MasukKetukan di pintu depan terdengar lagi sebelum Riko sempat menaiki sepedanya.
“Pergi,” bisik Nadya.
“Ce ikut.”
“Kalau keluar berdua, mereka lihat.”
Dari kamar Hendra terdengar ranjang berderit.
“Lewat kebun lada,” kata Nadya. “Jangan ambil jalan besar. Setelah sumur tua, belok kiri.”
Riko masih menatapnya.
“Kalau Hendra pukul Ce?”
“Cepat, Ko.”
Nadya mengangkat roda depan sepeda melewati ambang agar tidak membentur papan. Begitu kedua rodanya menyentuh tanah, Riko naik dan mengayuh tanpa menyalakan lampu.
Bayangannya segera hilang di antara rumpun pisang.
Nadya menutup pintu belakang.
Langkah Hendra terdengar dari lorong.
“Kalian mau ke mana?”
Ia berdiri di pintu dapur dengan rambut berantakan. Pandangannya jatuh pada sepeda Nadya yang masih berada dekat tungku.
“Riko mana?”
“Dak tahu.”
Hendra berjalan cepat menuju kamar Riko. Beberapa detik kemudian ia kembali dengan wajah mengeras.
“Mana dia?”
Ketukan kembali menghantam pintu depan.
“Buka!” teriak Bahar.
Hendra menyambar lengan Nadya dan menyeretnya ke ruang tengah.
“Kau suruh dia kabur?”
“Dia dak mau kerja.”
“Bukan urusanmu!”
“Dia adikku.”
Hendra membuka pintu. Bahar berdiri di teras dengan jaket lusuh dan rokok terselip di telinga. Matanya langsung menyapu bagian dalam rumah.
“Anaknya mana?”
“Dia suruh kabur,” kata Hendra.
Bahar melangkah masuk. “Ke mana?”
“Dak tahu.”
“Aku datang lebih pagi supaya dia dak sempat sembunyi.”
“Berarti kau tetap terlambat.”
Tangan Hendra terangkat, tetapi Bahar menahannya.
“Cari dulu. Belum jauh.”
Mereka menuju dapur. Bahar membuka pintu belakang dan memeriksa bekas roda pada tanah yang masih lembap.
“Ke arah mana?”
Jalur kiri menuju rumah Mak Su. Jalan di sebelah kanan berakhir di jalan besar dekat rumah Ahin.
Nadya menunjuk ke kanan.
“Dia bilang mau ke rumah Ahin.”
Bahar bergegas kembali ke depan. Hendra mengambil sandal dan mengikutinya.
Sebelum menaiki motor, Bahar menoleh.
“Kalau anak itu dak ada, uangku kembali.”
Nadya memandang Hendra.
“Uang apa?”
Hendra tidak menjawab.
“Sepuluh ribu yang kuberi semalam,” kata Bahar.
“Kau sudah ambil uang buat Riko?”
“Diam!”
Bahar menyalakan mesin.
“Kalau dia dak kerja, kembalikan sebelum malam.”
Motor itu melaju menuju jalan besar.
Nadya berdiri di halaman sampai suara mesinnya menghilang. Langit mulai berubah kelabu dan asap tungku muncul dari rumah-rumah di sekitarnya.
Riko belum pernah menginjak lokasi tambang.
Namun satu hari hidupnya telah lebih dahulu dijual.
---
Lina pulang ketika matahari mulai muncul di balik atap. Ia mendorong sepeda dengan keranjang kosong di belakangnya.
“Riko mana?”
“Rumah Mak Su.”
Lina berhenti. “Siapa yang suruh?”
“Aku.”
“Kau bikin apa lagi?”
“Daripada dia dibawa Bahar.”
“Hendra mana?”
“Nyari Riko.”
Wajah Lina menegang.
“Kau bilang apa sama Mak Su?”
“Riko bilang Ibu yang suruh.”
“Kenapa bawa nama Ibu?”
“Kalau dak begitu, Mak Su mungkin suruh dia pulang.”
Lina mendekat dan merendahkan suara.
“Ini urusan rumah kita.”
“Kalau Riko harus kabur sebelum subuh, berarti urusannya sudah keluar dari rumah.”
Lina tidak membalas.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Lina dan Nadya berangkat dengan sepeda masing-masing.
Sepeda Riko sudah terlihat bersandar di samping sumur ketika mereka tiba di rumah Mak Su.
Perempuan itu menunggu di teras dengan rambut digelung rendah dan kain batik terikat di pinggang.
“Riko tidur,” katanya.
Lina turun dari sepeda. “Maaf dia merepotkan.”
“Anak datang sebelum subuh bawa tas sekolah bukan sedang main-main.”
Mak Su memandang Nadya.
“Kau yang suruh?”
Nadya mengangguk.
“Kenapa bohong bilang ibumu yang menyuruh?”
“Kalau bilang sebenarnya, Mak Su mungkin dak terima.”
“Belum tentu.”
“Tapi bisa.”
Mak Su membuka pintu.
Riko tertidur di atas tikar ruang tengah dengan tas sekolah di dekat kepalanya. Lebam samar masih terlihat di pipi kirinya.
“Bangunkan,” kata Lina. “Kita pulang.”
“Dia dak pulang,” ujar Nadya.
“Kau jangan atur Ibu.”
“Kalau pulang, Bahar bawa dia.”
“Bahar cuma minta dia membantu satu hari.”
“Hendra sudah ambil uangnya.”
Lina terdiam.
Mak Su menyilangkan tangan. “Uang apa?”
“Sepuluh ribu,” jawab Nadya. “Bahar bayar semalam.”
“Hendra dak bilang,” kata Lina.
“Dia pernah bilang apa?” balas Nadya.
Mak Su memandang Lina tajam.
“Kau mau membawa Riko pulang kepada lelaki yang menjual tenaganya?”
“Jangan ngomong begitu. Mungkin Hendra cuma pinjam.”
“Pinjam pakai badan anakmu?”
Rahang Lina mengeras.
Mak Su menunjuk Riko yang masih tidur.
“Dia tinggal di sini.”
“Nanti orang kampung bicara.”
“Biarkan.”
“Mak Su dak tahu Hendra kalau marah.”
“Aku tahu. Karena itu anak ini dak kubiarkan pulang.”
Lina menatap Riko beberapa saat, lalu berbalik menuju halaman.
Nadya menyusul.
“Ibu marah sama aku?”
Lina mengangkat standar sepedanya.
“Kau sudah memutuskan semuanya sendiri.”
“Karena Ibu dak pernah memutuskan.”
Lina menaiki sepeda tanpa menjawab.
Nadya mengikutinya dari belakang. Untuk pertama kalinya sejak Atek meninggal, seorang dewasa tidak meminta Riko mengalah kepada Hendra.
Mak Su tidak menjanjikan dapat menyelesaikan semuanya.
Ia hanya menolak menyerahkan Riko.
Untuk sementara, itu sudah cukup.
---
Menjelang sore, Bahar dan Hendra muncul di warung dengan debu melekat pada pakaian mereka.
Bahar langsung meletakkan telapak tangan di atas meja.
“Riko di mana?”
Nadya tetap menulis pesanan.
“Dak tahu.”
“Masih mau bohong?”
“Dia di rumah Mak Su,” kata Hendra.
“Ambil.”
“Sudah kucoba. Mak Su panggil orang kampung.”
Rupanya setelah gagal menemukan Riko di rumah Ahin, Hendra akhirnya mendatangi tempat yang benar.
Bahar menoleh kepadanya.
“Orang lokasi sudah cari pengganti.”
“Beri waktu.”
“Aku bayar buat hari ini, bukan besok.” Bahar mengulurkan tangan. “Kembalikan uangku.”
Hendra melirik Lina. Perempuan itu menunduk ke arah penggorengan.
“Nadya punya uang dari Januar,” katanya.
“Bukan urusanku. Aku mau uangku.”
Hendra menghadap Nadya.
“Keluarkan uangmu.”
“Buat sekolah.”
Bahar tertawa pendek. “Adik kabur, kakaknya pelit.”
Beberapa pekerja mulai memperhatikan. Bahar mengetuk meja dua kali.
“Sebelum malam, uangku harus kembali.”
Ia keluar dan menyalakan motor.
Hendra tetap berdiri di depan Nadya.
“Keluarkan.”
“Tidak.”
“Kau mau sekolah atau dak?”
“Itu bukan uang buat utangmu.”
Tatapan Hendra beralih ke halaman. Sepeda Nadya bersandar di dekat dinding seng.
Ia keluar dan menariknya menuju tiang warung.
Nadya segera berdiri. “Mau kau apakan?”
Hendra mengambil rantai pendek dari kotak peralatan motornya. Ia melilitkannya pada roda belakang dan tiang kayu, lalu memasang gembok.
Klik.
“Buka,” kata Nadya.
“Sampai Riko pulang.”
“Itu sepedaku.”
“Dibeli pakai uang siapa?”
“Ayahku.”
Sepeda itu peninggalan Atek. Ukurannya telah beberapa kali disesuaikan agar Nadya dapat menggunakannya ke sekolah dan warung.
Hendra menyimpan anak kunci di saku.
“Kalau uang Bahar dak kembali malam ini, besok sepeda ini kujual.”
“Kau sudah jual tenaga Riko. Sekarang mau jual barang Ayahku?”
Hendra mendekat.
“Kalau mau barangmu tetap ada, suruh adikmu pulang.”
Ia menaiki motor dan pergi.
Nadya memandang rantai yang mengikat roda belakang. Gemboknya lebih besar daripada gembok yang melindungi pintu kamarnya.
Setiap kali kehilangan kendali, Hendra selalu mencari sesuatu yang lain untuk dijadikan harga.
Minggu, 9 Februari 2003Koper Nadya sudah tertutup sejak pagi, tetapi Mak Su masih menemukan barang yang harus ikut ke Jakarta. Sekantong kerupuk, beberapa bungkus makanan, lalu satu wadah yang menurutnya harus langsung dimasukkan kulkas begitu Nadya sampai. Nadya sempat mengingatkan ada batas bagasi, tetapi Mak Su hanya menjawab bahwa dulu orang naik kapal tidak seribet itu. Riko yang berdiri dekat pintu tertawa sampai akhirnya Nadya menyuruhnya membantu membawa koper ke depan.Anak itu kemudian bertanya kapan Nadya akan pulang lagi. Nadya tidak bisa memberi jawaban. Kuliahnya kembali berjalan, pekerjaan menunggu, dan Jakarta sudah mempunyai terlalu banyak hal yang tidak bisa ditinggalkan lama-lama. Ia hanya berjanji akan lebih sering menelepon, lalu kembali mengingatkan agar Riko tidak terlalu sering pulang malam dari halaman timbang.Selama lebih dari seminggu di Belinyu, Nadya sudah beberapa kali datang ke warung Lina. Pada hari Imlek ia bahkan membantu hamp
Minggu, 2 Februari 2003Rumah Bu Rahma berada di jalan yang cukup tenang di Pangkalpinang. Bangunannya satu lantai dengan pagar besi setinggi dada dan halaman yang cukup untuk dua mobil. Tidak semegah yang sempat dibayangkan Nadya, tetapi jelas lebih besar dan terawat dibanding rumah Mak Su maupun Lina. Sebuah sedan Toyota warna gelap terparkir di samping rumah, sementara satu motor berada dekat pintu samping.“Mobil siapa?” tanya Nadya ketika Januar membawa Land Cruiser masuk ke halaman.“Pak Ridwan.”“Ayah tiri Abang?”“Iya.”Nadya memastikan tas kecil dan bungkusan makanan dari Belinyu tidak tertinggal. Januar baru mematikan mesin ketika pintu rumah terbuka. Perempuan yang keluar membuat Nadya langsung mengenali wajah yang dua hari sebelumnya dilihatnya dalam foto di rumah Januar. Rambutnya sebahu, pakaiannya sederhana tetapi rapi. Di belakangnya muncul lelaki sekitar lima puluhan dengan kau
Jumat, 31 Januari 2003Motor Januar berhenti dekat teras menjelang pukul sepuluh. Nadya melepaskan tangannya dari pinggang lelaki itu dan membuka helm sambil memandang rumah besar yang hampir tidak berubah.Dalam perjalanan tadi ia sempat mengenali tikungan yang pernah dilewatinya malam 22 Juni 2001. Waktu itu ia datang sendirian dengan sepeda, setelah berbohong kecil kepada Mak Su bahwa masih ada urusan keberangkatan dan Riko yang harus dibicarakan. Padahal tiket sudah selesai dan soal Riko tidak membutuhkan pembicaraan lagi.Ia tetap mengayuh sampai rumah ini muncul dalam gelap.Hampir dua tahun kemudian, Nadya kembali dengan tangannya melingkar di pinggang lelaki yang malam itu dipilihnya.Perempuan paruh baya yang sedang membersihkan teras langsung mengenalinya.“Anaknya Lina, kan?”Nadya tersenyum. “Iya.”“Yang di Jakarta.”“Masih.”“Lina masih buka warung
Kamis, 30 Januari 2003“Mak Su, Pak.”Ahin mengangguk dan membawa Land Cruiser melewati persimpangan. Nadya sempat melihat jalan menuju rumah Lina melalui kaca sampai tertutup deretan rumah, kemudian kembali duduk menghadap depan. Januar tidak menanyakan alasannya. Beberapa menit kemudian rumah Mak Su muncul di belakang kebun lada, hampir tidak berubah dari yang tersimpan dalam ingatan Nadya.Riko sudah keluar sebelum mobil berhenti sempurna. Tubuhnya sekarang lebih tinggi, bahunya mulai melebar, tetapi langkah cepatnya menuju mobil masih sama. Nadya baru membuka pintu ketika adiknya sudah menarik koper dari belakang.“Ce, berat juga.”“Makanya jangan sok kuat.”Riko tetap membawanya. Nadya tertawa kecil lalu menoleh ketika Mak Su muncul dari teras. Perempuan itu berhenti beberapa langkah di depannya, memandang wajah Nadya cukup lama sebelum akhirnya menariknya ke dalam pelukan.“Kurus.”
Kamis, 30 Januari 2003Nadya mengenali Toyota Land Cruiser VX100 hitam milik Januar bahkan sebelum melihat Ahin berdiri di sampingnya.Mobil itu terparkir di depan Bandara Pangkalpinang, bagian bawahnya berdebu setelah perjalanan dari Belinyu. Hampir dua tahun lalu mobil yang sama beberapa kali membawanya melewati jalan antara Belinyu dan Pangkalpinang ketika Jakarta masih sebatas rencana. Sekarang ia kembali dari kota itu dengan koper beroda, kuliah yang masih berjalan, dan tiket pulang-pergi yang dibayar PT Bumi Lintas Persada.Ahin menyambut mereka dengan senyum lebar dan langsung mengambil koper Nadya.“Lama baru pulang.”“Baru setahun lebih, Pak.”“Buat Linalama.”Nadya tidak membantah. Sebagian isi koper itu bahkan bukan miliknya. Yuli tidak bisa pulang karena baru mendapat libur beberapa hari setelah Imlek. Malam sebelumnya ia menitipkan pakaian untuk Mak Su, kemeja untuk Riko, beberapa
Sabtu, 23 November 2002Ginza sudah ramai ketika Nadya selesai berganti pakaian. Dari lorong terdengar suara karaoke yang bocor dari beberapa pintu tertutup, bercampur tawa laki-laki Jepang dan tepuk tangan yang sesekali meledak dari dalam room. Seorang staf lewat membawa ember es dan sebotol whisky, sementara dua perempuan keluar dari salah satu ruangan sambil merapikan rambut sebelum berpindah menemani tamu lain. Beberapa jam sebelumnya, saat masih berdiri di depan Yamamoto, Nadya sudah mengatakan kepada Sato bahwa ia bekerja malam ini. Lelaki itu hanya menjawab akan datang.Nadya baru hendak masuk ke room tempat dua pelanggan langganan menunggunya ketika seorang staf memanggil. Sato sudah ditempatkan di salah satu private room yang lebih kecil. Lagu Jepang lama berjalan pelan dari televisi karaoke ketika Nadya membuka pintu. Lelaki itu duduk di sofa panjang dengan jas masih terpakai dan dasi sedikit dilonggarkan. Di meja rendah tersedia whisky, ember es, air mineral







