مشاركة

Bab 2

مؤلف: Jesi
Pada hari aku keluar dari rumah sakit, Justin datang menjemputku.

Dengan penuh perhatian, dia membukakan pintu mobil lalu menopang punggungku.

Sepanjang perjalanan, tak sepatah kata pun keluar dari mulutku.

Setibanya di rumah, Justin turun lebih dulu untuk mengambil barang bawaanku.

Begitu melangkah masuk ke ruang tamu, pandanganku langsung tertumbuk pada kotak P3K berwarna cokelat di atas meja.

Di sandaran sofa tergantung selendang kasmir krem yang bukan milikku.

Di samping meja televisi terpajang foto hitam putih mendiang kakak Justin, Jerry Giovano.

Aku tertegun di ambang pintu.

Justin yang sedang melepas sepatu di belakangku ikut menghentikan gerakannya.

"Belakangan kondisi Kak Sarah lagi kurang baik. Malam-malam dia sering terbangun karena syok, bahkan sampai kejang. Jadi aku nggak tega ninggalin sendirian. Untuk sementara aku minta dia tinggal di sini beberapa hari. Begitu kondisinya membaik, dia akan kembali ke rumahnya."

Aku tidak menjawab. Aku langsung melangkah menuju kamar utama.

Pintu kamar terbuka sedikit. Saat kudorong, kulihat Sarah sedang duduk di tepi ranjang sambil merapikan botol-botol obat.

Dia mengenakan sandal rumah milikku. Begitu melihatku, dia buru-buru berdiri.

"Vanya, kamu sudah pulang."

Suaranya lirih.

"Aku cuma takut gelap. Aku benar-benar nggak sanggup tinggal sendirian. Justin bilang aku boleh nginap di sini beberapa hari. Begitu kondisiku membaik, aku akan pergi. Aku nggak akan repotin kamu."

Pandanganku jatuh pada sandal yang dikenakannya.

Itu sandal bersol empuk yang kubeli saat hamil. Justin bahkan menemaniku berkeliling cukup lama untuk memilihnya.

Aku mengalihkan pandangan kepada Justin.

"Dia tidur di kamar utama?"

Justin bersandar di kusen pintu dengan wajah serba salah.

"Dia pernah kejang tengah malam dan baru ketahuan setelah jatuh ke lantai. Kamar utama lebih dekat ke ruang tamu. Kalau terjadi apa-apa, lebih mudah ditangani."

"Untuk sementara, kamu tidur di ruang kerja dulu. Tempat tidurnya sudah aku siapin."

Dadaku terasa sesak.

Ada begitu banyak kata yang ingin kuucapkan, tetapi semuanya seakan tertahan di tenggorokan.

Bukan karena aku tidak berani mengatakannya. Aku hanya baru menyadari bahwa di rumah ini, posisiku ternyata bisa digeser kapan saja.

Saat makan malam, Sarah duduk di samping Justin dan menyendokkan sup ke mangkuk suamiku.

Ketika pandangannya bertemu denganku, dia segera menundukkan kepala.

"Vanya, aku tahu kamu baru keluar dari rumah sakit. Seharusnya aku nggak mengganggumu. Tapi Justin satu-satunya adik Jerry. Kalau bukan padanya, aku benar-benar nggak tahu harus bergantung sama siapa lagi."

Justin mengambil sedikit lauk dan meletakkannya ke dalam mangkukku.

"Vanya, Kak Sarah juga lagi di posisi sulit. Kamu fokus pulihkan diri saja, sisanya biar aku yang urus. Aku nggak akan biarin kamu merasa tersisih."

Aku hanya menunduk menatap lauk di dalam mangkukku.

Setelah makan malam, aku berjalan menuju kamar bayi.

Begitu pintunya kubuka, aku langsung merasa ada yang berbeda.

Keranjang penyimpanan yang sebelumnya berisi pakaian dan topi bayi di dekat jendela kini telah kosong.

Sebagai gantinya, di dalam kamar berdiri sebuah kuda-kuda lukis dari kayu beserta beberapa kotak cat.

Pada kuda-kuda itu tergantung sebuah kartu bertuliskan, [Terapi Emosi, Melukis untuk Mengurangi Stres.]

Aku berdiri mematung di ambang pintu. Menatap pemandangan itu, sesak yang sejak tadi kutahan akhirnya meluap.

Ketika berbalik, Justin sudah berdiri di lorong.

"Psikolog Kak Sarah nyaranin terapi melukis untuk membantu mengurangi stres. Di rumah juga sudah nggak ada kamar kosong lagi ...."

Aku memotong perkataannya.

"Ini kamar anak kita."

Justin terdiam.

Beberapa saat kemudian dia berkata, "Vanya, semua barang anak kita sudah aku simpan. Nggak ada yang kubuang. Jangan terlalu emosi dulu, tubuhmu belum pulih. Setelah Kak Sarah pindah, aku akan menata kembali kamar ini seperti semula."

Aku sudah terlalu lelah untuk berdebat.

Yang ingin aku ketahui sekarang hanya satu, ke mana semua perlengkapan bayi itu dipindahkan.

Tengah malam, aku membuka pintu gudang penyimpanan.

Namun, di dalamnya tak ada ranjang bayi, tak ada alat sterilisasi botol susu.

Beberapa set pakaian bayi yang dulu kulipat sendiri pun ikut menghilang. Yang tersisa hanya label-label kecil di dasar kardus.

Seorang pelayan datang menghampiri dari belakang. "Bu Vanya , barang-barang itu ... kata Bu Mitha, Bu Vanya akan makin sedih kalau melihat semua ini, jadi beliau nyuruh orang mengirimkannya ke yayasan amal milik Bu Sarah untuk dilelang."

Aku membungkuk mengambil salah satu label yang tergeletak di dasar kardus.

Di sana tertulis usia kehamilan dan perkiraan tanggal persalinan. Aku menatapnya lama sebelum akhirnya melipatnya pelan dan menggenggamnya erat di telapak tangan.

Baru saat itulah kusadari. Di rumah ini, bahkan jejak bahwa anakku pernah ada pun harus disingkirkan demi Sarah.

Aku menutup pintu gudang penyimpanan.

Bunyi kunci yang mengatup terdengar pelan.

Namun, sejak detik itu, ada sesuatu di dalam hatiku yang ikut terkunci rapat.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 9

    Seminggu kemudian, Justin akhirnya menandatangani surat perceraian itu.Saat pengacaraku mengabarkan hal tersebut, aku sedang menyusun laporan rekonsiliasi pajak tahunan untuk salah satu klien."Pak Justin nggak mengajukan keberatan apa pun. Beliau menerima seluruh isi perjanjian, dan pembagian harta dilakukan sesuai rancangan yang Ibu ajukan. Ibu hanya mengambil bagian yang memang menjadi hak menurut hukum. Sebelum semuanya selesai, beliau meminta saya menanyakan sekali lagi ... apakah Ibu ingin mempertimbangkan untuk mengambil lebih banyak?""Nggak," jawabku singkat.Pengacara itu terdiam sejenak."Maaf kalau saya lancang, Bu Vanya. Dengan bukti yang Ibu punya sekarang, sebenarnya peluang Ibu untuk dapat bagian yang lebih besar sangat kuat."Aku tersenyum tipis."Aku tahu. Tapi aku nggak mau berutang budi padanya, dan aku juga nggak mau bikin dia berpikir bahwa semua ini bisa ditebus dengan uang.""Baik," jawabnya pelan.Pada hari pengurusan perceraian, kami bertemu di kantor catatan

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 8

    Pengacara bergerak sangat cepat.Hanya dalam tiga hari, seluruh alur transfer dana yang menggunakan rekening atas nama sepupu Sarah berhasil direkonstruksi dengan lengkap.Mulai dari akun yang mengunggah fitnah, riwayat panggilan kepada kerabat jauh Keluarga Giovano, hingga bukti pembayaran kepada akun-akun media independen, semuanya bermuara pada sumber yang sama.Saat Tania mengirimkan laporan hasil penyelidikan kepadaku, aku sedang menyelesaikan laporan pajak triwulanan milik seorang klien."Sudah dipastikan. Rekening yang dipakai memang atas nama sepupu Sarah, tapi semua instruksi dan otorisasinya berasal langsung dari Sarah."Mendengar itu, perasaanku tetap tenang.Bukan karena aku tidak peduli, melainkan karena sejak pertemuan kami di kedai kopi, saat dia mengucapkan kata-kata bernada ancaman itu, aku sudah menduga semua ini akan terjadi.Sore harinya, asisten Justin menelepon dan mengatakan bahwa Justin ingin menemuiku.Aku langsung menolaknya.Asisten itu sempat terdiam beberap

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 7

    Keesokan paginya, aku tiba di kantor tiga puluh menit lebih awal dari biasanya.Namun, di depan firma sudah berdiri lima atau enam orang.Tiga di antaranya adalah kerabat jauh Keluarga Giovano yang pernah kutemui saat jamuan keluarga.Dua orang lainnya sibuk mengangkat ponsel dan merekam.Orang yang memimpin mereka adalah paman sepupu yang meneleponku semalam.Di tangannya tergenggam hasil cetak tangkapan layar sebuah unggahan."Ini dia perempuan yang maksa kakak iparnya yang sudah menjanda mengembalikan uang! Gara-gara keguguran, dia melampiaskan kemarahannya sama kakak iparnya. Masih punya hati nurani apa nggak, sih?"Orang-orang di belakangnya langsung ikut bersorak menyahut.Aku tidak berhenti melangkah. Dengan tenang aku berjalan ke pintu firma, menempelkan kartu akses, lalu hendak membukanya.Namun, paman sepupu itu mengulurkan tangan dan menghalangi jalanku."Kalau hari ini kamu nggak bisa kasih penjelasan, jangan harap ada yang bisa masuk ke kantor ini."Aku mengangkat wajah da

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 6

    Pekerjaanku di kantor akuntan perlahan mulai stabil.Setiap hari aku berangkat pukul delapan pagi dan baru pulang sekitar pukul tujuh malam. Bahkan di akhir pekan pun aku tetap bekerja setengah hari.Sedikit demi sedikit, jumlah klien yang kutangani bertambah, dari tiga perusahaan menjadi belasan.Semuanya memang hanya perusahaan kecil dengan pembukuan yang sederhana, tetapi setiap transaksi tetap kuperiksa seteliti mungkin.Rekan-rekan kerjaku sering menggodaku karena dianggap terlalu perfeksionis. Menurut mereka, pembukuan perusahaan kecil tidak perlu diperiksa sedetail itu.Aku hanya tersenyum dan mengatakan bahwa itu sudah menjadi kebiasaanku.Padahal, bukan itu alasannya.Aku hanya ingin memenuhi pikiranku dengan deretan angka dan laporan keuangan.Sebab setiap kali pikiranku dibiarkan kosong, kenangan yang berusaha kulupakan selalu datang kembali.Sebulan kemudian, aku menunggu Tania di kedai kopi bawah gedung untuk makan siang bersama.Denting lonceng angin di pintu membuatku me

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 5

    Keesokan paginya, aku pindah ke rumah Tania.Setelah itu, ada tiga hal yang langsung kulakukan.Pertama, keluar dari seluruh grup keluarga besar Keluarga Giovano.Kedua, menghubungi bank untuk membekukan kewenangan persetujuan transaksi bernilai besar pada rekening bersama kami.Ketiga, mengambil kembali gelang perak milik anakku.Saat aku datang mengambilnya, Sarah sedang tidak ada di rumah.Seorang pelayan mengambil gelang itu dari laci meja di ruang tamu lalu menyerahkannya kepadaku. Di bagian dalamnya, tepat pada ukiran nama anakku, tampak sebuah goresan tipis.Jemariku mengusap perlahan bekas goresan itu sebelum kusimpan kembali ke dalam saku.Memasuki minggu pertama tinggal di rumah Tania, aku mengeluarkan sertifikat analis keuangan yang kudapat sebelum menikah dari dasar kotak penyimpanan.Sudut-sudutnya memang sudah mulai melengkung, tetapi masa berlakunya masih belum habis.Tania kemudian membantuku menghubungi sebuah kantor praktik akuntansi di kota ini yang kebetulan sedang

  • Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu   Bab 4

    Aku pergi ruang kerja mencari plakat porselen kecil.Aku membuat sebuah plakat porselen kecil sebagai kenang-kenangan untuk anak kami.Diam-diam kupesan plakat itu dengan ukuran tak lebih besar dari telapak tangan. Di permukaannya terukir nama panggilan serta tanggal lahir anak kami.Plakat itu kusimpan di dalam laci ruang kerja yang selalu kukunci. Hanya aku yang memegang kuncinya.Namun ketika laci itu kubuka, isinya sudah kosong.Aku menanyakan keberadaan plakat itu kepada pembantu di rumah, tetapi dia hanya menggeleng dan mengatakan tidak tahu.Aku mencari ke seluruh penjuru rumah. Hingga akhirnya, plakat itu kutemukan di dalam kantong barang daur ulang di samping tempat sampah.Porselen itu sudah pecah menjadi tiga bagian. Bahkan tulisan di atasnya pun hanya tersisa sebagian saja.Saat aku berjongkok memunguti pecahannya, Sarah datang ke ruang kerja lalu berhenti di ambang pintu."Vanya ... soal plakat itu, aku benar-benar nggak sengaja.""Waktu sedang membereskan ruang kerja, ngg

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status