로그인
Bella langsung tahu ada yang tidak beres begitu aroma nasi goreng menyelinap masuk ke kamarnya.
Sintia, ibu Bella, hampir tidak pernah mau repot membuat sarapan di hari kerja. Biasanya hanya roti panggang dan segelas susu. Kalau pagi ini ada nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi dan jus tomat kesukaan Bella, artinya ada maunya. “Duduk, Bel. Sarapan dulu,” kata Sintia begitu Bella muncul di dapur dengan seragam bank yang sudah rapi. Bella duduk dengan tatapan curiga. “Ma, Mama sakit?” “Mama sehat. Kamu yang sebentar lagi sakit kepala.” Sintia menuang teh untuk dirinya sendiri, lalu duduk di hadapan Bella. “Hari Minggu ini kamu kosong, kan?” “Kosong sih. Rencananya aku mau rebahan seharian,” jawab Bella santai sambil mulai menyuap nasih goreng nikmat itu. “Bagus, kalau gitu rebahannya dibatalin aja. Minggu jam sepuluh, kamu ketemu anaknya Diana.” Sendok Bella berhenti di udara. Diana adalah teman arisan Sintia, dan Bella sudah menebak ke mana arah pembicaraan ini. “Ma.” “Namanya Evan. Umurnya tiga puluh empat tahun, PNS, sudah jadi kepala bidang pula. Hidupnya mapan, punya rumah dan mobil sendiri,” jelas Sintia sambil menyendokkan nasi ke piringnya. Bella mengangkat wajah, menatap ibunya dengan dahi berkerut. “Ma, aku ini bukan barang yang bisa dijual-belikan.” “Siapa juga yang bilang kamu barang?” Sintia mendengus. “Mama cuma mau kamu dapat suami yang sudah mapan. Kebetulan, Mama kenal calon yang cocok buat kamu.” “Calon?!” Bella spontan meletakkan sendoknya. Di kepalanya langsung muncul gambaran laki-laki yang setiap hari ia lihat dari balik meja teller. Bapak-bapak berkemeja safari, berperut buncit, berambut menipis, dan punya senyum genit. Ia sampai bergidik sendiri. “Umur tiga puluh empat tahun, sudah mapan, tapi belum nikah? Pasti ada apa-apanya, Ma.” “Enak saja kamu ngomong begitu!” Sintia langsung memasang wajah tidak senang. “Kamu tahu enggak, Evan itu rebutan ibu-ibu arisan Mama. Joana saja sampai mau menjodohkan dia dengan anaknya.” “Ya, sudah. Kasih saja ke anak Tante Joana,” sahut Bella enteng sambil kembali meraih sendoknya. “Masalahnya, Diana lebih memilih kamu!” Sintia mencondongkan badan, tampak semakin bersemangat. “Diana itu ibunya Evan. Dia sudah bilang ke Mama, kalau kamu bersedia dikenalkan sama Evan, dia senang sekali. Makanya, Mama nggak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.” Bella menghembuskan napas panjang. “Tapi, Ma, aku bahkan belum bilang mau dijodohkan.” “Kamu juga belum bilang nggak mau,” balas Sintia sambil mengangkat sebelah alisnya. “Aku nggak mau, Ma!” Suara Bella meninggi sebelum sempat ia kendalikan. Ia meletakkan sendoknya dengan kasar, lalu menatap ibunya kesal. “Ini hidup aku. Aku bukan barang yang bisa Mama tawar-tawarin ke teman arisan!” Suasana dapur mendadak hening. Sintia tidak langsung membalas. Perempuan itu hanya menunduk, menatap cangkir teh di hadapannya. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar. Bella mengatupkan bibir. Ia sudah bersiap menghadapi omelan panjang ibunya, tetapi bukan keheningan seperti ini. Entah kenapa, melihat Sintia diam justru membuatnya semakin tidak nyaman. “Mama cuma takut, Bel,” ucap Sintia akhirnya. Suaranya jauh lebih pelan daripada sebelumnya. “Papa kamu sudah nggak ada. Kamu juga nggak punya saudara. Selama ini, kamu cuma punya Mama. Kalau suatu hari Mama juga nggak ada, siapa yang bakal nemenin kamu?” Bella terdiam. Kekesalannya perlahan mereda, berganti dengan rasa bersalah yang membuat dadanya sesak. Ia tahu ibunya hanya mengkhawatirkan masa depannya. Sejak kepergian Papa, Sintia memang semakin sering membicarakan pernikahan, seolah dengan memastikan Bella memiliki pasangan, semua kekhawatirannya akan terjawab. Bella menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya menyerah. “Ketemu doang, ya, Ma. Satu kali,” kata Bella sambil mengangkat telunjuk. “Kalau ternyata nggak cocok, Mama jangan maksa lagi.” Kepala Sintia langsung terangkat. Wajah murungnya seketika berubah cerah. “Deal!” sahutnya penuh semangat. Ia buru-buru meraih ponsel yang tergeletak di samping piringnya. “Mama kirim nomor Evan sekarang, ya. Oh iya, Bel, dia ganteng, lho!” Bella mendengus, sama sekali tidak terkesan. “Mama juga bilang begitu soal anak teman Mama yang waktu itu.” Bella masih ingat betul perjodohan terakhir yang diatur ibunya. Saat itu, Sintia memperkenalkannya kepada Aloy, seorang laki-laki yang tampak begitu tertarik kepadanya sejak pertemuan pertama. Sayangnya, ketertarikan itu hanya datang dari satu pihak. Bella sama sekali tidak merasakan hal yang sama. “Aloy memang ganteng, kok!” bela Sintia sambil tetap sibuk mengetik di ponselnya. “Dia botak, Ma,” balas Bella dengan wajah datar. “Ya, terus kenapa?” Sintia melirik putrinya sekilas. “Botaknya berkarisma!” Bella memutar bola mata, lalu menghabiskan nasi gorengnya dalam diam. Ia benci mengakui ini, tapi nasi gorengnya enak. “Tapi yang kali ini kamu pasti suka!” Senyum nakal terbit di bibir Sintia. “Ew. Big no!” jawab Bella yakin. Tidak mungkin ia tertarik lagi kali ini. Tidak mungkin ia akan tertarik pada laki-laki pilihan ibunya kali ini. Apalagi setelah pengalaman sebelumnya, Bella sudah cukup yakin bahwa selera Sintia dan seleranya soal laki-laki tidak akan pernah sejalan. ** Di tengah perjalanan menuju bank, Mio biru butut peninggalan almarhum ayah Bella mendadak tersendat sebelum akhirnya mati. “Duh, jangan sekarang, dong,” keluh Bella sambil berulang kali mencoba menyalakan mesin motornya. Namun, usahanya sia-sia. Jam sudah hampir pukul delapan, sementara bank tempatnya bekerja tinggal beberapa ratus meter lagi. Bella baru saja hendak menghubungi Aca, sahabatnya, untuk meminta bantuan ketika sebuah motor sportster hitam berhenti di sampingnya. Pengendaranya seorang laki-laki berseragam PNS dengan tubuh tinggi dan tegap. Wajahnya tertutup helm full-face, tetapi entah kenapa Bella merasa laki-laki itu pasti tampan. Ia sempat memperhatikan seragam pria tersebut yang tidak dilengkapi name tag. “Mogok?” tanya laki-laki itu dengan suara berat. “Iya, Mas.” Bella menghela napas kesal. “Memang udah tua motornya. Padahal tinggal sedikit lagi sampai bank.” “Saya dorong sampai bank. Kamu nggak apa-apa, kan?” tawarnya sambil melirik ke arah gedung yang dimaksud Bella. Belum sempat Bella menjawab, laki-laki itu sudah memosisikan motornya di samping Mio, lalu menggunakan kakinya untuk mendorong motor Bella perlahan. Bella hanya bisa mengikuti sambil menjaga keseimbangan, antara malu dan lega karena akhirnya mendapat bantuan. Begitu tiba di depan bank, Bella buru-buru turun dari motornya. “Makasih banyak, ya, Mas. Saya jadi—” Ucapannya terputus ketika laki-laki itu langsung menarik gas dan pergi tanpa menoleh sedikit pun. Bella mematung sejenak, menatap motor hitam yang semakin menjauh. “Dasar sombong,” gerutunya, meski beberapa saat lalu laki-laki itu baru saja menolongnya. Setelah masuk ke bank, Bella memeriksa ponselnya dan menemukan pesan dari Sintia yang berisi nomor laki-laki yang hendak dijodohkan dengannya. Tanpa banyak pikir, ia menyimpan kontak tersebut dengan nama Evan Anak Tante Diana. Bella menatap nama itu beberapa saat sebelum menghembuskan napas. ‘Satu kali aja,’ batinnya. Kalau harus bertaruh seratus ribu rupiah sekalipun, Bella yakin laki-laki itu pasti jelek, gendut, dan setengah botak.Bukan memapah, bukan sekadar membantunya berjalan. Benar-benar menggendongnya!Refleks, Bella melingkarkan tangan ke leher laki-laki itu. Matanya membulat, sementara jantungnya yang sejak tadi sibuk melawan rasa sakit mendadak punya kesibukan lain.‘Ya ampun. Evan menggendongku!’Kalau saja perutnya tidak sedang terasa seperti dipelintir, mungkin Bella sudah menjerit kegirangan.“Kamar kamu di mana?” tanya Evan, sama sekali tidak menyadari kekacauan di kepala Bella.“Lurus ... terus belok kiri,” jawab Bella terbata-bata.Evan berjalan mengikuti arahannya dengan langkah mantap, sementara Bella berusaha mengabaikan jarak wajah mereka yang terasa terlalu dekat. Aroma parfum Evan tercium samar. Lengannya menopang tubuh Bella dengan hati-hati, dan entah kenapa itu membuat Bella sedikit lebih tenang.Di tengah rasa sakit yang menyiksa, ada bagian kecil dari dirinya yang ingin waktu berhenti sebentar. Bukan karena sakitnya, tentu saja, melainkan karena ia sedang berada dalam gendongan Evan.
Malamnya Aca mengundang Bella dan teman-teman bank lainnya makan malam di rumahnya. Katanya, ada kabar bahagia. Suami Aca sampai sengaja menyingkir ke rumah mertua supaya para perempuan itu bebas berisik. Bella datang paling akhir sambil menenteng puding cokelat. Alasannya macet. Padahal macetnya cuma lima menit, sisanya habis di ruang kerja seorang laki-laki berkacamata. Di ruang tamu, Raisa, Vina, Gladys, dan Sindi sudah lesehan mengelilingi meja yang penuh makanan. Raisa dari Customer Service, Vina teman satu meja Bella di teller, Gladys dari marketing, dan Sindi teller junior yang paling ceria. Ada ayam bakar, capcay, spaghetti, pizza, salad, dan camilan segudang. Satu kotak martabak sudah tinggal bungkusnya saja. “Telat banget, Bel,” kata Vina. “Martabaknya sudah dibantai Sindi.” “Aku cuma bantu ngabisin, Mbak!” bela Sindi dengan pipi menggembung. “Wih, Ca.” Raisa menatap meja. “Ini mau makan malam atau kondangan?” “Namanya juga kabar bahagia.” Aca keluar dari dapur sa
Sepulang kerja, Bella memutuskan mampir ke rumah Diana. Alasannya sederhana: mengembalikan sandal jepit milik Evan yang masih ada padanya. Padahal, Evan sudah bilang sandal itu boleh disimpan saja. Menurut laki-laki itu, sandal jepit bukan barang yang perlu dipikirkan terlalu serius. Namun, bagi Bella, mengembalikan sandal adalah alasan paling masuk akal untuk bertemu pemiliknya lagi. Dengan begitu, ia tidak perlu mengakui bahwa dirinya sedang mencari-cari kesempatan. Setelah memarkir motor, Bella berjalan menuju pintu rumah besar itu sambil menenteng tote bag berisi sandal hitam dengan tulisan EVAN di bagian belakangnya. Belum sempat ia mengetuk, pintu sudah terbuka dari dalam. “Eh, ada Bella sayang!” sapa Diana. “Sore, Tante,” balas Bella dengan senyum ramah. “Tumben main ke sini. Ada perlu apa?” Bella mengangkat tote bag-nya. “Ini, Tante. Bella mau balikin sandal Evan.” “Oh, sandal itu.” Diana melirik tas di tangan Bella, lalu tersenyum penuh arti. “Mau ketemu Evan,
Gerakan Evan terhenti. Ia akhirnya menegakkan badan dan menatap Bella beberapa detik. Untuk pertama kalinya, Bella melihat sesuatu yang mirip rasa bersalah di wajahnya. “Saya lupa.” “Lupa?” Bella mengerutkan kening, memastikan dirinya tidak salah dengar. “Chat kamu tenggelam. Saya juga banyak kerjaan.” Evan melepas sarung tangan mekaniknya. “Sorry.” Bella melongo. Jawaban itu begitu jujur sampai terasa menyebalkan. Ia sudah menyiapkan berbagai alasan yang mungkin dipakai Evan, mulai dari sibuk sampai pesannya memang tidak penting. Namun, ia tidak menyangka pria itu akan mengaku lupa dengan wajah sedatar itu. “Jangan bilang Mas juga lupa soal janji Mas?” “Janji apa?” tanya Evan tanpa ekspresi. Hati Bella terasa tercubit. Ternyata hanya dirinya yang menantikan janji tersebut. Tanpa menjawab, ia berbalik dan melangkah pergi dengan kesal. Namun, baru beberapa langkah, heels setinggi tujuh sentimeter yang dikenakannya menginjak genangan oli di dekat pintu garasi. Kaki kirinya terge
“Siapa bilang aku naksir? Aku cuma bosan di rumah.” Bella segera berdiri dan berlari ke kamarnya sebelum ibunya sempat bertanya lebih jauh.“Tunggu ya, Ma! Sepuluh menit!” serunya dari lorong.Sintia menggeleng sambil tersenyum geli. “Jangan sepuluh menit, kamu itu kalau dandan satu jam!”Delapan menit kemudian, Bella sudah berdiri di depan lemari dalam keadaan setengah basah, memegang dua baju sekaligus dengan wajah panik.Blouse putih atau dress biru? Rok plisket atau celana kulot? Apa yang pantas dipakai perempuan yang pura-pura tidak peduli, tetapi ingin terlihat cantik di depan ibu laki-laki yang bahkan tidak membalas pesannya?“Bel, sudah belum?” teriak Sintia dari luar kamar.“Belum, Ma! Dua menit!”Bella buru-buru memilih maxi dress biru navy tanpa lengan dengan potongan leher bulat yang sederhana. Ia menata rambut hazelnya dengan cepat, membiarkan gelombang alaminya jatuh di bahu. Sedikit foundation, blush on, dan lipstik peach melengkapi penampilannya. Ia juga mengenakan sep
Beberapa hari berlalu tanpa kabar apa pun dari Evan.Selama bekerja, Bella memang tidak punya banyak waktu untuk memikirkan laki-laki itu. Kesibukan di bank cukup ampuh mengalihkan perhatiannya, setidaknya sampai jam kerja berakhir dan ia kembali punya terlalu banyak waktu untuk dirinya sendiri. Perasaan aneh itu muncul lagi, seperti remaja yang baru punya gebetan ganteng.Dan di Sabtu yang cerah ini, perasaan itu justru terasa menyebalkan.Bella sudah mencoba mengisi paginya dengan bereksperimen di dapur, merapikan kamar, bahkan menonton drama yang sempat tertunda. Sayangnya, pikirannya selalu kembali pada satu orang yang berhari-hari tidak memberinya kabar.Dua kali ia membuka kolom chat Evan, mengetik pesan, lalu menghapusnya lagi. Pesan terakhirnya masih menggantung tanpa balasan. Padahal, ia hanya ingin tahu apakah pria itu sudah kembali dari dinas atau belum. Tidak ada salahnya, kan, bertanya begitu?Bella mendengus, kemudian melempar ponselnya ke sofa. Namun, tak sampai semenit







