LOGINMy Actor
Alana memarkir mobilnya di halaman bangunan berarsitektur Eropa berlantai tiga. Di gedung itulah butik dan juga studio milik Jhoni Ares berada.Alana bergegas menuju pintu. Seorang security menyambutnya dengan ramah kemudian mengarahkan Alana supaya langsung ke lantai dua. Sekilas Alana mengedarkan pandangan ke butik yang ada di lantai satu itu. Matanya sungguh terpesona oleh deretan pakaian mewah yang terpajang dengan rapi. Semua itu merupakan hasil rancangan Jhoni Ares.Begitu mencapai lantai dua, Alana langsung disuguhi suasana sibuk. Beberapa orang kru terlihat tengah mempersiapkan lighting dan properti untuk pemotretan. Di sudut ruangan yang lain Jhoni Ares tengah memberi pengarahan pada beberapa orang model. Pada akhirnya mata Alana pun menangkap keberadaan sosok yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Razka sedang ditangani oleh seorang hair stylist.Sesuai prediksi Alana, ia tidak menemukan keberadaan Theo di sana. Alana pun berjalan pelan menghampiri Razka. Ia mencoba bersikap biasa walaupun sebenarnya ia cukup deg-degan menunggu reaksi Razka atas kemunculannya.Alana memperlambat langkahnya begitu ia bertemu pandang dengan Razka ketika jarak masih beberapa langkah lagi. Lelaki itu langsung menampakkan ekspresi tidak senang. Alana tidak punya pilihan lain. Ia harus bermental baja. Ia tetap mendekat dan bersikap seolah-olah mereka baik-baik saja.“Kamu udah sarapan?” tanya Alana setelah ia melempar senyum pada hair stylist yang hampir selesai merapikan rambut Razka.Razka sama sekali tidak mengacuhkan Alana. Lelaki itu malah meraih telepon genggam yang tergeletak di meja di depannya. Segera ia menghubungi seseorang. Alana sempat melihat nama yang tertera di layar ponsel milik Razka. Wajah aktor itu tampak kesal karena teleponnya tidak kunjung dijawab.“Theo udah pulang,” lirih Alana tapi masih bisa terdengar oleh Razka.“Aku nggak mau terlibat dalam pemotretan ini.” Razka hendak berdiri tetapi Alana tidak kalah cepat. Setengah berbisik ia berbicara dengan tegas pada Razka.“Kamu tahu, kan apa konsekuensinya jika pemotretan ini tidak berlangsung dengan baik hari ini? Kamu sudah siap karier kamu meredup?” Alana merasa di atas angin. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. “Aku kembalikan kata-kata kamu, bersikaplah profesional.”Alana pun melenggang meninggalkan Razka yang tak bisa berkutik. Ia segera menghampiri Jhoni Ares yang juga hendak mendatanginya. Ia dan desainer itu terlibat pembicaraan yang cukup serius. Tidak lama setelah itu mereka pun menghampiri Razka yang sudah berganti pakaian dan siap untuk melakukan pemotretan.Pemotretan itu berlangsung selama beberapa jam. Dalam rentang waktu itu, Alana harus mengurut dada berkali-kali. Razka tidak menganggap keberadaan Alana sama sekali. Setiap kali Alana memberikan barang-barang yang dibutuhkan Razka, artisnya itu mengambilnya tanpa menoleh bahkan setiap kata yang dilontarkan Alana tidak pernah digubrisnya. Capek karena dianggap tidak ada, akhirnya Alana pun menarik diri. Ia memilih menunggu di sudut yang lain.Untuk menghalau rasa bosan, Alana membuka ponsel. Ia pun menjelajah ke dunia maya. Jarinya terhenti pada akun berita artis yang memuat foto Razka bergandengan dengan seorang gadis cantik.“Ini pasti foto kemarin,” gumam Alana. Ia pun meng-klik kolom komentar. Ribuan orang telah mengomentari foto tersebut. Hampir semua memuji dan mendoakan agar ke dua artis itu menjadi pasangan sungguhan dan melenggang ke pelaminan.Dada Alana semakin panas. Selama ini hubungannya dan Razka memang tidak pernah dipublikan. Hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui status hubungan mereka. Salah satu yang menjadi pertimbangannya adalah fans. Biasanya fans akan meninggalkan artis idolanya jika ada hal-hal yang mengecewakan mereka.Alana menyadari hal itu, apalagi ia bukanlah dari kalanagan artis. Semua demi kelangsungan karir Razka dan cintanya pada lelaki itu. Namun sayangnya hal itu malah menjadi bumerang baginya.“Nanti jam tujuh udah standby di hotel Quenn, ya, Nona Manjer.” Alana tersentak, ia tidak menyadari keberadaan Jhoni Ares di hadapannya.“I-iya, kenapa, King?” Alana mendongakkan kepala.“Ntar malam jangan telat! Nih, ntar pakai ya.” Desainer itu menyerahkan sebuah paper bag pada Alana.“Thank you, King,” jawab Alana sembringah.“Saya sih senang-senang aja kerja sama ma kamu, cuma kurang sreg aja sama dia, sok ngartis,” sungut King Jhoni sambil menunjuk Razka yang sedang menyelesaikan sesi fotonya.“Ya, sudah. Saya turun dulu, ya. Mau ketemu artis yang minta disponsori.”Jhoni Ares segera menuju tangga meninggalkan Alana yang masih termangu duduk di sofa yang ada di pojok ruangan.Melihat Razka yang sudah selesai pemotretan, Alana segera menghampirinya.“Aku antarin pulang, ya. Theo nggak bisa jemput ke sini,” tawar Alana pada Razka yang tengah membersihkan muka. Di saat Alana tengah menunggu jawaban dari Razka, seseorang datang menyelinap di antara dia dan Razka.“Sorry, kamu udah nunggu lama, ya?” suaranya sedikit dimanja-majakan dan tanpa basa-basi, tangannya langsung hinggap di kepala Razka merapikan rambut lelaki itu.“Nggak, baru aja selesai,” jawab Razka kemudian mengulas senyum pada wanita yang baru datang itu.“Kita makan dulu, ya. aku lapar banget, nih,” ujar wanita itu dengan suara yang masih dimanja-manjakan.“Ayo,” ajak Razka sambil meraih tangan wanita itu kemudian berlalu tanpa menghiraukan keberadaan Alana.“Razka, nanti jam tujuh udah nyampai di hotel Queen,” ucap Alana datar.Razka menghentikan langkahnya, sejenak menoleh pada Alana kemudian kembali berjalan tanpa memberi jawaban apa-apa.Alana berusaha keras menahan sesak yang menguasai dada. Tindakan Razka benar-benar berhasil mengoyak hatinya. Ia ingin marah, berteriak, bahkan ingin memaki tetapi ia sadar itu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri."Kita lihat saja Razka, sampai kapan kamu bisa tanpa aku."Alana melihat ke sekeliling, orang-orang terlihat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ia sedikit lega, paling tidak, tidak ada yang melihat apa yang terjadi pada dirinya. Ia pun menyambar tas dan bergegas meninggalkan tempat itu. Membawa hati yang sedang panas membara.***My Actor #13 Alana mengernyit melihat banyak sekali tumpukan notifikasi. Dan semua itu dari media sosial. "Tumben sekali seramai ini? Ada apaan?" gumam Alana sembari menuju aplikasi yang banyak memberi pemberitahuan itu. "Apa-apaan, sih, banyak banget yang nge-tag aku?" Seketika mata Alana terbelalak melihat apa yang terjadi pada salah satu akun media sosialnya. "Kok begini?"Mata Alana hampir tak berkedip untuk waktu yang cukup lama. Fokusnya tertumpu hanya pada layar ponsel. Sementara jarinya sibuk berselancar dia atas layar. Sesekali alisnya bertaut. Akun-akun gosip yang diikutinya secara kompak menampilkan cuplikan video beberapa detik yang pelakonnya adalah dirinya. Rekaman peristiwa yang baru saja dilalui Alana telah menyebar ke jagad maya. Tentu saja hal itu tidak mengherankan karena memang saat Alana masuk ke kafe tadi hampir semua yang ada di acara itu tengah memegang ponsel dan ketika terjadi sesuatu, walau tanpa ada komando sekali pun semua reflek mengarahkan kamera
My Actor #12 Alana duduk bersandar, meregangkan tangan, dan sejenak memejamkan mata. Ia berharap posisi seperti itu akan sedikit mengendorkan kembali urat-urat sarafnya yang sudah terlanjur menegang sejak semalam. Dia berharap untuk beberapa saat bisa bernapas lega dan rileks sejenak. Paling tidak selama acara Meet and Great yang menghadirkan Razka itu tengah berlangsung. Biasanya menjalani rutinitas pekerjaan di luar kota merupakan hal yang sangat menyenangkan. Selain menghasikan uang juga bisa curi-curi kesempatan untuk refreshing. Terutama kota Bandung yang terkenal dengan sudut-sudut romantis serta kuliner yang memanjakan lidah. Semula Alana berharap akan bisa mengunjungi satu atau dua tempat yang menarik. Apalagi makin ke sini makin banyak bermunculan tempat-tempat _hang out_ baru dengan gaya kekinian ala gen Z. Namun, keinginan tetap hanya sebatas harapan. Yang terjadi justru sebaliknya. Razka berhasil membuatnya kalang-kabut dan mempermainkan detak jantungnya dengan sangat
My Actor #11"Aku nggak mau ada alasan!" ujar Reana merajuk. "Ya, sudah. Terserah kamu aja," jawab Razka pasrah. "Gitu, dong." Suara Reana terdengar riang. Lalu Sambungan telepon diputus oleh Reana setelah mendapat jawaban yang diinginkannya. Razka pun hendak kembali masuk. Namun, begitu memutar badan, dia langsung berhadapan dengan Alana yang tidak disadarinya entah sejak kapan berada di sana."Jadi, gimana? Bareng mereka apa sendiri?" tanya Alana dengan tatapan penuh selidik. "Kamu atur aja!" Razka mendengus kesal kemudian buru-buru menjauh dari Alana. Alana hanya bisa berdiri terpaku hingga punggung Razka hilang di balik dinding.*** "Kamu di mana Razka?" Dengan hati yang ditenang-tenangkan Alana berbicara sebiasa mungkin ketika teleponnya diangkat oleh Razka. Setelah sekian belas kali telepon darinya diabaikan oleh si artis. Gemuruh di hatinya yang sudah bergejolak sejak dari Jakarta harus diredam sedemikian rupa. Hal itu dilakukannya agar nantinya suasana kerja tetap
My Actor Hari-hari Alana kembali dengan rutinitas yang padat. Mulai dari menyiapkan segala hal yang dibutuhkan Razka untuk melakoni pekerjaannya syuting film dari satu lokasi ke lokasi berikutnya, mengisi acara baik on air maupun off air, hingga meeting dengan para produser maupun sutradara. Tak hanya sebatas keperluan pekerjaan, untuk keperluan sehari-hari Razka pun tak luput dari perhatian Alana. Alana larut dalam kesibukan. Berkejaran dengan waktu demi dapat menuntaskan target-target kerja yang telah disusun. Pun begitu dengan Razka, dia nampak asyik dan sangat menikmati pekerjaannya. Mereka terlihat sangat akur dan saling mengisi. Di mana ada Razka sudah pasti Alana pun ada di sekitar situ. Meskipun semua terlihat baik-baik saja, Natasya selaku teman terdekat Alana, tetap mengingatkan agar temannya itu tidak terlalu mengumbar rasa cintanya kepada sang aktor. Takutnya akan berbuah penyesalan nantinya. Begitu juga dengan Theo yang sudah hapal akan siklus hubungan Alana dan Razk
My Actor Alana hanya mengulas senyum pada Natasya. Meski logikanya tidak menentang sama sekali atas pendapat Natasya, tetapi hatinya tetap berusaha untuk memungkirinya. "Aku ke kamar duluan, ya." Alana bangkit dari duduknya. Jika berlama-lama di sana, dia tahu akan semakin panjang dan lebar analisa yang akan diungkapkan teman dekatnya itu. "Okey, istirahat sana biar tetap waras!" Kelakar Natasya meledek Alana. Alana hanya membulatkan mata sebagai bentuk protes. Di kamarnya Alana kembali duduk termangu. Kata-kata Natasya kembali berdengung-dengung di telinganya. Namun, cepat-cepat ditepisnya. Alana kemudian mengecek ponsel. Ternyata sudah ada puluhan chat yang masuk selama HP ditinggalnya di kamar. Setelah selesai dengan benda multi fungsi itu, Alana pun beralih pada notebook yang tergeletak di atas tempat tidur. Cukup lama Alana mengamati atas layar berbentuk persegi panjang yang sedang menampilkan jadwal syuting Razka, aktor kesayangannya. "Enaknya bagaimana, ya?" Alana berguma
My Actor "Ngebatalin? Emang segampang itu?" Razka menatap Alana dengan sengit. "Kenapa tidak? Tinggal bilang batal aja, udah, selesai! Beres!" ujar Alana enteng. Razka menyapu kasar wajahnya. Dia tahu konsekwensinya jika sampai terjadi pembatalan kerja sama, apalagi secara massal. Bisa-bisa tamat riwayat karirnya. "Nggak bisa begitu, dong!" ujar Razka disertai decak. "Kenapa nggak?" sambar Alana dengan mimik tanpa beban. "Nggak usah pakai-pakai ancaman segala!" "Aku nggak ngancam, kok. Cuma ngasih tahu aja. Mumpung kamu ke sini. Lebih enak kalau dengar langsung, kan?" Melihat Alana yang memperlihatkan sikap demikian, Razka seketika memutar otak agar hal itu jangan sampai terjadi. Sejujurnya dia khawatir jika Alana sampai membuktikan kata-katanya. "Okey, sekarang kita bicara baik-baik." suara Razka mulai merendah. "Mau bicarain apa lagi? Toh, ujung-ujungnya juga kamu akan seenak kamu sendiri." Kali ini berganti, Alana yang berbicara dengan nada sengit. "Okey, aku akui aku se
My Actor Gadis berambut lurus tergerai duduk dengan pandangan menerawang. Sementara tangan kanannya memutar-mutar sedotan pada gelas yang berisi minuman berwarna oranye. Kata-kata yang ia dengar beberapa saat yang lalu masih terngiang-ngiang di telinga. “Kami harap artis anda bisa profesional dal
MY ACTOR “Bersikaplah profesional, jangan mencampuradukkan urusan personal dengan pekerjaan!” Razka memberi penekanan pada kalimatnya itu. Sorot mata elangnya tertuju lurus pada Alana, manejer sekaligus kekasihnya. Gadis berambut lurus yang menjadi lawan bicaranya itu pun membalas dengan tatapan
My Actor "Ibu gimana kabarnya?" "Ibu sehat. Kamu sendiri bagaimana, Nak? Kamu baik-baik saja, ? Kapan kamu pulang?" Suara penuh kelembutan dari sang ibu meski hanya lewat telepon mampu menghadirkan kesejukan ke hati Alana. "Iya, Bu. Alana baik-baik aja. Ibu doain, ya, supaya kerjaan Alana lanca
My Actor Alana memilih menjauh dari keriuhan dan gegap gempita acara malam itu. Dia mencari tempat yang nyaman untuk menyendiri. Namun, tidak ada sudut yang bisa menjadi tempatnya menyepi. Sorot lampu, kamera, dan hilir mudik kru acara hampir menyapu seluruh area ruangan. Alana mencoba memanjang







