LOGINBegitu pintu tertutup di belakangnya, Eve langsung merutuki dirinya sendiri dalam gumaman yang tak jelas, membenamkan wajahnya di bantalan sofa. Benaknya memutar kembali kejadian dua hari yang lalu. Tepatnya saat Andrew melamar Zoe di depannya.
“Ini yang kau bilang makan malam keluarga?” Tatapan Eve menajam pada Zoe yang duduk di seberang meja. Mengabaikan Andrew yang baru saja mengambil tempat di sebelah kirinya, tepat di samping Zoe. “Tetap saja kau bagian keluarga kami. Zoe tidak mungkin melewatkan acara penting di hidupnya tanpamu.” Sintia membalas dengan suara lembut yang terlalu kentara dibuat-buat. Eve melirik ke arah Andrew, yang tampak salah tingkah dan mengembalikan kotak cincin di tangannya kembali ke balik saku jasnya. “Sekarang kau mengakui perselingkuhan kalian?” “Kita belum menikah, Eve.” Eve mendengkus. Merogoh tasnya dan melempar cincin yang digunakan Andrew untuk melamarnya. “Ya, belum terlambat bagiku untuk lepas dari penderitaan menikahi pria sialan sepertimu.” “Jaga ucapanmu, Eve,” sergah Andrew lebih dulu. “Inilah alasan aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Karena kau selalu ….” Cairan merah di gelas yang dipegang Eve mengguyur muka Andrew. “Kita sudah putus dan akulah yang memutuskanmu karena kalian terpergok tidur di hotel. Oh, Zoe yang sengaja menyuruhku ke hotel.” “A-apa kau bilang?” Mata Andrew melebar setelah mengelap wajahnya, sejenak melupakan kemarahannya pada Eve dan menoleh ke arah Zoe yang kepalanya langsung menggeleng dengan cepat. “T-tidak seperti itu, Andrew. Aku hanya… kepalaku pusing dan aku memintanya mengantar obatku. Kau tahu …” Eve mendengkus keras dan Sintia langsung menyela. “Jangan merusak acara penting dan bahagia ini hanya karena kau masih belum melupakan mantanmu, Eve.” Sintia mengeluarkan sapu tangannya dan mengulurkan pada Andrew. “Lihatlah kelancangan dan ketidak sopanan yang kau lakukan pada seorang penerus Voss. Ini benar-benar penghinaan. Beruntung restoran ini menawarkan privasi yang tinggi sehingga tidak ada wartawan atau paparazi.” “Itulah yang terjadi kalau anak kurang didikan ibunya,” lanjut Zoe. Wajah Eve seketika membeku, tatapan tajamnya menusuk ke arah Zoe. “Kau bilang apa?” “Apa aku salah?” “Kau sangat beretika sehingga tidur dengan tunanganku? Oh, tampaknya kau sangat cerdas untuk meniru etika yang diajarkan ibumu dan tidur dengan suami orang, ya?” Tamparan Sintia mendarat di pipi Eve, sebelum gadis itu sempat menutup mulut dan menghindar. “Jaga ucapanmu, Eve,” tuding Sintia dengan wajah merah padam. Eve membeku, rasa panas menjalar di seluruh permukaan wajahnya. “A-apa aku salah?” ucapnya mengulang kalimat Zoe dengan penuh penekanan. “Cukup, Eve.” Andrew menyela. “Kau tahu seharusnya kau tidak datang sekalipun mereka mengundangmu. Itu hanya basa-basi karena kau masih keluarga mereka.” Mata Eve mengerjap, mengurai air mata yang mulai menggenang di kelopak matanya. Kata-kata Andrew masih terasa menghujam dadanya meskipun setengah mati dirinya berusaha melupakan pria itu dalam tiga hari ini. Tapi apa yang bisa diharapkannya? Lima tahun hubungan mereka tidak mungkin dihapus dalam waktu tiga hari, kan? “Kau benar. Seharusnya aku tidak usah repot-repot ikut bahagia sementara hatiku masih belum bisa melupakan lima tahunku yang terbuang sia-sia untuk pria sialan sepertimu, kan?” “Kau …” Eve melompat berdiri sambil memegang tepi meja. Mengangkatnya hingga meja tersebut terbalik. Piring, gelas, vas bunga, dan ponsel di atas meja jatuh berhamburan di lantai. “Kau yang berengsek sialan, Voss!” makinya di depan muka Andrew. “Sekarang, ini baru cukup. Ke depannya, kita tidak perlu saling bertatap muka meskipun sekedar basa-basi. Setuju?” Wajah Andrew menggelap. “Aku yang akan membayar semua kekacauan ini. Ayahku meninggalkan lebih dari cukup, berjaga-jaga kalau ada parasit yang akan mencuri hak anaknya.” Ujung mata Eve melirik ke arah Sintia. “Dia memang suami yang berengsek, tapi tidak cukup buruk untuk menjadi seorang ayah,” pungkas Eve sebelum membalikkan badan dan berhenti di depan meja pembayaran. “Aku juga mau itu,” ucapnya menunjuk botol anggur yang dipajang di rak kayu. “Benar-benar anak durhaka,” geram Sintia yang berdiri di tengah kekacauan tersebut. Pandangannya masih mengarah pada punggung Eve yang kini menghilang di pintu restoran. Tetapi sudut bibirnya terangkat saat sudut matanya melirik ke samping. Pada Andrew yang kini sibuk dibersihkan wajahnya oleh Zoe dari cairan anggur. “Lihat saja sampai kapan keangkuhan itu bertahan?” dengkus Andrew dengan wajah yang masih merah padam. “Setelah aku mengambil alih bisnis ayahku, hal pertama yang akan kulakukan adalah menghancurkan hidupnya.” “Jangan terlalu keras, sayang.” Zoe menempelkan telapak tangannya di dada Andrew. Meskipun menampilkan ekspresi penuh iba, sudut bibirnya tersenyum dan matanya berkilat licik. “Dia hanya belum bisa melupakanmu. Sangat wajar, seseorang yang sempurna sepertimu sulit untuk dilupakan. Dia pasti menyesal karena tidak mungkin bisa menemukan pengganti yang lebih baik darimu.” Seketika kemarahan di wajah Andrew berubah menjadi senyum semringah dan penuh kebanggaan. “Ya, kau benar.” “Aku sangat beruntung bisa mendapatkan kasih sayangmu sebanyak ini.” Telapak tangan Zoe mengusap di dada Andrew dengan lembut. “Menjadi istrimu adalah hal terbaik yang pernah terjadi di hidupku.” “Kalau begitu kita bisa secepatnya menikah. Besok?” Zoe terkikik dan mengangguk dengan penuh semangat. Merangkulkan kedua lengannya di leher Andrew dan mencium pipi pria itu dengan lembut. “Tidak, tidak bisa besok,” penggal Sintia. Membuat senyum Zoe seketika memudar. “Aku paham betapa tidak sabarannya kalian untuk menikah dan memastikan anak dalam kandungan Zoe lahir di dalam pernikahan yang sah. Tetapi tetap saja pernikahan kalian harus dilaksanakan dengan meriah. Sebagai perayaan untuk menyambut darah Voss, bukan?” Andrew tampak mempertimbangkan sejenak lalu mengangguk. “Sepertinya ibumu benar, kita akan menikah dengan persiapan yang sempurna.” “Dan ibu harus bertemu dengan ayahmu. Untuk membahas semuanya ini.” “Baik, aku akan mengatur pertemuannya.” “Semakin cepat semakin baik, Andrew.” Sintia menyembunyikan senyum semringahnya dengan sangat baik. Jika pernikahan Zoe dan Andrew berjalan dengan lancar, maka artinya dirinya bisa punya waktu lebih banyak untuk mendekati seorang Ronan Voss.Pagi Eve belum pernah terasa begitu melegakan sejak dirinya memergoki Andrew di hotel bersama Zoe. Pun kelegaan itu hanya beberapa saat saja, ketika suara dering ponsel di nakas mengalihkan pandangannya dari dinding kaca. “Di bawah?” Eve melompat turun dari ranjang, nyaris terjungkal ke depan karena terserimpet selimut. ‘Kau baik-baik saja?’ “Y-ya.” Eve akhirnya berdiri dengan kedua kakinya dan berjalan menuju lift. “T-tapi kenapa kau ada di bawah?” ‘Kenapa? Aku sudah mengatakan akan menjemputmu besok pagi, kan?’ Mata Eve terpejam dan telapak tangannya menempel di atas kepala. “Y-ya, aku lupa. Aku turun sebentar lagi, beri aku lima menit.” ‘Oke.’ Tepat setelah Ronan menyelesaikan jawaban singkat pria itu, Eve mendengar denting lift dan pintu lift di depannya bergeser terbuka. Tubuh Eve membeku. “Hanya lima menit?” Ronan menurunkan ponselnya. “Bukan lima menit sepuluh detik? Atau dua puluh detik lagi? Aku tak keberatan …” Eve tersadar, mundur ke belakang dan kedua lenganny
“Kau tahu dia ayahku?” “Sekarang aku tahu.” Tangan Eve mendorong dada Andrew menjauh. “Dan balas dendam? Kau sudah tak cukup berarti untuk mendapatkan perhatianku sebesar ini, Andrew.” “Tak cukup berarti kau bilang? Hanya sebatas ini lima tahun hubungan kita bagimu?” Eve tertawa mengejek. “Hanya sebatas ini bagimu hingga kau mencampakkanku dengan cara pengecut seperti ini! Kau tak punya hak untuk mendikteku harus dengan cara apa aku memandang hubungan kita, pengecut.” Andrew sempat terpaku dengan semburan kata-kata Eve yang mengena tepat di dadanya. Kedua tangannya mengepal kuat dan rahangnya masih mengeras. “Dia ayahku.” “Lalu?” “Lalu kau bilang?” Eve membuang mukanya. Ia tahu kesepakatan rencananya dan Ronan akan membuatnya terus berada di sekitar Andrew. “Kau bilang tak akan muncul di hidupku lagi.” Eve mendengkus keras. “Aku bilang, kita tak perlu repot bertatap muka dan berbasa-basi. Seperti sekarang.” Andrew menggeram. “Kita tidak bisa saling mengabaikan kalau kau ben
Mata Eve perlahan terbuka, bersama ingatan yang samar-samar mulai jelas di kepalanya. Berita, ibu tirinya yang ingin mengusirnya keluar negeri seperti lima tahun yang lalu. Mulutnya yang dibekap dan …Eve terlonjak hingga duduk dan napasnya dengan keras. Kepalanya bergerak ke samping dan menemukan dirinya tengah berbaring di sofa panjang. “D-di mana aku?” tanyanya pada satu-satunya pria yang berdiri di samping dinding kaca dengan posisi memunggunginya.Kedua kakinya melompat turun, mencari satu-satunya pintu yang ada di ruangan luas tersebut. Apakah ia sudah sampai di negara mana pun yang dipilih Sintia secara acak untuk membuangnya?“Buka pintunya!” teriak Eve menemukan pintu yang dikunci. Tubuhnya berputar mengarah pada pria berjas hitam. Yang kini berputar menghadap gadis itu. Raut Eve seketika membeku. “K-kau?”Ronan menurunkan ponsel dari telinganya. “Kau sudah siuman?”“Di mana ini?”“Masih di bandara. Salah satu VIP Room.”Eve kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka.
“Lepaskan, Ben. Lepaskan, Josh. Kalian lupa siapa yang paling berhak memerintah di rumah ini, hah? Ayahku yang mempekerjakan kalian!”“Maafkan kami, Nona. Kami hanya …”“Kau benar-benar akan melakukan ini padaku?”“Nona …”Eve membungkuk dan menggigit punggung tangan Ben, tetapi Josh berhasil kembali menangkapnya.“Jangan biarkan dia lepas, Josh!” teriak Sintia yang baru saja keluar dari dalam rumah. Di belakangnya Zoe memerintah pada pelayan untuk mengambil tali.“Tutup mulutnya. Sangat berisik,” perintah Sintia, berhenti di depan Eve. Yang menggeliat berusaha lepas dari cekalan Ben dan Josh. Kedua pria itu mengambil sapu tangan yang diulurkan Sintia dan membekapkannya ke mulut Eve.Setelah mulut dan kedua tangannya terikat, Eve didorong masuk ke dalam jok belakang.“Aku mengikuti dari belakang. Kita ke bandara.” Sintia mengambil kunci mobil yang diulurkan pengawal. “Aku harus memastikan orangku melakukan tugasnya dengan baik.”“Ma, aku ingin ikut.” Zoe menyusul langkah Sintia menuju
“Apa ini, Ayah?” Andrew membanting tablet di tangannya ke meja makan. “Kenapa semua omong kosong ini muncul di pemberitaan? Dan sejak kapan ayah berhubungan dengan Eve? Aku bahkan tidak tahu kalian saling mengenal.”Ronan melirik benda pipih yang kini terkena cipratan dari jus jeruk yang tumpah di samping kirinya. Tak perlu melihat, apalagi membaca pemberitaan yang tengah beredar di luar sana. Semuanya pasti berjalan dengan sempurna setelah dirinya memberikan perintah pada Alaric dan Jack. “Kenapa? Ada masalah?”“Aku tak pernah mempermasalahkan siapa wanita yang berhubungan denganmu, tetapi Eve? Dia tunanganku. Tunangan anakmu.”“Mantan tunangan,” koreksi Ronan. Meletakkan cangkir kopinya dan bersandar pada punggung kursi. Sedikit mengangkat wajah untuk menatap langsung keponakannya tersebut. “Selain itu, kau memang tak berhak mempermasalahkan hubunganku dengan wanita mana pun. Termasuk ibumu.”Mata Andrew berkedip dan ekspresi wajahnya membeku.“Kaupun tak peduli semua orang membicar
“Menyelamatkan reputasi Anda?” Eve mengulang. Masih mencerna apa yang baru saja diucapkan oleh pria matang di depannya. Gestur tubuhnya tampak santai dan seolah pembicaraan ini memang sudah direncanakan dengan sempurna. “Pernikahan?”Ronan mengeluarkan ponsel dari balik saku jasnya. Menunjukkan video yang sama yang dikirim oleh Rain beberapa saat yang lalu. ‘Gadis binal, yang mengejar pria matang demi keuntungan.’‘Mungkin pengaruh kurang kasih sayang karena ayahnya yang sudah meninggal.’Eve tak ingin membayangkan pemberitaan yang menyebar di luar sana karena video pengakuan Sintia. “Aku tak pernah bermain-main dengan sebuah hubungan. Tetapi mereka mengatakan aku mempermainkan gadis polos -yang sekarang menjadi gadis binal-.”Wajah Eve memerah, genggamannya pada dokumen di pangkuannya mengeras. Sudah bagus identitanya tersembunyi karena wajahnya yang tidak tertangkap kamera, wanita sialan itu sekarang malah memperkenalkannya pada seluruh negeri. “Kurasa kita hanya perlu memberikan







