เข้าสู่ระบบBimo masih berdiri di ambang pintu kamar Adrian, wajahnya penuh rasa iba. Ia menyodorkan segelas air putih yang tadi sempat ia ambil dari dispenser ruang tengah.
“Minum dulu, Yan.” Adrian menerima gelas itu dengan tangan bergetar. Ia meneguknya perlahan, mencoba menstabilkan nafas yang sejak tadi terengah. Tubuhnya basah oleh keringat dingin, rambutnya menempel di dahi. “Terima kasih, Bim…” suara Adrian lirih, hampir tenggelam oleh detak jantungnya sendiri. Bimo menepuk bahu sahabatnya itu. “Santai, Yan. Itu cuma mimpi. Jangan terlalu dipikirin. Istirahatlah” Adrian mengangguk pelan. Setelah merasa sedikit tenang, Bimo akhirnya meninggalkan kamar dan menutup pintu. Adrian duduk di tepi ranjang, memandangi gelas kosong di tangannya. Pikirannya berputar, menolak untuk diam. "Untuk kedua kalinya… selalu sama. Bau pandan. Tanaman pandan dan Raina…" Ia mengusap wajah dengan kedua telapak tangan, dadanya terasa sesak. "Apa ini kebetulan? Atau memang ada sesuatu yang ingin disampaikan lewat mimpi?" Tidak ingin terjerat dalam rasa gelisah berkepanjangan, Adrian akhirnya bangkit. Tubuhnya masih lelah, tapi hatinya tahu ia butuh tempat bergantung. Ia melangkah ke kamar mandi, berwudhu dengan tenang, lalu kembali ke kamarnya. Di tengah malam pekat itu, ia menegakkan sholat sunah taubat. Rukuk dan sujudnya lama, doanya lirih, penuh penyesalan atas dosa-dosa yang mungkin ia perbuat. Usai itu, ia melanjutkan dengan qiyamul lail. Ayat-ayat Al-Qur’an yang ia lantunkan mengalun lembut, menembus kesunyian malam. Ada keheningan yang berbeda. Damai. Perlahan kegelisahan yang semula menekan dadanya mulai mencair. Ketika ia menutup tilawah, Adrian duduk bersimpuh, kedua tangannya menengadah. “Ya Allah… kalau ini semua petunjuk-Mu, maka beri aku kekuatan. Jika ini cobaan, beri aku kesabaran. Dan jika ada rahasia di balik bau pandan ini, tolong bukakan jalannya…” Air mata menetes pelan di pipinya. Adzan Subuh berkumandang. Adrian sholat berjamaah di mushola kecil dekat kos. Setelah kembali ke kos, tubuhnya yang letih akhirnya menyerah. Ia merebahkan diri, mencoba tidur sebentar. Ketika terbangun, matahari sudah tinggi. Jam di dinding hampir menunjukkan pukul delapan pagi. Ia terburu-buru bersiap ke kantor, meski tubuhnya terasa berat. Baru saja ia meraih kunci motornya, ponselnya bergetar. Notifikasi W******p masuk. Dari Raina. “Yan, maaf ya… hari ini aku izin nggak bisa siaran. Badanku lemes banget, aku demam dan menggigil.” Adrian langsung mengetik balasan. “Kamu sudah ke dokter?” Balasan datang cepat. “Belum. Cuma minum obat warung aja. Kalau nggak ada perubahan sore nanti, baru aku ke dokter.” Alis Adrian mengernyit. Ia tak tega membayangkan Raina sendirian dalam keadaan sakit. “Jangan keluar sendiri. Tunggu aja di kos. Sore nanti aku jemput, aku anter kamu ke dokter.” Raina sempat menolak, tapi Adrian bersikeras. Akhirnya, gadis itu pasrah. Hari itu Adrian bekerja dengan hati yang tak tenang. Bayangan mimpi semalam masih menempel jelas, ditambah kekhawatiran akan kondisi Raina. Waktu seolah berjalan lambat. Begitu sore tiba, ia melajukan mobilnya ke kos Raina. Gadis itu benar-benar terlihat lemah. Wajahnya pucat, tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi pelipisnya. “Ya ampun, Rai…” Adrian menahan napas melihat kondisi itu. “Ayo, kita ke dokter sekarang.” Raina hanya mengangguk lemah. Di klinik terdekat, dokter memeriksa suhu tubuh Raina dan memberikan beberapa obat. “Demamnya tinggi. Banyak istirahat. Jangan begadang dulu. Kalau dua hari nggak ada perubahan, balik lagi ke sini,” pesan dokter. Adrian mengangguk sambil membantu Raina berdiri. Mereka kembali ke kos. Adrian memastikan Raina berbaring nyaman, memberinya segelas air, dan menyelimuti tubuhnya. Senja merambat perlahan. Ketika adzan Maghrib berkumandang, Adrian sempat izin ke mushola kecil di dekat kos untuk sholat. Setelah selesai, ia kembali ke kamar Raina, bermaksud menemaninya sebentar sebelum pulang. Raina terlihat tertidur gelisah. Sesekali tubuhnya menggigil, bibirnya komat-kamit seolah mengigau. Adrian duduk di kursi dekat ranjang, memperhatikannya dengan rasa iba. Tiba-tiba, aroma itu kembali. Pandan. Wangi itu menyeruak begitu kuat, seolah memenuhi setiap sudut kamar. Adrian refleks menoleh ke kanan-kiri, mencari sumber. Tak ada. Kamar itu steril. Hanya ada lemari, meja belajar, dan ranjang. Jantung Adrian berdegup keras. Hawa aneh merambat, membuat bulu kuduknya berdiri. Lalu… suara itu datang. Bukan sekadar bisikan samar seperti sebelumnya. Kali ini jelas, dalam, seolah berasal dari dalam dinding kamar. "Tolong… lihat taman pandan… cari aku… tolong…" Adrian terpaku. Seluruh tubuhnya membeku, seakan ada yang menekan dadanya. Sementara itu, Raina yang sedang demam menggigil semakin keras. Tubuhnya gemetar hebat di balik selimut, napasnya berat, keningnya dipenuhi peluh. “Rai…” Adrian mendekat, menggenggam tangan dingin itu. “Rai, kamu denger juga nggak?” suaranya gemetar. Raina hanya mengerang pelan, matanya terpejam rapat, wajahnya pucat pasi. Adrian menatap sekeliling kamar dengan mata melebar. Kata-kata itu terus berputar di kepalanya, menggema lebih keras. "Lihat taman pandan… cari aku…" Saat itu, sebuah kesadaran menghantamnya. Mimpi yang ia alami. Bau pandan yang terus mengikuti. Suara gaib yang barusan terdengar. Semuanya… terhubung. Adrian membeku di kursi. Ia ingin bertanya, tapi kepada siapa? Ia ingin berlari keluar kamar, tapi kakinya seakan berat tertahan. Sampai akhirnya… ia hanya bisa menatap wajah Raina yang menggigil hebat di ranjang, sembari bergumam lirih: “Apa yang sebenarnya terjadi? Apa maksud semua clue tentang pandan ini…?” Ruangan itu kembali sunyi, menyisakan aroma pandan yang menyesakkan dada. Adrian masih duduk di kursi, tubuhnya kaku. Suara itu bergema lagi di telinganya, membuat dadanya seperti diremas. "Lihat taman pandan… cari aku…" Kali ini terdengar lebih dalam, seperti datang dari dalam tanah. Adrian spontan menoleh ke arah lantai, lalu ke langit-langit kamar, seakan mencoba mencari sumber. Tapi yang ia temukan hanya keheningan yang menakutkan. Raina merintih pelan, tubuhnya menggigil lebih parah. Bibirnya bergetar, dan dari sela napasnya terdengar seperti gumaman tak jelas. Adrian mencondongkan tubuh, mendekat ke wajahnya. “Rai… kamu ngomong apa?” bisiknya. Raina tidak membuka mata. Tapi di antara erangan sakitnya, Adrian samar mendengar sebuah kata yang membuat bulu kuduknya meremang. " lihat taman pandan…tolong” Adrian tersentak, darahnya serasa berhenti mengalir. Ia menatap wajah pucat itu dengan perasaan campur aduk antara takut, cemas, dan tak percaya. Bagaimana mungkin Raina bisa mengucapkan hal yang sama dengan suara gaib yang ia dengar? Detik itu juga, wangi pandan semakin pekat. Bukan lagi sekadar samar, melainkan menusuk hidung, bercampur dengan hawa lembab yang membuat udara kamar semakin berat untuk dihirup. Adrian merasa kepalanya pening, tubuhnya seperti ditekan beban tak kasat mata. Ia menggenggam tangan Raina erat, mencoba menyalurkan kekuatan. “Bertahan, Rai. Kamu nggak sendiri. Aku ada di sini…” Dalam hati, ia membaca Ayat Kursi berulang-ulang. Lidahnya kaku, tapi ia memaksa untuk terus melantunkan. Perlahan, hawa sesak itu mulai mereda sedikit. Bau pandan juga terasa tidak sepekat tadi, meski masih samar menggantung. Ketakutan sudah terlanjur bersemayam di benaknya. Adrian tahu, ini bukan kebetulan. Mimpi yang terus berulang, suara gaib, kondisi Raina yang makin melemah, dan kini gumamannya yang menyebut kata pandan, semua itu seperti potongan puzzle yang belum ia pahami. Keringat dingin menetes di pelipisnya. Ia menatap Raina yang mulai terlelap lagi, meski masih gelisah. Adrian meremas wajahnya dengan kedua tangan, lalu menatap kosong ke arah jendela kamar kos yang tertutup rapat. Malam terasa lebih pekat dari biasanya. “Ya Allah…” gumamnya lirih, “apa sebenarnya rahasia di balik pandan ini?” Ia tak tahu harus mencari ke mana. Satu hal jelas, semua petunjuk yang datang selalu mengarah ke sana. Taman pandan. Ia yakin, semakin lama ia diam, semakin besar pula bayangan misteri itu akan menghantui mereka berdua. Adrian menutup mata sejenak, menenangkan diri. Dalam keheningan itu, suara lirih kembali terdengar, kali ini nyaris menempel di telinganya, membuat bulu kuduknya berdiri tanpa ampun "Tolong… cari aku… di taman pandan…" Adrian membuka mata lebar-lebar, jantungnya seakan meloncat ke tenggorokan. Ia menoleh cepat, tapi yang ada hanya Raina yang masih terlelap. Sunyi. Hanya detak jam dinding yang terus berdetak pelan, seakan menghitung mundur ke sesuatu yang belum siap ia hadapi. ***Senja di Taman Pandan Senja turun perlahan di atas Taman Pandan. Cahaya jingga menembus sela-sela dedaunan, menari di permukaan danau yang tenang. Angin berhembus lembut, menggoyangkan daun pandan yang tinggi, seolah menyambut kedatangan seorang pengunjung yang berjalan perlahan di jalan setapak. Lina Mei melangkah di antara rerumputan hijau, tangannya sesekali menyentuh daun pandan yang basah oleh embun sore. Setiap langkah terasa berat dan ringan sekaligus berat karena kenangan panjang dari masa lalu, ringan karena ketenangan yang kini mengisi hatinya. Ia tahu, setiap inci taman ini menyimpan sejarah yang panjang: cermin yang menghubungkan dunia, jiwa yang tersesat, pengorbanan Adrian dan Raina, dan semua roh yang akhirnya menemukan rumahnya. Suara air yang menetes dari pancuran kecil di danau menambah ketenangan. Burung-burung pulang ke sarang, menyanyi lembut, dan bunga m
Matahari pagi menyelimuti desa kecil itu dengan cahaya hangat, menembus sela-sela pepohonan yang rindang. Rumah-rumah kayu sederhana berjajar rapi, dan aroma tanah basah bercampur wangi bunga melati yang tumbuh di sepanjang jalan setapak. Adrian duduk di teras rumahnya, menatap lembah yang jauh, tempat matahari perlahan menyingkap kabut tipis.Di tangannya terdapat selembar kertas yang belum diisi. Pena itu siap bergerak, namun pikirannya melayang pada semua perjalanan panjang yang telah mereka lalui.Cermin-cermin yang mengubah hidup, roh-roh yang tersesat dan menemukan jalan kembali, serta jiwa Mei Lin yang kini hidup kembali dalam diri Lina Mei. Dan di tengah semua itu, ada Raina, sosok yang tak pernah meninggalkan sisi Adrian, yang selalu menjaga cinta dan ketenangan di tengah keajaiban yang tak bisa dijelaskan. Adrian menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar pagi itu. Ia tahu surat ini bukan sekadar kat
Beberapa tahun berlalu sejak malam ketika debu cermin terakhir menyatu di danau taman pandan. Kota kecil itu telah kembali hidup, taman pandan tetap menjadi tempat favorit penduduk untuk berjalan-jalan dan mengingat sejarahnya, meski kisah di baliknya tetap menjadi rahasia bagi kebanyakan orang.Lina Mei kini tumbuh menjadi wanita dewasa dengan keanggunan yang tenang, wajahnya sering tersenyum lembut, dan matanya memancarkan ketenangan yang tak tergoyahkan.Ia tidak hanya menjadi sosok yang dikenal oleh Adrian dan Raina sebagai anak yang mereka didik, tetapi juga mulai dikenal oleh publik karena karyanya yang tulus dan mendalam.Di rumah kayu sederhana dekat danau, Lina duduk di depan meja kerja, menatap tumpukan naskah yang belum selesai. Pena di tangannya bergerak perlahan, mencatat setiap peristiwa, setiap ingatan, dan setiap pelajaran yang ia dapatkan dari perjalanan panjangnya dari masa hidupnya sebagai Lina Mei, hingga masa ketik
Pesawat mendarat dengan lembut di landasan Bandara Soekarno-Hatta. Udara tropis menyambut mereka dengan hembusan lembap yang membawa aroma hujan. Setelah berminggu-minggu di Beijing, melewati badai spiritual dan ritual penebusan, kini mereka kembali ke Indonesia ke tempat di mana semua kisah ini pertama kali ditulis oleh waktu.Adrian menatap keluar jendela mobil yang membawa mereka menuju kota kecil di pesisir, tempat taman pandan berada. Langit berwarna jingga keemasan, sama seperti sore pertama kali ia melihat cermin terkutuk itu bertahun-tahun lalu. Bedanya, kali ini ia tidak membawa beban.Di kursi belakang, Lina duduk diam, memeluk kain merah yang dulu menutupi cermin terakhir. Di dalamnya tersimpan debu kaca, sisa-sisa benda yang telah menjadi saksi ratusan tahun luka dan penebusan.Raina menoleh dari kursi depan. “Kau yakin ingin menaburkannya di taman pandan?” tanyanya lembut.Li
Pagi itu, embun menetes lembut di ujung daun pandan. Sinar matahari pertama menembus kabut tipis yang masih menggantung di atas desa. Tidak ada lagi hawa berat, tidak ada lagi bisikan atau bayangan gelap yang mengintai di antara pepohonan. Yang tersisa hanyalah keheningan yang damai keheningan yang tidak menakutkan, melainkan menenangkan.Burung-burung mulai berkicau, seolah menyambut dunia yang baru saja dilahirkan kembali. Dari kejauhan, terdengar suara ayam berkokok dan riuh tawa anak-anak kecil yang berlarian di jalan tanah merah, mengejar layang-layang kertas buatan mereka sendiri.Desa yang selama puluhan tahun terbelenggu kini bernafas lega.“Semalam... aku melihat langit bercahaya seperti fajar,” kata seorang kakek dengan mata berbinar, tangannya masih gemetar saat memegang cangkir teh. Ia duduk di depan rumahnya, dikelilingi beberapa tetangga yang masih membicarakan kejadian aneh malam tadi.
Langit pagi itu tidak seperti biasanya. Setelah malam panjang yang penuh dengan doa dan badai, awan di atas desa tua tampak berlapis keemasan bukan dari matahari semata, tapi dari cahaya yang memancar perlahan dari tanah itu sendiri. Desa yang dulu diselimuti kutukan kini seperti sedang bernafas untuk pertama kalinya. Di tengah lapangan yang semalam menjadi tempat ritual, Lina berdiri diam. Ustaz Rahmad dan Adrian berdiri di belakangnya, menatap tanpa berani bersuara. Sekujur tubuh Lina tampak berpendar lembut, seperti sedang menyatu dengan cahaya di sekitarnya. Angin berhembus lembut, membawa aroma melati dan dupa. Suara gemericik air dari sungai kecil di dekat sana terdengar seperti irama alam yang mengiringi momen suci itu. Ustaz Rahmad berbisik pelan, “Ini... bukan cahaya biasa. Ini cahaya pemurnian.” Adrian mengangguk, matanya tak lepas dar







