แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Wel
Suara Keira dipenuhi tangis dan ketakutan.

Eila berdiri terpaku. Dalam sekejap, berbagai pikiran melintas di benaknya.

Apakah dia berutang sesuatu kepada Keira? Tidak.

Keira membencinya. Tidak ada alasan baginya mempertaruhkan nyawa demi orang yang tidak menyukainya.

Namun, Keira terus menangis sambil memanggilnya. Suaranya makin panik.

Eila menggertakkan gigi, lalu berbalik dan berlari kembali.

Pintu kuil sudah separuh dilalap api. Asap tebal membuat matanya perih hingga air mata terus mengalir.

Dia berjongkok dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengangkat tiang yang menindih Keira.

Setelah susah payah berhasil menggesernya sedikit, Keira segera memanfaatkan kesempatan itu untuk menarik kakinya keluar.

"Cepat pergi!"

Eila menarik lengan Keira dan berlari ke luar. Tepat pada saat itu, sebatang balok yang terbakar jatuh tepat menghantam bahu kanan Eila.

Rasa sakit yang luar biasa seketika menjalar ke seluruh punggungnya.

Eila mengerang tertahan. Langkahnya sempoyongan, tetapi tangannya tidak pernah melepaskan Keira. Dia tetap menyeret gadis itu keluar dari kuil.

Begitu menghirup udara segar, dia langsung terengah-engah. Pandangannya mulai berkunang-kunang.

Tidak lama kemudian, terdengar derap langkah kaki kuda. Rupanya para prajurit telah datang untuk memadamkan api.

Orang yang memimpin mereka adalah Arga. Dia segera melompat turun dari kudanya dan berlari menghampiri mereka.

Tenaga Eila seketika habis. Tubuh Keira langsung disambut oleh sepasang lengan yang kokoh.

"Keira! Kamu tidak apa-apa? Di mana yang terluka?"

Arga memeriksa Keira dengan wajah penuh kecemasan.

Keira langsung menjatuhkan diri ke dalam pelukannya sambil menangis tersedu-sedu.

"Jangan takut, Kakak ada di sini." Arga menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.

"Syukurlah kamu selamat. Syukurlah."

Eila terduduk lemas di tanah. Bahu kanannya yang terluka begitu sakit hingga dia nyaris tidak mampu meluruskan punggung.

Baru setelah beberapa saat, Arga seolah baru teringat akan dirinya.

"Eila?"

Dia tertegun sesaat, lalu buru-buru membungkuk membantunya berdiri dan merangkul pinggangnya.

"Begitu melihat kobaran api, aku langsung membawa orang-orang naik ke sini. Untung ada kamu. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Keira, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana."

Saat berbicara, pandangannya jatuh pada luka di bahu Eila. Alisnya sedikit berkerut.

"Lukamu cukup parah. Aku akan membawamu turun gunung. Tabib sudah menunggu di dalam kereta."

Eila mengangguk.

Dia sudah terlalu kesakitan hingga tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Saat dibantu naik ke kereta, tenaganya sudah benar-benar habis. Rasa sakit ketika tabib membersihkan dan mengobati lukanya membuat keringat dingin terus bercucuran. Entah sejak kapan, dia akhirnya pingsan.

Ketika membuka mata lagi, dia sudah berada di kamar tidurnya sendiri. Hari pun telah berganti pagi.

Citra berjaga di sisi ranjang. Begitu melihat Eila sadar, dia segera menyodorkan segelas air.

"Nyonya, Anda sudah sadar. Tabib berkata luka di bahu Anda cukup serius dan harus dirawat baik-baik."

Eila mengangguk pelan, lalu menopang tubuhnya untuk duduk dan meminum air itu.

Setelah selesai makan, dia mendengar keributan dari luar. Samar-samar terdengar seperti ada orang yang bertengkar.

Eila mengernyit, lalu tetap berjalan keluar dari halamannya.

Sesampai di depan gerbang kediaman, dia melihat Arga dan Keira sama-sama berdiri di sana. Yang satu tampak menyedihkan dan penuh air mata, sedangkan yang satunya lagi berwajah muram.

"Apa yang terjadi di luar?"

Seorang pelayan di sampingnya melirik Arga. Setelah ragu sejenak, barulah dia menjawab.

"Nyonya, kediaman ini sudah dikepung warga."

Eila mengangkat pandangannya.

"Mereka mengatakan kebakaran kuil kemarin terjadi karena nona tidak sengaja menjatuhkan lilin saat mempersembahkan dupa, sehingga seluruh kuil terbakar."

"Sekarang, warga berkumpul di depan gerbang dan menuntut agar kediaman jenderal menyerahkan nona untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya."

Arga menoleh ke arahnya. Tatapannya menyapu bahu Eila yang terluka.

"Bagaimana lukamu? Sudah lebih baik?"

"Sudah lumayan."

Eila menjawab singkat. Pandangannya melewati Arga dan jatuh pada sosok di belakangnya yang sedang menunduk sambil menyeka air mata.

Mata Keira memerah. Dia meringkuk di belakang Arga.

Eila menarik kembali pandangannya, lalu berkata dengan tenang, "Jadi, bagaimana Jenderal akan menangani masalah ini?"

Arga terdiam sejenak.

"Aku akan membangun kembali kuil itu. Uang persembahan juga akan kuganti dua kali lipat. Semua kerugian akan kuganti sepenuhnya."

Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Tapi, sekarang warga sedang sangat marah. Harus ada seseorang yang keluar untuk memberi penjelasan."

Eila menatapnya, menunggu dia melanjutkan.

"Keira masih muda. Semalam dia juga sangat terkejut. Kalau sekarang dia keluar menghadapi warga, dia tidak akan sanggup."

Arga menatap Eila. Nada suaranya kembali melunak. "Eila, kamu adalah kakak iparnya. Bisakah kamu menggantikannya keluar untuk meminta maaf? Anggap saja sekadar formalitas. Urusan lainnya akan kutangani."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 20

    Pemandangan di wilayah barat laut benar-benar berbeda dengan wilayah barat daya.Musim dingin di sini datang lebih awal. Memasuki bulan Oktober, salju sudah mulai turun.Di luar tenda, suara angin menderu lirih. Arga duduk di depan meja, memegang sepucuk surat resmi. Dia telah membacanya cukup lama, tetapi tidak satu kata pun yang benar-benar masuk ke pikirannya.Dia meletakkan surat itu, lalu mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya.Itu tusuk rambut perak.Bunga kacapiring di kepala tusuk rambut itu sudah sedikit aus. Kilau di bagian tepinya telah menjadi kusam karena berulang kali disentuh.Setiap hari, Arga akan mengeluarkannya dan memandanginya sekali, lalu menyimpannya kembali di dekat dadanya.Seorang pengawal pribadi masuk untuk menambahkan arang. Ketika melihat tusuk rambut di tangan Arga, dia tidak berani bertanya banyak. Pengawal itu menundukkan kepala dan segera keluar.Semua orang di kemah militer tahu bahwa sang jenderal menyimpan seseorang di dalam hatinya. Orang itu t

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 19

    Dia tidak membawa payung. Seluruh tubuhnya basah kuyup, pakaian hitamnya melekat di tubuh, membuatnya tampak seperti patung batu yang diguyur hujan.Dia adalah Arga.Tampaknya, dia terlalu banyak minum arak. Di balik tirai hujan, tatapannya terkunci pada Eila, matanya memerah.Arga melangkah maju dan berhenti, seolah takut jika dia mendekat, Eila akan terbang menjauh seperti burung yang terkejut."Eila." Suaranya serak. "Bisakah kamu ... menoleh dan melihatku sekali saja?"Eila berdiri di dalam ambang pintu, memandangnya dari balik tirai hujan.Eila mengambil sebuah payung dan berjalan ke tengah hujan, lalu menyerahkan gagang payung itu ke tangannya."Arga, aku tidak membencimu lagi. Tapi aku juga tidak akan mencintaimu lagi. Pulanglah."Arga menggenggam payung itu hingga buku-buku jarinya memutih. Air hujan terus menetes dari rahangnya.Dia membuka mulut, tetapi tidak mampu mengatakan apa-apa. Setelah sekian lama, barulah Arga berhasil mengucapkan sebuah kalimat."Aku tahu Yang Mulia

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 18

    Arga menyeringai tipis, lalu duduk di hadapannya. Dia menuang secangkir arak untuk dirinya sendiri, tetapi tidak meminumnya. Arga hanya memutarnya di tangan."Yang Mulia Pangeran Ketiga belakangan ini sibuk dengan berbagai urusan, tetapi masih sempat mengadakan jamuan di sini. Justru Andalah yang benar-benar punya waktu luang."Dia berhenti sejenak, lalu pandangannya samar-samar menyapu ke arah Eila."Terlebih lagi, belakangan ini Yang Mulia cukup dekat dengan istri saya. Saya ingin tahu, apa maksud Yang Mulia?""Istrimu?"Dimas meletakkan cangkir araknya. Nada suaranya tenang dan tidak tergesa, tetapi setiap katanya terdengar jelas."Jenderal Arga tampaknya salah ingat. Nona Eila belum menikah. Dari mana muncul sebutan istrimu?"Wajah Arga sedikit berubah.Saat dia hendak membuka mulut, Raka yang berada di sampingnya tiba-tiba berkata dengan tenang."Pernikahan Eila dan Arga memang belum pernah disahkan. Yang Mulia tidak perlu marah."Kata-kata itu terdengar seperti hendak mendamaikan

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 17

    Suaranya sangat serak, seolah setiap kata dipaksakan keluar dari tenggorokannya."Eila, sebenarnya aku sudah lama menyukaimu."Eila tidak menjawab."Bukan karena ingin memanfaatkanmu, bukan pula untuk memperdayamu."Arga mengangkat pandangannya, sudut matanya memerah."Sungguh."Arga mulai bercerita. Dia mengatakan bahwa pada awalnya dirinya mendekati Eila memang karena Keira.Kemudian, tanpa sadar, dia mulai menaruh hati, tetapi tidak berani mengakuinya.Arga takut di dalam hati Eila masih ada Raka, sehingga dia menyetujui keputusan untuk mengurung Eila di aula leluhur.Arga mengatakan dirinya tidak dapat menemukan Eila, sementara Raka tidak bersedia meramalkan keberadaan Eila untuknya. Dia pun mengutus orang untuk mengawasi Raka. Dari situlah dia mengetahui bahwa Eila telah pergi ke ibu kota, sehingga dirinya mengajukan permohonan ke istana untuk diperbolehkan kembali lebih awal.Menjelang akhir, suaranya mulai bergetar. "Aku tahu sekarang sudah terlambat untuk mengatakan semua ini.

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 16

    Raka berdiri di tempatnya, memandangi wajah tenang Eila, dan merasa tenggorokannya tercekat.Dia membuka mulut, suaranya terdengar kering."Aku tidak pergi mengambil lenteramu hari itu." Raka menundukkan pandangannya, suaranya begitu pelan hingga hampir tidak terdengar. "Aku menyesal. Selama lebih dari setahun ini, setiap hari aku menyesal.""Aku tahu kamu baik-baik saja. Seharusnya aku tidak datang mengganggumu lagi. Tapi, makin lama waktu berlalu, makin kusadari bahwa aku tidak bisa melupakanmu. Aku tahu kamu datang ke ibu kota. Aku berpikir ... aku hanya ingin melihatmu sekali."Raka mengangkat pandangannya. Matanya memerah. "Eila, bisakah kamu memaafkanku?"Eila menatapnya sejenak."Raka, aku tidak pernah menyalahkanmu karena kamu jatuh cinta pada Keira dan tidak datang mengambil lenteraku.""Urusan perasaan tidak bisa dipaksakan. Aku mengerti."Secercah cahaya melintas di mata Raka."Tapi, kalau yang kamu maksud dengan memaafkan adalah ketika demi Keira, kamu memberiku cap sebagai

  • Musim Semi Seindah Itu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi   Bab 15

    Eila membuka mulut, tetapi untuk sesaat tidak tahu harus berkata apa.Dia terdiam cukup lama sebelum berbalik dan menatap Dimas.Pria itu berdiri di sisi meja toko. Dia tidak mendesak, hanya menunggu dengan tenang.Matanya memancarkan senyum yang tulus dan terbuka, jernih tanpa sedikit pun kesan menggoda atau menyimpan maksud tersembunyi.Eila menundukkan pandangannya, lalu mengangkatnya kembali."Baik."Mereka berdua pergi ke utara bersama, dan Dimas juga menepati janjinya.Dia memperkenalkan Eila ke beberapa pengurus bagian pengadaan dari kediaman para bangsawan, lalu menjadi penghubung agar Eila bisa berbicara dengan kasim yang bertugas di Biro Urusan Dalam Istana.Toko rempah Eila yang awalnya hanya sebuah toko kecil, kini telah berkembang menjadi toko ternama yang dikenal di tiga kawasan.Salah satu campuran dupa yang dia kembangkan dipilih menjadi salah satu barang upeti untuk istana karena aromanya lembut dan tahan lama.Eila tidak lagi menjadi perempuan yang harus bergantung pa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status