تسجيل الدخول
"Ini, apa segini cukup??" tanya Meisya, wanita yang berusia dua puluh empat tahun, yang tengah memberikan cek senilai dua miliar rupiah.
Banyak dan sangatlah banyak, untuk ukuran wanita, yang sudah tidak memiliki harta dan hanya tersisa pakaian yang melekat di badan saja. Tetapi terlihat sedikit, bagi Meisya yang seorang influencer. Uang segini, bisa dia hasilkan hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan. Karena bukan hanya dari satu media sosial saja. Dia juga seorang owner salah satu produk kecantikan. Pantaslah, bila uang segitu tidak ada artinya. Apa lagi, hal ini akan ditukar dengan masa depannya, bersama sang suami setelah pernikahannya sah nanti.
"Ini banyak. Ini banyak banget, Mei. Aku nggak pernah pegang uang sebanyak ini," ucap Nayanika, sambil memandangi selembar kertas, yang memiliki nilai tukar fantastis ini.
"Sekarang udah pegang kan? Kalau gitu, cuma tinggal kerjanya kan ya?"
Nayanika menelan salivanya dan membasahi tenggorokannya, yang terasa kering ini. Uang ini, bukan diberikan secara cuma-cuma. Uang ini, adalah sebuah pertukaran, dengan apa yang paling berharga di dalam diri Nayanika sendiri.
"Tapi, kalau ketahuan gimana, Mei?" ucap Nayanika lirih.
"Tenang. Aku udah atur semuanya. Kamu cuma tinggal masuk kamarku diam-diam. Kamu layani suamiku dengan sebaik-baiknya. Kalau bisa, nggak usah banyak bersuara. Nikmatin aja. Toh cuma sakit di awal. Sisanya, kamu juga pasti nikmatin kok," ucap Meisya dengan sangat enteng sekali. Tetapi terasa sangat berat, bagi yang akan menjalaninya nanti.
"Tapi aku takut, Mei." Suara sumbang gadis yang tidak punya pilihan lain di hidupnya sekarang. Ia butuh uang cepat. Ia tidak tahu harus dapat dari mana lagi, karena biarpun bekerja, tidak akan cukup untuk meng-cover semua kebutuhannya sekarang. Biaya rumah sakit dan juga biaya yang lain-lainnya.
"Lebih takut mana, sama kehilangan nyokap? Plus hidup luntang lantung dijalanan? Aku emang temen kamu, Nay. Tapi, aku juga butuh pertolongan kamu. Jadi menurut aku, ya sah-sah aja, kalau kita saling bantu satu sama lain. Bukan mau kejam. Masalahnya, masa depan aku juga dipertaruhkan di sini, Nay. Lagian, cuma sekali Nay. Ya paling satu sampai dua jam beres. Terus uang itu jadi milik kamu, tanpa kamu harus ganti sepeser pun!" cetus Meisya.
Nayanika termenung. Angkanya memang menggiurkan. Apa lagi, dia amat sangat membutuhkannya juga. Bisa untuk membeli rumah kecil, bila memang masih ada banyak yang tersisa, dari biaya rumah sakit ibunya juga dan yang paling penting, bisa untuk biaya rawat inap, maupun rawat jalan ibunya, yang pastinya tidak akan sedikit.
"Udah, Nay. Ambil. Kamu butuh banget kan?? Ambil aja. Nggak usah malu-malu," ucap Meisya lagi.
Nayanika menelan salivanya sendiri. Berat memang. Apa lagi, taruhannya adalah masa depan sendiri. Tapi apakah semua itu, masih penting untuk sekarang? Dia tidak punya tempat tinggal, ibunya butuh biaya karena sedang menjalani perawatan di rumah sakit akibat stroke. Belum lagi, adiknya yang masih membutuhkan biaya untuk bersekolah. Jadi, apa lagi yang ia pikirkan sekarang?
"Eum, iya. A-aku ambil ini ya? Hanya tidur semalam kan?" ucap Nayanika, dengan jantung yang sedang bergemuruh dengan kencang. Sudah tidak ada lagi pilihan lain. Ia harus menerima pertukaran, yang cukup berani ini. Demi ibunya. Demi adiknya juga. Karena sekarang, siapa lagi yang akan berjuang untuk dua orang keluarga yang tersisa, kalau bukan Nayanika, selaku anak tertua.
Meisya segera mendekap tubuh sahabatnya ini dengan erat. Senang sekali. Akhirnya, permasalahannya akan segera teratasi.
"Iya, Nay. Cuma semalam. Seenggaknya, Mas Abiyaksa tahu nanti, kalau aku masih perawan," ucap Meisya yang membuat Nayanika, kembali meringis perih di hati.
Menjadi gadis pengganti di malam pertama?
Ya, itu dirinya. Dia akan lakukan hal yang sangat nekat ini, hanya dalam waktu satu minggu lagi saja.
"Ya udah. Kamu bisa pergi sekarang. Kamu cairkan uangnya. Kamu bayarkan biaya rumah sakit dan kamu belilah makanan yang enak-enak, untuk adik dan ibu kamu. Belikan buah-buahan yang menyehatkan, Nay. Supaya ibu kamu, bisa segera sembuh. Ya?" ucap Meisya sembari mengusap punggung Nayanika.
"Iya. Terima kasih, Mei," ucap Nayanika, sembari melepaskan dekapannya, pada tubuh Meisya.
"Sama-sama, Nay. Aku juga terima kasih ke kamu lho. Kita ini, sedang saling tolong menolong kan?" ucap Meisya sambil membelai rambut Nayanika.
"Aku pergi dulu," ucap Nayanika, sembari bangun dan pergi dari kamar Meisya ini. Sementara Meisya tersenyum licik dan mengembuskan napasnya dengan sangat lega sekali.
Beberapa hari berikutnya.
"Mas, pas malam pertama nanti, nggak usah nyalain lampunya ya?" pinta Meisya, kepada pria yang alisnya hampir menyatu, setelah membuat kerutan di dahinya sendiri itu dan setelah mendengar permintaan calon istrinya ini, yang akan segera dia pinang, hanya dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam lagi.
"Kenapa emangnya? Kamu nggak takut gelap? Atau nggak terbiasa tidur dengan lampu yang terang?" tanya Abiyaksa, pria yang sebentar lagi, akan menjadi suaminya ini.
"Eum... Ya nggak sih. Aku cuma malu. Aku baru pertama kali kan. Jadi, jangan Mas nyalain lampunya ya nanti? Aku malu banget, Mas. Nggak pede."
"Kamu ini. Kenapa harus malu sama suami sendiri?" tanya Abiyaksa.
"Ya namanya malu, Mas. Apa lagi, kita juga belum lama kenal kan. Nggak apa-apa ya, Mas?" rengek Meisya.
"Hahh... Ada-ada aja. Ya udah. Senyamannya kamu aja deh," balas Mas Abiyaksa, yang membuat Meisya tersenyum diam-diam.
Malam setelah pesta pernikahan digelar. Abiyaksa, pria matang yang kini berusia tiga puluh tiga tahun, masuk ke dalam kamar, yang merupakan kamar pengantinnya bersama dengan Meisya. Kamar ini juga adalah milik Meisya sendiri, rumah yang ia hasilkan dari berbagai macam endorse yang masuk. Belum lagi, penghasilan dari penjualan produknya yang melesat tajam. Sesuai dengan keinginan Meisya yang ingin kamar gelap dan tidak mau terlihat. Malu katanya. Kamar ini pun, benar-benar dibuat gelap gulita. Yang nampak hanya ranjang saja. Karena ber-seprai putih dan sosok yang memakai gaun tidur berwarna putih serta minim, yang sudah berada di atas ranjang itu dan ada dalam posisi tidur yang menyamping.
Abiyaksa mencari stop kontak dan berusaha untuk menyalakan lampu kamar ini. Tetapi sudah ditekan pun, lampu tak kunjung menyala juga.
"Ya ampun, kamu sampai benar-benar mematikan lampunya begini," ucap Abiyaksa, yang sekarang ini berjalan menuju ranjang dan naik ke atas ranjang tersebut.
"Ini gelap sekali, Mei. Kamu ini benar-benar ya?" ucap Abiyaksa, yang malah meletakkan tangannya di bahu sosok itu, hingga dia melonjak kaget.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Abiyaksa, yang kebingungan, saat merasakan reaksi terkejut wanita, yang ia pikir adalah istrinya ini.
Gelengan kepala pun dilakukan dan Abiyaksa malah merebahkan tubuhnya di samping 'wanita pengganti istri-nya' ini.
"Kamu benar-benar pemalu ya? Padahal, kamu berdandan cukup berani. Tapi disentuh sedikit oleh suami sendiri, malah kaget begitu," ucap Abiyaksa, yang main memeluk saja, sambil mengendus tengkuk leher Nayanika.
"Parfum kamu selalu wangi. Aku suka sekali aromanya," ucap Abiyaksa, sambil menggerakkan tangan, yang tadinya berada di atas perut, kini malah sudah berada di samping tubuh wanita ini saja. Ia usap dari mulai pinggang hingga ke bawah dan berhenti di paha. Abiyaksa elus-elus di sana, sampai wanita berada di sisinya ini gemetar ketakutan.
"Hei, nggak usah tegang. Rileks ya? Aku janji akan pelan-pelan," ucap Abiyaksa yang mengendus dengan semakin ganas dan juga, mulai menciumi tengkuk leher wanita, yang ia kira adalah istrinya.
"Ini buah-buahan buat kamu nyemil sama ada biskuitnya juga," ucap Abi yang cepat-cepat keluar dari dalam supermarket setelah mendapatkan beberapa macam makanan untuk Nayanika makan di mobil."Terima kasih, Mas," ucap Nayanika yang matanya kini sudah berbinar-binar saat Abi memberikan tiga jenis buah potong hingga cake maupun biskuit."Iya, sama-sama. Aku ke dalam lagi ya? Mau beli untuk stok di rumah. Kamu lapar terus, jadi aku harus stok yang banyak. Oh iya, mau titip apa? Nanti aku belikan sekalian," tanya Abi."Eum, keripik kentang, Mas," ucap Nayanika yang bibirnya sambil maju-maju. Tapi dikiranya Abi akan kasihan dan membelikan? Ya jelas tidak."Kurang jelas kata dokter Anita tadi?" omel Abi."Satu bungkus aja, Mas. Buat ganti punya Mentari. Aku makan punya dia soalnya waktu itu," ujar Nayanika."Bener buat ganti punya Mentari? Bukan untuk dimakan sendiri?" cecar Abi."Beneran. Sumpah deh. Waktu itu aku ambil cemilannya dia. Terus belum aku ganti.""Kapan?" tanya Abi."Ya belum l
"Bagaimana maksudnya, Dok?" tanya Abi."Ini coba dilihat lagi. Ada kantong janin di sini. Eh tapi ini... coba tunggu sebentar." Dokter Anita menggerakkan kursor dan menandai kantong janin yang terlihat pada layar monitor. "Wah kembar ini!"Nayanika yang masih shock ketika tahu hamil langsung terbelalak. Sementara si pembuat hamilnya malah tersenyum lebar. Feeling-nya memang benar-benar kuat. Sudah hamil, kembar pula. "Ini satu, ini dua, terus ini... totalnya ada tiga ini," ucap dokter Anita dan Nayanika semakin menjadi-jadi shock-nya. Abi juga sempat sedikit terkejut tapi setelah itu tersenyum lebar lagi sambil menatap sang istri."Kan? Apa aku bilang. Kembar tiga, Sayang," ucap Abiyaksa dengan bangganya.Nayanika diam saja. Tidak terbayangkan, bila ada tiga bayi di dalam perutnya sekarang ini."Jadi pantas saja ya, Dok. Hamilnya baru beberapa bulan tapi perutnya sudah kelihatan. Soalnya ada tiga bayinya ya? Terus juga, istri saya ini makan banyak sekali akhir-akhir ini. Mungkin kare
Keesokan harinya. Keanehan Nayanika semalam rupanya masih berlanjut. Setelah makan dan dilanjutkan dengan memakan makanan yang lainnya juga. Ia sampai begah melihatnya tapi Nayanika malah santai-santai saja. Hingga pada siang harinya Abi yang sudah sangat gemas sekalipun menghampiri Nayanika dulu sebelum siap-siap pergi bekerja."Sayang?" panggil Abi."Hm? Kenapa, Mas?" sahut Nayanika yang matanya sudah kelihatan sayu."Ngantuk ya?" sambung Abi."Iya nih. Niat mau nemenin Nasya malah ikut-ikutan ngantuk juga." Nayanika menaruh telapak tangan kanannya di mulut dan lantas menguap."Eum, mau nggak besok atau pas libur nanti kita pergi ke rumah sakit," bujuk Abi."Hm? Rumah sakit? Mau ngapain emangnya, Mas? Ikut Mas praktek?" tanya Nayanika."Bukan. Bukan ikut praktek. Ya tapi... kita pergi periksa ke dokter," ujar Abi pelan-pelan."Buat apa?" tanya Nayanika."Ya buat periksa. Periksa keadaan kamu.""Aku?" ucap Nayanika dan Abi pun mengangguk cepat."Yang sakit terus muntah-muntah kan, Ma
Setelah muntah-muntah, Abi tidak lagi menghubungi Nayanika. Tetapi, dia selesaikan dulu pekerjaannya dan lantas pulang dengan terburu-buru. Sebelum bertolak dari rumah sakit tadi, Abi mengabarkan bila sudah akan melakukan perjalanan ke rumah dansetibanya di sana, ia pun langsung disambut oleh Nayanika yang kini berdiri di teras rumah."Sayang..." Abi merengek dan segera memeluk Nayanika. Ia sandarkan juga kepalanya di pundak istrinya itu dan mengadu seperti seorang anak kecil."Kenapa, Mas?" tanya Nayanika sambil menyentuh punggung Abi dengan kedua tangannya."Aku muntah-muntah terus. Tapi pas diperiksa katanya nggak apa-apa. Kira-kira aku kenapa ya? Apa aku kurang healing? Atau kurang dimanjain istri?" keluh Abi dan punggungnya itu langsung kena cubit sang istri."Aduh! Kok malah dicubit sih, Sayang?" keluh Abi."Ya lagian mual-mual masa iya hubungannya sama healing terus gara-gara ngga dimanjain istri juga. Teori dari mana itu?""Ya kan siapa tahu, Sayang. Abisnya mendadak banget a
Satu pekan berikutnya.Nayanika yang sedang menjaga Nasya yang tengah bermain di halaman rumah itupun bangun dari ayunan. Tetapi, saat baru saja kedua kakinya itu menopang tubuhnya, kepalanya ini malah terasa berputar tak keruan. Nayanika berdiam diri dulu beberapa saat sambil mencoba untuk tetap menjaga Nasya dalam pengawasannya. Tapi sepertinya Nayanika malah akan tumbang dan terpaksa ia kembali duduk di ayunan lagi."Mama, ayo main Mama," ajak Nasya yang berlari menghampiri sang ibu dan memegangi lengan ibunya itu."Tunggu sebentar, Nasya. Kepala Mama sakit," ucap Nayanika sambil memegangi kepalanya sendiri. Sementara anaknya menatap wajah ibunya dengan raut kebingungan."Mama atit?" Nasya bersuara lagi. Dia kelihatan diam saja dan malah lebih kelihatan takut bila ibunya kenapa-kenapa.Tangan mungilnya itupun malah ikut-ikutan memijat pelipis Nayanika, yang tengah Nayanika pijat juga sendiri. Nayanika tersenyum tipis ketika sadar bila sang anak sedang melakukan hal manis ini. Makin
Di akhir pekan.Abi yang bangun agak siang dan hampir berbarengan dengan sang anak itupun menguap, lantas meregangkan kedua tangannya ke atas dan menoleh ke sisi paling ujung dari tempatnya tidur. Ia tarik ke atas juga, selimut yang hanya menutupi hingga pinggangnya saja itu. Bagian atasnya itu sendiri terlihat polos, karena semalam Abi sudah terlalu lelah untuk berpakaian kembali setelah bertempur dengan sang istri."Selamat pagi anaknya Papa. Gimana boboknya semalam hm? Ada mimpi buruk nggak kamu?" tanya Abi sambil membelai kepala Nasya yang masih berada di atas bantal."Papa..." panggil Nasya lemas."Iya, Sayang. Kenapa hm?" tanya Abi."Mama mana? Mama Naca," tanya gadis kecil itu sambil melirik ke sana kemari untuk mencari keberadaan ibunya."Mama lagi mandi kayaknya. Itu, ada kan suara air di kamar mandi," ucap Abi.Nasya terdiam sambil mendengarkan dengan seksama, lantas bibir mungilnya itu kembali mengeluarkan suara."Naca mau mamam," celotehnya lagi dan ayahnya pun langsung te







