เข้าสู่ระบบPemandangan di wilayah barat laut benar-benar berbeda dengan wilayah barat daya.Musim dingin di sini datang lebih awal. Memasuki bulan Oktober, salju sudah mulai turun.Di luar tenda, suara angin menderu lirih. Arga duduk di depan meja, memegang sepucuk surat resmi. Dia telah membacanya cukup lama, tetapi tidak satu kata pun yang benar-benar masuk ke pikirannya.Dia meletakkan surat itu, lalu mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya.Itu tusuk rambut perak.Bunga kacapiring di kepala tusuk rambut itu sudah sedikit aus. Kilau di bagian tepinya telah menjadi kusam karena berulang kali disentuh.Setiap hari, Arga akan mengeluarkannya dan memandanginya sekali, lalu menyimpannya kembali di dekat dadanya.Seorang pengawal pribadi masuk untuk menambahkan arang. Ketika melihat tusuk rambut di tangan Arga, dia tidak berani bertanya banyak. Pengawal itu menundukkan kepala dan segera keluar.Semua orang di kemah militer tahu bahwa sang jenderal menyimpan seseorang di dalam hatinya. Orang itu t
Dia tidak membawa payung. Seluruh tubuhnya basah kuyup, pakaian hitamnya melekat di tubuh, membuatnya tampak seperti patung batu yang diguyur hujan.Dia adalah Arga.Tampaknya, dia terlalu banyak minum arak. Di balik tirai hujan, tatapannya terkunci pada Eila, matanya memerah.Arga melangkah maju dan berhenti, seolah takut jika dia mendekat, Eila akan terbang menjauh seperti burung yang terkejut."Eila." Suaranya serak. "Bisakah kamu ... menoleh dan melihatku sekali saja?"Eila berdiri di dalam ambang pintu, memandangnya dari balik tirai hujan.Eila mengambil sebuah payung dan berjalan ke tengah hujan, lalu menyerahkan gagang payung itu ke tangannya."Arga, aku tidak membencimu lagi. Tapi aku juga tidak akan mencintaimu lagi. Pulanglah."Arga menggenggam payung itu hingga buku-buku jarinya memutih. Air hujan terus menetes dari rahangnya.Dia membuka mulut, tetapi tidak mampu mengatakan apa-apa. Setelah sekian lama, barulah Arga berhasil mengucapkan sebuah kalimat."Aku tahu Yang Mulia
Arga menyeringai tipis, lalu duduk di hadapannya. Dia menuang secangkir arak untuk dirinya sendiri, tetapi tidak meminumnya. Arga hanya memutarnya di tangan."Yang Mulia Pangeran Ketiga belakangan ini sibuk dengan berbagai urusan, tetapi masih sempat mengadakan jamuan di sini. Justru Andalah yang benar-benar punya waktu luang."Dia berhenti sejenak, lalu pandangannya samar-samar menyapu ke arah Eila."Terlebih lagi, belakangan ini Yang Mulia cukup dekat dengan istri saya. Saya ingin tahu, apa maksud Yang Mulia?""Istrimu?"Dimas meletakkan cangkir araknya. Nada suaranya tenang dan tidak tergesa, tetapi setiap katanya terdengar jelas."Jenderal Arga tampaknya salah ingat. Nona Eila belum menikah. Dari mana muncul sebutan istrimu?"Wajah Arga sedikit berubah.Saat dia hendak membuka mulut, Raka yang berada di sampingnya tiba-tiba berkata dengan tenang."Pernikahan Eila dan Arga memang belum pernah disahkan. Yang Mulia tidak perlu marah."Kata-kata itu terdengar seperti hendak mendamaikan
Suaranya sangat serak, seolah setiap kata dipaksakan keluar dari tenggorokannya."Eila, sebenarnya aku sudah lama menyukaimu."Eila tidak menjawab."Bukan karena ingin memanfaatkanmu, bukan pula untuk memperdayamu."Arga mengangkat pandangannya, sudut matanya memerah."Sungguh."Arga mulai bercerita. Dia mengatakan bahwa pada awalnya dirinya mendekati Eila memang karena Keira.Kemudian, tanpa sadar, dia mulai menaruh hati, tetapi tidak berani mengakuinya.Arga takut di dalam hati Eila masih ada Raka, sehingga dia menyetujui keputusan untuk mengurung Eila di aula leluhur.Arga mengatakan dirinya tidak dapat menemukan Eila, sementara Raka tidak bersedia meramalkan keberadaan Eila untuknya. Dia pun mengutus orang untuk mengawasi Raka. Dari situlah dia mengetahui bahwa Eila telah pergi ke ibu kota, sehingga dirinya mengajukan permohonan ke istana untuk diperbolehkan kembali lebih awal.Menjelang akhir, suaranya mulai bergetar. "Aku tahu sekarang sudah terlambat untuk mengatakan semua ini.
Raka berdiri di tempatnya, memandangi wajah tenang Eila, dan merasa tenggorokannya tercekat.Dia membuka mulut, suaranya terdengar kering."Aku tidak pergi mengambil lenteramu hari itu." Raka menundukkan pandangannya, suaranya begitu pelan hingga hampir tidak terdengar. "Aku menyesal. Selama lebih dari setahun ini, setiap hari aku menyesal.""Aku tahu kamu baik-baik saja. Seharusnya aku tidak datang mengganggumu lagi. Tapi, makin lama waktu berlalu, makin kusadari bahwa aku tidak bisa melupakanmu. Aku tahu kamu datang ke ibu kota. Aku berpikir ... aku hanya ingin melihatmu sekali."Raka mengangkat pandangannya. Matanya memerah. "Eila, bisakah kamu memaafkanku?"Eila menatapnya sejenak."Raka, aku tidak pernah menyalahkanmu karena kamu jatuh cinta pada Keira dan tidak datang mengambil lenteraku.""Urusan perasaan tidak bisa dipaksakan. Aku mengerti."Secercah cahaya melintas di mata Raka."Tapi, kalau yang kamu maksud dengan memaafkan adalah ketika demi Keira, kamu memberiku cap sebagai
Eila membuka mulut, tetapi untuk sesaat tidak tahu harus berkata apa.Dia terdiam cukup lama sebelum berbalik dan menatap Dimas.Pria itu berdiri di sisi meja toko. Dia tidak mendesak, hanya menunggu dengan tenang.Matanya memancarkan senyum yang tulus dan terbuka, jernih tanpa sedikit pun kesan menggoda atau menyimpan maksud tersembunyi.Eila menundukkan pandangannya, lalu mengangkatnya kembali."Baik."Mereka berdua pergi ke utara bersama, dan Dimas juga menepati janjinya.Dia memperkenalkan Eila ke beberapa pengurus bagian pengadaan dari kediaman para bangsawan, lalu menjadi penghubung agar Eila bisa berbicara dengan kasim yang bertugas di Biro Urusan Dalam Istana.Toko rempah Eila yang awalnya hanya sebuah toko kecil, kini telah berkembang menjadi toko ternama yang dikenal di tiga kawasan.Salah satu campuran dupa yang dia kembangkan dipilih menjadi salah satu barang upeti untuk istana karena aromanya lembut dan tahan lama.Eila tidak lagi menjadi perempuan yang harus bergantung pa






