Home / Mafia / Musuhku Canduku / Bab 2 - Ditolong Pria Asing

Share

Bab 2 - Ditolong Pria Asing

Author: Nona Xiao
last update Last Updated: 2026-01-12 11:44:43

Zayn akhirnya tiba di mobil hitamnya. Bass membuka pintu belakang, namun Sarah tiba-tiba terhuyung, lututnya nyaris menyerah. Zayn refleks meraih tubuhnya sebelum ia jatuh.

“Hey, hey… jangan paksakan diri,” kata Zayn, menahan tubuh Sarah agar tetap tegak.

Sarah menatap Zayn dengan mata setengah terbuka, suaranya pecah.

“Aku takut…”

Untuk pertama kalinya, ekspresi Zayn berubah. Keras dan dingin itu luntur, berganti sesuatu yang lebih dalam. Lebih… protektif.

“Aku akan mencari tahu siapa yang melakukan ini.”

Suaranya rendah, penuh janji yang bahkan Sarah tak yakin mengerti.

“Sekarang… masuk ke dalam mobil. Aku akan membawamu ke tempat yang aman. Tempat di mana tidak ada yang bisa menyentuhmu.”

Bass menatap Zayn heran. “Bos… kita tidak bisa bawa dia ke safehouse. Itu area paling sensitif.”

“Justru karena itu,” potong Zayn tajam. “Tidak ada yang akan menduga aku membawa seorang wanita asing ke sana. Dan dia tidak bisa tetap di luar. Lihat kondisinya.”

Bass terdiam. Karena Zayn benar.

Sarah akhirnya masuk ke dalam mobil, dibantu Zayn. Tubuhnya lemah, tapi dalam benaknya, satu hal berdetak kuat.

Siapa sebenarnya pria ini? Kenapa dia begitu… melindungi?

Saat mobil melaju pergi, jauh dari club yang masih riuh dan penuh tipu daya, Sarah memandang Zayn dari kejauhan. Kesadarannya mulai memudar, tapi satu kalimat Zayn terngiang di kepalanya.

“Aku akan mencari tahu siapa yang melakukan ini padamu.”

Dan malam itu, tanpa mereka sadari.

Seseorang sedang mengikuti mobil mereka.

***

Mobil melaju cepat menembus hujan malam. Wiper bekerja keras, sementara lampu kota memantul di kaca jendela bak garis-garis cahaya yang berlari.

Di kursi belakang, Sarah bersandar lemah. Napasnya tersengal, kulitnya memerah, dan matanya terpejam setengah. Tubuhnya terasa begitu panas, seperti terbakar dari dalam, tapi pikirannya justru semakin kabur.

Zayn duduk di sampingnya, tubuh besar itu sedikit condong, memperhatikan setiap perubahan kecil pada raut wajah Sarah.

“Tolong…” suara Sarah lirih, hampir tak terdengar. “Aku… benar-benar tidak bisa bergerak…”

“Aku tahu,” jawab Zayn tenang, tapi rahangnya mengeras. “Kau tidak perlu memaksakan diri.”

Di kursi depan, Bass melirik dari kaca spion. Pria itu berwajah kaku, tak banyak bicara, namun jelas tegang.

“Bos,” ucap Bass pelan namun tegas, “kita sedang diikuti.”

Zayn mengangkat kepala. “Berapa jauh?”

“Dua mobil di belakang. Sedan hitam. Sejak kita keluar club.”

Zayn mendecak pelan. “Tentu saja… mereka mengejar wanita ini.”

Bass memutar setir sedikit, mengubah jalur. “Mau ku hilangkan mereka?”

Zayn melihat Sarah yang kini memeluk dirinya sendiri, gemetar. Gadis itu rapuh, bukan karena kelemahan, tapi karena sesuatu yang sengaja dibuat untuk menjatuhkannya.

“Tidak,” jawab Zayn akhirnya. “Jangan membuat keributan. Bawa kita ke rute aman.”

Bass mengangguk singkat. Seperti mesin, ia mengubah jalur, menembus jalan alternatif yang lebih gelap namun lebih aman. Penguntit di belakang mereka tampak ragu sejenak, lalu mengikuti.

Zayn bersandar sedikit mendekati Sarah. “Hey… dengar aku.”

Sarah membuka mata perlahan. Pandangannya buram, tapi ia bisa menangkap wajah Zayn tegas, namun anehnya terasa seperti satu-satunya hal yang stabil malam itu.

“Kau akan aman,” bisik Zayn. “Selama aku ada di sini.”

Sarah menelan ludah sulit. “Kenapa… kamu membantuku…? Kita bahkan tidak saling kenal.”

Zayn menatapnya beberapa detik, diam seolah sedang menimbang sesuatu yang tidak boleh ia ucapkan.

“Karena aku tidak meninggalkan orang yang sedang dimangsa,” jawabnya singkat.

Nada suaranya dingin… tapi ada sesuatu yang lain di baliknya. Sesuatu yang membuat dadaa Sarah terasa lebih sesak daripada panas obat yang mengalir dalam tubuhnya.

Beberapa menit berlalu. Mobil memasuki area yang lebih sepi, jalanan licin, lampu kota mulai jarang.

Bass membuka suara lagi.

“Bos, penguntitnya masih ikut. Tapi jaraknya stabil. Mereka tidak mencoba mendekat.”

Zayn menyipitkan mata. “Artinya mereka sedang merekam. Atau mengawasi.”

Bass mengepal setir. “Mau ku putar ke lorong sempit? Biar mereka tidak bisa ikut?”

Zayn menggeleng. “Tidak. Kita tidak boleh terjebak.”

Dia menatap Sarah sekali lagi gadis yang kini semakin pucat, bibirnya bergetar.

“Bass,” kata Zayn akhirnya, suaranya berubah tajam. “Percepat. Kita langsung ke fasilitas.”

Bass menekan pedal gas. “Baik.”

Sarah menatap Zayn dengan sisa tenaga yang ia punya. “Fa… fasilitas…?”

“Kau butuh pertolongan,” jawab Zayn. “Dan tempat itu… adalah tempat teraman yang ku punya.”

“Teraman…” Sarah mengulang, suara lemah. “Atau… paling jauh dari semua orang?”

Zayn menatapnya lama.

Terlalu lama untuk seorang pria yang katanya baru bertemu.

“Kadang,” ucap Zayn pelan, “dua hal itu sama.”

Dan di belakang mereka… mobil sedan hitam yang mengikuti sejak club tetap berada di jalur. Diam. Tak menyalip. Tak menghilang.

Menunggu.

Seperti seseorang yang ingin memastikan Sarah Valente tidak pernah lolos dari permainan yang telah dimulai malam ini.

Bass mempercepat mobil, mesin meraung rendah menembus derasnya hujan. Jalanan makin sempit, dikelilingi gedung tua dan bayangan yang bergerak cepat di kaca jendela.

Sarah mulai kehilangan kemampuan membedakan suara deru hujan, napasnya sendiri, atau degup jantung Zayn yang entah mengapa terasa begitu dekat. Semuanya bercampur.

“Tolong…” gumam Sarah, kepala terkulai ke samping. “Tubuhku… rasanya aneh…”

Zayn memegang pergelangan tangannya. Keningnya berkerut tajam. Nadi Sarah berlari kacau cepat, lalu melambat, lalu melonjak lagi tanpa pola.

“Reaksi obatnya terlalu cepat,” desis Zayn. “Ini bukan dosis standar. Ini racikan target.”

“Target…?” Sarah mencoba fokus, tetapi dunia terasa seperti dipotong-potong.

Zayn tidak menjawab. Ia memandang ke depan. “Bass, berapa menit lagi?”

“Tiga,” jawab Bass. “Jika tidak ada kejutan lain.”

Seolah mendengar, sedan hitam di belakang tiba-tiba berubah formasi. Lampu depannya mendekat. Dalam hitungan detik, suara mesin mereka meninggi, menggeram seperti binatang yang akhirnya memutuskan menerkam.

Bass memaki pelan. “Sial. Mereka mempercepat.”

“Biarkan,” kata Zayn. “Jangan panik.”

“Bos, mereka membuka jendela!” seru Bass, menahan setir saat cahaya lampu belakang memantul menakutkan.

Zayn menoleh ke belakang. Sekilas, ia melihat moncong senjata keluar dari kaca jendela sedan hitam itu.

Sekejap, Zayn meraih tubuh Sarah, melindunginya dengan tubuhnya sendiri. “Turunkan kepalamu!” teriaknya pada Bass.

TENG!

Kaca belakang pecah sebagian, namun peluru meleset, hanya menembus sudut rangka besi. Bass menekan gas lebih dalam hingga perut mereka serasa ditarik ke belakang.

“Bos, kita tidak bisa menahan tembakan mereka di ruang terbuka seperti ini!” Bass berseru.

Zayn melepaskan Sarah perlahan, memastikan kepalanya tersandar aman. Wajahnya pucat, napasnya memburu seperti sedang tenggelam. Lalu ia mencondongkan tubuh ke depan.

“Belok kanan. Sekarang.”

“Bos, itu terowongan konstruksi! Buntu!”

“Tidak,” balas Zayn dengan ketenangan mengerikan. “Itu pintu masuk.”

Bass tidak bertanya lagi. Ia membelokkan mobil tajam, ban menggesek aspal basah. Sedan hitam mengikuti, hampir menabrak pembatas jalan.

Mereka memasuki terowongan tanpa lampu. Gelap. Lembap. Hanya suara hujan dari belakang.

Saat sedan hitam baru memasuki mulut terowongan, Zayn menekan tombol kecil di bawah dashboard. Lampu indikator merah menyala.

Kemudian, KRANG!

Pintu baja tebal turun dari atas, menutup terowongan hanya beberapa meter di belakang mereka. Sedan hitam mengerem keras dan berhenti mendadak, terjebak dari sisi luar.

Bass menghela napas lega. “Mereka tak bisa masuk.”

“Belum,” koreksi Zayn. “Tapi itu memberi kita waktu.”

Mobil terus melaju menuruni jalan rahasia yang gelap, hanya diterangi lampu interior redup. Temboknya beton tua, penuh kabel dan pipa.

Sarah membuka mata setengah, suaranya pecah. “Kamu… siapa sebenarnya…?”

Zayn menatapnya, kali ini tidak mencoba menyembunyikan sesuatu apa pun.

"Tidak semua jati diri harus diungkapkan!"

Sarah membeku. “Kenapa…?”

Zayn menyentuh pipinya yang panas, gerakannya lembut tapi tegang. “Karena setelah melihat apa yang mereka lakukan padamu…”

Matanya menggelap, penuh murka yang tak ia sembunyikan lagi.

“…aku tidak lagi yakin kau hanyalah wanita biasa.”

Bass menuruni tikungan terakhir. Di ujung jalan bawah tanah itu, sebuah fasilitas besar dengan pintu baja ganda mulai terlihat dingin, terang, dan tampak seperti tempat rahasia yang seharusnya tidak ada di kota mana pun.

“Selamat datang,” Zayn berbisik.

“Di tempat yang aman.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Musuhku Canduku    Bab 56 - Bangun Pagi

    Zayn melepaskan pelukan sesaat, cukup untuk menatap mata Sarah dengan serius. Ada kesan lembut di sana, sesuatu yang tidak sempat muncul semalam karena gelombang hasrat yang terlalu liar.“Sarah,” suaranya rendah, namun bukan lagi hanya bisikan menggoda. “Aku… ingin kau tahu sesuatu.”Sarah menatapnya, lelah tapi penasaran. “Apa?”Zayn menghela napas, memiringkan kepala, membiarkan cahaya pagi menyorot wajahnya yang tegas, tapi kini lebih terbuka, lebih manusiawi. “Aku tidak hanya ingin malam seperti ini. Aku… ingin pagi, siang, bahkan hari-hari biasa bersamamu. Bukan hanya saat kita… terseret badai.”Detik itu, hati Sarah berdebar berbeda. Gelombang yang meninju tubuhnya semalam terasa masih segar, tapi kata-kata Zayn menyentuh sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh sentuhan atau ciuman.“Apa kau serius?” tanyanya, suaranya sedikit serak.Zayn mengangguk, tanpa tersenyum kali ini. Matanya tetap menatap, menembus hingga ke tempat Sarah biasanya menyembunyikan k

  • Musuhku Canduku    Bab 55 - Kelelahan

    Malam itu tidak lagi mengenal jam.Hanya napas.Hanya kulit yang menemukan kulit.Hanya dua detak yang saling mengejar sampai tak jelas mana yang lebih dulu berlari.Zayn mencium Sarah seolah waktu adalah sesuatu yang bisa ia tekuk sesuka hati. Tidak terburu, tidak ragu. Setiap sentuhan adalah kalimat panjang yang ia tulis perlahan di tubuh perempuan itu di bahunya, di punggungnya, di lekuk-lekuk yang dulu ia hafal dan kini ia temukan kembali seperti rahasia lama yang dibuka ulang.Sarah tidak lagi menahan.Ia menjawab.Dengan tangan yang mencengkeram seprai.Dengan napas yang pecah.Dengan suara lirih yang hilang di antara desah dan bisikan nama Zayn yang berulang-ulang, seperti doa yang tak sempat selesai.Lampu kamar hanya menyisakan cahaya temaram. Bayangan mereka bergerak di dinding kadang menyatu, kadang terpisah, lalu menyatu lagi. Ritmenya naik turun seperti gelombang yang tak pernah benar-benar surut.Zayn tidak tergesa.Ia menikmati setiap reaksi kecil Sarah gemetar halus di

  • Musuhku Canduku    Bab 54 - Gairah Asmara

    Zayn tidak memberi jarak. Bukan dengan kasar. Bukan dengan kemarahan. Tapi dengan keteguhan yang membuat Sarah sulit bernapas. “Lihat aku,” bisiknya. Sarah menggeleng pelan, tapi jari-jari Zayn sudah lebih dulu menyusuri pergelangan tangannya mengangkatnya perlahan, menahannya di udara sejenak seolah menunggu penolakan yang tidak pernah benar-benar datang. “Kau masih mau menjauh?” tanyanya rendah. Sarah hendak berkata iya. Namun napasnya sudah tak teratur. Zayn mendekat lagi. Tangannya turun ke pinggang Sarah, menariknya perlahan hingga tubuh mereka kembali tanpa jarak. Sentuhannya datang bertubi-tubi di punggungnya, di lengannya, di rahangnya yang diangkat pelan agar tatapan mereka bertemu. Bukan kasar. Tapi tanpa memberi ruang bagi Sarah untuk bersembunyi dari perasaannya sendiri. “Zayn…” suaranya melemah, bukan karena takut melainkan karena terlalu sadar. Sadar bahwa setiap sentuhan itu membangunkan sesuatu yang sudah lama ia kubur. Zayn menelusuri garis lehernya deng

  • Musuhku Canduku    Bab 53 - Mengklaim Dirimu Kembali

    Zayn tidak membiarkan Sarah menarik diri. Dengan setiap langkah mendekat, rasa cemas Sarah semakin membesar, meskipun ia tahu bahwa ia tidak bisa lari. Ada daya tarik yang sangat kuat keinginan yang tak bisa ia lawan meski mulutnya masih berusaha untuk berkata tidak.“Kamu masih berpikir bisa menahan diri, bukan?” suara Zayn rendah, menggetarkan. Ia tidak mengangkat suaranya, namun kata-katanya datang begitu dalam, seolah memaksa Sarah untuk mendengarnya.Sarah menunduk, berusaha menghindari tatapan Zayn yang penuh makna. "Aku tidak ingin ini," jawabnya, suaranya bergetar, namun ia tahu bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa lemah. Apakah ia benar-benar tidak menginginkan ini? Atau apakah ia hanya takut menghadapinya?Zayn melangkah lebih dekat, mengangkat dagu Sarah perlahan agar wajah mereka bertemu. “Tapi kamu sudah di sini, Sarah. Kita sudah di titik ini. Kau dan aku tidak bisa melarikan diri lagi, bahkan jika itu yang kau inginkan.” Tatapannya penuh dengan keyakinan,

  • Musuhku Canduku    Bab 52 - Hukuman Nikmat

    Mobil hitam itu meluncur membelah malam tanpa suara.Kevin tertidur di kursi belakang, kepalanya bersandar di bahu Sarah. Tangannya masih menggenggam ujung lengan ibunya, seolah takut terlepas.Di kursi depan, Zayn menatap lurus ke jalan.Wajahnya tenang.Terlalu tenang.Sarah menatap siluetnya dari kaca spion. Lima tahun tidak menghapus apa pun. Garis rahangnya masih tegas. Tatapannya masih sulit ditebak.Dan ia masih sama berbahayanya.“Ke mana kita pergi?” tanya Sarah akhirnya, suaranya hampir tenggelam oleh suara mesin.“Pulang,” jawab Zayn singkat.“Kita sudah tidak punya rumah bersama.”“Aku tidak pernah menjualnya.”Jawaban itu membuat jantung Sarah mencelos.Rumah itu.Rumah yang ia tinggalkan dengan air mata dan rahasia.Rumah yang menjadi awal sekaligus akhir segalanya.Gerbang besi tinggi terbuka perlahan ketika mobil mendekat.Mansion Velasco ResidenceLampu-lampu taman menyala otomatis, menerangi bangunan megah yang berdiri angkuh di tengah lahan luas.Sarah menahan napas

  • Musuhku Canduku    Bab 51 - Kau Milikku

    Pintu ruang kerja Zayn tertutup rapat ketika Bass masuk. Langkahnya terukur. Wajahnya tidak setenang biasanya. “Bos… semua data sudah saya kumpulkan.” Zayn tetap duduk, jarinya berhenti di atas dokumen yang sedang ia baca. “Tentang Rose?” “Iya.” Bass meletakkan map tebal di atas meja. Isinya bukan dokumen pernikahan atau catatan rumah sakit. Tidak ada itu. Semua bersih. Justru itu yang mencurigakan. “Aku mulai dari sistem internal,” jelas Bass. “Identitas Rose baru muncul lima tahun lalu. Tidak ada riwayat pekerjaan sebelumnya. Tidak ada referensi lama. Tidak ada keluarga yang bisa dihubungi.” Zayn mengangkat wajah perlahan. “Lanjut.” “Aku tarik data imigrasi lama. Lima tahun lalu, pada malam yang sama ketika… Nyonya menghilang…” Hening. “Seorang perempuan bernama Sarah Valente meninggalkan Indonesia. Tujuannya: luar negeri. Setelah itu, jejaknya kabur. Tidak ada aktivitas finansial di sini. Tidak ada transaksi. Seolah dia benar-benar memutus semua ikatan.”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status