홈 / Romansa / My Hottest Daddy / Part 2 Insiden

공유

Part 2 Insiden

last update 게시일: 2026-09-11 14:10:50

Begitu pintu tertutup di belakangnya, Eve langsung merutuki dirinya sendiri dalam gumaman yang tak jelas, membenamkan wajahnya di bantalan sofa. Benaknya memutar kembali kejadian dua hari yang lalu. Tepatnya saat Andrew melamar Zoe di depannya.

“Ini yang kau bilang makan malam keluarga?” Tatapan Eve menajam pada Zoe yang duduk di seberang meja. Mengabaikan Andrew yang baru saja mengambil tempat di sebelah kirinya, tepat di samping Zoe.

“Tetap saja kau bagian keluarga kami. Zoe tidak mungkin melewatkan acara penting di hidupnya tanpamu.” Sintia membalas dengan suara lembut yang terlalu kentara dibuat-buat.

Eve melirik ke arah Andrew, yang tampak salah tingkah dan mengembalikan kotak cincin di tangannya kembali ke balik saku jasnya. “Sekarang kau mengakui perselingkuhan kalian?”

“Kita belum menikah, Eve.”

Eve mendengkus. Merogoh tasnya dan melempar cincin yang digunakan Andrew untuk melamarnya. “Ya, belum terlambat bagiku untuk lepas dari penderitaan menikahi pria sialan sepertimu.”

“Jaga ucapanmu, Eve,” sergah Andrew lebih dulu. “Inilah alasan aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Karena kau selalu ….”

Cairan merah di gelas yang dipegang Eve mengguyur muka Andrew. “Kita sudah putus dan akulah yang memutuskanmu karena kalian terpergok tidur di hotel. Oh, Zoe yang sengaja menyuruhku ke hotel.”

“A-apa kau bilang?” Mata Andrew melebar setelah mengelap wajahnya, sejenak melupakan kemarahannya pada Eve dan menoleh ke arah Zoe yang kepalanya langsung menggeleng dengan cepat.

“T-tidak seperti itu, Andrew. Aku hanya… kepalaku pusing dan aku memintanya mengantar obatku. Kau tahu …”

Eve mendengkus keras dan Sintia langsung menyela.

“Jangan merusak acara penting dan bahagia ini hanya karena kau masih belum melupakan mantanmu, Eve.” Sintia mengeluarkan sapu tangannya dan mengulurkan pada Andrew. “Lihatlah kelancangan dan ketidak sopanan yang kau lakukan pada seorang penerus Voss. Ini benar-benar penghinaan. Beruntung restoran ini menawarkan privasi yang tinggi sehingga tidak ada wartawan atau paparazi.”

“Itulah yang terjadi kalau anak kurang didikan ibunya,” lanjut Zoe.

Wajah Eve seketika membeku, tatapan tajamnya menusuk ke arah Zoe. “Kau bilang apa?”

“Apa aku salah?”

“Kau sangat beretika sehingga tidur dengan tunanganku? Oh, tampaknya kau sangat cerdas untuk meniru etika yang diajarkan ibumu dan tidur dengan suami orang, ya?”

Tamparan Sintia mendarat di pipi Eve, sebelum gadis itu sempat menutup mulut dan menghindar.

“Jaga ucapanmu, Eve,” tuding Sintia dengan wajah merah padam.

Eve membeku, rasa panas menjalar di seluruh permukaan wajahnya. “A-apa aku salah?” ucapnya mengulang kalimat Zoe dengan penuh penekanan.

“Cukup, Eve.” Andrew menyela. “Kau tahu seharusnya kau tidak datang sekalipun mereka mengundangmu. Itu hanya basa-basi karena kau masih keluarga mereka.”

Mata Eve mengerjap, mengurai air mata yang mulai menggenang di kelopak matanya. Kata-kata Andrew masih terasa menghujam dadanya meskipun setengah mati dirinya berusaha melupakan pria itu dalam tiga hari ini. Tapi apa yang bisa diharapkannya? Lima tahun hubungan mereka tidak mungkin dihapus dalam waktu tiga hari, kan?

“Kau benar. Seharusnya aku tidak usah repot-repot ikut bahagia sementara hatiku masih belum bisa melupakan lima tahunku yang terbuang sia-sia untuk pria sialan sepertimu, kan?”

“Kau …”

Eve melompat berdiri sambil memegang tepi meja. Mengangkatnya hingga meja tersebut terbalik. Piring, gelas, vas bunga, dan ponsel di atas meja jatuh berhamburan di lantai. “Kau yang berengsek sialan, Voss!” makinya di depan muka Andrew. “Sekarang, ini baru cukup. Ke depannya, kita tidak perlu saling bertatap muka meskipun sekedar basa-basi. Setuju?”

Wajah Andrew menggelap.

“Aku yang akan membayar semua kekacauan ini. Ayahku meninggalkan lebih dari cukup, berjaga-jaga kalau ada parasit yang akan mencuri hak anaknya.” Ujung mata Eve melirik ke arah Sintia. “Dia memang suami yang berengsek, tapi tidak cukup buruk untuk menjadi seorang ayah,” pungkas Eve sebelum membalikkan badan dan berhenti di depan meja pembayaran. “Aku juga mau itu,” ucapnya menunjuk botol anggur yang dipajang di rak kayu.

“Benar-benar anak durhaka,” geram Sintia yang berdiri di tengah kekacauan tersebut. Pandangannya masih mengarah pada punggung Eve yang kini menghilang di pintu restoran. Tetapi sudut bibirnya terangkat saat sudut matanya melirik ke samping. Pada Andrew yang kini sibuk dibersihkan wajahnya oleh Zoe dari cairan anggur.

“Lihat saja sampai kapan keangkuhan itu bertahan?” dengkus Andrew dengan wajah yang masih merah padam. “Setelah aku mengambil alih bisnis ayahku, hal pertama yang akan kulakukan adalah menghancurkan hidupnya.”

“Jangan terlalu keras, sayang.” Zoe menempelkan telapak tangannya di dada Andrew. Meskipun menampilkan ekspresi penuh iba, sudut bibirnya tersenyum dan matanya berkilat licik. “Dia hanya belum bisa melupakanmu. Sangat wajar, seseorang yang sempurna sepertimu sulit untuk dilupakan. Dia pasti menyesal karena tidak mungkin bisa menemukan pengganti yang lebih baik darimu.”

Seketika kemarahan di wajah Andrew berubah menjadi senyum semringah dan penuh kebanggaan. “Ya, kau benar.”

“Aku sangat beruntung bisa mendapatkan kasih sayangmu sebanyak ini.” Telapak tangan Zoe mengusap di dada Andrew dengan lembut. “Menjadi istrimu adalah hal terbaik yang pernah terjadi di hidupku.”

“Kalau begitu kita bisa secepatnya menikah. Besok?”

Zoe terkikik dan mengangguk dengan penuh semangat. Merangkulkan kedua lengannya di leher Andrew dan mencium pipi pria itu dengan lembut.

“Tidak, tidak bisa besok,” penggal Sintia. Membuat senyum Zoe seketika memudar. “Aku paham betapa tidak sabarannya kalian untuk menikah dan memastikan anak dalam kandungan Zoe lahir di dalam pernikahan yang sah. Tetapi tetap saja pernikahan kalian harus dilaksanakan dengan meriah. Sebagai perayaan untuk menyambut darah Voss, bukan?”

Andrew tampak mempertimbangkan sejenak lalu mengangguk. “Sepertinya ibumu benar, kita akan menikah dengan persiapan yang sempurna.”

“Dan ibu harus bertemu dengan ayahmu. Untuk membahas semuanya ini.”

“Baik, aku akan mengatur pertemuannya.”

“Semakin cepat semakin baik, Andrew.” Sintia menyembunyikan senyum semringahnya dengan sangat baik. Jika pernikahan Zoe dan Andrew berjalan dengan lancar, maka artinya dirinya bisa punya waktu lebih banyak untuk mendekati seorang Ronan Voss.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • My Hottest Daddy   Part 50 Menghindariku?

    “Aku hanya melewatkan makan malamku dan perutku mual.”“Tetap di tempatmu,” bentak Ronan saat kaki Eve bergerak turun, hendak menyentuh lantai. Tepat di atas pecahan gelas, yang beberapa pecahan sudah mengenai ujung jari kakinya. Eve membeku, menyadari kemarahan yang menguar dari tubuh Ronan. Menggigit bibir bagian dalamnya dan membiarkan Ronan mengangkat kakinya kembali ke atas tempat tidur.Ia hanya membeku di sana, hingga Ronan selesai membersihkan pecahan tersebut sendirian dan pelayan datang membawakan air madu hangat. Juga nampan makan paginya.Eve merasa lebih baik. Menghabiskan sarapannya hingga tak ada apa pun yang tersisa di piring dan gelasnya.“Sepertinya kau sangat kelaparan?”Eve mendongak, memandang Ronan yang berjalan keluar dari ruang ganti dan sudah rapi dengan setelan jas abu gelapnya. “A-aku tidak makan malam,” jawabnya sambil menghindari tatapan menelisik Ronan. “Dan tidak? Apa yang begit

  • My Hottest Daddy   Part 49 Tolong Mamaku

    “Kau bertemu kakakku?” Zoe menghadang Eve yang baru saja turun dari mobil. Senyum semringah membuat ekspresi wanita itu terlihat menggelikan.“Kenapa? Kau belum bertemu kakakmu? Atau kau tidak tahu dia sudah kembali?” Eve sengaja menabrakkan pundaknya hingga Zoe nyaris terjungkal.“Eve!” jerit wanita itu. “Apa tidak cukup kau membuatku kehilangan anakku, hah?”Langkah Eve terhenti. Rasa bersalah terhadap anak dalam kandungan Zoe yang tidak bersalah, seketika raib. Kepalanya masih pusing dan perutnya masih terasa mual. Tiba-tiba tenaganya habis dengan tanpa alasan.Garis dua yang menjadi hasil tes kehamilannya masih terbayang jelas di benaknya. Membuatnya semakin pusing dan emosi yang berusaha ditenangkannya sepanjang perjalanan pulang, kini melonjak dengan tiba-tiba. “Kau bilang apa?”Zoe berhenti di depan Eve. “Tidak cukup kau membunuh anakku?”Tangan Eve melayang, mendaratkan tamparan di pipi Zoe. “Jangan menggunakan

  • My Hottest Daddy   Part 48 Kesetiaan

               Eve tersentak bangun oleh dering ponsel milik Ronan. Bukan miliknya mendengar dari nada deringnya. Matanya membuka perlahan dan kedua lengan yang melilit tubuhnya di balik selimut membuatnya kesulitan bernapas. Tentu saja, nyaris setengah berat badan Ronan menimpanya.Tangannya perlahan mengangkat lengan Ronan dari pinggangnya di balik selimut. Hanya sedetik lengan Ronan terangkat, detik berikutnya lengan tersebut menarik tubuhnya lebih lekat dengan pria itu.“K-kau sudah bangun?”“Hmm.” Wajah Ronan tenggelam di cekungan leher Eve. “Sepertinya kau juga sudah bangun.”Eve menggeliatkan tubuhnya. Ronan sempat melonggarkan lilitannya, hanya untuk membalik tubuh Eve dan merangkak naik ke atas tubuhnya. “R-ronan?”Satu gerakan mengangkat kedua tangan Eve terpaku di atas kepala. Wajah Ronan membayang di atas wajahnya. Sementara tubuh pria itu menggantikan selimut tebal mereka. “Sepertinya kita sudah cukup beristir

  • My Hottest Daddy   Part 47 Berubah

    “Apa kau masih mencintaiku?”Eve terkesiap. Otaknya belum sempat mencerna pertanyaan tersebut saat tiba-tiba Airez menarik lengannya. Menutup jarak di antara bibir mereka. Eve merasakan bibir lembut Airez yang menyapu bibirnya, tepat sebelum pikiran warasnya mengingatkannya di mana mereka saat ini.Eve mendorong dada Airez dan membekap mulutnya. Lalu mengedarkan pandangan ke luar mobil. Beruntung posisi Arez memarkirkan mobil sedikit terhalang oleh pohin, sehingga petugas keamanan yang berjaga di pos tidak melihatnya.“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Airez bukan tak memahami kepanikan Eve. Senyum lembut masih terpasang di kedua sudut bibirnya sekalipun hatinya dibuat kesal oleh reaksi Eve. Wanita itu bukannya tersipu malu dengan ciumannya, malah panik seolah takut tertangkap basah oleh seseorang. Ck, seseorang, Ronan Voss tentu saja. Pria tua yang saat ini berstatus sebagai suami Eve.“Kau masih mencintaiku?” Airez tak menyerah untuk m

  • My Hottest Daddy   Part 46 Berselingkuh Di Depan Mata

    ‘Aku tunggu di bawah.’“Dari Airez?” Edith menarik kepalanya dan tubuhnya kembali tegak di sofa. Tertawa kecil saat Eve langsung menyembunyikan ponsel ke dalam tas.“Mobilku … di rumah.” Eve berpaling. Kenapa dia tidak berani menatap mata Edith? gerutunya dalam hati. “Akhirnya kesalah pahaman di antara kalian terluruskan?” Rain mengambil tempat di seberang meja. Mengangkat gelas sampanyenya. “Sekarang tidak ada lagi yang menghalangi cinta sejati kalian.”Pandangan Eve langsung tertuju pada Rain, yang mengulurkan gelas sampanye lainnya pada Edith dan dirinya. “Apa yang sedang kita rayakan?”Edith yang sudah mengangkat gelas di udara, menatap Rain. Mempertanyakan hal yang sama.“Setiap hari adalah perayaan bagi kita, kan?”Eve memutar kedua bola matanya. “Kau tahu tentangku sama seperti aku mengetahui semua hal tentang kau dan Edith, Rain.”“Ehm, mungkin untuk … hubunganmu dan Airez yang mulai membaik.”

  • My Hottest Daddy   Part 45 Tujuan Kembali

    “Anak angkat sekaligus anak tiri Adrian Virelle.”“Tampaknya bukan sekadar kakak angkat, apalagi kakak tiri.” Ronan melirik tangannya yang terkepal. Pada buku-buku jarinya yang tampak memutih, begitu kuat menghancurkan lembaran foto yang tak perlu dilihatnya lebih dari sedetik. Ia tahu dengan pasti itu adalah gambar Airez dan Eve yang saling berpelukan. Di lobi rumah sakit dan salah satu café yang ada di sekitar gedung apartemen Bellina, seperti yang dikatakan oleh ALaric. Lebih intim dibandingkan pelukan Eve dengan Rain.Ia pikir Airez dan Dimitri hanyalah segelintir pria yang berada di sekitar Eve karena keserakahan Sintia dan kebodohan seorang Andrian Virelle. Semakin ia menggali tentang Dimitri, semakin banyak fakta-fakta yang membuat terganggu.“Cari tahu hubungan Airez dan istriku. Lebih detail lagi.”Alaric mengangguk, berpapasan dengan Andrew yang baru saja melangkah masuk. Dengan berkas biru tua di tangannya.“Kukira kau men

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status