Share

Bab 2

Penulis: Atonim
Pintu terbuka lebar.

Abian melihat Natasha yang menggendong anaknya dengan mata merah dan seketika panik.

"Kenapa? Kamu nggak enak badan? Aku panggilkan dokter, ya?"

"Nggak, aku cuma terharu lihat imutnya Chika." Natasha menggeleng, jantungnya masih berdebar melihat kekhawatiran di mata Abian.

Kenapa pria ini begitu pandai berpura-pura?

Jelas-jelas, dia baru saja selesai bermain dengan wanita lain. Kenapa dalam sekejap bisa tampak begitu perhatian padanya?

Dia mengaku mencintainya, membutuhkannya, tidak bisa hidup tanpanya, tapi tidur dengan wanita lain.

"Kenapa kamu bawa Chika ke sini? Sini, aku saja yang gendong. Kamu nggak boleh capek." Abian mengambil putrinya dan berdiri di dekatnya, membisikkan kata-kata manis pada Chika.

Natasha menyaksikan gerakannya yang terampil, teringat di masa kehamilan, Abian secara khusus belajar cara merawat bayi.

Chika tertawa pelan dalam gendongan ayahnya. Inilah pemandangan yang telah dia bayangkan berulang kali.

Tapi, semua itu sekarang justru terasa ironis.

"Sayang, lihat. Lucunya senyum Chika. Anak kita nanti pasti ceria dan pembawa kehangatan."

"Sebentar lagi jam makan, Chika aku bawa ke kamar bayi dulu. Kamu juga makan dulu, nanti aku pijat kakimu kalau dia sudah tidur."

Abian membuka pintu dan membawa si kecil ke kamar bayi, untuk memastikan Natasha tidak terganggu saat tidur di malam hari.

Makanan tiba tepat waktu.

Setelah menidurkan putrinya, Abian kembali ke kamar Natasha. Meskipun ada beberapa pengasuh, dia suka bersikeras melakukan berbagai hal sendiri. Kalau belum bisa, dia pun akan belajar.

Karena dia pernah berkata.

"Sasha nggak suka disentuh orang lain. Jadi aku belajar, biar dia nggak perlu merasa nggak nyaman."

Saat Natasha makan, pria itu duduk di ujung tempat tidur, memijat kaki istrinya dengan hati-hati. "Sekarang sudah mendingan? Atau masih sering kram? Kamu pasti capek ya."

"Nggak apa-apa," bisik Natasha, menggelengkan kepala sambil lanjut makan.

Setelah makan, Abian dengan teliti mengoleskan pelembap di tubuhnya dan memijatnya, merawatnya dengan sangat baik.

Natasha bahkan bertanya-tanya apakah kata-kata itu salah, atau apakah dia salah dengar.

Bagaimana mungkin Abian, yang begitu mencintainya, bisa melakukan hal seperti itu?

Tiba-tiba, ponsel Abian bergetar. Natasha meliriknya, pria itu sedang fokus dan bahkan tidak menyadari getaran ponselnya.

Ponsel itu bergetar lagi, beberapa kali berturut-turut.

Abian mengerutkan kening. "Siapa yang ganggu malam-malam begini?"

"Lihat dulu saja, siapa tahu penting," jawab Natasha.

"Nggak ada yang lebih penting dari kamu. Nggak apa-apa, Sayang. Ayo tidur." Abian merangkul bahunya dan menunggunya tertidur seperti biasa.

Baru setelah memastikan dia tertidur lelap, Abian mengambil ponselnya dan bersiap pergi.

Dia melihat pesan-pesan sebelumnya dan sengaja mengecilkan volume ke pengaturan terendah.

[Aku sudah siapkan dua yang paling cantik, khusus buat kamu. Terbaik pokoknya. Langsung datang saja.]

Abian menjawab singkat, melirik Natasha, lalu mengambil jaketnya dan keluar dari ruangan.

Di ruangan yang sunyi.

Natasha mencengkeram selimut, meringkuk sedikit demi sedikit. Bahunya bergetar saat dia menggigit bibirnya, berusaha keras untuk tidak berteriak.

Sebulan lagi, semua ini akan berakhir.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 25

    Natasha membalas senyumnya, matanya pun berkerut.Dibandingkan dengan orang yang bertele-tele, dia lebih suka ketegasan seperti ini."Ya sudah, kalau begitu, mari kita jadi rekan kerja yang baik.""Tapi, aku memang mengagumimu. Kalau ada kesempatan, tolong berikan aku kesempatan itu."Dion berbicara dengan sangat terus terang.Natasha membalas candaan itu. "Kalau ada kesempatan."Setelah makan bersama, Dion mengantar Natasha pulang.Beberapa waktu berikutnya, Natasha belum bisa pergi ke laboratorium.Memang merepotkan, karena dia juga harus mengurus anak. Tidak mungkin dia meninggalkan Chika sendirian di rumah.Dion menyarankan padanya agar mencari pengasuh, dan Natasha juga mempertimbangkannya.Tapi setelah bertemu beberapa calon, tidak ada yang memenuhi standarnya.Belum ada penyelesaian.Kebetulan, Abian tiba-tiba datang.Natasha awalnya sedikit khawatir, tapi Abian menepati janji dan jarang mengganggunya.Abian datang ke sini untuk membahas kerja sama. Kebetulan, dia bisa sekalian

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 24

    Kali ini, Abian benar-benar tidak melakukan tipuan apa-apa.Setelah menyelesaikan proses perceraian, Natasha bebas pergi.Memegang akta cerai, dia bersiap untuk memanggil taksi."Ayo kuantar. Walaupun kita sudah bercerai, kita sudah bersama sekian lama. Nggak mungkin langsung tiba-tiba jadi orang asing, 'kan?""Aku tahu kamu mau pergi besok. Di sana ... jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa makan waktu sibuk kerja."Abian menasihatinya dengan lembut.Natasha mendengarkan dengan penuh perhatian. Perasaan campur aduk perlahan menyebar di hatinya.Dia benar-benar mencintai Abian. Cinta mereka nyata.Tapi, kesalahan ini benar-benar tidak bisa dia maafkan."Kalau kamu nggak bisa ngurus Chika di sana, beri tahu aku. Aku pasti akan datang menjaganya.""Sasha, ini bukan berarti aku melepaskanmu. Dan bukan berarti aku nggak mencintaimu. Aku cuma nggak mau kamu membenciku."Natasha bersandar pada jendela mobil, menatap kendaraan yang berlalu-lalang. Lampu jalan menerangi wajahnya yang dihiasi setet

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 23

    "Giska, kalau kamu wanita lain, mungkin aku nggak akan membencimu."Natasha menatapnya dengan tenang, masih tanpa sedikit pun rasa simpati."Tapi karena itu kamu, aku pernah membantumu, dan kamu bilang aku memberimu harapan untuk terus berjuang.""Kamu memanfaatkan kebaikanku untuk menyakitiku. Aku menerima permintaan maafmu, tapi aku nggak akan memaafkanmu."Giska bersandar di kepala tempat tidur, memaksakan senyuman pahit. "Aku tahu kamu nggak akan memaafkanku.""Aku cuma ... ya sudahlah, tolong terima ini."Dia mengambil kartu dari bawah bantalnya dan memberikannya kepada Natasha."Utangku padamu dulu. Sudah kutambah bunga juga. Jangan ditolak. Ini bukan uang dari Abian. Ini uang yang aku dapatkan sendiri.""Kamu dulu menolongku, tapi aku malah nggak tahu terima kasih. Aku memang nggak pantas mendapatkan kebaikanmu. Mungkin dengan mengembalikan semuanya padamu, beban di hatiku bisa berkurang."Natasha menerima kartu itu. "Kamu tahu aku akan datang?"Giska menggeleng pelan. "Aku cuma

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 22

    Natasha menutup telepon.Dia tidak ingin bermain-main dengan Abian lagi. Waktunya terlalu berharga untuk itu.Setelah ditipu berulang kali, siapa pun akan merasa tidak tahan.Natasha merasa dirinya sudah sangat sabar.Jadwal pesawat tercepat baru besok pagi.Natasha tidak ingin bertemu Abian, apalagi terlibat dengannya lagi, jadi dia memesan kamar hotel.Dia membawa barang-barangnya langsung ke hotel.Keluarga Yanuar memiliki banyak properti. Dia butuh waktu cukup lama untuk mencari satu hotel yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka.Proses check-in berjalan lancar. Satu-satunya kekurangan adalah Chika mengalami demam ringan.Perjalanan bolak-balik yang terus-menerus jelas telah menguras tenaga kecilnya.Natasha merasa sangat bersalah dan membawa anaknya ke rumah sakit terlebih dahulu.Chika masih muda, dan Natasha menyadarinya tepat waktu, jadi yang perlu dia lakukan hanyalah minum obat dan air yang cukup.Natasha duduk menggendong Chika di kursi koridor. Sesosok wanita t

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 21

    Abian keluar langsung dari kantor untuk menemui Natasha.Natasha baru saja selesai makan.Saat membuka pintu dan bergegas masuk, Abian mengambil tangan Natasha dan memeriksanya dengan saksama."Mama nggak menyentuhmu, 'kan?"Natasha menarik tangannya dan berbalik menuju sofa. "Nggak.""Sasha, aku minta maaf. Aku sudah bicara dengannya. Dia nggak akan mengganggumu lagi.""Abian, kamu pasti tahu kenapa dia datang mencariku. Kalau kamu benar-benar peduli padaku, cepat selesaikan perceraiannya."Dalam sekejap.Apartemen menjadi sunyi.Abian menatap Natasha dengan mata merah. Dia sudah tidak asing lagi dengan sikap dinginnya.Tapi sudah lebih dari sebulan. Natasha tidak menunjukkan sedikit pun perasaan padanya.Seolah-olah segala sesuatu yang pernah ada di antara mereka di masa lalu benar-benar lenyap tanpa jejak."Cukup sudah. Bukannya semuanya sudah jelas? Apa lagi yang masih perlu dijelaskan?""Kamu sendiri yang bilang, kita bisa meresmikan proses cerai setelah aku pulang. Aku tahu sekar

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 20

    Natasha sudah mengerti.Dia bersandar ke dinding, merasa ingin tertawa.Meskipun dia tidak melakukan apa-apa, semua orang tetap menyalahkannya.Pernikahan ini memang sangat tragis."Makanya, kamu hubungi saja Abian.""Anakku nggak mau menemuiku lagi! Semua ini karena kamu! Kamu harusnya merasa bersalah!"Ratna awalnya bermaksud meminta maaf, tapi dia merasa tidak senang melihat Natasha tinggal di apartemen putranya dengan nyaman.Suaranya semakin tajam."Pahami baik- baik. Yang membekukan kartu dan uangmu itu Abian, bukan aku."Natasha menatap wajahnya, tatapannya berubah semakin dingin. "Jangan salahkan semuanya padaku. Aku nggak pernah melakukan kesalahan apa pun kepada Keluarga Yanuar.""Sedangkan anakmu, jelas-jelas selingkuh. Kenapa nggak kamu pikir pakai logika?"Mendengar itu, Ratna merasa sedikit bersalah.Tapi dia tidak boleh kehilangan wibawanya. Dia adalah nyonya Keluarga Yanuar."Laki-laki mana yang nggak suka bersenang-senang? Pernikahan itu tentang kompromi satu sama lain

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status