Início / Mafia / Musuhku Canduku / Bab 3 - Malam Yang Tak Terlupakan

Compartilhar

Bab 3 - Malam Yang Tak Terlupakan

Autor: Nona Xiao
last update Última atualização: 2026-01-12 11:47:47

Bass menurunkan mobil di depan pintu baja ganda fasilitas. Lampu redup memantul di kaca mobil basah hujan.

Zayn menahan pinggang Sarah agar ia tidak jatuh ketika keluar dari mobil. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya tersengal, dan pandangannya kabur.

“Ayo… duduk dulu,” suara Zayn tegas tapi lembut. Sarah menatapnya sebentar, mencoba mengenali wajahnya, tapi hatinya masih penuh kebingungan.

Tubuhnya masih terasa panas dan bergetar. “Kalian… siapa? Kenapa… menolongku?” Suaranya pecah dan lemah.

Zayn menunduk, matanya serius. “Tenang… tidak ada yang akan menyakitimu di sini. Duduk dulu dan tarik napas pelan.”

Bass menutup pintu mobil dan menyandarkannya ke tembok, menatap Zayn. “Setidaknya kita aman di sini. Tidak ada yang bisa masuk.”

Sarah menatap keduanya, panik tapi bingung. “Kalian… siapa? Aku harus tahu…”

Zayn menatapnya sebentar, wajahnya tetap serius, tanpa ekspresi lebih. “Nama… bukan hal yang penting sekarang. Yang penting kau tetap hidup.”

Sarah menelan ludah, tubuhnya lemah. “Tapi… aku tidak mengerti… kenapa kalian…?”

Bass duduk di dekatnya, menepuk bahu Sarah dengan lembut tapi tegas. “Cukup tenang dulu. Tubuhmu masih bereaksi terhadap obat itu. Jangan panik. Kita akan menanganinya.”

Sarah menarik napas, mencoba menenangkan diri, tapi detak jantungnya masih liar. Ia menatap mereka, takut tapi penasaran. “Kalau… aku bisa pulih… siapa kalian sebenarnya?”

Zayn menatapnya sebentar, lalu menunduk. “Kau akan tahu nanti. Sekarang, yang penting… kau hidup. Itu sudah cukup.”

Sarah menunduk, rasa aman yang tipis mulai muncul, tapi rasa penasaran dan ketakutan tetap menghantui. Siapa mereka sebenarnya… dan mengapa mereka mau menolongnya?

Zayn melepaskan genggaman pada pinggang Sarah setelah memastikan ia duduk dengan aman di kursi dekat ranjang. Tubuhnya masih gemetar, tapi sedikit lebih tenang.

“Bass,” Zayn berkata pelan tapi tegas, matanya tetap menatap Sarah sebentar sebelum beralih. “Telepon anak buahmu. Pastikan mereka berjaga di luar safehouse. Kita tidak boleh lengah, walaupun pintu ini menutup mereka.”

Bass mengangguk, mengeluarkan ponsel dari jaketnya. “Siap, Bos. Mereka akan tersebar di sekitar perimeter dan tetap di jalur komunikasi.”

Zayn menepuk bahu Bass sebentar. “Bagus. Jangan beri celah sekecil apa pun. Hujan dan malam ini bisa dimanfaatkan siapa pun yang nekat.”

Sarah menatap mereka berdua, masih lemah, tapi rasa ingin tahu mulai muncul. “Kalian… selalu berjaga seperti ini?” Suaranya gemetar, campur takut dan penasaran.

Zayn menunduk, matanya tetap serius. “Kalau ingin bertahan hidup, seseorang harus. Sekarang… fokusmu hanya satu, tetap tenang, tarik napas, jangan biarkan obat itu menguasaimu.”

Bass selesai menelepon. “Semua sudah diatur, Bos. Perimeter aman, komunikasi tetap terbuka. Mereka akan tetap di luar sampai kita beri tanda.”

Zayn mengangguk, kembali menatap Sarah. “Bagus. Sekarang kau bisa duduk tenang di sini. Kita punya waktu. Gunakan untuk menenangkan tubuhmu dan bernapas pelan.”

Sarah menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Hujan masih terdengar di luar, tapi untuk pertama kalinya sejak pengejaran itu, ia merasa ada sedikit rasa aman di tengah ketidakpastian.

***

Bass keluar untuk berjaga dan memberi waktu untuk Bos nya menyembuhkan Sarah.

Sarah duduk di kursi dekat ranjang, tubuhnya masih gemetar. Napasnya tak teratur, wajahnya pucat, dan tangannya masih sedikit bergetar. Zayn berdiri di sampingnya, menatapnya dengan mata tajam yang tiba-tiba lembut.

“Tarik napas pelan… dan hembuskan,” Zayn berkata, suaranya rendah dan mantap, seolah setiap kata menenangkan seluruh tubuh Sarah.

Sarah mencoba menuruti, tapi kepalanya terasa berat. Ia menatap Zayn, suara gemetar, “Aku… aku tidak bisa… semuanya berputar…”

Zayn mencondongkan tubuh, mengangkat tangan Sarah dengan hati-hati, dan menaruhnya di pangkuannya. “Tidak apa-apa. Aku di sini. Pegang tanganku jika itu membantu.”

Sarah menggenggam tangannya tanpa sadar. Sentuhan Zayn hangat, tapi ada rasa aman yang aneh, berbeda dari ketegangan di luar. Hujan yang terdengar dari luar seperti lenyap sejenak.

Zayn menatap matanya, menunggu sinyal dari Sarah bahwa ia bisa mengikuti arahannya. “Kau kuat, walau tubuhmu lelah. Aku tahu ini berat, tapi kita akan lewati ini bersama.”

Sarah menelan ludah, napasnya mulai sedikit lebih teratur. “Kenapa… kenapa kamu… peduli padaku?” Sarah menatap Zayn dengan mata berkaca-kaca.

Zayn tersenyum tipis, lembut, hampir terselubung rasa khawatir. “Karena aku tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu. Tidak malam ini… dan tidak selama aku di sini.”

Sarah menunduk, wajahnya merah, tapi rasa lega mulai masuk ke dalam dadaa. Ia merasakan kehangatan dari genggaman Zayn dan ketenangan dari suaranya, sesuatu yang belum pernah ia rasakan dari siapapun sebelumnya.

Zayn menepuk punggungnya perlahan, gerakan sederhana tapi penuh perhatian. “Hanya tarik napas pelan. Aku di sini, dan kau tidak sendirian.”

Dalam keheningan itu, meski hanya terdengar hujan dan detak napas mereka, Sarah merasa… nyaman. Sesuatu yang hangat di dadaa, sesuatu yang lebih dari sekadar rasa aman. Ia memandang Zayn, dan untuk pertama kalinya malam itu, senyum kecil muncul di bibirnya.

Sarah masih duduk lunglai, tubuhnya lemas dan kaku. Zayn menunduk, menatapnya dengan mata yang tidak hanya waspada, tapi juga lembut seolah dia membaca setiap ketidaknyamanan yang dirasakan Sarah.

Tanpa berkata banyak, Zayn meraih tangannya, menggenggam dengan hangat dan perlahan, seakan mengatakan, “Aku ada di sini.” Sarah menatap genggaman itu, dan tanpa sadar, jari-jarinya menempel pada tangan Zayn, ragu tapi mencari pegangan.

“Aku akan bantu kau tetap duduk tegak,” Zayn berkata, suaranya rendah, hampir mendekatkan wajahnya ke arah Sarah saat ia menyesuaikan posisi tubuhnya. Kepala Sarah tersandar sedikit ke bahu Zayn, dan Zayn membiarkannya, tangannya tetap menahan pinggangnya agar tidak goyah.

Sarah menutup mata sejenak, merasakan denyut hangat Zayn di sampingnya. Detak jantungnya campur aduk takut, lega, dan entah mengapa ada rasa nyaman yang aneh, berbeda dari sebelumnya.

Zayn menunduk lebih dekat, suara lembutnya terdengar hanya untuk Sarah. “Tarik napas pelan… rasakan aku di sini. Kau aman. Aku tidak akan membiarkan tubuhmu kehilangan kendali.”

Sarah menelan ludah, bibirnya sedikit gemetar. Ia menatap Zayn setengah terbuka, lalu perlahan menunduk lagi, menyandarkan dahi ke dadaa Zayn tanpa sadar. Sentuhan itu sederhana, tapi membuat jantungnya berdegup kencang. Zayn pun merasakan hal yang sama, tatapan mata Sarah yang sayu dan bibir merah muda yang menggoda tak terasa membuatnya terpikat pada gadis itu.

Zayn mendekatkan wajahnya, hidung mereka bertemu dan bibir mereka menempel satu sama lain. Seperti terkena tekanan aliran listrik dari dalam tubuhnya, Zayn tidak bisa lagi mengendalikan diri. Nafsunya bangkit dan meluap-luap, Zayn semakin mendekatkan tubuhnya pada Sarah, melepaskan satu persatu pakaian yang dikenakan Sarah.

Walau Sarah di pengaruhi obat tapi dia masih setengah sadar. "Tidak. Jangan!" Walau batinnya menolak tapi tubuhnya tak bisa berbohong. Rasa nikmat yang menjalar karena sentuhan liar dari Zayn membuatnya tak berdaya. Mereka berguling di atas ranjang yang terasa semakin panas. Suara nafas mereka tak beraturan. Air mata dan keringat bercampur menjadi satu. Kini Sarah dalam kendali Zayn.

"Bagaimana rasanya?" tanya Zayn.

"Sakit!"

"Apa ini yang pertama?"

"Ya." Suaranya serak.

"Mulai sekarang kau adalah milikku!"

"A... apa? Aku bahkan tidak mengenalmu ahh..."

Zayn membekap mulut Sarah dengan tangannya. "Ssssssttttt... diamlah! Rasakan kenikmatan ini."

"Ahh... pelan-pelan!"

Sarah juga sudah kehilangan akal sehatnya. Dia menikmati setiap sentuhan nikmat dari Zayn. Sarah tidak sadar jika ayahnya akan marah besar kepadanya, saat tahu dia sudah tidur dengan musuh keluarganya. Malam itu seperti malam yang tiada akhir. Mereka sangat bergairaah hingga mencapai puncak kenikmatan.

***

Di tempat lain Bianca sedang kesal, napasnya memburu. “Dimana mereka…?” Suaranya dingin, tetapi ada nada kesal yang sulit ditahan. Ia menatap gelapnya lorong, mengetahui satu hal pasti, Sarah dan Zayn telah menghilang. Dan kini, Bianca kehilangan jejak mereka. "Aku kehilangan mereka, bukti ini belum cukup untuk membuat Victor percaya kepadaku. Aku harus mencari cara lain."

Di dalam sedan hitam yang masih menyala, Bianca menatap gelap lorong yang baru saja menelan Sarah dan Zayn. Matanya menyipit, bukan karena takut, tapi karena rasa tekad yang dingin dan licik.

“Kalau aku tidak bisa menangkap mereka secara langsung… aku akan menyerang dari arah lain,” gumamnya, suaranya datar, tapi setiap kata berisi perhitungan. Bianca meraih tasnya dan mengeluarkan ponsel, membuka beberapa aplikasi, dan mulai menatap layar dengan fokus yang tajam.

“Reputasimu, Sarah… itu yang akan hancur duluan,” bisiknya, seolah berbicara pada sosok yang hilang di lorong gelap. Ia mulai menulis pesan, mengatur pengaturan akun-akun media, dan menyusun rencana yang rapi semua untuk memastikan orang lain melihat Sarah dalam cahaya yang salah, salah paham, atau bahkan tercela.

Setiap detil diperhitungkan, siapa yang harus melihatnya pertama, kapan gosip akan muncul, bagaimana Sarah akan terlihat lemah dan tidak berdaya di mata orang lain. Bianca tersenyum tipis, dingin, puas dengan dirinya sendiri.

“Jika aku tidak bisa mengendalikannya langsung… aku akan memastikan semua orang mengira kau tidak layak dipercaya,” katanya, nada suaranya seperti janji gelap.

Supirnya menoleh. "Apa yang harus dilakukan selanjutnya Nona?"

"Kembali."

"Baik."

Sedan hitam itu kembali melaju pelan, tapi kali ini bukan mengejar ini adalah perjalanan untuk menebar ancaman bayang-bayang, dari jarak aman.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Musuhku Canduku    Bab 5 - Papa Marah Besar

    Setelah mandi dan sarapan, Sarah merasa sedikit lebih segar. Ponselnya kini berada di genggamannya, dan rasa cemasnya perlahan kembali muncul. Ia ingin segera pergi dari tempat asing ini.Pria itu berdiri di dekat pintu utama, menatapnya lama.“Kau bisa pergi sekarang,” katanya tenang, suara rendah tapi mantap. “Jangan membuat kesalahan di jalan. Supirku akan mengantarmu."Sarah menelan ludah, hampir tidak percaya.“Kau… benar-benar membiarkanku pulang?” tanyanya, setengah lega tapi masih waspada.Pria itu hanya mengangguk singkat, tidak menambahkan apa pun. Mata gelapnya tetap menatapnya seakan menekankan satu hal, jangan sekali-kali meremehkan bahaya di luar sana.Sarah segera meraih tasnya dan melangkah keluar. Jantungnya masih berdebar, tetapi perasaan lega mulai muncul. Segera ia akan bebas dari mansion misterius ini.Begitu pintu tertutup di belakang Sarah, Bass menatap Zayn dengan mata penuh heran.“Bos… kau benar-benar membiarkan dia pergi begitu saja? Setelah semalam… setelah

  • Musuhku Canduku    Bab 4 - Tersadar

    Cahaya pagi menyentuh wajah Sarah, membuatnya terbangun perlahan. Kepala Sarah terasa berat, seperti baru bangun dari mimpi yang tidak jelas. Ia mengedip, mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi semalam namun semuanya kabur.Yang ia ingat hanya suara laki-laki… hangat, tenang… seolah menuntunnya keluar dari kegelapan. Wajahnya samar, hampir tidak bisa ia rekam.Begitu sadar sepenuhnya, Sarah tersentak.Ranjang tempat ia tidur bukan miliknya. Ruangan ini… bukan tempat yang ia kenal. Saat dia membuka selimut tidak ada sehelai benangpun yang ia kenakan.“Astaga! Apa... apa yang sudah ku lakukan semalam? Di mana aku…?” bisiknya, panik mulai naik ke dadaa.Ia bangun dengan cepat, hampir tergelincir karena tubuhnya masih lemah. Pandangannya menyapu ruangan mewah itu tirai tebal, perabotan gelap, suasana yang terlalu megah untuk rumah siapa pun yang ia kenal.Dan yang paling membuat napasnya tercekat,Tidak ada seorang pun di sampingnya.Tidak ada pria yang ia dengar semalam.“Siapa di

  • Musuhku Canduku    Bab 3 - Malam Yang Tak Terlupakan

    Bass menurunkan mobil di depan pintu baja ganda fasilitas. Lampu redup memantul di kaca mobil basah hujan.Zayn menahan pinggang Sarah agar ia tidak jatuh ketika keluar dari mobil. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya tersengal, dan pandangannya kabur.“Ayo… duduk dulu,” suara Zayn tegas tapi lembut. Sarah menatapnya sebentar, mencoba mengenali wajahnya, tapi hatinya masih penuh kebingungan.Tubuhnya masih terasa panas dan bergetar. “Kalian… siapa? Kenapa… menolongku?” Suaranya pecah dan lemah.Zayn menunduk, matanya serius. “Tenang… tidak ada yang akan menyakitimu di sini. Duduk dulu dan tarik napas pelan.”Bass menutup pintu mobil dan menyandarkannya ke tembok, menatap Zayn. “Setidaknya kita aman di sini. Tidak ada yang bisa masuk.”Sarah menatap keduanya, panik tapi bingung. “Kalian… siapa? Aku harus tahu…”Zayn menatapnya sebentar, wajahnya tetap serius, tanpa ekspresi lebih. “Nama… bukan hal yang penting sekarang. Yang penting kau tetap hidup.”Sarah menelan ludah, tubuhnya lemah. “T

  • Musuhku Canduku    Bab 2 - Ditolong Pria Asing

    Zayn akhirnya tiba di mobil hitamnya. Bass membuka pintu belakang, namun Sarah tiba-tiba terhuyung, lututnya nyaris menyerah. Zayn refleks meraih tubuhnya sebelum ia jatuh.“Hey, hey… jangan paksakan diri,” kata Zayn, menahan tubuh Sarah agar tetap tegak.Sarah menatap Zayn dengan mata setengah terbuka, suaranya pecah.“Aku takut…”Untuk pertama kalinya, ekspresi Zayn berubah. Keras dan dingin itu luntur, berganti sesuatu yang lebih dalam. Lebih… protektif.“Aku akan mencari tahu siapa yang melakukan ini.”Suaranya rendah, penuh janji yang bahkan Sarah tak yakin mengerti.“Sekarang… masuk ke dalam mobil. Aku akan membawamu ke tempat yang aman. Tempat di mana tidak ada yang bisa menyentuhmu.”Bass menatap Zayn heran. “Bos… kita tidak bisa bawa dia ke safehouse. Itu area paling sensitif.”“Justru karena itu,” potong Zayn tajam. “Tidak ada yang akan menduga aku membawa seorang wanita asing ke sana. Dan dia tidak bisa tetap di luar. Lihat kondisinya.”Bass terdiam. Karena Zayn benar.Sara

  • Musuhku Canduku    Bab 1 - Jebakan Malam

    Lampu neon club memantul di lantai kaca, musik berdentum sampai rasanya menembus tulang. Sarah Valente berdiri di dekat bar, memegangi gelasnya sambil tersenyum tipis. Malam ini seharusnya pesta biasa, tapi firasat buruk menghantui. Bianca Moretti selalu punya rencana.Di sudut lain, Bianca menatap Sarah dengan senyum tipis, matanya berkilat licik. Di tangannya, minuman Sarah diam-diam telah dicampur dengan obat perangsang satu langkah kecil, tapi cukup untuk membuat malam ini berubah total.“Ini baru permulaan,” gumam Bianca pelan, menahan tawa. “Sarah akan hancur… dan Victor… Victor akan menjadi milikku.”Beberapa menit kemudian, Sarah menyesap minuman itu. Kepalanya terasa berat, pandangannya kabur, dan kakinya tak lagi menahan tubuhnya. Panik merayap saat ia menyadari tubuhnya mulai goyah.“Tunggu! Pegang aku, jangan jatuh!” suara tegas terdengar di sampingnya.Sarah menoleh setengah sadar. Di depannya berdiri Zayn Velasco, tinggi, tegap, dan sepenuhnya asing. Tubuhnya masih lemah

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status