بيت / Romansa / My Obsessive Boss / 1. Malam yang Takkan Terlupakan

مشاركة

My Obsessive Boss
My Obsessive Boss
مؤلف: Black Aurora

1. Malam yang Takkan Terlupakan

مؤلف: Black Aurora
last update تاريخ النشر: 2026-08-02 00:38:48

"Pintu keluarnya di sebelah sana."

Rania pun sontak tertegun kala mendengar suara maskulin bernada tajam itu, ketika ia baru saja keluar dari kamar mandi.

Sekujur tubuhnya masih terasa letih, pun bagian bawah tubuhnya yang nyeri tak tertahankan.

Namun hanya satu hal yang membuatnya menggigil karena takut, yaitu sosok jangkung yang sekarang sedang berdiri menghadang dirinya.

Wajah tampan dan ramah yang selama ini diam-diam sering Rania lamunkan, kini tampak dingin dan tak terbaca.

Tubuh tinggi dan liat itu hanya mengenakan celana panjang dan bath robe yang yang tidak diikat di bagian pinggangnya, hingga tak pelak menampilkan otot-ototnya yang tampak kuat namun ramping sekaligus indah.

Pria itu, Abiyya Prasetya.

Rania pun mengerjap pelan, mencoba untuk mengusir dampak yang ditimbulkan oleh pria yang sekarang sedang menatapnya tajam.

"Kenapa diam saja? Apa kamu menunggu pertanggungjawaban dariku?" Ucap si pria dengan satu sudut bibirnya yang melekuk naik melukiskan sebuah seringai samar.

Rania menggeleng pelan. Tidak, ia tidak akan pernah meminta apa pun dari pria ini.

"Semalam itu, aku juga ikut bersalah karena mabuk dan... mengakibatkan semua ini terjadi," ucap Rania dengan nada yang sangat pelan hingga nyaris tak terdengar.

Rania mendongak, menatap manik gelap Abiyya yang menyorotnya dalam diam, seolah masih menunggu perkataan selanjutnya darinya.

"Jadi aku tidak akan meminta pertanggungjawaban apa pun dari Pak Abiyya. Tenang saja."

Usai mengucapkan kalimat yang sesungguhnya membuat sesuatu di dalam dirinya serasa tercabik, Rania pun berjalan melewati Abiyya yang masih tegak dan diam membisu.

Gadis itu telah mandi dan mengenakan bajunya kembali. Baju yang semalam juga ia kenakan dalam sebuah acara perayaan ulang tahun Abiyya, yang lalu malah berakhir di kamar ini dan... bersama bosnya.

"...Rania Puspita."

Suara berat dan dalam itu kembali membuat langkah Rania terhenti dengan jantung yang semakin berdebar.

Ia sungguh tak menyangka jika Abiyya mengetahui nama lengkapnya, karena selama ini Rania merasa lebih mirip makhluk yang tak terlihat bagi Abiyya.

Abiyya adalah bosnya di tempat Rania bekerja.

Pria itu pemilik sebuah cafe yang bernama The Journal, dimana Rania juga bekerja sebagai waitress di sana.

"Ya, Pak Abiyya...?"

Untuk sejenak, Abiyya terdiam seraya menatap lekat Rania.

Mengamati bagaimana Rania berjalan dengan langkah sedikit tertatih seolah sedang menahan sakit... yang membuatnya memaki dirinya sendiri dalam hati, karena merasa itu adalah akibat dari sikap beringasnya kepada Rania semalam.

"Ambillah cuti untuk hari ini," cetus Abiyya, beberapa saat setelah keheningan tercipta.

"Dan jangan khawatir, gajimu tidak akan kupotong. Namun besok, kamu harus bekerja dua shift sebagai penggantinya."

Rania merasakan sesak yang sejak tadi melanda dirinya, kini terasa semakin hebat.

Semula gadis itu mengira jika akhirnya Abiyya akan mengucapkan sesuatu yang lebih peka tentang apa yang terjadi semalam, namun ternyata yang Abiyya pikirkan hanyalah masalah pekerjaan??

Lalu... bagaimana dengan dirinya??

Rania yakin jika Abiyya mengetahui bahwa dirinya adalah gadis yang masih perawan, sebelum Abiyya merampas kesuciannya semalam.

Rania juga sadar diri jika ia pun turut bersalah, karena telah larut dan terhanyut dalam rayuan Abiyya akibat efek alkohol yang mempengaruhi akal sehatnya.

Tapi kini dirinya sudah tidak utuh lagi sebagai wanita, dan apakah Abiyya memang setidak-peduli itu??

"Baik, Pak. Terima kasih untuk jatah cutinya."

Dan Rania pun akhirnya hanya bisa mengucapkan sederet kalimat yang diucapkan dengan nada yang sama kakunya dengan wajahnya.

Sungguh. Hilang sudah seluruh rasa kagum yang dulu Rania rasakan kepada pria ini.

Abiyya yang sangat tampan, ramah, tipe problem-solver dan memiliki pemikiran-pemikiran visioner serta cerdas.

Pemimpin yang tidak sok kuasa, juga mudah didekati oleh siapa saja.

Abiyya yang dulu begitu sempurna di mata Rania, dan sering kali gadis itu berharap bahwa suatu hari akan datang saatnya ketika bosnya itu akan melirik dirinya.

Menyadari keberadaan sosok Rania, dan kemudian... ah, sudahlah.

Sekarang Rania telah sadar, bahwa semua khayalannya itu adalah semu. Abiyya adalah manusia biasa, yang juga tak luput dari kekurangan sama seperti dirinya.

Maka Rania pun memilih untuk pergi, membawa serta semua rasa perih ini sendiri.

"Kalau begitu, aku pamit dulu, Pak Abiyya. Selamat pagi."

"Rania, tunggu."

***

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
تعليقات (1)
goodnovel comment avatar
Colin
ahh Pak Abiyya, anda sungguh kejam.....
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • My Obsessive Boss   29. Jangan Merintih

    Cintya terpaku di tempatnya, tubuhnya gemetar hebat seolah baru saja ditampar. Kata-kata terakhir Abiyya itu bukan sekadar peringatan, itu adalah ancaman yang disampaikan begitu tenang dan halus, hingga justru membuat bulu kuduk meremang. Ia menatap punggung pria itu yang berjalan menjauh tanpa menoleh sedikit pun, seolah-olah keberadaannya tak lebih dari debu yang tak layak dipedulikan.Namun karma itu tak berhenti di sana. Sore harinya, saat acara berakhir, kabar buruk itu datang beruntun seperti ombak yang menghantam karang. Pertama, ia mendapat notifikasi resmi dari kantor bahwa ia telah dipindahkan ke cabang terjauh di luar pulau, sebuah posisi yang jelas-jelas merupakan pengasingan tersembunyi karena dianggap merusak nama baik perusahaan. Dan Abiyya-lah sosok di balik mutasi Cintya, dengan mengancam akan memviralkan rekaman itu jika Cintya tidak diberikan punishment yang berat. Belum sempat Cintya memproses kabar tentang rencana mutasinya, rekan bisnis yang selama ini ia a

  • My Obsessive Boss   28. Pikirkan Baik-baik

    Abiyya masih berdiri di tempatnya.Tatapannya mengikuti wanita itu yang kini telah kembali ke meja bersama beberapa rekannya.Namun hanya beberapa detik. Setelahnya, ekspresi pria tersebut berubah seperti tidak terjadi apa-apa.Ia menarik napas pelan, kemudian berbalik.“Kirby.”Kirby yang sedang mengumpulkan pecahan kaca segera menoleh. “Iya, Pak?”“Pastikan tidak ada pecahan yang tertinggal. Dan segera ganti minuman yang tumpah tadi.”Kirby mengangguk. “Baik, Pak.”Abiyya kemudian menepuk ringan bahu salah satu staf yang sedang membantu.“Jangan tegang. Lanjutkan saja pekerjaannya.” Nada suaranya kembali hangat sama seperti sebelumnya.“Acara ini masih panjang. Jangan sampai satu kejadian kecil mengacaukan semuanya.”“Baik, Pak.”Beberapa staf mengangguk dan kembali bekerja.Abiyya pun berjalan menuju salah satu pimpinan perusahaan yang sejak tadi memperhatikannya.“Maaf membuat acara sedikit terganggu," ucap Abiyya sambil tersenyum.Pria itu langsung menggeleng. “Tidak masalah, Pak

  • My Obsessive Boss   27. Jangan Sakiti Orang Yang Aku Lindungi

    Rania menggeleng pelan, masih sedikit terkejut. "Tidak... tidak, Pak. Saya tidak apa-apa."Abiyya mengangguk, namun tatapannya tak beralih sedikit pun dari wanita angkuh yang berada di hadapannya. Suasana di sekitar mereka seketika terasa lebih berat, seolah udara pun ikut menegang. Beberapa tamu yang tadinya sibuk berbicara kini mulai melirik ke arah mereka, menyadari ada sesuatu yang tak beres."Kalau begitu," suara Abiyya terdengar rendah namun sangat jelas untuk didengar oleh siapa pun yang berdiri di dekatnya, "Bisa Ibu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi?"Wanita itu yang sedari tadi memasang wajah kesal, seketika terdiam. Ia mempertahankan senyum sinisnya, namun ada getaran tidak yakin di matanya. "Apa yang harus dijelaskan? Gadis itu sendiri yang menabrakku. Aku sudah bilang, kan?""Begitu?" Abiyya memiringkan kepalanya sedikit, tatapannya tetap tenang namun tajam. "Padahal dari tempat saya berdiri tadi, saya bisa melihat dengan jelas jika Ibu yang bergerak mundur se

  • My Obsessive Boss   26. Kekacauan Di Siang Hari

    Siang harinya, suasana di The Journal Cafe berubah jauh lebih sibuk dari biasanya.Salah satu perusahaan besar menyewa seluruh area restoran untuk mengadakan acara internal. Meja-meja telah ditata ulang, dekorasi dipasang di beberapa sudut ruangan, sementara para waiter dan waitress hilir-mudik membawa makanan serta minuman untuk para tamu.Rania bahkan hampir tidak sempat menarik napas."Meja tujuh minta tambahan air mineral!""Yang di dekat panggung minta tiga kopi!""Rania, tolong antarkan ini ke meja dua belas!" Suara Kirby terdengar dari kejauhan."Siap!" Rania segera mengambil nampan berisi beberapa gelas minuman dan berjalan menuju meja yang ditunjuk.Di sisi lain ruangan, Abiyya juga sedang sibuk.Sebagai manajer pimpinan, ia harus memastikan acara itu berjalan dengan lancar. Sesekali ia berbincang dengan pimpinan perusahaan yang menyewa The Journal, tersenyum ramah, bahkan sesekali tertawa kecil bersama mereka.Tak ada seorang pun yang akan menyangka bahwa pria yang tampak

  • My Obsessive Boss   25. Simbol Perdamaian

    “Kenapa melihatku seperti itu, Rania?” Pertanyaan Abiyya terdengar sederhana, namun entah mengapa, bagi Rania, kalimat itu justru terasa seperti jebakan. Rania menelan ludah, lalu segera mengalihkan pandangan. "...A-aku tidak melihat Bapak..." Abiyya menaikkan satu alisnya. “Bukankah sejak tadi kamu menatapku?” “Itu... tidak sengaja.” “Begitu?” Rania mengangguk cepat. “Iya.” Rasanya sekarang darah Rania serasa membeku di saat itu juga, ketika mengingat kembali kalimat Abiyya sebelumnya. ((Cecunguk seperti mereka masih beruntung dibiarkan hidup)) Saat Rania menatap wajah pria itu yang tampak begitu tenang, begitu sempurna, namun ada sesuatu yang ganjil di bola mata gelap Abiyya... ... seperti ada kilatan dingin yang sama seperti saat ia memegang gergaji mesin semalam. Dan tiba-tiba saja imajinasi Rania melesat liar ke arah yang paling buruk. Tiga orang itu dipukuli sampai patah tulang, jari dan telinga dipotong... Apa... Apa Pak Abiyya yang... Ya Tuhan.

  • My Obsessive Boss   24. Apakah Dia Yang melakukannya?

    Rania buru-buru menyambar paper bag itu dan menyembunyikannya di balik punggungnya dengan wajah yang sudah merah padam. "Hei, bukan! Kata siapa ini hadiah dari seorang pria? Jangan asal tuduh!" serunya, berusaha terdengar santai padahal jantungnya kini tengah berpacu liar. "Aku... aku beli sendiri! Kebetulan lihat dan bagus, jadi ambil saja." Kirby pun semakin membelalakkan matanya, menunjuk ke arah paper bag hitam yang sebagian masih terlihat. "Beli sendiri? Ran, itu logo butik ternama di pusat kota, lho! Yang satu produknya saja harganya bisa sampai jutaan rupiah! Beneran kamu yang beli?" Rania tertawa kering, sementara tangannya meremas pinggiran tas di punggungnya. "Jutaan? Mana mungkin aku seboros itu? Ini... ini cuma barang tiruan, kok! Harganya lebih murah." Kirby menggaruk rambutnya yang dikepang, masih terlihat bingung. "Tapi... tadi aku lihat sekilas jenis kainnya, Ran. Kelihatannya sangat halus, rapi, tidak seperti barang murah. Entahlah..." Melihat keraguan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status