LOGINIbu terbangun dini hari. Sisa air mata semalam masih terasa kering di pipinya. Dingin AC menusuk kulit. Aroma pewangi ruangan yang mahal terasa asing. Ia merindukan bau tanah basah dan suara ayam berkokok dari kontrakan lamanya.
Tidak, aku tidak bisa di sini, pikirnya. Ia memutuskan hari ini untuk mengunjungi Rendy. Butuh waktu, tapi ia perlu menjejakkan kaki di tempat yang terasa seperti rumah. Setelah mandi dan shalat subuh, ia menyelinap keluar sebelum Rian dan Nita bangun. Bus kota melaju perlahan, menembus kepadatan pagi. Pemandangan berubah drastis. Gedung-gedung pencakar langit digantikan deretan rumah petak berimpitan, gang-gang sempit, dan hiruk pikuk pasar tradisional. Aroma gorengan dan asap knalpot bercampur, menciptakan bau khas kota pinggiran. Ibu turun di halte yang sudah dikenalnya. Kakinya melangkah pasti menyusuri gang yang becek. Tawa anak-anak langsung menyambutnya. Dua bocah laki-laki sedang bermain kelereng di depan sebuah pintu tripleks yang sudah memudar catnya. "Nenek!" teriak cucu sulungnya, Dio, yang berusia tujuh tahun. Wajahnya bersinar cerah. Cucu bungsunya, Rafa, yang baru berusia lima tahun, berlari menghampiri dengan tangan terentang. "Nenek!" Ibu segera memeluk mereka berdua, mencium pipi mereka bergantian. Rasa hangat langsung menjalar di dadanya. Inilah yang kurindukan, batinnya. Mira muncul dari balik pintu, senyum tulus merekah di wajahnya yang sedikit kuyu. "Ibu! Ya Allah, kenapa tidak bilang mau datang? Biar Rendy jemput." "Tidak apa-apa, Nak. Ibu kangen sekali sama kalian," Ibu mengusap kepala Mira. "Rendy mana?" "Mas Rendy masih kerja, Bu. Tadi berangkat subuh. Ada proyek bangunan baru," jawab Mira, mempersilakan Ibu masuk. Kontrakan itu memang sempit, hanya dua petak. Satu untuk ruang tamu dan dapur kecil, satu lagi untuk kamar tidur. Tapi bersih, tertata rapi, dan penuh barang-barang sederhana yang usang namun berharga. Ada kalender yang ditempel di dinding, gambar gunung dan sawah. Ada meja kecil dengan vas bunga plastik. Di pojok, tumpukan buku pelajaran Dio. "Jangan sungkan, Bu, masuk saja," kata Mira. "Duduk, Bu. Mau minum apa? Kopi atau teh?" "Apa saja, Nak. Yang ada saja," Ibu duduk di bangku kayu kecil yang ditarik Mira. Bau masakan rumahan tercium, aroma bawang goreng dan sayur bayam. Dio dan Rafa duduk di pangkuan Ibu, berebut ingin bercerita. "Nenek, tadi aku dapat bintang di sekolah!" kata Dio, bangga. "Nenek, aku bisa nyanyi!" sahut Rafa, lalu mulai bernyanyi dengan suara cempreng. Ibu tertawa, mencubit pipi mereka. Kebahagiaan sederhana ini... begitu berharga. "Maaf ya, Bu, seadanya," kata Mira sambil meletakkan secangkir teh hangat dan sepiring singkong goreng. "Ini tadi baru goreng." "Alhamdulillah, enak sekali, Nak," Ibu mengambil sepotong singkong. Hangat dan renyah. "Kamu ini selalu saja rajin." "Harus, Bu. Biar anak-anak sehat," Mira tersenyum, lalu matanya menerawang. "Tapi ya begitu, Bu. Kadang Mas Rendy pulang malam, penghasilannya tidak menentu. Saya sering khawatir." Ibu merasakan kepedihan di hati Mira. Ia melihat sendiri kondisi keluarga ini. Baju-baju cucunya sudah banyak yang sobek di sana-sini. Wajah Mira terlihat lelah. "Anak-anak butuh makan, butuh sekolah," lanjut Mira pelan. "Dio mau masuk SD tahun depan, Bu. Biaya masuknya lumayan." Aku ingin sekali membantu, Ibu membatin. Tangannya gatal ingin meraih dompetnya, tapi ia tahu isinya tidak seberapa. "Yang sabar ya, Nak," kata Ibu, mengusap punggung Mira. "Insya Allah, ada jalannya." Sore menjelang. Rendy pulang dengan wajah letih. Kemejanya kotor, tangannya kapalan. Tapi begitu melihat Ibu, senyumnya langsung mengembang. "Ibu!" Rendy memeluk Ibu erat. Hangat. Tulus. "Tumben, Bu. Kenapa tidak bilang? Aku bisa minta izin pulang lebih cepat." "Tidak apa-apa, Nak. Ibu cuma ingin melihat kalian," kata Ibu, matanya berkaca-kaca. Mereka makan malam bersama. Lauknya sederhana: tempe goreng, sayur asem, dan sambal. Tapi rasanya nikmat, dimakan bersama-sama dalam canda tawa anak-anak. Rendy bercerita tentang pekerjaannya, Mira menimpali dengan keluhan ringan tentang harga kebutuhan pokok yang naik. "Maaf ya, Bu, kalau di sini seadanya," kata Rendy, menyendokkan nasi ke piring Ibu. "Kalau di rumah Mas Rian kan Ibu bisa enak-enak. Ada AC, TV besar." Ibu tersenyum pahit. "Di sana Ibu tidak bisa leluasa, Nak. Di sana Ibu seperti tamu." Rendy menatap Ibu, tatapan matanya penuh pengertian. "Aku tahu, Bu. Aku juga sering dengar dari Mas Rian. Nita memang begitu orangnya." "Kami sih maunya Ibu tinggal di sini saja, Bu," kata Mira, menatap Ibu dengan tulus. "Walau sempit, kan Ibu bisa sama cucu-cucu." Hati Ibu menghangat. Betapa tulusnya mereka. Tapi kemudian realitas menamparnya. Bagaimana bisa? Mereka saja sudah susah payah. Aku hanya akan jadi beban. Ia melihat lagi mata Rendy yang lelah, tangan kasarnya. Ia melihat baju-baju cucunya yang sudah lusuh. Tidak, aku tidak boleh memberatkan mereka. Matanya jatuh pada kasur tipis yang digelar di lantai. Dio dan Rafa tidur berhimpitan, kaki kecil mereka hampir menyentuh dinding. Jika ia tinggal di sini, di mana tubuh tuanya akan dibaringkan? Setelah cucu-cucu tertidur lelap, Ibu pamit pulang. Rendy dan Mira mengantar Ibu sampai depan gang. "Hati-hati, Bu," kata Rendy. "Besok-besok kalau mau ke sini telepon dulu, biar aku jemput." "Iya, Nak. Kalian jaga kesehatan ya," Ibu memeluk mereka berdua. Dalam perjalanan pulang, hati Ibu terasa campur aduk. Ada kehangatan yang memenuhi rongga dadanya, rasa dicintai tanpa syarat. Tapi juga ada kesedihan mendalam dan kecemasan yang menggigit. Aku tidak bisa tinggal bersama mereka. Aku tahu itu. Dua atap. Yang satu megah tapi dingin. Yang satu sederhana tapi hangat. Keduanya tidak bisa menjadi jawaban permanen bagi Ibu. Air mata kembali menetes, kali ini bukan karena tekanan, melainkan karena perihnya kenyataan. Ia harus mencari jalan sendiri. Tetapi bagaimana? Rasa sesak itu kembali datang, menusuk-nusuk relung jiwanya. Ia merasa terjebak, terombang-ambing antara dua dunia, tanpa tempat berpijak yang kokoh. Apa yang harus kulakukan? Pertanyaan itu berteriak dalam hatinya, lebih kencang dari deru bus yang membawanya pergi.Tok tok.Suara ketukan itu pelan. Ragu-ragu.Di dalam kamar, Bu Ratna yang baru selesai melipat mukena menoleh ke arah pintu.“Ya, sebentar.”Ia berjalan pelan membukakan pintu.Begitu pintu terbuka, Nita berdiri di sana.Masih dengan pakaian kerja. Blazer krem mahal yang belum sempat diganti. Rambutnya sedikit berantakan, sesuatu yang jarang sekali terlihat pada dirinya. Di tangannya ada ponsel dan sebuah map tipis.Wajahnya tampak lelah.“Boleh masuk?” tanyanya pelan.Bu Ratna sedikit terkejut, tapi tetap mengangguk.“Masuklah, Nit.”Nita merasa canggung berada berdua dengan mertuanya sendiri.Biasanya selalu ada jarak.Jarak yang tidak terlihat, tapi nyata.Bu Ratna yang lebih dulu membuka suara.“Dio sudah tidur?”Nita mengangguk kecil.“Baru tadi.”“Demamnya?”“Udah turun sedikit.”Bu Ratna menghela napas lega.“Alhamdulillah.”Sunyi lagi.Nita memainkan ujung map di tangannya. Jemarinya
Rendy mengantar Bu Ratna sampai ke depan kamar.Pintu kamar itu sudah terbuka sejak tadi. Lampunya menyala hangat. Di dalam, semuanya sudah rapi. Tempat tidur besar dengan seprai putih, lemari, meja kecil dengan vas bunga segar.Bu Ratna berdiri sebentar di ambang pintu sebelum masuk.Rendy memperhatikan wajah ibunya diam-diam. “Ibu capek?” tanyanya pelan.Bu Ratna tersenyum kecil.“Lumayan.”Rendy masuk menyusul. Menutup pintu pelan di belakangnya.Sunyi beberapa detik.Bu Ratna meletakkan tas kainnya di kursi.Tas yang sama. Tas lusuh yang selalu ia bawa ke kedai.Rendy menatap tas itu lama.Entah kenapa dadanya kembali sesak.“Ibu…” panggilnya.“Hm?”“Kenapa Ibu tinggal di sini?”Bu Ratna berhenti bergerak.Tangannya yang tadi hendak membuka lemari perlahan turun lagi.Rendy menatap punggung ibunya.“Aku tahu Ibu nggak betah di rumah ini.”Bu Ratna tersenyum tipis tanpa membalik badan.“Kamu sekarang
Bu Ratna berdiri di depan gerbang rumah itu. Tangan tuanya menggenggam besi dingin. Satu langkah lagi ke dalam… dan ia tahu, hidupnya tidak akan sama. Di luar, ia adalah perempuan yang berjalan dengan kakinya sendiri. Di dalam… ia harus kembali menyesuaikan diri. Perlahan, gerbang itu ia dorong. Terbuka. Ia melangkah masuk. Halaman luas itu sunyi. Rapi. Terlalu rapi. Langkahnya pelan, seolah takut meninggalkan jejak. Pintu terbuka sebelum ia sempat mengetuk. Seorang pelayan berdiri di sana. “Ibu… kamarnya sudah disiapkan, Nyonya.” Bu Ratna hanya mengangguk kecil. “Terima kasih…” Tapi ia tidak langsung ke kamar. “Rendy sama keluarganya di mana?” Pelayan itu menunjuk ke arah lorong. “Di kamar tamu sebelah, Bu.” Bu Ratna berjalan ke sana. Setiap langkahnya terasa berat. Ia berhen
Pintu kamar tertutup pelan.Suara langkah Rian menjauh di lorong. Lalu sunyi.Di dalam kamar itu, semuanya terasa terlalu rapi. Terlalu bersih. Seprai putih tanpa lipatan, lemari tertutup rapat, lantai dingin mengilap.Mira berdiri di dekat pintu, tangannya masih memegang tas kecil. Matanya menyapu ruangan itu pelan, seolah takut menyentuh apa pun.Rendy duduk di tepi ranjang.Dio sudah rebah, kepalanya yang masih dibalut perban tenggelam di bantal empuk. Rafa tertidur di sebelahnya, napasnya pelan, tubuh kecilnya meringkuk nyaman.Anak-anak itu… terlihat damai.“Mas…” suara Mira pelan, hampir seperti bisikan. “Mbak Nita… marah ya kita ke sini?”Rendy tidak langsung menjawab.Tatapannya tertuju ke Dio. Tangannya bergerak pelan, merapikan selimut anaknya.“Iya,” jawabnya akhirnya, pendek.Mira menelan ludah.“Aku takut, Mas…”Rendy menarik napas panjang.“Kamu
Kedai mulai sepi.Kursi-kursi kosong. Sisa suara sendok yang tadi riuh kini hilang. Hanya bunyi air dari keran dan gesekan piring di bak cuci.Bu Ratna berdiri di sana.Tangannya tetap bergerak—membilas, menyusun, mengelap—tapi pikirannya jauh.Air mengalir melewati jemarinya yang memerah. Ia tidak lagi merasakan perihnya.Yang terasa hanya berat di dada.“Ratna…”Suara itu pelan.Bu Ratna menoleh.Bu Rini berdiri di dekat pintu dapur kecil, memegang lap kering.“Udah sepi,” katanya lembut. “Istirahat dulu.”Bu Ratna mengangguk kecil.“Iya, Bu…”Ia mematikan keran, mengeringkan tangan seadanya, lalu duduk di bangku kecil di sudut.Bu Rini ikut duduk di depannya.Tidak langsung bicara.Hanya memandang.“Barusan… yang datang itu menantumu, ya?” tanya Bu Rini akhirnya.Bu Ratna tersenyum tipis.“Iya…”“Cantik
Mobil hitam itu berhenti tepat di depan kedai.Mesinnya masih menyala.Nita turun tanpa tergesa, tapi jelas bukan untuk sekadar lewat. Sepatu heels-nya menyentuh lantai yang sedikit basah. Ia sempat melirik sekeliling—meja kayu, kipas tua, piring bertumpuk.Lalu matanya berhenti.Bu Ratna.Sedang mengantar sepiring nasi ke pelanggan.Untuk sesaat, Nita hanya diam.“Bu…”Suara itu cukup pelan, tapi membuat Bu Ratna menoleh.Wajahnya langsung berubah.“Nita?” Ia sedikit kaget. “Ada apa sampai ke sini, Nak?”Beberapa orang di dalam kedai ikut menoleh. Suasana mendadak terasa canggung.Nita tidak suka ditatap seperti itu.Ia merapikan tas di bahunya, berusaha tetap tenang.“Kita bisa bicara di mobil aja, Bu?”Bu Ratna melirik ke dalam, ke piring-piring yang belum selesai, ke pelanggan yang masih duduk.“Tapi Ibu lagi kerja, Nit…”“Hanya
Sebuah guncangan kecil melanda hati Ibu, mengancam untuk meruntuhkan kedamaian yang baru ia temukan. Bagaimana jika Rian atau Nita mengetahuinya? Pertanyaan itu menggantung di udara kamar, dingin dan membekas. Dia menatap uang hasil keringatnya yang tergenggam erat. Uang ini terasa panas, seperti b
Aku harus pergi dari sini.Kata-kata itu berputar dalam benak Ibu, mengusir sisa-sisa air mata. Ia tidak bisa lagi berdiam diri di ranjang empuk yang terasa seperti penjara. Fajar menyingsing, memulas langit dengan gradasi merah muda dan abu-abu. Ibu bangkit dari ranjang, tubuhnya terasa ringan ole
Ibu masih memeluk lututnya di ranjang besar itu saat Rian memanggil untuk makan malam. Suara panggilannya terdengar samar, teredam dinginnya AC. Ia menghela napas, mengusap sisa air mata yang mengering. Harus kuat, bisiknya pada diri sendiri.Dia melangkah keluar dari kamar. Aroma masakan tercium.
Ibu tiba kembali di rumah Rian, setelah dari kontrakan Rendy, ia singgah di kontrakannya yang lama untuk mengambil beberapa pakaian dan barang seadanya. Tas kain lusuh kini sedikit lebih penuh. Rian menyambutnya di depan pintu. "Ibu sudah pulang? Dari mana saja, Bu?" Wajahnya tampak khawatir. "Ib







