LOGINKaisar tidak membukakan pintu mobil untuk James karena pria itu sudah keluar terlebih dahulu begitu ban mobil berhenti tepat di depan pintu lobi hotel.Meskipun Kaisar sudah ikut keluar dari mobil, tapi tidak menyusul karena James tidak memintanya untuk mengikuti. Tangannya sempat bergerak hendak membuka pintu mobil.Namun, Kaisar mengurungkan niat. Dia menoleh, lantas tidak melepaskan pandangannya dari punggung James. Entah kenapa, benaknya merasa ingin ikut menuju lantai lima, tempat di mana Ayu berada. Sepertinya, karena dia takut gadis muda itu akan disakiti oleh James seperti terakhir kali.Di kamar, Ayu terbangun dari tidurnya. Padahal, dia pulang dari club tadi tengah malam, tapi matanya malah terbuka saat hampir Subuh begini.Ayu mengusap wajah.Matanya terasa perih. Kantuk masih menggantung berat di kelopak matanya.Gaun tidurnya melorot sedikit di bahu kanan, tali yang kendur menjuntai turun, namun ia tak peduli.Gadis itu berjalan keluar dari kamar menuju kulkas kecil yang
Malam itu, napas Fe terdengar tenang dan teratur. Lembut bahkan hampir tidak terdengar. Di antara kamar yang remang, punggungnya yang berirama mengayun lamban. James berdiri di sisi tempat tidur, menatap wajah istrinya yang tertidur pulas. Untuk beberapa detik, ia hanya diam. Tatapannya berhenti pada wajah Fe yang terlihat begitu damai, jauh berbeda dari dirinya yang sejak tadi diburu berbagai persoalan.Perlahan, James menarik selimut hingga menutupi bahu wanita itu. Karena dia tidak berniat membangunkannya.Langkahnya pun diatur setenang mungkin saat meninggalkan kamar. Pintu ditutup tanpa suara, seakan sedikit saja bunyi yang tercipta bisa mengganggu tidur Felicia.Begitu berada di luar, ekspresi James berubah.Ponselnya masih menampilkan pesan dari Kaisar.‘Ada penghalang di lokasi proyek. Warga memasang pagar seng. Ekskavator tidak bisa masuk.’Rahang James mengeras.Perumahan itu sebagian besar sudah masuk dalam kepemilikannya. Proses pengosongan memang belum sepenuhnya selesai
Angin sore membelai lembut rambut Fe yang terurai di kebun belakang. Ia sedang memetik bunga mawar merah, bunga kesukaan Wilona, saat suara deru mesin mobil mendekat memecah kesunyian.Kepalanya menoleh perlahan, dan seketika senyum tipis mengembang di bibirnya saat mengenali mobil itu. Mobil yang dikendarai Bojes itu pun melambat, berhenti di halaman samping, dan pintu terbuka. Wilona melompat turun dengan riang, rambutnya bergoyang-goyang mengikuti langkah kecilnya yang berlari.“Mama!” seru gadis kecil itu, langsung memeluk pinggang Fe erat-erat.Fe berjongkok, menyambut pelukan putrinya sambil mencium keningnya. “Sudah pulang, Sayang? Hari ini menyenangkan di sekolah? Ada cerita apa aja?”“Banyak banget, Mama! Nanti Wilona ceritakan ya!”Pengasuh yang sudah menunggu di dekatnya segera mendekat, tangan terulur lembut. “Ayo, Nona Wilona, kita ganti baju dulu.”Fe melepaskan pelukan perlahan, mengusap pipi putrinya sekali lagi sebelum menyerahkan Wilona. “Duluan ke kamar, Sayang. M
Setelah duduk berjam-jam menatap layar yang tidak menampakkan apa-apa selain sudut ruang kerja yang tenang, akhirnya Randy bangkit. Ia mematikan perangkat itu perlahan, menyadari tidak ada gerakan mencurigakan, ataupun sosok asing yang masuk. Yang pasti, belum ada petunjuk baru yang bisa ia tangkap. Langkahnya terasa berat saat melangkah keluar kamar, menuruni lorong yang mulai dipenuhi aroma masakan yang berasal dari ruang makan. Perutnya sendiri seolah lupa minta makan, tapi ia harus minum obat demi kesembuhannya. Baru sampai di ambang pintu ruang makan, ia melihat Bojes berlari mendekat, napasnya memburu, wajahnya juga pucat. Randy langsung mengulurkan tangan, menahannya.“Ada apa?” tanyanya pelan, namun matanya menajam.Bojes tidak menjawab. Ia bergegas melewati meja makan, langsung meraih remote di meja depan televisi, menyalakan televisi dengan tangan yang sedikit gemetar. Suara berita yang keluar membuat percakapan di ruangan itu seketika terhenti.Santi yang baru membawa p
Dengan langkah yang tegas, James melangkah lurus melewati ruang tamu, seakan tak ada satu pun yang layak dihentikan di sana, lalu terus berjalan menuju ruang keluarga. Suara sepatunya terdengar keras. “Sayang… kenapa ke sini?” Fe segera bangkit dari duduknya, menyambut suaminya, lalu tangannya mendarat di lengan pria itu. “Aku dapat laporan kamu datang ke sini karena Morgan pulang,” ucap James datar, matanya menyapu ruangan sekilas. “Ternyata, memang benar.” Jantung Fe berdebar kencang. Ia menoleh spontan ke arah Randy, yang berdiri agak di belakang, tapi langsung memalingkan wajah ketika tatapa mereka bertemu.‘Jadi, dia memilih untuk melaporkan yang ini.’“Duduk dulu, James,” ajak Desy, suaranya terdengar canggung, berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi kaku. James menggeleng pelan, senyum tipis yang terukir di bibirnya justru membuat dada sesak. “Tidak usah, Ma.” Ia menatap Fe lurus-lurus. “Kami pulang sekarang.”Tatapan itu tajam, dingin. Sontak saja Fe melepas
Desy meletakkan cangkirnya perlahan, matanya lekat mengawasi Morgan yang baru saja kembali ke ruangan. “Seharusnya kamu nggak boleh gitu sama pengwal Fe, Morgan,” tegur Desy, suaranya lembut namun sarat akan teguran seorang ibu. Ia sudah menahan kalimat itu di ujung lidah sejak Fe melangkah masukFe duduk di samping Desy sambil mengambil tehnya. “Iya. Dia itu sudah menyelamatkanku, Kak. Nggak seharusnya dia dapat sikap kasar dari Kakak.”Di seberang mereka, Morgan menjatuhkan bobot tubuh kekarnya di ujung sofa kulit. Ia menyandarkan punggung dan melipat lengan di dada. “Aku cuma tidak suka sama dia.”Fe mendengus pelan. “Memangnya ada laki-laki di sekitarku yang pernah Kakak suka?” Pertanyaan itu lebih terdengar seperti sindiran. Sejak dulu, Morgan memang terlalu protektif padanya.“Bahkan sama James pas muda juga dia nggak suka. Kamu ingat nggak, Pa, pas kita dipanggil ke sekolah karena dia dianggap membully James?”Bola mata Fe membesar. Dia langsung menatap sang Kakak. Informasi
“Bu, biar Saya yang nyetir.” Rambe, begitu rekan-rekan kerjanya yang sesama sekuriti, pengawal, atau pelayan di rumah ini memanggilnya. Badannya cukup besar, wajahnya tampak keras, tapi sorot matanya cukup lembut. Makanya, dia tidak cocok beradu debat dengan Felicia seperti ini, sudah kelihatan has
“Aku tidak mau menikah dengannya, Ma!”Teriakan Felicia memenuhi ruangan keluarga tanpa sekat itu.Mama dan Papa yang duduk di sofa hijau emerald setengah lingkaran terkejut mendengar penolakan anak ketiga mereka.Kakak sulung Felicia, yang sejak tadi hanya mengamati dari lantai dua, akhirnya turun
Keriput di wajah wanita bergaun putih yang menjuntai hingga mata kaki itu bergerak ketika ia melirik ke arah leher Felicia. Berhenti untuk beberapa detik. Kemudian bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, sebuah senyum yang lebih menyerupai ejekan.Felicia tak menyadari tatapan itu. Ia sibuk memp
Derap sepatu kulit Italia menghentak lantai marmer, menggema panjang di lorong rumah itu. Setiap langkahnya sarat amarah, menuju pintu kaca berbingkai kayu tebal di ujung sana yang tak lain adalah satu-satunya tujuan James sore ini.Gesekan setelan jas yang membalut tubuhnya dengan sempurna menanda







