共有

Bab 58

作者: Zhar
last update 公開日: 2026-05-29 08:10:22

Namun jelas...ada sesuatu di antara mereka.

Tanpa sepatah kata pun, kedua kelompok itu memilih berjalan ke arah berbeda.

Tak satu pun ingin memulai masalah di dalam kamp militer.

“Siapa mereka?” tanya Budi pelan.

Aji tetap diam, wajahnya muram dan penuh tekanan, seolah menahan sesuatu yang siap meledak kapan saja.

Di samping Budi, Dadang berjalan pelan sambil berbisik, “Kita juga nggak terlalu tahu mereka siapa. Yang j
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Mutasi Alam Liar   Bab 77

    Abas sedang mengorek sisa puntung rokok di dalam asbak, lalu mengambil satu yang masih agak panjang, menyalakannya, dan mengisapnya dengan rakus. Asap memenuhi paru-parunya beberapa saat sebelum ia menghembuskannya keluar. Ia baru sempat menghisap dua kali, ujung rokok itu sudah menyentuh saringannya. Dengan berat hati ia membuangnya, lalu kembali mengacak-acak isi asbak itu lagi. Istrinya yang muda dan cantik, Dayang, mengambil asbak itu dari tangannya dan berkata, “Jangan merokok lagi. Baunya jadi memenuhi seluruh rumah.” Abas mendengus kasar. “Kita semua bakal mati juga akhirnya. Buat apa larang aku nikmati sedikit kesenangan sebelum mati?” “Kamu ngomong apa sih? Kita kan masih hidup dan sehat-sehat saja,” jawab Dayang dengan nada kesal. “Sehat katamu!? Mana mungkin sedikit makanan yang kamu bawa itu cukup buat makan? Bukannya mereka suka sama kamu? Kok cuma dapat sedikit sekali? Kalau saja masing-masing dari mereka kasi

  • Mutasi Alam Liar   Bab 76

    “Sepertinya ada orang di sini. Aku akan pergi membukakan pintu!” ucap Budi. Ia bangkit berdiri, merapikan celananya dengan cepat lalu berjalan keluar dari kamar tidur, sementara Jeni menatapnya dengan kebingungan. Budi membuka pintu dan terkejut, “Kau...Yadi?” Tak ada yang bisa menyalahkan Budi karena sempat ragu, sebab penampilan Yadi telah berubah drastis. Seminggu yang lalu, ia adalah pria yang gemuk, namun kini tubuhnya ramping bak model. Satu-satunya hal yang sama hanyalah wajahnya yang pucat, membuatnya terlihat sangat lemah. Yadi tak menyangka Budi akan langsung membukakan pintu tanpa memeriksa lebih dulu. Ia sudah memohon bantuan ke semua tetangga lain, dan baru kali ini ia mengalami hal yang membuatnya merasa sangat malu. Meski tak melihat makhluk bermutasi di lorong, ia tetap berjalan cepat ke ruang tamu agar tak menimbulkan masalah bagi Budi. Ia melepas helm, lalu berusaha tersenyum, “Ah, ya! Kami dulu pernah potong rambut di t

  • Mutasi Alam Liar   Bab 75

    Sampai di kamarnya sendiri, Budi baru merasa lega. Dia mengeluarkan bra dan celana dalam itu dari sakunya. Barang-barang kecil berwarna putih itu terlihat mungil sekali, dan masih tercium wangi sabun yang lembut dan segar. Perasaannya jadi agak aneh, seolah-olah dia orang yang tidak bermoral. Dia meletakkan barang-barang itu sejenak lalu berjalan ke arah lemari penyimpanan. Dia membuka salah satu laci yang isinya sudah tinggal separuh saja, berisi bulu-bulu burung hantu berwarna hitam. Karena sudah sering dipakai, persediaannya makin menipis. Sebagian besar bulu itu diambil dari bagian ekor burung hantu. Dia sedang memilih beberapa helai bulu yang ukurannya agak pendek, tapi tiba-tiba terdengar suara dari luar pintu. Pintu kamarnya dibuka! Bagi pendengaran Budi yang sangat tajam, bunyi itu terdengar sekeras ledakan! Dia kaget bukan main, buru-buru berdiri tegak. Saat dia bergegas menuju tempat tidur, pintu kamar sudah terbuka lebar dan se

  • Mutasi Alam Liar   Bab 74

    “Seratus lima puluh... seratus lima puluh satu... seratus lima puluh dua...” Di ruang tamu, Budi sedang melakukan gerakan push-up dengan kecepatan luar biasa hampir lima kali dorongan dalam sedetik. Keringat mengalir deras membasahi punggungnya, kulitnya yang putih kini tampak berkilau karena keringat. Ia terus bergerak seperti mesin yang bekerja dengan presisi dan kecepatan tinggi. Otot di punggungnya tampak seperti sepasang sayap, mengembang dan mengerut mengikuti setiap gerakan, menarik otot-otot panjang dan ramping di sekitarnya hingga membentuk rangkaian otot yang padat dan kokoh. Shinta berdiri di sudut ruangan, diam-diam mengamati Budi. Sejak masih remaja, ia selalu merasa penasaran sekaligus malu-malu saat melihatnya. Ditambah lagi, suara-suara samar yang kadang terdengar dari kamar Budi membuat rasa ingin tahunya makin besar. Ia menarik napas panjang, memberanikan diri, lalu berjalan perlahan mendekati Budi sambil berusaha bersik

  • Mutasi Alam Liar   Bab 73

    Masakan sore itu sangat sederhana. Hanya ada sepiring kecil acar sayur dan dua butir telur asin. Makanan jenis ini sudah dibeli dan disimpan Budi jauh sebelum wabah Covid mewabah. Ia memang sengaja menimbun banyak barang yang awet dan tak mudah rusak, dan masih masih ada sisa simpanan yang cukup. Daging hewan bermutasi yang dibawanya pulang kemarin sudah direndam dan disiapkan, tapi mengingat masa-masa sulit seperti ini takkan berakhir dalam waktu dekat, ia memutuskan belum waktunya untuk memakan daging itu. Dulu, makanan mereka selalu lengkap dengan daging dan ikan bergizi. Tapi belakangan ini, nafsu makan semua orang jadi berkurang drastis. Bahkan Shinta berhenti makan setelah hanya menelan beberapa suap saja. Malam harinya, sebuah mobil jip melaju masuk ke kawasan perumahan mereka. Dua orang polisi lengkap dengan pakaian pelindung dari ujung kepala sampai ujung kaki turun dari kendaraan itu. Di punggung mereka terpasang alat penyembur

  • Mutasi Alam Liar   Bab 72

    Ketukan cepat terdengar dari pintu, “Buka pintunya! Tolong! Bantu istriku! Kumohon!” Budi saling bertatapan dengan Jeni sebelum beranjak berdiri untuk mengintip lewat lubang intip. Ternyata tetangga mereka yang tinggal tepat di seberang rumahnya yang sedang mengetuk pintu. Mereka tidak terlalu akrab, hanya sekadar saling kenal dan tahu keberadaan satu sama lain. Wajah pria itu penuh ketakutan, bercampur dengan rasa gelisah yang mendalam. Budi menduga istrinya mungkin telah digigit nyamuk bermutasi. Biasanya, siapa saja yang digigit makhluk itu takkan selamat, tapi karena mereka bertetangga, setidaknya ia harus pergi melihat keadaannya. Ia pun membuka pintu dengan ragu dan bertanya, “Ada apa?” Pria itu berkata dengan panik, “Cepat, ikutlah ke rumahku! Istriku sudah tak tahan lagi. Aku tak tahu apa yang terjadi, tadi dia sedang mengepel lantai dapur, tiba-tiba saja jatuh terkulai.” Budi menoleh ke arah Jeni, “Tutup pintu dulu

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status