ログインIrene was loyal to her supposed fiancé but lately he seems uninterested than before, she decided to get to the bottom of this and realized that her best friend whom she had trusted all these years was her fiance's Mistress. She promised to make her life a living hell for them. In the process she met her handsome billionaire fiance and together they had dominion over their enemies but what happens when the one she loves loses all memory of her. A devastating time when she inherits all his enemies. A life she never asked for—Betrayal and Hate at its peak. " You've not done it before little kitten?" Alexander asked with a smirk " No". " I'll make sure you have the best experience " Irene: ".......".
もっと見るBab 1
Malam itu, bulan purnama menggantung di langit, terlalu besar dan terlalu terang. Cahayanya memantul pada jendela-jendela rumah keluarga Wiratmaja, menembus tirai, seakan mencari sesuatu. Angin dingin membawa aroma anyir yang menyengat, bercampur dengan bau kayu tua dari rumah yang sudah berdiri selama tiga generasi. Lila terbangun dengan dada yang terasa sesak. Dadanya naik-turun, napasnya terputus-putus. Ia baru saja bermimpi buruk, tapi detailnya menghilang begitu cepat, meninggalkan rasa takut yang membekas di tubuhnya. Perlahan, ia menoleh ke ranjang kecil di sampingnya. "Arga?" bisiknya dengan suara parau. Ranjang bayi itu kosong. Selimut yang biasanya membungkus tubuh kecil anaknya terjatuh ke lantai, basah oleh cairan berwarna gelap yang menetes perlahan. Aroma anyir kembali menusuk hidungnya, membuat perutnya mual. Sebelum ia sempat berteriak, suara itu datang. Tangisan bayi, pelan dan parau, seperti berasal dari tenggorokan yang hampir robek. Tangisan itu tidak datang dari kamar, tapi dari bawah, dari arah gudang tua di belakang rumah. “Bima!” Lila mengguncang suaminya, yang terbangun dengan mata setengah tertutup. “Arga... dia hilang. Aku mendengar sesuatu.” Bima terdiam sejenak, tubuhnya kaku. Ia mendengar tangisan itu juga. Suara yang menggema lembut, namun penuh kepedihan, memanggil-manggil. “Gudang...” gumam Bima, hampir tidak terdengar. Gudang tua itu sudah bertahun-tahun tak tersentuh, terkunci sejak kakek mereka meninggal. Tapi malam ini, pintunya tampak terbuka sedikit, seperti sedang menunggu mereka masuk. Lila menggenggam lengan Bima erat, mencoba menguatkan diri. Mereka berjalan menuju pintu belakang, setiap langkah terasa berat, seperti ada sesuatu yang menahan tubuh mereka. Suara tangisan itu semakin jelas, bercampur dengan bisikan-bisikan lirih yang menyayat telinga. “Dia milik kami... janji harus ditepati...” Lila berhenti di depan pintu gudang. Suaranya bergetar saat ia berbisik, “Bima, kita jangan masuk. Ada yang salah...” Namun, sebelum mereka sempat berbalik, pintu gudang berderit terbuka sendiri. Angin dingin menyapu wajah mereka, membawa serta aroma tanah basah dan darah. Di dalam, bayangan-bayangan bergerak liar di sudut gelap, menciptakan bentuk-bentuk yang tak bisa didefinisikan. Dan di tengah gudang itu, ada sosok kecil. Arga duduk di lantai, tubuhnya terbungkus cahaya bulan yang menyorot dari lubang di atap. Tapi ada yang salah. Tangannya yang mungil terulur ke arah mereka, sementara di belakangnya, bayangan hitam besar berdiri, tak bergerak, tak bernapas, hanya menatap mereka dengan mata kosong yang bersinar merah. “Tumbal,” suara itu menggema, tak berasal dari mulut siapapun. “Kau tak bisa lari.” Lila duduk di lantai, tubuhnya menggigil memeluk selimut basah yang masih meneteskan darah. Bima mondar-mandir di ruang tamu, mencoba berpikir jernih meski pikirannya terus dihantui suara-suara dari gudang. “Kita harus melakukan sesuatu,” kata Lila dengan suara gemetar. “Kita tidak bisa membiarkan ini terus terjadi. Arga... Arga masih di sana.” “Tapi bagaimana? Apa yang kita hadapi ini bukan... manusia,” jawab Bima, frustrasi. “Apa kau dengar suara itu? Mereka tahu segalanya tentang kita, Lila. Mereka tahu kelemahan kita.” Lila terdiam, pikirannya melayang pada cerita-cerita aneh yang pernah ia dengar dari para tetua desa. Tentang keluarga Wiratmaja yang, meski selalu kaya raya, membawa kematian bagi keturunannya. Tentang suara-suara di malam purnama dan bayi-bayi yang hilang tanpa jejak. Ia selalu menganggap itu hanya legenda, sampai sekarang. “Ada seseorang,” kata Lila akhirnya. “Pak Surya. Dia yang pernah menceritakan hal ini padaku dulu. Dia bilang kutukan ini nyata.” Pak Surya adalah tetua desa yang tinggal di ujung kampung, dikenal sebagai penjaga rahasia keluarga-keluarga lama. Bima awalnya enggan, tapi akhirnya menyerah pada desakan Lila. Rumah Pak Surya Di dalam rumah Pak Surya, bayangan dari lampu minyak menari-nari di dinding, menciptakan bentuk-bentuk aneh yang seakan bergerak sendiri. Udara di ruangan itu terasa berat, hampir sulit untuk bernapas. Lila memegang erat selimut berdarah yang ia bawa, tangannya gemetar tak terkendali. Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan wajah Pak Surya yang terlihat lebih tua dari usianya. Mata tuanya langsung menatap selimut di tangan Lila. “Kalian sudah terlambat,” katanya datar. “Tolong, Pak,” kata Lila memohon. “Kami harus menyelamatkan anak kami. Kami harus tahu cara menghentikan ini.” Pak Surya menghela napas panjang sebelum mempersilakan mereka masuk. Di dalam, ruangan itu dipenuhi aroma dupa yang menyengat. Di meja kayu, ada sebuah kitab tua dengan halaman yang terlihat rapuh. “Ini bukan hal baru,” kata Pak Surya, tangannya menunjuk kitab itu. “Kakek buyut kalian, Wiratmaja, membuat perjanjian dengan sesuatu yang seharusnya tidak disentuh manusia. Kekayaan dan kejayaan yang kalian nikmati datang dengan harga yang harus dibayar setiap purnama sempurna.” “Kenapa bayi?” Lila hampir tidak bisa mengendalikan emosinya. “Kenapa mereka mengambil yang tak berdosa?” “Karena darah bayi adalah yang paling murni,” jawab Pak Surya tanpa ragu. “Semakin tua tumbal, semakin lemah kekuatannya. Dan jika kalian menolak... mereka akan datang untuk seluruh keluarga kalian.” Bima mengepalkan tangannya. “Pasti ada cara untuk menghentikannya. Ritual atau apa pun itu.” Pak Surya terdiam lama sebelum akhirnya berbicara. “Ada. Tapi harganya mungkin lebih besar dari yang kalian bayangkan.” “Kalian tidak mengerti,” suara Pak Surya serak, nyaris seperti bisikan. “Kutukan ini tidak hanya menuntut darah. Ia menciptakan ikatan. Semakin dekat kalian dengan kebenaran, semakin dalam ia mencengkeram kalian.” Sebelum Bima bisa bertanya lebih jauh, pintu di belakang mereka berderit pelan, seperti ada seseorang yang mendorongnya. Lila menoleh cepat, tapi tidak ada apa-apa. Hanya kegelapan di luar, gelap yang terasa lebih pekat daripada biasanya. “Pak Surya, apa itu?” Bima bertanya dengan suara rendah, tubuhnya tegang. Pak Surya menatap pintu itu dengan ekspresi muram. “Mereka tahu kalian di sini. Semakin lama kita berbicara, semakin dekat mereka.” Suara langkah terdengar dari luar, perlahan, seperti seseorang berjalan di atas tanah berbatu. Langkah itu semakin mendekat, diiringi suara napas berat, seperti makhluk yang kehabisan udara. “Kita harus pergi,” bisik Lila, hampir menangis. “Belum,” Pak Surya berkata tegas. Ia membuka kitab tua di atas meja, jarinya menunjuk sebuah halaman yang penuh simbol aneh dan gambar yang menyerupai bayangan-bayangan di gudang. “Ini adalah satu-satunya cara. Kalian harus mencari tempat di mana perjanjian pertama dibuat. Kakek buyut kalian meninggalkan tanda, sebuah lingkaran yang terbuat dari darah. Di sana, kalian bisa memutuskan kutukan ini.” Sebelum ia sempat menjelaskan lebih jauh, lampu minyak tiba-tiba padam. Ruangan itu tenggelam dalam kegelapan total, hanya diterangi sedikit oleh cahaya bulan dari celah-celah jendela. Lila mencengkeram lengan Bima. “Apa yang terjadi?!” Kemudian, suara itu datang. Tangisan bayi, tapi kali ini lebih menyerupai jeritan. Jeritan itu bergema di seluruh ruangan, seakan datang dari setiap sudut. “Dia milik kami...” suara dalam itu menggema, penuh kebencian. Lila berteriak saat melihat sesuatu di sudut ruangan, bayangan besar, sama seperti yang ia lihat di gudang, kini berdiri diam, menatap mereka dengan mata merah menyala. Bayangan itu tak bergerak, tapi kehadirannya begitu kuat hingga udara di sekelilingnya terasa membeku. Pak Surya dengan cepat mencabut pisau kecil dari balik jubahnya, menggoreskan garis di telapak tangannya. Darah segar menetes ke lantai kayu. “Kalian harus pergi sekarang! Lingkaran ini akan menahan mereka sementara waktu.” “Bagaimana dengan Anda?” tanya Bima panik. “Jangan pikirkan aku. Kalau kalian ingin menyelamatkan anak kalian, temukan lingkaran darah itu sebelum purnama berikutnya.” Bayangan itu mulai bergerak, mendekat perlahan. Dengan langkah berat, Lila dan Bima lari keluar dari rumah, tapi suara jeritan terus mengikuti mereka. Di luar, bulan purnama terlihat lebih besar, memancarkan cahaya merah seperti darah. Di kejauhan, mereka mendengar suara langkah yang mengikuti bukan satu, tapi banyak, seperti seluruh desa mengejar mereka.Alice walked briskly to the parking lot as she drove out of the building in haste. Charles had called her more than a countless time. Seems he was getting impatient by the minute, at this point he is like a stray dog ready to bite of it's owners treasure. “ Will you at least just keep your cool? Huh” Alice says while answering his call. “ You don't get to rebel little one” the other end said disgusted by her tone. She chuckled dangerously as her eyes flickered into something different. “ You don't get to talk to me in that manner Charles. I'm still the one with the power here, Remember?”. Charles laughed hard leaving Alice confused for a second then his tone changed to something more profound, Alice could feel the chills running through her spine as she swallowed hard “ If you become an obstacle little one. I'll have no other option than to eliminate you” Alice eyes widened in disbelief. This person was supposed to be her love. She's carrying his child for God's sake. Ho
And as usual they went home while Robert drowned in the rhythm of her body movement as he held unto her waist like he was seeking for redemption. He longed for her body throughout the night till almost dawn. Alice knew at once that he would be so tired so she took her steps into the kitchen as she mixed the suppose drink plus his tiredness he wouldn't be able to detect the document in his hands. " Hey babe" Alice called out as she went beside him tapping him gently to avoid a death stare. Robert yawned tirelessly as he his gaze landed on Alice's body allowing her to gulp hard. " Brought something for you to drink. You seem really tired" She said without raising any suspicion, moving the cup to his hands as she took hers and sipped. " A juice? You shouldn't stress yourself love" he replied lovingly while sipping the drink without question. Of course he didn't suspect Alice and he had trusted her completely and moreover it's hard to get the secret to his company. Nobody
What is all this about? Huh.. Do you just go around calling all your celebrities babes?Robert said, the flames in his eyes couldn't go unnoticed but that explanation from him made him calm down a bit. “ I'm sorry Mr Robert” Gray said in the most calmest manner as he have Alice a knowing look before leaving the doctor's office. Alice heart beat skyrocketed with speed as her eyes wandered towards the doctor giving him a death stare so he could keep his mouth shut and ask no further question. “ Umm.. Please take your seat” The doctor gestured for them as it wasn't his business either and he proceeded to do what he was there for. He checked the health of the baby adb everything was fine. He only ordered that she took more fruits and at least eat well. The pregnancy wasn't hidden anymore as Alice gets to wear more baggy clothes to hide it from fans and paparazzi not until she gives birth.In Roberts office. “ I could go home Robert. Don't you think?”. “ No, the doctor said you need
In Roberts house Robert woke up staring at Alice with a bit of disgust in his eyes,he didn't know why but for some reason he just don't trust her anymore. His senses was begining to recover,he notices that these days he keeps comparing Alice to Irene which had never happened before. " Hey Babe. Good morning" Alice said yawning between as she looked at him with a sleepy voice. " Good morning" he replied in a manner which she wouldn't suspect him." How was your night?' he added. " It was one of the best night" Alice replied smiling halfway as she referred to last night. This made Robert chuckled a bit. " How about the baby?" he said caressing her womb gently. Alice felt warmth yet pity for Robert in her heart. " Never been better dear". she replied as she sat up, taking the water by the edge of the bed as she gulped it down her dry throat. " So I was thinking...umm... I'm free today and so how about we go for a check up like parents do. I've not been having
She was looking all fresh and rushed up compared to the day she met her. She was so glad that she could save the little kid— All thanks to her intuition. " Little Aurora" Irene called out on a still voice as she walked over and hugged her. Aurora beamed with smile like never before, she was be
Everybody knows Alice as Robert's boyfriend so she was given a special treatment as they knew that she had a very strong backing. Today in set was a very busy one for everybody, her reaction to the proposal stirred a lot of fans to her base which was a win win for Alice. " Good day director, S
She read all the articles concerning Alexander Blake but couldn't find anything related to women— is he keeping his fiance a secret?. She continued to scroll through and suddenly saw a post that made her burst into laughter— ALEXANDER BLAKE MIGHT BE GAY. The comment section was wild, some said.
Irene walked up to her scene as she met a very irritating scene in front of her. There were roses of flowers in Alice's hand and a few more close to her. She was feeling so shy at the moment and happy as she turned to the rest crew members who were giggling with her. Irene guessed that Robert would
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
レビューもっと