FAZER LOGINZayn akhirnya tiba di mobil hitamnya. Bass membuka pintu belakang, namun Sarah tiba-tiba terhuyung, lututnya nyaris menyerah. Zayn refleks meraih tubuhnya sebelum ia jatuh.
“Hey, hey… jangan paksakan diri,” kata Zayn, menahan tubuh Sarah agar tetap tegak.
Sarah menatap Zayn dengan mata setengah terbuka, suaranya pecah.
“Aku takut…”
Untuk pertama kalinya, ekspresi Zayn berubah. Keras dan dingin itu luntur, berganti sesuatu yang lebih dalam. Lebih… protektif.
“Aku akan mencari tahu siapa yang melakukan ini.”
Suaranya rendah, penuh janji yang bahkan Sarah tak yakin mengerti.
“Sekarang… masuk ke dalam mobil. Aku akan membawamu ke tempat yang aman. Tempat di mana tidak ada yang bisa menyentuhmu.”
Bass menatap Zayn heran. “Bos… kita tidak bisa bawa dia ke safehouse. Itu area paling sensitif.”
“Justru karena itu,” potong Zayn tajam. “Tidak ada yang akan menduga aku membawa seorang wanita asing ke sana. Dan dia tidak bisa tetap di luar. Lihat kondisinya.”
Bass terdiam. Karena Zayn benar.
Sarah akhirnya masuk ke dalam mobil, dibantu Zayn. Tubuhnya lemah, tapi dalam benaknya, satu hal berdetak kuat.
Siapa sebenarnya pria ini? Kenapa dia begitu… melindungi?
Saat mobil melaju pergi, jauh dari club yang masih riuh dan penuh tipu daya, Sarah memandang Zayn dari kejauhan. Kesadarannya mulai memudar, tapi satu kalimat Zayn terngiang di kepalanya.
“Aku akan mencari tahu siapa yang melakukan ini padamu.”
Dan malam itu, tanpa mereka sadari.
Seseorang sedang mengikuti mobil mereka.
***
Mobil melaju cepat menembus hujan malam. Wiper bekerja keras, sementara lampu kota memantul di kaca jendela bak garis-garis cahaya yang berlari.
Di kursi belakang, Sarah bersandar lemah. Napasnya tersengal, kulitnya memerah, dan matanya terpejam setengah. Tubuhnya terasa begitu panas, seperti terbakar dari dalam, tapi pikirannya justru semakin kabur.
Zayn duduk di sampingnya, tubuh besar itu sedikit condong, memperhatikan setiap perubahan kecil pada raut wajah Sarah.
“Tolong…” suara Sarah lirih, hampir tak terdengar. “Aku… benar-benar tidak bisa bergerak…”
“Aku tahu,” jawab Zayn tenang, tapi rahangnya mengeras. “Kau tidak perlu memaksakan diri.”
Di kursi depan, Bass melirik dari kaca spion. Pria itu berwajah kaku, tak banyak bicara, namun jelas tegang.
“Bos,” ucap Bass pelan namun tegas, “kita sedang diikuti.”
Zayn mengangkat kepala. “Berapa jauh?”
“Dua mobil di belakang. Sedan hitam. Sejak kita keluar club.”
Zayn mendecak pelan. “Tentu saja… mereka mengejar wanita ini.”
Bass memutar setir sedikit, mengubah jalur. “Mau ku hilangkan mereka?”
Zayn melihat Sarah yang kini memeluk dirinya sendiri, gemetar. Gadis itu rapuh, bukan karena kelemahan, tapi karena sesuatu yang sengaja dibuat untuk menjatuhkannya.
“Tidak,” jawab Zayn akhirnya. “Jangan membuat keributan. Bawa kita ke rute aman.”
Bass mengangguk singkat. Seperti mesin, ia mengubah jalur, menembus jalan alternatif yang lebih gelap namun lebih aman. Penguntit di belakang mereka tampak ragu sejenak, lalu mengikuti.
Zayn bersandar sedikit mendekati Sarah. “Hey… dengar aku.”
Sarah membuka mata perlahan. Pandangannya buram, tapi ia bisa menangkap wajah Zayn tegas, namun anehnya terasa seperti satu-satunya hal yang stabil malam itu.
“Kau akan aman,” bisik Zayn. “Selama aku ada di sini.”
Sarah menelan ludah sulit. “Kenapa… kamu membantuku…? Kita bahkan tidak saling kenal.”
Zayn menatapnya beberapa detik, diam seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak boleh ia ucapkan.
“Karena aku tidak meninggalkan orang yang sedang dimangsa,” jawabnya singkat.
Nada suaranya dingin… tapi ada sesuatu yang lain di baliknya. Sesuatu yang membuat dadaa Sarah terasa lebih sesak daripada panas obat yang mengalir dalam tubuhnya.
Beberapa menit berlalu. Mobil memasuki area yang lebih sepi, jalanan licin, lampu kota mulai jarang.
Bass membuka suara lagi.
“Bos, penguntitnya masih ikut. Tapi jaraknya stabil. Mereka tidak mencoba mendekat.”
Zayn menyipitkan mata. “Artinya mereka sedang merekam. Atau mengawasi.”
Bass mengepal setir. “Mau ku putar ke lorong sempit? Biar mereka tidak bisa ikut?”
Zayn menggeleng. “Tidak. Kita tidak boleh terjebak.”
Dia menatap Sarah sekali lagi gadis yang kini semakin pucat, bibirnya bergetar.
“Bass,” kata Zayn akhirnya, suaranya berubah tajam. “Percepat. Kita langsung ke fasilitas.”
Bass menekan pedal gas. “Baik.”
Sarah menatap Zayn dengan sisa tenaga yang ia punya. “Fa… fasilitas…?”
“Kau butuh pertolongan,” jawab Zayn. “Dan tempat itu… adalah tempat teraman yang ku punya.”
“Teraman…” Sarah mengulang, suara lemah. “Atau… paling jauh dari semua orang?”
Zayn menatapnya lama.
Terlalu lama untuk seorang pria yang katanya baru bertemu.
“Kadang,” ucap Zayn pelan, “dua hal itu sama.”
Dan di belakang mereka… mobil sedan hitam yang mengikuti sejak club tetap berada di jalur. Diam. Tak menyalip. Tak menghilang.
Menunggu.
Seperti seseorang yang ingin memastikan Sarah Valente tidak pernah lolos dari permainan yang telah dimulai malam ini.
Bass mempercepat mobil, mesin meraung rendah menembus derasnya hujan. Jalanan makin sempit, dikelilingi gedung tua dan bayangan yang bergerak cepat di kaca jendela.
Sarah mulai kehilangan kemampuan membedakan suara deru hujan, napasnya sendiri, atau degup jantung Zayn yang entah mengapa terasa begitu dekat. Semuanya bercampur.
“Tolong…” gumam Sarah, kepala terkulai ke samping. “Tubuhku… rasanya aneh…”
Zayn memegang pergelangan tangannya. Keningnya berkerut tajam. Nadi Sarah berlari kacau cepat, lalu melambat, lalu melonjak lagi tanpa pola.
“Reaksi obatnya terlalu cepat,” desis Zayn. “Ini bukan dosis standar. Ini racikan target.”
“Target…?” Sarah mencoba fokus, tetapi dunia terasa seperti dipotong-potong.
Zayn tidak menjawab. Ia memandang ke depan. “Bass, berapa menit lagi?”
“Tiga,” jawab Bass. “Jika tidak ada kejutan lain.”
Seolah mendengar, sedan hitam di belakang tiba-tiba berubah formasi. Lampu depannya mendekat. Dalam hitungan detik, suara mesin mereka meninggi, menggeram seperti binatang yang akhirnya memutuskan menerkam.
Bass memaki pelan. “Sial. Mereka mempercepat.”
“Biarkan,” kata Zayn. “Jangan panik.”
“Bos, mereka membuka jendela!” seru Bass, menahan setir saat cahaya lampu belakang memantul menakutkan.
Zayn menoleh ke belakang. Sekilas, ia melihat moncong senjata keluar dari kaca jendela sedan hitam itu.
Sekejap, Zayn meraih tubuh Sarah, melindunginya dengan tubuhnya sendiri. “Turunkan kepalamu!” teriaknya pada Bass.
TENG!
Kaca belakang pecah sebagian, namun peluru meleset, hanya menembus sudut rangka besi. Bass menekan gas lebih dalam hingga perut mereka serasa ditarik ke belakang.
“Bos, kita tidak bisa menahan tembakan mereka di ruang terbuka seperti ini!” Bass berseru.
Zayn melepaskan Sarah perlahan, memastikan kepalanya tersandar aman. Wajahnya pucat, napasnya memburu seperti sedang tenggelam. Lalu ia mencondongkan tubuh ke depan.
“Belok kanan. Sekarang.”
“Bos, itu terowongan konstruksi! Buntu!”
“Tidak,” balas Zayn dengan ketenangan mengerikan. “Itu pintu masuk.”
Bass tidak bertanya lagi. Ia membelokkan mobil tajam, ban menggesek aspal basah. Sedan hitam mengikuti, hampir menabrak pembatas jalan.
Mereka memasuki terowongan tanpa lampu. Gelap. Lembap. Hanya suara hujan dari belakang.
Saat sedan hitam baru memasuki mulut terowongan, Zayn menekan tombol kecil di bawah dashboard. Lampu indikator merah menyala.
Kemudian, KRANG!
Pintu baja tebal turun dari atas, menutup terowongan hanya beberapa meter di belakang mereka. Sedan hitam mengerem keras dan berhenti mendadak, terjebak dari sisi luar.
Bass menghela napas lega. “Mereka tak bisa masuk.”
“Belum,” koreksi Zayn. “Tapi itu memberi kita waktu.”
Mobil terus melaju menuruni jalan rahasia yang gelap, hanya diterangi lampu interior redup. Temboknya beton tua, penuh kabel dan pipa.
Sarah membuka mata setengah, suaranya pecah. “Kamu… siapa sebenarnya…?”
Zayn menatapnya, kali ini tidak mencoba menyembunyikan sesuatu apa pun.
"Tidak semua jati diri harus diungkapkan!"
Sarah membeku. “Kenapa…?”
Zayn menyentuh pipinya yang panas, gerakannya lembut tapi tegang. “Karena setelah melihat apa yang mereka lakukan padamu…”
Matanya menggelap, penuh murka yang tak ia sembunyikan lagi.
“…aku tidak lagi yakin kau hanyalah wanita biasa.”
Bass menuruni tikungan terakhir. Di ujung jalan bawah tanah itu, sebuah fasilitas besar dengan pintu baja ganda mulai terlihat dingin, terang, dan tampak seperti tempat rahasia yang seharusnya tidak ada di kota mana pun.
“Selamat datang,” Zayn berbisik.
“Di tempat yang aman.”
Setelah mandi dan sarapan, Sarah merasa sedikit lebih segar. Ponselnya kini berada di genggamannya, dan rasa cemasnya perlahan kembali muncul. Ia ingin segera pergi dari tempat asing ini.Pria itu berdiri di dekat pintu utama, menatapnya lama.“Kau bisa pergi sekarang,” katanya tenang, suara rendah tapi mantap. “Jangan membuat kesalahan di jalan. Supirku akan mengantarmu."Sarah menelan ludah, hampir tidak percaya.“Kau… benar-benar membiarkanku pulang?” tanyanya, setengah lega tapi masih waspada.Pria itu hanya mengangguk singkat, tidak menambahkan apa pun. Mata gelapnya tetap menatapnya seakan menekankan satu hal, jangan sekali-kali meremehkan bahaya di luar sana.Sarah segera meraih tasnya dan melangkah keluar. Jantungnya masih berdebar, tetapi perasaan lega mulai muncul. Segera ia akan bebas dari mansion misterius ini.Begitu pintu tertutup di belakang Sarah, Bass menatap Zayn dengan mata penuh heran.“Bos… kau benar-benar membiarkan dia pergi begitu saja? Setelah semalam… setelah
Cahaya pagi menyentuh wajah Sarah, membuatnya terbangun perlahan. Kepala Sarah terasa berat, seperti baru bangun dari mimpi yang tidak jelas. Ia mengedip, mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi semalam namun semuanya kabur.Yang ia ingat hanya suara laki-laki… hangat, tenang… seolah menuntunnya keluar dari kegelapan. Wajahnya samar, hampir tidak bisa ia rekam.Begitu sadar sepenuhnya, Sarah tersentak.Ranjang tempat ia tidur bukan miliknya. Ruangan ini… bukan tempat yang ia kenal. Saat dia membuka selimut tidak ada sehelai benangpun yang ia kenakan.“Astaga! Apa... apa yang sudah ku lakukan semalam? Di mana aku…?” bisiknya, panik mulai naik ke dadaa.Ia bangun dengan cepat, hampir tergelincir karena tubuhnya masih lemah. Pandangannya menyapu ruangan mewah itu tirai tebal, perabotan gelap, suasana yang terlalu megah untuk rumah siapa pun yang ia kenal.Dan yang paling membuat napasnya tercekat,Tidak ada seorang pun di sampingnya.Tidak ada pria yang ia dengar semalam.“Siapa di
Bass menurunkan mobil di depan pintu baja ganda fasilitas. Lampu redup memantul di kaca mobil basah hujan.Zayn menahan pinggang Sarah agar ia tidak jatuh ketika keluar dari mobil. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya tersengal, dan pandangannya kabur.“Ayo… duduk dulu,” suara Zayn tegas tapi lembut. Sarah menatapnya sebentar, mencoba mengenali wajahnya, tapi hatinya masih penuh kebingungan.Tubuhnya masih terasa panas dan bergetar. “Kalian… siapa? Kenapa… menolongku?” Suaranya pecah dan lemah.Zayn menunduk, matanya serius. “Tenang… tidak ada yang akan menyakitimu di sini. Duduk dulu dan tarik napas pelan.”Bass menutup pintu mobil dan menyandarkannya ke tembok, menatap Zayn. “Setidaknya kita aman di sini. Tidak ada yang bisa masuk.”Sarah menatap keduanya, panik tapi bingung. “Kalian… siapa? Aku harus tahu…”Zayn menatapnya sebentar, wajahnya tetap serius, tanpa ekspresi lebih. “Nama… bukan hal yang penting sekarang. Yang penting kau tetap hidup.”Sarah menelan ludah, tubuhnya lemah. “T
Zayn akhirnya tiba di mobil hitamnya. Bass membuka pintu belakang, namun Sarah tiba-tiba terhuyung, lututnya nyaris menyerah. Zayn refleks meraih tubuhnya sebelum ia jatuh.“Hey, hey… jangan paksakan diri,” kata Zayn, menahan tubuh Sarah agar tetap tegak.Sarah menatap Zayn dengan mata setengah terbuka, suaranya pecah.“Aku takut…”Untuk pertama kalinya, ekspresi Zayn berubah. Keras dan dingin itu luntur, berganti sesuatu yang lebih dalam. Lebih… protektif.“Aku akan mencari tahu siapa yang melakukan ini.”Suaranya rendah, penuh janji yang bahkan Sarah tak yakin mengerti.“Sekarang… masuk ke dalam mobil. Aku akan membawamu ke tempat yang aman. Tempat di mana tidak ada yang bisa menyentuhmu.”Bass menatap Zayn heran. “Bos… kita tidak bisa bawa dia ke safehouse. Itu area paling sensitif.”“Justru karena itu,” potong Zayn tajam. “Tidak ada yang akan menduga aku membawa seorang wanita asing ke sana. Dan dia tidak bisa tetap di luar. Lihat kondisinya.”Bass terdiam. Karena Zayn benar.Sara
Lampu neon club memantul di lantai kaca, musik berdentum sampai rasanya menembus tulang. Sarah Valente berdiri di dekat bar, memegangi gelasnya sambil tersenyum tipis. Malam ini seharusnya pesta biasa, tapi firasat buruk menghantui. Bianca Moretti selalu punya rencana.Di sudut lain, Bianca menatap Sarah dengan senyum tipis, matanya berkilat licik. Di tangannya, minuman Sarah diam-diam telah dicampur dengan obat perangsang satu langkah kecil, tapi cukup untuk membuat malam ini berubah total.“Ini baru permulaan,” gumam Bianca pelan, menahan tawa. “Sarah akan hancur… dan Victor… Victor akan menjadi milikku.”Beberapa menit kemudian, Sarah menyesap minuman itu. Kepalanya terasa berat, pandangannya kabur, dan kakinya tak lagi menahan tubuhnya. Panik merayap saat ia menyadari tubuhnya mulai goyah.“Tunggu! Pegang aku, jangan jatuh!” suara tegas terdengar di sampingnya.Sarah menoleh setengah sadar. Di depannya berdiri Zayn Velasco, tinggi, tegap, dan sepenuhnya asing. Tubuhnya masih lemah







