Share

Bab 3

Penulis: Atonim
Pagi berikutnya.

Natasha terbangun mendengar keributan di luar pintunya.

"Jadi setelah semua ini, dia cuma melahirkan anak perempuan?" Terdengar suara ketus Ratna, ibu Abian.

"Ma, jangan bilang begitu. Sasha susah payah mengandung dan melahirkan. Entah itu laki-laki atau perempuan, dia anak kesayangan kami."

"Kamu pewaris Keluarga Yanuar satu-satunya! Siapa yang bisa meneruskan keluarga kalau anaknya perempuan? Aku sudah sejak awal nggak suka dia. Status kita nggak setara sama sekali!"

"Sudah, Ma! Kalau kamu nggak suka Sasha, kami nggak akan pulang ke Keluarga Yanuar lagi!"

Keributan di luar berhenti.

Natasha berbaring di tempat tidur, menatap kosong ke langit-langit.

Keluarga Yanuar tidak pernah menyetujui pernikahan mereka, terutama ibu Abian, yang sangat membencinya. Dia tahu Chika akan mendapat perlakuan yang sama jika dia kembali ke Keluarga Yanuar.

Dia bisa menanggung penghinaan itu sendiri, tapi putrinya tidak boleh.

Setelah mandi, dia memutuskan untuk membawa Chika pulang, sekalian untuk menjual perhiasan yang pernah diberikan Abian padanya.

Dia tidak bodoh.

Membesarkan anak perlu uang yang banyak, dan sehebat apa pun dia, membesarkan anak sendirian pasti lebih sulit lagi.

Jadi, dia ingin menguangkan semua barang-barang itu.

Sementara Abian kembali ke kantor, Natasha meminta teman untuk membantunya menjual perhiasan. Beberapa bahkan disukai temannya dan langsung diambil di rumah.

Abian kebetulan pulang pada saat itu.

"Sasha, itu bukannya kalung favoritmu?"

"Aku nggak suka lagi," jawab Natasha dengan santai.

Abian tampak tidak peduli. "Ya sudah, beli yang baru lagi kalau sudah nggak suka. Sasha tercintaku harus mendapatkan yang terbaik."

"Yang terbaik itu apa?" tanya Natasha tiba-tiba.

"Apa pun yang aku berikan padamu itu yang terbaik."

"Dan kalau ada yang lebih baik lagi? Beli lagi!"

"Jadi, kalau ada orang yang lebih baik, boleh ganti?" Natasha tertawa pelan, mengucapkan kebenaran yang paling menyedihkan sebagai sebuah candaan.

Abian bergidik dan mencengkeram tangan istrinya.

"Ngomong apa kamu ini? Kamu satu-satunya yang aku cintai. Kamu yang terbaik, Sasha. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu."

Suaranya terdengar memelas, sama sekali tidak peduli ada orang lain di sana. Dia bersandar di bahu Natasha, tampak sangat sedih.

"Kamu tahu betapa aku mencintaimu. Kalau kamu pergi, hidupku nggak berarti lagi."

"Sasha, kamu tanya seratus kali pun, jawabanku tetap sama. Aku mencintaimu. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu."

Natasha mendongak, berusaha menahan air matanya. Kata-kata kosong itu mengalir dengan begitu mudah, dan sesaat itu dia bertanya-tanya apakah Abian terlahir dengan bakat akting yang sangat sempurna.

Berapa banyak wanita yang pernah mendengar kata-kata manis seperti itu darinya?

Pikiran itu membuat Natasha merasa mual.

"Oh ya, ada dokumen yang perlu tanda tanganmu, soal rumah yang mau diberikan ke Chika." Natasha mengeluarkan perjanjian cerai yang telah disiapkan oleh pengacaranya, menyerahkan hanya halaman terakhir saja.

Abian sangat percaya padanya, jadi wajar saja dia tidak memeriksa isinya.

Pria itu langsung tanda tangan.

Natasha menatap tanda tangan itu, hatinya sakit bercampur rasa lega.

"Pak Abian, pesananmu sudah datang." Suara seorang wanita tiba-tiba terdengar dari belakang mereka. Wanita itu berpakaian jas hitam, rok pensil, dan stoking hitam.

"Selamat siang, Nyonya."

Natasha membeku mendengar suara itu, karena suaranya persis sama dengan yang didengarnya kemarin. Jadi, wanita kemarin adalah sekretaris Abian, Giska.

Meskipun dia jarang berinteraksi dengan Giska, dia merasa cukup percaya padanya.

Karena dia mendengar dari orang lain bahwa keadaan keluarga Giska sulit, dan dia bekerja sangat keras untuk mencapai posisinya saat ini.

Dia pernah bertemu Giska dua kali sebelumnya. Pertama kali di ruang istirahat kantor, ketika Giska menangis dan dia memberinya tisu.

Giska, yang tampaknya sudah putus asa, menceritakan masalah keluarganya kepadanya. Natasha mentransfer sejumlah uang untuk membantunya menyelesaikan masalah tersebut.

Kemudian, Giska meminta bertemu dengannya lagi, mengucapkan terima kasih yang mendalam dan berjanji akan mengembalikan uangnya segera. Tapi, dia menolak. Semua orang pasti pernah menghadapi masa-masa sulit. Dia sendiri pernah mengharapkan bantuan orang lain.

Tapi, apa kenyataannya?

Orang yang dia bantu justru menjadi selingkuhan suaminya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 25

    Natasha membalas senyumnya, matanya pun berkerut.Dibandingkan dengan orang yang bertele-tele, dia lebih suka ketegasan seperti ini."Ya sudah, kalau begitu, mari kita jadi rekan kerja yang baik.""Tapi, aku memang mengagumimu. Kalau ada kesempatan, tolong berikan aku kesempatan itu."Dion berbicara dengan sangat terus terang.Natasha membalas candaan itu. "Kalau ada kesempatan."Setelah makan bersama, Dion mengantar Natasha pulang.Beberapa waktu berikutnya, Natasha belum bisa pergi ke laboratorium.Memang merepotkan, karena dia juga harus mengurus anak. Tidak mungkin dia meninggalkan Chika sendirian di rumah.Dion menyarankan padanya agar mencari pengasuh, dan Natasha juga mempertimbangkannya.Tapi setelah bertemu beberapa calon, tidak ada yang memenuhi standarnya.Belum ada penyelesaian.Kebetulan, Abian tiba-tiba datang.Natasha awalnya sedikit khawatir, tapi Abian menepati janji dan jarang mengganggunya.Abian datang ke sini untuk membahas kerja sama. Kebetulan, dia bisa sekalian

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 24

    Kali ini, Abian benar-benar tidak melakukan tipuan apa-apa.Setelah menyelesaikan proses perceraian, Natasha bebas pergi.Memegang akta cerai, dia bersiap untuk memanggil taksi."Ayo kuantar. Walaupun kita sudah bercerai, kita sudah bersama sekian lama. Nggak mungkin langsung tiba-tiba jadi orang asing, 'kan?""Aku tahu kamu mau pergi besok. Di sana ... jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa makan waktu sibuk kerja."Abian menasihatinya dengan lembut.Natasha mendengarkan dengan penuh perhatian. Perasaan campur aduk perlahan menyebar di hatinya.Dia benar-benar mencintai Abian. Cinta mereka nyata.Tapi, kesalahan ini benar-benar tidak bisa dia maafkan."Kalau kamu nggak bisa ngurus Chika di sana, beri tahu aku. Aku pasti akan datang menjaganya.""Sasha, ini bukan berarti aku melepaskanmu. Dan bukan berarti aku nggak mencintaimu. Aku cuma nggak mau kamu membenciku."Natasha bersandar pada jendela mobil, menatap kendaraan yang berlalu-lalang. Lampu jalan menerangi wajahnya yang dihiasi setet

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 23

    "Giska, kalau kamu wanita lain, mungkin aku nggak akan membencimu."Natasha menatapnya dengan tenang, masih tanpa sedikit pun rasa simpati."Tapi karena itu kamu, aku pernah membantumu, dan kamu bilang aku memberimu harapan untuk terus berjuang.""Kamu memanfaatkan kebaikanku untuk menyakitiku. Aku menerima permintaan maafmu, tapi aku nggak akan memaafkanmu."Giska bersandar di kepala tempat tidur, memaksakan senyuman pahit. "Aku tahu kamu nggak akan memaafkanku.""Aku cuma ... ya sudahlah, tolong terima ini."Dia mengambil kartu dari bawah bantalnya dan memberikannya kepada Natasha."Utangku padamu dulu. Sudah kutambah bunga juga. Jangan ditolak. Ini bukan uang dari Abian. Ini uang yang aku dapatkan sendiri.""Kamu dulu menolongku, tapi aku malah nggak tahu terima kasih. Aku memang nggak pantas mendapatkan kebaikanmu. Mungkin dengan mengembalikan semuanya padamu, beban di hatiku bisa berkurang."Natasha menerima kartu itu. "Kamu tahu aku akan datang?"Giska menggeleng pelan. "Aku cuma

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 22

    Natasha menutup telepon.Dia tidak ingin bermain-main dengan Abian lagi. Waktunya terlalu berharga untuk itu.Setelah ditipu berulang kali, siapa pun akan merasa tidak tahan.Natasha merasa dirinya sudah sangat sabar.Jadwal pesawat tercepat baru besok pagi.Natasha tidak ingin bertemu Abian, apalagi terlibat dengannya lagi, jadi dia memesan kamar hotel.Dia membawa barang-barangnya langsung ke hotel.Keluarga Yanuar memiliki banyak properti. Dia butuh waktu cukup lama untuk mencari satu hotel yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka.Proses check-in berjalan lancar. Satu-satunya kekurangan adalah Chika mengalami demam ringan.Perjalanan bolak-balik yang terus-menerus jelas telah menguras tenaga kecilnya.Natasha merasa sangat bersalah dan membawa anaknya ke rumah sakit terlebih dahulu.Chika masih muda, dan Natasha menyadarinya tepat waktu, jadi yang perlu dia lakukan hanyalah minum obat dan air yang cukup.Natasha duduk menggendong Chika di kursi koridor. Sesosok wanita t

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 21

    Abian keluar langsung dari kantor untuk menemui Natasha.Natasha baru saja selesai makan.Saat membuka pintu dan bergegas masuk, Abian mengambil tangan Natasha dan memeriksanya dengan saksama."Mama nggak menyentuhmu, 'kan?"Natasha menarik tangannya dan berbalik menuju sofa. "Nggak.""Sasha, aku minta maaf. Aku sudah bicara dengannya. Dia nggak akan mengganggumu lagi.""Abian, kamu pasti tahu kenapa dia datang mencariku. Kalau kamu benar-benar peduli padaku, cepat selesaikan perceraiannya."Dalam sekejap.Apartemen menjadi sunyi.Abian menatap Natasha dengan mata merah. Dia sudah tidak asing lagi dengan sikap dinginnya.Tapi sudah lebih dari sebulan. Natasha tidak menunjukkan sedikit pun perasaan padanya.Seolah-olah segala sesuatu yang pernah ada di antara mereka di masa lalu benar-benar lenyap tanpa jejak."Cukup sudah. Bukannya semuanya sudah jelas? Apa lagi yang masih perlu dijelaskan?""Kamu sendiri yang bilang, kita bisa meresmikan proses cerai setelah aku pulang. Aku tahu sekar

  • Mustahil untuk Kembali Bersatu   Bab 20

    Natasha sudah mengerti.Dia bersandar ke dinding, merasa ingin tertawa.Meskipun dia tidak melakukan apa-apa, semua orang tetap menyalahkannya.Pernikahan ini memang sangat tragis."Makanya, kamu hubungi saja Abian.""Anakku nggak mau menemuiku lagi! Semua ini karena kamu! Kamu harusnya merasa bersalah!"Ratna awalnya bermaksud meminta maaf, tapi dia merasa tidak senang melihat Natasha tinggal di apartemen putranya dengan nyaman.Suaranya semakin tajam."Pahami baik- baik. Yang membekukan kartu dan uangmu itu Abian, bukan aku."Natasha menatap wajahnya, tatapannya berubah semakin dingin. "Jangan salahkan semuanya padaku. Aku nggak pernah melakukan kesalahan apa pun kepada Keluarga Yanuar.""Sedangkan anakmu, jelas-jelas selingkuh. Kenapa nggak kamu pikir pakai logika?"Mendengar itu, Ratna merasa sedikit bersalah.Tapi dia tidak boleh kehilangan wibawanya. Dia adalah nyonya Keluarga Yanuar."Laki-laki mana yang nggak suka bersenang-senang? Pernikahan itu tentang kompromi satu sama lain

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status