LOGIN"Fauzia? Ada apa dengannya?"
"Dia ditahan di kantor polisi atas tuduhan pembunuhan suaminya." "Apa?" "Papa harus pergi sekarang." "Tapi sekarang sudah malam. Apa Papa ngga bisa menunggu besok? Lagipula di luar sedang hujan deras." "Fauzia membutuhkan Papa sekarang." "Kalau begitu aku ikut." "Kamu di sini saja. Takutnya Papa akan sibuk mengurus Fauzia. Kamu di sini gantikan Papa membantu Daffa." Reza hanya bisa menuruti apa kata Papanya. Dia mengantarkan Faisal menuju garasi. Pria paruh baya itu segera masuk ke dalam mobil dan menjalankan kendaraan roda empat itu keluar dari pekarangan rumahnya. Cukup lama Reza berada di teras sepeninggal sang Papa. Sebenarnya dia cemas melepaskan Faisal pergi sendiri. Entah mengapa perasaannya tidak enak. Pria itu buru-buru mengusir perasaan buruknya. Berharap semuanya akan baik-baik saja. Dia pun segera masuk ke dalam rumah. Reza mengambil ponselnya, dia ingin mencari tahu kasus yang menimpa Fauzia. Siapa tahu kasus tersebut diberitakan oleh media massa. Reza bukanlah anak kandung Faisal. Pria itu tidak pernah menikah sampai sekarang. Pria berusia lima puluh tahun tersebut memilih melajang setelah patah hati ketika wanita yang dicintainya menikahi pria lain dan pria itu adalah Kakak kembarnya sendiri, Faidhan. Dengan seksama Reza membaca berita yang berkaitan dengan Fauzia. Wanita itu dituduh berselingkuh dan menghilangkan nyawa suaminya bersama lelaki selingkuhannya. Reza sendiri tidak percaya ketika membaca berita tersebut. Dari penuturan cerita Faisal, Fauzia sangat mencintai suaminya. Rasanya tidak mungkin kalau wanita itu berselingkuh dan membunuh suaminya. Sementara itu, Faisal memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin secepatnya tiba di kantor polisi di mana keponakannya berada. Sejak putus hubungan dari Faidhan, Faisal memang tidak pernah lagi memperlihatkan batang hidungnya di hadapan sang kakak. Saudara satu-satunya itu memutuskan hubungan persaudaraan karena kesalahan yang dilakukan Faisal. Dua puluh tahun hidup tanpa ingin tahu kabar tentang saudaranya, akhirnya Faisal memberanikan diri mencari kabar tentang sang Kakak. Namun ternyata Faidhan dan istrinya sudah meninggal dunia karena kecelakaan. Dan mereka meninggalkan anak semata wayangnya, Fauzia. Sejak lima tahun lalu, Faisal sudah berhasil menemukan keberadaan Fauzia. Wajah anak itu sangat mirip dengan Kelana. Faisal tidak berani menemui Fauzia. Namun dia terus memantau keadaan keponakannya itu dan diam-diam membantunya lewat perpanjangan tangan orang lain. Perasaan Faisal lega ketika Fauzia menikah dengan Angga yang dia tahu latar belakang keluarganya seperti apa. Hujan yang turun semakin deras. Jarak pandang Faisal menjadi terbatas. Namun begitu, pria itu masih tidak menurunkan laju kendaraannya. Tiba-tiba saja dari arah berlawanan, muncul sebuah mobil. Terkejut melihat mobil muncul di depannya, refleks Faisal membanting setir. Karena laju mobilnya begitu cepat, pria itu tidak bisa mengendalikan kendaraannya. Mobil tersebut meluncur menabrak pohon besar di depannya. * * * Sambil berlari, Reza memasuki IGD Rumah Sakit Permata Medika. Setengah jam yang lalu dia mendapatkan telepon dari petugas polisi kalau Faisal mengalami kecelakaan. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, mencari keberadaan Papanya. Reza membalikkan tubuhnya ketika sebuah tangan menepuk pundaknya. "Dengan saudara Reza?" tanya seorang pria yang mengenakan seragam berwarna coklat. "Iya, Pak. Bagaimana dengan Papa saya? Bagaimana dia bisa mengalami kecelakaan?" "Untuk sementara, kami mengambil kesimpulan kalau itu adalah kecelakaan tunggal. Tapi kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut." "Apa anda wali Pasien yang mengalami kecelakaan?" seorang dokter mendekati Reza. "Iya, Pak. Saya anaknya. Bagaimana keadaan Papa saya?" "Keadaannya kritis dan harus segera dilakukan operasi." "Lakukan saja, Dok." "Kalau begitu, silakan ditanda tangani formulir persetujuan operasi." Seorang suster segera memandu Reza menuju meja perawat. Wanita itu menyerahkan formulir yang harus ditanda tangani Reza. Dengan cepat Reza menanda tanganinya. Tak lama kemudian dua orang perawat mendorong blankar Faisal dan membawanya ke ruang operasi. Reza diminta mengurus administrasi lebih dulu saat Faisal akan dibawa ke ruang operasi. Usai mengurus administrasi, Reza bergegas menuju lantai tiga, di mana ruang operasi berada. Pria itu mendudukkan dirinya di kursi tunggu yang ada di sana. Perasaannya kacau, takut sesuatu terjadi pada Faisal. Belum lagi masalah yang menimpa Fauzia, membuat Reza hanya bisa meremat rambutnya dengan kasar. Pria itu kemudian mengambil ponselnya. Dia segera menghubungi Daffa, atasan sekaligus sahabatnya. Daffa adalah anak dari Rizal Dirgantara, pengusaha sukses dan juga atasan langsung Faisal. Sudah lima belas tahun Faisal bekerja sebagai sekretaris sekaligus orang kepercayaan Rizal. Saat ini Rizal sedang berada di luar negeri. Urusan kantor diserahkan pada anaknya, Daffa. "Halo.." terdengar suara Daffa dari seberang. "Daf.. Papa kecelakaan." "Apa? Kecelakaan di mana? Bagaimana keadaannya?" cecar Daffa. "Nanti aja ceritanya. Apa kamu bisa ke sini?" Suara Reza terdengar begitu berat. Daffa tahu betapa Reza sangat menyayangi ayah angkatnya itu. "Kamu di mana?" "Aku di Rumah Sakit Permata Medika, lantai tiga. Papa sedang dioperasi." "Aku ke sana sekarang." Panggilan langsung terputus. Reza kembali terdiam, matanya melihat pada pintu masuk operasi yang masih tertutup. * * * Tak sampai satu jam, Daffa sudah sampai di rumah sakit. Pria itu langsung menuju lantai tiga. Di sana nampak Reza tengah duduk terkulai menunggu jalannya operasi. Daffa segera mendekat lalu duduk di samping Reza. "Bagaimana Om Faisal bisa kecelakaan?" tanya Daffa. "Papa baru dapat kabar kalau Fauzia terkena kasus." "Fauzia? Siapa?" Kening Daffa nampak berkerut. Pria itu belum pernah mendengar nama Fauzia sebenarnya. Faisal memang sangat tertutup. Soal masa lalunya, hanya Rizal dan Reza saja yang tahu. "Fauzia itu keponakan Papa." "Keponakan? Bukannya Om Faisal hidup sebatang kara? Memangnya Om Faisal masih punya keluarga?" "Papa sebenarnya punya saudara kembar, namanya Faidhan. Tapi Om Faidhan dan istrinya sudah meninggal dan Fauzia adalah anak dari Om Faidhan." Baru kali ini Daffa mendengar tentang keluarga Faisal. Tapi bukan hal aneh juga karena Daffa memang tidak pernah ikut campur pada kehidupan pribadi orang lain. Reza pun mulai menceritakan rahasia tentang Faisal. Pria itu merasa Daffa harus tahu tentang Fauzia dan masa lalu Papanya. Keadaan Faisal sekarang tidak memungkinkan pria itu untuk membantu Fauzia. Harapan Reza hanya ada pada Daffa. Tapi pria itu harus tahu dulu masa lalu Faisal. Faidhan dan Faisal hanya tinggal berdua sejak remaja. Kedua orang tua mereka sudah meninggal dan hanya mengandalkan satu sama lain untuk bertahan hidup. Ketika keduanya berusia 23 tahun, jalan mereka mulai terpisah. Faisal bekerja jauh dan harus meninggalkan kampung halaman tempat orang tuanya tinggal. Sebelum pergi, Faisal sempat bertemu dengan wanita yang berhasil memikat hatinya. Namun karena pria itu Pemalu, dia tidak berani mendekati wanita itu dan hanya memendam perasaan sukanya. Sampai akhirnya dia harus pergi untuk bekerja di luar kota. Ternyata bukan hanya Faisal, tapi Faidhan pun terpikat oleh kecantikan dan kelembutan Kelana, wanita yang dicintai Faisal. Berbeda dengan adik kembarnya yang pemalu, Faidhan lebih berani mengungkapkan perasaannya. Gayung bersambut, Kelana pun memiliki perasaan yang sama dengan pria itu. Dalam kurun waktu tiga bulan, Faidhan sudah membawa Kelana ke pelaminan. Ketika Faidhan menikah, dia meminta Faisal untuk datang. Namun dikarenakan pria itu sedang berada di luar pulau karena pekerjaan, Faisal tidak bisa datang. Dia juga tidak tahu kalau wanita yang dinikahi Kakaknya adalah Kelana. Di usia pernikahan yang ke dua bulan, terjadi musibah di kampung yang ditinggali Faidhan. Bencana longsor melanda. Banyak warga yang kehilangan rumah, bahkan keluarga. Rumah yang dihuni Faidhan rata oleh tanah. Pria itu akhirnya memboyong istrinya pindah ke daerah lain dan memulai hidup di sana. Setelah menikah, Faidhan sampai akhirnya pindah dari kampung halaman, masih belum mengatakan pada istrinya kalau dirinya memiliki kembaran. Dia berencana memberikan kejutan pada Kelana ketika Faisal datang. Pria itu ingin tahu apakah sang istri bisa membedakan dirinya dengan Faisal atau tidak karena mereka kembar identik. Mendapat kabar dari Faidhan, Faisal pun berniat mengunjungi sang Kakak yang sekarang sudah berpindah tempat. Pria itu sengaja tidak memberi kabar kedatangannya, ingin membuat kejutan niatnya. Begitu pria itu sampai di daerah di mana Faidhan tinggal, ternyata Kakak kembarnya itu sedang pergi untuk urusan pekerjaan. Ketika Faisal sampai, haru sudah beranjak malam. Seorang warga yang melintas memanggilnya dengan nama Faidhan. "Cep Idhan ternyata sudah pulang lagi. Katanya pergi sampai tiga hari," tegur pria yang berpapasan dengan Faisal. Tidak ada tanggapan dari pria itu, dia hanya menjawab dengan senyuman. Pria itu terus berjalan sampai akhirnya tiba di rumah Faidhan. Kedatangannya disambut sumringah oleh Kelana karena wanita itu menyangka yang datang adalah suaminya. Faisal cukup terkejut karena Faidhan belum mengatakan soal dirinya pada Kelana. "Katanya Akang pulang besok?" sambut Kelana sambil memeluk lengan Faisal. Jantung pria itu berdegup tak karuan. Perasaannya pada Kelana masih belum usai. Awalnya pria itu hendak mengatakan siapa dirinya, namun melihat sikap Kelana padanya, pria itu mengurungkan niatnya. Dia menikmati saja perlakuan penuh cinta Kelana padanya. "Akang mau mandi dulu? Mau aku siapkan air panas?" "Ngga usah, aku mandi air dingin saja." "Ada apa dengan suara Akang?" Wajah Faisal dan Faidhan memang mirip, namun suara mereka sedikit berbeda. Faisal memiliki suara lebih berat dari Faidhan. "Tenggorokan Akang sakit. Sepertinya mau batuk." "Aku buatkan air jahe buat Akang." "Boleh." Ketika Kelana membuatkan minuman jahe, Faisal segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Begitu selesai mandi, pakaian untuknya sudah tersedia. Faisal segera memakai pakaiannya lalu menghampiri Kelana yang berada di ruang makan. Faisal segera meminum air jahe buatan Kelana. Faisal memandangi wajah cantik kelana. Hampir dua tahun tidak bertemu, wanita itu masih tetap terlihat cantik. Lalu pandangan Faisal tertuju pada perut Kelana yang sedikit menyembul. "Akang belum menyapa anak kita," ujar Kelana membuyarkan lamunan Faisal. Kelana menarik tangan Faisal lalu menaruh di depan perutnya. Perasaan Faisal campur aduk. Dia sangat menyukai perannya sebagai Faidhan. Setan dalam dirinya berbisik, menyuruhnya untuk mengambil kesempatan. Faisal berjongkok lalu mencium perut Kelana. Dengan lembut Kelana membelai rambut Faisal. "Akang mau nengok anak kita?" Faisal meneguk ludahnya kelat. Belum sempat dia menjawab, Kelana sudah menarik tangannya masuk ke dalam kamar. Sesampainya di kamar, iman Faisal benar-benar diuji. Kelana melepaskan pakaian yang dikenakannya dan hanya menyisakan dalaman saja. Pergolakan batin terjadi. Tawaran Kelana begitu menggiurkan, namun pria itu tahu kalau wanita di depannya adalah istri dari saudara kembarnya. Melihat suaminya yang hanya diam saja, Kelana pun mendekat. Dia mengalungkan tangan di leher suaminya kemudian mengecup bibir Faisal. Tubuh Faisal menegang. Kecupan Kelana sukses membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Melihat suaminya yang masih diam, Kelana kembali mencium bibir suaminya. Kali ini Faisal langsung membalas ciuman Kelana. Tangannya mulai bergerilya mengusap tubuh mulus wanita itu. Kelana mendongakkan lehernya, memberikan akses lebih pada suaminya untuk mengeksplor lehernya. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Faisal terus menciumi leher Kelana, bahkan pria itu menyesap cukup kencang hingga meninggalkan jejak kemerahan di sana. Suasana di antara dua orang itu semakin panas saja. Pelan-pelan Faisal membawa Kelana mendekati ranjang. Perlahan wanita itu membaringkan Kelana di atas kasur. Faisal yang sudah dikuasai nafsu setan, melepaskan penutup gunung kembar Kelana. Pria itu sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi. "Maafkan aku Idhan, sekali saja aku ingin mencicipi tubuh istrimu. Aku sangat mencintainya," gumam Faisal dalam hati.Mata Fauzia dan Daffa terus melihat pada monitor di depan mereka? Keduanya telinga mereka terus mendengarkan apa yang dikatakan dokter kandungan. Upaya pasangan suami istri itu mengikuti program kehamilan membuahkan hasil. Sekarang Fauzia sedang mengandung buah hati pertamanya. Usia kehamilan Fauzia sekarang sudah memasuki usia lima bulan. "Sejauh ini kondisi janinnya sehat. Air ketubannya juga cukup. Pertumbuhan janinnya juga berjalan normal." Terang sang dokter kandungan setelah memeriksa kehamilan Fauzia menggunakan USG. Sekarang mereka sudah duduk berhadapan di meja kerja sang dokter. "Bagaimana dengan jenis kelaminnya dok?" tanya Daffa. Pria itu sudah tidak sabar ingin mengetahui jenis kelamin anak pertamanya. Dokter wanita itu hanya mengulum senyum saja. Mengetahui jenis kelamin anak yang masih dalam kandungan memang sering ditanyakan pasangan yang kontrol kandungan padanya. "In Syaa Allah kalau tidak ada kesalahan, anak Bapak dan Ibu laki-laki." "Alhamdulillah." Kalima
"Ananda Muhammad Syahreza, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya, Keyla Salsabila dengan mas kawin sebuah vila senilai 1 milyar rupiah dibayar tunai!" "Saya terima nikah dan kawinnya Keyla Salsabila binti Egi Sudjana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" "Bagaimana saksi?" "Sah!" Baik Reza maupun Ayah dari Keyla sama-sama mengucap syukur. Ijab kabul berhasil dilakukan tanpa hambatan. Reza menolehkan kepalanya ketika mendengar suara langkah kaki. Keyla yang terbalut kebaya warna putih gading berjalan mendekatinya didampingi oleh Ibunda tercinta dan Murni. Kedua wanita itu mengantarkan Keyla sampai ke dekat meja akad. Reza bangun dari duduknya kemudian menyambut kedatangan wanita yang sudah sah menjadi istrinya. Pria itu membantu Keyla duduk di sebelahnya. "Silakan dipasangkan cincin pernikahannya," ujar sang penghulu. Sebuah kotak beludru diberikan oleh Daffa. Di dalamnya terdapat sepasang cincin pernikahan. Kedua pengantin memasangkan cincin ke jari masing-mas
Usai menemui Imron, Salim tidak langsung pulang. Pria itu lebih dulu menemui Rafi yang juga ditahan di lapas yang sama. Walau Rafi sama sekali tidak ada hubungan darah dengan keluarganya, namun Salim merasa harus memberitahu kabar kematian Anita. Bagaimana pun juga Rafi pernah menjadi bagian keluarga mereka selama dua puluh tahun lebih. Mata Salim memandangi Rafi yang baru saja memasuki ruangan. Wajah pria itu nampak kuyu, tubuhnya juga lebih kurus dan rahangnya sudah ditumbuhi bulu-bulu yang cukup lebat. Dia menarik sebuah kursi di depan Salim. "Bagaimana kabar mu, Rafi?" "Seperti yang Papa lihat." Sebisa mungkin Rafi menghindari tatapan mata Salim, pria yang selama ini dipanggilnya dengan sebutan Papa. Namun belakangan dia baru tahu kalau dirinya adalah anak haram dari Imron dan Anita. "Bersabarlah Rafi, jalani hukuman mu dengan tenang. Bertobatlah. Papa harap kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik sekeluarnya dari sini." Kepala Rafi terangkat. Sungguh pria itu tidak
Di sebuah kamar sel lembaga pemasyarakatan, nampak Anita duduk di atas lantai dingin dengan punggung bersandar ke dinding di belakangnya.Wanita itu masih belum percaya kalau anak yang dikandungnya selama sembilan, ternyata bukanlah Rafi, melainkan Angga. Sungguh wanita itu tidak menyangka takdir akan mempermainkan dirinya sedemikian rupa. Siapa sangka Mita akan menukar bayinya demi membalaskan sakit hatinya.Airmata jatuh membasahi wajah Anita ketika mengingat semua perlakuan buruknya pada Angga hanya karena menganggap anak itu adalah buah hati dari Mita dan Salim.Sekali pun Anita tidak pernah menampilkan senyum di wajah untuk Angga. Yang ada hanya tatapan tajam dan penuh kebencian.Puncaknya ketika wanita itu memutuskan menghabisi nyawa Angga demi bisa mendapatkan harta Salim dan menyelamatkan posisi untuk Rafi. Bersama dengan Imron, keduanya merencanakan pembunuhan keji tanpa mereka tahu kalau orang yang hendak dihabisi adalah darah dagingnya sendiri.Anita memukuli dadanya bebe
"Selamat Om. Semoga rumah tangganya samawa dan pernikahan Om langgeng sampai maut memisahkan." Fauzia memeluk Pamannya. Wanita itu bahagia, akhirnya sang Paman mau mengakhiri masa lajangnya bersama sahabatnya. "Terima kasih, Uzi." "Selamat Teh, eh apa aku sekarang harus memanggil Tante?" goda Fauzia. Murni hanya mengulum senyum saja mendengar godaan Fauzia. Jika boleh, dia ingin tetap dipanggil dengan sebutan Teteh. Tapi mengingat statusnya sekarang, mungkin memang lebih cocok jika dipanggil dengan sebutan Tante. Daffa menghampiri Faisal kemudian memeluknya erat. Sejak kecil pria itu sudah mengenal Faisal. Pria yang selama ini selalu bertahan dalam kesendirian, akhirnya menemukan pelabuhan terakhirnya. "Cepat beri Zia adik sepupu," ujar Daffa sambil tersenyum. "Kamu saja dulu yang punya anak. Masa sudah beberapa bulan menikah, masih belum bisa membuat Uzi hamil." "Aku masih ingin menghabiskan waktu berdua dengan Zia." "Alasan." Daffa hanya tertawa kecil. Dia memang masih ing
Sepasang insan masih asik melampiaskan kerinduan dengan melakukan percintaan. Suara deru nafas mereka terdengar bersahutan memenuhi seisi kamar. Peluh juga sudah membasahi tubuh keduanya. Daffa mengerang panjang ketika akhirnya pria itu sampai ke puncaknya. Dia mengeluarkan cukup banyak cairan kental yang sudah ditabungnya selama berada di Sidney. Sebuah kecupan diberikan Daffa di kening istrinya. Fauzia mengangkat tangannya kemudian membelai pipi suaminya dengan lembut. Sebuah senyuman tercetak di wajahnya. Pelan-pelan Daffa menggulirkan tubuhnya ke samping. Ditariknya Fauzia ke dalam pelukannya. Beberapa kali kecupan didaratkan di bahu sang istri. "Bagaimana keadaan Reza?" "Bang Reza sepertinya masih belum menerima kalau dirinya anak Pak Salim. Pak Salim meminta Bang Reza tinggal di rumahnya dan membantu mengurus perusahaan. Tapi Bang Reza menolak." "Dia pasti masih terkejut dengan semua ini. Kita harus memberinya waktu." "Apa Mas mengijinkan kalau Bang Reza mau mengurus peru