Jacob. Aku sedang tidak ingin minum alkohol,” tolak Sophia lembut, pada Jacob.Jacob mengangguk, menanggapi ucapan Sophia.“Hm, Jacob, apa kau keberatan mengantarku kembali ke hotel sekarang? Aku merasa sedang kurang sehat,” ujar Sophia lembut.“Kau sedang kurang sehat? Apa yang kau keluhkan?” Jacob dengan penuh perhatian, menyentuh kening Sophia. Pria tampan itu menunjukkan jelas rasa cemas yang membentang di dalam diri.Sophia tersenyum lembut. “Aku hanya sedikit pusing. Maaf, aku tidak bisa terlalu lama d

  • Merindukanmu, Dalam Jerit Tangisku   Bab 18. Perlawanan Sophia Carter

    “Sophia? Kenapa wajahmu kesal seperti itu?” tanya Joana di kala melihat Sophia masuk ke dalam kamar. Dia yang sedang berkutat pada iPad-nya langsung meletakan iPad-nya ke atas meja, dan menatap Sophia dnegan tatapan bingung serta terselimuti rasa penasaran yang membentang.Sophia menghempaskan tubuhnya ke sofa. “Aku tadi tidak sengaja bertemu dengan ibu Lucas di butik Margareth, Joana.”“Kau bertemu dengan ibu Lucas di butik Margareth?” ulang Joana memastikan, dengan raut wajah terkejut.Sophia mengangguk, menanggapi ucapan Joana.Joana terdiam sebentar. “Kau berada di lingkungan kelas atas. Kau berkenalan dengan Margareth Alford yang merupakan designer ternama. Jadi, aku tidak heran kalau kau bertemu dengan ibu Lucas.”Sophia menghela napas dalam. “Ya, menjadi fashion designer adalah impianku. Aku harus menerima segala konsekunsi termasuk kembali bertemu dengan mantan suamiku berseta keluarganya.”Joana menyentuh tangan Sophia. “Tidak banyak yang aku katakan padamu selain kau harus f

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status