Mag-log inIbu berjalan menyusuri jalanan lebar. Pepohonan rindang berjajar rapi. Udara di sini terasa berbeda, lebih bersih, namun juga lebih dingin. Bus berhenti di depan gerbang tinggi, megah.
Apakah kali ini akan berbeda? Dia mendorong gerbang besi ukir. Taman luas terhampar, rumputnya hijau terawat. Ada air mancur kecil yang memancarkan kemewahan. Rumah Rian menjulang, cat putih bersih, pilar-pilar kokoh. Ini bukan rumahku, bisik hatinya. Ini istana Nita. Rian muncul dari balik pintu utama. Wajahnya terlihat lega sekaligus canggung. Sebuah senyum kaku mengembang di bibirnya. "Ibu sudah sampai," Rian berkata, suaranya sedikit tegang. "Kenapa tidak telepon, Bu? Biar aku jemput." Ibu menggeleng. "Tidak apa-apa, Nak. Ibu naik bus saja. Tidak mau merepotkan." "Tapi 'kan jauh, Bu," Rian bersikeras. Dia mengulurkan tangan mengambil tas kain lusuh Ibu. "Tidak apa-apa. Ibu kuat," Ibu tersenyum tipis, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Lalu Nita muncul. Senyumnya tipis, sopan, sangat biasa. "Selamat datang, Bu," katanya. Mereka bersalaman. Sentuhan Nita dingin. "Maaf, Bu, saya sedang ada meeting sebentar," Nita berkata, menunjuk ke dalam rumah. "Tidak apa-apa, Nita. Ibu mengerti." Nita menoleh ke Rian. "Rian, tolong antarkan Ibu ke kamar tamu. Jangan lupa, air minum dan handuk sudah tersedia." "Sudah, Sayang," Rian menjawab cepat. "Aku sudah siapkan semua." Nita mengangguk kecil, menatap Ibu sebentar, lalu berbalik. "Saya ke ruang kerja dulu ya, Bu." Langkah Nita anggun, melangkah masuk. "Ayo, Bu. Kamar Ibu di sini," Rian menuntunnya. Mereka berjalan menyusuri koridor panjang dengan lantai marmer mengilap. "Rumahmu besar sekali, Rian," Ibu berkomentar pelan, suaranya terasa kecil di ruangan megah itu. "Ini kan rumah Nita, Bu," Rian mengoreksi dengan nada lembut, namun ada ketegasan di dalamnya. "Aku hanya ikut tinggal." Ikut tinggal? Ibu menelan ludah. Kata-kata itu menusuk. Rian, anaknya sendiri, merasa seperti menumpang di rumah istrinya. Lalu bagaimana dengan dirinya? Mereka tiba di sebuah kamar. Bersih, rapi. Ranjang besar dengan seprai putih yang licin. Ada kamar mandi dalam. Semua serba mewah, berbanding terbalik dengan kontrakan Ibu. "Ini kamar Ibu," kata Rian. "Sudah ada AC, TV juga. Kalau butuh apa-apa, bilang saja ya, Bu." "Terima kasih, Nak," Ibu mengangguk. Dia duduk di tepi ranjang. Terlalu empuk. Ia merasa tubuhnya tenggelam. Rian duduk di sofa kecil di sudut kamar. Dia memandang Ibunya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah, mungkin. "Nita itu sangat menjaga kebersihan, Bu," Rian memulai, seperti mengulang pelajaran yang sudah dihafal. "Dan dia punya asisten rumah tangga untuk semua pekerjaan. Ada tiga orang malah." Oh, jadi aku tidak boleh membantu. Ibu mengerti maksudnya. "Jadi, Ibu tidak perlu repot-repot melakukan apa pun di sini," Rian melanjutkan. "Pokoknya Ibu istirahat saja." "Rian, Ibu cuma ingin tahu," Ibu memberanikan diri. "Apakah Nita... keberatan kalau Ibu tinggal di sini?" Rian terdiam sejenak. Dia menghindari tatapan mata Ibu. Jemarinya meremas pahanya sendiri. "Tidak, Bu. Tentu saja tidak," Rian menjawab, namun suaranya terdengar ragu. "Hanya saja... Nita memang orangnya sangat teratur. Dia tidak suka ada perubahan mendadak." Perubahan mendadak itu aku, Ibu mengerti. Kehadiranku adalah perubahan mendadak bagi mereka. "Jadi, Ibu harus bagaimana?" Ibu bertanya lagi, nada suaranya lebih pelan. Rasa takut merayap di dadanya. "Begini saja, Bu," Rian menunduk. "Ibu ikuti saja alur di sini. Jangan terlalu banyak bicara kalau tidak ditanya. Kalau mau ke mana-mana, bilang dulu. Terutama kalau keluar rumah. Nita tidak suka kalau ada orang asing mondar-mandir sembarangan." Orang asing? Ibu merasa pipinya memanas. Kata-kata itu menamparnya. Aku ibumu, Rian. Bukan orang asing. "Rian," Ibu menatapnya, matanya terasa panas. "Ibu ini ibumu. Bukan tamu, apalagi orang asing." Rian mengangkat kepala, matanya terlihat menyesal. "Aku tahu, Bu. Tapi... demi ketenangan semua, Bu. Ibu mengerti, kan?" Ibu memejamkan mata. Dia mengerti. Dia harus menjadi mertua kalah. Harga dirinya harus ia tekan. Demi Rian. Demi atap di atas kepalanya, meski hanya sementara. Demi tidak menciptakan ketegangan. Beberapa jam berlalu dengan sunyi. Ibu duduk di kamar, hanya mendengar suara AC menderu pelan. Dia mencoba membaca majalah yang tergeletak di meja, tapi pikirannya melayang jauh. Dia mendengar suara Nita berbicara dengan asisten rumah tangga di luar. Suaranya tegas, penuh perintah. "Mbak, nanti piring yang ini jangan sampai tercampur dengan yang biasa, ya. Ini khusus." Khusus. Semua di sini serba khusus. Termasuk dirinya yang harus jadi 'khusus' dan 'teratur' agar tidak mengacaukan 'penataan'. Ketika Rian memanggil untuk makan malam, Ibu melangkah ke meja makan. Nita sudah duduk, dengan Rian di sampingnya. Meja makan besar itu terasa terlalu sepi. "Mari, Bu," Nita tersenyum lagi. Senyum yang terlalu sopan. Ibu duduk di kursi yang ditunjuk Rian. Dia mengamati hidangan mewah yang tertata rapi. Sendok dan garpu berkilauan. "Bagaimana perjalanan Ibu tadi?" Nita bertanya, seolah menunaikan kewajiban basa-basi. "Lancar, Nita," Ibu menjawab. "Rumah Ibu di sana... baik-baik saja?" Nita melanjutkan. Rumah Ibu? Sejak kapan aku punya rumah sendiri, Nita? Ibu menahan diri untuk tidak mengatakan apa pun. "Baik," Ibu hanya menjawab singkat. Suasana makan malam terasa tegang. Hanya ada suara denting sendok dan garpu. Ibu merasa seperti sedang diuji, setiap gerakannya diamati. Dia memakan hidangannya perlahan. "Rian bilang, Ibu mau tinggal sementara di sini?" Nita bertanya, menatap lurus. Sementara. Kata itu seperti belati tajam yang menancap di dadanya. "Iya, Nita. Kalau tidak merepotkan," Ibu membalas, suaranya nyaris berbisik. "Tentu saja tidak, Bu. Asalkan Ibu nyaman," Nita tersenyum tipis. "Dan Rian juga senang ada Ibu di sini." Malam itu, Ibu kembali ke kamarnya. Dia melepas jilbabnya. Memandang pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Wajahnya terlihat letih. Lebih letih dari biasanya. Dia menyadari, kehangatan yang ia rasakan di kontrakan Rendy, tidak akan ia temukan di sini. Apakah aku bisa bertahan? Dia memejamkan mata. Perasaan campur aduk menggerogoti. Rasa lelah, tertekan, tapi juga ada secuil harapan yang rapuh, bahwa mungkin semua ini hanya permulaan dari sesuatu yang lebih baik. Namun, sekelebat pikiran pahit menguak. Dia berbaring, mencoba memejamkan mata. Suara AC menderu pelan. Kesenangan, kenyamanan, yang terasa begitu asing dan mencekik. Ini bukan yang aku bayangkan. Air mata mengalir di pipinya. Dia tahu, bertahan di sini mungkin akan jauh lebih sulit daripada yang ia kira.Tok tok.Suara ketukan itu pelan. Ragu-ragu.Di dalam kamar, Bu Ratna yang baru selesai melipat mukena menoleh ke arah pintu.“Ya, sebentar.”Ia berjalan pelan membukakan pintu.Begitu pintu terbuka, Nita berdiri di sana.Masih dengan pakaian kerja. Blazer krem mahal yang belum sempat diganti. Rambutnya sedikit berantakan, sesuatu yang jarang sekali terlihat pada dirinya. Di tangannya ada ponsel dan sebuah map tipis.Wajahnya tampak lelah.“Boleh masuk?” tanyanya pelan.Bu Ratna sedikit terkejut, tapi tetap mengangguk.“Masuklah, Nit.”Nita merasa canggung berada berdua dengan mertuanya sendiri.Biasanya selalu ada jarak.Jarak yang tidak terlihat, tapi nyata.Bu Ratna yang lebih dulu membuka suara.“Dio sudah tidur?”Nita mengangguk kecil.“Baru tadi.”“Demamnya?”“Udah turun sedikit.”Bu Ratna menghela napas lega.“Alhamdulillah.”Sunyi lagi.Nita memainkan ujung map di tangannya. Jemarinya
Rendy mengantar Bu Ratna sampai ke depan kamar.Pintu kamar itu sudah terbuka sejak tadi. Lampunya menyala hangat. Di dalam, semuanya sudah rapi. Tempat tidur besar dengan seprai putih, lemari, meja kecil dengan vas bunga segar.Bu Ratna berdiri sebentar di ambang pintu sebelum masuk.Rendy memperhatikan wajah ibunya diam-diam. “Ibu capek?” tanyanya pelan.Bu Ratna tersenyum kecil.“Lumayan.”Rendy masuk menyusul. Menutup pintu pelan di belakangnya.Sunyi beberapa detik.Bu Ratna meletakkan tas kainnya di kursi.Tas yang sama. Tas lusuh yang selalu ia bawa ke kedai.Rendy menatap tas itu lama.Entah kenapa dadanya kembali sesak.“Ibu…” panggilnya.“Hm?”“Kenapa Ibu tinggal di sini?”Bu Ratna berhenti bergerak.Tangannya yang tadi hendak membuka lemari perlahan turun lagi.Rendy menatap punggung ibunya.“Aku tahu Ibu nggak betah di rumah ini.”Bu Ratna tersenyum tipis tanpa membalik badan.“Kamu sekarang
Bu Ratna berdiri di depan gerbang rumah itu. Tangan tuanya menggenggam besi dingin. Satu langkah lagi ke dalam… dan ia tahu, hidupnya tidak akan sama. Di luar, ia adalah perempuan yang berjalan dengan kakinya sendiri. Di dalam… ia harus kembali menyesuaikan diri. Perlahan, gerbang itu ia dorong. Terbuka. Ia melangkah masuk. Halaman luas itu sunyi. Rapi. Terlalu rapi. Langkahnya pelan, seolah takut meninggalkan jejak. Pintu terbuka sebelum ia sempat mengetuk. Seorang pelayan berdiri di sana. “Ibu… kamarnya sudah disiapkan, Nyonya.” Bu Ratna hanya mengangguk kecil. “Terima kasih…” Tapi ia tidak langsung ke kamar. “Rendy sama keluarganya di mana?” Pelayan itu menunjuk ke arah lorong. “Di kamar tamu sebelah, Bu.” Bu Ratna berjalan ke sana. Setiap langkahnya terasa berat. Ia berhen
Pintu kamar tertutup pelan.Suara langkah Rian menjauh di lorong. Lalu sunyi.Di dalam kamar itu, semuanya terasa terlalu rapi. Terlalu bersih. Seprai putih tanpa lipatan, lemari tertutup rapat, lantai dingin mengilap.Mira berdiri di dekat pintu, tangannya masih memegang tas kecil. Matanya menyapu ruangan itu pelan, seolah takut menyentuh apa pun.Rendy duduk di tepi ranjang.Dio sudah rebah, kepalanya yang masih dibalut perban tenggelam di bantal empuk. Rafa tertidur di sebelahnya, napasnya pelan, tubuh kecilnya meringkuk nyaman.Anak-anak itu… terlihat damai.“Mas…” suara Mira pelan, hampir seperti bisikan. “Mbak Nita… marah ya kita ke sini?”Rendy tidak langsung menjawab.Tatapannya tertuju ke Dio. Tangannya bergerak pelan, merapikan selimut anaknya.“Iya,” jawabnya akhirnya, pendek.Mira menelan ludah.“Aku takut, Mas…”Rendy menarik napas panjang.“Kamu
Kedai mulai sepi.Kursi-kursi kosong. Sisa suara sendok yang tadi riuh kini hilang. Hanya bunyi air dari keran dan gesekan piring di bak cuci.Bu Ratna berdiri di sana.Tangannya tetap bergerak—membilas, menyusun, mengelap—tapi pikirannya jauh.Air mengalir melewati jemarinya yang memerah. Ia tidak lagi merasakan perihnya.Yang terasa hanya berat di dada.“Ratna…”Suara itu pelan.Bu Ratna menoleh.Bu Rini berdiri di dekat pintu dapur kecil, memegang lap kering.“Udah sepi,” katanya lembut. “Istirahat dulu.”Bu Ratna mengangguk kecil.“Iya, Bu…”Ia mematikan keran, mengeringkan tangan seadanya, lalu duduk di bangku kecil di sudut.Bu Rini ikut duduk di depannya.Tidak langsung bicara.Hanya memandang.“Barusan… yang datang itu menantumu, ya?” tanya Bu Rini akhirnya.Bu Ratna tersenyum tipis.“Iya…”“Cantik
Mobil hitam itu berhenti tepat di depan kedai.Mesinnya masih menyala.Nita turun tanpa tergesa, tapi jelas bukan untuk sekadar lewat. Sepatu heels-nya menyentuh lantai yang sedikit basah. Ia sempat melirik sekeliling—meja kayu, kipas tua, piring bertumpuk.Lalu matanya berhenti.Bu Ratna.Sedang mengantar sepiring nasi ke pelanggan.Untuk sesaat, Nita hanya diam.“Bu…”Suara itu cukup pelan, tapi membuat Bu Ratna menoleh.Wajahnya langsung berubah.“Nita?” Ia sedikit kaget. “Ada apa sampai ke sini, Nak?”Beberapa orang di dalam kedai ikut menoleh. Suasana mendadak terasa canggung.Nita tidak suka ditatap seperti itu.Ia merapikan tas di bahunya, berusaha tetap tenang.“Kita bisa bicara di mobil aja, Bu?”Bu Ratna melirik ke dalam, ke piring-piring yang belum selesai, ke pelanggan yang masih duduk.“Tapi Ibu lagi kerja, Nit…”“Hanya
Sebuah guncangan kecil melanda hati Ibu, mengancam untuk meruntuhkan kedamaian yang baru ia temukan. Bagaimana jika Rian atau Nita mengetahuinya? Pertanyaan itu menggantung di udara kamar, dingin dan membekas. Dia menatap uang hasil keringatnya yang tergenggam erat. Uang ini terasa panas, seperti b
Aku harus pergi dari sini.Kata-kata itu berputar dalam benak Ibu, mengusir sisa-sisa air mata. Ia tidak bisa lagi berdiam diri di ranjang empuk yang terasa seperti penjara. Fajar menyingsing, memulas langit dengan gradasi merah muda dan abu-abu. Ibu bangkit dari ranjang, tubuhnya terasa ringan ole
Ibu masih memeluk lututnya di ranjang besar itu saat Rian memanggil untuk makan malam. Suara panggilannya terdengar samar, teredam dinginnya AC. Ia menghela napas, mengusap sisa air mata yang mengering. Harus kuat, bisiknya pada diri sendiri.Dia melangkah keluar dari kamar. Aroma masakan tercium.
Ibu tiba kembali di rumah Rian, setelah dari kontrakan Rendy, ia singgah di kontrakannya yang lama untuk mengambil beberapa pakaian dan barang seadanya. Tas kain lusuh kini sedikit lebih penuh. Rian menyambutnya di depan pintu. "Ibu sudah pulang? Dari mana saja, Bu?" Wajahnya tampak khawatir. "Ib







